Rabu, 16 November 2011

Losers Campaign


Kampanye keren tentang plonco.

Sabtu, 12 November 2011

Rabu, 09 November 2011

Palagan Jumerto

~ sejarah menguburkan para pelakunya diam-diam

“Nama saya Hj Siti Romlah. Tapi dulu saya dikenal sebagai Arsiti,” kata perempuan renta itu bertutur. Ada segurat rasa curiga saat saya mendekatinya. Ia enggan bercerita lebih banyak. Namun setelah beberapa lama kami mengobrol ia lantas mau membuka diri dan sesekali tersenyum.

Bu Haji, begitu ia disapa, merupakan salah ssatu janda peristiwa palagan Jumerto. Dan satu dari sedikit saksi sejarah yang masih hidup. Di tengah usianya yang beranjak senja ia hidup secara sederhana bersama keponakan dan kerabatnya. “Saya tak punya anak. Dan dua suami saya terdahulu sudah meninggal,” katanya lirih.

Ibu yang juga janda pahlawan ini tinggal di Desa Jumerto kecamatan Patrang. Rumahnya berjarak sekitar enam kilometer sebelah utara dari kota Jember. Udara desa ini terasa sejuk. Karena masih banyak rindang pepohonan yang tumbuh dikawasan itu. “Kalau musim hukan seperti ini makin dingin. Suka sakit tengah (pinggang) kalau malam,” tuturnya.



Monumen Palagan Jumerto


Tiba-tiba raut wajah Bu Haji berubah saat melihat monumen tinggi di sebelah rumahnya. Bangunan itu adalah monumen peringatan palagan Jumerto, dibuat sebagai penghormatan pada para pahlawan yang gugur saat peristiwa peristiwa tahun 1949. “Dulu suami pertama saya mati di tembak belanda. Kakak kandung saya juga,” katanya tiba-tiba. Bagi beberapa orang menceritakan kematian bukan perkara mudah.

Tepat pada 11 Februari 1949 terjadi peristiwa heroik, perlawanan masyarakat desa Jumerto dan pasukan Mobrig (sekarang Brimob) terhadap penjajah Belanda. Saat itu pasukan Mobrig di bawah pimpinan AKP Soekari, datang ke desa Jumerto dengan kekuatan 3 Pleton atau kurang lebih 90 orang. Mereka tengah melakukan perjalanan gerilya dari daerah Malang, Lumajang dan Jember.

“Pak Soekari mampir untuk istirahat. Itu sudah malam kalo gak salah jam 1an,” tutur Bu Haji. Namun kehadiran mereka ternyata diketahui oleh salah seorang mata-mata Belanda. Sepanjang malam pasukan Mobrig yang beristirahat itu tak menyadari bahaya yang mengintai. “Kalau ingat itu saya sering menangisi saudara saya,” seru Bu Haji.

Esok harinya pukul 06.00 tentara Belanda yang terdiri dari KNIL dan Gurkha (pasukan elit India dari Inggris) mengepung tempat peristirahatan tentara Mobrig. “Waktu itu dak pake ngomong. Sukur tembak aja dor dor dor saya yang di rumah jaraknya jauh sampai dengar,” kata Bu Haji.

Pertempuran memang tak bisa dielakkan. Karena pada saat itu telah ditanda tangani perjanjian Renvile yang bersisi semua pasukan Republik harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Timur. “Kakak saya yang jadi tentara pelajar langsung kesana. Suami pertama saya juga padahal udah rame bak tembakan,” serunya.


Nama-nama korban Mobbrig


Sebagian tentara Mobrig yang tak sadar dengan mudah dihabisi oleh pasukan KNIL dan Gurkha. Mengetahui itu warga desa Jumerto yang setia pada Negara Indonesia tak terima dan melakukan pertempuran melawan pasukan Belanda. Sampai menjelang siang, disaat pertempuran berlangsung pasukan Brimob mendapatkan perintah untuk tidak melanjutkan perlawanan. “Pas mau Ashar itu pak Sukari mundur padahal sudah banyak yang mati,” runut Bu Haji.

Dari puing pertempuran ditemukan bahwa ada 13 anggota Mobrig yang gugur dan 20 warga Jumerto. Bu Haji yang kehilangan saudara dan suaminya berusaha tegar sebagai kerabat pejuang.

Nama-nama korban dari desa Jumerto


“Saya rela sungguh rela. Ini demi negara,” katanya pelan.

Kini telah 62 tahun sejak peristiwa itu terjadi Bu Haji masih sendiri memperjuangkan hidup. Rumah sederhananya tak ada yang istimewa. Dingin dan sepi dari hiruk pikuk. Tak satupun penghargaan yang ia terima selain sebuah monumen mati dan seperangkat mukena atas jasa keluarganya. “Saya pernah diberi mukena sama pak Kapolres itu saja,” katanya.

Konon bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannnya. Kini Bu Haji menikmati sisa umur dalam kesunyian. Ia ikhlas merelakan keluarganya sebagai tumbal perjuangan kemerdekaan.

“Ya sudah mungkin ini rejeki saya. Alhamdulillah seng penting merdeka,” ujarnya lirih.


Bu Haji

Senin, 07 November 2011

Skłodowska

~ I am among those who think that science has great beauty.

Saya membayangkan di ujung hidupnya, Skłodowska, sedang memandang rerumputan hijau. Mengingat masa kecilnya di pinggiran kota Warsawa. Segala kenangan berkelindan dalam pikirannya dan sebuah senyum simpul tersungging di wajahnya. Sementara seperti biasa tatapan mata Skłodowska datar. Seolah tak pernah ada emosi dalam hidupnya.

Suatu pagi di Sancellemoz Sanatorium Passy, Haute-Savoie, di timur Prancis. Skłodowska sedang terbaring sangat lemah. Kanker dalam tubuhnya sudah memasuki tahapan yang tak tersembuhkan. Ia menyadari bahwa hidupnya sudah memasuki tahap akhir dan sebentar lagi tirai tertutup. Tak ada gurat kesedihan atau penyesalan dalam hidupnya. Sebuah tahapan kebebasan yang terlepas dari hiruk pikuk dunia.

Sebuah usaha moksa dari betari ilmu pengetahuan yang menghendaki kesempurnaan hidup. Ia tak mengenal agama. Segala pengetahuan mengenai ajaran kasih sudah lama ditinggalkan dalam tumpukan tabung kimia. Namun ujung hidupnya merujuk sebuah kemiripan pada jalan para bodhi. Dukkha Nirodha Ariya Sacca. Jalan kerelaan dan keikhlasan untuk melepaskan segala keinginan.

Skłodowska muda adalah seorang ilmuan brilian yang jatuh cinta pada ilmu pengetahuan. Serupa Faustus yang menjual jiwanya untuk pengetahuan pada Mephisto, maka si gadis brilian dari Warasawa menjual jiwanya demi sains.

Apakah ia menyesal? Tidak. Sejarah mencatatkan ada harga mahal untuk sebuah perubahan. Tumbal dari martir sebagai sebuah jalan lain pencerahan. Kisah Ibrahin dan Ismail. Komodor Yos Sudarso dan berbagai kisah epik lainnya. Bahwa ada sebuah sisi tengah mata uang yang jarang sekali dipahami sebagai proses.

Tentu ada melankolia. Romantisme. Apalah arti sebuah epos tanpa kisah romantik? Si gadis kecil dari pinggiran Polandia jatuh cinta dengan seorang Pieere Curie si kutu buku dari paris. Bukan karena ia mencintai magnet sehingga Skłodowska dan Pieere bersatu. Tapi karena memang seringkali cinta terjadi dengan cara yang salah.

Maka sesungguhnya tak ada radium tanpa Skłodowska dan Pieere.

Tapi seperti setiap drama yang baik. Maka tragedi adalah salah satu ending paling monumental dalam kisah cinta manapun. Pieere harus meluluh dalam kematian karena sebuah kecelakaan tragis. Apakah sekali lagi Skłodowska kecewa? Tidak. Ia menemukan eskapisme baru. Radiologi memperoleh messiahnya.

Kita tahu tak pernah bisa dan tak boleh bermain-main dengan kematian. Seperti mendekati nuklir dan mengotak-atiknya sebagai sebuah sumbu pemanas. Melarutkannya dalam tabung-tabung kimia. Serta memaparkan sinarnya kepada tubuh. Sebuah usaha bunuh diri yang manis demi umat manusia.

Seringkali tak banyak para martir sadar akan perbuatannya. Mereka seperti sedang berbincang mengenai tiket konser untuk bertemu santo Petrus di gerbang surga. Atau meniti sirathul mustakim seperti sebuah kegiatan akhir pekan. Skłodowska tak pernah menyadar bahwa eskapisme masokisnya adalah sebuah titik balik pengobatan.

Ada ritus kemudian yang mengenang jejak mereka sebagai tindakan profetik. Bahwa ada campur tangan tuhan dalam kisah-kisah transenden penemuan umat manusia. Dimana seringkali ada sebuah mitos-mitos dan kisah kisah sampingan tak perlu dalam narasi tersebut. Bukankah semua tragedi harus diawali dari sebuah sikap nyinyir yang pejal?

Bahwa Skłodowska adalah seorang genit yang mengganggu pria muda beristri?

Entahlah. Saya tak pernah percaya santo dan rasul membawa kebaikan pada dunia. Para pendosa-lah yang memberi gigir dunia sebuah perspektif baru. Penyeimbang akan kebaikan yang harus dihindari, ditinggalkan dan dimusuhi. Tapi seringkali nilai-nilai normatif degil memberi kabut paling besar pada pencapaian yang luar biasa.

Dan inilah ia Skłodowska si Gadis Dari Pinggiran Warsawa. Masih menjadi satu-satunya wanita yang meraih dua penghargaan raja dinamit. Bahkan melampaui ekspektasi semua laki-laki, jika anda berpikir dari kaca mata feminis. Seorang wanita yang terluka bisa menemukan pengobatan dengan cara melukai diri. Konyol? Mungkin, tapi seluruh dunia menikmatinya.

Seraya mengamini Chairil Anwar bahwa hidup hanya menunda kekalahan. Karena kita tahu ada banyak hal yang tetap tidak terucapkan meski telah coba diutarakan. Kata-kata sudah kehilangan makna dan kekuatannya saat hati dan pikiran kita sudah tak lagi linier. Namun sebelum pada akhirnya kita menyerah mengapa tak buat keabadian.

Ah Marie Skłodowska Curie yang malang. Untuk apa hidupmu terbuang?



Minggu, 06 November 2011

Merah





Ini dalam kamar ini
Aku bersembunyi lagi
Mereka yang kita sayangi
Yang paling mampu melukai

Monkey to Millionaire
Merah


Jumat, 04 November 2011

[REVOLVERE PROJECT] Kau Yang Mengutuhkan Aku


Ada banyak peristiwa sederhana yang kasat mata kita pahami sebagai keseharian. Namun apabila hal tersebut dibingkai dalam sebuah sudut pandang yang berbeda. Akan ada estetika, keharuan dan perasaan bebal.

Keseharian mencengkeram kita kedalam kubikel kubikel kumal yang mengharuskan kita jadi robot. Menjadikan kita sebagai individu yang mekanis dan acuh pada sekitar. Lalu secara perlahan kita kehilangan identitas diri sebagai manusia, sebagai mahluk yang memiliki perasaan, dan yang paling mengerikan kita kehilangan cinta.

Ini yang coba diretas Revolvere Project (RP). Project hibrida sastra-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru. RP ini mengajak pembacanya berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, dan telinga sekaligus.

Tema-tema yang diangkat project ini merupakan tema-tema sederhana di keseharian namun berusaha dilihat melalui sudut pandang yang berbeda; untuk meninjau ulang maknanya dan memperdalam perannya dalam meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia biasa yang seharusnya luar biasa. :)

Didirikan pada pertengahan bulan Agustus 2011 di sebuah café di Bandung, project ini digawangi tiga kreator lintas-bidang: Fahd Djibran (penulis), Fiersa Besari (musisi), dan Futih Al Jihadi (seniman visual).

Mari membuka mata, telinga, dan rasa... Selamat menikmati karya mereka yang pertama.

Kau Yang Mengutuhkan Aku
Revolvere Project
Naskah Fahd Djibran

Senja makin tua ketika kita tiba di kota itu.

Kau melingkarkan lenganmu di tubuhku ketika kita melintasi bangunan-bangunan tua, ruko-ruko yang asing. Ada debar yang tak biasa, bertalu dalam hatiku; Naik turun seperti roda sepeda motor yang sedang kita kendarai bersama, menari di punggung jalan kota yang berlubang.

Selepas kelokan itu, kau mempersempit lingkar lenganmu, mendekatkan tubuhmu dengan punggungku, menyandarkan pipi kirimu di bahu kananku. Entah apa yang sedang terjadi, sesuatu membimbingku memegang tanganmu dengan tangan kiriku. Tiba-tiba debar itu semakin cepat, membuyarkan konsentrasiku: dan tubuh kita tersintak saat ban depan sepeda motorku anjlok di sebuah lubang. Kamu tertawa. Sementara aku masih manahan napas sambil berusaha mengendalikan kemudi yang oleng.

Tangan kita kembali jadi milik masing-masing. Es mencair dalam pikiran. Sejujurnya, apa yang kubayangkan, melebihi apa yang sudah terjadi. Plang-plang hotel kelas melati, reklame bergambar gadis manis berpakaian seksi, ciuman pertama: rasa waswas yang buas. Itu salahku, sungguh: pikiran-pikiran buruk telah membuyarkan konsentrasiku, dan hampir saja membuat hidup kita berakhir di jalanan kota yang asing.

“Kita sudah hampir sampai,” katamu. “Dua kelok lagi, di kanan jalan, rumah nenek bercat hijau dengan pagar putih.”

Aku mengangguk perlahan. Sedikit mempercepat laju roda sepeda motorku.

“Kamu mau menginap?” tanyamu.

Kota yang sepi, rumah yang tak dihuni siapa-siapa, nenek sudah tua, lampu jalan remang-reman, liburan yang panjang: menyamarkan kata pulang. Apakah di kota ini kita akan merayakan ciuman pertama? Bercumbu di bawah dingin bulan?

“Ah, tidak,” kataku padamu, “aku langsung pulang ke Bandung setelah Isya.”

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Kita bisa telponan atau sms-an, kan? Kamu bisa jemput aku dua minggu lagi.”

Aku mengangguk. Kita sudah sampai.

Ciuman pertama kita, selalu urung kita rayakan. Bukan tidak bisa, tapi tidak saja. Meski sebenarnya ingin, aku harus bertahan. Kamu bukan hakku, dan aku tak mau kehilangan debar itu: rasa rindu yang tak habis-habis menghadirkan bayangmu di malam-malam insomniaku.

Kencan kita adalah pertemuan-pertemuan biasa: bioskop, toko buku, pertunjukan teater, makan malam di pinggir jalan. Kita selalu punya banyak kesempatan untuk berciuman, bahkan lebih dari itu. Kita punya banyak kesempatan untuk bisa seperti pasangan kekasih yang lain, selayaknya mereka yang kasmaran di zaman ini. Tapi kita saling bertahan, aku dan kamu: Kita harus menunggu.

“Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”

“Aku memilih yang kedua,” kataku.

“Aku juga,” katamu. Tersenyum.

Dari sekian banyak pasangan kekasih di zaman ini, barangkali cara kita yang paling asing. Untuk tidak mengatakannya aneh. Dulu kamu selalu marah. Kamu ingin seperti pasangan kekasih lain yang mendapatkan pelukan dan ciuman. Tapi, seperti sudah aku jelaskan, “Yang penting bukan itu. Apa artinya kita berdua, bermesraan, tapi tak pernah saling mendoakan?”

Waktu itu, kamu terdiam. Aku juga tak tahu dari mana aku mendapatkan kata-kata itu. Kamu menangis. Kamu minta maaf. Tapi itu bukan salahmu, kok. Aku juga manusia biasa yang menginginkannya. Kita hanya perlu kesabaran, sebab aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin merusak kesungguhan cintaku dengan keinginan-keinginan yang merendahkan. Syukurlah kamu setuju.

“Bersabarlah, sebentar lagi, dua bulan lagi kita akan menikah.” Kataku, sebelum berpamitan pulang malam itu.

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Aku mencintaimu,” katamu.

“Aku juga. Kau yang mengutuhkan aku.”
Nanyikan lagu kesukaan kita
Percepat laju roda
Ku tak peduli dengan mereka
Asal kau di sini

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

Tak bosan-bosan
aku ucapkan tiga kata itu
Aku tak pernah merasa lengkap
Sampai kau datang

Jangan pergi
Kau yang mengutuhkan aku
Bertahanlah sebentar lagi
Sampai kuikat dirimu

…dan dunia seakan membenci kita
Raih tanganku agar kutahu ku tak sendiri
…dan aku melihat segalanya
Saat aku melihatmu

Lalu kita berpamitan. Berpisah lagi, seperti biasa. Kembali bersalin rupa menjadi sepasang kekasih yang mengakrabi makna cinta dari dua tempat yang berbeda.

Dari mana aku belajar bersabar mencintaimu, menunda segala hal yang terus-menerus menggoda kita berdua? Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa alasan-alasan yang pada saatnya akan tiada—wajahmu yang cantik, rambutmu yang hitam dan panjang, kulit kencangmu. Biarlah cinta tumbuh sebagaimana para petani bersabar menanti padi, hingga saatnya panen akan tiba.

Demi apapun, aku mencintaimu. Cintamu telah mengubahku menjadi lelaki yang tak tunduk pada kelaminnya sendiri. Lalu aku akan tidur dengan tenang; memimpikanmu menari di taman bunga; lalu kupu-kupu hinggap di rambutmu yang puitis, melengkungkan senyummu yang manis.

Pagi-pagi, selepas sembahyang, aku akan mendoakanmu dan kamu mendoakanku. Hingga pada saatnya sebuah SMS akan tiba, berisi tiga kata seperti biasanya: aku cinta kamu.


Bertahanlah,
sebentar lagi,
sampai kau ikat diriku...

Bingkai Cahaya






~ Great music and great photo. And we do hate our miserable life right?
Saya tak kenal Robert Frank sebelum membaca dan meliat kumpulan foto yang berjudul The Americans. Tapi sekarang saya tahu, jika James Nacthwey adalah Perseus dalam dunia fotografi. Maka Robert Frank adalah Hommer. Tidak, saya tidak sedang membicarakan mengenai penciptaan fotografi. Karena itu akan sama saja dengan memperdebatkan mengenai kuasa tuhan atas cahaya.

Nachtwey adalah begawan genre fotografi perang dan kemanusiaan. Lewat salah satu film semi biografi dokumenternya, the war photographer, Nachtwey menelanjangi peperangan sebagai sebuah keegoisan yang hanya berujung pada kemusnahan masal. Namun tak berhenti sampai disitu ia juga berusaha lebih dekat menyusun narasi kemanusiaan tentang kemiskinan. Sebuah usaha platonik yang naif.



Kemiskinan adalah klise. Sebuah tema usang yang sekalu sukses meruntuhkan air mata. Nachtwey sukses menggarap tema itu sampai kepelosok dunia (bahkan Indonesia) dan mengembangkannya sebagai isu sentral perubahan. Ada ketakutan yang tak teraba dalam setiap karyanya. Bahwa manusia cenderung selalu mengulang sejarah. Sialnya, bukan sejarah kegemilangan tetapi darah.

Dalam suatu fragmen dalam bukunya yang berjudul Inferno ia berkata "I have been a witness, and these pictures are my testimony." Sebuah prolog atas teror yang ia lanjutkan "The events I have recorded should not be forgotten and must not be repeated." Sebuah ketakutan dan teror yang berjelaga dalam diri Nachtwey.




Seperti perasaan Valkyrie saat ia harus menunggu dan menyaksikan para pejuang tewas meregang nyawa di medan perang. Menggenapkan epigraph Dante dalam “Inferno

“Through me is the way to the sorrowful city. Through me is the way to join the lost people.”

Berbeda dengan Nachtwey yang cenderung frontal menyuarakan perang, kepedihan, kehilangan, kematian dan kesedihan. Robert Frank lebih lembut dan landai menyuarakan isu isu minor. Mengenai rasisme kulit hitam di Amerika. Jim Crows Laws dan bagaimana black power berusaha mengangkat derajat kaum tertindas itu.

Sangat luar biasa jika melihat bagaimana sebuah foto dapat mempengaruhi kebijakan. konon foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank mampu menggugah publik Amerika untuk lebih arif bersikap. Dan mengakhiri ratusan tahun penindasan atas nama warna kulit.

Foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank dalam The Americans, cenderung tidak artistik dalam kaca mata kesenian. Ia lebih banyak bicara dengan bahasa kemanusiaan. Seperti gambar-gambar yang disusun secara tak sengaja dan bukan by design. Hal inilah yang juga menjadi dasar mengapa beberapa orang menganggap Robert Frank sebagai bapak street potography atau fotografi jalanan.




Sebagian besar foto yang dibuatnya berkisar di jalanan Mississippi, Bronk, dan juga daerah dengan persinggungan kulit hitam putih yang besar. Disana ia bisa mengolah foto dengan begitu nadir, satir dan getir. Membuat bingkai seolah-olah paradoks kemanusiaan atas nama warna kulit itu hanya sekedar imaji. Repetoir inilah yang kerap membuatnya diburu oleh Klu Klu Klan karena dianggap anti segregasi kelas.

The Americans juga membawa Jack Kerouac, Allen Ginsberg, dan gerombiolan beat lainnya untuk bersinggungan dengan Robert Frank. Dari intimasi ini lahirlah dokumenter kontroversial the Rolling Stones. Hal inipula yang kelak membawa begawan street photography ini untuk melakukan perlawanan sunyi dengan caranya sendiri. Melalui frame foto yang mengambarkan kedegilan hidup.


Saya kira fotografi hari ini sudah terlalu jengah dengan model, inframerah dan segala hal kerdil macam hobi-hobi kekanakan. Fotografi bisa jadi cara lain untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan. Dan juga bisa jadi sebuah katalis untuk menggambarkan pemberitaan. Sebuah narasi berita memang tak akan jadi menarik tanpa adanya foto-foto yang baik. Tapi juga bukan berarti semua orang bisa dan serta merta jadi pandai hanya karena punya kamera mahal seharga mobil.

Euforia instagram juga menenggelamkan esensi paling subtik dari fotografi. Yaitu medium untuk menyampaikan sebuah momen yang apa adanya. Kini pelukis cahaya bisa merasa menjadi paling nyeni hanya dengan sisipan elemen tambahan dari software. Kita pelan-pelan dipaksa menerima, bahwa apa yang telah dipoles lebih indah dan lebih benar dari kejadian yang apa adanya.

Akhir-akhir ini saya dibuat sedikit tidak nyaman dengan keberadaan label pada foto yang ditasbihkan dengan nama pembuatnya. Hampir dalam setiap karya baru para pembuatnya muncul dalam setiap foto yang ditautkan di laman facebook saya. Semisal Condet Photography, Japrak Photoworks dan Juleha Photo Studio. Saya tak pernah ingat melihat foto-foto yang dibuat Robert Frank atau James Nachtway (bahkan pada awal karir mereka sekalipun) menyertakan nama-nama labil.

Pada masa awal saya belajar fotografi saya juga menyertakan idiom-idiom labil dalam setiap foto yang saya buat. Ini mengingatkan saya bahwa toh ada fase-fase belajar dalam fotografi. Juga dalam setiap karya yang dibuat kita butuh pengakuan dan diakui. Namun apakah ini harus terus menerus dan selalu dilakukan? Dan apakah objek foto melulu hanya model yang (maaf) setengah telanjang dan menonjolkan sensualitas?

Tapi, entahlah, bukankah dulu fotografi hanya hobi bagi segelintir. Mereka yang terasing dan hanya mampu melihat suatu hal dari perspektif lain. Bahkan hingga hari ini fotografi di hollywood (bukan Amerika) dicitrakan sebagai kegiatan kaum nerd. Tapi entah kenapa di sini (kota saya) jadi parade orang-orang snobs. Ah.. mungkin saya hanya sirik saja.




82 Tatal mengenai Cinta Yang Terlampau Usang



Sebermula rasa penasaran. Seorang kenalan saya Idham Rahmanarto fotografer jenius muda berbakat mentwtit tentang buku. The book of waiting, katanya dalam sebuah tweet. Seperti kebanyakan kaum snobs buku saya tertarik untuk kemudian mencari tahu dan meminta Idham untuk memberinya kepada saya. Dan inilah buku yang ia berikan. A Lover's Discourse, sebuah gumam, racauan dan kicau resah mengenai cinta.

Saya tidak pernah tahu bila Roland Barthes, sang filsuf dandy ini, adalah seorang yang melankolis. Setidaknya itu yang saya raba dari kumpulan 82 tatal perihal cinta yang ia buat. Barthes, merangkai sekumpulan fragmen-fragmen definisi dan perenungan mengenai perasaan yang ia curigai sebagai cinta. Tentu saja tidak melulu pemaknaan yang rapuh, lembek, menye, atau memuakkan.
Salah satu fragmen tatal yang saya sukai adalah exil / exile. Sebuah kondisi kalah, atawa pengakuan terhadap superioritas terhadap liyan. Atau dalam bahasa Barthes, "Deciding to give up the amorous condition," katanya. Sebagai sebuah bentuk penyesalan dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan. "The subject sadly discovers himself exiled from his Image-repetoire."

Jika Barthes menulis Mythology dalam keadaan geram terhadap kondisi sastra Perancis saat itu. Maka saya boleh menduga Ia menulis A Lover's Discourse dalam keadaan galau yang akut. Banyak fragmen-fragmen kisah, cerpen, puisi dan gumaman tak jelas yang melingkupi tatal ini. Seolah tak hendak memberikan penjelasan yang utuh terhadap permasalahan yang kerap menempel ketat pada cinta itu sendiri.

Seperti penjelasan Barthes pada fading / fade-out. Saya merasa kondisi ini merupakan titik nadir Barthes dalam mendefiniskan cinta yang gagal. "Painful ordeal in which the loved being appears to withdraw from all contact," katanya. Sekilas kondisi ini mirip dengan exil / exile karena menggambarkan sebuah pelarian dan sikap desertir. Namun Barthes lebih ingin mengambarkan fading / fade-out sebagai sebuah sikap nyepi daripada harus menghadapi permasalahan cinta secara frontal.

Barthes menggambarkan penokohan seseorang yang pengecut. "Without such enigmatic indifference even being directed against the amorous subject or pronounced to the advantage of anyone else, world or rival." katanya. Ada rasa getir dan lelah dari tatal ini. Seperti kisah cinta Lancelot dan Guinevere yang berkubang di bawah tahta Artur. Kondisi dilematis yang kerapkali diselesaikan dengan penyerahan diri terhadap super-ego.

Sedikit banyak selama beberapa waktu ini saya merasa didewasakan. Kerapkali dengan cara yang tengik dan brengsek. Namun diam-diam buku ini memberikan semacam pencerahan terhadap cinta. Sebuah usaha merekonstruksi definisi dan pemahaman terhadap cinta. Tapi pada akhirnya, jika saya boleh meminjam sajak Chairil Anwar, cinta serupa nasib. Adalah kesunyian masing-masing.

Senin, 31 Oktober 2011

Closer Kick Ass Quote Ever!


Saya selalu percaya, cinta atau apalah anda memaknainya, adalah sebuah proses apa boleh buat yang kadang terjadi secara alami. Tak perlu sedu sedan atau sebuah roman hiperbolis yang menjadikan cinta itu tereduksi maknanya. Banyak orang yang tak setuju dengan saya namun ada beberapa pula yang sepakat dengan pemahaman saya.

Sampai pada sekitar awal 2005 lalu saya menonton film Closer yang di tulis oleh Patrick Marber dan disutradarai oleh Mike Nichols. Film ini dengan kritis menyatakan penggambaran empatorang asing, dengan satu persamaan yaitu keterasingan dan birahi. Definisi cinta disini menjadi kabur dan menjadi sangat cair karena pemaknaan masing masing karakter tentang cinta sangat bias.

Karakter itu adalah Dan (Jude Law) seorang penulis obituari yang juga novelis gagal, Anna (Julia Roberts) fotografer profesional, Alice (Natalie Portman) penari telanjang dan Larry (Clive Owen) seorang dokter kulit. Masing-masing latar belakang yang berbeda ini menjadikan pemahaman mereka mengenai cinta menjadi beragam.

Plot film ini mengalir sederhana. Sesederhana anda melihat sebuah daun jatuh di taman atawa meramalkan reaksi seseorang yang sedang muak. Namun kesederhanaan inilah yang menjadikan Closer buat saya sangat personal dan intim. Karena tidak mengumbar romansa secara memuakan atau menebarkan dialog-dialog boros yang tak berguna.

Pada mulanya kisah dimulai dengan pertemuan antara Dan dan Alice yang terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Dan menolong Alice yang mengalami kecelakaan, lalu membawanya ke rumah sakit. Dalam trailernya produser film ini membuat sebuah kutipan yang sangat monumental "Love is an accident, waiting to happens". Serupa dengan segala macam kecelakaan, jatuh cinta, bisa terasa sangat menyakitkan.

Pertemuan Alice dan Dan sendiri dimulai dengan sebuah dialog yang sangat manis. "Hello Stranger," sebuah diktum komikal. Bahwa tak pernah seorang manusia waras jatuh cinta pada orang yang dikenalnya. Rasa asing dan sikap penasaran akan seseoranglah yang membuat kita jatuh cinta.

Kisah berlanjut dengan momen dimana Dan dan Alice jatuh cinta lalu hidup bersama. Setahun berlalu, kini Dan sedang akan merilis buku yang dia tulis dimana buku tersebut terinspirasi dari kehidupan Alice. Saat itu Dan sedang berada di studio foto dari Anna. Ternyata perasaan yang mereka miliki lebih dari sekedar hubungan kerja. Walaupun begitu Anna tidak ingin menyakiti perasaan Alice dengan merebut Dan.

Ada pula sosok Larry yang merupakan suami Anna digambarkan sebagai pria yang merasa harus memiliki wanita yang dia cintai. Bisa dibilang ini adalah sebuah obsesi terhadap kepemilikan ketimbang rasa cinta. Tapi sekali lagi perasaan ingin memiliki orang yang kita cinta entah cinta tersebut tulus ataupun obsesi, adalah hal yang wajar. Erich Fromm menggambarkan ini sebagai sebuah penyimpangan eros yang melahirkan tuntutan akan kepemilikan individu (manusia lain). Tapi cinta semacam ini kerap kali melahirkan penyesalan. Karena kadang kita tak pernah sadar apa yang kita miliki sampai kita kehilangan mereka.

Penceritaan film ini yang unik dalam pemotongan momennya membuat kejutan menjadi hal yang sering terjadi. Tiap selesai satu momen dan melompat ke momen berikutnya kita akan disuguhi fakta baru yang cukup mengejutkan walau terkadang tetap ada juga yang tertebak. Adalah hal menarik dalam film romantis mempunyai twist yang cukup mengejutkan baik di tengah hingga di ending. Tapi sayang ada beberapa hal yang saya rasa menjadi agak dipaksakan. Salah satunya adalah pada fakta sebenarnya mengenai Alice yang diungkap di akhir film. Apabila selama 4 tahun ini dia sungguh-sungguh mencintai Dan, sungguh aneh dia menyembunyikan hal tersebut bukan? Kenapa juga dia malah mengatakan yang sebenarnya pada Larry?

Saya juga selalu percaya True love nerver run smooth. Serupa penantian Florentino Ariza demi cinta dari Fermina Daza selama 50 tahun. Tapi penantian adalah penyiksaan paling keji bagi mereka yang sedang jatuh cinta.

Selama film berlangsung saya tak henti-henti dibuat tercengang dengan dialog film ini yang konyol, profetik, romantis (tanpa harus puitis) dan cerdas. Meski tak bisa mengalahkan dialog dalam Before Sunset dan V for Vendetta. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan yang menurut saya sangat keren dan kick ass!


Dan: I want Anna back.
Larry: She's made her choice.
Dan: I owe you an apology. I fell in love with her. My intention was not to make you suffer.
Larry: So where's the apology? Ya cunt.
Dan: I apologize. If you love her you'll let her go so she can be happy.
Larry: She doesn't want to be happy.
Dan: Everybody wants to be happy.
Larry: Depressives don't. They want to be unhappy to confirm they're depressed. If they were happy they couldn't be depressed anymore. They'd have to go out into the world and live. Which can be depressing.

Tapi kata si Idung teman saya yang imut berhidung mungil. Ini yang paling kick ass.

Dan : You think love is simple. You think the heart is like a diagram.
Larry : Have you ever seen a human heart? It looks like a fist, wrapped in blood! Go fuck yourself! You writer! You liar!

Agak nyindir sih. Mentang mentang penulis semuanya pembohong. Kutu kupret mah XD. oh ini kutipan lain yang agak sarkastik dan sedikit profetik.

Anna: Love bores you.
Dan : No, it disappoints me.

Hahaha i find it kinda funny though.
Yeah, she likes guilty fuck!

First as Tragedy, Then as Farce



You see or you better die in agony!

Sabtu, 29 Oktober 2011

The Bahamas - Pesta




Hampir setiap hari selama seminggu terakhir ini saya mendengarkan Pesta nya The Bahamas dengan volume tear your fuckin ear off! Hell yeah. Musik adalah eskapis paling waras dan cerdas, buat saya, jika sedang sumpek atau tertekan.

Siapa The Bahamas? Band ini berdiri tahun 2001 dengan formasi awal Conat (gitar, vokal), Moro (drum) dan Robin (bas, vokal). Awalnya hanya sebagai side-project dari personilnya, tapi kemudian malah keterusan.

Formasi pertama The Bahamas tidak bertahan lama, lantaran Moro harus kembali ke DKSB dan project Biosampler. Posisinya digantikan oleh Andry, mantan drumer band rock indie legendaris Puppen (Semoga mereka reuni Tuhaan). Persoalan belum selesai lantaran Robin memilih gabung dengan sebuah perusahaan di Bali. Akhirnya Chandra pada bas dan Dendy pada bas, meramaikan The Bahamas bersama Conat.

Ya, buat mereka yang paham scene lokal indie Bandung pasti setidaknya mendengar mereka dari kompilasi New Generation Calling. Satu album bersama Teenage Death Star (band nya Sir Dandy Harington), Boys Are Toys (Asukenapa mereka milih judul ini?), Superman Is Dead dan The Disconected.

In short, those big new rising star back there.

Gimana ceritanya bisa mendapat album ini waktu itu? Well ceritanya lumayan konyol. Waktu SMA kelas tiga saya suka seseorang. Cewek tentunya. Dan pada waktu itu, tak seperti hari ini, lagu-lagu bagus hanya diputar di MTV (how small minded i was?), Radio dan jika kau cukup kaya, membeli kasetnya.

Maka demi menyenangkan dan menarik perhatian gadis yang saya sukai itu. Saya mencari tahu apa musik yang ia suka. Dan tentu saja, seperti kebanyakan gadis muda pada tahun 200an, ia suka Westlife.. Fuck.

But man gotta do what he gotta do for his love right?

Dengan semangat saya mencari kaset westlife coast to coast. khusus buat diajeng saya tercinta. Tapi tentu saja, Tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Perhatian saya malah terpaku pada sebuah kover kaset kumuh busuk berwarna kuning yang bertuliskan New Generation Calling.



Gambar depannya secara semiotis menyiratkan seorang remaja tanggung yang cuek sedang merokok. Sedang gambar dalamnya gitaris hangover dan mendapat jackpot di atas panggung. What The Fuck. Saya dilema antara membeli Westlife dan merusak peradaban atau membeli kaset busuk ini?

And here we are talking about those bahamas shit!

Puji segala Tuhan saya diselamatkan dari kebodohan purba yang melakukan apapun untuk seorang wanita. Come on, We all know who's got to blame when Adam got dumped out from heaven right? Jadi sebagai umat yang baik saya tak mau melakukan kesalahan yang sama.

Musik yang dimainkan oleh The Bahamas adalah punk rock dengan keceriaan. Lirik banyak ditulis oleh Conat yang banyak dipengaruhi oleh band punk rock macam J Church atau Green Day. Oke saat itu (dan sampai hari ini) musik mereka masih tetap sama. Cadas, lugas dan bertenaga kuda!

Enough talk let hear they sing shall we?

katanya semua
tak mungkin jalan kita beda
biarkan semua
jika tak bisa
tak ku paksa
sayangku
pacarku
malam pun berjalan biasa
ternyata temanku telah di depan menunggu

malam ini kami berpesta
seperti kemarin dan lusa
malam tak berbeda

dan ini bukannya
aku melupakan adanya
tetapi ini hanya
teman teman dan teman teman

malam ini kami berpesta
seperti kemarin dan lusa
malam tak berbeda

ku berjanji tak berkata
akan tetap tak menyapa
ku kan pulang dan bersulang
dengan hati yang menjulang

ku berjanji tak berkata
usah kau kirim mata-mata
dan kunyanyikan na na na

Jumat, 28 Oktober 2011

Epos Lancelot II

senyum yang kau buat itu Guinevere
akan kurobek pelanpelan
hingga segala airmata malaikat
berganti darah
saat melihatmu sekarat

Epos Lancelot

Apa yang kau cari di sunyi kelamnya danau itu?
Angsa hitam telah usai bertelur
dan merahnya darah pagan sudah mengering
batu batu, angin, pualam air, dingin malam

Apa yang kau cari Lancelot?
Apakah kepingan perasaan?
Yang dicerai berai badai

:hilang sesudah hujan

Bukankah tahta sudah berdiri
Kesatria meja bundar
dan kurusetra usai digelar
Tahta bergetar ditanah hitam
semua salib telah tegak
kabarkan tentang juru selamat dari gembala

Artur datang
malam usang
genderang perang
lumpur pedang
huru hara padang

Perigi danau hitam penuh dengan air mata
seperti tangisan Guinevere pada malam pertama
kabulkan segala jerit sengsara peri-peri
"tahta suci kerajaannya" katamu
"Adalah garba luka para pengembara sesat"

Lalu apakah kisikisi matamu itu Lancelot
Kebencian
Dendam
Amarah
Perih
Pedih
Luka?

"Lukaku adalah pengorbanan," katamu
pada seonggok bayangan di danau hitam
seperti Narsisus yang jatuh cinta pada bayangan
kau pun demikian
ditawan pesona ular
dalam cermin danau hitam

Katakan lah Apa yang kau cari Lancelot?

Putra raja agung Benoic
yang ditahbiskan langit sebagai penguasa
mengapa kau tanggalkan mahkota
menapaki jejak perunggu penjaga kepercayaan
putra raja, melata
Katakan Lancelot
apa yang kau cari di sunyi kelam danau hitam
bukankah pesona Guinevere yang ranum
atawa tahta kuasa britania
sudahkah kau menyerah pada ikatan-ikatan
"ibu suci bumi," katamu
"tak pernah usai memberi,"

Lalu apa yang tersisa untuk mu Lancelot?
simbol rune berpendar
jenggot merlin berkibar
:hati yang padam tak pantas hidupi cahaya
Lancelot malang, Lancelot malang
rima kebodohanmu sumbang
dikenang sepanjang jalan
orang-orang yang kalah
tak boleh ambil peran dalam sejarah

Lancelot malang, Lancelot malang
apalagi yang hendak kau korbankan
jika hatimu sudah tak di badan?



Kamis, 27 Oktober 2011

Ode To Broken Things



Things get broken
at home
like they were pushed
by an invisible, deliberate smasher.
It's not my hands
or yours
It wasn't the girls
with their hard fingernails
or the motion of the planet.

It wasn't anything or anybody
It wasn't the wind
It wasn't the orange-colored noontime
Or night over the earth
It wasn't even the nose or the elbow
Or the hips getting bigger
or the ankle
or the air.

The plate broke, the lamp fell
All the flower pots tumbled over
one by one. That pot
which overflowed with scarlet
in the middle of October,
it got tired from all the violets
and another empty one
rolled round and round and round
all through winter
until it was only the powder
of a flowerpot,
a broken memory, shining dust.

And that clock
whose sound
was
the voice of our lives,
the secret
thread of our weeks,
which released
one by one, so many hours
for honey and silence
for so many births and jobs,
that clock also
fell
and its delicate blue guts
vibrated
among the broken glass
its wide heart
unsprung.

Life goes on grinding up
glass, wearing out clothes
making fragments
breaking down
forms
and what lasts through time
is like an island on a ship in the sea,
perishable
surrounded by dangerous fragility
by merciless waters and threats.

Let's put all our treasures together
-- the clocks, plates, cups cracked by the cold --
into a sack and carry them
to the sea
and let our possessions sink
into one alarming breaker
that sounds like a river.
May whatever breaks
be reconstructed by the sea
with the long labor of its tides.
So many useless things
which nobody broke
but which got broken anyway
Ada beberapa hal yang kadang bisa rusak dan tak akan pernah kembali utuh seperti semula. Seperti kisah Murakami dalam Norwegian Woods atau seperti kisah Balthazar Odyssey yang disusun Amien Maalouf. Dan puisi ini ditulis Neruda entah kapan. Tentang hal-hal sepele dan sederhana. Mengenai lampu, piring, bunga dan jam.
Ada beberapa hal yang rusak dan tak akan pernah bisa kembali utuh. Tetapi tak selalu kerusakan itu terjadi karena keinginan. Bukankah segala hal yang rusak adalah konflik. Dan tak pernah ada manusia waras yang menginginkan konflik. Tapi kemudian memang ada beberapa hal yang harus rusak dan memang telah rusak tanpa pernah kita menginginkanya.

So many useless things
which nobody broke
but which got broken anyway

Hari Ngeblog Nasional

Dapat kabar dari blognya mas Hary Tanzil kalau setiap 27 Oktober secara syah dan meyakinkan dijadikan hari Blogger Nasional.


Sebenarnya saya baru ngeblog sejak dua tahun terakhir. Karena kanal kreatif menulis saya seolah mandeg. Bukan dalam artian negatif. Tapi di lembaga tempat dimana saya belajar menulis perlu juga regenerasi. Maka saya lebih memilih mengalah dan memberikan ruang bagi anak-anak baru untuk menulis.

Dan inilah saya masih mengasuh terumbukarya setelah sekitar 400 harian. Tapi bukankah setiap manusia itu ingin punya hal yang dibanggakan?

Sebuah usaha untuk meraih ad vitam aeternam. Menuju keabadian.

Jadi di era digital yang terlampau tengik ini. Kalian yang punya kemampuan membaca dan menulis. Kenapa tak buat keabadian di internet?

Putra Terbaik Jember


Orang di sebelah saya itu adalah living superstar. Seekor macan. Pejantan tangguh. Pemuda harapan bangsa. Dan one of Lucifer dearest friend. Aunuraman Wibisono A.K.A kaka Uyan is back in town.
Kemarin saya ditelpon oleh pak Dedy. Salah satu rekanan di Kantor Urusan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember. Beliau bertanya mengenai keberadaan Aunurahman Wibisono, imam besar the macan sangar, yang konon sedang menyepi di salah satu lereng merapi. Berbaur di antara khalayak ramai sebagai mahasiswa paska sarjana Universitas Gede Mbayare.

Pak Dedy juga bertanya kemungkinan untuk segera mendatangkan Uyan ke Jember dalam waktu dekat. Saya bilang itu bukan kuasa saya. Kedatangan Uyan itu seperti hits kangen band. Sehari bisa di puncak charts lagu terbaik Deringss. Tapi bisa juga menghilang saat 7icon memutuskan mengeluarkan single terbaru.

Tapi saya menyanggupi untuk menghubungi Uyan dan memintanya datang ke Jember sesegera mungkin. Tapi ada pertanyaan yang tertahan. Apa gerangan yang membuat pak Dedy salah satu Amtenarr di Pemda Jember mencari Uyan?

"Ohh usah kau tanyakan lagi wahai kisanak. Pukulun Aunurahman Wibisono telah mendapat restu dari Swargaloka," kata Pak Dedy.

"Restu apakah itu wahai bopo Dedy," tanya saya.

"Bahwasanya Pukulun Aunurahman Wibisono secara syah dan meyakinkan meraih predikat dan status sosial sebagai putra terbaik Jember 2011 dan selamanya,"

Bersamaan dengan pak Dedy mengucapkan itu, bumi bergetar, langit kelap kelip, ibu yang melahirkan tak jadi mengendan, dan para perjaka kehilangan kemaluannya. Dunia tak pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Hikayat dibaliknya. Konon pihak Universitas Jember mengajukan permohonan putra terbaik daerah kepada Pemerintah Republik Indonesia. Melalui Kantor Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember.

Tak dinyana gayung ini bersambut. Berbekal prestasi telah menaklukan 15.000 cewek dan 1.200 lelaki. Uyan terpilih menjadi putra terbaik daerah. Meski ia mendapatkan sedikit poin tambahan dari artikel di koran lokal yang menyebutnya sebagai 'penulis muda Jember yang berprestasi hingga ke Jerman'.

Kembali ke pak Dedy yang dengan haru menunggu saya mengabarkan mengenai kepastian kedatangan pemuda besar harapan Jember, Uyan Wibisono.

Dan tuhan memang selalu punya lelucon yang tak selesai.

Langit baru mulai tergelincir. Saat Uyan, sang macan sangar itu, menelpon saya. Dengan penuh peluh dan rasa gentar yang berlebih saya menerima telpon itu. Di ujung sana suara falseto vokalis sex in the car ini menjalar penuh haru.

"Ono opo cuk?" katanya.

Sesungguhnya Tuhan pernah berfirman dalam Al Humazah. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Tapi saya tau seorang Uyan Wibisono, kakak yang bijak bestari bagi orin. Pemuda solehah bagi mamaknya itu tak sedang mengumpat sungguh-sungguh.

"Kowe dienteni nang Jember penting. Kesuk Jumat digolek bupati," kata saya.

Adalah seluruh keberanian dan tenaga saya kerahkan untuk bersikap biasa. Jikalau kak Uyan marah pastilah saya akan kurus berdiri seketika. Apalah hak saya selaku manusia biasa tak berderajat berbicara semacam itu dengan peraih beasiswa Jerman dari Historia Online? Seorang all time dynamic duo dari yang dipertuan agung pengasuh hifatlobrain? Tak ada hei kalian pembaca yang budiman.

Ternyata memang ma'rifat yang dimiliki seorang wali sekelas Uyan memang sangat tinggi. Ia rupanya telah dalam perjalanan menuju Jember. Oh bukan, tidak. Dia tidak sedang menaiki kereta eksekutif sancaka atawa menaiki Buraq. Tapi ia dengan rendah hati, tidak sombong dan santun serupa Rafi Ahmad. Memilih menaiki kereta ekonomi sejuta umat Sri Tanjung!

Dengan adanya kepastian kedatangan Uyan Wibisono. Hati pak Dedy langsung sumringah. Musim hujan langsung meraba Jember. Kemarau yang tak henti terjadi selama delapan dekade terakhir berakhir. Memang sesungguhnya Dajjal itu membawa kebaikan semu.

Dan inilah. Saya menunggu detik detik penyerahan penghargaan putra terbaik Jember kepada pukulun Uyan. Oh sepertinya siang terlalu terik hari ini.

Angela's Word


"Eskapisme itu candu. Lebih baik kamu menghadapinya daripada berkutat dalam eskapisme yang berlarut-larut. Karena sebesar apapun kamu coba. Kenangan mungkin bisa terlupakan, tapi rasa itu abadi. Sama dengan hukum kekekalan energi. Ingatan yang hilang tak pernah mampu menghapus rasa. Mungkin ini waktunya untuk melepaskan. Sesederhana itu."
Angela Betsy - 26-10-11