Rabu, 16 November 2011
Sabtu, 12 November 2011
Rabu, 09 November 2011
Palagan Jumerto
~ sejarah menguburkan para pelakunya diam-diam
“Nama saya Hj Siti Romlah. Tapi dulu saya dikenal sebagai Arsiti,” kata perempuan renta itu bertutur. Ada segurat rasa curiga saat saya mendekatinya. Ia enggan bercerita lebih banyak. Namun setelah beberapa lama kami mengobrol ia lantas mau membuka diri dan sesekali tersenyum.
Bu Haji, begitu ia disapa, merupakan salah ssatu janda peristiwa palagan Jumerto. Dan satu dari sedikit saksi sejarah yang masih hidup. Di tengah usianya yang beranjak senja ia hidup secara sederhana bersama keponakan dan kerabatnya. “Saya tak punya anak. Dan dua suami saya terdahulu sudah meninggal,” katanya lirih.
Ibu yang juga janda pahlawan ini tinggal di Desa Jumerto kecamatan Patrang. Rumahnya berjarak sekitar enam kilometer sebelah utara dari kota Jember. Udara desa ini terasa sejuk. Karena masih banyak rindang pepohonan yang tumbuh dikawasan itu. “Kalau musim hukan seperti ini makin dingin. Suka sakit tengah (pinggang) kalau malam,” tuturnya.
Tiba-tiba raut wajah Bu Haji berubah saat melihat monumen tinggi di sebelah rumahnya. Bangunan itu adalah monumen peringatan palagan Jumerto, dibuat sebagai penghormatan pada para pahlawan yang gugur saat peristiwa peristiwa tahun 1949. “Dulu suami pertama saya mati di tembak belanda. Kakak kandung saya juga,” katanya tiba-tiba. Bagi beberapa orang menceritakan kematian bukan perkara mudah.
Tepat pada 11 Februari 1949 terjadi peristiwa heroik, perlawanan masyarakat desa Jumerto dan pasukan Mobrig (sekarang Brimob) terhadap penjajah Belanda. Saat itu pasukan Mobrig di bawah pimpinan AKP Soekari, datang ke desa Jumerto dengan kekuatan 3 Pleton atau kurang lebih 90 orang. Mereka tengah melakukan perjalanan gerilya dari daerah Malang, Lumajang dan Jember.
“Pak Soekari mampir untuk istirahat. Itu sudah malam kalo gak salah jam 1an,” tutur Bu Haji. Namun kehadiran mereka ternyata diketahui oleh salah seorang mata-mata Belanda. Sepanjang malam pasukan Mobrig yang beristirahat itu tak menyadari bahaya yang mengintai. “Kalau ingat itu saya sering menangisi saudara saya,” seru Bu Haji.
Esok harinya pukul 06.00 tentara Belanda yang terdiri dari KNIL dan Gurkha (pasukan elit India dari Inggris) mengepung tempat peristirahatan tentara Mobrig. “Waktu itu dak pake ngomong. Sukur tembak aja dor dor dor saya yang di rumah jaraknya jauh sampai dengar,” kata Bu Haji.
Pertempuran memang tak bisa dielakkan. Karena pada saat itu telah ditanda tangani perjanjian Renvile yang bersisi semua pasukan Republik harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Timur. “Kakak saya yang jadi tentara pelajar langsung kesana. Suami pertama saya juga padahal udah rame bak tembakan,” serunya.
Sebagian tentara Mobrig yang tak sadar dengan mudah dihabisi oleh pasukan KNIL dan Gurkha. Mengetahui itu warga desa Jumerto yang setia pada Negara Indonesia tak terima dan melakukan pertempuran melawan pasukan Belanda. Sampai menjelang siang, disaat pertempuran berlangsung pasukan Brimob mendapatkan perintah untuk tidak melanjutkan perlawanan. “Pas mau Ashar itu pak Sukari mundur padahal sudah banyak yang mati,” runut Bu Haji.
Dari puing pertempuran ditemukan bahwa ada 13 anggota Mobrig yang gugur dan 20 warga Jumerto. Bu Haji yang kehilangan saudara dan suaminya berusaha tegar sebagai kerabat pejuang.
“Saya rela sungguh rela. Ini demi negara,” katanya pelan.
Kini telah 62 tahun sejak peristiwa itu terjadi Bu Haji masih sendiri memperjuangkan hidup. Rumah sederhananya tak ada yang istimewa. Dingin dan sepi dari hiruk pikuk. Tak satupun penghargaan yang ia terima selain sebuah monumen mati dan seperangkat mukena atas jasa keluarganya. “Saya pernah diberi mukena sama pak Kapolres itu saja,” katanya.
Konon bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannnya. Kini Bu Haji menikmati sisa umur dalam kesunyian. Ia ikhlas merelakan keluarganya sebagai tumbal perjuangan kemerdekaan.
“Ya sudah mungkin ini rejeki saya. Alhamdulillah seng penting merdeka,” ujarnya lirih.
Senin, 07 November 2011
Skłodowska

~ I am among those who think that science has great beauty.
Minggu, 06 November 2011
Merah

Ini dalam kamar iniAku bersembunyi lagiMereka yang kita sayangiYang paling mampu melukai
Jumat, 04 November 2011
[REVOLVERE PROJECT] Kau Yang Mengutuhkan Aku
Bingkai Cahaya
~ Great music and great photo. And we do hate our miserable life right?

“Through me is the way to the sorrowful city. Through me is the way to join the lost people.”


Euforia instagram juga menenggelamkan esensi paling subtik dari fotografi. Yaitu medium untuk menyampaikan sebuah momen yang apa adanya. Kini pelukis cahaya bisa merasa menjadi paling nyeni hanya dengan sisipan elemen tambahan dari software. Kita pelan-pelan dipaksa menerima, bahwa apa yang telah dipoles lebih indah dan lebih benar dari kejadian yang apa adanya.
Pada masa awal saya belajar fotografi saya juga menyertakan idiom-idiom labil dalam setiap foto yang saya buat. Ini mengingatkan saya bahwa toh ada fase-fase belajar dalam fotografi. Juga dalam setiap karya yang dibuat kita butuh pengakuan dan diakui. Namun apakah ini harus terus menerus dan selalu dilakukan? Dan apakah objek foto melulu hanya model yang (maaf) setengah telanjang dan menonjolkan sensualitas?
82 Tatal mengenai Cinta Yang Terlampau Usang
Senin, 31 Oktober 2011
Closer Kick Ass Quote Ever!

Sabtu, 29 Oktober 2011
The Bahamas - Pesta
Hampir setiap hari selama seminggu terakhir ini saya mendengarkan Pesta nya The Bahamas dengan volume tear your fuckin ear off! Hell yeah. Musik adalah eskapis paling waras dan cerdas, buat saya, jika sedang sumpek atau tertekan.
Siapa The Bahamas? Band ini berdiri tahun 2001 dengan formasi awal Conat (gitar, vokal), Moro (drum) dan Robin (bas, vokal). Awalnya hanya sebagai side-project dari personilnya, tapi kemudian malah keterusan.
Formasi pertama The Bahamas tidak bertahan lama, lantaran Moro harus kembali ke DKSB dan project Biosampler. Posisinya digantikan oleh Andry, mantan drumer band rock indie legendaris Puppen (Semoga mereka reuni Tuhaan). Persoalan belum selesai lantaran Robin memilih gabung dengan sebuah perusahaan di Bali. Akhirnya Chandra pada bas dan Dendy pada bas, meramaikan The Bahamas bersama Conat.
Ya, buat mereka yang paham scene lokal indie Bandung pasti setidaknya mendengar mereka dari kompilasi New Generation Calling. Satu album bersama Teenage Death Star (band nya Sir Dandy Harington), Boys Are Toys (Asukenapa mereka milih judul ini?), Superman Is Dead dan The Disconected.
In short, those big new rising star back there.
Gimana ceritanya bisa mendapat album ini waktu itu? Well ceritanya lumayan konyol. Waktu SMA kelas tiga saya suka seseorang. Cewek tentunya. Dan pada waktu itu, tak seperti hari ini, lagu-lagu bagus hanya diputar di MTV (how small minded i was?), Radio dan jika kau cukup kaya, membeli kasetnya.
Maka demi menyenangkan dan menarik perhatian gadis yang saya sukai itu. Saya mencari tahu apa musik yang ia suka. Dan tentu saja, seperti kebanyakan gadis muda pada tahun 200an, ia suka Westlife.. Fuck.
But man gotta do what he gotta do for his love right?
Dengan semangat saya mencari kaset westlife coast to coast. khusus buat diajeng saya tercinta. Tapi tentu saja, Tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Perhatian saya malah terpaku pada sebuah kover kaset kumuh busuk berwarna kuning yang bertuliskan New Generation Calling.
Gambar depannya secara semiotis menyiratkan seorang remaja tanggung yang cuek sedang merokok. Sedang gambar dalamnya gitaris hangover dan mendapat jackpot di atas panggung. What The Fuck. Saya dilema antara membeli Westlife dan merusak peradaban atau membeli kaset busuk ini?
And here we are talking about those bahamas shit!
Puji segala Tuhan saya diselamatkan dari kebodohan purba yang melakukan apapun untuk seorang wanita. Come on, We all know who's got to blame when Adam got dumped out from heaven right? Jadi sebagai umat yang baik saya tak mau melakukan kesalahan yang sama.
Musik yang dimainkan oleh The Bahamas adalah punk rock dengan keceriaan. Lirik banyak ditulis oleh Conat yang banyak dipengaruhi oleh band punk rock macam J Church atau Green Day. Oke saat itu (dan sampai hari ini) musik mereka masih tetap sama. Cadas, lugas dan bertenaga kuda!
Enough talk let hear they sing shall we?
Jumat, 28 Oktober 2011
Epos Lancelot II
Epos Lancelot
:hilang sesudah hujan
Katakan Lancelotapa yang kau cari di sunyi kelam danau hitam
:hati yang padam tak pantas hidupi cahaya
Kamis, 27 Oktober 2011
Ode To Broken Things

It wasn't anything or anybodyIt wasn't the windIt wasn't the orange-colored noontimeOr night over the earthIt wasn't even the nose or the elbowOr the hips getting biggeror the ankleor the air.
And that clockwhose soundwasthe voice of our lives,the secretthread of our weeks,which releasedone by one, so many hoursfor honey and silencefor so many births and jobs,that clock alsofelland its delicate blue gutsvibratedamong the broken glassits wide heartunsprung.
Let's put all our treasures together-- the clocks, plates, cups cracked by the cold --into a sack and carry themto the seaand let our possessions sinkinto one alarming breakerthat sounds like a river.May whatever breaksbe reconstructed by the seawith the long labor of its tides.So many useless thingswhich nobody brokebut which got broken anyway
Hari Ngeblog Nasional
Putra Terbaik Jember

Orang di sebelah saya itu adalah living superstar. Seekor macan. Pejantan tangguh. Pemuda harapan bangsa. Dan one of Lucifer dearest friend. Aunuraman Wibisono A.K.A kaka Uyan is back in town.
Angela's Word

"Eskapisme itu candu. Lebih baik kamu menghadapinya daripada berkutat dalam eskapisme yang berlarut-larut. Karena sebesar apapun kamu coba. Kenangan mungkin bisa terlupakan, tapi rasa itu abadi. Sama dengan hukum kekekalan energi. Ingatan yang hilang tak pernah mampu menghapus rasa. Mungkin ini waktunya untuk melepaskan. Sesederhana itu."
Angela Betsy - 26-10-11

