Selasa, 14 Februari 2012

Tiga tahun Jakartabeat



Sebelumnya saya juga ingin menyampaikan sebuah dislaimer bahwa tulisan ini adalah tulisan yang overrated. Jika anda menginginkan sebuah tulisan yang adil dan berimbang saya sarankan untuk berhenti membaca tulisan ini. Dalam banyak hal ini adalah sebuah service, boleh dikata sebuah penulisan yang menjilat. Tapi saya tak peduli.
            
Saya mengenal Jakartabeat seusai perdebatan panjang mengenai musik blues dan hardcore bersama Nuran Wibisono. Ia adalah kontributor jakartabeat yang paling mesum sekaligus penggila hairmetal zuhud. Kala itu saya dengan pongahnya mengatakan bahwa musik hardcore adalah sebuah music cult. Melebihi dekadensi hairmetal apalagi kemaharajaan blues.

Statement ini lantas memancing perdebatan tolol mengenai skema scene musik blues di Deep Shout Missisipi sampai kegairahan hardcore di DC. Nuran lantas menjabarkan dengan riang bagaimana musik yang berkembang di domain rednecks America itu, beserta semua nama besar seperti Muddy Waters, Garry Moore, John Mayal, sampai dengan John Mayer. Sementara pengetahuan saya soal hardcore sudah tamat pada nama seperti black flag, fugazi dan suicidal tendensies.

Dengan kata lain perdebatan itu berakhir dengan pembantaian pengetahuan musik saya yang seupil oleh Nuran. Saya akhirnya penasaran, bagaimana mungkin seorang cabul yang malas membaca seperti dia punya banyak pengetahuan tentang musik? Akhirnya saya sampai pada sebuah naskah berjudul obat sakit hati bernama continuum. Fuck, ternyata si keple Nuran ini adalah kontributor webzine musik jakartabeat.

Sebermula firman tuhan, saya menjadi seorang hipster. Selalu membaca dan mencari tahu perkembangan baru di jakartabeat. Saya tak ingin dua kali dipecundangi mengenai pengetahuan soal musik. Situs yang juga dibinani Philips Vermonte, peneliti di CSIS, memberikan ruang dan pengetahuan baru tentang apa itu melawan dominasi selera kebanyakan. Meski dengan demikian saya beresiko dianggap seorang snobs.

Saya menyukai musik. Terutama musik bagus yang tak banyak diketahui oleh orang banyak. Ada sebuah kepuasan tersendiri saat kita mendengar musik yang berbeda. Band yang sama sekali asing tapi punya talenta digdaya. Perasaan-perasaan seperti ini membuat saya seperti messiah. Bahwa ada bebunyian diluar sana yang jauh lebih baik dari ngak ngik ngok yang terpaksa kita dengar di televisi.

Kelahiran jakartabeat tak lepas dari kegelisahan mas Philips dan mas Taufiq Rahman (editor koran jakartapost dan penggemar kata overrated) yang memutuskan memulai sebuah blog “Berburu Vinyl.” Sebagai kanal menumpahkan rasa berdebar-debar setiap kali mereka menemukan piringan hitam yang masuk daftar 500 Greatest Albums of All Time versi Rolling Stone Amerika.

Saya suatu saat pernah bertanya sebuah pertanyaan maha konyol apa itu Vynyl? Yang dijawab seorang kawan dengan sinisme akut berupa “Tahu google kan?” Di sini saya kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukan mas Philips dan mas Taufiq adalah sebuah kegilaan. Berasal dari negara yang masyarakatnya kurang mengapresiasi sejarah. Mereka malah kembali ke bentuk rekam musik yang menurut saya sudah purba.

Berburu Vynil juga menjadi semacam tapal batas egosentrisme manusia yang tak ingin mati sambil mendengarkan musik jelak. Beberapa bulan lalu saya pernah bergunjing dengan mas Taufiq mengenai kuliah, musik dan buku. Ia berkata “Hidup terlalu pendek untuk diisi dengan musik jelek,” saya mengamini. Belakangan saya tau ia mengutip ini dari Herry Sutresna, pentolan Homicide itu.

Seiring berjalannya waktu (padahal hanya enam bulan) Berburu Vynyl harus mengalami pensiun dini. Alasannya sederhana duo kombatan yang mirip Tsuneo dan Dikisugi ini menginginkan wahana yang lebih luas. Tak melulu membahas musik namun juga hal-hal sentimentil tak penting lainnya. Seperti silsilah keluarga bebek atau pengaruh Kafka dalam Velvet Revolution.

Artikel non musik pertama yang saya baca di jakartabeat adalah naskah milik Gde Dwitya yang berjudul Fakultas Sastra, setelah revolusi tak ada lagi. Meski menyitir fragmen buku esei Goenawan Muhamad, Gde tak membahas dunia kebatinan para filsuf seperti yang biasa dilakukan GM. Tapi opini kebumian mengenai kondisi real mahasiswa Indonesia saat ini.

Artikel itu sangat menempeleng muka saya yang dulu gemar sekali turun ke jalan untuk beraksi bak Jenggo. Menentang tirani pemerintah, melawan kebijakan pro modal dan tetek bengek romantisme mahasiswa labil. Bahwa ada banyak jalan dalam melakukan perjuangan. Tak melulu harus demonstrasi namun juga bisa dengan menulis dan menyebarkan pemikiran.

Dalam banyak hal saya percaya, dalam masa mendatang, saya akan dengan bangga mengatakan bahwa “i’m one of those bastard who read jakartabeat and alive,” dengan pola subversif yang cerdas. Say` sangat heran sampai hari ini Tiffie tak melirik jakartabeat sebagai sebuah web yang laten kritisme dan snobisme akut.

            Jakartabeat juga kerap kali mengejutkan saya dengan mencantumkan nama-nama band suritauladan dalam hidup saya. Seperti Rage Againts The Machine, The Mars Volta dan Pure Saturday. Hidup saya yang kering karena menjomblo sekian dekade seolah tak penting lagi. Saya merasa menemukan pencerahan baru, serupa perasaan Aristoteles saat berteriak “Eureka!

            Selepas setahun jakartabeat beredar di dunia maya, saya semakin masyuk dalam membaca tiap artikelnya. Jakartabeat, seperti juga kunci.or, jurnal karbon, dan library.nu adalah satu-satunya media internet yang masih waras. Lupakan wikipedia karena pengetahuan ala ensiklopedi itu membuat kita malas mengunyah diksi dan fantasi.

            Awalnya saya takut jika nantinya jakartabeat hanyaakan menjadi one hit wonder yang selesai pada setahun. Menjadi sekedar relik bahwa pernah ada generasi kick ass yang menulis tentang musik, berpikir berbeda, dan kritis menyikapi zaman. Kekawatiran saya ini rupanya berlebihan.

            Mas Philips dan mas Taufiq malah mengembangkan jakartabeat lebih kece dari imajinasi saya yang paling banal. Dengan menerbitkan like this, sebuah kumpulan tulisan tergahar yang ada di jakartabeat. Like this sendiri seolah menjadi bukti valid bahwa kutukan webzine adalah ketiadan karya nyata dalam bentuk fisik.

            Jakartabeat Music Writing Contest I (JMWC I)yang digelar tahun lalu juga merupakan kejutan menyenangkan dari duet editor imut tadi. Bahwa dalam usahanya menyemai penulis/jurnalis(me) musik yang sehat dan cerdas, perlu ada upaya regenerasi dan penyemaian bibit. JMWC I terbukti sukses dengan bukti sekitar 100san karya yang masuk. Meski saya sempat jengkel karena naskah saya bahkan tak masuk ke dalam 10 besarnya.

            Saya menyadari betapa jakartabeat kini menjadi sebuah kawah candradimuka musik-musik kreatif Indonesia. Ada sebuah diktum yang mengatakan bahwa, mereka (band/buku/film) yang termuat di jakartabeat adalah sebuah avantgarde. Disusun oleh narasi besar senama Herry Sutresna, Akhmad Sahal, Anwar Holid, Ardi Wilda, Ari Perdana, Arian13, Samack, Ayos Purwoaji, dan masih banyak lagi.

            Saya tak akan menghina kapasitas nalar para pembaca sekalian dengan menjelaskan satu persatu siapa mereka. Jika anda berpikir bahwa tulisan saya sangat tendensius dan cenderung melakukan pengkultusan. Maka anda benar. Jika seorang Franco dengan sangat fasisnya mencintai Madrid. Atau bagaimana Winston Churcil sangat menggilai cerutu. Maka bolehlah saya melakukan sakralitas terhadap situs ini.

            Jika anda tanya mengapa? Well, kita mulai dari perbendaharaan pertemanan saya yang tiba-tiba jadi sangat keren. Dari yang awalnya berkawan dengan manusia mesum bernama Nuran, saya bisa berkenalan dengan mas Philips (meski hanya lewat facebook), mas Taufiq (yang terlepas dari sarkasme tulisannya ia sangat ramah), Fakhri Zakaria (pria murah senyum yang sangat baik hati).

            Tapi dari semua itu, jakartabeat, telah berperan besar dalam penuntasan masa jomblo saya yang sangat endemik itu. Karena pada 2011 lalu mereka untuk pertama kalinya menyelenggarakan festival musik santai di pinggir danau kampus UI. Bertempat di seputar kompleks gedung perpustakaan Universitas Indonesia.  Saya berhasil mengakhiri masa lajang saya yang sudah terlampau keparat lamanya.

Dari perbincangan saya dengan mas Taufiq acara ini terinspirasi oleh Pitchfork Music Festival, acara musik yang diselenggarakan di sebuah taman di kota Chicago. Bersama rekan-rekan mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di UI jakartabeat sukses menghancurkan definisi konser megah adalah konser yang besar. Kelak dalam pelajaran sejarah murid-murid sekolah musik dunia, mereka akan mengenal acara ini dengan nama By the Lake Music Festival.

Di konser ini pula saya bisa tuntas menonton konser Efek Rumah Kaca untuk pertama kalinya. Juga dengan sangat norak saya bangga bisa bertemu dan mengobrol dengan Cholil, yang sangat baik mau saya ajak jabat tangan. Tapi di atas itu semua saya sangat mengharu biru karena bisa mengenal Payung Teduh. Band yang tanpa sengaja rela menjadi pengiring pertemuan saya dan pacar.

Payung Teduh dengan lagunya, “Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan,” secara literer memberikan suasana mendukung untuk kisah kasih saya. Mungkin jika Payung Teduh tak menyanyikan frase “Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya,” pacar saya akan sadar bahwa petang itu saya bau sekali dan belum mandi.

Tapi bukankah itu semua tak penting? Dalam rentang waktu tiga tahun ini jakartabeat, seolah menjadi new emerging forces. Istilah yang terlampau lekat dengan Sukarno dalam melawan Neo Imperialisme. Ah, haibat betul. Namun seperti yang banyak terjadi. Membuat lebih gampang daripada merawat dan melakukan konsistensi.

Ia butuh lebih banyak energi, kemauan dan yang paling penting tekad yang tulus. Bukan tentang materi didapat itu jelas. Semua kontributor jakartabeat tak pernah mendapatkan bayaran. Hal inilah yang membuat situs ini menjadi kanon (atau pongah?) sehingga tak ada kepentingan pasar dan murni subjektifitas.

Selamat ulang tahun jakartabeat. Mungkin telat. Tapi lebih baik daripada tidak ganteng sama sekali. Tabik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar