Kamis, 26 Januari 2012

Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (I)


Langit biru dan debur ombak yang berkejaran. Sementara ratusan orang memadati Pantai Putih Malikan (Papuma) Minggu (12/12) lalu. Keriuhan itu sempat menjadi mencekam saat wangi dupa dan kemenyan menyeruak. ditambah sepotong kepala kambing diletakan diatas sebuah miniatur kapal. Papuma sedang tenggelam mengikuti alur prosesi upacara adat Larung Sesaji.

Sisa kebudayaan pagan Hindu Jawa ini memang masih melekat di banyak tradisi. Kebudayaan yang lahir dari silang budaya agama asli Jawa yang percaya dengan roh nenek moyang, berfusi dengan kebudayaan hindu yang mengagungkan banyak dewa. Setelah islam datang dan mendominasi Jawa, kebudayaan ini tak serta merta punah. Ia lantas beralih rupa. Beradaptasi menjadi sebuah kebudayaan campuran yang masih menyisakan identitas lama.

Tak jauh dari lokasi upacara adat sebuah gedung berwarna merah berdiri megah. Sebuah menara bundar dengan kisi-kisi emas menjulang tinggi. Di tengah gedung ada sebuah ceruk dengan batu besar. Batu itu merupakan batu asli, keberadaanya sedikit janggal karena batu sungai itu tak jamak ditemui di tepi pantai. Di atasnya seekor patung singa dan burung bangau berdiri angkuh. Gedung itu adalah Vihara Dewi Sri Wulan.

Sepi pecah saat rombongan Larung Sesaji yang sedari tadi diam mulai berjalan. Mereka kemudian berajalan berarak mengelilingi lokasi resor wisata pantai Papuma. Dengan memakai kostum adat jawa dan diringin riuh tetabuhan kelompok seni Reog Singo Budoyo. Rombongan itu lantas memasuki pekarangan Vihara dan berhenti di salah satu ceruk, tempat sesaji diletakan lantas seorang juru kunci memasang dupa. Hening.

            Suparto adalah pria dengan rambut gondrong dan kumis tebal. Sorot matanya tajam dan sesekali berkacak pinggang. Badannya gempal meski sedikit pendek. Di buku-buku jarinya beberapa batu akik berwarna cerah dipasang rapi. Jika tak kenal betul, banyak orang yang berpikir jika ia seorang gali (preman) atau seorang dukun. “Hayo jangan naik naik. Nanti jatuh,” kata Parto pada seorang anak sambil tersenyum lepas. Si anak lantas turun pelan pelan sambil tertawa. 

Selesai didoakan di ceruk itu, sesaji lantas dibawa ke pinggir pantai. Rombongan yang mengarak semakin banyak dan membuat garis pantai itu dipenuhi jejak kaki. Tepat di tengah pantai Papuma beberapa sesepuh dan pemimpin Vihara mendorong sesaji itu ketengah laut. “Itu buah kerja keras dari masyarakat sekitar Papuma. Ya Ambulu ya Wuluhan. Semuanya,” kata Suparto.

            Hari itu ia sedang menjadi mitra panitia upacara larung sesaji. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat sekitar Papuma untuk penolak bala. Berbagai elemen masyarakat turut serta dalam perayaan kali ini. seperti seniman, jagawana, polisi, tokoh adat, tokoh agama dan penjaga vihara. “Tiga tahun yang lalu acara ini diramaikan dengan Barongsai. Tahun ini kami coba dengan reog,” lanjutnya.


            Sesaji yang dilarung kelaut sudah menjauh. Namun beberapa warga masih diam ditempat dan melihat perahu itu berlayar dan perlahan hilang. Ini bukan satu satunya prosesi larung sesaji yang diadakan oleh masyarakat Papuma. Malam sebelumnya pengelola wana wisata bersama beberapa tokoh masyarakat menyelenggarakan hiburan wayang kulit. 

            Seorang pria tua dengan wajah tirus kurus dan peci hitam datang mendekati Suparto. Suparto lantas mencium tangan pria tua itu. “Saya Nyoto. Dulu kepala Wana Wisata Papuma tapi sekarang sudah pensiun,” katanya sambil tersenyum. Ia lantas berjalan bersama Suparto menuju Vihara Dewi Sri Wulan. Sepanjang perjalanan ia banyak disapa oleh panitia yang kebetulan melintas.

