Senin, 30 Januari 2012

Dadidudedo









~ hidup hanya tentang menghadapi rasa takut dan menyikapi kehilangan

Kamu bilang hidup itu seperti roda yang berputar. Tapi aku selalu percaya hidup itu seperti membaca buku yang tebal. Kadang kita marah, sedih, benci, senang, cemburu, dendam, jatuh cinta dan sebagainya saat membaca sebaris kalimat. Dalam banyak hal membaca buku mengajarkan kita untuk menyikapi hal-hal yang belum terjadi. Tapi bukankah segala yang sudah diprediksi itu menyebalkan. Ya, kamu dan aku tahu itu.

Aku sedang malas bercerita tentang kehilangan, karena ku pikir untuk apa? Toh sudah ada kamu yang selalu bawel dan gegas memarahiku saat lalai. Kukira manusia itu mahluk paling dhoif dan rakus diantara mahluk tuhan yang lain. Iblis sombong, tapi ia tak rakus. Ia hanya menggoda manusia untuk kemudian ditinggalkan dalam tindakan dosa. Tapi bukan untuk itu kan aku menulis ini? Mungkin ini hanya sekedar fase keresahan yang teramat labil. Seperti hujan yang datang saat hari masih terang.

Pagi ini melankolis sekali. Entahlah, mungkin fakta bahwa kita sama-sama lahir dan bertemu untuk kemudian jatuh cinta itu sepertinya komikal sekali. Kamu adalah apa yang terbalik dariku. Kamu adalah orang yang disiplin. Gegas. Patuh dan selalu taktis dalam bersikap. Sedang aku. Bahkan dalam dua menit kedepan aku masih bingung hendak melakukan apa. Sudah kubilang, hidup yang terencana, hanya akan berujung kepada kekecewaan. Itu yang tak aku mau.

Tapi biarlah toh aku mau menjadi melankolis. Seperti sajak lagu Desember dari efek rumah kaca yang sangat kamu sukai itu. Kukira lagu itu bukan lagu riang. Sedih malahan. Tapi bukankah kebahagiaan bukan hanya tentang gelak tawa? Tapi juga tentang dengan siapa kamu berbagi kesedihan. Dus kamu selalu ada saat aku sedih dan terhantam hebat. Dan yang lebih monumental kamu masih ada disana meski kesedihan dan kejumudan diriku kamu ketahui. Boleh aku tanya, hatimu terbuat dari apa?

Ya sudah, mungkin cukup sekian dulu. Aku harus pergi. Ya ya ya menemui dosen, untuk kemudian mempersiapkan sidang. Itu kan yang kamu mau? Kamu bahkan lebih bawel dari ibuku sendiri perihal kelulusan ini. Tapi semua itu tak penting. Fakta bahwa kamu ingin memberikan aku yang terbaik itu lebih dari cukup. Lebih dari sajak paling bagus yang pernah dibuat Neruda. Dan pagi ini, rindu berkecambah seperti jamur di musim hujan. 


Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (II)

           Dalam suatu perbincaangan, Imam Al Gozhali, pernah bertanya. Sebenarnya apa yang paling jauh dari dunia? Beberapa muridnya menjawab bintang, negeri Cina dan langit. Imam Al Gozhali membenarkan semua jawaban itu. Namun ia kemudian menjelaskan bahwa yang paling jauh dari dunia adalah masa lalu. Sekeras apapun manusia berusaha ia tak akan pernah bisa mencapai masa lalu.


             Saya kira Al Gozhali benar. Perihal ingatan, manusia selalu ingin membuat monumen. Sebuah tapal batas bahwa ada tanda-tanda keberadaan dirinya di masa silam.Hal inilah yang saya temukan beberapa waktu lalu. Saat saya memutuskan untuk melacak kebudayaan masyarakat Tionghoa di Jember. Di satu sudut perumahan mewah dh Jember. Saya menemukan kisah masa lalu.

            Di suatu tempat tak begitu jauh dari pusat kota Jember yang gegas. Angin yang berhembus keras menerbangkan beberapa daun dan sampah plastik ke udara. Jalanan di kawasan perumahan mewah yang bernama Villa Sempusari ini masih sepi. Hanya beberapa motor yang lalu-lalang. Selebihnya hanya barisan rumah besar dengan nuansa dingin kesepian.

            Di suatu tempat tak begitu jauh dari pusat kota Jember yang gegas. Angin yang berhembus keras menerbangkan beberapa daun dan sampah plastik ke udara. Jalanan di kawasan perumahan mewah yang bernama Villa Sempusari ini masih sepi. Hanya beberapa motor yang lalu-lalang. Selebihnya hanya barisan rumah besar dengan nuansa dingin kesepian.

            Hiruk pikuk itu berasal dari gelak tawa beberapa orang di dalam vihara itu. Sebagian dari mereka sudah tak bisa dikatakan muda. Orang-orang itu sebagian besar rambutnya telah memutih. Raut wajah mereka penuh dengan riak yang dipahat zaman. Namun, semangat mereka untuk membersihkan patung-patung dan klenteng itu, tak bisa dikatakan lambat. Ada sebuah kegairahan yang seolah-olah meluber keluar.

            “Senin kan mau imlek. Kami mau siap-siap biar klenteng sama viharanya kelihatan cantik,” kata seorang sepuh. Ia menolak memberikan nama. “Saya di sini niat bantu klenteng. Bantu-bantu teman, tak usahlah ditanya nama,” katanya. Sembari bercerita tangannya cekatan melap debu dan sesekali mencari sarang serangga yang kerap menempel di atap. Sebuah patung Jendral Gun San Chiang Chin, dia angkat dengan satu tangan. Lalu, dibersihkan dengan sangat hati-hati.


Sebagian besar dari mereka yang bekerja di sana adalah orang-orang Tionghoa. “Tionghoa” atau “Zhonghoa” artinya “orang (kerajaan) Tengah.” Zhongguo adalah nama Republik Rakyat Tiongkok dalam bahasa Mandarin. ”Dulu kita pernah dipanggil dengan nama Cina atau Yuk (sebutan kasar pada era Soeharto),” kata seorang yang sibuk membuang air bekas mengepel lantai.


Vihara Sempusari dibangun pada tahun 2000, dua tahun selepas rezim Soeharto jatuh. Saat itu, kran kebebasan seakan terbuka sangat lebar. Umat Tridharma berbondong-bondong mencari lahan untuk membangun tempat ibadah. Aladin, begitu Sudinto biasa disapa, awalnya penjaga di sebuah vihara tua di Ambulu. “Saat itu euforia kebebasan. Kita seperti diberi kebebasan menjadi diri sendiri.”



Atas prakarsa beberapa rekan, dibangunlah Vihara Sempusari yang juga memiliki sebuah patung Budha. Di kawasan komplek perumahan Sempusari itu sebenarnya ada juga komplek vihara lain. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang mendedikasikan pembangunan vihara sebagai bentuk penghormatan terhadap Gus Dur. Kebebasan yang diberikan oleh Gus Dur begitu melekat bagi Aladin, sampai-sampai ia selalu mendoakan beliau meski berbeda agama. “Saya tiga kali lewat Jombang. Tiga kali pula saya selalu doakan beliau.”


Aladin menolak saat ditawari minum padahal pakaiannya basah dengan keringat dan suasana siang hari itu memang terasa sangat panas. “Saya memang niat puasa mutih untuk membersihkan hari ini,” katanya. Ia hanya makan nasi putih dengan sayuran rebus dan sedikit garam. Menolak makanan yang berminyak, berdaging dan berbumbu. “Ini semacam tirakat untuk membersihkan diri.”

Hampir semua orang yang membersihkan Vihara Sempusari melakukan hal serupa. Kebersihan mental selalu lahir dari kebersihan lahir dan batin. Aladin sendiri percaya bahwa inti dari perayaan Imlek bukan tentang angpau atau kembang api pesta. Tapi, upaya merefleksikan diri dan mencari makna hidup. “Apa yang telah kita lakukan selama setahun dan apa yang akan kita lakukan tahun berikutnya. Itu yang penting,” ujarnya mantap.

Dalam prosesi pembersihan vihara sendiri, Aladin tak main-main. Ia sendiri sudah berpuasa sejak seminggu sebelumnya. Ia berniat menyucikan diri dari niat buruk dan pamer untuk mencari rasa ikhlas. Aladin bukannya tak mau meminta tolong kepada rekan-rekannya yang masih muda. Namun, anak muda zaman sekarang memang susah digerakkan untuk hal hal yang tak praktis. “Susah sekali mencari bantuan dari anak muda. Maunya mereka main aja, jadinya tak ada yang bantu. Tapi biarlah.”






            Sebuah mobil mewah warna putih berlalu dengan santai. Sementara di salah satu jalan paling ujung kawasan perumahan itu, kehidupan seperti gegas berdetak. Rumah dengan tembok tinggi menjulang warna merah. Sementara beberapa tiang penyangga berwarna senada menaungi gedung itu. Di salah satu kisi gedung sebuah papan nama menjulang “Vihara Sempusari.”

Sejak 1965 mantan Presiden Soeharto memang pernah mengeluarkan kebijakan yang menghapus segala bentuk kebudayaan China. Saat itu, dunia sedang dipecah antara sisi komunis dan liberalis. China yang saat itu berhaluan komunis dianggap sangat berbahaya. Sehingga muncul kebijakan rasialis yang berakhir saat Abdurahman Wahid naik menjadi presiden. ”Nggak ada orang Tionghoa Indonesia yang nggak kenal Gus Dur. Dia orang hebat,” kata Sudinto, sekretaris Vihara Sempusari.




Tahun ini seluruh masyarakat Tionghoa yang merayakan imlek akan memasuki tahun 2563. Tahun Naga Air, jika dirunut pada fengsui yang ada. Kepercayaan penganut Tridharma percaya bahwa tahun ini cocok untuk bisnis. Namun, Aladin melihat keseimbangan alam sedang rusak. Akhirnya hanya akan membawa kesengsaraan bagi manusia. “Bisnis apapun yang tak sinergis dengan alam hanya akan membawa keuntungan sesaat. Bisa bawa sial,” katanya sambil lalu.

Minggu, 29 Januari 2012

Gumam-gumam


            Ada banyak hal yang membuat kita sepertinya tersesat dalam keinginan, semisal mengenai cinta yang yang tak berbalas, bir yang pahit atau doa yang panjang. Kukira kita perlu membuat kesepakatan bahwa apapun keinginan kita ada baiknya tak lagi berharap terlalu banyak. Harapan seringkali berulah seperti pisau tajam yang menusukmu pelan-pelan lalu ditarik secara tiba-tiba. Harapan adalah memupuk mesiu dan meledakannya dengan tersembunyi.

            "Karena laku menyempurnakan kata," kaubilang.

            “Kau berbakat jadi seorang Narator. Segala hal jadi sangat dramatis bagimu,”

            Kau dan aku sedang duduk memandangi senja yang perlahan turun. Di pertemuan terakhir kita. di atap sebuah perpustakaan. Memandangi alun-alun yang dipenuhi kegembiraan.

            "Dan mencintai tak pernah begitu sederhana."

            Tak pdrnah ada cinta yang sederhana. Seperti juga tak pernah ada kehilangan yang sederhana. Ya meskipun aku tak pernah mempermasalahkan perihal cinta daripada kehilangan, soal cinta lebih baik aku biarkan mengalir. Seperti perigi di pematang sawah yang terus turun turun dan turun sampai mencapai titik kedatarannya. Dan kita tak pernah akan tahu kapan titik itu akan dicapai.

            Lalu kenapa aku disana? Bersama kamu? Ah iya, aku ingat. Kita membahas mengenai keinginan-keinginan. Mengenai hujan, mengenai masa depan, dan mengenai kelulusan. Tapi aku belajar untuk tidak terlalu banyak berharap. Seperti kubilang. Harapan adalah pisau tajam. Dan aku hanya diam. Memandangi senja yang rubuh pelan-pelan. Membuat menara pemancar gelombang radio di ujung sana seperti tusuk gigi yang rapuh. Perlahan menghitam serupa arang dan hanyut dalam kegelapan.

            Lalu apa musti kutafsirkan dari percakapan-percakapan kita? Ah seperti biasa. Mungkin aku hanya sedikit paranoid. Aku cenderung acuh pada hal-hal sentimentil. Aku selalu diajarkan untuk menyukai ketakutan-ketakutan. Bahwa manusia pada sejatinya adalah pengecut. Pengecut yang selalu bersembunyi dan waspada untuk bisa bertahan hidup. Perihal cinta? Sudah kubilang padamu bahwa itu adalah perkara harapan. Dan karena itu aku belajar untuk tidak terlalu banyak percaya pada cinta.

            “Sebelum lidahku ngilu dan yang lewat tak mungkin kaucatat?”

            Ya ya ya. Kita sepertinya terlalu banyak melupakan. Di republik ini gegar sejarah dan amnesia adalah penyakit kebanyakan. Kukira bukan obesitas atau hipertensi yang menjadi penyebab kematian tertinggi. Tapi kealpaan. Kita cenderung untuk melupakan banyak perkara yang membuat luka. Seperti pembantaian, segelas teh hangat, laut dan perahu pinisi. Kita selalu melupakan itu semua. Tapi tak pernah lupa kapan tanggal gajian dan waktu liburan bukan?

            Kesenangan dan hingar bingar hiburan membuatku beradaptasi kepada rasa tidak nyaman. Bahwa sebenarnya kita adalah laron-laron yang menghinggapi pelita. Kita menyenangi cahaya, meski pada akhirnya kita bisa terbakar karena panasnya. Kesenangan dan keinginan itu juga hal yang sama. Pembunuh yang meraba pelan-pelan kewaspadaan kita. lalu menikam pada saat yang paling tepat. 

            “Adakah batas dari perasaan, ketika melulu kulayarkan segenap gelisahku.” katamu

            “Seperti apa?”

            “Ketika, ah, kusiksa diri untuk tak bilang sayang dan rindu kepadamu,” jawabmu.

            “ah tidak, manusia dilahirkan dengan kesombongan. Itu sesuatu yang telah ada dalam diri kita. suatu yang sudah ada seumur peradaban manusia itu sendiri,” jawabku panjang.

            Ada baiknya kita bersikap sombong. Bersikap tak mau peduli dan membiarkan perjalanan nasib menemui narasinya sendiri. Kukira kita berhak sombong, berhak untuk menjadi anak-anak, berhak untuk kemudian berbuat bodoh. Tak selalu dan tak seharusnya manusia bersikap sempurna. Itu adalah penyimpangan. Jika manusia sempurna lebih baik ia jadi malaikat. Ketidaksempurnaan dan penyimpangan itu yang membuat manusia sempurna.

            Hawa semakin dingin dan gelap pelan-pelan menyergap. Lampu mulai bermunculan dan dengung tartil Quran menyambut maghrib berkumandang. Tidak seperti kau, aku benci pengajian yang mekanis. Para lebai masjid memutar kaset-kaset untuk menunggu waktu adzan tiba. Seperti tugas dan kemampuan suara manusia terlalu remeh untuk kemudian membaca kitab suci. Kadang aku berharap semua kaset tartil dihancurkan. Sehingga setiap hari ramai suara corong masjid dengan manusia yang membaca sabda.

            Sial. Aku selalu lupa. Rambutmu yang kehitaman memanjang. Dahimu yang lebar dan lesung pipi paling manis sejagat raya itu akan tampak indah saat matahari tergelincir. Menciptakan imaji surealis yang meleburkan syaraf-syaraf optis mataku. Sial! Sial dua kali. Matahari senja yang ungu keemasan membuat sorot matamu jadi berkaca-kaca. Bodoh kenapa aku membawamu ke atas sini? Bodoh! Bodoh!

            “Sementara jarak menjejal duka melukai waktu?”

            “Jarak selalu menciptakan luka, juga rindu, juga kecemburuan. Ada banyak hal yang diciptakan jarak. Jadi kukira ada baiknya kau belajar untuk bersabahat dengan jarak,”

            Kenapa jadi menyalahkan jarak? Aku kira saat jatuh cinta kita bukan hanya bersiap untuk menghadapi pengkhianatan. Tapi juga harus bersiap untuk bersekutu dengan jarak. Mengenai perubahan bentuk dari kedekatan menjadi sebuah perjuangan melawan ketiadaan. Dekat dan jauh kukira hanya masalah perasaan. Dan cinta adalah segala sumber dari masalah perasaan.

            “Kamu pernah jatuh cinta?” katamu.

            Tentu saja bodoh! Saat ini denganmu. Dengan keberadaanmu. Dengan ide tentang kamu. Dan segala hal tentang kamu! Ah iya, aku tak pernah bilang kalau aku suka padamu. Jadi itu kau punya hak untuk kemudian tidak peduli. Dan, kenapa masih berdebat mengenai jarak? Kalau tak tahan kenapa tak kau datangi? Kenapa tak kau tebas? Ah jarak sekali lagi hanya masalah perasaan. Perasaan malas dan perasaan ragu. Jarak selalu menciptakan keraguan.

            Maka kukira ada baiknya cinta terperangkap dalam penjara kata-kata. Tapi seorang kasmaran tak butuh cinta. Ia butuh belaian hangat. Ciuman panas. Dan dekapan hangat. Kukira semua tentang nafsu badaniah. Kita bertemu, berpelukan, berciuman, saling memandang dan kemudian bercinta. Ya tentu saja disela-sela itu kita berbincang, berdebat dan berdiskusi. Kata-kata tak punya tempat dalam persetubuhan. Kecuali ekspresi uh ah no yes. Dan itupun kukira menjijikan.

            Sebentar kenapa kemudian aku berpikir sejauh itu? kau bahkan tak pernah tau (atau jangan-jangan tak peduli) kalau aku mencintaimu. Sialan. Ini pasti gara-gara sate kambing yang kumakan semalam. Sialan. Dan senja ini juga kenapa pelan sekali berlalu. Seolah-olah waktu dan senja bersepakat untuk membuatku jatuh cinta lagi padamu. Sudah cukup aku dihajar keinginan-keinginan. Harapan-harapan. Aku belajar untuk tidak lagi percaya pada mataku. Tapi sial! Kau manis sekali saat senja datang!

            “Sebab pada jarak atau waktu, akan kalis pada ketiadaan” katamu.

         “Jika mencintai adalah perkara bentuk dan kehadiran. Maka sudah pasti mereka yang jatuh cinta adalah atheis,”

            “Kenapa bisa?”

            “Lha. Seumur-umur aku tak pernah lihat bentuk cinta, bentuk waktu, bentuk kentut dan bentuk pedas,”

            Lalu kau tersenyum. Untungnya segera kubuang mukaku menghadap alun-alun. Aku tak mau dikerjai cahaya lagi. Dikerjain waktu lagi. Dan dikerjai pesonamu. Cukup aku jatuh cinta padamu berkali-kali sehingga lecet dan bernanah perasaanku. Sudah cukup. Sedikit senyum lagi darimu kukira aku akan tunduk turun pada ego. Dan mengajakmu menikah. Ah menikah. Mengurus kemaluanku saja tak becus ingin mengajakmu menikah? Sial! Sial!

            “Dari bebaris sajak kutuliskan. Rindu tak pernah lunas dibayar,” katamu tiba-tiba.

            “Hmmm....”

            “ Kok hmm?”

