Senin, 13 Februari 2012

Beau Geste


            Aku tak tahu apa yang menarik dibahas pada malam ini. Sebuah renungan pendek? Mungkin, tapi saat ini aku hanya ingin menulis. Menulis apa saja, karena hanya itu yang kubisa, tak mahir pula. Namun tetap saja, aku menyukai kegiatan menulis. Bukan menulis secara harfiah, tapi menuliskan kata-kata ini menggunakan komputer. Mungkin hanya sekedar senang mendengar tuts keyboard komputer diketik

            Suaranya tuts yang baradu itu seperti simfoni yang melankolis sekaligus tegas. Tentang bunyi-bunyian yang tak mau tunduk dengan sekitarnya. Seperti sebuah kegelisahan atas apa yang sudah mapan. Sesuatu yang telah menjadi kesepakatan bersama. Bahwa setiap malam keheningan adalah postulat yang akan ikut serta.

            Tetapi bukankah segala yang disepakati itu cenderung membosankan? Sesuatu yang menunggu untuk dirubah, dihancurkan dan ditata ulang. Seperti negara yang terlampau korup, pemimpin yang dungu lagi tengik dan masyarakat yang terlalu bebal. Malam seperti kali ini seringkali melahirkan keinginan-keinginan revolusioner, yang akan menguap seperti kentut di keesokan paginya.

            Suara tuts yang beadu dengan jari-jari itu seperti melenakan. Sebuah beau geste yang sebenarnya hanya sebuah kehampaan dari ketiadaan pekerjaan. Tapi bukankah itu tak penting? Saat aku menulis ini, ada sebuah perasaan yang mengatakan bahwa tulisan ini akan menjadi penting. Atau setidaknya memiliki manfaat. Namun sampai saat ini aku masih belum tau apa yang akan kutulis.

            Sementara jari-jariku terus menulis kata-kata yang nir makna. Ingatan masa lalu berkelebatan serupa blietzkrieg. Menghantarkan fragmen-fragmen kenangan yang mau tak mau datang. Seperti canda tawa di sebuah warung kopi, perjalanan dalam sebuah kereta api, kutipan dari sebuah buku yang tak seberapa terkenal dan perdebatan panjang yang disertai kemarahan. Semua datang silih berganti tanpa bisa dikendalikan.

            Betapa terkutuknya sebuah kenangan bisa jadi tergantung perasaan yang dibawanya. Seperti sepotong sajak cinta tentang senja yang turun perlahan. Atau kemarahan atas sebuah pengkhianatan yang disertai pemakluman. Dan kenangan itu datang tanpa sebuah narasi yang runut. Menghasilkan badai perasaan dalam diriku. Seperti sengau marah yang tertahan di ujung hidung saat bersin. Ketersiksaan atas diri sendiri.

            Hujan diluar tak membuatku berhenti menulis. Padahal rinai hujan sedang memukul-mukul jendela di kegelapan. Membawa imaji tentang jari-jari mungil peri yang sedang penunggu penyelesaian harapan. Tapi aku memilih acuh dengan semua itu. Karena mempercayai peri-peri adalah keniscayaan pada subjek transenden selain tuhan. Itu merupakan langkah awal penyekutuan terhadap tuhan. Bukankah kau dan aku tak mau berakhir dalam jilatan api neraka yang kekal?

            Bunyi tik tok tik tek trot itu semakin merdu, mengandaikan diri sebagai Mozart yang tuli dalam proses penciptaan mahakaryanya. Bahwa dalam segala anomali ada sebuah keindahan jika kita cukup sabar untuk menikmatinya pelan-pelan. Aku semakin resah. Karena belum ada kesadaran untuk apa aku menulis ini. Untuk apa aku menyusun kata-kata ini. Sementara keresahan semakin kalut. Ingatan terus berkuasa dan menarik aku ke masa lalu. Masa dimana semua kata-kata ini belum tercipta.

