Senin, 13 Februari 2012

Cerita Dari Desa Saya



            Bayangkan sebuah negara tanpa anak-anak. Para warganya hanyalah orang tua yang keras kepala, anak muda yang egois dan sekumpulan manusia dewasa yang munafik. Meminjam definisi Herbert Marcuse, masyarakat paska industri yang terlalu satu dimensi. Negara yang melupakan cara bersenang-senang dengan jujur dan apa adanya.

            Buat saya negara semacam itu adalah negara yang terlalu tengik untuk ditinggali. Terlampau menakutkan bagi saya yang mencintai fantasi, mimpi dan kekonyolan. Saya selalu percaya sebuah negara yang baik dapat dilihat dari cara anak-anak mereka bermain. Kesegaran dan keberagaman permainan tradisionil nir teknologi, membuat anak-anak menjadi tolak ukur kemajuan sebuah bangsa.

            Saat saya kecil momen bermain adalah momen yang jauh membuat saya kreatif daripada membaca, yang meski merupakan kegemaran saya, cenderung membuat saya asosial. Tek ketekan (bahasa madura untuk petak umpet) merupakan permaianan yang tak pernah bosan saya mainkan. Dalam permainan itu saya harus menggabungkan strategi, stamina dan diplomasi dengan baik.

            Tek ketekan sepertihalnya petak umpet membuat saya harus cepat mencari tempat persembunyian dalam waktu 10 detik. Tak jarang saya harus berlari, berkelit memperebutkan tempat, dan membagi lokasi pada rekan yang terlalu mudah ditemukan. Saya selalu tak tega melihat teman yang mudah ditemukan, meski saya juga tak jago-jago amat bersembunyi. Singkatnya dalam permainan itu saya dilatih untuk bersinergi antara tubuh, pikiran dan perasaan.

            Itu hanya sebuah fragmen kenangan saat saya kecil. Kini mencari anak-anak bermain tek ketekan seperti mencari Godot. Keberadaan mereka sudah hilang dalam keramaian dunia digital. Playstation dan personal computer sudah merebut ruang eksistensi anak-anak di desa saya. Ya, desa dimana saya kini tinggal dan lahir telah berubah menjadi kebanyakan daerah sub urban di Indonesia. Di jejali teknologi prematur yang belum tuntas dipahami pemanfaatannya.

            Semua permainan tradisional yang saya ketahui diperkenalkan di desa. Kebanyakan diajarkan oleh teman-teman yang sedikit lebih tua. Saat saya masih TK yang mengajari adalah teman-teman usia SD. Dan seterusnya. Relasi semacam ini menimbulkan rasa hormat dan sungkan. Karena mereka yang mengajari permainan tradisional itu selalu tampak keren dan luarbiasa.

            Namun saat saya pulang ke desa Kademangan, Bondowoso, Jawa Timur. Semua relasi itu seperti hilang. Tidak ada lagi anak-anak yang bermain tek ketekan sambil menunggu waktu mengaji. Tidak ada lagi anak-anak yang berkejaran bermain benteng sambil basah berpeluh seusai sekolah. Semua lekuk kegiatan yang akrab saya temui kala kecil sudah hilang. Jalanan kampung saya sepi.

Anak-anak kehilangan kemampuan mereka berinteraksi dengan sesama. dengan duduk manis seperti patung dihadapan televisi yang memutar Naruto. Atau hilang kontak dengan dunia nyata dan asyik bermain PC.

            Saya dipaksa menelan kenyataan bahwa desa saya telah berubah menjadi dunia asing. Merasa kalah saya pun mengamini bahwa perubahan tak bisa dilawan. Globalisasi media dan teknologi sudah merampok kenangan masa kecil saya. Permainan tradisional sudah didesak dan memunah karena kalah. Diam diam saya menyerah kalah.

            Hingga pada satu waktu seorang kawan mengajak saya ke sebuah daerah di Jember. Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sebuah kecamatan dengan penduduk sekitar 56.000 jiwa. Belakangan saya ketahui bahwa sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani. Sebagian lagi berjibaku di sector informal seperti pedagang dan buruh perusahaan.

            Awalnya saya enggan untuk datang ke Ledokombo. Selain karena lokasinya yang cukup terpencil, desa itu dikenal sebagai gudang masalah. Kemiskinan menjadikan desa itu seperti dikutuk. Mulai dari tingkat buta huruf yang tinggi, tingkat pengangguran kaum muda yang tinggi, dan sarang preman. Dalam banyak hal desa itu seperti gudang gali yang seharusnya dihapus dari peradaban Jember yang beranjak maju.

            Belum lagi stigma yang melekat pada penduduk Ledokombo yang sebagian besar Madura. Bahwa mereka malas, egois, susah diajak maju, sok tau, emosional dan sebagainya. Kerap kali suratkabar di Jember memberitakan kasus kekerasan yang diawali oleh salah paham. Buat saya saat itu mendatangi Ledokombo adalah mendatangi kesialan itu sendiri.

            Namun di desa itu saya dibuat terkejut. Disana saya seperti menemukan kembali desa saya yang hilang. Perasaan dejavu menghampiri. Saya melihat anak-anak bisa bermain bebas, mengejar layangan, beradu gundu, dan memainkan egrang. Semua dilakukan sambil tertawa lepas. Sesaat saya terpaku dalam diam. Desa saya yang hilang telah kembali.

Tanoker, bahasa Madura untuk kepompong, adalah kelompok yang bertanggung jawab atas kegiatan itu. Mereka dengan semangat kebersamaan, membangun lagi identitas desa Ledokombo yang selama ini dikenal sebagai dusun tertinggal, kampung buruh, dan dukuh miskin. Menjadi sebuah desa yang memiliki kebanggan kolektif.

Pusat kegiatan Tanoker dibangun disebuah tanah lapang, ada perigi yang mengalirkan air jernih di dua sisinya. Sebuah danau buatan menganga ditengah tanah lapang itu. Beberapa pepohonan melindungi tanah itu dengan rindang bayangannya. Sebuah lokasi sempurna untuk memejalkan diri dan bermain sepuasnya.

Tanah itu adalah milik Suporahardjo dan Farha Ciciek. Duo pasangan brilian yang telah mengangkat derajat desa Ledokombo dimata dunia. Ya, dimata dunia. Sudah puluhan kali peneliti dan mahasiswa asing datang ke Ledokombo untuk mengagumi semangat perubahan yang mereka bawa. Desa gali yang dikucilkan peradaban ini sudah bangkit meraih kehormatannya sendiri.

Lewat permainan tradisional Tanoker Ledokombo sedikit demi sedikit mengajarkan semangat kebersamaan. Atau dalam bahasa pendirinya, “Sebuah  tempat dimana pertemuan berbagai kalangan dari berbagai latar belakang,” bukan lagi individu. ”yang dikelola  untuk saling menguatkan demi menciptakan perdamaian, keadilan  dan kesejahteraan,” utopis? Tapi nyatanya Ledokombo tegak dan menunjukan eksistensinya.

Cita-cita Suporahardjo dan Farha Ciciek sederhana. Mereka ingin membangun kebanggaan para warga desa Ledokombo atas desa dimana mereka tinggal. Khususnya untuk anak-anak, yang dalam bahasa mereka “generasi penerus bangsa, harapan  dunia dimanapun mereka berada.” Anak-anak bertanggung jawab pada masa depan negara. Dan kita, para orang dewasa, berhutang pengetahuan untuk dibagi pada mereka.
Lewat Tanoker Ledokomo masyarakat diajak untuk berproses dengan kesungguhan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Melalui berbagai kegiatan kreatif yang dimotori anak-anak. Di kawasan berbukit ini sangat terasa bahwa masyarakat memiliki potensi dan hasrat untuk berubah.

Dengan semboyan “bersahabat, bergembira, belajar, berkarya”. Tanoker menginvasi pikiran putra-putri buruh migran (TKW/TKI), buruh tani, tukang ojek, supir, pedagang kecil, guru, pekerja rumahtangga dan pegawai negeri/swasta. Untuk berani bermimpi. Berani berkarya. Dan berani untuk melakukan perubahan sederhana dengan cara bermain.
            
Siapa bilang sebuah perubahan harus dimulai dari pusat kota? Berbekal kemandirian dan keinginan untuk berdaulat. Sebuah negara melakukan gerilya dan peperangan dipelosok desa, puncak gunung atau kelam hutan. Ledokombo juga demikian.
          
  Berbekal pemahaman potensi desa yang membiliki banyak tumbuhan menjulang seperti kayu sengon dan bambu. Tanoker Ledokombo lantas memanfaatkan sumber daya yang ada untuk bermain. Anak-anal diajarkan memainkan egrang. Sebuah permainan yang mustahil ditemui dikota-kota besar tanpa sebuah rekayasa sebelumnya.

Ledokombo didera demam egrang karena Tanoker. Awalnya desa itu menolak, takut, asing dan ragu pada cita-cita aneh ini. “Memulai perubahan dari permainan egrang? Ide gila apa ini,” kata sebagian besar warga Ledokombo. Namun para pendiri dan pegiat Tanoker tak mau jatuh pada sebuah pikiran picik. Mereka tetap mengajarkan dan menyerbar luaskan permainan egrang.

Sebuah kayu yang menjadi alat utama permainan egrang tak bisa dikuasai dalam sesaat. Butuh mentor untuk kemudian mengajarkan, memandu dan mengarahkan gerak diri. Egrang membuat pemainnya untuk selalu hati-hati dan bersikap awas. Anak-anak di Tanoker melakukan itu semua. Interaksi personal yang dilakukan atas rasa cinta terhadap sesama.

            Namun tak berhenti disana. Anak-anak mengembangkan permainan egrang ke batas jauh pemikiran mereka. Sebuah alur kreatif yang lahir dari kerja sosial nyata. Bukan ciptaan artificial intelligence komputer manapun. Anak-anak desa jauh lebih kreatif sebagai manusia karena belajar dari alam. Bukan kecerdasan buatan yang ditanamkan tenologi buatan.

            Anak-anak itu belajar sendiri mengenai arti penting kerjasama. Sikap patriot saat mengakui kekalahan. Kebesaran hati untuk mau belajar dari orang lain. Serta penghargaan terhadap alam. Nilai-nilai yang mungkin kini sudah usang, hilang dan punah. Dari permainan sederhana semacam egrang. Anak-anak desa Ledokombo melakukan bildungsprozesse sebagai sebuah keseharian.

Melalui egrang tadi anak-anak ini meredam ego diri untuk tak kehilangan kendali. Tertatih tatih memantapkan diri diujung kayu dan mulai melangkah diatas kayu egrang. Belajar untuk dapat berdiri dan fokus pada apa yang mereka lakukan. Semua dilakukan hati-hati. Karena saat mereka kehilangan kendali diri. Saat itulah mereka akan jatuh dari egrang.

Tanoker lantas mengadakan “Egrang City Tour” yaitu pentas/lomba/pelatihan egrang dan penjualan produk-produk Ledokombo di Jember. Sinergi kebersamaan antara anak-anak dan orang tua, masyarakat dan pemerintah, serta segala entitas yang menginginkan Ledokombo untuk maju. Tanoker seolah menggenapi pepatah jepang “Sora ha tsunagatteiru node (kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu (Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung).
            
Sedikit demi sedikit muncul kebanggaan atas desa Ledokombo. Anak-anak tidak lagi berkeliaran dijalanan berkegiatan tak jelas. Orang tua yang merutuki nasib miskin terpacu untuk melakukan perubahan positif. Berbagai unit kerja lahir dari semangat Tanoker. Kepompong yang lahir dari ulat buruk rupa menjadi kupu-kupu indah.

            Meski saya tak lahir dan besar di Ledokombo, tetapi ada rasa kagum yang bergetar dihati saya. Meyakini bahwa perubahan besar tak harus dari hal hal yang besar. Namun tindakan sederhana yang dilakukan konsisten. Seperti membiarkan anak-anak untuk bermain dan melahirkan kreatifitas tanpa batas. Berani bermimpi dan bertanggung jawab atas keinginannya.

             Saya selalu percaya, sebuah bangsa yang hebat, dibangun dari anak-anak yang memiliki mimpi liar. Dan mereka diajarkan untuk berani mengejar dan mengejawantahkan mimpi itu dalam bentuk nyata. Indonesia butuh lebih banyak anak-anak yang berlari bebas di alam. Bukan duduk diam dikamar dan tenggelam dalam dunia semu digital. Itulah kabar dari desa dimana saya kini tinggal. Apa cerita desa anda?

2 komentar:

  1. abang, sebenarnya Yayasan Untukmu Si Kecil milik Pak Ayu Sutarto biasanya tiap bulan menyelenggarakan lomba permainan anak tradisional, enggrang juga pernah. Sebaiknya abang liputan kesana, karna masih banyak yang gak tau bang. Kalau mau neng anter juga boleh, jadi dipaskan kalo ada lomba

    BalasHapus
  2. Dani, apa kabar ? dimana sekarang berada ? Saya baru temukan "refleksi" ini. Ledokombo sedang bergerak...ada juga kisah-kisah "dukanya" ....kayaknya perlu juga ditulis supaya lebih komplit he he he...Btw, makasih ya. Bolehkah refleksi ini diunduh ke web tanoker ?

    salam, Ciek

    BalasHapus