            “Aku tak pernah paham puisi. Tak pernah menyenangi sajak. Mereka berbelit seperti rimbunan jerami,”

            “Nah kau sedang berpuisi,”

            “Ini bukan puisi. Ini argumen,”

            “Maka argumenmu adalah puisi yang indah,”

            Kita berdua lalu diam. Seperti bersepakat bahwa petang ini sudah benar-benar punah. Membiarkan hawa turun sedikit sejuk. Setelah seharian panas menghajar Solo. Lalu ponselmu berbunyi nyaring. Coldplay. Seperti biasanya kau membiarkan sebait sajak dinyanyikan, sebelum kemudian memutuskan membuka pesannya.

            Wajahmu lalu berangsur riang. Sekerat senyum, meski samar, kamu sembunyikan. Siapa pengirim pesan itu? Siapa yang bisa membuatmu tersenyum? Aku seperti marah. Seperti cemburu. Seperti diikat dengan tali dan dipaksa menelan biji kedondong. Lalu kau membalas pesan itu. Pelan dan tak tergesa karena kau yakin masih ada waktu di dunia ini hanya untuk sekedar membalas pesan.

            Usai. Lalu kamu memandangku, dahimu berkerut, lalu tersenyum. Seperti membaca pikiranku kamu lalu menjelaskan bahwa pesan itu dari pembimbingmu. Mengubah jadwal pertemuan karena harus pergi melakukan penelitian lanjutan. Hatiku plong tapi wajahku datar. “Kabar baiknya. Besok kita bisa ke Balekambang, ke keraton lalu lanjut ke Gladak. Mencari buku yang kamu mau.”

            “Sepertinya aku mencintaimu,” kataku tiba-tiba.

“Tapi sayangnya aku tidak,”

Dan gelap makin menelan malam.


Kota Kenangan


            Langit terlampau gelap untuk kemudian bisa dipahami sebagai atap bumi. Mendung yang berarak, sore itu, membuat semua warna luluh dalam satu warna. Monokrom. Segala hiruk pikuk keramaian yang sebelumnya masih ada dihentikan begitu saja. Seperti seseorang dikejauhan menekan tombol stop dalam remot mahakuasa. Mendung memang selalu membuat kesal siapapun yang sedang bersenang-senang di luar ruangan.

            Sementara keramaian berangsur angsur hilang hujan tak juga datang. Hanya sekedar beberapa petir menyambar dan lampu-lampu yang mulai menyala. Dan sisanya masih sunyi. 

            Kekosongan yang mencabik merubah taman ria itu seperti kuburan. Tidak ada siapapun disana. Tidak juga pengelola yang rakus memberikan tiket mahal untuk pertunjukan kelas teri. Tetapi penduduk kota kenangan semuanya sudah terlalu bosan dengan ingatan, sehingga saat segerombolan sirkus datang, menawarkan hal-hal baru membuat mereka datang tanpa peduli dengan secarik harga dalam tiket.

            Kota kenangan adalah tempat dimana semua ingatan masa lampau tinggal. Tentang ingatan masa kecil, masa lalu, masa yang sudah usai dan baru saja selesai. Tempat dimana segala yang telah terjadi berkumpul. Kota kenangan selalu ramai dengan ingatan-ingatan yang usang. Yang telah ditinggalkan para pemiliknya. Tak ada yang baru di kota kenangan, karena semuanya sudah selesai dan terjadi.

            Entah bagaimana awalnya segerombolan sirkus itu tiba. Kapan dan dimana mereka bermula datang tak seorang pun penduduk di kota kenangan tahu. 

“Seingatku mereka muncul saat senja paling merah mengarak awan warna keemasan,” kata penduduk di Kota kenangan. 

“Ahh tidak. Kau salah. Mereka datang saat hujan sangat deras dan melarutkan semua yang kering,” kata seorang penduduk lain.

“Sompral! Kalian berdua sok tau. Sirkus itu datang saat malam paling cemerlang memperlihatkan rasi bintang utara,” sanggah penduduk yang lain.

            Semua perdebatan terjadi di sudut-sudut kota kenangan. Omongan warung kopi. Perbincangan di kafe. Gosip saat pertemuan PKK. Bahkan saat rapat anggaran dana karang taruna. Semua orang di kota kenangan memperbincangkan sirkus yang tiba-tiba muncul itu.

            Tapi yang jelas, sirkus itu hanya buka pada saat hari beranjak sore. Ia tak buka lebih dari waktu tergelincirnya matahari sehingga memperlihatkan senja yang gelap. Semua seolah terjadwal. Terpatenkan dan tak pernah berubah. Penduduk kota kenangan pun tak pernah protes. Karena seingat mereka tak pernah ada kejadian selepas sore. Ingatan-ingatan yang menjadi penduduk kota kenangan selalu hadir saat malam.

            Sirkus itu memasang tarif yang terlalu tinggi bagi para penduduk kota kenangan. Setiap penduduk yang ingin menonton pertunjukan itu harus memberikan sebuah ingatannya yang paling berharga. Entah kenangan mengenai ciuman pertama. Kenangan saat bersama orang tua yang telah meninggal. Apapun yang menjadi ingatan paling berharga bagi warga kenangan menjadi harga mati tiket itu.

            Tapi sudah menjadi rahasia umum bagi penduduk kota kenangan. Siapapun yang kehilangan ingatan paling berharga. Maka orang itu akan mati dan musnah dalam rimbunnya dunia alpa. Lupa adalah sebuah kematian bagi setiap penduduk kota kenangan.

            Tetapi rasa penasaran penduduk kota kenangan memang sudah tak tertahankan lagi. Sudah bertahun-tahun sejak dunia terbentuk. Penduduk kota kenangan tak pernah melihat hal yang baru. Semuanya sudah usang. Semuanya sudah dilihat. Bagi mereka ingatan adalah sebuah perputaran atas kejadian yang telah selesai. Tak pernah ada yang berbeda dalam hidup mereka yang sangat membosankan itu.

“Datanglah datanglah. Kami sirkus bayang bayang. Menampilkan sebuah pertunjukan tentang masa depan. Sesuatu yang belum terjadi. Datanglah datanglah. Cukup dengan ingatan paling berharga maka anda akan dipuaskan akan masa depan. Datanglah datanglah,” kata para pekerja sirkus itu.

            Sebenarnya apa itu masa depan? Bukankah ia masih belum terjadi. Sesuatu yang rahasia. Kebanyakan masa depan berkisah tentang hal-hal yang tak perlu diketahui. Seperti juga malam hari yang ujungnya belum pasti. Meski setiap malam pasti berujung pagi. Lalu untuk apa meributkan sesuatu yang sudah pasti. Masa depan selalu jadi hal yang ranum untuk dibicarakan. Tapi selalu jadi hal yang ogah untuk di taklukan.

            Kukira semua penduduk kota kenanangan sudah teramat bosan dengan segala ingatan. Mereka sudah terlalu jengah dengan segala hiruk pikuk yang itu itu saja. Tentang ciuman pertama, pesta pernikahan, kelahiran anak, masa masa sekolah, dan hal sontoloyo lainnya. Manusia kota kengangan adalah manusia yang muak dengan ingatannya. Mereka gagap dengan suatu hal yang berlum terjadi. Manusia yang hidup di masa lalu.

            Lalu kenapa kemudian mereka menginginkan masa depan? Ingatan adalah barang usang yang bisa diganti dengan yang lain. Setiap penduduk kota kenangan punya deposito kenangan. Kotak istimewa yang menyimpan ingatan-ingatan istimewa. Tapi tentu selalu ada yang paling istimewa dari yang istimewa. Yaitu ingatan purna. Nyawa dari setiap penduduk kota kenangan. Hal yang paling diinginkan sirkus bayangan.

            Tapi tak pernah ada yang tahu bagaimana seseorang bisa hadir dan tinggal di kota kenangan. Tentang bagaimana mereka bisa hidup dan kemudian beranak pinak di kota kenangan. Tentang siapa orang pertama yang tiba di kota kenangan. Dan bagaimana ingatan purna bisa menjadi nyawa bagi setiap penduduk kota kenangan. Tak pernah tahu dan memang mereka tak pernah ingat.

“Kota kenangan tercipta sesaat Adam dan Hawa memakan buah durian,” kata seorang.

“Durian gundulmu! Kota kenangan tercipta saat Nuh plesiran dengan kapal pesiar,” ujar yang lain.

“Ealah dalah wong kok ya pada sok tau! Kota kenangan diciptakan saat tiga raja bertemu Yesus di kandang domba!” sergah seorang wanita tua.

“Bah kalian semua itu sok tau! Kota kenangan ini cadangan tanah yang dijanjikan Raja Daud untuk kita lah!,” kata seorang sengit.

            Begitulah perdebatan mengenai kota kenangan yang tak pernah habis-habis. Mereka bertengkar mengenai asal mula. Seperti berusaha bersepekat mengenai anak ayam dan telurnya. Mengenai hal ini penduduk kota cahaya selalu ingin unjuk suara. Maklum mereka hanya punya sepotong-sepotong ingatan. Separuh-separuh pengetahuan. Tak pernah ada yang utuh dalam sebuah ingatan. Ia akan selalu hadir seperti kentut yang apak.

            Sementara hari pertunjukan sirkus semakin ramai, semakin penuh, semakin dekat dan semakin membuat penduduk kota kenangan terdesak. Sedikit demi sedikit penduduk kota kenangan berkurang. Kematian karena hilangnya ingatan purna menjadi berjelaga. Menjadi kabar dimana-mana. Seorang ibu berpisah dengan anaknya. Seorang kekasih dengan cintanya. Dan seorang lelaki dengan istrinya. Sirkus itu seperti kabar buruk yang enggan pergi menghilang.

            Namun tak satupun penduduk kota kenangan yang berusaha untuk mencegah datangnya sirkus itu. Atawa mencegah kepergian orang-orang untuk menyongsong sirkus itu. Mereka terikat sebuah norma kehendak bebas. Siapapun yang datang ke kota kenangan adalah orang-orang merdeka. Dan mereka akan pergi dengan cara merdeka. Tak satupun manusia berhak atas manusia lain. Meskipun ia seorang pecinta sekalipun.

            Dan malam semakin menelan gelap. Bulan habis separuh dan rasi bintang utara muncul perlahan-lahan. Di suatu tempat yang tersembunyi namun tak jauh-jauh amat dari kota kenangan. Sepasang pemuda pemudi yang dimabuk ingatan berbagi mengenai kehidupan. Si lelaki ingin pergi melihat sirkus sedang si wanita enggan pergi. Ah, dalam cinta masalah sendok bisa sangat rumit. Apalagi masalah hidup.

“R, kukira aku harus pergi. Kita tak bisa hidup terus di masa lalu,”

“Mamadd, jangan. Hidup kita sudah cukup bahagia. Untuk apa diperdebatkan lagi?”

“Kau wanita tak mengerti tantangan,”

“Kau lelaki tak mengerti perasaan,”

“Kalau begitu kita pergi sama-sama,”

“Kenapa bukan kau yang tinggal sahaja?”

“Aih kenapa begini rumit?”

“Kau yang membuat sulit,”

            Dan perdebatan itu terjadi sepanjang malam. Hingga datang pagi dan matahari kemerahan yang ramah menyapa kota kenangan. Rambut hitam si gadis berliuk keemasan diterpa matahari. Si lelaki gamang melihat itu. Ia tahu, rambut dan lesung pipit senyum itulah yang membuatnya jatuh hati. Sebuah senyuman sederhana yang bahkan tak akan mampu ditiru oleh Cina. Bukankah jatuh cinta adalah perkara sederhana?

            Akhirnya si lelaki melumpuhkan diri pada ego. “Nasib setiap lelaki,” katanya. “Harus di lempar seperti dadu. Biar ia pejal dengan karang atau pecah dengan rasa sayang,” ia berlalu pergi. Setelah mengucapkan aku sayang padamu untuk terakhir kalinya pada si wanita. “Aih kukira jatuh cinta tak begini rumit,” kata wanita itu diam. Airmatanya tamat sudah semalaman membujuk si lelaki untuk pergi.

            Malam berlalu pilu. Keheningan yang merambat di kota Kenangan kian hari kian mencekat. Semakin hari warga kota Kenangan semakin menyusut. Mereka berbaris mendatangi sirkus bayangan untuk menatap masa depan. Menggadaikan hidup untuk sesuatu yang tak pernah mereka ketahui. “Hari semakin gelap dan segala kawanku telah pergi. Untuk apa aku di sini?” kata seorang pria renta. Penduduk terakhir kota kenangan.

            Hampir sewindu sirkus bayang bayang berada di kota kenangan. Sudah tak terhitung jiwa-jiwa yang hilang karena melihat masa depan. Mereka yang melampaui takdir diri sendiri untuk berbuat curang. Melihat masa depan tanpa akhirnya berdiri dan meraih masa depan itu sendiri. Lelaki dan perempuan. Terjebak keinginan dan rasa penasaran. Akhirnya harus musnah di telan ingatan.

            “Datanglah datanglah. Kami sirkus bayang bayang. Menampilkan sebuah pertunjukan tentang masa depan. Sesuatu yang belum terjadi. Datanglah datanglah. Cukup dengan ingatan paling berharga maka anda akan dipuaskan akan masa depan. Datanglah datanglah,” kata seorang pekerja sirkus itu. Kali ini tak ada yang datang. Penduduk kota kenangan sudah berada di masa depan.