            Petir menyambar di kegelapan malam saat aku mengingat tahun 2007 disebuah pondok kecil di kampus. Saat pertama aku belajar mengenai kegairahan menulis dan kenikmatan membaca. Dimana segala ribut pencarian eksistensi diri dilebur menjadi sebuah semangat kolektif kebersamaan. Manusia-manusia liyan yang bergerombol mencari makna hidup dari budaya literasi. Kami yang merayakan perbedaan sebagai sebuah keharusan.

            Umpatan, makian, kritik, dan semangat silih berganti bergaung dalam proses pembentukan watak. Bahwa solidaritas dibangun dari tempat tidurmu dan kesadaran dunia di luar sana adalah dunia yang kejam. Dunia yang gagal memberikan keharmonisan dan kemanusiaan. Luruh sebagai kenyataan yang disebut kedewasaan dan realitas hidup. manusia memangsa manusia sebagai upaya mempertahankan eksistensi. Sebuah dunia yang menakutkan.

            Lalu ingatan dengan pongahnya meloncat kesebuah kewaktuan yang lain. Di saat merapi berontak dan mengeluarkan segala dendamnya kepada manusia. Debu putih dan aliran lava dingin menelan aliran sungai yang membelah kota luar biasa itu. Tapi semua itu tentu saja tak penting. Karena apalah arti sebuah Alengkadipura yang gegap gempita tanpa adanya Dewi Sinta?

            Ingatan membawamu kepada sebuah kenangan pada sebuah pakaian warna coklat dengan bordir kata-kata yang sudah luruh. Tentang senyum paling manis di pulau jawa yang merebus segala kata-kata jadi ingatan laten. Mengenai perjumpaan pembuka. Mengenai perbincangan yang pendek. Mengenai jeruk hangat dengan sedikit gula. Mengenai mata yang kau kira jujur. Lalu kau merasakan seribuan jarum-jarum pendek menikam pelan. Sangat pelan. Hingga kau lupa caranya menjerit.

            Astaga betapa perihnya luka itu hingga tak sadar kopi di samping keyboardmu tumpah dan membawa luka nanar panas. Namun kau masih belum sadar. Karena perih yang kau rasakan bukan ditangan yang sedang melepuh. Tapi dalam hatimu yang dipenuhi kebohongan dan kebencian. Sehingga butuh waktu lama sampai kata-kata ini membentuk paragraf untuk membuatmu sadar bahwa masa depan masih belum terbentuk pasti.

            Aku lantas bertanya kepada ingatan mengenai dirinya. Bagaimana ia bisa bertahan dengan membawa banyak kenangan. Bagaimana ia masih bisa menjadi dirinya sementara berbagai peristiwa bekelindan serupa jalinan benalu. “Manusia cenderung hidup di masa lalu. Sedang aku adalah apa yang terjadi saat ini. Kenangan hanya sebuah benda yang kubawa. Sementara manusia menganggap kenangan sebagai realitas yang masih ada.”

            Lalu ingatan duduk di sampingku. Membawakanku kopi lain yang masih hangat dengan sepiring pisang goreng yang mengepul. Menemaniku menuliskan kata-kata lain yang lebih penting dari sebuah naskah tanpa tujuan yang sedari tadi kususun. “Ada baiknya kau menyusun masa depan,” kata ingatan. “Bagaimana jika kita mengingat masa lalu?” kataku.

            Ingatan menghembuskan nafas panjang. “Manusia,” katanya. “Tak pernah bisa belajar dari sejarah.” Tapi aku masih tetap menunggu. Menunggu ingatan untuk kembali bercerita lebih banyak. Ia masih diam dan membalut tanganku yang melepuh karena kopi yang tumpah. Sementara hatiku masih berarah dengan ribuan jarum kecil yang semakin menusuk.

            Ingatan tetap diam. Akhirnya aku memutuskan untuk terus menulis. Merangkai sendiri barisan kata-kata yang masih kuharapkan kelak memiliki manfaat. Tapi tetap saja bahwa kata-kata itu terjalin seperti perbincangan basa basi. Sebuah perkenalan yang canggung dan puisi yang gagal. Ingatan masih tetap diam. Ia lantas mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyah pelan-pelan dalam mulutnya yang tanpa gigi.
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar