Kamis, 31 Mei 2012

Doa Puisi - Puisi Doa


Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu.

Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di atas bumi seperti di dalam surga.

Berikanlah aku kebebasan memilih pada malam ini,
dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni,
yang meninggalkan kami dalam kesunyian.
yang meredupkan harapan,
yang melemahkan kekuatan.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
belenggu yang berat
ingatan yang pekat
juga rasa nyaman yang memikat

Tapi bebaskanlah kami dari niat jahat.
kenangan yang lamat
kepedihan yang mengarat
juga derik panjang rasa sayang yang tak semestinya
Amin.


*ini adalah versi puisi dari Doa Bapa Kami yang saya susun ulang untuk seorang kawan.

Kretek

Romdhi Fakthur Rozi - Petani Tembakau di Kalibaru



            Pada awalnya adalah kesunyian yang berganti dengan riuh perlahan suara retak. Tak mungkin ada kretek tanpa cengkeh, yang membuat nyala tipis klobot berpadu tembakau itu berbunyi ketika terbakar perlahan. Saya mengenal itu dari kebiasaan almarhum kakek yang biasa menikmati kretek tiap malam. Kakek saya bilang itu adalah resep panjang umur dan kehangatan.

            Ada sebuah ritus keseharian yang saya lihat dari prosesi merokok kretek yang dilakukan oleh kakek saya. Dalam banyak hal saya percaya kakek menikmatinya sebagai usaha untuk meditasi. Karena kakek biasanya merokok kretek dalam kesendirian, menikmati tiap hembusnya secara perlahan. Dimana setelah melakukan kegiatan itu ia menjadi jauh lebih rilek dan tenang.

            Memang dari pengalaman personal tersebut saya tak bisa membuktikan secara argumentatif bahwa rokok bisa memberikan ketenangan. kretek bukan pula ganja yang menghadirkan adiksi dan halusinasi, lebih dari itu, untuk saya kretek adalah sekedar cara untuk mengenang masa lalu.

            Adalah Haji Djamari yang konon pada abad ke- XIX menemukan kretek. Proses penemuannya pun sederhana. Haji Djamari yang sakit asma menahun merasakan kehangatan saat mengoleskan minyak cengkih pada dadanya. Karena penasaran ia kemudian menambahkan sedikit cacahan cengkih kering dalam rokok klobotnya. Hasilnya adalah cita rasa hangat dan spesial dari percampuran tersebut.

            Haji Djamari mengubah sejarah peradaban dengan tindakannya itu. Jika saja ia tak iseng melakukan variasi percampuran, maka kakek saya tak akan menikmati momen kesendirian tiap malam itu. Saya sendiri tak merokok. Asap penuh rempah yang terhidu saat menghisap terlalu keras untuk bersepaham dengan paru-paru saya yang lemah. Namun untuk sekeping kenangan yang terhadir dari suara nyaring kretek terbakar, saya berterimakasih.

            Indonesia adalah negara kretek. Hampir tak mungkin di tanah ini tak menemukan kebudayaan yang berkembang tanpa tembakau. Bagaimana masyarakat mentawai memanfaatkan kretek sebagai medium shamanisme. Atau kita bisa membaca narasi yang dituturkan Mangunwijaya dalam Mendut. Atau yang coba disampaikan dalam sajak yang dibacakan oleh Rendra dalam Sebatang Lisong. Saya kira tembakau dan Indonesia memiliki hubungan kelindan yang tak sebentar.

            Lisong sendiri merupakan sebuah keseharaian dalam kebudayaan Betawi. Ia tak lagi sekedar menjadi pengisi kegiatan luang, lebih dari itu lisong hadir sebagai sesaji bagi roh halus. Lisong menjadi bagian dari ritus sakral dalam banyak prosesi mistis. Asap yang melepuh, wangi yang mencuat dan juga api yang membakar menjadi abu, adalah sedikit dari banyak simbol yang membuat lisong sebagai alat yang menengahi  mahluk fana dan ghoib.

              Konon hari ini adalah hari anti tembakau sedunia. Seringkali kita gagap memahami ada perbedaan antara merokok sebagai kegiatan dan tembakau sebagai komoditas. Mereka yang menyerang tembakau berarti tak paham benar segala ritus dan kebudayaan yang hadir karenanya. Mungkin bisa jadi latah karena propaganda kesahatan. Atau karena memang benar lahir dari kejumudan yang tak nyaman dari perilaku para perokok.

            Bisa jadi, kelahiran hari anti tembakau sedunia benar-benar murni kemarahan pada perokok yang tak tanggap santun. Menghembuskan asap nikotin kepada mereka yang kini disebut perokok pasif. Atau bisa jadi hari anti tembakau sedunia adalah usaha-usaha untuk memusnahkan peradaban besar nan panjang. Tapi bukankah itu semua tak penting? Yang penting adalah menentukan sikap untuk mau mencari tahu dan memahami benar apa itu merokok, tembakau dan kretek. Tidak serta merta membebek pada segala yang jamak.

Minggu, 27 Mei 2012

Air Mata



Jika ada satu bagian dari tubuh yang ingin saya hilangkan, maka itu adalah kelenjar air mata. Ia seringkali bekerja dengan cara yang sangat keparat.

Beberapa jam yang lalu Nuran, kawan saya, mengirimkan pesan singkat yang mengatakan bahwa ibu Panjul, seorang karib yang lain, meninggal dunia. Tubuh saya bergetar hebat. Saya seringkali tak bisa bersikap ramah pada kehilangan yang satu itu. Kematian telah benar-benar merubah kehidupan saya setahun lalu. Saat kehilangan kakak kandung saya yang meninggal akibat pendarahan organ dalam. Kematian adalah musuh terbesar dalam hidup saya.

Sejak saat itu saya menjadi berjarak dengan Tuhan. Dengan segala kecintaan yang pernah membuat saya dengan kusyuk mencium sajadah masjid lima waktu. Sesaat sebelum kematian kakak kandung saya meningggal, saya bergumam doa. "Jika memang segala amal perbuatanku dulu sholat lima waktu dan mengaji engkau terima. Ambillah, tapi jangan kau bawa pergi kakakku." Tapi rupanya Tuhan punya rencana lain. 

Sejak saat itu saya membenci segala apa yang dinilai Nya baik. Kematian kakak dan sahabat, membuat saya berpikir panjang yang melelahkan. Bahwa tak pernah ada kematian yang mudah. Ia membuat sebuah lubang besar dalam diri kita yang tak akan pernah bisa terisi kembali. Mungkin Tuhan, saya kira, senang membuat hamba Nya menjadi seorang yang limbung dan jatuh. Menguji sampai mana tapal batas keimanan yang ia miliki.

Sayangnya saya bukan nabi, yang bisa diam menangis dan menghadapi kematian anaknya dengan ratapan lirih.

Pelan-pelan saya merutuki kematian sebagai sebuah tindakan kejam. Ia mengambil mahluk hidup, yang telah lama ada disekitar kita, nyaman diantara kita, lalu wuss dengan sekejap mata mahluk hidup itu hilang dan tak akan pernah kembali lagi. Kita sebenarnya sedang berjuang mempersiapkan kehilangan. Sementara kematian selalu datang dengan cara yang paling mengejutkan.

Kematian selalu meninggalkan lubang. Ia meninggalkan ruang kosong. Seperti sebuah kursi tanpa pemilik di ujung meja makan. Menu masakan yang tak pernah hadir karena si pemamah sudah tak ada. Atau kamar yang tiba-tiba sepi dari suara lagu hair metal yang keras. Kematian kakak saya membuat rumah seperti ruang penyiksaan yang kelam. Dia menyisakan kenangan-kenangan yang tak mau lekas selesai. 

Saya tak pernah berusaha mengakrabi kematian juga keputusan tuhan saat menentukan kapan hal itu dilakukan. Meski toh saya tak ingin egois. Saat kita kehilangan seorang sodara, bukan diri kita sendiri yang terluka. Seluruh keluarga merasakan pedih yang teramat sangat. Bahkan mungkin dengan kadar yang lebih. Dalam hal ini saya selalu belajar pada ibu, yang dengan sekuat karang, masih tegar memeluk saya sepanjang malam saat hari kematian kakak saya.

Panjul kawan saya adalah lelaki yang sinis pada kehidupan. Ia adalah apa yang anda lihat dan bukan apa yang anda pikirkan. Saya banyak belajar tentang bagaimana bersikap sebagai diri sendiri darinya. Mendengar kabar bahwa ibu tirinya meninggal, saya mau tak mau, dipaksa mengingat perasaan saat saya kehilangan kakak saya. Saat ini entah dimana Panjul pasti tertusuk kesedihan. Hanya saja, mungkin ia sedikit lebih cerdik perihal menyembunyikan perasaan.

Untuk Panjul saya hendak mengutip puisi dari WS Rendra. Perihal rasa sayang kepada seorang ibu. Ibu tak mesti orang yang melahirkan kita. Ibu adalah seorang perempuan yang mencintai anak-anak dengan tulus dan tanpa syarat. Mereka adalah sekeping sosok Tuhan yang mewahdatul wujud dalam bentuk mahluk. Ibu adalah segala yang kau beri nama keiklhasan tanpa batas.

Ibunda

Engkau adalah bumi, Mama

aku adalah angin yang kembara.
Engkau adalah kesuburan
atau restu atau kerbau bantaian.
Kuciumi wajahmu wangi kopi
dan juga kuinjaki sambil pergi
kerna wajah bunda adalah bumi.
Cinta dan korban tak bisa dibagi.
Ibu adalah sosok tegar yang bisa sekuat karang. Ibu saya sendiri mengajarkan bahwa tak perlu takut dan marah kepada tuhan atas kehilangan. "Hidup yang sebenarnya, ada di balik nisan," katanya. Ia selalu mengatakan itu dengan mukena dan ciuman lembut di ubun-ubun saya. Entah mengapa saya ingin sekali mengatakan itu pada Panjul. Mungkin saja, hidup yang lebih  mulia menunggu ibu tirinya di balik nisan.

Kita tak pernah bisa memahami apa maksud dari sebuah kehilangan dan kematian. Bahwa manusia mesti belajar dari rasa sakit dan ketiadaan untuk bisa menghargai hidup. Panjul, dalam hal ini, adalah orang yang pernah menghibur saya saat kakak meninggal. Tak pernah ada kata-kata yang sempurna yang bisa menggenapi duka. Setidaknya, lewat tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa Panjul dicintai. Oleh saya dan kawan-kawan lain.

Malam ini dia mungkin dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Samar-samar saya membayangkan perasaan Panjul akan sama seperti saat saya pulang dari Jogja untuk menemui bahwa kakak saya sudah menjadi jasad dingin kaku. Perjalanan pulang menyambut kematian itu seperti membiarkan diri dibakar pelan-pelan dengan api kecil. Perasaan sakit dan luka itu semula pias namun kian menusuk tajam dan itu tak akan pernah lebih mudah.

Beberapa hari sebelumnya Panjul menulis sebuah notes yang satir lagi melankolis. Saya kira dia adalah sedikit orang yang bisa benar-benar menuliskan perasaan tanpa perlu mendayu-dayu. "Hidupnya adalah perpaduan api dan batu, nanah dan darah. Air mata hanyalah sia-sia." Mungkin benar kehidupan bukan air mata. Tapi saya selalu percaya dengan menangis, sedikit demi sedikit, lubang yang menganga tadi bisa tertutupi.

Dan malam ini entah kenapa air mata saya enggan berhenti keluar.

Kamis, 24 Mei 2012

Islam yang Manis

            Hari ini seorang kawan saya, sebut saja dia Manyun, seorang perempuan,memutuskan meremove semua rekan lelakinya di akun twitter. Ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya melakukan hal yang sama pada akun Facebooknya tiga tahun lalu. Saya awalnya tak ingin campur tangan dan genit bertanya. Namun kali ini saya menyerah pada keingintahuan dan ia menjawab “Suamiku sweeping folower. Sepertinya aku terlalu banyak berinteraksi dengan kawan lelaki yang bukan muhrim.” Mendengar itu saya hanya bisa diam.

            Manyun adalah kawan dekat saya sejak semester empat kuliah. Kami sama-sama suka membaca buku novel dan senang berdebat dalam bahasa Inggris. Meski saya tak pintar-pintar amat tapi dia kerap dengan sabar mengajari saya cara berdiskusi yang baik. Kami sempat dekat selama beberapa bulan sebelum akhirnya ia memutuskan skripsi dan kami hilang kontak. Belakangan saya dengar ia dilamar tetangganya, seorang lulusan STAN dan menikah seusai wisuda bulan Maret 2009.

            Saya mengenal Manyun sebagai perempuan cerdas, humoris dan supel yang membuatnya punya banyak kawan. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya dia jika kemudian harus hidup dengan cara seperti itu. Dibatasi ruang geraknya dan lingkup perkawananya hanya karena”Mereka bukan muhrimku. Tolong mengerti,” saya terdiam dan kemudian menjauhinya pelan-pelan.

Sampai detik ini saya masih gagal mengerti. Memangnya islam memasung hak para perempuannya?

Saya percaya dalam islam, posisi lelaki dan perempuan setara. Tidak dikotomi sebagai jender nomor dua atau kelas sekunder. Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyatakan hal itu. Bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim dan memelihara kehormatannya, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Seperti yang dikatakan dalam Al Ahzab 35.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Atau yang secara eksplisit tertulis dalam  At Taubah 71. Mengenai distribusi peran bagi sesama umat muslim terlepas apa jenis kelamin mereka. bahwa "Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain" kata Allah dalam firmannya itu. Dalam pemahaman yang paling kasat mata pun bisa dipahami bahwa dalam kelompok orang beriman, Allah tak membedakan posisi lelaki dan perempuan. Ia menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai seorang Mukmin

Masih dalam At Taubah 71 Allah meyerukan perbuatan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya. Bahwa dalam perihal proses  semua umat manusia memiliki tanggung jawab dan cara ibadah yang sama. Sama-sama bersyahadat. puasa, berzakat, dan sama-sama memiliki hak untuk diberi rahmat oleh Allah. Lalu mengapa kita, yang hanya umat dan bukan nabi melakukan pembatasan?

Saya kira ada banyak hal yang mesti dibenahi perihal sikap kita pada perempuan dalam islam. Kita tak lagi hidup di zaman Rasul yang memiliki sejarah perang antar suku yang keras. Dimana saat itu perempuan dan anak-anak selalu menjadi korban. Bahwa menjaga perempuan dengan melarang mereka ke luar rumah tanpa pengawalan dan izin adalah keniscayaan untuk keselamatan. Kita harus bijak memahami bahwa saat ini, perempuan, bisa menjadi lebih tangguh dalam banyak daripada lelaki.

Dalam salah satu esai yang sangat manis dari Said Aqil Siraj, ketua PBNU, ia sedang mengkritisi mengenai pemahaman Islam secara tekstualistik dan legal-formal. Dimana pemaknaan dan pemahaman secara taklid buta tanpa disertai pembanding dan sumber yang jelas, sering melahirkan sikap ekstrem yang melampaui batas. "Padahal," sebut Said Aqil "Alquran tidak melegitimasi sedikit pun segenap perilaku dan sikap yang melampaui batas."

Imam Ahmad pernah menarasikan sebuah hadist Dari Rasulullah “Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama," katanya dengan sebuah penekanan, karena "sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam agama.”  Sikab berlebihan atau melampaui batas dalam meyakini suatu hal atau ghuluw. Sikap ini toh pada akhirnya melahirkan fasisme pemikiran yang secara taklid buta membenarkan pendapat diri sendiri sebagai yang paling benar.

Sikap ghuluw terhadap posisi perempuan (khususnya istri) yang mesti tunduk dan patuh (menyerupai hamba) adalah kewajiban. Serta penanaman pemikiran bahwa seorang istri yang baik adalah yang diam tak membantah, menurut saya, adalah sebuah penindasan sistemik. Islam tidak demikian. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang mustahil menempatkan umat terlepas apapun jenis kelaminnya, lebih rendah daripada manusia yang lain.

Selain ghuluw, Said Aqil menjelaskan konsep Irhab yang disebutnya sebagai sikap dan tindakan berlebihan karena dorongan agama atau ideologi. Tindakan inilah yang banyak menjadi rujukan dan sikap banyak orang yang belum paham benar agamanya, Bahwa dalam beragama Allah telah mengingatkan untuk tidak berlebihan. Seperti dalam Al-Nisa 171 “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.”

Tentu para fasis berkedok agama tadi akan berdalih mengenai "kecuali yang benar". Bahwa tindakannya adalah semata-mata membela, meluruskan dan didasari oleh tuntunan agama. Namun banyak umat muslim yang lupa bahwa, di atas segalanya, islam adalah agama damai yang menyerukan pada sikap baik pada sesamanya. Bahwa saat kita bersyahadat kita telah menegasikan tak adanya tuhan selain Allah dan percaya secara iklas bahwa Muhammad adalah utusan Nya.

Percaya bahwa Muhammad seorang nabi haruslah lahir dari perasaan yang benar-benar ikhlas. Bayangkan saat itu, anda di sebuah zaman yang penyembahan berhala adalah jama', kemudian dipaksa mempercayai seorang pemuda dari bani (klan keluarga) yang lemah sebagai pembaharu dan wakil tuhan di bumi. Jika bukan didasari rasa cinta, percaya, ikhlas dan keterbukaan maka tak mungkin syahadat itu akan terucap.

Semestinya sebagai seorang muslim yang baik, kita mesti aktif mencari tahu tentang agama kita sendiri. Tak melulu menunggu disuapi oleh orang lain yang berpotensi memiliki keterputusan ide dan makna. Meminjam istilah Ahmad Wahib, seorang intelektual kritis islam, "Dalam pemahaman islam sebagai ajaran Allah," tulis Wahib dalam buku catatan hariannya, "sifat-sifat manusiawi dan kondisi sosial ikut berperanan".

Perempuan dalam banyak tafsir saklek dan kasat mata diposisikan sebagai kelompok yang termarjinalkan. Seperti tafsir perihal perempuan yang tidak boleh jadi pemimpin, atau keharusan mengenai penutup aurat, dan yang paling sering dikritisi adalah perihal poligami. Saya kira hal ini sudah selesai dibahas dan tak perlu diperdebatkan lagi. Mengapa? Karena konteks pemberlakuan ayat atau perintah tersebut, jika anda mau mencari tahu, adalah usaha perlindungan terhadap perempuan.

Bahwa pada saat awal perjuangan islam banyak terjadi perang yang melahirkan banyak janda. Sedangkan dalam struktur masyarakat tradisional arab, seperti yang digambarkan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, kerap kali tak berpihak pada janda. Sehingga peran lelaki muslim dianjurkan untuk menikahi para janda tadi.

Mengenai perempuan yang tak boleh jadi pemimpin? Saya kira kita banyak mendengar kisah bagaimana Rasul memberikan banyak porsi bagi istri-istrinya untuk berdakwah. Juga sepeninggal beliau Aisyah masih konsisten memberikan masukan dan menjadi rujukan dalam membenarkan sahih dan sanad sebuah hadis. Jika ini tak boleh disebutkan sebagai sebuah kepemimpinan (leadership) entah apa namanya.

Saya kira seorang muslim akan berhasil menjadi sebuah umat yang utama (khaira ummah). Apabila ia bisa mencapai keseimbangan antara pemahaman agama, filsafat dan sains.Kebijakan yang lahir dari pengetahuan luas dan holistik. Tidak menggunakan satu kaca mata kuda yang menuntunya pada sebuah pemahaman parsial, bukan sesat, hanya saja sempit lagi kering.

Jika dulu Gus Dur menyeru pada pencarian Islam yang damai bukan islam yang ramai. Maka saya memikirkan konsep islam yang manis bukan islam yang sadis. Islam yang membuat para penganutnya merasa  bergairah untuk selalu beribadah dan lebih dekat pada penciptanya. Islam yang tak lagi memperdulikan perbedaan sepele untuk mencari makna subtantif dari relasi hablumminallah dan hablumminannas.

Bahwa islam haruslah menyenangkan, ramah, nyaman dan yang paling penting tak membuat kita takut apalagi terkekang. Saya tak membahas perihal kebebasan seperti yang hendak dicapai Nietzche dalam Zarathustra. Saya berbicara perihal islam yang sederhana dan tak berlebihan dalam memperlakukan umat, khususnya para perempuan. Lahaula Wala Quwata Illa Billah.

Senin, 21 Mei 2012

It is Hard tho?


Kepada Bapak Mantan Presiden Rahwana Dasamuka

Pertama-tama ijinken daripada saya untuk menghaturken semacam suatu sambutan daripada pembuka surat ini kepada Bapak yang mulia. Hal ini dikarenaken merupaken suatu daripada kebanggan saya untuk dapat menulisken surat ini kepada Bapak yang terhormat. 

Kepada Bapak yang agung saya doaken semoga tidak merasa terlalu panas ditempat Bapak daripada berada saat ini. Yang konon daripada katanya ditempat bapak sekarang berada merupakan tempat pengadilan yang seadil adilnya pengadilan. Yah semoga Bapak disana tidak merasa kepanasan pun tidak juga daripada merasa bosan.

         Merupaken suatu kehormatan daripada saya untuk mengabarken bahwa Negara Republik Alengkaraya dimana-mana deritatakkelarsaja yang Bapak tinggalken masih sama seperti dahulu. Masih banyak daripada masyarakat miskin yang melarat sampai mau mati saja susah, masih banyak daripada semacam Ambtenaar yang doyan terima yang basah-basah-legit-nikmat-gampang-wer-syur, masih ada semacam kasus penembaken atawa pembersihan, oleh oknum tidak bertanggung jawab, kepada mereka geraken pengacau keamanan yang mengganggu stabilitas nasional, dan masih banyak juga semacam cukong-cukong penghisap HPH, masih banyak maling-maling BLBI, dan yang paling seru adalah masih banyak anak buah daripada Bapak berkuasa di negeri ini.

                Bapak tenang saja, Negeri Republik Alengkaraya dimana-mana deritatakkelarsaja sudah berada ditangan orang yang tepat. Seperti halnya di jaman Bapak, merupaken hal yang jamak terjadi hal-hal semacam korupsi, pelanggaran HAM, penindasan militer, segala macam oknum petugas, pembunuhan Aktifis, dan mafia peradilan masih banyak. Bapak tenang saja, ya kira-kira sejak 14 tahun lalu sejak Bapak lengser ke prabon. Nothing was changed pak, yakinlah suer.

                Malah yang baru maklejeger adalah dimana mantan anak buah bapak yang sekarang jadi presiden bikin resuple. Ya pak resuple. Bukan joget ajojing disko yang konon namanya suple dens itu. Tapi ini sesuatu yang jarang bapak lakuken. Ganti mentri. Ya semacam bentuk sopan santun pak. Wong bangsa ini masih dalam keadaan bahaya. Jadi para pejabat kutaraja nya mesti diganti. Dengan atau tanpa koalisi apalah negara ini dibentuk.

                Ya ngoten pak. Negara kita sejak bapak mboten ditempat. Sudah menjadi semacam republik kapling. Nasionalisme ala penataran P4 sudah dihapuskan. Dan yang namanya ambtenaar bisa lebih makmur joyo sendiko daripada para kawulanya. Ya di jaman bapak gitu. Tapi ini edan tenan pak. Masak kacung tungkang ngurus pajak kadipaten bisa punya uang milyar-milyar plus liburan saat sedang dalam pingitan. Ini benar-bener godverdamnt pak. Sungguh kesalahan.

                Tapi bapak tenang saja. Sing adem disana. Mung bangsa ini masih utuh kecuali timor-timornya. Wong yang kami atur agar Republik Alengkaraya dimana-mana deritatakkelarsaja harga mati sudah pas dan laziz. Bahwa yang namanya bangsa itu diatas segalanya. Sungguh. Ya meski banyak itu yang sok-sokan ingin jadi bikin bangsa Republik Alengkaraya dimana-mana deritatakkelarsaja jadi negara onta. Kemana-mana pake antum ana. Mbokya itu kalau saya punya ide dikembalikan saja ke jazirah padang pasir. Di sini hanya bisa bikin ribut.

                Adalah kemajuan bangsa ini merupaken kerja keras antar bangsa. Dengan melakukan pergaulan yang luwes dan easy going. Sudah banyak sepen elepen yang dibangun di ibukota. Oh bukan pak. Bukan ilepen. Ini 7/11. Semacam warung kopi pak. Anak muda dengan pergaulan internasional banyak berkumpul di sini. Meniko bapak melihat pasti akan terharu bagaimana advance dan hi tech nya mereka dalam bercengkrama. Sebuah pemandangan klompencapir anak muda yang sophisticated lagi guyub.

                Apalagi perbendaharaan bahasa yang ampun, mohon maaf pak, sangat bercitarasa tinggi. Lha ya gimana tidak wong anak muda tadi berbahasa lebih haibat dari para linguis-linguis yang dibuat sama peradaban europe sana pak. Anak-anak ini pun menyebar luaskan perbendaharaan kata-kata dalam khasanah buku kamus besar bahasa indonesia. Sesuatu yang bahkan gagal dilakukan oleh Purwodaminto. Mung saya agak heran pak. Banyak kalimat yang menyisipkan galau. Tapi haibat pak. Sungguh haibat.

                Namun daripada itu sesuai dengan petunjuk bapak yang terhormat. Pemrakarsa pembangunan yang budiman. Yang elok lagi rupawan. Yang tegas lagi santun. Yang berdaulat adil dan makmur. Tentunya dengan apa yang terjadi saat ini jenengean sudah paham benar kondisi bangsa ini,. Apa-apa mahal. Pulsa mahal, beras mahal, minyak mahal, IPad mahal. Beda tenan sama jaman bapak. Opo-opo murah dan terjangkau. Belum lagi pas menjelang dunia dalam berita mesti ada pak Harmoko nyang operasi pasar.

                 Lha piye? Semua diluar kontrol pak. Negara jebule lebih senang membahas konser daripada kasus korupsi. Media lebih senang bahas kawinan wong gede daripada keselamatan transportasi. Dan lebih ngageti wong saiki luwih segen sama preman bersorban daripada sama polisi. Wong katanya, "Kami tak takut Hukum! Kami takut pada Allah," iki njuk piye tho pak? Ini apa? Ya meski pada jaman jenengan yang macam ini uda habis di dor. Tapi opo ya segalanya mesti selesai dengan kekerasan?

                  Lalu kapan kita mau maju sebagai negara yang lebih dari enam dekade berdaulat? Kalau sebagai satu kesatuan masyarakat isih do gontok-gontokan dan berkelahi. Mengklaim paling benar dengan pentungan dan senjata tajam. Menolak perbedaan dengan kekerasan. Membiarkan segala sesuatu yang namanya penindasan sebagai suatu kewajaran? Yo mesti ono sing dirubah pak. Harus! Kita ini bukan lagi hidup di dark age dimana semua pelaku pencerahan mesti dibakar atas nama sihir. Kita mesti santun berubah pak!

                  Apa yo tak pikir-pikir emang sulit memimpikan sebuah negara yang dibangun dari kesadaran bersama. Egaliter dan berdaulat berdasarkan kesepahaman. Oalah ngapunten pak. Bukan, ini bukan sosialis marxis. Ini purely based on our nation state commitment yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya kira kita salah menerapkan pancasila pak. Harusnya dibalik. Bahwa ketuhanan yang maha esa itu ditaruh paling bawah saja. Toh, mereka yang kini konon katanya tokoh agama, tak mampu mendamaikan sesama.

                    Lebih dari itu, wong berdasarkan laporan ICW dari tahun ke tahun, lembaga paling korup di negara ini ya departemen agama. Bayangken pak bayangken! Kita tak lagi bisa bersandar pada mereka yang secara kualitas pemahaman keagamaan lebih baik. Woo ngerti gitu dari dulu saya njuk budhal dewe hajian. Daripada duitnya dikemplang maling? Ndak rela saya pak ndak rela!

               Ya sudah pak. Mungkin segini saja surat dari saya. Memang benar apa kata jenengan bahwa negara ini tak bisa selesai hanya dengan membaca puisi atau menulis karya sastra. Lebih dari itu bangsa ini mesti di keplak dibangunkan dari mimpi negara zamrud khatulistiwa yang damai. Wong kita ini sedang dalam proses pelapukan sebuah bangsa. Hmm mungkin jenengan bener pak. Bahwa ngurus negara ini sulit. It is hard tho?

Rusuk

Apa yang lebih menakutkan dari sebuah kesadaran akan janji yang tak bisa ditepati? Atau kesadaran bahwa kalian akan mempunyai kemungkinan-kemungkinan tak dapat dengan tulus menebus sebuah ikatan. Atau sebuah keyakinan bahwa janji itu adalah sebuah kesepakatan yang salah dan semestinya tak pernah terjadi. Kalian akan dihantui pikiran-pikiran negatif yang membuat mood sepanjang hari dilumat dalam rasa enggan dan malas.

Menikah, buat saya, seperti kesepakatan menyediakan diri untuk digorok.

Sepanjang 2011 lalu setidaknya ada dua kawan baik saya selama SMA yang melangsungkan pernikahan. Satu seorang karib lelaki yang nasib cintanya tak lebih baik dari saya. Lainnya adalah sahabat perempuan yang telah lama dicurigai sebagai pacar saya. Kedua orang itu benar-benar mengejutkan saya dengan keputusan menikah. Karena toh sebelumnya kami bertemu dan berbincang, topik mengenai pernikahan adalah hal yang paling dihindari.

Saya kira mereka berdua akan menikah pada usia 30 tahunan. Saat mereka telah matang secara ekonomi dan siap secara emosional. Bukan karena saat itu mereka labil, tapi lebih pada kondisi sosial dan pribadi mereka yang tak lebih baik dari saya. Mahasiswa semester akhir, memiliki pekerjaan tak tetap dan masih doyan pada kebebasan absolut. Dengan kata lain saat itu konsep tentang sebuah komitmen seumur hidup adalah sesuatu yang benar-benar asing.

Arief, karib lelaki yang sekarang jadi juragan sapi muda, memutuskan menikah hanya dengan sekali pertemuan perjodohan. Alasannya ia tahu diri untuk tak mengharapkan orang menyukai wajahnya yang dia sendiri sebut "udah untung lengkap onderdilnya,". Sedangkan Utie, sahabat perempuan yang punya suara gemilang ini, menikah karena "jatuh cinta pada kejujuran dan kenekatan" pada orang yang kini jadi suaminya.

Pernikahan mereka juga jauh dari sebuah kisah pernikahan modern. Kenalan di socmed, kopidarat, smsan, kencan, jadian lalu menikah. Malah Arief, seperti cerita dalam novel-novel balai pustaka, saling bertukar foto  sebelum melakukan perjodohan. Utie lebih dari itu, ia dilamar hanya karena "rekomendasi bahwa mbak Utie orangnya baik dan saya suka," saya kira idiom bukan zaman Siti Nurbaya masih menemukan bantahannya.

Oke, dua alasan menikah ini buat saya absurd. Seabsurd keputusan orang untuk memasukan Twilight ke dalam nominasi Oscar.

Saya kira pernikahan itu adalah perjudian. Kita bisa beruntung dan bahagia hidup selamanya. Atau menjadi tersiksa pelan-pelan dalam sebuah neraka yang kita sepakati bersama keberadaannya. Orang-orang yang memutuskan menikah, dalam bayangan saya, adalah para pelaut dan petualang yang rela mengadu hidup untuk sesuatu yang tak pernah mereka ketahui ujung dan pangkalnya.

Saya bertanya pada Arief lalu setelah menikah mau apa? Apa kamu gak takut pada suatu saat hidupmu yang bebas itu akan terbelenggu dengan kewajiban-kewajiban purba. Bahwa lelaki mesti menafkahi istri dan kau mesti jadi imam. Sekali lagi Arief yang memang ajaib ini menjawab dengan sesuatu yang tak pernah saya pikirkan. "Lelaki tak bisa selamanya lari dari tanggung jawab, ini kewajiban agama kita, toh juga mumpung ada yang mau," katanya.

Saya tahu dalam islam, menikah menyempurnakan separuh agama. Alasannya jelas, karena dalam pernikahan ia melegalkan banyak hal yang sebelumnya berpotensi menjadi dosa. Seperti seks, bersentuhan, pandangan nafsu dan juga otoritas terhadap orang lain. Menikah, toh menurut saya, nampak seperti dominasi lelaki terhadap istrinya. Pernikahan seringkali menjadi sebuah prototipe tiran karena rasa kepemilikan timbang rekanan sejajar.

Saya juga bertanya kepada Utie seminggu sebelum ia menikah. Kami berbincang dalam sebuah warung bakso lama sekali. Berbincang soal masa SMA dan bagaimana sebenarnya kami dulu sangat naif dan gembira. Juga fakta bahwa ia merindukan berbuat hal-hal tolol bersama dan tertawa dihukum karena kesalahan tadi. "Tapi aku perempuan Man (nama saya Arman). Aku gak bisa selamanya gitu. Dan masku ini orangnya polos aku yakin dia bisa jadi imam yang baik," katanya.

Oke, bagaimana seseorang bisa tahu ia bisa jadi baik di masa depan padahal ia baru bertemu beberapa kali saja?

Saya kira pernihakan, seperti juga jatuh cinta, kerap kali lahir dari alasan-alasan yang bodoh dan aneh. Pernikahan bukan melulu perihal tanggung jawab. Juga bukan tentang meneruskan keturunan. Atau karena bosan ditanyain "kapan nikah?". Tapi lebih pada sebuah keputusan sadar yang dibuat oleh orang dewasa yang sadar akan konsekwensi setelah keputusan itu disepakati bersama. Pernikahan seharusnya menjadi kontrak mati yang melekat pada satu individu. Selamanya.

Toh ada juga orang-orang brengsek yang memutuskan bercerai karena bosan. Bapak saya misalnya. Pernikahan selama hampir 28 tahun mesti berakhir karena alasan yang kekanakan dan terlalu tengil untuk bisa dimaklumi. Puber kedua. Juga karena orang tua mestinya paham bahwa saat ia telah memiliki keturunan, perceraian bukan sekedar untuk diri mereka sendiri. Tapi anak-anak mereka juga.

Maka, saat sahabat cum pembantu saya memutuskan bertunangan. Saya selalu terbayang pada lima tahun kehidupan bersamanya. Apa bisa? Ia lelaki yang selalu bersenggama dengan kebebasan dan merindu petualangan, hendak diikat dengan sebuah ikatan sentimentil primordial yang bertele-tele? "Suatu saat lelaki yang pergi mesti memiliki suatu alasan untuk pulang," kira-kira begitu alasannya bertunangan.

Oke, memiliki ibu yang sendirian dan mencintaimu tanpa syarat apakah kurang menjadi alasan untuk pulang?
Merujuk pada banyak hadist dalam islam, penciptaan perempuan lebih pada sosok sekunder. Bahwa Adam dikabarkan bosan dengan segala kenikmatan surga dan merasa kesepian. Lalu Allah menciptakan Hawa sebagai pelengkap. Di sini ada sebuah penanaman nilai yang salah dalam penyampaian sejarah peradaban manusia. Bahwa wanita diciptakan sebagai pemuas rasa bosan dan sekedar "Adam tak lagi kesepian".

Maka banyak kemudian yang menganggap pernikahan adalah sebuah kondisi apa boleh buat, dari dua orang yang terlanjur hidup bersama terlalu lama. Saya kerap kali ragu, bahwa manusia bisa melakukan hal seperti itu. Toh pada awal mula penciptaan saja konsepsi kesetaraan wanita dan lelaki sudah berbeda. Ini yang membuat saya mengafirmasi bahwa, pernikahan adalah perceraian yang tertunda.

Apakah ia orang yang tepat? Apakah ia bisa jadi ayah/ibu yang baik bagi anak-anak saya? Apakah ia bisa menerima keluarga saya? Dan lebih dari itu apakah kami akan bisa terus menerus mengakomodir perbedaan dan berkompromi pada ego masing masing? Kerap kali dalam sebuah pernikahan posisi lelaki menjadi lebih dominan. Meski saya kenal beberapa pernikahan yang justru si Istri yang dominan.

Wanita, masih dalam hadist yang sama, adalah sosok yang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sehingga ia digambarkan sebagai sosok manusia yang berkepribadian bengkok. Sementara lelaki tak mendapat deskripsi yang sama. Malah oleh Rasulullah, melalui sahih Muslim, "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan... namun padanya ada kebengkokan"

Oke, memangnya saat kita menikah lelaki tak bisa dan tak punya pikiran untuk melakukan tindakan 'bengkok'?
Menikah bukan lagi urusan untuk mengembalikan rusuk yang hilang. Atau meluruskan perempuan yang bengkok. Ia perkara banyak hal. Bukan melulu seks, bukan melulu ahlak, bukan melulu beranak, dan juga bukan melulu terhindar dari pertanyaan kapan nikah. Pernikahan, meminjam bahasa Soe Hok Gie, adalah keberanian menghadapi yang tanda tanya.

Kita tak lagi berpikir akan diri sendiri. Bahwa seusai ijab qabul atau pemberkatan gereja. Ada orang lain yang besok akan bangun pagi di samping kita. Juga kemungkinan dalam beberapa tahun ada keturunan yang tak sengaja kita buat. Juga bahwa kita bertanggung jawab atas keselamatan, kebahagiaan dan rasa nyaman pasangan kita. Berbagai hal rumit yang berkelindan yang tak pernah ada buku manualnya.

Tapi "Kau tak pernah menikah, jadi jangan sok tau," ya benar saya belum menikah. Tapi bukankah kita sama-sama bisa membayangkan imaji naga meski tak pernah melihatnya. Juga bisa membayangkan the death star dalam Star Wars meski itu tak pernah benar-benar ada. Kita mahluk yang secara jenius Tuhan ciptakan, untuk bisa membayangkan dan merasakan sesuatu yang di luar diri kita.

Meski toh tak pernah ada sebuah kesepakatan pada imaji yang tak terbentuk nyata. Seperti juga pernikahan bagi saya, yang tak menikah. Untuk itu saya mengagumi orang-orang yang berani menikah meski mereka tahu ada banyak hal yang tak cocok dari pasangan mereka. Seperti yang dilakukan dua sahabat saya beberapa bulan lalu.

Mereka adalah pasangan yang kerap putus nyambung dan hampir merasakan semua pahit getir sebuah komitmen mini bernama pacaran. Mulai dari selingkuh, pengkhianatan, cemburu, pasangan yang tak sensitif dan sebagainya. Toh itu tak menghentikan mereka menikah. "Karena memang tak ada yang sempurna. Tapi menerima apa yang ada dan belajar dari kesalahan tentu lebih baik," kata teman wanita saya yang menikah itu.

Saya kira saya, mungkin juga kalian, takut pada imaji pernikahan. Takut pada banyak hal yang mesti hilang dan banyak hal yang mesti jadi tanggung jawab saat menikah nanti. Bahwa kemerdekaan kita terebut dan kita tak bisa jatuh cinta lantas secara impulsif mengejar orang lain. Kita takut pada sesuatu yang tak pernah kita jalani.

Harusnya saya tak mendengarkan Maliq malam ini.

Sabtu, 19 Mei 2012

Kebenaran

Dalam sebuah fragmen yang teramat menyakitkan dalam film klasik Ladri di biciclette, Antonio Ricci harus menahan rasa malu dan kekecewaan luar biasa. Karena harus menjadi pesakitan karena menuntut apa yang menjadi haknya. Ini merupakan potret besar gambaran peradaban manusia yang cenderung menghamba pada suara yang paling nyaring, daripada suara yang paling benar. Bahwa selalu ada yang tak kasat mata ingin menyampaikan hukum purba bahwa orang-orang kalah tak punya tempat untuk membela diri.

Seperti juga Syahrir di pembuangan. Si bung kecil harus menjadi korban egoisme Sukarno yang terlanjur mencurigainya sebagai musuh. Ia terpaksa dipasung jauh dari negaranya karena dituduh terlibat dalam Bali Conection, yang sampai hari ini tak terbukti dan tak diperbaiki nama baik para tertuduhnya. Toh pada akhirnya si Bung Besar mengakui dalam penuturanya terhadap Cindy Adam. Bahwa tindakannya pada Bung Kecil adalah “hukum revolusi”: pukul musuh kamu, bunuh atau dibunuh. Penjarakan atau dipenjarakan.

Juga dengan Tezin Gyatso, si dalai lama ini mesti terusir dari tanah dimana ia dilahirkan. Untuk kemudian menjadi seorang desertir dan dianggap subversif. Kerap kali para pembaharu bernasib tak lebih baik dari ternak. Mereka mesti bersiasat untuk produktif, tetap dikenal, tetap berusara agar tetap bisa hidup dan kemudian menjadi martir. Perjuangan berganti dari milisi bedil menjadi pertemuan, seminar dan juga kuliah umum. Bertahan hidup untuk selalu tetap dalam sorotan dan tetap bertahan hidup. Meski tak selamanya demikian.

Lihatlah kematian miris yang mesti diterima oleh Hasan Al Banna. Pendiri Ikhwanul Muslimin ini mesti meregang nyawa setelah diberondong peluru. Meski harusnya ia bisa selamat jika saja selama dua jam setelah ia ditembak para dokter dan perawat mau menolongnya. Juga seperti banyak kisah dalam perjanjian lama. Tuhan punya wajah garang yang ia tunjukan justru kepada manusia-manusia yang memiliki kesalihan.

Ada rupa bengkok dalam suara nyaring manusia. Kebenaran tidak lagi menjadi sebuah acuan. Tetapi menjadi kerangka yang bisa dibelokkan, dipotong atau dihilangkan sama sekali. Tentu tak semuanya demikian. Melainkan ada sebagian pihak yang menjadikan kebenaran sebagai sebuah ancaman. Mereka tak ingin status quo dirinya terganggu sehingga menciptakan kebohongan-kebohongan yang teramat tengik.

Tentu Joseph Goebbels, mentri propaganda Nazi, bisa menjadi sebuah rujukan yang segar. Ia bisa dengan mudah melakukan kebohongan yang berulang dan menjadikannya kebenaran. Bahwa apa yang tak sejalan dengan pemikiran the third reicht harus menyingkir, hilang dan diganti dengan yang baru. Maka konspirasi licik dusta adalah cara baru membentuk pikiran yang polos.

Atau juga kisah maha dahsyat dari Korea Utara dengan segala mitos yang menyertai Kim Jong Il. Sang pemimpin besar adalah pahlawan digdaya. Pengampu balak sihir kapitalis barat. Seorang ksatria yang mampu pengalahkan monster made in USA. Juga tabib maha sakti yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Bagi mereka yang berpikiran waras tentu ini adalah lelucon yang sangat komikal. Tapi bagi para pendukungnya, Kim Jong Il, adalah kebenaran itu sendiri.

Hans Cristian Andersen dengan sangat cerdik membidik kisah ini dalam salah satu karya legendarisnya Pakaian Sang Raja. Bahwa seorang penipu bisa membengkokkan logika hanya dengan sebuah konsep absurd bernama “Kebersihan Hati”. Yang hal ini dihancurkan oleh seorang anak polos yang bertanya “Kok Raja Telanjang?” maka kebenaran itu melimpah ruah seperti air bah. Kebenaran, ditengah kebohongan, adalah sebuah trend yang menunggu nabi snobs untuk mewartakannya.

Belakangan ini saya semakin hari semakin merindukan tokoh muda seperti Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Tokoh yang akan selalu berkata apa adanya. Jujur tanpa tendeng aling-aling. Karena toh meski saya adalah terpelajar, kelakuan saya tak suci-suci amat. Ada beberapa hal yang membuat saya malu menjadi pengagum Wahib dan Gie.

Dalam salah catatan kecilnya, Wahib menuliskan “Hawa nafsu yang terkekang menimbulkan hipokrisi.” Kata kata ini mampu memancing polemik. Karena dalam banyak peradaban dan keyakinan nafsu adalah musuh yang mesti ditaklukan. Dalam islam sendiri ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “Jihad terbaik adalah jihad melawan hawa nafsu,”

Wahib, saya kira tahu betul apa konsekuensi dari penyampaian kata-kata itu. Ia sedang  berusaha mendekonstruksi apa yang telah menjadi keyakinan dan perjuangan banyak mujahid dan pemikir islam. Bahwa Nafsu hendaknya dikekang, atau dinihilkan untuk meraih apa yang disebut surga. Namun saya kira kita mesti adil menempatkan diri bahwa kebenaran adalah kebenaran, meski itu menyakitkan.

Dalam suatu adegan lain Gie juga bersitegang dengan gurunya saat masih duduk  di bangku sekolah. Perihal ada perbedaan antara pengarang dan penerjemah. Bahwa Chairil bukan pengarang Pulanglah Ia si Anak Hilang karya Gide. Ia hanya sekedar jembatan bagi orang lain untuk mengerti. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang guru, yang notabene terpelajar, bisa menjadi sangat fasis dan menolak kebenaran yang diberikan kepadanya.

Hari ini Indonesia butuh dari sekedar kebenaran. Negeri ini butuh orang-orang yang berani bertindak dan menujukan bahwa kebenaran itu ada. Bahwa kebenaran itu adalah universal dan bukan milik segelintir orang. Kebenaran bukanlah klaim yang bisa dimiliki sepihak tanpa ada upaya untuk menyangsikannya. Kebenaran adalah apa yang kita capai dari sebuah dialektika keraguan.

Tapi toh tak semuanya setuju konsep kebenaran yang demikian. Beberapa dari kita di negeri ini menganggap kebenaran adalah suatu yang turun dari langit. Sesuatu yang telah ada di sana dan tak boleh diragukan. Kebenaran adalah sebuah roh absolut yang mutlak diterima. Kebenaran yang demikian adalah sebuah dokrtin dogmatis yang kerap kali membawa korban daripada pencerahan.

Kita harusnya percaya bahwa siapapun yang mengatakan tuhan tak ada ia memiliki separuh kebenaran. Juga kepada siapapun yang mengatakan tuhan itu ada. Kita sama-sama awam dan dhaif dalam pembuktian sesuatu yang di luar diri kita. Namun kerap kali ada beberapa orang yang merasa lebih berhak dan memiliki otoritas lebih dalam pembelaan sesuatu yang bukan dirinya.

Adakalanya kita mesti melawan. Namun seringkali baiknya kita menahan diri. Bahwa kekerasan atas nama kebenaran tak pernah bisa dibenarkan. Bahkan oleh mereka yang menganggap dirinya wakil tuhan. Kita mestinya duduk bersama membicarakan hal-hal yang terlampau sulit dengan bahasa yang sederhana.

Bahwa kebenaran itu tak mesti tersimpan dalam tafsir-tafsir yang rumit namun bisa dipahami sebagai sebuah perbincangan yang ramah dan apa adanya. Masalahnya kini adalah, apakah kita siap? Untuk menerima kebenaran? Yang bisa jadi tepat dan bisa jadi salah? Semua kembali kepada diri kita masing masing. Toh semua ini hanya gumam kan?

Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Saya selalu berusaha menghindari mendengarkan semua lagu Sheila on 7. Bukan. Bukan karena saya seorang hipster yang merasa terlalu mainstream untuk mendengar band asal Jogja itu. Tapi karena Sheila terlalu banyak membawa kenangan dan membuat saya tanpa sadar menteskan air mata. Ya, saya rapuh dan sentimentil.

Tak mudah buat saya untuk berhenti dan mulai menggali lagi kenangan-kenangan yang menyakitkan. Perihal kematian yang terlalu mendadak dan perpisahan yang terlalu tengik. Ingatan mengenai seorang karib yang menggemari Sheila on 7, meninggal sekitar lima tahun lalu. Semua tak mudah dan saya kira tak akan pernah mudah untuk bercerita tentang kematian.

Malam ini saya dibuat mbrebes mili sendirian dalam kamar kosan. Mendengarkan streaming konser Sheila on 7 yang tengah berulang tahun di Jogja. Saya sudah memaksakan diri untuk tidur cepat. Mematikan laptop dan menyimpan baik-baik modem. "Malam ini tak ada Sheila. Sama seperti malam-malam yang terdahulu," kata saya dalam hati. Tapi seperti yang saya bilang. Saya rapuh dan sentimentil.

Toh saya beruntung untuk tak banyak mendengarkan nomor-nomor lagu legendaris dari dua album pertama. Saya menghidupkan laptop pada saat konser hampir berakhir. Tapi sepertinya Tuhan memang senang bercanda dengan pria-pria yang rapuh. Sekitar pukul 22.00 saya menghidupkan laptop, memasang modem, dan memutar live streaming konser 16 tahun Sheila on 7. Tepat saat mereka memutar lagu Hari Bersamanya dan hati saya seperti teriiris.

Ingatan saya terlempar pada waktu 12 tahun yang lalu. Saat saya masih duduk di bangku sekolah. Sebagai seorang nerd saya adalah pribadi pemalu yang mungkin hanya bisa berkomunikasi dengan buku dan playstation. Saya berusia 13 tahun dan hampir menamatkan SMP namun hanya memiliki tiga teman dekat. Hidup saya mungkin akan berakhir menyedihkan jika saya tak pernah mengenal Sheila on 7.

Almarhum Ahmad Dahlan, atau Klasik, adalah salah satu dari sedikit kawan yang saya punya. Kami berteman sejak SD dan ketika SMP kami berpisah sekolah. Ia melanjutkan sekolah di MTsN sedang saya ke SMP negeri. Meski berbeda sekolah intensitas pertemuan tetap terjaga meski akhirnya berkurang sama sekali. 

Tapi kami disatukan oleh kecintaan yang sama. Kecintaan terhadap musik yang renyah dan mudah dipahami.

Saat SD sampai menjelang SMP saya sangat menyukai Bragi (oh yeah kalian bisa menghina saya dengan ini) lalu menyukai Sheila On 7. Sedangkan Klasik adalah die hard fans Base Jam. Kami kerap berdebat panjang lebar mengenai mana yang lebih keren dari Bukan Pujangga atau Dan. Meski saya selalu menang dengan argumen "Base Jam keren di album kedua sementara Sheila selalu keren di awal kemunculannya,"

Siapapun yang besar dan belajar dewasa di era akhir 90an pasti mengenal Sheila On 7 dan Base Jam. Saya tak pernah berusaha membandingkan mereka, karena memang memiliki genre yang benar-benar berbeda. Saya mengibaratkan Sheila sebagai Rendra yang energik dan kritis dalam merajut lirik. Sementara Base Jam cenderung seperti Sapardi liris namun klise.

Sampai hari ini saya masih percaya bahwa Sheila adalah apa yang mereka susun dalam dua album pertama mereka. Saat ritme gitar cantik Sakti masih hidup dan gebukan santun Anton masih berima centil. Saat lirik-lirik mereka begitu menancap dalam sekali dengar. Saat musikalitas mereka masih kasar jujur dan apa adanya. 

Saya tak mengatakan Sheila hari ini membuat lirik yang populis, lemah dan susah diingat. Atau Sheila hari ini menjadi sangat tunduk pada pasar. Lebih dari itu. Saya ingin mengatakan Sheila pernah sangat cerdas dan jenius bahkan di awal kemunculan mereka. Sementara apa yang mereka capai hari ini adalah buah dari pengalaman dan polesan skill selama bertahun-tahun.

Jika sahabat saya klasik masih hidup, ia pasti akan menentang. Sekali waktu dalam perbincangan di rumahnya yang juga berfungsi sebagai wartel, ia berkata "Musik itu proses yang terus terjadi. Gak bisa diukur dari satu album," ia merujuk pada base jam yang saya akui memang menjadi dewasa pada album kedua mereka. 

Menjelang Ebtanas SMP kami mulai memisahkan diri. Kami sadar kami bukan anak yang pintar dan mesti belajar mati matian. Toh ada satu mata pelajaran yang tak membuat saya keteteran. Yaitu mata pelajaran keterampilan yang mewajibkan para siswanya ujian seni. Hanya ada satu keinginan saya saat itu. Menyanyikan lagu Sheila dengan diiringi alat musik akustik.

Tapi sayangnya saya tak bisa apa-apa. Saya menyukai puisi namun payah dalam membuat dan membaca puisi. Satu-satunya cara selamat dari ujian praktik kelompok adalah bergabung dengan kawan sekelas yang pintar memainkan alat musik. Lalu dengan suara fals dan berantakan saya berteriak-teriak menyanyikan lagu Temani Aku. Tak aada rasa malu atau keki, yang ada hanya sebuah kebanggaan membuncah dan kepala yang tegak.

Entah kebetulan atau tidak sepulang ujian Klasik menelpon saya dan mengatakan ia ingin sekolah di SMA Negeri dan mengatakan ingin meminjam kaset Sheila on 7 milik saya. Selepas itu kami berpisah selama beberapa minggu dan bertemu di sekolah sebagai seorang murid baru. Momen ini yang tak akan pernah saya lupakan. Karena saat itu saya mengejeknya dengan mengatakan. "Sheila emang apik to?" 

Diterima dalam satu sekolah yang sama membuat kami semakin asik berbincang soal musik. Di sini kami sama-sama belajar untuk menyukai musik dari satu sama lain. Ia belajar tentang betapa keren dan puitisnya lagu Dan milik Sheila. Saya belajar untuk memahami betapa gelap dan masokisnya Bukan Pujangga milik Base Jam. Dari kecintaan musik inilah saya belajar untuk menghargai perbedaan.

Di SMA saya berubah dari seorang nerd yang kutu buku menjadi pemuda tanggung yang mendadak gaul karena sudah mendengarkan Sheila on 7 dan Base Jam before it was cool. Call me a hipster but Bondowoso is really small town. Saya dan klasik toh tetap suka dan mengamini kekerenan Sheila hingga dua album setelah Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

Nama Klasik sendiri lahir dengan adegan yang komikal dan konyol. Saat itu di Bondowoso tengah ada produk rokok baru bernama classic dan entah apa lasannya ia memakai kaos itu saat tes masuk ekskul pecinta alam di SMA. Dari situ ia dikenal sebagai klasik.

Saya selalu percaya time flies real fast at high school. Terakhir yang saya ingat saya baru diterima dan dimaki-maki senior karena tak memakai pantofel. Lalu kemudian kami berada di pesta perpisahan dengan band sekolah yang menyanyikan lagu Sheila sebagai penutup konser. Tentu kalian bisa menebak apa judul lagunya. 

Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

Dua tahun kemudian kami sudah kuliah. Klasik memutuskan untuk kuliah di Malang dan mengambil jurusan teknik komputer. Sedangkan saya memutuskan tinggal di Jember dan kuliah di Fisip Unej. Kami masih seperti dulu. Saling bertukar buku, bertukar kaset dan bertukar cerita. Bedanya saat itu saya menyukai Linkin Park dan dia tetap setia pada Base Jam.

Suatu malam, dua hari menjelang kematiannya saya datang ke rumah klasik. Rumahnya masih seperti dulu. Sederhana dengan toko kecil yang dilengkapi tape mini kompo yang bersambung pada sound seadanya. Hari itu ia terlihat sangat kelelahan. Mukanya pucat. Entah kenapa saat saya datang ia memutar album pertama Sheila dan bukan Base Jam seperti biasanya.

Mungkin itu yang namanya pertanda. Dua hari kemudian ia meninggal.

Saya tak pernah menangis sekeras itu sebelumnya, yang kelak terulang saat kakak saya meninggal. Seperti yang saya bilang. Tak pernah ada kematian yang mudah. Terlebih bagi lelaki rapuh seperti saya. Hidup seringkali hanya sebuah fase untuk mempersiapkan kehidupan lain yang lebih abadi. Urip mung mampir ngombeh. Andai saja saat mampir itu kita tak perlu dekat dan mengenal orang lain.

Malam ini Sheila on 7 menutup konsernya dengan memutar lagu Sebuah Kisah Klasik. Beberapa tahun kenangan hidup bersama seorang sahabat yang telah meninggal seperti diputar dalam klise yang usang. Persis seperti ending dalam video klip mereka.

Malam ini juga menandai era baru konser yang selamanya tak akan saya lupakan. Saya mesti berterima kasih pada radio.pamityang2an yang mampi memampatkan jarak dan membuat saya seolah ada di venue konser. Sebuah konser digital yang disiarkan secara live. Saya belum pernah tahu ada band yang pernah melakukan cara ini.

Melalui streaming concert. Mereka yang berada ratusan kilo dari Jogja bisa bergabung dengan ribuan orang lainnya meneriakan lagu-lagu Sheila. Meringkuk di dalam kamar mengingat kenangan bersama kekasih, mantan kekasih atau dalam kasus saya. Bersama mendiang sahabat. 

Untuk itu saya berterima kasih. Terima kasih Sheila. Terima kasih karena kalian masih membuat saya ingat bahwa saya pernah punya sahabat yang baik. Mungkin diriku masih ingin bersama kalian. Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian.



Jumat, 18 Mei 2012

The Crossroads

Saya tidak percaya pada kata move on dan mungkin tidak akan pernah. Dalam banyak tulisan saya mengatakan bahwa manusia tak pernah dibekali manual untuk bertahan dari luka. Mereka mengembangkan kekebalan dari sekian banyak luka dan luka yang diterima. Tapi, seperti juga banyak virus, luka juga akan membentuk kekuatan baru yang akhirnya membuat kata move on menjadi sebuah ide imajiner. 

Move on hanya das solen yang tak pernah akan tercapai.

Namun dalam satu sajak yang tak begitu masyur dari Wystan Hugh Auden, epos The Quest, ia bercerita perihal kepergian. Bukan tentang perpisahan yang manis. Tapi lebih sebagai sebuah perpindahan dari rasa kecewa dan mencari sesuatu untuk menambal yang hilang. Saya kira ini adalah satu hal yang paling mendekati dari imaji manusia tentang move on. Yaitu sebuah pencarian yang tak kunjung selesai

Auden salah satu penyair, yang menurut saya, paling konsisten menggambarkan pencarian manusia tentang makna perjuangan hidup. Meski pada akhirnya ia gagal dalam merumuskan perjuangan manusia yang mana dan bagaimana. Ini adalah representasi paling degil dari keinginan manusia untuk move on. Bahwa kita sebenarnya tak pernah kemana-mana. Hanya berganti dan melupakan masalah yang ada.

Penyair kelahiran York itu berkata dalam salah satu Fragmen epos The Quest yang berjudul The Crossroads. Auden berkata "Two friends who met here and embraced are gone," kata Auden seolah menarik nafas panjang, "Each to his own mistake; one flashes on." Ia bercerita tentang persimpangan jalan dua sahabat yang mengambil jalan berbeda. Entah mengapa saya percaya ada beberapa orang yang melakukan perjalanan untuk menghilangkan kebencian.

Sebuah perjalanan yang dilakukan berdua, tak akan pernah berarti jika selalu sejalan seiring. Para pelakunya mesti dituntut untuk berpisah dan bertanggung jawab atas jalan yang mereka tempuh sendiri. Di situ pilihan-pilihan dan konsekuensi logis dari alasan melakukan perjalanan akan diadu dan dibuktikan kebenarannya. Perjalanan akan melumat setiap petualang yang setengah-setengah.

Sebenarnya saya malu saat ditantang untuk menuliskan destinasi terbaik untuk move on. Karena definisi ini terlalu asing buat saya yang gemar menyimpan dendam. Terma move on seringkali hanya sebuah apologi daripada sebuah usaha. Sehingga untuk saya yang selalu memahami hidup sebagai sebuah proses. Mendendam adalah sebuah keharusan. Ia adalah satu-satunya pelindung manusia terhadap resiko terluka untuk kesekian kalinya.

Saya jadi ingat kata-kata Al Imam Ghazali "Seringkali, untuk menemukan apa yang hilang. Kita harus keluar untuk mencari," Seperti yang terungkap dalam salah satu karya monumental"al-Munqidh min al-Dalal" disitu tergambar benar keinginannya untuk selamat dari kesesatan. Bahwa iman yang selama ini telah diterima berpotensi untuk korup. Maka ia memutuskan untuk mencari apa itu iman, dengan melakukan perjalanan pencarian.

Tapi apa yang sebenarnya kita cari dalam sebuah perjalanan? Apakah pemandangannya? Pengalaman? Atau sekedar kepuasan diri karena telah mencapai destinasi. Dari alasan-alasan yang ada saya memilih menjadikan perjalanan sebagai sebuah proses. Dari situ saya berfikir ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan dan move on buat saya adalah alasan yang paling absurd.

Namun apalah artinya hidup yang sudah pasti? Jika move on adalah sebuah konsep absurd? Mengapa tak meramaikannya sebagai ujian yang menantang? Maka jika kemudian saya kelak terluka (lagi) maka disinilah kiranya saya akan memilih untuk sembunyi dan memperbaiki diri. Mempersiapkan hidup untuk semakin pejal dan kuat. Here, we go!




1. Bromo

Ada sebuah ironi di sini. Saya kira kita mengenal mengenai sejarah Tengger dan bagaimana peradaban Bromo dibangun. Konon dalam sebuah hikayat, para pendiri Suku Tengger, adalah para pelarian yang menolak tunduk pada sebuah dogma setelah Majapahit runtuh. Di situ lahir manusia-manusia tangguh yang lebih memilih terasing daripada harus tunduk pada sebuah pemaksaan.

Bromo selalu memberikan para pengunjungnya kejutan yang menyenangkan. Barisan bukit yang mengelilingi kaldera dan beberapa hutan yang kini kondisinya mengkhawtirkan sejak erupsi terakhir. Juga keberadaan candi yang seolah-olah muncul begitu saja dari tengah padang pasir. Bromo adalah segala yang kalian inginkan dari sebuah pendakian yang mudah.

M.A.W Brouwer, seorang teolog dan psikolog, dalam salah satu esainya yang genit mengatakan "Bandung lahir Ketika Tuhan sedang tersenyum," maka saya percaya bahwa Tuhan sedang ingin sendiri saat ia menciptakan Bromo. Pegunungan ini selalu menyediakan berbagai sudut tersembunyi kala pagi, untuk mereka yang ingin sendiri menikmati matahari terbit yang cahayanya menerpa perbukitan Bromo dengan  magis.

Move on tak melulu berlalu dari masalah hati karena kekasih. Al Ghazali jelas menggambarkan hal itu dalam "al-Munqidh min al-Dalal" yang menjadikannya sebagai "seorang pencari tuhan". Ketidakpastian dalam hidup iman seseorang seringkali membuat mereka menuntut kestabilan. Berbeda dengan seorang hamba partikelir, seorang yang benar-benar beriman dan bertakwa akan selalu mencari dan mencari kebenaran.

Bromo dalam hal ini adalah sebagian dari banyak representasi manusia tentang mencari dan berusaha move on dari keraguan. Gunung atau bukit telah lama menjadi simbol kedekatan manusia dengan tuhan. Ingat hikayat Musa dan bukit Sinai. Juga penyaliban Kristus di Golgota. Di tanah air sendiri Bromo (atau Brahma) adalah lokasi utama dalam ritual kurban kasodo.

Di sini, saat saya sedang sangat terpuruk atas sebuah pengkianatan dan kehilangan cinta, saya belajar perihal berkorban dan menyesapi kehilangan. Bahkan dalam mitologi peradaban Tenger. Roro Anteng dan Joko Seger toh mesti mengorbankan salah satu anak kesayangannya untuk bisa hidup. Jadi pengorbanan, keikhlasan, dan kebahagiaan komunal adalah sebuah keseharian dari salah satu pegunungan terindah di Jawa ini.

Di hutan pinus Bromo yang sepi menjelang matahari terbit saya belajar. Hidup, seringkali, adalah tentang mempersiapkan diri untuk kehilangan.

Jika anda ke Bromo saya sarankan untuk datang sendiri. Karena kenikmatan pegunungan ini tak akan terasa maksimal dalam keramaian. Ia mesti dinikmati pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Mengelilingi berbagai sudut kampung yang ada dan berjalan di antara puluhan hektar kebun sayuran. Meresapi hidup di Bromo lebih seperti menikmati kopi pahit selepas tidur panjang. Ia memberikan sebuah pencerahan yang hanya dimiliki dengan melakukan proses yang lambat dan total.

Jangan bayangkan bahwa Bromo adalah sebuah pegunungan dengan jalur pendakian yang tinggi dan terjal. Mungkin memang ada di beberapa titik. Tapi jika sebuah gunung bisa saya tapaki puncaknya, maka siapapun bisa. Mengapa? Dengan badan seberat 95kg dan tubuh yang tak pernah diuji olah raga saya mampu. Mengapa anda tidak?

Ayo para manusia putus asa, datanglah ke Bromo! Nikmati kesendirian anda dengan cara yang paling magis. Hiduplah diantara pinus-pinusnya yang menjulang. Kebun sayur yang segar dan segala yang bernama kesunyian saat matahari terbit. Lalu lanjutkan hidup. Dengan atau tanpa mendendam.





2. Perpustakaan dari UI, I : Boekoe sampai C2O

Saya selalu percaya bahwa buku tak pernah mengkhianati. Setidaknya belum.  Buku selalu memberikan ruang untuk penyelamatan. Di dalamnya selalu ada barisan kata ajaib, kutipan monumental, atau sekedar deskripsi yang manis tentang berbagai hal. Sesuatu yang membuat kita sejenak lupa pada masalah-masalah tengik dalam hidup. Kitab suci, novel, kumpulan puisi hingga cerita stensil terbukti banyak memberikan penyembuhan, atau sekedar pelarian yang menyenangkan.

Saya ingat saat pertama kali saya patah hati di usia 12 tahun karena mencintai anak SMP yang 2 tahun lebih tua. 42 seri komik Dragon Ball menyelamatkan hidup saya dari sebuah melankolia masa muda. Juga pada saat saya dihina dengan sangat luar biasa karena menyatakan cinta pada kawan sekelas saat SMA. Supernova Dewi Lestari mampu melambungkan pikiran saya pada perdebatan sains yang melenakan. Buku telah banyak menyelamatkan saya dari kebodohan.

Sekali lagi, Auden dalam epos The Quest bab The Second Temptation menuliskan sebaris sajak perihal perpustakaan. "The library annoyed him with its look," katanya. Sebuah metafora paling tekstual yang saya yakini. Memang sebuah perpustakaan, yang tak dimiliki sendiri, selalu berhasil membuat saya kesal dengan segala isinya yang menggiurkan.

Ada tiga perpustakaan yang melekat dalam pikiran saya. Pertama adalah Perpustakaan Universitas Indonesia di Depok Jawa Barat, Perpustakaan I : Boekoe di Patehan Jogjakarta dan yang terakhir adalah perpustakaan otonom C2O di Surabaya. Seolah mengamini doa Jose Luis Borges yang mengatakan "Saya selalu percaya, surga adalah perpustakaan dengan banyak buku."

Perpustakaan UI, yang konon sumbangan dari dinasti Al Saud, terletak di jantung universitas paling biasa saja di Depok. Ia disandingkan dengan sebuah danau buatan dengan arsitektur gedung yang futuristik. Konon diklaim sebagai perpustakaan paling lengkap di Asia Tenggara. Saya tak sempat memasuki banyak ruang di dalamnya karena terlanjur terkejut dengan penampakan hantu bernama Starbucks.

Meski saya selalu berpendapat perpustakaan harus diberi jarak paling jauh dengan konsumerisme. Namun suasana dan imaji mengenai koleksi buku yang berkilo-kilo sudah membuat saya kegirangan. Bahwa di dalam perpustakaan yang entah berapa lantai itu menunggu berbagai buku kanon untuk dibaca. Di dinding terluarnya, pada 2011 lalu, saya membayangkan ada Satanic Verses dari Shalman Rusdie dan The Castle susunan Kafka.

Perpustakaan kedua adalah I:Boekoe yang terletak di Patehan Jogjakarta. Meski kota gudeg ini banyak menyimpan memori satir dalam hidup saya, I:Boekoe selalu membuat saya ingat bahwa hidup tak hanya sekedar mengingat mantan. Bahwa ada banyak buku yang belum terbaca dan menunggu dituntaskan.

Di sebuah gang yang menjorok dalam keramaian Alun-alun Kidul, I:Boekoe menawarkan sanctuary bagi para nerd untuk menyembuhkan diri. Di dalamnya ada banyak koleksi buku yang lumayan lengkap dari Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Adjidarma dan juga buku-buku terbitan dari si Empu perpustakaan. Lalu buku mana yang akan kau dustakan?

Terakhir adalah perputakaan C20 yang terletak di Surabaya. Saya hanya datang sekali di perpustakaan ini dan dengan bangga mengklaim "I'm home". Bukan karena banyak lokasi buku import yang memang telah lama saya cari seperti Don Quixote dan The Island. Tapi lebih pada sikap ramah si penjaga perpus dan tata letak perpustakaan yang melenakan dalam arti sebenarnya.

Perpustakaan ini memberikan semua yang saya butuhkan. Kesunyian yang tak terlalu, kedai kopi, ruang baca yang nyaman dan yang terpenting koleksi buku yang tak biasa. Cervantes, Zizek, Murakami, Nabokov dan Sapardi. Sebutkan maka kemungkinan kalian akan menemukan di dalam perpustakaan mungil di depan Konjen AS Surabaya ini.


***

Masih dalam fragmen The Crossroads, Auden menutup puisinya tersebut dengan beberapa baris puisi paling pilu yang pernah saya baca. Ia berkata "What friends could there be left then to betray, What joy take longer to atone for; yet" katanya lirih. "Who could complete without the extra day, The journey that should take no time at all?"  Disitu ia berbicara tentang sebuah pilihan dan konsekuensi logis dari sebuah perlarian. Meski kita seringkali lupa. Bahwa hidup bukan hanya menghadapi masalah. Tapi juga tentang belajar dari masalah dan menunggu waktu yang tepat untuk kelak membalasnya lebih keras.

Minggu, 13 Mei 2012

5 Sajak yang menggambarkan Indonesia



 Setidaknya sampai beberapa tahun yang lalu, saya masih percaya bahwa puisi dapat menyelamatkan umat manusia. Mereka hanya perlu duduk sebentar, mendengar baik baik, dan meresapi kata demi kata demi kata dengan segala panca indra yang ada. Merenungi setiap makna yang tersirat dalam sebuah stanza. Lalu merefleksikan kata tersebut dalam dirinya sendiri.

Tapi saya salah. Umat manusia tak akan pernah berubah hanya karena puisi.

Dahulu saat saya masih muda, bapak saya pernah menuturkan , Umar ibn Khatab yang barbar dan pembunuh keji itu. Meluluh hatinya dan menangis seperti kanak-kanak. Karena jatuh cinta pada sajak karya Allah dalam At Thaha. Hingga tanpa sadar ia berkata “Betapa indah dan mulia kata-kata ini,” katanya.

Bapak saya selalu berkata bahwa semua pemimpin dan kalifah besar dalam Islam adalah seorang penikmat puisi. Umar sebelum menjadi zuhud dan menjadi islam dikenal sebagai salah satu penikmat syair di Mekah. Belakangan saya kemudian menemukan, tak hanya dalam islam, para pemikir seperti Santo Fransiskus dari Asisi dan Fransis Bacon adalah seorang penikmat puisi.

Mereka adalah orang-orang yang bijak karena telah tercerahkan oleh makna kata-kata. Orang yang berani mencari tahu dan belajar bertafakur meresapi sajak-sajak sebagai pesan yang tersembunyi. Sayangnya tak semua manusia demikian. Beberapa manusia terlalu malas, dan seringkali, lebih percaya begitu saja yang tampak tanpa pernah mau belajar membaca yang tersirat.

Indonesia hari ini saya kira telah gagal menunjukan wajahnya yang indah. Indonesia seperti seorang ibu yang kelelahan melihat pertengkaran anak-anaknya yang gagal memahami bahwa mereka sebenarnya bersaudara. Dan seorang saudara tak sepantasnya saling menikam. Saya kira bangsa ini sudah dan tak akan pernah bisa memahami puisi sebagai media terapi.

Sebenarnya merumuskan tentang Indonesia itu adalah sebuah pekerjaan berat. Apalagi merumuskan tentang 5 sajak yang merepresentasikan Indonesia. Karena seringkali tanpa kita sadari, memaknai Indonesia sama dengan jawa. Banyak sajak yang dikenal dan diperkenalkan bercerita tentang jawa. Namun jarang sekali puisi yang mampu berbicara tentang Indonesia secara universal.

Akhir-akhir ini pula saya mengalami kegelisahan yang begitu hebat. Tentang kondisi bangsa ini yang semakin hari semakin keruh, panas dan gelisah. Kebencian dan kecurigaan menjadi sesuatu yang biasa. Kekerasan adalah bahasa sehari-hari. Hal ini mau tak mau membuat saya meyakini bahwa Indonesia tak lagi butuh puisi. Ia lebih butuh suatu penyelesaian yang manunggal.

Tapi kemudian saya berpikir kembali, jika saya menyerah pada sikap bar-bar maka saya tak lebih baik dari pelaku fasis tadi. Untuk itu saya kembali pada keheningan kamar. Membaca lagi beberapa tumpukan sajak-sajak yang tercerai berai. Menggeluti sekitar 40 buku untuk kemudian merunutkan kata-kata indah yang saya kira akan merepresentasikan Indonesia.

Tak mudah memang. Karena rupanya banyak penyair yang saya kumpulkan karyanya adalah orang yang tinggal di Jawa. Saya takut nanti menjadikan kumpulan sayak yang saya pilih adalah tentang jawa dan bukan tentang Indonesia. Tapi saya pikir biarlah para pembaca yang menilai. Bukankah sebuah tulisan tak lagi menjadi milik penulisnya? Ia sah menjadi mangsa para pembaca.

Inilah beberapa kumpulan Penyair dan Sajak yang saya pikir bisa merepresentasikan Indonesia saat ini.

1/ Goenawan Mohamad (Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum)

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan
Liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk
dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini takberkartu.
Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar
Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku? 
      Puisi ini menggambarkan sebuah teror. Sebuah tragedi yang terjadi menjelang pemilu. Kata-kata yang ditulis naratif dan membangun imajinasi sebuah desa yang sunyi. Lalu gempar karena sebuah penemuan mayat tak bertuan. Permainan diksi tak begitu banyak dilakukan GM saat itu. Namun puisi ini bisa membuat pembacanya menyusun imaji yang lugas. Bahwa sebuah politik bisa menjadi ladang pembantaian.

            Puisi ini ditulis GM pada 1971 saya kira merupakan kegelisahan bangsa muda yang baru bangkit dari keterpurukan. Pada 5 Juli 1971 Indonesia menyambut Pemilu pertama setelah orde baru bangkit. Saat itu ada 10 partai politik yang ikut serta. Dimana lima besar dalam Pemilu ini adalah Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

2/ Abdul Hadi W.M (Doa Untuk Indonesia)

Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalah berita-berita yang ditulis
Dalam bahasa yang kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kausimpan dalam dokumentasi dunia ?

Saya justru mengenal Abdul Hadi W.M sebagai penulis mengenai sufisme. Saya menikmati benar Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa sebagai sebuah telaah yang multi disiplin tentang salah satu pendekatan dalam beragama itu. Hal ini juga tercermin dalam banyak puisinya yang bersifat profetik dan fatalis.

Namun puisinya yang berjudul Doa Untuk Indonesia saya kira adalah salah satu karya Abdul Hadi yang paling baik. Di dalamnya ia berbicara panjang lebar perihal Indonesia. Aforisme dan estetika sajak yang sederhana membuat puisinya membumi. Puisi yang bisa dipahami bahkan oleh para fasis yang tak pernah membaca sajak sekalipun.

3/ Fikar W Eda (Seperti Belanda)
seperti Belanda
mereka suguhi kami anggur
hingga kami mendengkur
lalu dengan leluasa mengeruk perut kami
gas alam, minyak, emas, hutan,
sampai akar rumput bumi

Pertemuan pertama saya dengan Fikar terjadi saat Forum Penyair Internasional Indonesia di Surabaya. Bertempat di gedung Cak Durasim, Fikar dengan rambut yang terburai dan suara menggelegar, ia mampu membuat seluruh pengunjung di gedung itu larut dalam sajak yang indah mengenai tsunami Atjeh. Di situ segala identitas luruh menjadi satu. Menjadi kesedihan itu sendiri.

Dalam puisi berjudul Seperti Belanda, Fikar seolah ingin menjadi suara lantang yang menggugat Indonesia (dalam hal ini Jakarta) yang kerap kali bertingkah seperti penipu. Memberikan kita janji-janji, rasa nyaman dan juga kesenangan. Namun akhirnya menikam dari dalam. Atjeh, seperti juga Borneo dan Papua adalah bangsa-bangsa yang terlalu sering dikhianati.

4/ John Waromi (Wawini)
Para Mambotaran telah melangkahi utara
Anak-anak mereka sedang memanggul panah
dan tombak, menuju timur.
Hari masih subuh.
Saat Ampari, sang kakek renta
menegakkan punggungnya.

Sejauh ini John Waromi merupakan satu-satunya Indonesianis asal Papua. Ia mengejutkan saya dengan perkataan “Sukarno adalah seorang pemimpin hebat yang keinginannya kerap kali disalahartikan oleh saudara saya di Papua.” Saya terpukau dengan sikapnya yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan orang papuia yang saya temui.

Tapi tentu saja John, sebagai seorang penyair dan intelektual, memiliki keberpihakan yang jelas. Dalam puisi yang berjudul Wawini ia menggambarkan kehidupan pastoral di Papua. Tanha yang saat ini tengah bersimbah luka dikebiri haknya, diperkosa tubuhnya dan dizalimi penduduknya. John dengan cerdas menggambarkan keindahan Papua, yang bukan tak mungkin, pelan-pelan menuju kepunahan.

5/ WS Rendra (Sajak Sebatang Lisong)

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Ada sebuah video yang dibuat pada 19 Agustus 1977 di ITB. Seorang lelaki mengisap sebatang lisong. Ia adalah Rendra muda, dengan rambut gondrong dan dada terbuka. Berlatar api yang menggelora si burung merak bicara tentang Indonesia dalam bahasa yang paling sinis. Perihal birokrasi yang busuk, korupsi dan kebebalan aparatus negara yang ogah mengerti.

Sajak Sebatang Lisong yang tersususn dalam Potret Pembangunan bisa menjelma antitesis dari Repelita, GBHN dan juga SDSB. Bahwa pemerintah telah gagal memakmurkan bangsanya. Bahwa pemerintah saat ini hanya diisi oleh tiran tiran medioker yang menghamba pada komprador-komprador raksasa. Dan sepertinya Indonesia sedang di jual murah.