Senin, 30 April 2012

Manusia Pramoedya

di unduh dari Hastamitra.net


Saya membayangkan, dengan rokok Djarum yang terus mengepul, Pram, mengetik dengan tergesa-gesa jawaban atas surat Terbuka yang dilayangkan padanya oleh Goenawan Mohamad. Wajahnya tertekuk hebat, mengejan dan otot mukanya keluar dengan sengaja. Luka yang sempat dilupakan, ternyata masih menyakitkan.

Goenawan Mohamad mengatakan "Bung telah bersuara parau ketidak-adilan" sebuah hantaman yang cukup keras. Esais dan penyair asal Batang itu merasa gerah dengan sikap Pram yang menolak permintaan maaf Abdurahman Wahid, presiden Indonesia saat itu. Ia juga menambahkan bahwa Pram adalah pribadi pendendam, yang disebutnya sebagai "Seorang yang merasa lebih ”tinggi” derajat ke-korban-annya akan mudah merasa berhak jadi maha hakim terakhir".

Siapapun yang menerima surat semacam itu saya kira akan bergetar marah. Dalam kata-kata yang indah dan halus itu ada sebuah cemoohan, vonis, sindiran dan juga tuntutan. Pram tak perlu lama menuliskan jawaban surat itu kepada Goenawan Moehamad.

Ia mengawali suratnya dengan sangat ketus "Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan." Sebuah kakhi dasi yang memilukan. Ia menjawab surat GM, begitu mantan Pemred Tempo itu disapa, dengan padu padan kata yang pelan namun menusuk. Siapapun yang membaca surat itu akan menyepakati bahwa Pram sedang bertahan dari luka yang teramat perih.

Pram dengan garang, namun cukup santun, mengkritik balik Goenawan. Ia menganggap petinggi penulis Caping itu sebagai orang yang naif. Karena menganggap maaf bisa dengan mudah menyelesaikan masalah. Pram sudah lelah untuk percaya. Termasuk pada Gus Dur dan Goenawan Mohamad, yang disebutnya "adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim."

Pram dengan bahasa yang tertatih dan kelelahan menuliskan "Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme." Saya kira manusia yang tak sanggup lagi percaya sesamanya adalah orang yang telah lama kalah. Seseorang yang sudah memberikan apapun yang dimiliki untuk kemudian dikhianati.

Saya setuju dengan Pram. Gampang amat memaafkan. Goenawan tidak pernah dipenjara untuk sesuatu yang ia sendiri tak tahu kenapa. Goenawan tak perlu merutuk setiap malam karena karyanya dibakar dengan kejam setelah riset bertahun tahun. Dan yang paling penting, Goenawan tidak pernah merasakan perih saat keluarganya harus mengalami diskriminasi atas tuduhan komunis.

Dalam surat yang sama Pram bercerita panjang tentang pengorbanan yang terlalu banyak. Mengenai "Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan," ia harus disudutkan dan menjadi kalah "sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya." Pram kemudian menginsyafi bahwa dirinya memang harus sendiri dalam menghadapi segala penindasan Orde Baru.

Memaafkan adalah perkara karakter. Dan sebuah karakter paling pemaaf pun saya ragu akan tetap bertahan melewati 3.001 malam, atau delapan dari 12 tahun penyekapan tanpa sebab di Buru, untuk bisa menjadi waras. Tidak. Saya akan mendendam. Mengeras dan membatu. Goenawan tak perlu mengalami itu semua. Karena ia toh masih tetap bisa menulis tanpa mengalami rumah dan kebebasanya dirampas paksa.

Mereka yang mengkritik Pram, seperti Mochtar Loebis dan Taufiq (dengan q bukan k) Ismail, boleh menyebutnya sebagai antek Lekra. Tapi Pram mengakui itu. Ia dengan gagah mengakui bahwa ia memang bagian dari padanya, tidak lari bersembunyi, juga bermanis-manis dengan Soeharto. Ia juga tak perlu menangis di atas mimbar, seperti salah seorang penyair, untuk memperoleh ampunan. Pram merdeka dan berjuang dengan kemampuannya sendiri.

Meski ia harus kalah. Toh seperti penuturannya pada Koesalah Soebagyo Toer dan André Vltchek. "Saya merasa terasing dengan bangsa ini," terasing karena melihat generasi mudanya hanya bisa mengkonsumsi dan berternak. Juga merutuki bagaimana Liliek, panggilan terhadap Koesalah Soebagyo Toer, membiarkan anak, cucu, dan keponakannya sebagai pribadi peminta-minta. "Saya merasa jijik dan malu,"

Pram juga menolak Doa. Menolak segala yang mirip dengan mengemis. Ia hanya percaya dirinya sendiri. Tuhan dan Pram adalah dua pihak yang sama keras kepala. Pram merajuk karea selama di Buru tak sekalipun tuhan menolongnya. Lalu dibalas Pram dengan tak pernah tunduk dan berdoa kepada Nya. Dalam salah satu fragmen cerpen Sunyi Senyap Di Siang Hidup Pram memuat doa yang begitu profetik "Moga-moga anakku tak akan mengalami segala yang aku alami dalam hidup,"

Mereka yang menyebut diri Pramis, seperti saya tentunya, paham benar harapannya terhadap generasi muda. Untuk memulai Revolusi dan memperbaiki kondisi. Generasi tua yang ia anggap korup sudah tak bisa terselamatkan. Hingga akhir hayatnya, ia masih memimpikan generasi muda untuk memulai perubahan. Sayangnya, seperti juga saya, karya Pram hanya sekedar bacaan. Tak pernah menjadi sebuah percik revolusi subuh.

Kebencian dan dendam Pram bukan kepada republik ini, tapi kepada penguasa. Pram yang baru saja keluar dari Buru dengan gagah mengecam tindakan Soeharto kepada Timor Timur juga kepada Bangsa Atjeh (ia selalu mengatakan Jawa berhutang pada Atjeh). Terakhir beberapa hari sebelum meninggal, ia bahkan masih sempat mengkliping pemberitaan mengenai Papua dan freeport. Totalitas. Sesuatu yang bahkan saya ragu bisa dilakukan seorang combatan paling gigih sekalipun.

Tapi tak banyak yang mau mencari tahu siapa Pram dibalik kemarahan dan dendamnya. Di balik kemegahan Tetralogi Pulau Buru. Pram adalah seorang Ayah dan Suami yang luar biasa. Coba tengok surat-surat untuk anaknya di Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Juga beberapa fragmen penggambaran betapa ia mencintai Maemunah, istri kedua Pram, dengan cara yang sederhana. Tidak perlu kata aku cinta kau atau puisi yang lagi-lagi dibacakan dengan air mata.

Tentu Pram bukan seorang Santo yang lepas dari kesalahan-kesalahan. Ia dengan galak menyerang HAMKA dengan menyediakan ruang penistaan sastrawan tua itu atas "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk". Juga pada saat menyetujui bila orang-orang yang tak sepaham dengan Revolusi (Soekarno) disingkirkan. Namun karena ia memilih itulah Pram menjadi manusiawi. Menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Juga seperti dukungannya terhadap Soekarno secara taklid buta. Pram menganggap Bung Karno, yang menista Syahrir dan mengeksekusi Kartosuwiryo, sebagai pemimpin "yang tak ada banding". Menuturkan dengan banyak penekanan yang hiperbolis. Dalam dua buku berbeda satu dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian dan Pramoedya Ananta Toer Dari Dekat Sekali. Sukarno, sebut Pram, adalah pemimpin sejati bangsa ini.

Ini yang membuat Pram menjadi pribadi yang paradoks. Di satu sisi ia menentang dan membenci sesuatu yang disebutnya sebagai fasisme jawa, yaitu taklid buta dan tunduk pada perintah atasan. Namun di sisi lain memuja dan memuji Soekarno tanpa hendak melakukan kritik yang adil terhadapnya. Saya rasa Pram telah menjadi pikun karena terlalu lama memilih untuk menulis sebagai pribadi yang menolak otoritas macam apapun.

Juga pada musuh-musuhnya yang mereka sebut sebagai kelompok Manifest Kebudayaan. Pram, seperti yang ditulis Ajip Rosidi dalam obituarinya, menteror penandatangan Manifes melalui Lentera. Ia berdalih bahwa pertentangan idea adalah hal yang wajar. Melawan kata dengan kata. Namun sedikit banyak menjadi absurd saat ia ingin menuntut Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto, seperti yang tertulis dalam buku susunan Liliek Toer, karena melakukan fitnah. Apa yang berbeda?

Saya kira Pram telah selesai memberi kepada bangsa ini. Namun sejauh ini hanya Gus Dur yang benar-benar menghargai Pram. Saya ragu dan lupa apakah Megawati, putri orang yang ia puja, pernah menghargai Pram. Membuatnya menjadi pahlawan nasional. Atau mewajibkan pembacaan karyanya sebagai sebuah karya kanonik. Toh, saya juga tak yakin Pram menginginkan itu. Buatnya basa-basi selalu tak penting.

Saya bisa berdebat panjang lebar mengenai karya mana yang membuat Pram harus dicatat sejarah sebagai penulis sastra kanonik. Namun Bukan Pasar Malam adalah sebuah Magnum Opus, yang saya kira, dengan sangat manis menggambarkan pribadi Pram yang utuh dan manusiawi.  Di dalamnya merupakan gambaran manusia urban. Seseorang yang harus berdamai dengan masa lalu (Bapak) dan juga bertikai dengan masa kini (Istri).

Juga bagaimana Pram menggambarkan masa lalu hanya sebagai beban. Ini adalah potret masa lampau yang masih relevan hingga kini. Anak yang terlanjur nyaman di kota, merasa jengah dan lelah karena harus kembali pada keluarga dan kampung halaman. Ini, buat saya, seolah menggenapi pernyataan Tariq Ali dalam obituari Pram. "Toer was writing about the past, but much of what he wrote resonated with the present."

30 April 2006. Bahkan di ujung hayatnya Pram masih menolak untuk tunduk. Minggu pukul 05.00 pria tua yang sebelumnya menolak dirawat di Saint Carolus ini sempat mengerang. "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," di ujung nafas yang paling akhir pun ia tak mau nasibnya ditentukan orang lain. Seperti yang telah ia sampaikan pada André Vltchek, "Kalau ngomong soal Indonesia, saya kebakaran" Api kemarahan sudah membakar Pram begitu pekat.

Minggu, 29 April 2012

Epigon Platonik

Jakarta adalah sebuah nama yang sama-sama kita kutuki. Bukan karena lambat macet yang membuat waktu terasa lamat. Juga bukan karena sesak udara yang terlalu pekat. Tapi karena memang kita sama-sama dipisahkan oleh sebuah fakta bahwa jarak, bukan lagi kesepakatan geografis. Tapi juga sebuah fakta keji betawa lelah dan materi juga membelenggu keinginan bertemu.

Bahwa seringkali, meminjam sajak Chairil Anwar, rindu bisa "Tambah ini menanti jadi mencekik, Memberat-mencekung pundak," Dan kerap kali kita dihadapkan sebuah pilihan-pilihan untuk pisah atau lanjut. Dengan konsekuensi yang sama sama menakutkan bahwa "Ini sepi terus ada. Dan menanti."

Kukira persekongkolan keji yang membuat kita ragu ini mesti ditamatkan.

Ada baiknya kita bertemu. Di sebuah kafe yang menyajikan kopi pekat hitam yang berampas banyak. Di sertai lagu-lagu kesukaan kita, katakanlah Mocca atau Moldy Peaches. Kamu tertawa dan aku pura-pura berpenampilan bijak. Kita bertukar kata sampai mulut pejal, perut kaku karena canda dan juga jeda diam saat kita mendengar fragmen "anything but you" atau "what if".

Ada baiknya juga kita flâneur mengelilingi kota tua Jakarta (atau Surabaya atau Jogja? terserah kau). Pelan-pelan menikmati sejuk sore setelah sebelumnya kita memaki panas yang terlalu, bising yang terlalu, dan polusi yang terlalu.Di kota ini kukira segala yang terlalu adalah sebuah keharusan. Mungkin ini yang menjelaskan bahwa aku merindukan kau. Terlalu.

Menyusuri sesak bus yang menghantarkanmu pulang. Di sana. Di bagian paling belakang. Berbagi telinga. Mendengarkan lagu-lagu yang syahdu. Menikmati hujan deras. Tapi kini tak sendiri. Ada aku disitu. Bersama kau. Kita boleh baku pukul sepanjang jalan. Beradu debat tentang mana lezat Indomie Goreng kegemaranku. Kubiarkan kau merajuk untuk nanti aku mengalah.
Dan kau nona. Berhentilah gelisah. Berhentilah gelisah mengenai nama tuhan yang berbeda.
Bahwa setiap tuhan menawarkan surga juga neraka. Tak perlu ribut siapa yang benar. Karena ada baiknya kita ribut mengenai kegemaranku membeli buku yang tak habis-habis. Karena siapa tahu kelak, jika kita harus menikah, itu akan mengurangi jatah nasi, telur dan daging anak-anakku. Bahwa jika nanti anakku kurus kering kurang gizi itu karena bapaknya tak tahu diri menahan nafsu membeli kitab-kitab yang belum tentu dibaca.

Melalui hubungan ini kita akan belajar untuk benar-benar menghargai perbedaan. Bahwa Salam Maria dan Sholawat Badar adalah sebuah puja-puji yang kudus. Bahwa Yesus dari Nazareth dan Muhammad dari Mekkah adalah manusia-manusia yang luar biasa. Manusia fana yang mencintai tuhan dengan caranya masing masing. Kau dengan tuhanmu dan aku dengan tuhanku.

Oh tentu saja jika kau masih gelisah. Akan kutemani kau setiap minggu untuk misa. Kuantar kau setiap Paskah untuk liturgi. Seperti kau juga masih sudi marah-marah setiap sahur tiba. Mengingatkanku bergegas untuk sahur dan sebagainya dan sebagainya. Bukankah bangun dini hari paling baik untuk menonton bola? Kelak kau akan kuajarkan untuk memilih satu di antara sekian banyak klub bola.
Karena mencintai tak pernah serumit ini. Apakah segala yang bernama kasih sayang harus seragam?
Apa yang tadi kukatakan itu mungkin mimpi. Tapi tak apa bermimpi. Mimpi itu bagus. Menandakan kita masih menjadi manusia. Masih memiliki keinginan-keinginan untuk berusaha menggapai sesuatu yang belum dimiliki. Juga melatih kita untuk bertanggung jawab pada keinginan. Tentu kita, kau dan aku, tak ingin berakhir sebagai pembual bukan? Yang berhenti pada keinginan dan tak melakukan apapun untuk menuntaskannya.

Kita, maksudnya kau dan aku, akan terus mengingat saat-saat kita bersama. Di pelataran kampus Fisip UI yang rindang, halaman perpustakaan kolosalnya, danaunya yang luas lagi sepi dan juga hutan beserta pohon-mirip-hantu-orang nya. Di sana akan berserak segala macam kenangan yang akan membuat kita menyungging senyum atau menusuk hati.

Kukira racauan ini semua disebabkan kerinduan yang terlalu lama tak bertemu. Kerinduang yang pelan-pelan membuat bara ragu semakin besar. Kemudian kita melihat perbedaan semakin menakutkan. Perihal nama tuhan. Perihal jarak. Perihal waktu yang tak banyak dilalui bersama. Perihal pesan-pesan sms. Dan semua itu menyatu bersepakat membuat kita ragu.

Setiap cerita punya akhirnya sendiri. Ia merupakan anak sah peradaban. 

Toh jika kemudian semua ini tidak terjadi. Kau perlu ingat bahwa kita pernah mencoba. Pernah sama-sama menolak kalah. Meski kemudian harus mundur. Lalu mengakui ada beberapa hal yang terlalu bebal untuk mau peduli dan berubah. Menganggap segala perbedaan kita adalah suatu takdir mati yang tak mungkin berganti. Untuk memaksa mereka percaya bahwa perbedaan adalah sebuah pemberian yang tak terelakan.

Tak perlu menangis atau marah. Karena sebenarnya mereka yang tak ingin kita satu, adalah pribadi-pribadi yang harus dikasihani, sebab gagal memahami makna tuhan dalam perbedaan. Karena seringkali apa yang tersirat, terlalu berat untuk dipahami. Kita harus bersyukur karena pada satu titik. Kita bisa lunas mencintai hingga menafikan segala yang beda.

Dan kelak kita akan duduk bersama. Di sebuah cafe yang redup. Tersenyum tipis mengenang kata-kata Nyai Ontosoroh "Kita telah melawan nak, Sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya."

Kamis, 26 April 2012

The Hifatlobrainers


Best Combo - Lemper dan Bakpao


Hari sudah menjelang senja di Gunung Bromo, Probolinggo, saat puluhan wisatawan asing hilir mudik di depan pos masuk Cemara Kandang. Beberapa dari mereka mengenakan jaket tebal dan sibuk menggosok-gosokan kedua tangannya. Suhu gunung Bromo saat itu memang terasa sangat dingin meski mereka telah memakai jaket tebal. Sesekali uap keluar dari mulut kita saat menghela nafas atau untuk sekedar bersenang-senang dengan fenomena semacam itu.

Tepat di pintu masuk gerbang Taman Nasional Bromo berdiri sebuah warung. Pijar lampu neon menunjukan nama Warung Makan Tante Toli di salah satu kisi sudutnya. Untuk menuju ke dalam warung, pengunjung diharuskan menuruni lima anak tangga yang lumayan curam. Di kiri-kanannya ada sebuah gerobak dengan wajan dan dandang. Salah satu kaca gerobak itu bertuliskan "Bakso dan Gorengan. 

Di dalam warung Tante Toli ada sekelompok anak muda yang tengah sibuk berbicara dan bersiap berbuka. Saat itu, pertengahan Agustus 2011, memang sedang bulan puasa. Saya sendiri mengenali  seorang dari pengunjung tersebut sebagai Dwi Putri Ratnasari, seorang festival hunter kawakan yang soon to be legend asal Jember. Kenapa saya dan dia bisa kenal? Well sebagai anak gaul yang up to date dan nge hips (pinggul) abies tentu saya harus kenal beliau ini.

Petang itu ia memakai jaket berwarna kuning terang. Wajahnya bulat dengan sepasang pipi yang membentuk bulat bakpao. Mengapa berbentuk bulat bakpao? Well itu sudah menjadi salah satu dari tujuh misteri dunia yang tak terpecahkan versi on the spot. Tapi tentu bukan tentang itu saya menulis ini. Hari itu dia dan teman-temannya khusus datang ke Bromo untuk survey lokasi dan pengambilan video terbaru (kelak bernama Homeland) dari hifatlobrain. “Sekalian untuk liat upacara Kasodo,” katanya.

Tak lama setelah itu televisi di sudut ruangan mengumandangkan adzan maghrib. Putri dan rekan-rekannya segera menyambar teh panas untuk kemudian membatalkan puasa. Dari bilik warung yang agak tertutup seorang pria berkaus hitam keluar. Wajahnya oval dengan rambut tipis. Sebuah kacamata sederhana berframe hitam sederhana menaut di wajahnya. “Ayo kita buka dulu,” ujar pria itu. Dia adalah our working class heroes Ayos Purwoaji, pemilik travelblog legendaris hifatlobrain.

Salah satu Scene di Homeland

Selepas berbuka Ayos lantas pergi untuk menyelesaikan urusan penginapan. Putri dan teman-temannya yang ternyata pegiat film surabaya itu duduk mengobrol. “Mereka ini temen-temen dari Surabaya, ada juga anak fotografi antara dari Jakarta,”. Mereka adalah Samuel Respati, Giri Prasetyo, Luki Sumarjo, Jeri Kusuma dan Idham Rahmanarto. Belakangan saya mulai menyesali karena mengakrabi kawan-kawan Putri dan Ayos itu. Kenapa? Well karena mereka adalah orang yang ma'rifat. Atau dalam bahasa Bastian Tito, orang orang yang pilih tanding.

 Sebagai bloger yang lumayan dikenal di jagad dewa, Putri memang memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Mulai dari fotografer, editor, film maker, bakul sego goreng, calo tiket, imam masjid sampai penulis buku. Pergaulan ini juga membuktikan bahwa si Pyut adalah sosialita kelas wahid. Konon tersiar kabar di kalangan para traveler underground Indonesia bahwa Putri telah berhasil menaklukan jagawana Taman Nasional Laiwangi di Wanggameti. 

Saya sendiri datang bersama tiga orang lainnya. Ini merupakan kunjungan kali ketiga Putri ke Bromo dan pertama kalinya untuk saya. Sebelumnya Putri bilang sudah menghadiri dua kali upacara kasodo bersama Ayos. Alumnus Farmasi Unair ini bercerita jika jalan menuju puncak Lautan Pasir Gunung Bromo hampir sepenuhnya tertutup debu vulkanik. Perigi yang dulunya pernah teraliri air, kini hampir kering sepenuhnya dengan pasir. “Dulu bukit di samping itu Bromo indah sekali. Sayang kamu datangnya telat.”

Kecintaan Putri untuk melakukan traveling berawal dari keluarganya. Paman dan bibi Putri senang mengajak keponakan mereka untuk jalan-jalan. Sebelumnya dia malah bukan seorang yang cukup punya nyali untuk berpetualang sendirian. Rupanya kenangan bersama paman dan bibinya begitu membekas. Sehingga  suatu saat ia memberi pesan singkat pada Ayos jika ia baru saja selesai mendaki ijen. “Ojo ngomong thok ditulis pyut, kata Ayos. Nah sejak saat itu aku mulai nulis.”

Putri lantas membuat blog saat ia magang di sebuah perusahaan Semarang. Tentu tak serta merta dia menulis tentang traveling. Kebanyakan malah curhat dan racauan yang tak jelas. Namun Ayos melihat potensi menulis Putri. Inilah awal mula dia menjadi kontributor tetap hifatlobrain. “Dan inilah saya menjadi rekan dan anak buah Ayos,” ujarnya sambil tertawa. 

Dalam melakukan traveling Putri berprinsip sederhana. “Just enjoy your time, meet someone new, feel something new, it is the essence of traveling” katanya. Tentu ini adalah sebuah konsep imajiner yang perlu aplikasi nyata dilapangan. Dalam sebuah catatan manis di blognya ia kemudian mendefinisikan diri sebagai slow traveler. Sebuah konsep perjalanan yang menghindari traveling-numpang-mandi yang hanya menguras tenaga dan waktu.


Senyum manis menawan citra pria metrominiseksual
“Menjadi bukan siapa-siapa di tanah yang asing. Tidak menjadi apa-apa. Lantas menjadi spon kering yang menyerap saripati hidup.”  ~ Ayos Ingin Wisuda

Putri sendiri memang nekat untuk menjadi travel blogger. Karena dalam keluarganya ada sedikit rasa khawatir mengingat Putri, yang terakhir saya ingat masih berstatus sebagai wanita ini, harus bertualang di sudut Indonesia. “Bapak pernah marah, tapi selalu aku bisa jelaskan baik-baik.” katanya. Toh ini juga tak menghentikan dia untuk mengikuti Aku Cinta Indonesia (ACI). Sebuah program yang memberikan kesempatan pada orang untuk berjalan ke satu destinasi Indonesia secara gratis. Untuk kemudian menuliskannya dalam bentuk catatan perjalanan.

Tepat pada pukul 20.00 Ayos datang lagi ke warung Tante Toli. Setelah selesai membayar makanan ia mendekati kursi dan meja dimana Putri duduk. Dengan bergegas mahasiswa ITS jurusan desain produk ini meminta teman-temannya bersiap. “Besok kita bangun pagi, jadi kalo bisa istirahat dulu malam ini,” ujarnya singkat. Seperti biasa ketua dewan pembina gerakan Gusti Allah Foundation ini selalu taktis. Meski kadang suka bau amis.

Agenda Ayos memang padat, selain sibuk menyelesaikan studinya di ITS, ia kini sedang mengembangkan sebuah konsep institusi penulisan baru. Konsep yang terbilang leap year dari kebanyakan  penulis kreatif di Indonesia. Jika kebanyakan penulis masih berpikir pada tataran menciptakan karya  'best seller', maka penggila Senthong Belakang ini sudah memikirkan untuk penciptaan pasar. “Hifatlobrain travel institute itu tentang pengembangan baru penulisan traveling di Indonesia. Kita coba membuat pasar baru,” ujarnya.

Baru beberapa hari belakangan saya menyadari apa yang dimaksud Ayos sebagai membuat 'pasar baru'. Dalam sebuah postingan satir, kritis dan cenderung gemas. Hifatlobrain pernah menuliskan apa yang ia sebut sebagai buku perjalanan yang sesat lagi dangkal. Buku yang memberikan panduan sekian juta ke destinasi A. Atau cara murah ke destinasi B. Buku-buku semacam ini dalam bahasa Hifatlobrain "buku (yang) menawarkan utopia: dengan sedikit uang, Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri sampai mblenger."

Saya pribadi sejak lama telah memproklamirkan peperangan terhadap segala buku yang berbau motivasi, panduan dan juga cara jitu. Buat saya buku yang ingin menjadi messiah kerap kali gagal mengartikulasikan masalah secara lebih global. Selalu ada variabel X yang membuat masalah dan hidup seseorang berbeda. Demikian juga perjalanan. Tak ada satu pun institusi (atau buku) yang bisa menyeragamkan sebuah konsep perjalanan kecuali travel agent.

Maka lahirlah Hifatlobrain Travel Institute. Sebuah proyek yang saya nilai ambisius lahir dari perjaka tambyn berusia tengah duapuluhan tahun. “Awalnya ini saat aku kecewa dengan buku travel kala ini. Kita dicekoki buku travel picisan. Harusnya mereka belajar banyak dari sebuah perjalanan,” keluhnya. Nah dari situ Ayos mencoba membuat sebuah institusi yang mencoba mendobrak keseragaman penulisan  travel. “Dengan memberi bacaan bagus, otomatis mereka akan semakin bijak dalam melakukan perjalanan.” 

Ayos sendiri telah menyukai traveling sejak duduk di bangku sekolah. Ia merasa sangat menikmati perjalanan, bertemu dengan orang asing dan menikmati pengalaman yang benar-benar baru. Atau memang saya curiga dia sebenarnya mengalami gangguan-tinggal-lama-di-rumah. Tapi kecurigaan ini dipatahkan dari pernyataanya yang sangat seksi sekali. “Menjadi bukan siapa-siapa di tanah yang asing. Tidak menjadi apa-apa. Lantas menjadi spon kering yang menyerap saripati hidup.” 

Cantik? Sori-sori Jek sudah ada yang punya
“Just enjoy your time, meet someone new, feel something new, it is the essence of traveling” ~ Putri pengen Nikah.
Hal ini ternyata banyak diapresiasi oleh blogger dan sosial  junkies di dunia maya. Berbagai komentar yang menunggu kemunculan travel institute ini semakin mendorong finalis esai Tempo ini untuk terus berkarya. “Salah satunya dari editor national geographic Indonesia. Kenapa gak dibikin secara masif? Aku pikir juga sama,” kata Ayos. Untuk itu ia kemudian menggiatkan perjalanan dengan perspektif yang lebih intens dan personal.

Apa yang dilakukan Ayos dan Putri tidak sia-sia memang. Gerakannya untuk mendobrak definisi lama mengenai traveling dan berpetualang melahirkan penulis-penulis cum petualang baru. “Hifatlobrain sekarang lagi banyak tulisan yang masuk, tapi lagi nunggu editing dan foto yang baik,” kata Ayos. Sebagai editor Ayos memang dikenal sebagai orang yang disiplin dan tegas. “Dia itu sadis, gak segan nolak tulisan kalo fotonya kacau,” kata Putri.

Konsistensi dan kedisiplinan Ayos pada penampilan foto ini bukannya tanpa alasan. Sebagai bentuk quality control dan peningkatan kualitas tampilan web, Ayos tak mau setengah-setengah. “Nulis jelek masih bisa diperbaiki, kalau foto kacau. Tiada toleransi.” Tapi hal ini bukan berarti Ayos tak mahir menulis. Ia sendiri adalah salah satu penulis terbaik yang pernah memenangi kompetisi menulis tingkat Asean. Di mana dia berkenalan dengan salah satu icik ehem demenan saya dulu (lost focus).

Namun baginya passion terbesar adalah tetap merawat hifatlobrain. Dalam salah satu postingan klasiknya Ayos pernah menjadi sebuah pribadi yang rapuh dan manusiawi. “Ketakutan terbesar saya adalah suatu saat saya tak bisa merawat blog ini lagi.” Ia ingin terus mengembangkan dan menjadikan hifatlobrain sebagai katalis perjuangan melawan buku travel yang nir makna.


Seperti juga Soe Hok Gie, pria botak yang masih perjaka ini percaya bahwa salah satu cara mencintai Indonesia adalah menjelajahinya. Saya juga mengamini pendapat Ayos. Saya pribadi telah lumayan melakukan perjalanan menjelajahi sudut-sudut Indonesia. Meski tak banyak pengalaman yang saya tuliskan karena memang tak punya kemampuan sebagai travelogue. Mungkin ini kutukan penulis kelas kambing seperti saya.

Dus, Ayos dan Putri, seperti juga pembantu saya bernama Nuran, selalu percaya akan ada campur tangan the invisible hand dalam sebuah perjalanan. Bagaimana Tuhan mampu mengubah destinasi dan destiny petualang dalam sekejap. “Saya selalu percaya, ada banyak kebetulan yang terjadi dalam perjalanan,” tuturnya. "Kisah-kisah coincidental seperti ini hanya Tuhan yang bisa atur. Dan saya selalu percaya: God always save the traveler!"


Anda bisa liat video Homeland di sini.
In honorary mention Savitri Winda: Sori wind belum pernah ketemu jadi gak bisa di tulis. :D

Selasa, 24 April 2012

Menyigi Naskah Penggali Intan




Tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah luka yang disebabkan oleh orang yang kita cintai. Ia akan melahirkan dendam, kemarahan dan amuk yang bisa mengubah pemikiran seseorang. Inilah kiranya yang mewarnai lakon Penggali Intan yang ditampilkan kelompok Teater Tiang Universitas Jember (Unej) di Gedung Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) pada Jumat (19/4) lalu.

Naskah yang  disusun oleh Kirdjomulyo ini sarat dengan kemarahan, kebencian dan juga kekecewaaan. Sebuah pergulatan makna atas eksistensi manusia terlukiskan dalam karakter tiga orang penggali intan. Ketiganya adalah Sanjoyo diperankan Ferick Sahid Persi, Siswadi diperankan Kristanto, dan Sarbini Ary Wibowo dipernakan. Tak lupa satu-satunya karakter perempuan dalam naskah itu, Sunarsih, yang diperankan oleh Rina Yuastri.

Bagi saya yang awam dalam menikmati teater lakon kali ini entah mengapa sangat sedap dinikmati. Waktu selama satu setengah jam terasa sangat singkat untuk lakon yang lumayan lama. Babak demi babak mengalir dengan sendirinya. Seolah-olah lakon yang ada di depan saya ini merupakan tontonan televisi yang tak diselingi oleh iklan.

Entah karena penggarap lakon ini adalah Teater Tiang yang telah lama di kenal di Jember sebagai salah satu kelompok Teater yang mumpuni. Mereka adalah sekumpulan maestro yang sudah terlanjur dianggap sebagai para resi seni pertunjukan teater. Entah itu Monolog ataupun Drama kolosal. Teater Tiang selalu bisa memberikan yang terbaik meski seringkali panggung dimana mereka berpentas minim pendukung.



Salah satu bagian yang membuat saya tertarik adalah penokohan Sanjoyo. Dalam hal ini Ferick, aktor Teater Tiang, mampu memerankan karakter Sanjoyo yang hatinya keras bagai batu. Dia dengan total berganti ujud menjadi manusia delusional yang bermimpi menjadi orang kaya, dengan menggali intan di aliran Sungai Barito di Kalimantan Selatan. Dalam lakon para tokoh dikisahkan berasal dari Yogyakarta yang merantau ke Kalimantan dengan harapan menjadi Borjuis sehingga bisa berbuat apa saja dengan kekayaannya, termasuk menggaet gadis-gadis.

 Kekuatan keaktoran Ferric yang bagus membuat sosok Sanjoyo yang dendam karena sakit hati cintanya ditampik oleh gadis pujaannya, Sunarsih, menghidupkan suasana kesendirian. Ia tampil seperti manusia paling malang di dunia dan mengutuk segala orang yang ada. Contoh yang mirip dengan karakter Heathcliff kisah Wuthering Heigts yang disusun oleh Emily Brontë.

”Sarbini yang tidak mengharapkan apa-apa dapat sebutir intan di belokan sungai yang dangkal. Sebenarnya siapa yang menguasai nasib,” 
Seringkali pertautan emosi terhadap sebuah tokoh begitu kuat sehingga seolah-olah aktor yang bermain bukan seseorang yang kita kenal. Dalam pementasan ini saya melihat gejala itu. Bahwa para aktor Tiang merupakan seniman tulen itu jelas. Namun bila sampai bisa menjadi seorang aktor yang berganti kepribadian maka baru kali ini saya melihat pementasan yang demikian.



Dalam seni pertunjukan elemen-elemen estetik dan juga kedalaman penokohan merupakan sesuatu yang mutlak. Namun teater tidak melulu tentang keindahan dan penguasaan tokoh. Di dalamnya ada juga kemampuan blocking, suara dan juga kecerdasan membuat improvisasi.  Naskah Penggali Intan ini sebelumnya pernah dipentaskan dengan baik oleh Teater Koma. Tentu ada sebuah tanggung jawab dalam setiap pelaku seni pertunjukan untuk membuat sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Gejala ini merupakan apa yang disebut Benny Yohanes, penulis naskah drama dan esai teater, sebagai reklamasi biografis. Di dalamnya kita menggali naskah, mengisi tokoh, memadatkan cerita dan juga membentuk sentuhan-sentuhan baru agar penampilan yang selanjutnya lebih baik atau sama sekali berbeda. Dengan mengindari penanaman idiologis dalam pertunjukan tentunta.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis pernah berkata “Karya sastra tidak bisa direduksi menjadi sebuah pemikiran”. Namun membaca Penggali Intan tidak bisa tidak membuat kita bertanya tanya. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Kirdjomulyo dalam lakonnya ini. Apakah melulu berkisah tentang cinta yang tak bersambut atau ada pemaknaan lain yang lebih holistik?
          




Untuk itu saya kemudian membaca kembali Bre X, Sebungkah emas Di Kaki Pelangi karya Bondan Winarno. Untuk mempelajari kondisi sosial masyarakat saat naskah ini dibuat pada 1957. Tahun dimana saat itu Indonesia sedang berusaha berdiri sebagai negara berdaulat. Kalimantan sendiri pada saat itu merupakan propinsi primadona untu mencari emas dan intan. Sebagai jalan pintas untuk mencapai kekayaan. Maklum sebagai negara yang masih muda tak banyak pekerjaan yang ada saat itu.


Kegiatan penambangan di Kalimantan sudah terjadi sejak jaman pendudukan Belanda. Menurut catatan geologi Belanda pada 1930 ada sebuah tambang batubara enam kilometer dari muara Sungai Kelian, Kecamatan Longiram, Kabupaten Kutai. Juga pada pertengahan abad 18, Sultan Mempawah (Kalimantan Barat) mendatangkan sekitar 20 orang Cina dari Provinsi Kwantung untuk dipekerjakan di tambang-tambang emas di Kalimantan Barat.

Intan yang merupakan alotropi karbon – dan merupakan zatalami terkeras yang dikenal orang – sudah ditemukan di berbagai tempat di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Barat selama beberapa abad. Tambang intan tradisional yang terkenal di Kalimantan adalah Martapura. Di Campaka, dekat Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1965 ditemukan intan sebesar 166 karat yang terkenal dan diberi nama“Trisakti.

Dengan memahami konteks sosial saat naskah ini dibuat maka kita bisa menengahi pertentangan antara otonomi pengarang dan otonomi semantic. Atau perdebatan antara textual meaning of plays dan authorial meaning.of plays. Tentu saja hal ini tidak serta merta kita terbebas dari beban pemaknaan subjektif penonton. Atau apa yang George Lukacs  menyebutnya sebagai “dilema intelektual kesusastraan”.

Namun secara umum saya menikmati naskah Penggali Intan lewat dialog dan juga ceritanya. Terbebas dari kondisi yang terjadi saat naskah ini dibuat tentunya. Tentang manusia yang ingin berjuang dengan kekuatannya sendiri melawan nasib. Juga perjuangan seorang kekasih yang dikecewakan yang berujung pada luka. Tentunya ada wajah-wajah kumuh manusia dalam setiap lakon teater yang sengaja dibuat untuk mengejek para penontonnya. Dan saya tak sabar untuk menonton lakon berikutnya.



Fragmen Hujan


“Rindu yang ditahan itu menyakitkan. Seperti dendam yang belum lunas,” katanya tiba-tiba.

            Aku baru pulang dari kantor setelah menerobos hujan yang begitu deras turun. Hujan yang muntah besar seperti tak pernah hujan sebelumnya. Sementara ia sedang tertidur di atas sofa. Separuh telanjang dengan payudara menggantung ranum.

“Pakai bajumu. Di luar hujan dan demi tuhan apa yang kamu lakukan di rumahku R?”

“Kamu tahu Madd. Seperti harapan yang tak terpenuhi. Rindu itu menyakitkan. Karena hanya diri kita sendiri yang merasakan,” lanjutnya tak peduli. Ia masih terlentang dengan kaki terangkat menjuntai di sisi sofa. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka. Lampu depan rumahku yang terang membuat bias warna emas di atas dadanya yang ranum tanpa sehelai kain.

“Kamu mabuk lagi?” tanyaku retoris.

“Aku tidak mabuk. Hanya sedikit lelah saja Madd. Kamu tahu? Bekerja sebagai konsultan perusahaan periklanan itu melelahkan. Senyum sana senyum sini. Menjilat klien dan sebagainya dan sebagainya.”

            Ia masih setengah telanjang.  Sementara hujan semakin gila memperkosa bumi dan angin seperti ingin mencabut segala tetumbuhan di luar sana. Aku lelah dan ingin istirahat. Sementara satu-satunya orang yang tak ingin aku temui malah terlentang di ruang tamu rumahku. Masuk tanpa ijin seperti seorang maling yang piawai. Entah bagaimana ia masuk, kukira aku sudah mengganti kunci rumahku dengan yang baru.
            
Aku masuk ke kamar. Berusaha mengganti baju yang basah, bau apak, dan penuh keringat karena seharian harus liputan di jalanan. Sementara perempuan di ruang tamu rumahku masih tak beranjak. Bergumam dengan suara tak jelas tentang harga bensin yang meroket dan kupon diskon yang kadaluarsa.

“Madd apakah kamu sibuk besok? Maukah kau dan aku pergi ke pantai. Kamu tahu melihat senja.”

            Senja. Ya, dulu aku dan perempuan itu pernah sangat mengagumi senja. Menikmati bola mirip bakso itu tergelincir perlahan-lahan menghilang ditelan kegelapan. Melihat pias warna langit yang berganti dari biru lalu kuning lalu ungu lalu gelap lalu hitam dan dikuasai malam. Seolah-olah kelak jika dunia kiamat maka prosesi kehancuran bumi akan dimulai dengan tahapan-tahapan serupa senja yang turun menuju malam.

            Perempuan itu masih mengoceh dengan kata-kata yang ditahan seperti manusia cadel. Setiap mengatakan huruf S ia menambahkan huruf h. “Shetan, Shushah, Shakit, Shengak,” katanya samar-samar. Cadel yang diakuinya didapat secara tak sengaja karena digigit kucing saat ia masih kanak-kanak. Sewaktu masih duduk belajar mengeja di taman kanak-kanak ia membawa kucing liar yang kumal. Lalu menggendongnya ke dalam kelas. Lantas kucing itu menggigitnya kencang tanpa tendeng aling aling. Sejak saat itu ia membenci kucing.

 “Madd apa kamu mendengarkan? Apa sih susahnya menjawab? Kamu selalu begitu tak pernah mau peduli. Pantas jika dulu kutinggalkan. Ayolah apasih susahnya menjawab?” katanya sambil berteriak.

            Aku masih terpaku di depan lemari baju. Aku lupa apa yang hendak kulalukan sebelumnya. Terlalu banyak pikiran yang berseliweran di kepalaku. Mengenai cicilan rumah yang terlambat. Potongan gaji yang terlalu tinggi dan permintaan pak RT untuk menjadi pengajar anak-anak putus sekolah. Ah kenapa lagi anak-anak itu putus sekolah. Kenapa juga mereka tak dibiarkan seperti itu luntang lantung di jalan. Mereka toh punya orang tua. Terkadang orang terlalu sibuk memikirkan masalah yang lain daripada dirinya sendiri.

            Ku ambil pakaian yang paling atas. Kaos kumal yang harum pewangi murahan. Ah Si Inah, sudah ku bilang aku tak suka wangi yang ini. Anak itu memang susah diberi tahu. Sebentar berapa usianya? 15-16? Kenapa dia jadi pembantu? Ah mungkin sama dengan anak-anak putus sekolah yang lain. Ekonomi. Alasan paling mudah itu ya ekonomi. Apa-apa ekonomi. Murah sekali. Seperti harga kaos kaki di pasar kaget. 3 pasang 25ribu. Ya meski hanya tahan di pakai beberapa kali lantas kaus kakinya akan bolong. Segala yang murah memang lekas usang dan rusak.

“Madd hei Madd! Kamu dengar gak sih? Aku bilang kapan kamu mau berhenti kerja? Hei jawab aku brengsek!” katanya sambil bersandar di pintu kamarku. Masih telanjang dengan buah dada yang menggantung kencang. Matanya memerah dengan gelap lelehan maskara dan sebelah bulu mata lepas. Rambutnya dibiarkan menjuntai tanpa ikatan. Rambut hitam panjang yang selalu wangi seperti bunga melati.

            Aku diam menatap matanya yang meredup seperti kelelahan. Mata yang kalah. Padahal dulu ia memiliki mata yang terang. Mata yang menantang siapapun untuk beradu kuat. Seperti seorang pejuang yang hendak melakukan puputan. Mata yang penuh kehidupan dan semangat yang membuat banyak pengungsi dan relawan Merapi dua tahun lalu kembali tersenyum. Mata yang sekilas bisa memberikan harapan untuk terus berdiri dan menaklukan ganasnya kerja relawan dan kebosanan di pengungsian.

            Mata yang bisa menjadi sangat garang saat sebuah penyelewengan terjadi. Aku ingat bagaimana perempuan itu berteriak lantang saat seorang pemuda tak mau memberi duduk bagi perempuan hamil. Ia berkata-kata dengan intonasi terukur dan memberikan pemuda itu lima menit terburuk dalam hidupnya. Dengan penutup sebuah sumpah serapah jika kelak ada reinkarnasi ia akan dilahirkan sebagai perempuan lemah beranak banyak. “Lelaki keparat yang suka memacu perempuan di atas ranjang tapi ogah berbagi kursi bagi perempuan hamil. Cih lebih baik kau kebiri dua bijimu dan lemparkan kepada anjing liar,” katanya berteriak.

            Si lelaki yang kalah pamor hanya bisa menahan amarah dengan muka memerah seperti udang rebus. Ia lantas turun di pemberhentian berikutnya sambil mengutuk perempuan itu sebagai sundal sinting. “Ya aku sundal! Tapi aku tak sudi melahirkan lelaki keparat macam kau!” katanya dengan jari tengah mengacung. Sementara si perempuan hamil hanya bisa tersenyum kikuk dan berasa tak enak hati dibela dengan sedemikan rupa.

Tapi mata itu kini sayu dengan kekecewaan. Seperti sebuah taman yang berganti menjadi kompleks pelacuran. Di sana-sini kulihat sebuah pahit kegetiran atas hidup yang tak sejalan dengan harapan.

“Pakai baju dulu. Di luar dingin. Apa kamu tak kedinginan?”

“Peduli setan dengan dingin. Kenapa kamu diam? Dan kenapa kamu masih menyimpan baju kumal itu? Sudah ku bilang aku tak suka baju itu. Kenapa masih disimpan?”

            Matanya masih kesepian. Masih sayu dengan lelehan maskara yang menggenang di kedua pipinya. Mata yang menunggu waktu untuk meredup dan selamanya tertutup. Lantas petir menyambar. Cahaya terang melewati kisi-kisi jendela seperti lampu blits yang maha besar. Hujan masih turun dengan deras. Tetes airnya memukul-mukul genting, seng dan tanah dengan keras dan bertalu-talu. Seperti sepasukan kecil air yang hendak menenggelamkan bumi dengan bergegas.

            Ah iya perempuan itu membenci hujan. Membenci mendung tepatnya. Dia membenci segala hal yang merebut cerah warna alami dunia. Di luar hujan telah lama turun, dari balik buram kaca jendela. Tak dapat kulihat apa-apa, selain bayangan warna warni lampu-lampu natal, hmmm, lampu-lampu natal*. Aku lupa jika hari ini natal. Hujan di saat natal, kidung doa maria, misa. Ah iya. Harusnya dia mengikuti misa natal.

"Selepas hujan berpakaianlah. Ini malam natal pulanglah R,"

Masih tak ada jawaban.

"Kau tak ingin pulang? Keluargamu menunggu. Pohon natal mesti dihias dan bukankah besok pagi kau ada misa?"

Hening,

"R? Hoi kau masih disitu?"

Lalu pelan suara tangis terdengar. Merambat pelan. Sesenggukan dan suara ingus yang ditarik. Tiba-tiba gelap. Mati lampu kukira. Karena di luar gelap total menyapu jalan. Bayarnya gak boleh telat matinya rutin. Kuputuskan untuk berjalan mendekati perempuan itu. Memberinya pakaian untuk dikenakan.

"Pulanglah. Malam akan semakin larut. Di sini gelap juga. Akan kutelpon taksi dan kau bisa pulang," kataku pelan. Ia menangis semakin menjadi. Aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi kukira ia mengejang dengan wajah memerah dan maskara yang berantakan.

Aku ingat di laci meja tamu ada beberapa lilin. Ketika hendak kunyalakan ternyata tak ada korek. "Pakai ini," kata perempuan itu sambil sesenggukan. Korek? Darimana? Bukannya dia telanjang. Ah iya. Doraemon. Perempuan yang selalu siap sedia dengan segala macam benda dalam tas kecilnya. Rupanya ada beberapa hal dalam diri kita yang tak akan pernah berubah meski waktu berlalu gegas.

Cahaya lilin seperti merekatkan warna kuning yang meleleh pada setiap benda yang ada. Juga wajah perempuan itu. Perempuan yang ribut dengan dunianya sendiri dan menelan bulat-bulat segala masalah yang menyertainya.

"Aku benci gelap," katanya.

"Aku tahu. Makanya pulang yah."

"Kenapa kamu mengusir? Tak suka aku disini?" suaranya meninggi.

"Tentu. Kau datang tiba-tiba. Telanjang. Mabuk dan menangis dirumah orang. Jika warga mendengar aku bisa dituduh mencabuli," kataku.

Lalu suara tawa meledak. Suara tawa yang tulus dan sepertinya telah lama hilang sudah menemukan jalan pulang. Samar-samar dari cahaya lilin aku melihat barisan kawat gigi yang terjalin rapi. Wajahnya masih belepotan maskara yang menghitam. Tapi mata itu tidak lagi mati. Ada sedikit cahaya redup di sana.

"Kenapa ketawa?"

"Tidak. Konsepmu tentang mencabuli itu sungguh sangat absurd,"

"Well. Seorang wanita tanpa pakaian. Menangis. Setengah mabuk. Dan seorang pria dalam rumah tanpa orang lain. Itu sudah cukup,"

"Hahahaha...Tapi kau mencabuli? Akan jadi kejutan dunia!"

"Setidaknya. Aku hidup tanpa harus menangisi keputusan-keputusan lampau,"

"Ya.. Keputusan lampau,"

Hujan semakin deras sementara listrik belum juga menyala. Samar-samar kidung Malam Kudus terdengar dari seberang rumah. Hanya ada kami berdua, nyala lilin dan sunyi yang mencekam. Dari pantulan cahaya lilin yang bergoyang aku lihat mata itu kembali mati.



*dari lirik lagu Leo Kristi Bra-bra Desember 

Senin, 23 April 2012

Tidak ada Tuhan di Lapangan

Diunduh dari http://browse.deviantart.com/?q=football%20field&order=9&offset=48#/d1xwpiz


Sepak bola adalah bukti bahwa manusia menyimpan kengerian fasis dalam dirinya masing-masing. Sebuah permainan yang awalnya lahir sebagai sebuah kesenangan berubah menjadi ajang pertempuran ala gladiator. Sepakbola menemunkan jalannya sendiri sebagai pemuas nafsu purba manusia atas dominasi.

Lihat berapa banyak manusia yang menjadi korban dari sepak bola. Di luar dan di dalam lapangan, sepak bola, menjadikan manusia mahluk a sosial yang memangsa manusia lain. Menumbuhkan sikap persaingan dan dominasi. Bukan lagi fair play dan kesenangan. Sepak bola adalah apa yang kita kini biasa kita sebut sebagai tragedi kemanusiaan.

Dalam sepak bola kemenangan tidak memiliki arti lain. Bukan lagi kesempatan bersosialisasi. Adu skil dan juga adu strategi. Semua lebur dalam kaca mata kepentingan kemenangan. Menang adalah saat satu tim mengalahkan tim lain dengan marjin angka yang lebar. Juga saat tim menghalalkan segala cara, termasuk bersekongkol dengan wasit, untuk mencapai kemenangan.

Seringkali para pendukung adalah sekumpulan umat yang buta. Mereka menutup mata saat timnya menang dengan cara yang kotor. Karena dalam lapangan. Sepak bola bukan lagi sebuah ajang adu kemampuan. Sepakbola telah menjadi coloseum dimana para gladiator bertanding untuk memuaskan keinginan kemenangan para pendukungnya. Ia telah luluh dalam segala yang kita namai agresivitas.

Semua pendukung Liverpool dan Juventus pasti tak akan pernah melupakan Tragedi Heysel yang terjadi pada 29 Mei 1985.  Di salah satu laga Piala Champions pendukung dari masing-masing tim saling menghina. Kebanggaan semu dan agresivitas pendukung hidup karena enggan idola mereka diclecehkan. Beberapa saat sebelum pertandingan dimulai pendukung Liverpool masuk ke wilayah pendukung Juventus.

Namun bukannya pertumpahan darah karena baku pukul yang terjadi. Melainkan lemahnya dinding pembatas di salah satu sisi stadion tersebut. Menampung ribuan orang pada satu titik membuat penyangga dinding kehilangan kekuatan dan roboh. Harga untuk sebuah kebanggan semu dan taklid buta itu adalah nyawa dari 39 orang dan luka dari 600 orang lainnya.

Konon untuk mengenang kematian yang disebabkan ego itu. Sebuah puisi karya W. H Auden berjudul “Funeral Blues” dituliskan dalam sebuah plakat. Serta memorabilia berupa 39 lampu bersinar untuk setiap korban Heysel. Tugu peringatan ini didesain oleh seniman Perancis Patrick Remoux. Di sini sepakbola telah kehilangan maknanya sebagai sebuah rekreasi dan berganti menjadi arena jagal.

Sepakbola mengalami komodifikasi dari sebuah proses mengisi Leisure Time menjadi tuntutan untuk pemenuhan premordial  pride. Padalah dalam banyak narasi sepakbola adalah insureksi. Ia menjadi sarana perlawanan bagi yang liyan untuk melawan para tiran. Kisah para pejuang Basque dan Catalan, melawan despot Franco melalui madrid. Juga lahirnya Internationale Milan melawan kedegilan Musolini lewat AC Milan. Di lapangan bola tidak ada pemain yang bersih dari lumpur, termasuk juga para pemiliknya.

Semua diehard Barcelona pasti akan mengingat pertandingan melawan Real Madrid 1943. dimana saat itu mereka harus menyerah kalah dengan kedudukan 11-1. Semua karena perintah Franco yang merasa kalah karena pada laga semifinal semifinal sebelumnya di Copa del Generalisimo (kini disebut Copa del Rey) Barca menang 3-0. Franco tentu marah karena harus dikalahkan oleh tim yang dianggap ”pengganggu stabilitas Spanyol”.

Jelang pertandingan leg kedua, seorang pejabat intelejen keamanan Spanyol memperingatkan para pemain Catalan. Bahwa mereka masih bisa hidup dan bermain bola tidak lain karena sikap dermawan Franco. ”Maka tahu dirilah kalian,” kira kira seperti itu yang ingin dikatakan oleh Franco. Hasilnya? Tim Madrid memimpin 8-0 pada paruh pertama untuk  kemudian mempercundangi Barcelona dengan hasil 11-1 luka selama enam dekade itu masih belum lunas terbayar hingga saat ini.

Para penonton (atau katakan maniak bola) modern terlanjur disuguhi oleh permainan yang terukur, diprediksi, diramu dan diolah dengan teknologi dan pengetahuan modern. Tidak ada lagi kejutan dalam sepak bola. Karena semua telah diprediksi dan diukur melalui variabel-variabel bernama transfer, pelatih, modal dan juga wasit. Seringkali kita sudah terlanjur tutup mata pada hal-hal yang demikian.

Pendukung (atau fans) klub adalah sekumpulan naif yang tutup mata demi kemenangan. Mereka adalah para serigala yang haus gelar dan dominasi. Tidak ada lagi yang bernama kemenangan yang terhormat. Permainan yang baik. Atau pun proses yang total. Kemenangan adalah harga mutlak eksistensi seorang pemain dan seorang pelatih.

Gambaran sempurna bagi kebanyakan para pendukung tim sepakbola adalah umat Musa dibawah bukit Sinai seusai menyeberang dari Mesri. Sekumpulan mahluk manja yang ingin selalu dipuaskan, dimanjakan dan diberikan kemudahan. Menuntut para pemain, pelatih, dan pemilik klub untuk selalu menang. Selalu memperoleh gelar dan akhirnya selalu mendominasi.

Tuntutan akan kemenangan itulah yang akhirnya menyingkirkan para pecundang dari panggung dunia. Mereka sekedar menjadi remah dan penggembira dalam setiap laga. Menjadi sekedar ”pengisi agar sebuah liga tidak berisi tim pemenang yang itu-itu saja,”. Seolah menggenapi diktum George Orwell. Siapapun penguasa saat ini akan menguasai sejarah masa lampau dan masa depan.

Kita tentu masih ingat pemain kolombia yang harus meregang nyawa karena kalah pada sebuah pertandingan piala dunia. Dengan dingin Andreas Escobar dibunuh dengan keji karena mencetak gol bunuh diri yang membuat timnya kalah. Juga cerita dimana tim sepak bola Korea Utara harus turun menjadi buruh seusai menjadi bintang di pentas dunia.

Sepak bola kini diukur dari seberapa banyak tropi yang dimenangkan sebuah klub. Diukur dari seberapa banyak gelar yang ia menangkan dalam liga. Bukan lagi mengukur dari seberapa indahnya pertandingan yang digelar. Sebuah pertandingan yang buruk tetap akan menjadi legenda jika hal itu melahirkan pemenang. 

Sebenarnya apa artinya menjadi seorang pendukung klub sepakbola? Kita menonton keindahan dalam pertandingan. Atau menuntut hasil kemenangan tanpa cela? Apakah sebuah gelar lebih penting dari totalitas bertanding di lapangan? Atau menjadi lebih hina karena dalam satu putaran musim klub tak memenangkan gelar apapun. Pelan-pelan pendukung telah menjadi seorang kanibal yang menuntut klubnya terus dominan.

 Untuk itu nihilisme dalam sepakbola adalah sebuah keniscayaan. Sepakbola harus ditempatkan sebagai sebuah dagelan yang lakon, tokoh, gerak dan narasinya telah diprediksi. Mereka yang mempercayai masih ada ketulusan dalam lapangan adalah seorang yang benar-benar naif (atau tolol?). Dalam setiap pertandingan, pertaruhan merupakan efek apa boleh buat.

Mereka yang meyakini ada tuhan dilapangan adalah para manusia naif yang perlu ditampar untuk diberi kesadaran. Maradona menjadi tuhan karena ia menentukan kemenangan Argentina dengan insting dan kemampuannya sendiri. Ia bukan santo soleh yang selalu membaca doa novena setiap malam. Malah si jugador bola ini adalah Beelzebub si rakus narkotika.

Tuhan telah tamat nasibnya saat peluit babak pertama sebuah pertandingan bola dimulai. Di situ seorang mafia judi bisa mengatur irama pertandingan dengan todongan pistol. Seorang pemilik klub bisa menyogok dengan tumpukan uang untuk meengendalikan ritme pertandingan. Mereka yang masih meyakini sebuah pertandingan bebas dari kepentingan. Adalah sebenar-benarnya manusia naif yang perlu diberi petasan untuk bisa sadar.


Sabtu, 21 April 2012

Rhea







Dear Rhea yang baik.


Mari kita bicara tentang laut. Kita bicara tentang ibu dari segala peradaban. Dalam sejarah evolusi dunia, laut adalah rahim yang melahirkan mahluk darat, yang kelak oleh para Darwinis akan dirunutkan sebagai sebuah nubuat masa lalu. Laut juga tempat dimana segala manusia pergi dan pulang. Di pantai-pantainya yang panjang dan luas ia telah melabuhkan para penakluk, pesakitan, budak, penjajah dan juga para pelarian. Laut adalah apa yang kau sebut awal dan akhir.


Tapi tentu catatan ini akan menjadi sangat basi dan menyebalkan jika kita hanya berbincang tentang laut. Karena sejatinya laut juga tak pernah meminta untuk dikisahkan. Ia hanya menunggu. Mendengar. Dan membiarkan dirinya menjadi segala limbah dan sampah berhilir. Saya kira kita lebih banyak berkisah tentang daratan daripada laut. Padahal ia lebih banyak menerima segala kurang kita. Daripada daratan yang kerapkali mengecewakan harapan-harapan.


Seperti itu ya Rhea? Laut selalu menjadi objek afeksi manusia dari masa ke masa. Sesuatu yang menakutkan juga indah. Sesuatu yang Transenden namun juga Profan. Sesuatu yang  Seperti kata Gibran "For life and death are one, even as the river and the sea are one." Laut juga yang merebut nyawa para pelaut dan membiarkan para kekasihnya menjadi janda. Laut pula yang menenggelamkan sebuah pulau untuk kemudian kelak melahirkan daratan di sisi lain dunia.


Tetapi laut pula yang berkisah tentang sebuah vakansi yang kelak disebut sebagai petualangan mencari dunia baru. Kita tak akan pernah mengenal dunia baru dengan segala peradabannya jika laut tak membiarkan dirinya ditindih para pelancong. Jika saja Bangsa Bugis tak melaut dan membuat kerdil para kelasi Portugis. Kita juga mungkin tak akan pernah menjadi manusia-manusia hitam yang ditakuti sebagai Boogie Man oleh peradaban barat. 


Rhea. Maaf jika kemudian dalam tulisan ini aku meracau tentang laut. Aku tak begitu kenal kau. Kita hanya bertemu sesekali. Tak pernah berbincang panjang. Tak pernah bertukar umpatan kutuk. Namun aku bisa melihat bahwa kau adalah sebenar-benarnya kawan. Seseorang yang bisa mendengar dan mendengar dan mendengar dengan sangat baik tanpa harus berkata-kata. Seseorang yang dalam diamnya telah mampu memberikan ketenangan bagi orang lain.


Kamu tahu? Bahwa seringkali kita terjebak pada kata-kata. Manis tapi juga meregangkan bengis yang tersimpan rapi. Tapi kamu sadar itu semua bukan? Bahwa kamu yang kerapkali menjadi lautan bagi segala sumpah serapah, cerita sedih, dan juga rutuk kebencian sudah tamat mendengar itu semua. Kamu telah menjadi lautan bagi kawan juga sahabat yang tak tahu lagi kemana mereka harus mengalirkan sungai perasaannya. 


Kukira kawanmu juga tak adil. Tapi aku juga tak tahu siapa yang kau anggap kawan atau yang menganggapmu kawan. Mereka berhutang waktu dan telinga untuk mendengar. Juga mereka kerap berhutang penjelasan mengapa dikala sedih kau harus tampil di depan. Namun saat ada kebahagiaan kau disingkirkan (atau dilupakan) jauh jauh. Ya, seperti kata Epictetus  “Untuk menyenangkan orang lain kerap kali kau kehilangan apa yang menjadi keinginanmu," dan itu aku temukan sebagai sebuah kebusukan.


Namun apalah kau ini jika menjadi manusia yang larut dalam pamrih. Kau bisa dicintai dengan demikian rupa juga karena menjadi laut yang tak pernah ingin merubah rasa sungai menjadi asin. Seperti yang kubilang. Aku tak dekat dengan kau. Sehingga dalam menulis inipun aku tak bisa banyak bercerita. Hanya sekedar meraba-raba dari sesekali pertemuan kita. Dalam pertemuan yang singkat itu aku menemukan bahwa kau adalah seorang manusia yang telah matang karena kisah orang lain.


Juga demikian perihal usia manusia. Kematangan kukira lahir dari banyak perdebatan, banyak luka dan juga banyak kesedihan. Bukan kebahagiaan yang membentuk peradaban manusia namun tragedi yang lahir dari banyak lakon yang terlalu tengik. Laut, seperti juga kau, telah banyak menerima badai juga arus yang begitu hebat. Kamu teguh mendengar cerita dan keluh kesah kawanmu, yang kukira tidak terjadi sebaliknya. Terkadang kita sebagai manusia kerap dhaif saat usai menderita.


Kita seringkali lupa berbagi kepada mereka yang membuat kita bangkit berdiri. Kita seringkali lupa untuk membalas atau setidaknya memberikan balasan atas sebuah bantuan. Tapi seperti sebuah pepatah lama "Eine Hand wäscht die andere"  Tangan yang satu akan membersihkan tangan yang lainnya. Tentu tak bisa hidup tanpa orang lain. Tapi bukan berarti Rhe, kamu harus selalu ada untuk orang lain. Ah... Viele Köche verderben den Brei. Bukan begitu Rhea?

Kamis, 19 April 2012

Card to Post

Motivational Postcard karya Putri Fitria.


Pada 1985 David Brin menyusun sebuah novel apokaliptik yang berjudul The Postman. Kisahnya bercerita tentang kondisi masa depan bumi pada 2013 yang hancur karena perang. Menyisakan masyarakat tanpa teknologi dan peperangan antar kelompok. Hingga muncul seseorang tanpa nama yang kemudian menyebut diri "tukang pos" (The Postman). 

Dia memberikan harapan dengan mengantarkan surat-surat yang tak sempat terkirim sebelum perang terjadi. Si tukang pos adalah representasi messiah atau nabi. Nabi sendiri dalam terminologi bahasa arab secara umum berarti sang pembawa pesan atau penyampai berita. The Postman, dalam pemahaman saya, adalah sebuah novel fatalis yang disusun dengan sangat cantik tanpa harus menonjolkan identitas keagamaan.

Saya sendiri sangat suka filmnya. The Postman diperankan oleh Kevin Costner, yang sebelumnya membuat saya jatuh cinta dalam Waterworld, tampil sangat ciamik memerankan pak pos. Film ini sendiri mengingatkan saya tentang trend remaja pada tahun 80-90an. Tentang demam literasi yang membuat para remaja usia sekolah dasar untuk saling mengirim surat pada orang asing yang ia kenal dari majalah.

Siapapun yang lahir pada tahun 80an akan sempat mengalami demam sahabat pena. Biasanya para anak-anak SD zaman itu berlangganan majalah semacam Bobo atau Mentari Putra Harapan. Di halaman akhir majalah itu selalu ada halaman khusus tentang sahabat pena. Di situ tertulis nama, alamat, sekolah dan hobi mereka. Dari situlah biasanya anak-anak akan saling berkenalan melalui surat dan menjadi sahabat pena.

Sudah lebih dari 15 tahun sejak terakhir saya berkirim surat dengan kawan-kawan di seluruh Indonesia. Terakhir saya berkirim surat adalah saat saya kelas 5 SD. Saat itu saya kerap menyimpan semua surat sebagai kenang-kenangan. Ada suka duka saat kita menulis surat dalam sahabat pena. Saya harus mengumpulkan uang untuk membeli kertas surat yang bagus dan wangi. Juga membeli perangko dan juga untuk ongkos pengiriman. Ada sebuah usaha dalam setiap surat yang saya kirim dahulu.

Namun seiring berjalannya waktu saya melupakan semua euforia dan kesengangan itu. Saat saya SMP saya berkenalan dengan Playstation. Otomatis waktu saya tercurah habis dalam media game itu. Pelan-pelan saya menyihkan para sahabat pena. Saya kira mereka juga demikian. Mereka hilang ditelan kesibukanya sehari-hari.

Tapi saya selalu percaya. Tuhan punya banyak lelucon yang tak selesai. Dia gemar bercanda dengan orang gemuk.

Akhir 2010 lalu saya berkenalan dengan Putri Fitria seorang traveler dan penulis paruh waktu. Dia adalah salah satu ambasador gerakan  “Card to Post” —yang terdengar hampir sama dengan “kartu pos”— sebuah gerakan online yang mengajak siapapun untuk menghidupkan kembali budaya berkirim kartu pos. Iseng kemudian saya membuka website Card to Post, di situ saya berteriak keras "Eureka!" apa yang saya kira telah hilang dan punah. Ternyata malah lahir kembali dan bermetamorfosis jadi lebih baik lagi.

Gerakan ini dimulai dengan kesadaran akan perkembangan teknologi komunikasi melalui internet yang dapat menciptakan model komunitas yang terbuka, sehingga melahirkan gerakan-gerakan sosial baru. Tak lain, karena internet telah menjadi bagian rutin dari aspek kehidupan sosial sehari-hari, sebagaimana aktivitas virtual dan fisik menunjukkan peningkatan integritas terhadap satu sama lain. Dengan semangat tersebut kami mengajak teman-teman yang senang beromantisme dengan cara di masa lampau sambil tetap bermain-main di dunia jejaring yang khas era sekarang.
Di tengah hiruk pikuk perkembangan dunia digital yang tengik. Rupanya masih ada orang-orang yang waras dan membuat gerakan, yang buat saya, lebih menarik daripada maraton menonton film bokep. Apa yang lebih menyenangkan daripada berjejaring sambil melakukan hal yang kita suka? Saya suka menulis, suka memotret dan juga suka berbagi. Well, saya pikir Card to Post adalah semacam kredo atas kondisi ahistoris generasi Bieber terhadap listerasi.

Jika kalian agak sulit untuk bisa paham mengenai gerakan ini. Saya coba kumpulkan informasi dari situs dan beberapa pegiatnya. Hasilnya adalah untuk bergabung dengan Card to Post caranya sangat sederhana. Kalian hanya harus mendaftarkan diri di Website Card to Post. Untuk segera berinteraksi, mulailah membuat kartu pos dan mengirimkannya kepada teman-teman Card to Post lainnya. Caranya dengan mencari nama dan alamat mereka di sini. Skema berkirim ini akan terus berulang selama teman-teman aktif mengirim dan juga membalas kartu pos yang diterima.

Tentu gerakan atau komunitas semacam ini akan tamat saat aktivitas mereka hanya berhenti pada tataran rutinitas. Nah pada Februari lalu rekan-rekan Card to Post membuat gerakan Kartu pos Untuk presiden. Gerakan ini bisa dimaknasi sebagai sebuah aksi sosial, protes dan juga seni klandestin. Di sini kalian bebas menulis apapun untuk presiden. Entah itu kritik, entah itu pujian atau juga ajakan kolaborasi dalam album terbaru SBY kelak.

Dari Putri, saya mengetahui bahwa kartu pos untuk presiden akan melalui proses kurasi. Hal ini dilakukan agar kartu-kartu pos tersebut bisa dipamerkan dengan tajuk “1000 Kartu Pos Untuk Presiden” pada 9 September 2012, tepat saat ulangtahun Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Well, apa yang lebih elegan daripada berkirim kartu pos dengan presiden dan sekaligus berdiskusi dengannya. Jangan kalah dengan Nazzarudin yang hanya sekali kirim dapat surat balasan. Kalian, juga saya, harus bisa membuat dia peduli!

*self note : udah lama gabung tapi saya gak sempet sempet juga kirim kartu pos. :D