Rabu, 11 Januari 2012

Tiga Gunung Tiga Kota Tiga Cerita


Dalam banyak peradaban gunung selalu memiliki kisah dan tempatnya sendiri. Sebagai sebuah representasi yang agung lagi besar. Agama-agama animisme dunia banyak menjadikan Gunung sebagai sesembahan. Kedigdayaan dan bentuk fisik yang besar dan menjulang memang membuat Gunung tampak megah. Ia menembus imaji terliar manusia dan jawaban atas diri yang "lain".

Indonesia pun tak lepas dari selaput kepercayaan bahwa Gunung menjadi representasi yang suci lagi 'maha'. Seperti mitologi gunung Semeru yang dianggap Swargaloka tempat dimana dewa-dewa Hindu Jawa tinggal.  Atau bagi beberapa warga Bondowoso yang percaya jika Kaldera gunung Api Ijen konon merupakan  hasil kentut Semar.

Di Jawa Timur tak hanya ada gunung Semeru dan Gunung Ijen. Namun adapula Pegunungan Argopuro yang merupakan pegunungan terpanjang di Jawa. Pegunungan ini pada 1991 pernah digunakan latihan oleh Wanadri dan Brimob sebagai simulasi gunung Leuser. Saat itu Indonesia masih tercerabut konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka yang banyak bersembunyi di Pegunungan Leuser, rangkaian Pegunungan terpanjang di Indonesia.

            Menjadi menarik karena di sepanjang jalur pendakian gunung Argopuro tersimpan berbagai pesona alam yang sangat indah. Argopuro juga tercatat sebagai Important Bird Area. Karena memiliki ratusan jenis satwa unggas yang masih langka dan terancam. Beberapa bahkan masih sangat mudah ditemui. Jenis seperti Merak, Elang Jawa dan beberapa jenis Murai. Di Universitas Jember ada sebuah kelompok pegiat pengamatan burung yang bernaung dalam Mahapensa Fakultas Pertanian.

Bobby Saputra adalah pria dengan mata sipit dan rambut gondrong. Jika tak awas kita bisa salah memperkirakan etnisnya. "Tak penting apa saya cina atau bukan. Saya orang Indonesia," katanya saat kami pertama kali berkenalan. Ia bercerita bahwa Pegunungan Argopuro sebenarnya telah dikenal sejak era kekuasaan Mahapahit. Di salah satu puncaknya yang terkenal, Puncak Rengganis, terdapat bekas-bekas petilasan yang konon menurut penduduk setempat merupakan kediaman Dewi Rengganis. 

Dalam catatan yang dibuat A.J.M Ledeboer dan B Ledeboer dua bersaudara Belanda yang membuat kantung kediaman di salah satu dataran di Argopuro. Praktik pemujaan terhadap Dewi Rengganis telah lama dilakukan sejak akhir abad ke XIX. Perlakuan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap selir raja Majapahit yang konon hilang secara misterius bersama enam orang dayangnya. Tak banyak memang yang melakukan pemujaan sesaji ini. Karena islam datang dan merubah praktik yang dianggap sesat ini sebagai sebuah adat istiadat saja.




         Berbeda dengan Pegunungan Argopuro, gunung berapi Ijen memiliki kesotisme kaldera yang berbalur belerang. Hal inilah yang membuat banyak fotografer dan videografer tingkat dunia mendatangi tempat ini. Seperti James Nachtwey dan Michael Glawogger yang mengabadikannya dalam dua karya mendunia war photographer dan the workingman’s death.

            Bambang Santoso, pendaki gunung dan atlet Paramotor Indonesia, pernah melakukan pendakian panjang bersama turis mancanegara di Ijen. Mereka sangat terpesona dengan pemandangan dan lokasi ijen yang spektakuler. Kebanyakan karena kondisi para penambang yang dianggap sangat nekat. “Mereka kebanyakan terkejut karena para penambang tak memakai peralatan khusus,” katanya.
       
  George Kourounis, geolog asal Amerika, pada 2008 lalu melakukan penelitian khusus di Ijen. Dan menemukan bahwa Ijen merupakan satu-satunya kaldera gunung yang paling luas dan memiliki keunikan danau di atasnya. Lebih dari itu ia menganggap bahwa pemandangan di Ijen sangat surealis dan fantastik. “Saya tak akan pernah bisa melupakan keindahannya yang magis,” tulisnya dalam jurnal the stormchaser.

            Beberapa komunitas fotografer menganggap bahwa Ijen merupakan spot tersulit dalam melakukan pengambilan gambar. Bukan hanya karena kondisi alam yang sangat labil dan berbahaya. Namun karena Ijen telah disinggahi banyak fotografer dunia yang membuat legenda disana. “Salah satunya adalah Olivier Grunewald, yang datang Desember lalu, fotonya itu gila sekali!” kata Romdhi Fakhturozi dari Jember Poto Graphy Jember.



         
Namun jika boleh berpendapat Semeru merupakan raja gunung di Jawa. Beberapa orang menyebut Semeru sebagai atap jawa karena merupakan gunung tertinggi yang ada di pulau ini. “Belum lagi karena kisah Pandawa Seda yang dituturkan RA Kosasih. Yang menyebutkan Pandawa memutuskan Moksha (menghilang jagat) di Gunung ini,” kata Halim Bahris. Pegiat kesenian dan budaya di komunitas Tikungan Jember.

            Halim yang asli Lumajang banyak memahami bagaimana gunung ini dimitoskan. Berbagai kisah wayang mengambil latar gunung ini sebagai bagian ceritanya. Seperti kisah kawah Candradimuka yang maha panas, lokasi dimana Gatut Kaca ditempa hingga menjadi dewasa. “Bagi orang jawa bisa jadi Semeru itu adalah bagian dari mitos keseharian. Sebagai bagian identitas juga,” tuturnya.

            Gunung ini memiliki banyak mitos dan cerita unik. Seperti keberadaan arcopodo atau arca kembar yang konon merupakan petilasan Majapahit. Juga mitos tanjakan cinta, hampir semua pendaki gunung di Indonesia mengenali cerita ini. Dikatakan bahwa siapapun yang menaiki tanjakan ini sambil membayangkan kasihnya tanpa menoleh, ia akan mendapatkan cinta sejati. “Tapi ini sih biasanya kerjaan pecinta alam yang lagi gombal,” kata Halim bercanda.

            Puncak Gunung Semeru yang bernama Mahameru merupakan obsesi dari semua pendaki gunung. Konon mereka merasa bisa sejajar dan berada di awang-awang memandang seluruh pulau jawa. Lebih dari itu beberapa pendaki melakukan ziarah bagi Soe Hok Gie, pendaki dan cendikiawan muda Indonesia, yang meninggal di puncak ini.

Jumat, 06 Januari 2012

Tiga Sajak Pendek untuk Fransisca


~ Kurusetra
bahwa dalam peradaban
selalu berkabar dua pihak
seorang pemenang
lain pecundang

tapi di tiap mata kanak-kanak
perang adalah perihal mainan
yang bergelayut sepanjang siang
dan bubar seusai petang


~ Bulu Kaki Anak Singa

cambuk dilecut
: Auuuum
bunyi mengaduh
bubar barisan

~ Sutradara

lubang di dada sudah penuh
dengan dengki
huru hara
dan amarah

lalu pesan datang
bertanya kabar
: “sudah makan?
Jangan lupa skripsi”

dan amarah
tamat selepas episot perdana

Selasa, 03 Januari 2012

di atap Patehan memandang petang yang rubuh




: untuk Aufa

di atap Patehan memandang petang yang rubuh
kita berbincang tengang masa depan
perihal keinginan dan cita-cita
menggigir harapan
seusai meraih toga

tentang sepuluh anak lelaki
lima anak perempuan
dan guyonan klub sepak bola pribadi
dari darah daging sendiri
kita tertawa lepas
dan sudut lesung pipi
paling indah di jawa itu
menubrukku diam diam

sebelum lebai memanggil maghrib,
dan sepeda warna-warni melacur
kau berkata :
: “aku senang
Akhirnya kita bisa bicara
layaknya karib lama yang
tak pernah jumpa,”
lalu seruan panggilan tunduk
menyeruak diantara tebal dinding
plengkung gading dan dua
pohon beringin kembar

kelak seusai pertemuan itu
kau akan bercerita
pada keturunanmu
: “kemarahan menemukan bentuknya
sedang amarah mencari wajah
Dasamuka seorang pecinta
yang dipecundangi rama
dengan muslihat
dan seekor kera,”

matahari sudah tergelincir sepi
sementara aku merindu Seno
untuk menulis lagi
sepotong senja
untuk sahabatku


*sembari mendengar The Camerawalls

Puisi Dari Aufa



Berapa bulan lalu saat saya sedang sangat terguncang dan labil, seorang kawan datang dan berdiskusi. Saya tak curhat padanya, hanya bilang bahwa tanpa sadar saya berhenti percaya pada sikap welas asih. Karena kenangan, seperti juga bersin, adalah hal yang tak mungkin bisa kita lawan dan kita tundukan.

Kawan saya itu adalah Aufanuha Insani. Seorang penyair muda asal Semarang, yang pada masa SMA dahulu pernah beberapa bulan tinggal di Amerika. Dia seorang esais yang menurut pendapat saya, punya kemahiran untuk menjewer kita keras tapi kemudian tertawa setelahnya. Aufa punya kekuatan dalam menulis untuk menyusun narasi yang tegas, renyah dan berwibawa. Namun bisa tetap bersikap selayaknya seorang remaja. Usil.

Potret Aufa sebagai seorang penyair adalah potret seorang pemuda flamboyan yang terlalu banyak buku. Bagi mereka yang jarang mengunyah aksara dan mencerna kata-kata, puisi Aufa bisa jadi sangat biasa. Namun ke -biasa - annya itu membuat ia seorang penyair yang bernas. Selalu memiliki pilih padan kata yang riuh dan jarang dipakai.

Lalu petang ini ia menyapa saya dan berkata telah membuatkan sebuah sajak untuk saya. Saya terkejut dan senang. Karena tak banyak hal yang saya bagi bersama Aufa. Namun sajak yang ia buat, entah mengapa, begitu teduh dan memberikan pencerahan. Ini sajaknya :


kepada dhani 
penyair memahat kata-kata, kau mengekalkan duka
dan bencimu ruah pada ingatan yang dahaga.
berhamburan di sela diskusi filsafat,
cerita-cerita porno stensilan, juga hujat menghujat
riuh padat kotaku
yang menyeretmu, akut menyembilu.

 pada ampas kopi, dari kafe-kafe bonafid hingga
angkringan-angkringan kumuh stasiun tugu
bukankah kita membikin kenangan baru
yang kautebus dalam hitungan windu,
dalam kisah yang kau permanis, ditulis
anak-anakmu sebagai gerimis
atau rindu masa lalu. 

atau barangkali kita mencatatnya sendiri,
membacanya diam-diam
sambil membisikkan nama-nama sufi
yang mati dalam pengembaraan. 

aku tak tahu. tiap kota merekam ngilu
meretas kenangan dan dendam.

//2011-2012

Well, some will say this is fags thing. But i like this poem. Thanks Aufa.



Jumat, 30 Desember 2011

Gambar Huanjing



Saya menemukan gambar modifikasi the last supper karya Leonardo Da Vinci di laman Facebook seorang kawan hari ini. Gambarnya lucu, karena yesus dan 12 rasul diganti dengan tokoh-tokoh populer dunia. Seperti Ernesto Guevara, Tintin, Groucho Marx (atau Charlie Caplin ), Spiderman, John Lennon, Nelson Mandela, Bart Simpson, Mickey Mouse  dan lainnya saya tak kenal.

Ini seperti memandang ulang kreasi post moi indie yang dibikin oleh Pidi Baiq. Mungkin ada yang tau siapa artist pembuat gambar lukisan ini? Saya penasaran sekali.

Natal dan Islam yang penuh Kasih


Dan selamat sejahteralah atasnya dihari dilahirkan, dihari dia meninggal dan dihari dia akan dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 15)

Ada sebuah pertanyaan yang sering membuat saya bangun dari tidur dengan keringat yang deras mengalir. Apa jadinya jika saya dilahirkan bukan sebagai orang islam. Atau bagaimana jika islam itu bukan sebuah kebenaran. Ada sebuah celah dimana sebagai umat saya dituntut untuk bertauhid tanpa tanya. Tentu demikan karena ide mengenai keimanan yang lima berawal dari rasa pasrah total terhadap sesuatu yang transenden. Sebuah gagasan mengenai ketundukan total.

Tapi dalam hidup saya yang tak seberapa panjang ini. Saya menemukan bahwa nikmat islam bukan sesuatu yang given. Ia membutuhkan sebuah pergulatan dan perjuangan untuk mendapatkannya.

Islam, seperti juga seluruh agama lain, mengajarkan kebajikan, sikap welas asih dan terkadang juga kekerasan. Tergantung darimana perspektif anda melihatnya. Namun satu hal yang jelas islam tak pernah mengajarkan kesompralan untuk mengatur klaim kebenaran terhadap firman agama lain. Well, anda bisa membaca surat Al Kafirun. Seorang dengan IQ paling tiarap dapat memahami makna surat itu sebagai kartu kuning terhadap liturgi umat lain. Semacam kredo New Yorker untuk berkata mind your own religion.

Selang semalam sebelum natal tiba. Puluhan akun twitter dan blog beramai ramai mempersoalkan keabsahan natal umat Kristiani. Bahwa 25 Desember adalah perayaan kaum pagan (beberapa menuliskan kafir) terhadap pemujaan dewa matahari Apollo.

Beberapa negara di Eropa Timur seperti Ukraina, Russia dan Macedonia melaksanakan natal di antara 7 dan 19 Januari. So? Sama juga berbedanya umat islam yang berebut kuasa perihal penentuan satu Syawal. Sekali lagi perbedaan adalah fitrah. Karena jika Allah berkehendak fasis dengan menyatukan seluruh umat. Maka hal itu adalah pekerjaan maha mudah bagi Nya.

Perdebatan mengenai keabsahan natal. merupakan perdebatan yang menurut saya terlalu tolol untuk dimasuki. Karena jauh daripada itu substansi natal bukan pada kapan itu berlangsung. Karena Natal bagi umat kristiani (dalam hal ini Khatolik) tak melulu tentang perayaan dan hadiah. Namun juga tentang masa advent, sebuah penantian, persiapan untuk menyambut kelahiran sang putera Tuhan. Merujuk diskusi saya dengan Romo Yudhi, pastor Paroki Gerjea Katolik Santo Yusup, masa advent adalah masa pertaubatan. Dengan kata lain sebuah sikap (lagi-lagi) pasrah untuk mengakui kejumudan diri.

Natal juga sebagai momen retrospeksi. Bahwa pada saat kelahiran - Nya. Yusuf dan Maria yang hamil tua sedang berjalan di tengah malam di kota Bethlehem. Di malam dimana seluruh bintang bersinar sangat terang. Setelah berjalan di seluruh penjuru kota, dengan perut melilit, Maria tetap tabah meski ditolak menginap dimana mana. Seperti juga dalam islam, sebelum terjadinya hijrah, muslim diasingkan oleh kaum Quraish Mekah.

Maria dan Yusuf terus berjalan. Tentu tak mudah dengan perut membesar dan sebuah tanggung jawab iman, Maria merasa menanggung beban seluruh umat manusia. Mereka berjalan sampai menemukan sebuah kandang untuk tempat berteduh dan melahirkan bayi Yesus. Hingga orang-orang majusi yang menyembah api merasa berbahagia karena bintang terang telah lahir di Betlehem.

Apakah Yesus lahir 25 Desember? Itu bukan perkara penting. Sama dengan perdebatan mengenai Nabi terakhir Ahmad atau Muhammad. Karena semua ini adalah perkara Tauhid dan Tauhid adalah masalah keyakinan. Apa yang menjadi keputusan bahwa 25 Desember, terlepas itu perayaan kaum pagan romawi terhadap Apolo, adalah hak dan milik umat katolik. Dan jika umat islam, atau siapapun mereka yang mengklaim menjadi pewaris kebernaran Islam tak punya hak apapun untuk ambil bagian.

Imam Syamsuidin As Sarakhsy al Mabsuth dalam Darul Ma'rifah mengatakan natrukuhum wamaa yadiinun (biarkan saja masing-masing mereka menenukan pilihan aqidah mereka). Umat non islam atau kalangan ulama menyebut ahludz dzimmah (artinya tanggung jawab merujuk kepada nasib mereka merupakan tanggung jawab Allah). Berhak dilindungi dan diberikan kebebasan untuk melakukan segala liturgi dan akidah yang mereka yakini.

Mengenai tafsir umat kristiani (dalam banyak surat Allah menyebut mereka nasoro atawa ahlul kitab) bahwa 25 Desember adalah hari kelahiran kristus putra Allah. Itu sepenuhnya adalah tauhid dan aqidah milik mereka. Sebagai umat islam kita bahkan dituntut untuk menjamin kemerdekaan dan hak mereka untuk beribadah sesuai dengan ajarannya. Termasuk juga saat mereka ahludz dzimmah melakukan da'wah.

Logikanya sederhana. Jika kita sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah dan menyebarkan agama dengan imbalan surga firdaus yang kekal. Maka mereka dengan tauhid dan aqidah yang mereka yakini juga pasti memiliki pemahaman serupa. Adalah sebuah oxymoron jika kemudian kita mengaku beriman dan bertakwa tetapi takut saat ada umat lain berdakwah. Apakah selemah itu iman kita sehingga perlu mengekang dan menindas umat lain dalam beribadah?

Dalam Islamologi karangan Maulana Muhammad Ali, ulama Ahmadiyah Lahore, mengatakan bahwa jika iman kita kuat. Tidak perlu takut terhadap perubahan yang bagaimanapun. Karena ajaran awal yang diberikan kepada Nabi adalah kesabaran dan ketaatan yang tulus. Ia juga membedah dua tahapan dakwah awal islam. Sebagai fase Mekah dan fase Madinah. Dimana pada fase Mekkah belum ada syariat dan seluruh umat diminta untuk bersabar. Karena kesabaran itulah kunci dari sebenar benarnya iman.

Dalam sejarah dan kesepakatan konsili Nicea, Gereja Katolik berusaha untuk berkembang dan beradaptasi dengan masyarakat yang ada. Seperti juga umat islam bersepakat mengenai hal-hal yang tak tertulis dalam Al Quran dan Hadist. Ini merupakan ijtihad versi gereja Katolik, yang menurut pendapat saya pribadi, patut dihormati dan dihargai.

Gereja katolik dan seluruh sekte dalam kristen bersepakat melalui konsili Nicea. Seperti juga islam bersepakat dalam sidang isbat penentuan idul fitri (yang konyolnya tak pernah ada perdebatan mengenai idul adha). Semua agama memiliki perdebatannya sendiri. Bagaimana Calvinis, Opus Dei, Katolik dan Orthodox memiliki akidah dan tauhidnya sendiri. Kita sebagai umat islam hendaknya bertoleransi saja.

Islam adalah agama kedamaian. Seperti etimologi awal As Salaam yang berarti perdamaian. Islam merupakan rahmatan lil alamin. Tak hanya bagi umat muslim sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia dan mahluk hidup di antaranya. Kita bahkan dilarang dan dilaknat Allah untuk tak menghina tuhan umat lain. Seperti dalam Al An'aam ayat 108. "dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan mereka selain Allah. Karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan,"

Islam juga melakukan adaptasi, infiltrasi dan modifikasi. Seperti saat permulaan masuknya islam ke Indonesia melalui pesisir utara. Tentu kita kenal tembang lir ilir gubahan Sunan Kalijaga dan bagaimana ia memanfaatkan kebudayaan tersebut sebagai infilitrasi islam ke tanah jawa. Gereja Katolik juga sama. Pada saat kekaisaran Konstatinus agung, mereka menyadari bahwa tak mungkin memaksakan ajaran kasih yang luas tanpa ada kesepakatan melngenai kanon-kanon keimanan. Tanpa ini mustahil ajaran kasih bisa masuk kedalam relung warga romawi dengan kerelaan.

Adaptasi adalah kunci keberlangsungan sebuah ajaran. Islam, saya kira juga demikian. Bukankah islam hanya ada satu di masa Rasulullah Muhammad? Namun kini ada ratusan sekte dan aliran yang mengklaim kebenaran tunggal. Belum lagi perdebatan Fiqih, Tauhid dan Syar'i antara Sunni dan Syiah. Gereja katolik juga demikian sampai dimana mereka terpaksa harus berpisah dengan saudara-saudara protestan. Bahwa tafsir adalah sebuah efek apa boleh buat dari sebuah agama.

Tak perlu memaksakan logika agama sendiri terhadap agama lain. Anda yang muslim tak akan dapat menemukan satupun alasan rasional mengenai trinitas. Seperti juga umat katolik tak dapat menemukan rasionalitas terhadap ajaran hindu mengenai tertidurnya Wisnu untuk menciptakan dunia pararel lain. Karena memang agama tak masuk akal. Dan melogikakan agama adalah pekerjaan paling tolol setelah menjadi dubing sinetron mak lampir di Indosiar.

Saya lahir dari keluarga dengan latar belakang islam yang sangat beragam. Kakek saya adalah seorang Kyai di Banyuwangi, ayah saya adalah pengurus cabang Muhammadiyah Bondowoso, Kakak saya yang pertama adalah simpatisan hizbut tahrir dan yang lain adalah self proclaimed eslam protestan. Ini bukan upaya gagah-gagahan. Ini adalah curhat karena lahir dalam keluarga semacam ini bisa jadi semacam neraka atau surga tergantung perspektif anda melihat.

Dari sekian banyak pendapat mengenai tafsir saya diajarkan untuk memiliki kehendak bebas. Semacam keberanian mencari tahu tentang apa sebenarnya agama islam itu. Bukan hanya diam saja dan duduk menerima bahwa islam adalah A B C dan seterusnya. Kritis bukan berarti nyinyir dan liberal. Ada beberapa batas yang tak perlu lagi dipertanyakan. Seperti keesaan Allah dan kenabian Muhammad. Tetapi dari kebebasan itu saya malah mendapatkan banyak pemahaman. Meminjam istilah Romo Yudhi, dalam setiap kebudayaan/literatur ada bibit-bibit keimanan tuhan.

Terakhir ada baiknya kita melaksanakan wasiat Umar Ibn Khatab perilhal ahludz dzimmah seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori. Uushiikum bidzimmatillahi fainnahuu dzimmatu nabiyikum. (Aku berwasiat kepada kalian agar menjaga Dzimmah Allah, karena sesungguhnya ia juga merupakan Dzimmah kalian)

Kamis, 29 Desember 2011

Sayembara Kecil Menulis Resensi Retrospektif Album HOMICIDE; "Godzkilla Necronometry"



2012 sudah hampir datang dan jika nubuat suku Maya benar, maka ini tahun terakhir hidup kita di Bumi. Namun bukan tentang itu anda membaca posting ini. Yak benar, sepuluh tahun lalu album Homicide pertama, "Godzkilla Necronometry" dirilis dalam dua bentuk; sebagai album dan sebagai bagian split dengan Balcony, grup hardcore dari Bandung Juga. Album ini cukup penting bukan karena sebagai album HOMICIDE pertama, tapi karena merubah tak hanya wajah hiphop lokal namun juga wajah musik Indonesia.

Untuk sekedar merayakannya kecil-kecilan, pengelola FB Unofficial Homicide berniat membuat sebuah lomba menulis essay retrospektif tentang album tersebut. Mereka membuat ini sebagai bentuk tribute. Penghargaan sadar atas kerja keras dan karya kanon Homicide. Hadiahnya pun sederhana. Hanya sebuah T-Shirt HOMICIDE dan 2 buah poster HOMICIDE ukuran A3 yang belum keluar dari plastiknya sejak dibeli dulu, akan diberikan kepada seorang pemenang dengan tulisan terbaik. Penilaian tidak akan dilakukan sendirian. Rencananya mereka akan meminta bantuan beberapa penulis/jurnalis musik yang sudah kenal. Beberapa waktu lalu Taufiq Rahman, co founder dan editor Jakartabeat, tertarik untuk menjadi juri dan menaruh review terbaik di situs kolektif itu.

Karya penulisan tidak dibatasi secara teknis, tapi mungkin 2000 kata udah cukup panjang. Silahkan kirim tulisannya ke pusakakalam@gmail.com, dan batas pengirimannya sampai dengan akhir Januari 2012. Ingat sebelum kiamat!


Untuk lebih jelas mengenai apa dan bagaimana Godzkilla Necronometry" bisa main ke SINI.

Kamis, 22 Desember 2011

Anak Mama


"Dhani nggak apa2? jng lp mkn. jg kesehatan y mama syg dhani"
Ibu saya itu reinkarnasi Nostradamus. Mungkin juga Jayabaya. Atau Ronggowarsito. Atau Merlin. Entahlah. Tapi yang jelas dia tahu kapan saya sedang jatuh, sedih dan membutuhkan dukungan. Padahal saya bukan orang yang suka bicara. Dalam banyak hal saya menyimpan masalah sendiri. Meski sering labil untuk kemudian mempostingkan perasaan ke dalam social media. Well, mungkin ini penyakit masyarakat digital paska industri. Scizhocybernia. Kecemasan digital.

Ibu saya gagap teknologi. Gagap informasi. Tapi tak membuat ibu saya buta terhadap masalah yang ada. Saya dulu ingat saat SD ibu saya berujar "Pak Harto mari ngene mudun, wes wayahe mandeg," itu sekitar tahun 96. Jauh sebelum gejolak ekonomi dan politik 98 terjadi. Dan entah karena kebetulan atau karena ibu saya 'mandhi' pak Harto benar-benar mundur. Dalam setiap ibu selalu ada kekuatan tersembunyi yang akan membuat anaknya merasa bangga telah dilahirkan.

Ibu saya tak tahu facebook atau twitter atau blog. Dia hanya tahu Al Quran, Dapur dan Masjid. Tapi dia tahu jika saya ada masalah, sakit atau sedih. Pernah saat kuliah semester 3 saya sakit tipes di kosan. Saya tak memberi tahu Ibu dan ia datang pada hari kedua dengan air mata. Ibu saya mimpi kakinya di injek gajah. Entahlah analogi gajah dan ukuran tubuh saya mungkin memiliki kemiripan.

Ibu saya marah karena tak diberitahu sedang sakit. Dan ia menjemput paksa saya untuk pulang beristirahat di rumah. 

Sampai hari ini saya tak tahu apa yang mendorong ibu saya untuk datang kala itu. Ibu sepertinya punya indra keenam untuk bisa meramalkan kondisi anaknya. Semacam radar untuk mendeteksi kebohongan, keadaan atau bahkan perasaan paling tersembunyi dari diri anaknya. Semua ibu memiliki indra ini. Tak hanya ibu saya tapi seluruh ibu yang melahirkan anak-anak paling hebat di dunia.

Hari ini ibu saya tiba-tiba menegur keadaan saya. Meminta anaknya yang badung ini untuk menjaga diri, jangan telat makan dan jaga kesehatan. Entahlah apa yang mendorong dia untuk melakukan itu. Mungkin ibu tahu kalau saya sedang sedih. Atau tahu saya sedang sangat labil. Apapun itu saya percaya tak ada satupun anak di dunia yang sanggup sembunyi dari perhatian ibunya.

Tak banyak yang mengetahui jika hari ini terjadi Kongres Perempuan Indonesia (1) pada 22-25 Desember 1928 (beberapa bulan seusai sumpah pemuda pemudi). Muhidin M Dahlan, seorang kronik sejarah Indonesia merekam ini dari majalah Isteri yang mencatat dengan detil kongres itu. Kongres itu diikuti 30 pergerakan semasa. Di situ ada Nyi Hajar Dewantara. Ny Ali Sastroamidjojo dll. Perdebatan paling mencuat saat itu adalah Poligami (Organ Sedar dan Aisjijah bertarung keras dalam forum).

Untuk memperingati Hari Kongres Perempuan Indonesia yang jatuh hari ini 84 tahun lalu itu di Yogyakarta. Saya ingin menulis ulang kisah ini. Tentang bagaimana kepedulian sederhana dari seroang perempuan bisa jadi mood booster paling ampuh. Ini juga tulisan untuk segala ibu, tak melulu bagi mereka perempuan yang melahirkan tapi dengan asih dan asuh merawat anak-anak, yang dengan rock and roll telah tulus mencintai kita. 


Terimakasih mamah. Dhani juga sayang mamah.

Kamis, 15 Desember 2011

Catatan kecil yang panjang


~ Boleh lapar tapi tak boleh berhenti tulis membaca.

Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah senja keemasan yang pecah di horison, sambil menulis sebuah catatan dan ditemani secangkir kopi hitam pahit yang pekat? Kopi yang memiliki rasa pahit getir dimana saat kau rasakan di ujung lidahmu akan tersisa getir yang teramat sangat. Seperti film tengah malam yang mengantarkanmu tidur namun berhasil merebut perhatianmu hingga ia usai.

Catatan kecil yang muncul dari rasa heboh dan meletup-letup seusai kau membaca sebuah buku yang sangat menarik. Catatan yang awalnya hendak kau buat pendek, namun berubah menjadi epos panjang, sehingga kau butuh semua keberanianmu untuk menghentikan catatan panjang ini. Seperti semua anak mami yang mesti lepas dari sapihan ibunya untuk pertamakalinya bermain di pantai.

Awalnya kau hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggangmu akibat hujan deras, yang bulir bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan kau pun terdiam lalu teringat sebuah buku baru yang tak sempat kau baca. Lalu diam-diam mencari-cari diantara ratusan tumpukan buku. Seperti kerinduan di sebuah terminal yang menunggu kedatangan.

Jari-jarimu terus menulis dan menulis dan menulis. Sampai sebuah aroma pisang goreng melayang dan menghentikan konsentrasimu dalam menulis catatn kecil yang panjang. Lalu kau sesap lagi hangat kopi pahit itu dan menunggu manis getirnya hilang. Lalu kau mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya perlahan lahan. Seperti kesabaran seorang suami yang menunggu istrinya berdandan.

Kukira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiranmu dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat.

Lalu kau melihat senja yang pudar itu pelan-pelan menjadi gelap yang terlalu pekat. Saat kau sedang asik menulis pada bagian klimaks catatn kecilmu yang panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi kau terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli. Bebunyian itu terus nyalang berteriak dari sebuah benda yang berpendar-pendar. Seperti lonceng peringatan bagi umat untuk kemudian larut dalam komuni putra maria.

Kau masih terus dan terus menulis sebuah catatan kecil yang kini sudah menginjak usia halaman kelima. Kau yang awalnya hanya menulis tentang sebuah fragment buku, kini berkembang menulis perihal kebencian, kemarahan, dendam dan sebuah rasa nyeri yang tertahan. Kau terus menulis tanpa menyadari air hangat asin berderai-derai mengalir dari kedua matamu yang kosong menatap nanar monitor. Seperti sebuah aliran perigi pada musim hujan paling deras.

Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Kau masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji  tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan.

 "Kriiuiuiuiuiuiuiuik" dan bunyi keparat itu benar-benar memecah konsentrasimu yang sedari pagi kau bangun dengan keangkuhan. Kau terpaksa harus tunduk kali ini. Pisang goreng hangat tadi sudah tandas tak bersisa, sementara cangkir kopi pahitmu sudah selesai dan tinggal ampas. Dengan malas kau berdiri menjerang air dan mulai menyedu kopi pahit lain. Seperti kebeblan yang tak pernah mengakui kekalahan

Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiranmu terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang panjang dan telah tamat berumur 20halaman. Kau membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan. Lantas kau berkata lirih "Meh kok jadinya puisi galau?"

Terdengar ketukan panjang pada keyboard.

"Ctrl A Del."

Tampilan Baru Dapur Blogspot



Almarhun Harry Roesli pernah berkata. Perubahan sebuah zaman tak bisa ditentang atau dilawan. Tapi ada baiknya dikendalikan dan diarahkan. Saya setuju dengan diktum musisi kanon asal Bandung itu. Seperti juga arus sungai, ia bisa dibelokan, dibendung, ditahan tapi tak akan bisa dibalik arusnya. Sebuah kodrat.

Saya kira ini juga yang terjadi pada Blogspot (blogger) hosting di mana saya menulis selama dua tahun ini. Tampilan dapur (dashboard?) kini semakin cantik, semakin rapi dan ibarat seorang gadis. Sudah menemukan pesonanya sendiri tanpa perlu banyak menggunakan gincu.


Well, saya suka blog saya.