Dalam banyak peradaban gunung selalu memiliki kisah dan tempatnya sendiri. Sebagai sebuah representasi yang agung lagi besar. Agama-agama animisme dunia banyak menjadikan Gunung sebagai sesembahan. Kedigdayaan dan bentuk fisik yang besar dan menjulang memang membuat Gunung tampak megah. Ia menembus imaji terliar manusia dan jawaban atas diri yang "lain".
Indonesia pun tak lepas dari selaput kepercayaan bahwa Gunung menjadi representasi yang suci lagi 'maha'. Seperti mitologi gunung Semeru yang dianggap Swargaloka tempat dimana dewa-dewa Hindu Jawa tinggal. Atau bagi beberapa warga Bondowoso yang percaya jika Kaldera gunung Api Ijen konon merupakan hasil kentut Semar.
Di Jawa Timur tak hanya ada gunung Semeru dan Gunung Ijen. Namun adapula Pegunungan Argopuro
yang merupakan pegunungan terpanjang di Jawa. Pegunungan ini pada 1991 pernah digunakan latihan oleh
Wanadri dan Brimob sebagai simulasi gunung Leuser. Saat itu Indonesia masih tercerabut konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka yang banyak bersembunyi di Pegunungan Leuser, rangkaian Pegunungan terpanjang di Indonesia.
Menjadi menarik karena di sepanjang jalur pendakian gunung Argopuro tersimpan berbagai pesona alam yang sangat indah. Argopuro juga tercatat sebagai Important Bird Area. Karena memiliki ratusan
jenis satwa unggas yang masih langka dan terancam. Beberapa bahkan masih sangat mudah ditemui. Jenis seperti Merak, Elang Jawa dan beberapa jenis Murai. Di Universitas Jember ada sebuah kelompok pegiat pengamatan burung yang bernaung dalam Mahapensa Fakultas Pertanian.
Bobby Saputra adalah pria dengan mata sipit dan rambut gondrong. Jika tak awas kita bisa salah memperkirakan etnisnya. "Tak penting apa saya cina atau bukan. Saya orang Indonesia," katanya saat kami pertama kali berkenalan. Ia bercerita bahwa Pegunungan Argopuro sebenarnya telah dikenal sejak era kekuasaan Mahapahit.
Di salah satu puncaknya yang terkenal, Puncak Rengganis, terdapat bekas-bekas
petilasan yang konon menurut penduduk setempat merupakan kediaman Dewi
Rengganis.
Dalam catatan yang dibuat A.J.M Ledeboer dan B Ledeboer dua bersaudara Belanda yang membuat kantung kediaman di salah satu dataran di Argopuro. Praktik pemujaan terhadap Dewi Rengganis telah lama dilakukan sejak akhir abad ke XIX. Perlakuan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap selir raja Majapahit yang konon hilang secara misterius bersama enam orang dayangnya. Tak banyak memang yang melakukan pemujaan sesaji ini. Karena islam datang dan merubah praktik yang dianggap sesat ini sebagai sebuah adat istiadat saja.
Berbeda dengan Pegunungan Argopuro,
gunung berapi Ijen memiliki kesotisme kaldera yang berbalur belerang. Hal
inilah yang membuat banyak fotografer dan videografer tingkat dunia mendatangi
tempat ini. Seperti James Nachtwey dan Michael Glawogger yang mengabadikannya dalam dua karya mendunia war
photographer dan the workingman’s death.
Bambang Santoso,
pendaki gunung dan atlet Paramotor Indonesia, pernah melakukan pendakian
panjang bersama turis mancanegara di Ijen. Mereka sangat terpesona dengan
pemandangan dan lokasi ijen yang spektakuler. Kebanyakan karena kondisi para
penambang yang dianggap sangat nekat. “Mereka kebanyakan terkejut karena para
penambang tak memakai peralatan khusus,” katanya.
George Kourounis, geolog asal Amerika, pada 2008 lalu melakukan penelitian khusus di Ijen. Dan menemukan bahwa Ijen merupakan satu-satunya kaldera gunung yang paling luas dan memiliki keunikan danau di atasnya. Lebih dari itu ia menganggap bahwa pemandangan di Ijen sangat surealis dan fantastik. “Saya tak akan pernah bisa melupakan keindahannya yang magis,” tulisnya dalam jurnal the stormchaser.
Beberapa komunitas fotografer menganggap bahwa Ijen merupakan spot
tersulit dalam melakukan pengambilan gambar. Bukan hanya karena kondisi alam
yang sangat labil dan berbahaya. Namun karena Ijen telah disinggahi banyak
fotografer dunia yang membuat legenda disana. “Salah satunya adalah Olivier
Grunewald, yang datang Desember lalu, fotonya itu gila sekali!” kata Romdhi
Fakhturozi dari Jember Poto Graphy Jember.
Namun jika boleh berpendapat Semeru merupakan raja gunung di Jawa. Beberapa orang menyebut Semeru sebagai atap jawa karena merupakan gunung tertinggi yang ada di pulau ini. “Belum lagi karena kisah Pandawa Seda yang dituturkan RA Kosasih. Yang menyebutkan Pandawa memutuskan Moksha (menghilang jagat) di Gunung ini,” kata Halim Bahris. Pegiat kesenian dan budaya di komunitas Tikungan Jember.
Halim yang asli
Lumajang banyak memahami bagaimana gunung ini dimitoskan. Berbagai kisah wayang
mengambil latar gunung ini sebagai bagian ceritanya. Seperti kisah kawah
Candradimuka yang maha panas, lokasi dimana Gatut Kaca ditempa hingga menjadi
dewasa. “Bagi orang jawa bisa jadi Semeru itu adalah bagian dari mitos
keseharian. Sebagai bagian identitas juga,” tuturnya.
Gunung ini memiliki
banyak mitos dan cerita unik. Seperti keberadaan arcopodo atau arca kembar yang
konon merupakan petilasan Majapahit. Juga mitos tanjakan cinta, hampir semua
pendaki gunung di Indonesia mengenali cerita ini. Dikatakan bahwa siapapun yang
menaiki tanjakan ini sambil membayangkan kasihnya tanpa menoleh, ia akan
mendapatkan cinta sejati. “Tapi ini sih biasanya kerjaan pecinta alam yang lagi
gombal,” kata Halim bercanda.
Puncak Gunung Semeru
yang bernama Mahameru merupakan obsesi dari semua pendaki gunung. Konon mereka
merasa bisa sejajar dan berada di awang-awang memandang seluruh pulau jawa.
Lebih dari itu beberapa pendaki melakukan ziarah bagi Soe Hok Gie, pendaki dan
cendikiawan muda Indonesia, yang meninggal di puncak ini.






