Selasa, 03 April 2012

Rendezvouses




Hari ini saya iseng naik ke salah satu gedung tinggi di dekat Alun-alun kota Jember. Memandangi senja yang rubuh perlahan dengan puluhan lampu yang menjalar seperti kunang-kunang. Sesaat kemudian dada saya merasa sesak. Saya dulu selalu menyukai senja. Seperti seorang pelajar yang mendengarkan bel terakhir sekolah sebelum liburan panjang tiba. Tapi kini sekarang melihat senja membuat saya menjadi sangat-sangat melankolis. Seperti kehilangan yang terduga dan kau tak bisa berbuat apa-apa.

Senja adalah sebuah pertemuan dan perpisahan sekaligus. Saat dimana gelap menyapa terang saat cahaya harus pergi di dalam muram malam. Semua terjadi dalam hitungan detik yang tak lebih panjang daripada tarikan nafas seorang pelari maraton. Senja adalah sebuah momen sentimentil yang digawat-gawatkan perasaan dan panca indra. Setiap senja yang datang membawa memento perasaan kehilangan.

Kehilangan dan senja adalah sepasang sahabat karib yang saling menikam. Mereka mengkhianati keberadaan satu sama lain serupa takdir yang terlampau keji untuk dihindari. Para pecinta menjadikan senja sebagai momen rapuh untuk menjadikannya objek puisi bagi merayu kekasihnya. Tak terhitung kata-kata mesra, jalinan cerita, kalimat gombal, dan sajak tengik yang lahir dari nokhtah keemasan yang lahir dari warna mega yang pias cahaya matahari.

Senja adalah seorang gadis montok yang terlalu banyak digagahi penyair tengik untuk mencumbu rayu para kekasih kesepian. Sedangkan kehilangan adalah alasan paling murah yang diberikan manusia kasmaran untuk bermalas-malasan menyongsong akhir dunia. Kehilangan menjadikan seorang terpelajar menjadi manusia paling bodoh. Juga menjadikan prajurit paling terlatih mengiba peluk serupa bayi yang kedinginan.

Hahahaha entahlah mengapa sepotong senja tengik bisa membuat saya menjadi sangat dramatis. Mungkin memang karena kehilangan, seperti juga tragedi besar, selalu terjadi saat senja tiba. Saat cahaya yang terang perlahan meredup tanpa bisa dilawan. Sepertinya memang kehilangan mengajarkan manusia untuk mencari.

2 komentar: