Senin, 30 Januari 2012

Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (II)

           Dalam suatu perbincaangan, Imam Al Gozhali, pernah bertanya. Sebenarnya apa yang paling jauh dari dunia? Beberapa muridnya menjawab bintang, negeri Cina dan langit. Imam Al Gozhali membenarkan semua jawaban itu. Namun ia kemudian menjelaskan bahwa yang paling jauh dari dunia adalah masa lalu. Sekeras apapun manusia berusaha ia tak akan pernah bisa mencapai masa lalu.


             Saya kira Al Gozhali benar. Perihal ingatan, manusia selalu ingin membuat monumen. Sebuah tapal batas bahwa ada tanda-tanda keberadaan dirinya di masa silam.Hal inilah yang saya temukan beberapa waktu lalu. Saat saya memutuskan untuk melacak kebudayaan masyarakat Tionghoa di Jember. Di satu sudut perumahan mewah dh Jember. Saya menemukan kisah masa lalu.

            Di suatu tempat tak begitu jauh dari pusat kota Jember yang gegas. Angin yang berhembus keras menerbangkan beberapa daun dan sampah plastik ke udara. Jalanan di kawasan perumahan mewah yang bernama Villa Sempusari ini masih sepi. Hanya beberapa motor yang lalu-lalang. Selebihnya hanya barisan rumah besar dengan nuansa dingin kesepian.

            Di suatu tempat tak begitu jauh dari pusat kota Jember yang gegas. Angin yang berhembus keras menerbangkan beberapa daun dan sampah plastik ke udara. Jalanan di kawasan perumahan mewah yang bernama Villa Sempusari ini masih sepi. Hanya beberapa motor yang lalu-lalang. Selebihnya hanya barisan rumah besar dengan nuansa dingin kesepian.

            Hiruk pikuk itu berasal dari gelak tawa beberapa orang di dalam vihara itu. Sebagian dari mereka sudah tak bisa dikatakan muda. Orang-orang itu sebagian besar rambutnya telah memutih. Raut wajah mereka penuh dengan riak yang dipahat zaman. Namun, semangat mereka untuk membersihkan patung-patung dan klenteng itu, tak bisa dikatakan lambat. Ada sebuah kegairahan yang seolah-olah meluber keluar.

            “Senin kan mau imlek. Kami mau siap-siap biar klenteng sama viharanya kelihatan cantik,” kata seorang sepuh. Ia menolak memberikan nama. “Saya di sini niat bantu klenteng. Bantu-bantu teman, tak usahlah ditanya nama,” katanya. Sembari bercerita tangannya cekatan melap debu dan sesekali mencari sarang serangga yang kerap menempel di atap. Sebuah patung Jendral Gun San Chiang Chin, dia angkat dengan satu tangan. Lalu, dibersihkan dengan sangat hati-hati.


Sebagian besar dari mereka yang bekerja di sana adalah orang-orang Tionghoa. “Tionghoa” atau “Zhonghoa” artinya “orang (kerajaan) Tengah.” Zhongguo adalah nama Republik Rakyat Tiongkok dalam bahasa Mandarin. ”Dulu kita pernah dipanggil dengan nama Cina atau Yuk (sebutan kasar pada era Soeharto),” kata seorang yang sibuk membuang air bekas mengepel lantai.


Vihara Sempusari dibangun pada tahun 2000, dua tahun selepas rezim Soeharto jatuh. Saat itu, kran kebebasan seakan terbuka sangat lebar. Umat Tridharma berbondong-bondong mencari lahan untuk membangun tempat ibadah. Aladin, begitu Sudinto biasa disapa, awalnya penjaga di sebuah vihara tua di Ambulu. “Saat itu euforia kebebasan. Kita seperti diberi kebebasan menjadi diri sendiri.”



Atas prakarsa beberapa rekan, dibangunlah Vihara Sempusari yang juga memiliki sebuah patung Budha. Di kawasan komplek perumahan Sempusari itu sebenarnya ada juga komplek vihara lain. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang mendedikasikan pembangunan vihara sebagai bentuk penghormatan terhadap Gus Dur. Kebebasan yang diberikan oleh Gus Dur begitu melekat bagi Aladin, sampai-sampai ia selalu mendoakan beliau meski berbeda agama. “Saya tiga kali lewat Jombang. Tiga kali pula saya selalu doakan beliau.”


Aladin menolak saat ditawari minum padahal pakaiannya basah dengan keringat dan suasana siang hari itu memang terasa sangat panas. “Saya memang niat puasa mutih untuk membersihkan hari ini,” katanya. Ia hanya makan nasi putih dengan sayuran rebus dan sedikit garam. Menolak makanan yang berminyak, berdaging dan berbumbu. “Ini semacam tirakat untuk membersihkan diri.”

Hampir semua orang yang membersihkan Vihara Sempusari melakukan hal serupa. Kebersihan mental selalu lahir dari kebersihan lahir dan batin. Aladin sendiri percaya bahwa inti dari perayaan Imlek bukan tentang angpau atau kembang api pesta. Tapi, upaya merefleksikan diri dan mencari makna hidup. “Apa yang telah kita lakukan selama setahun dan apa yang akan kita lakukan tahun berikutnya. Itu yang penting,” ujarnya mantap.

Dalam prosesi pembersihan vihara sendiri, Aladin tak main-main. Ia sendiri sudah berpuasa sejak seminggu sebelumnya. Ia berniat menyucikan diri dari niat buruk dan pamer untuk mencari rasa ikhlas. Aladin bukannya tak mau meminta tolong kepada rekan-rekannya yang masih muda. Namun, anak muda zaman sekarang memang susah digerakkan untuk hal hal yang tak praktis. “Susah sekali mencari bantuan dari anak muda. Maunya mereka main aja, jadinya tak ada yang bantu. Tapi biarlah.”






            Sebuah mobil mewah warna putih berlalu dengan santai. Sementara di salah satu jalan paling ujung kawasan perumahan itu, kehidupan seperti gegas berdetak. Rumah dengan tembok tinggi menjulang warna merah. Sementara beberapa tiang penyangga berwarna senada menaungi gedung itu. Di salah satu kisi gedung sebuah papan nama menjulang “Vihara Sempusari.”

Sejak 1965 mantan Presiden Soeharto memang pernah mengeluarkan kebijakan yang menghapus segala bentuk kebudayaan China. Saat itu, dunia sedang dipecah antara sisi komunis dan liberalis. China yang saat itu berhaluan komunis dianggap sangat berbahaya. Sehingga muncul kebijakan rasialis yang berakhir saat Abdurahman Wahid naik menjadi presiden. ”Nggak ada orang Tionghoa Indonesia yang nggak kenal Gus Dur. Dia orang hebat,” kata Sudinto, sekretaris Vihara Sempusari.




Tahun ini seluruh masyarakat Tionghoa yang merayakan imlek akan memasuki tahun 2563. Tahun Naga Air, jika dirunut pada fengsui yang ada. Kepercayaan penganut Tridharma percaya bahwa tahun ini cocok untuk bisnis. Namun, Aladin melihat keseimbangan alam sedang rusak. Akhirnya hanya akan membawa kesengsaraan bagi manusia. “Bisnis apapun yang tak sinergis dengan alam hanya akan membawa keuntungan sesaat. Bisa bawa sial,” katanya sambil lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar