Selasa, 02 Agustus 2011

Pelajaran Dari Ribbon




Ada banyak hal di jagat raya ini yang menurut saya bukanlah sebuah keadilan. Tentang siapa yang mesti mendapatkan berkah dan siapa saja yang harusnya mendapatkann kutuk serapah. Namun apa menariknya dunia yang sudah pasti? Kita hanya menjadi manusia-manusia mekanis yang mengekor pada keadaan yang sudah jamak.

Salah satu hal yang menurut saya tak adil adalah saat salah satu karib perempuan saya menikah. Bukan karena saya cemburu dan merasa ditinggalkan. Tapi karena keputusannya menikah dengan kawan saya yang menyebalkan (Yes Nu kowe iku Lucky Fucking Bastard). Juga keputusannya menikah itu adalah sebuah sikap luar biasa yang menunjukan kedewasaannya. Bahwa ia telah memilih untuk menjadi seorang wanita syang benar-benar muslimah.

"Karena menikah menyempurnakan separuh agama," katanya suatu hari.

Keputusan itu entah membuat saya mengingat hari-hari jauh dibelakang saat kami pertama kali bertemu. Suatu malam di pertengahan Nopember 2007 saat rapat redaksi malam di organisasi tempat saya berproses, kedatangan seorang gadis cantik. Dengan penampilan modis yang high end dan sikap ramah yang menyenangkan. Saya tahu bahwa orang ini adalah orang yang menyenangkan.

Kelak saya mengenalnya sebagai Fatati Nur Diana. Gadis yang saat ini jumpalitan dan berjibaku dalam dunia fashion. Untuk yang satu ini saya mengagumi mentalitas dan vitalitasnya. Karena saya percaya kesuksesan itu  hasil dari akumulasi proses yang tanpa jeda. Ribbon, begitu saya memanggilnya, adalah sebenar-benarnya orang yang mampu berproses dengan runut dan liat.

Ribbon saat itu sepertinya baru saja jadian dengan Inu, salah satu fans dan penggemar saya. Meski sebenarnya saya merasa kasihan pada Ribbon yang mesti bersanding dengan lelaki tambun yang kerap tertawa sendiri sambil mengorek kuping. Tapi sekali lagi dunia memang tak adil dan keseragaman hanya melahirkan kebosanan.

Kami jarang bertemu. Saya selalu merasa kikuk, malu dan bersikap bodoh di depan wanita cantik. Ribbon jelas punya kualifikasi sebagai wanita cantik, lagi pula ia cerdas, meski terbukti tak pintar-pintar amat karena menikahi lelaki berkacamata dengan pantat super montok hehehe. 

Tapi toh Ribbon bukan gadis kebanyakan. Ia masih mau bergaul, berteman dan berbincang dengan saya yang tak jelas apa bentuknya.

Dari situ kami mulai berani bertukar kata, smsan, berbincang via telpon dan banyak hal. Karena tanpa diduga lingkaran kawan Ribbon dan saya sama. Beberapa malah kawan dekat dan sahabat baik. Ia, dalam banyak hal, mengajarkan saya bahwa penampilan bisa menipu. Sikap menghakimi juga bisa lahir dari siapapun. Bahkan saya,

Ribbon punya cita-cita sederhana. Entah masih sama atau sudah berubah. Ia ingin memiliki sebuah brand pakaian muslim. Pakaian yang mampu menyembunyikan aurat, nyaman dipakai dan juga memiliki keindahan estetik. Saya kira bertahun-tahun ditempa di kawah Candradimuka sekolah fashion terbaik Indonesia, Esmod, membuatnya menjadi seorang betari.

Jika ada hal lain yang membuat saya kagum dan benar-benar membuatnya sebagai sosok istimewa. Adalah keluasan hatinya dalam memaafkan dan bergerak maju ke depan. Ia pernah dikhianati, disakiti dan juga dibohongi. Tapi dengan sikap bijak ia bisa melalui itu. Sikapnya mengingatkan saya pada laut, yang tak pernah menuntut, pada sungai yang mengalirkan berbagai macam sampah pada dirinya.





"Ada sebuah rasa malu saat berhijab. Malu karena tak bisa beriman dengan baik. Mungkin ini munafik. Tapi saya bersyukur menjadi orang islam,"
Hal lain yang istimewa pada Ribbon adalah konsistensinya dalam berhijab. Saya akui memakai kerudung adalah sebuah sikap berat. Laku prihatin karena mempercayai bahwa aurat adalah hal sakral yang mesti dijaga. Saya kira sebagai wanita yang terpapar teknologi modern, pengetahuan barat dan pergaulan yang luas, keputusannya untuk berhijab akan melahirkan konsekwensi-konsekwensi yang tak murah.

"Ada rasa malu saat berhijab. Malu karena tak bisa beriman dengan baik," katanya.

Di atas atap rumahnya, yang juga berfungsi sebagai taman kanak-kanak, saya memandang senja yang perlahan turun. Menunggu adzan maghrib dan mengakhiri satu hari di bulan Ramadhan yang sangat magis. Kami berbincang panjang lebar mengenai keraguannya untuk menikah. Juga mengenai bagaimana ia harus bersikap mengenai karirnya. Ia, dalam imaji saya, seperti seorang pelukis yang hati-hati mengguratkan warna untuk mendapat sebuah mahakarya.

Hari ini Ribbon ulang tahun. Tak banyak lagi yang bisa saya ucapkan. Selain sepotong doa sederhana tentang hidup. Stay foolish, stay hungry.

Senin, 01 Agustus 2011

Menempuh Ramadhan, Menempuh Perjuangan


Saya benci basa-basi. Meski kadang seringkali dipaksa untuk melakukan itu. Jika sudah muak saya biasanya mohon diri dan pergi. Seperti beberapa hari ini saya menerima banyak sekali ucapan selamat berpuasa. Saya sedikit jengah dengan kata-kata yang dikirimkan kepada saya. Seperti sedang pamer moral bahwa dalam bulan Ramadhan tingkah kita harus diperbaiki. Memangnya bulan lain kita amoral?

Lalu saya juga sedikit risih dengan jahitan kata-kata yang kadang serupa basa-basi tengik. Seperti bahwa sikap baik dan kerendahan hati itu hanya akan muncul saat Ramadhan tiba. Lalu kemana saja mereka sebelas bulan sebelumnya?

Saya memang bukan santo, ulama atau umat yang baik. Setidaknya tidak berusaha membuat diri saya tampak baik dengan bersikap seolah-olah salih dengan kata-kata itu. Well Memangnya pamer moral itu penting?

Selamat menempuh Ramadahan. Ini bulan perjuangan.


Rabu, 27 Juli 2011

Melawan Lupa - Rawat Ingatan



Masih ingatkah anda dengan Kudatuli. Akronim dari KerUsuhan DuApuluh TUjuh juLI?

Lalu apakah kita akan terus berlagak lupa? Bahwa pernah ada manusia yang dipaksa mati, dipaksa luka, dan dipaksa hilang. Bahwa pernah ada usaha sistematis dari aparatus negara untuk membungkam rakyatnya. Bahwa pernah ada perlawanan dari sebuah kesadaran akar rumput tentang kondisi yang busuk. Bahwa segala perlawanan itu harus tunduk di depan moncong senapan atas nama stabilitas dan demokrasi.

Lalu apakah kita akan selamanya pura-pura lupa? Atau berani mengingat dan melawan?

Jumat, 22 Juli 2011

God

god is greed

Hari ini saya sekali lagi gak Jumatan. Bukan menjadi Atheis, tapi sedang memikirkan ulang keimanan kepada agama yang saya pilih. Daripada melakukan ibadah sebagai sebuah rutinitas, saya lebih memilih tak melakukan apapun. Akhirnya memutuskan untuk tidur di UKM daripada turut duduk khusyuk mendengarkan khotbah jahil yang menyeru kepada kebencian sektarian. Well, itu saya lakukan secara sadar.

Selepas masa pulang sholat Jumatan saya kemudian keluar UKM untuk mencari makan. Tapi sebelumnya buang air dahulu. Celana dilipat hingga diatas mata kaki, meski percuma, saya usahakan agar najis kencing tak menciprat ke celana. Lalu saat hajat sudah hilang waktu pergi ke warung untuk makan.

Di warung saya bertemu kawan saya. Sebut saja ia Udin. Kami sudah lama tak bertemu hampir selama tiga tahun. Rupanya selama tiga tahun terakhir ia aktif dalam sebuah organisasi yang mengusung khilafah agama arab sebagai idiologi. entah kenapa gaya bicaranya kini menjadi bernuansa arab. Padahal jelas-jelas saya tahu dia kelahiran Lumajang.

"Subhanallah Antum sehat ya? Banyak rejeki," katanya
"Alhamdulillah doa sampean juga," entah kenapa saya ingin berbasa basi.

Selepas itu ia kemudian menceritakan pencerahan yang ia klaim semenjak bergabung dengan organisasi berbasis khilafah agama arab itu. Mengenai kafir-isasi umat A, monopoli kekuasaan yahudi di Indonesia, komprador-komprador thagut, serta dajjal-dajjal yang menyaru dalam tontonan televisi.

Dengan berapi-api ia menyalahkan bobroknya iman karena sekulerisme dan liberalisme ala barat yang dianut sebagian bangsa ini. Mengenai bagaimana golongan muda yang semakin terjebak nafsu syahwat dan kebebasan yang kebablasan.

"Hanya khilafah yang mampu menyelamatkan bangsa ini. Dengan akidah dan penerapan hukum yang sesuai ajaran maka kita akan bahagia dunia akherat,"

Biasanya saya sebal sekali jika ada orang yang berkata demikian. Meski dalam hati kecil saya setuju bahwa akidah dan syar'i mampu membawa kebaikan, namun penempatanya perlu konteks sosial yang jelas. Saya biarkan dia ngoceh ngalur ngidul tentang bagaimana ia ingin merapatkan barisan untuk mengganti sekulerisme negeri ini dengan sistem yang sudah berabad lalu musnah.

"Pokoknya tuhan akan merestui kita. Dengan kembali kepada ajaran rasul dan para sahabat niscaya Indonesia akan dirahmati,"

Dirahmati? Oh come on, saya ingin sekali menanyakan kemana rahmat tuhan itu saat Marsinah tewas di bantai, saat Munir diracun, atau saat tiga juta manusia di nusantara dibantai atas nama prasangka? Tapi sebagai teman yang baik saya hanya tersenyum sambil menghabiskan sisa krupuk di meja.

Udin rupanya semakin giras dan binal melihat reaksi positif yang saya berikan. Dia pikir saya mendengarkan, padahal sedikitpun tidak. Padahal saya sedang kesal dan berkhayal saat ini sedang di Jogja dan berkumpul bersama Pidi Baiq. Imam besar The Panasdalam. Sambil menghabiskan sisa teh tawar, saya mendengar ia semakin garang berbicara.

"Kita harus menumpas habis para infidel yang hidup dalam tampilan-tampilan generasi muda kita. Melawan kapitalisme Amerika dan sekutunya yang merusak persaudaraan umat sedunia,"

Saya mau tertawa keras sekali. Selepas ia mengucapkan kata kapitalisme dering Blackberry di sakunya terdengar. Melawan kapitalisme dengan memakai jasa simbol kapitalis di negara dunia ketiga? Sama seperti berkotbah tentang bahaya homoseksualitas sambil melakukan anal seks di Sodom.

Saya memutuskan untuk menghentikan kawan baik saya ini. Ia sudah terlalu berisik.

"Jadi kamu menyembah siapa?" saya iseng bertanya.
"Ya tuhan lah, aneh kamu ini,"
"Iya tuhan siapa? Tuhan yang menciptakan Muhammad atau tuhan yang menciptakan Dajjal,"
"Tentu saja tuhan yang menciptakan Muhammad," katanya.
"Tuhan yang menciptakan hitler atau Sayid Qutb?" lanjut saya.
"tentu saja tuhan yang menciptakan Sayid Qutb," jawabnya.
"tuhan yang menciptakan Abu Lahab atau tuhan yang menciptakan Abu Bakar As Sidiq?"
"Ya tuhan yang menciptakan abu bakar. Apa-apaan kamu tanya begitu?

Sambil berdiri saya menuju pemilik warung untuk membayar makanan. Udin ternyata masih penasaran dengan pertanyaan saya. Seperti anak kecil yang merajuk-rajuk. Ia memaksa saya untuk menjelaskan maksud pertanyaan saya.

Sambil lalu menaiki motor saya kemudian menjawab pertanyaan si Udin itu.
"Maaf din, saya sudah lama bersyahadat untuk menyembah tuhan yang menciptakan Hitler, Abu Jahal, dan yang kelak menciptakan Dajjal,"
"astagfirullah antum kafir! antum sudah terjebak kedalam sekulerisme bertaubatlah," jawab Udin.
"hahaha kamu itu yang perlu tobat,"

Saya biarkan Udin sendiri di warung itu yang tampak sangat kebingungan. Sepertinya saya rindu kotbah mbah saya soal nabi Khaidir.

Rabu, 06 Juli 2011

Surga dan Sedikit Kesepakatan Masa Depan


"If you have a garden and a library, you have everything you need."
— Marcus Tullius Cicero —

Apa itu surga? Buat saya surga adalah saat bersama orang yang kita cintai, membaca buku sambil meminum kopi pahit, memandang senja di sebuah pematang sawah, alunan khusyuk tartil seorang anak mengaji, memandang mata orang yang kita cintai di pagi hari saat ia bangun tidur dan berkata "Aku suka rambut lusuhmu, caramu menguap, mata bengkakmu dan masam wangimu,"

Adalah Marcus Tullius Cicero, seorang orator, pengacara, filsuf dan juga pemikir paling penting romawi. Ia berasal dari keluarga terdidik yang mencintai pengetahuan. Lewat membaca dan menulis ia mengembangkan bakatnya sebagai penerjemah, linguis, dan juga penulis yang handal. Beberapa karya terbaiknya adalah kumpulan surat untuk sahabatnya Aticcus, sebuah kontenplasi sebagai anggota senat romawi dan juga tulisan pemikirannya terhadap alam.

Untuk Cicero, membaca buku, berpikir tenang, berkebun dan menikmati sore hari di Roma adalah sebuah kemewahan setara surga.

Tapi surga kecil saya untuk saat ini adalah sebuah kamar kumuh dengan berbagai buku berserakan rapi, sebuah jendela besar menghadap sawah, omelan ibu tiap pagi, komentar teman yang cadas dan lagu-lagu moody di earphone. Bagaimana dengan kalian?

Senin, 04 Juli 2011

How " Pasti " Are You?


Universitas Kampret of Cambridge, calon kampus saya :D


Oke, sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa ini bukan tulisan motivasi. Bukan pula tulisan penyemangat yang diharapkan setelah lunas membaca ini kalian akan langsung masuk surga. No, in fact half of this writings is almost shit.

Berawal dari keisengan saya dan kawan-kawan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berkata "Kalau ngerasa pasti bisa, pasti bisa beneran." Saat sedang capek menulis dan membaca. Sekedar penyemangat saat sedang sumpek atau merasa sesak dengan kondisi diri sendiri. Tak disangka mantra itu ampuh untuk membuat saya dan kawan-kawan mencapai apapun yang kami inginkan.

Ada kawan yang berkata Pasti Bisa juara satu Desain. Dan dia menang juara tak hanya juara satu tapi juga juara umum. Ada kawan yang berkata Pasti Bisa lolos beasiswa. Dan dia lolos beasiswa selama setahun. Ada juga seorang bigot kawan saya yang bersumpah akan menziarahi makam tuhan Jim Morrison. And that mother fucker fly to paris and meet his god! FUCK!

Ini bukan kisah "man jadda wa jadda" ala Ahmad Fuadi. Bukan sama sekali. Jika AF adalah fatalis akut yang berhamba pada doa akan menyelesaikan segala. Saya dan kawan-kawan saya merupakan budak matrealisme logis yang bertumpu pada kerja keras dan usaha diri. Rumus Pasti Bisa itu seringkali membuat saya tak percaya. Seperti saat saya bermimpi bisa ikut kelas jurnalisme sastrawi Pantau, atau melancong ke Sulawesi atau menemukan buku langka Amartya Sen. Semua karena keisengan berkata "Pasti Bisa"

Dan ini mimpi saya. Untuk kuliah di Universitas Kampret of Cambridge. Salah satu universitas terbaik dan (termahal di Dunia). Saya ingin belajar bagaimana universitas yang didirikan para desertir Oxford ini melakukan riset, menganalisa dan bagaimana produk penelitian mereka bisa melakukan perubahan kebijakan. Well, saya pasti bisa. Pasti. Entah kapan.