Kamis, 26 Januari 2012

Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (I)


Langit biru dan debur ombak yang berkejaran. Sementara ratusan orang memadati Pantai Putih Malikan (Papuma) Minggu (12/12) lalu. Keriuhan itu sempat menjadi mencekam saat wangi dupa dan kemenyan menyeruak. ditambah sepotong kepala kambing diletakan diatas sebuah miniatur kapal. Papuma sedang tenggelam mengikuti alur prosesi upacara adat Larung Sesaji.

Sisa kebudayaan pagan Hindu Jawa ini memang masih melekat di banyak tradisi. Kebudayaan yang lahir dari silang budaya agama asli Jawa yang percaya dengan roh nenek moyang, berfusi dengan kebudayaan hindu yang mengagungkan banyak dewa. Setelah islam datang dan mendominasi Jawa, kebudayaan ini tak serta merta punah. Ia lantas beralih rupa. Beradaptasi menjadi sebuah kebudayaan campuran yang masih menyisakan identitas lama.

Tak jauh dari lokasi upacara adat sebuah gedung berwarna merah berdiri megah. Sebuah menara bundar dengan kisi-kisi emas menjulang tinggi. Di tengah gedung ada sebuah ceruk dengan batu besar. Batu itu merupakan batu asli, keberadaanya sedikit janggal karena batu sungai itu tak jamak ditemui di tepi pantai. Di atasnya seekor patung singa dan burung bangau berdiri angkuh. Gedung itu adalah Vihara Dewi Sri Wulan.

Sepi pecah saat rombongan Larung Sesaji yang sedari tadi diam mulai berjalan. Mereka kemudian berajalan berarak mengelilingi lokasi resor wisata pantai Papuma. Dengan memakai kostum adat jawa dan diringin riuh tetabuhan kelompok seni Reog Singo Budoyo. Rombongan itu lantas memasuki pekarangan Vihara dan berhenti di salah satu ceruk, tempat sesaji diletakan lantas seorang juru kunci memasang dupa. Hening.

            Suparto adalah pria dengan rambut gondrong dan kumis tebal. Sorot matanya tajam dan sesekali berkacak pinggang. Badannya gempal meski sedikit pendek. Di buku-buku jarinya beberapa batu akik berwarna cerah dipasang rapi. Jika tak kenal betul, banyak orang yang berpikir jika ia seorang gali (preman) atau seorang dukun. “Hayo jangan naik naik. Nanti jatuh,” kata Parto pada seorang anak sambil tersenyum lepas. Si anak lantas turun pelan pelan sambil tertawa. 

Selesai didoakan di ceruk itu, sesaji lantas dibawa ke pinggir pantai. Rombongan yang mengarak semakin banyak dan membuat garis pantai itu dipenuhi jejak kaki. Tepat di tengah pantai Papuma beberapa sesepuh dan pemimpin Vihara mendorong sesaji itu ketengah laut. “Itu buah kerja keras dari masyarakat sekitar Papuma. Ya Ambulu ya Wuluhan. Semuanya,” kata Suparto.

            Hari itu ia sedang menjadi mitra panitia upacara larung sesaji. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat sekitar Papuma untuk penolak bala. Berbagai elemen masyarakat turut serta dalam perayaan kali ini. seperti seniman, jagawana, polisi, tokoh adat, tokoh agama dan penjaga vihara. “Tiga tahun yang lalu acara ini diramaikan dengan Barongsai. Tahun ini kami coba dengan reog,” lanjutnya.


            Sesaji yang dilarung kelaut sudah menjauh. Namun beberapa warga masih diam ditempat dan melihat perahu itu berlayar dan perlahan hilang. Ini bukan satu satunya prosesi larung sesaji yang diadakan oleh masyarakat Papuma. Malam sebelumnya pengelola wana wisata bersama beberapa tokoh masyarakat menyelenggarakan hiburan wayang kulit. 

            Seorang pria tua dengan wajah tirus kurus dan peci hitam datang mendekati Suparto. Suparto lantas mencium tangan pria tua itu. “Saya Nyoto. Dulu kepala Wana Wisata Papuma tapi sekarang sudah pensiun,” katanya sambil tersenyum. Ia lantas berjalan bersama Suparto menuju Vihara Dewi Sri Wulan. Sepanjang perjalanan ia banyak disapa oleh panitia yang kebetulan melintas.

Selepas sampai di halaman Vihara keduanya duduk istirahat. Larung sesaji yang dilakukan masyarakat Papuma sangat berbeda. “Ada elemen islam, kejawen dan kong hu cu. Ini menunjukan kerukunan antar umat beragama,” katanya. Sesuatu yang tak akan ditemui dimanapun di Indonesia. “Tak banyak upacara yang melibatkan banyak agama. Ini contoh yang baik untuk melawan fanatisme.”

            Larung sesaji ini sudah lima kali digelar selama lima tahun terakhir. Dalam perkembangannya semakin banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Nyoto yakin hal ini bisa menjadi suatu aset yang sangat berharga bagi wisata Jember. “Acara ini bisa menarik perhatian karena keunikannya. Dan bisa jadi agenda wisata yang sangat penting."

            Pensiunan yang telah bertugas lebih dari 12 tahun di Papuma ini tahu betul, Larung Sesaji bisa menyatukan banyak elemen masyarakat. Mereka bekerja sama menyiapkan sesaji, acara hiburan dan pengumpulan dana. Mengingat banyak kota lain yang berseteru perihal keyakinan antar umat beragama. “Ini bisa jadi promosi dan identitas yang baik bagi Jember,” pungkasnya.

Ia lantas bercerita perihal pembangunan Vihara Sri Wulan. Dulunya vihara ini hanya sebuah klenteng kecil yang terbuat dari kayu. Dibangun oleh seorang Tionghoa totok asal Lumajang yang mengaku mendapat wangsit. Dikisahkan orang Tionghoa ini membabat hutan bukit Papuma sendirian. Lalu membuat jalan dengan melintasi tebing setinggi tujuh meter dengan ombak besar laut selatan mengancam dibawahnya.

“Kira-kira itu tahun 60an. Saat ramai PKI, nah orang Tionghoa ini jalan kaki dari Lumajang ke Papuma, karena wangsitnya bilang begitu.” Tutur Nyoto. Nyoto menyebut orang Tionghoa itu dengan nama Dharmo, atau Dharma, yang berarti kebajikan. Dharmo sendiri dikisahkan kemudian membangun klenteng sederhana dengan kayu sehingga membentuk gubug. “Saat itu ia menyembah Dewi Kwan Im, karena menurut wangsit suaranya perempuan,” tutur Nyoto.

Kondisi klenteng sempat sangat tak terawat karena terjadi peristiwa PKI pada 1966, yang berbuntut pada pembekuan kebudayaan Tionghoa diseluruh Indonesia. Paska itu banyak orang Tionghoa yang beribadah secara sembunyi-sembunyi disini. Beberapa orang yang tak senang dengan keberadaan klenteng ini sempat melakukan pengrusakan pada tahun 1970an. Hingga akhirnya dibiarkan tak terawat.

Sampai akhirnya pada 2009 seorang dermawan melakukan pemugaran. Ia menolak disebutkan namanya. Karena merasa memiliki kisah personal dengan klenteng di pinggir pantai Papuma ini. “Usaha saya bisa besar karena sembahyang disini,” katanya. Atas kepercayaan itulah pada 2009 tangal 9 bulan 9 dan pukul 9 klenteng ini diresmikan ulang menjadi Vihara Sri Wulan bagi umat Tri Dharma.  




Pembangunan Vihara itu sendiri tak pelak menjadi suatu sensasi pada masanya. Karena disebut sebagai Klenteng Dewi Kwan Im terbesar dan satu-satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lain yang memiliki keunikan ini. “Bahkan satu-satunya di Asia Tenggara,” lanjut Nyoto.

Suparto ingat sekali pembangunan vihara ini banyak membantu ia saat itu yang hanya seorang pengangguran. Bersama lebih dari 30 orang lain ia bahu membahu membangun tempat ibadah ini. Banyak warga sekitar Ambulu dan Wuluhan Jember yang merasa terbantu akan keberadaan proyek ini. “Proyek ini kan hampir setahun. Jadi hampir tiap hari saya dibayar. Alhamdulillah sekali,” katanya.

Keberadaan Vihara ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat sekitar Papuma. Karena banyak orang yang datang dan beribadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turis manca negara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini. “Mereka yang bisa menghargai agama orang lain. Akan dihargai,” kata Nyoto. Dan debur ombak Papuma masih riuh.




*Semua foto oleh Heru Putranto

Rabu, 11 Januari 2012

Tiga Gunung Tiga Kota Tiga Cerita


Dalam banyak peradaban gunung selalu memiliki kisah dan tempatnya sendiri. Sebagai sebuah representasi yang agung lagi besar. Agama-agama animisme dunia banyak menjadikan Gunung sebagai sesembahan. Kedigdayaan dan bentuk fisik yang besar dan menjulang memang membuat Gunung tampak megah. Ia menembus imaji terliar manusia dan jawaban atas diri yang "lain".

Indonesia pun tak lepas dari selaput kepercayaan bahwa Gunung menjadi representasi yang suci lagi 'maha'. Seperti mitologi gunung Semeru yang dianggap Swargaloka tempat dimana dewa-dewa Hindu Jawa tinggal.  Atau bagi beberapa warga Bondowoso yang percaya jika Kaldera gunung Api Ijen konon merupakan  hasil kentut Semar.

Di Jawa Timur tak hanya ada gunung Semeru dan Gunung Ijen. Namun adapula Pegunungan Argopuro yang merupakan pegunungan terpanjang di Jawa. Pegunungan ini pada 1991 pernah digunakan latihan oleh Wanadri dan Brimob sebagai simulasi gunung Leuser. Saat itu Indonesia masih tercerabut konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka yang banyak bersembunyi di Pegunungan Leuser, rangkaian Pegunungan terpanjang di Indonesia.

            Menjadi menarik karena di sepanjang jalur pendakian gunung Argopuro tersimpan berbagai pesona alam yang sangat indah. Argopuro juga tercatat sebagai Important Bird Area. Karena memiliki ratusan jenis satwa unggas yang masih langka dan terancam. Beberapa bahkan masih sangat mudah ditemui. Jenis seperti Merak, Elang Jawa dan beberapa jenis Murai. Di Universitas Jember ada sebuah kelompok pegiat pengamatan burung yang bernaung dalam Mahapensa Fakultas Pertanian.

Bobby Saputra adalah pria dengan mata sipit dan rambut gondrong. Jika tak awas kita bisa salah memperkirakan etnisnya. "Tak penting apa saya cina atau bukan. Saya orang Indonesia," katanya saat kami pertama kali berkenalan. Ia bercerita bahwa Pegunungan Argopuro sebenarnya telah dikenal sejak era kekuasaan Mahapahit. Di salah satu puncaknya yang terkenal, Puncak Rengganis, terdapat bekas-bekas petilasan yang konon menurut penduduk setempat merupakan kediaman Dewi Rengganis. 

Dalam catatan yang dibuat A.J.M Ledeboer dan B Ledeboer dua bersaudara Belanda yang membuat kantung kediaman di salah satu dataran di Argopuro. Praktik pemujaan terhadap Dewi Rengganis telah lama dilakukan sejak akhir abad ke XIX. Perlakuan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap selir raja Majapahit yang konon hilang secara misterius bersama enam orang dayangnya. Tak banyak memang yang melakukan pemujaan sesaji ini. Karena islam datang dan merubah praktik yang dianggap sesat ini sebagai sebuah adat istiadat saja.




         Berbeda dengan Pegunungan Argopuro, gunung berapi Ijen memiliki kesotisme kaldera yang berbalur belerang. Hal inilah yang membuat banyak fotografer dan videografer tingkat dunia mendatangi tempat ini. Seperti James Nachtwey dan Michael Glawogger yang mengabadikannya dalam dua karya mendunia war photographer dan the workingman’s death.

            Bambang Santoso, pendaki gunung dan atlet Paramotor Indonesia, pernah melakukan pendakian panjang bersama turis mancanegara di Ijen. Mereka sangat terpesona dengan pemandangan dan lokasi ijen yang spektakuler. Kebanyakan karena kondisi para penambang yang dianggap sangat nekat. “Mereka kebanyakan terkejut karena para penambang tak memakai peralatan khusus,” katanya.
       
  George Kourounis, geolog asal Amerika, pada 2008 lalu melakukan penelitian khusus di Ijen. Dan menemukan bahwa Ijen merupakan satu-satunya kaldera gunung yang paling luas dan memiliki keunikan danau di atasnya. Lebih dari itu ia menganggap bahwa pemandangan di Ijen sangat surealis dan fantastik. “Saya tak akan pernah bisa melupakan keindahannya yang magis,” tulisnya dalam jurnal the stormchaser.

            Beberapa komunitas fotografer menganggap bahwa Ijen merupakan spot tersulit dalam melakukan pengambilan gambar. Bukan hanya karena kondisi alam yang sangat labil dan berbahaya. Namun karena Ijen telah disinggahi banyak fotografer dunia yang membuat legenda disana. “Salah satunya adalah Olivier Grunewald, yang datang Desember lalu, fotonya itu gila sekali!” kata Romdhi Fakhturozi dari Jember Poto Graphy Jember.



         
Namun jika boleh berpendapat Semeru merupakan raja gunung di Jawa. Beberapa orang menyebut Semeru sebagai atap jawa karena merupakan gunung tertinggi yang ada di pulau ini. “Belum lagi karena kisah Pandawa Seda yang dituturkan RA Kosasih. Yang menyebutkan Pandawa memutuskan Moksha (menghilang jagat) di Gunung ini,” kata Halim Bahris. Pegiat kesenian dan budaya di komunitas Tikungan Jember.

            Halim yang asli Lumajang banyak memahami bagaimana gunung ini dimitoskan. Berbagai kisah wayang mengambil latar gunung ini sebagai bagian ceritanya. Seperti kisah kawah Candradimuka yang maha panas, lokasi dimana Gatut Kaca ditempa hingga menjadi dewasa. “Bagi orang jawa bisa jadi Semeru itu adalah bagian dari mitos keseharian. Sebagai bagian identitas juga,” tuturnya.

            Gunung ini memiliki banyak mitos dan cerita unik. Seperti keberadaan arcopodo atau arca kembar yang konon merupakan petilasan Majapahit. Juga mitos tanjakan cinta, hampir semua pendaki gunung di Indonesia mengenali cerita ini. Dikatakan bahwa siapapun yang menaiki tanjakan ini sambil membayangkan kasihnya tanpa menoleh, ia akan mendapatkan cinta sejati. “Tapi ini sih biasanya kerjaan pecinta alam yang lagi gombal,” kata Halim bercanda.

            Puncak Gunung Semeru yang bernama Mahameru merupakan obsesi dari semua pendaki gunung. Konon mereka merasa bisa sejajar dan berada di awang-awang memandang seluruh pulau jawa. Lebih dari itu beberapa pendaki melakukan ziarah bagi Soe Hok Gie, pendaki dan cendikiawan muda Indonesia, yang meninggal di puncak ini.

Jumat, 06 Januari 2012

Tiga Sajak Pendek untuk Fransisca


~ Kurusetra
bahwa dalam peradaban
selalu berkabar dua pihak
seorang pemenang
lain pecundang

tapi di tiap mata kanak-kanak
perang adalah perihal mainan
yang bergelayut sepanjang siang
dan bubar seusai petang


~ Bulu Kaki Anak Singa

cambuk dilecut
: Auuuum
bunyi mengaduh
bubar barisan

~ Sutradara

lubang di dada sudah penuh
dengan dengki
huru hara
dan amarah

lalu pesan datang
bertanya kabar
: “sudah makan?
Jangan lupa skripsi”

dan amarah
tamat selepas episot perdana

Selasa, 03 Januari 2012

di atap Patehan memandang petang yang rubuh




: untuk Aufa

di atap Patehan memandang petang yang rubuh
kita berbincang tengang masa depan
perihal keinginan dan cita-cita
menggigir harapan
seusai meraih toga

tentang sepuluh anak lelaki
lima anak perempuan
dan guyonan klub sepak bola pribadi
dari darah daging sendiri
kita tertawa lepas
dan sudut lesung pipi
paling indah di jawa itu
menubrukku diam diam

sebelum lebai memanggil maghrib,
dan sepeda warna-warni melacur
kau berkata :
: “aku senang
Akhirnya kita bisa bicara
layaknya karib lama yang
tak pernah jumpa,”
lalu seruan panggilan tunduk
menyeruak diantara tebal dinding
plengkung gading dan dua
pohon beringin kembar

kelak seusai pertemuan itu
kau akan bercerita
pada keturunanmu
: “kemarahan menemukan bentuknya
sedang amarah mencari wajah
Dasamuka seorang pecinta
yang dipecundangi rama
dengan muslihat
dan seekor kera,”

matahari sudah tergelincir sepi
sementara aku merindu Seno
untuk menulis lagi
sepotong senja
untuk sahabatku


*sembari mendengar The Camerawalls

Puisi Dari Aufa



Berapa bulan lalu saat saya sedang sangat terguncang dan labil, seorang kawan datang dan berdiskusi. Saya tak curhat padanya, hanya bilang bahwa tanpa sadar saya berhenti percaya pada sikap welas asih. Karena kenangan, seperti juga bersin, adalah hal yang tak mungkin bisa kita lawan dan kita tundukan.

Kawan saya itu adalah Aufanuha Insani. Seorang penyair muda asal Semarang, yang pada masa SMA dahulu pernah beberapa bulan tinggal di Amerika. Dia seorang esais yang menurut pendapat saya, punya kemahiran untuk menjewer kita keras tapi kemudian tertawa setelahnya. Aufa punya kekuatan dalam menulis untuk menyusun narasi yang tegas, renyah dan berwibawa. Namun bisa tetap bersikap selayaknya seorang remaja. Usil.

Potret Aufa sebagai seorang penyair adalah potret seorang pemuda flamboyan yang terlalu banyak buku. Bagi mereka yang jarang mengunyah aksara dan mencerna kata-kata, puisi Aufa bisa jadi sangat biasa. Namun ke -biasa - annya itu membuat ia seorang penyair yang bernas. Selalu memiliki pilih padan kata yang riuh dan jarang dipakai.

Lalu petang ini ia menyapa saya dan berkata telah membuatkan sebuah sajak untuk saya. Saya terkejut dan senang. Karena tak banyak hal yang saya bagi bersama Aufa. Namun sajak yang ia buat, entah mengapa, begitu teduh dan memberikan pencerahan. Ini sajaknya :


kepada dhani 
penyair memahat kata-kata, kau mengekalkan duka
dan bencimu ruah pada ingatan yang dahaga.
berhamburan di sela diskusi filsafat,
cerita-cerita porno stensilan, juga hujat menghujat
riuh padat kotaku
yang menyeretmu, akut menyembilu.

 pada ampas kopi, dari kafe-kafe bonafid hingga
angkringan-angkringan kumuh stasiun tugu
bukankah kita membikin kenangan baru
yang kautebus dalam hitungan windu,
dalam kisah yang kau permanis, ditulis
anak-anakmu sebagai gerimis
atau rindu masa lalu. 

atau barangkali kita mencatatnya sendiri,
membacanya diam-diam
sambil membisikkan nama-nama sufi
yang mati dalam pengembaraan. 

aku tak tahu. tiap kota merekam ngilu
meretas kenangan dan dendam.

//2011-2012

Well, some will say this is fags thing. But i like this poem. Thanks Aufa.