Selepas sampai di halaman Vihara keduanya duduk istirahat. Larung sesaji yang dilakukan masyarakat Papuma sangat berbeda. “Ada elemen islam, kejawen dan kong hu cu. Ini menunjukan kerukunan antar umat beragama,” katanya. Sesuatu yang tak akan ditemui dimanapun di Indonesia. “Tak banyak upacara yang melibatkan banyak agama. Ini contoh yang baik untuk melawan fanatisme.”

            Larung sesaji ini sudah lima kali digelar selama lima tahun terakhir. Dalam perkembangannya semakin banyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Nyoto yakin hal ini bisa menjadi suatu aset yang sangat berharga bagi wisata Jember. “Acara ini bisa menarik perhatian karena keunikannya. Dan bisa jadi agenda wisata yang sangat penting."

            Pensiunan yang telah bertugas lebih dari 12 tahun di Papuma ini tahu betul, Larung Sesaji bisa menyatukan banyak elemen masyarakat. Mereka bekerja sama menyiapkan sesaji, acara hiburan dan pengumpulan dana. Mengingat banyak kota lain yang berseteru perihal keyakinan antar umat beragama. “Ini bisa jadi promosi dan identitas yang baik bagi Jember,” pungkasnya.

Ia lantas bercerita perihal pembangunan Vihara Sri Wulan. Dulunya vihara ini hanya sebuah klenteng kecil yang terbuat dari kayu. Dibangun oleh seorang Tionghoa totok asal Lumajang yang mengaku mendapat wangsit. Dikisahkan orang Tionghoa ini membabat hutan bukit Papuma sendirian. Lalu membuat jalan dengan melintasi tebing setinggi tujuh meter dengan ombak besar laut selatan mengancam dibawahnya.

“Kira-kira itu tahun 60an. Saat ramai PKI, nah orang Tionghoa ini jalan kaki dari Lumajang ke Papuma, karena wangsitnya bilang begitu.” Tutur Nyoto. Nyoto menyebut orang Tionghoa itu dengan nama Dharmo, atau Dharma, yang berarti kebajikan. Dharmo sendiri dikisahkan kemudian membangun klenteng sederhana dengan kayu sehingga membentuk gubug. “Saat itu ia menyembah Dewi Kwan Im, karena menurut wangsit suaranya perempuan,” tutur Nyoto.

Kondisi klenteng sempat sangat tak terawat karena terjadi peristiwa PKI pada 1966, yang berbuntut pada pembekuan kebudayaan Tionghoa diseluruh Indonesia. Paska itu banyak orang Tionghoa yang beribadah secara sembunyi-sembunyi disini. Beberapa orang yang tak senang dengan keberadaan klenteng ini sempat melakukan pengrusakan pada tahun 1970an. Hingga akhirnya dibiarkan tak terawat.

Sampai akhirnya pada 2009 seorang dermawan melakukan pemugaran. Ia menolak disebutkan namanya. Karena merasa memiliki kisah personal dengan klenteng di pinggir pantai Papuma ini. “Usaha saya bisa besar karena sembahyang disini,” katanya. Atas kepercayaan itulah pada 2009 tangal 9 bulan 9 dan pukul 9 klenteng ini diresmikan ulang menjadi Vihara Sri Wulan bagi umat Tri Dharma.  




Pembangunan Vihara itu sendiri tak pelak menjadi suatu sensasi pada masanya. Karena disebut sebagai Klenteng Dewi Kwan Im terbesar dan satu-satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lain yang memiliki keunikan ini. “Bahkan satu-satunya di Asia Tenggara,” lanjut Nyoto.

Suparto ingat sekali pembangunan vihara ini banyak membantu ia saat itu yang hanya seorang pengangguran. Bersama lebih dari 30 orang lain ia bahu membahu membangun tempat ibadah ini. Banyak warga sekitar Ambulu dan Wuluhan Jember yang merasa terbantu akan keberadaan proyek ini. “Proyek ini kan hampir setahun. Jadi hampir tiap hari saya dibayar. Alhamdulillah sekali,” katanya.

Keberadaan Vihara ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat sekitar Papuma. Karena banyak orang yang datang dan beribadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turis manca negara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini. “Mereka yang bisa menghargai agama orang lain. Akan dihargai,” kata Nyoto. Dan debur ombak Papuma masih riuh.




*Semua foto oleh Heru Putranto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar