Minggu, 15 April 2012

Amuk Lelaki Kalah


Malam ini mari berkisah tentang lelaki yang dihujam dendam. 
Lelaki yang ditelan amarahnya sendiri.
Memekik kutuk kekalahan.
Kelelahan dikejar ingatan.
perihal kalut muka. 
Hutang budi. 
Dan sederat cumbu rayu warung kopi. 
kering debu dan segala yang menyertainya.
"oo yang memelihara waktu. Segera habiskan. Segera tuntaskan" teriak dia yang diranggas ketakutan. 

Apa yang lebih kejam dari sebuah perkenalan?
Ia habiskan segala persiapan untuk menyambut perpisahan. 
Perkenalan membuat para kelasi merajah nama gundik di setiap pelabuhan. 
Tapi pelan pelan menghapusnya di tengah badai"

O lelaki kesepian. O lelaki yang merapuh. 
Terlalu keraskah hulu amuk yang mengalir di hatimu? 
Hingga kau robek segala nama?
Kau menuliskan beratus ratus japi mantra di antara lehermu. 
Mengejanya dengan air mata. 
"BIAR HABIS DICERNA IBLIS" teriakmu

Lelaki yang dilumat kedengkian. Gagal menemukan jalan kembali. Tersesat dibelantara karang.

"Maka biarlah aku terasing sendirian. 
Sampai kelak aku dikenal sebagai martir para pecundang. 
Yang busuk ditelikung kepercayaan"
Lukaku lukamu luka lelaki kalah di rajam malu.

Haaaaaahhhh ahhhhhhhhh ohm yasin bapa yasin ohm. 
"Segala doa. Segala tuhan. Lumpuh di hadapan kebencian berkarat dendam"
kau mengutuk nama nama. 
Menghujat takdir yang berjalan. 
Lalu akhirnya menangisi diri sendiri.

"O kau diraja nama diri nama raja diri. Apa salahku hingga kau sayat jantungku begitu rupa?"
Kau yang tak pernah mengerti arti kepercayaan
tak pantas meratapi kehilangan.

Bukankah hidup perihal mempersiapkan kehilangan. 
Setiap yang hidup akan direbut. 
Lalu mengapa kau kalut saat ditinggalkan?

Seperti semua kisah orang orang yang kalah
Sejarah menuliskan mereka sebagai bangkai
dan kelak, saat semua tulangmu meranggas, 
segala sudut kulitmu keriput, 
kau akan mengingat dendam ini sebagai sebuah lelucon yang terlampau tengik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar