Selasa, 03 Januari 2012

Puisi Dari Aufa



Berapa bulan lalu saat saya sedang sangat terguncang dan labil, seorang kawan datang dan berdiskusi. Saya tak curhat padanya, hanya bilang bahwa tanpa sadar saya berhenti percaya pada sikap welas asih. Karena kenangan, seperti juga bersin, adalah hal yang tak mungkin bisa kita lawan dan kita tundukan.

Kawan saya itu adalah Aufanuha Insani. Seorang penyair muda asal Semarang, yang pada masa SMA dahulu pernah beberapa bulan tinggal di Amerika. Dia seorang esais yang menurut pendapat saya, punya kemahiran untuk menjewer kita keras tapi kemudian tertawa setelahnya. Aufa punya kekuatan dalam menulis untuk menyusun narasi yang tegas, renyah dan berwibawa. Namun bisa tetap bersikap selayaknya seorang remaja. Usil.

Potret Aufa sebagai seorang penyair adalah potret seorang pemuda flamboyan yang terlalu banyak buku. Bagi mereka yang jarang mengunyah aksara dan mencerna kata-kata, puisi Aufa bisa jadi sangat biasa. Namun ke -biasa - annya itu membuat ia seorang penyair yang bernas. Selalu memiliki pilih padan kata yang riuh dan jarang dipakai.

Lalu petang ini ia menyapa saya dan berkata telah membuatkan sebuah sajak untuk saya. Saya terkejut dan senang. Karena tak banyak hal yang saya bagi bersama Aufa. Namun sajak yang ia buat, entah mengapa, begitu teduh dan memberikan pencerahan. Ini sajaknya :


kepada dhani 
penyair memahat kata-kata, kau mengekalkan duka
dan bencimu ruah pada ingatan yang dahaga.
berhamburan di sela diskusi filsafat,
cerita-cerita porno stensilan, juga hujat menghujat
riuh padat kotaku
yang menyeretmu, akut menyembilu.

 pada ampas kopi, dari kafe-kafe bonafid hingga
angkringan-angkringan kumuh stasiun tugu
bukankah kita membikin kenangan baru
yang kautebus dalam hitungan windu,
dalam kisah yang kau permanis, ditulis
anak-anakmu sebagai gerimis
atau rindu masa lalu. 

atau barangkali kita mencatatnya sendiri,
membacanya diam-diam
sambil membisikkan nama-nama sufi
yang mati dalam pengembaraan. 

aku tak tahu. tiap kota merekam ngilu
meretas kenangan dan dendam.

//2011-2012

Well, some will say this is fags thing. But i like this poem. Thanks Aufa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar