Minggu, 13 Mei 2012

5 Sajak yang menggambarkan Indonesia



 Setidaknya sampai beberapa tahun yang lalu, saya masih percaya bahwa puisi dapat menyelamatkan umat manusia. Mereka hanya perlu duduk sebentar, mendengar baik baik, dan meresapi kata demi kata demi kata dengan segala panca indra yang ada. Merenungi setiap makna yang tersirat dalam sebuah stanza. Lalu merefleksikan kata tersebut dalam dirinya sendiri.

Tapi saya salah. Umat manusia tak akan pernah berubah hanya karena puisi.

Dahulu saat saya masih muda, bapak saya pernah menuturkan , Umar ibn Khatab yang barbar dan pembunuh keji itu. Meluluh hatinya dan menangis seperti kanak-kanak. Karena jatuh cinta pada sajak karya Allah dalam At Thaha. Hingga tanpa sadar ia berkata “Betapa indah dan mulia kata-kata ini,” katanya.

Bapak saya selalu berkata bahwa semua pemimpin dan kalifah besar dalam Islam adalah seorang penikmat puisi. Umar sebelum menjadi zuhud dan menjadi islam dikenal sebagai salah satu penikmat syair di Mekah. Belakangan saya kemudian menemukan, tak hanya dalam islam, para pemikir seperti Santo Fransiskus dari Asisi dan Fransis Bacon adalah seorang penikmat puisi.

Mereka adalah orang-orang yang bijak karena telah tercerahkan oleh makna kata-kata. Orang yang berani mencari tahu dan belajar bertafakur meresapi sajak-sajak sebagai pesan yang tersembunyi. Sayangnya tak semua manusia demikian. Beberapa manusia terlalu malas, dan seringkali, lebih percaya begitu saja yang tampak tanpa pernah mau belajar membaca yang tersirat.

Indonesia hari ini saya kira telah gagal menunjukan wajahnya yang indah. Indonesia seperti seorang ibu yang kelelahan melihat pertengkaran anak-anaknya yang gagal memahami bahwa mereka sebenarnya bersaudara. Dan seorang saudara tak sepantasnya saling menikam. Saya kira bangsa ini sudah dan tak akan pernah bisa memahami puisi sebagai media terapi.

Sebenarnya merumuskan tentang Indonesia itu adalah sebuah pekerjaan berat. Apalagi merumuskan tentang 5 sajak yang merepresentasikan Indonesia. Karena seringkali tanpa kita sadari, memaknai Indonesia sama dengan jawa. Banyak sajak yang dikenal dan diperkenalkan bercerita tentang jawa. Namun jarang sekali puisi yang mampu berbicara tentang Indonesia secara universal.

Akhir-akhir ini pula saya mengalami kegelisahan yang begitu hebat. Tentang kondisi bangsa ini yang semakin hari semakin keruh, panas dan gelisah. Kebencian dan kecurigaan menjadi sesuatu yang biasa. Kekerasan adalah bahasa sehari-hari. Hal ini mau tak mau membuat saya meyakini bahwa Indonesia tak lagi butuh puisi. Ia lebih butuh suatu penyelesaian yang manunggal.

Tapi kemudian saya berpikir kembali, jika saya menyerah pada sikap bar-bar maka saya tak lebih baik dari pelaku fasis tadi. Untuk itu saya kembali pada keheningan kamar. Membaca lagi beberapa tumpukan sajak-sajak yang tercerai berai. Menggeluti sekitar 40 buku untuk kemudian merunutkan kata-kata indah yang saya kira akan merepresentasikan Indonesia.

Tak mudah memang. Karena rupanya banyak penyair yang saya kumpulkan karyanya adalah orang yang tinggal di Jawa. Saya takut nanti menjadikan kumpulan sayak yang saya pilih adalah tentang jawa dan bukan tentang Indonesia. Tapi saya pikir biarlah para pembaca yang menilai. Bukankah sebuah tulisan tak lagi menjadi milik penulisnya? Ia sah menjadi mangsa para pembaca.

Inilah beberapa kumpulan Penyair dan Sajak yang saya pikir bisa merepresentasikan Indonesia saat ini.

1/ Goenawan Mohamad (Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum)

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan
Liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk
dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini takberkartu.
Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar
Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku? 
      Puisi ini menggambarkan sebuah teror. Sebuah tragedi yang terjadi menjelang pemilu. Kata-kata yang ditulis naratif dan membangun imajinasi sebuah desa yang sunyi. Lalu gempar karena sebuah penemuan mayat tak bertuan. Permainan diksi tak begitu banyak dilakukan GM saat itu. Namun puisi ini bisa membuat pembacanya menyusun imaji yang lugas. Bahwa sebuah politik bisa menjadi ladang pembantaian.

            Puisi ini ditulis GM pada 1971 saya kira merupakan kegelisahan bangsa muda yang baru bangkit dari keterpurukan. Pada 5 Juli 1971 Indonesia menyambut Pemilu pertama setelah orde baru bangkit. Saat itu ada 10 partai politik yang ikut serta. Dimana lima besar dalam Pemilu ini adalah Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

2/ Abdul Hadi W.M (Doa Untuk Indonesia)

Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalah berita-berita yang ditulis
Dalam bahasa yang kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kausimpan dalam dokumentasi dunia ?

Saya justru mengenal Abdul Hadi W.M sebagai penulis mengenai sufisme. Saya menikmati benar Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa sebagai sebuah telaah yang multi disiplin tentang salah satu pendekatan dalam beragama itu. Hal ini juga tercermin dalam banyak puisinya yang bersifat profetik dan fatalis.

Namun puisinya yang berjudul Doa Untuk Indonesia saya kira adalah salah satu karya Abdul Hadi yang paling baik. Di dalamnya ia berbicara panjang lebar perihal Indonesia. Aforisme dan estetika sajak yang sederhana membuat puisinya membumi. Puisi yang bisa dipahami bahkan oleh para fasis yang tak pernah membaca sajak sekalipun.

3/ Fikar W Eda (Seperti Belanda)
seperti Belanda
mereka suguhi kami anggur
hingga kami mendengkur
lalu dengan leluasa mengeruk perut kami
gas alam, minyak, emas, hutan,
sampai akar rumput bumi

Pertemuan pertama saya dengan Fikar terjadi saat Forum Penyair Internasional Indonesia di Surabaya. Bertempat di gedung Cak Durasim, Fikar dengan rambut yang terburai dan suara menggelegar, ia mampu membuat seluruh pengunjung di gedung itu larut dalam sajak yang indah mengenai tsunami Atjeh. Di situ segala identitas luruh menjadi satu. Menjadi kesedihan itu sendiri.

Dalam puisi berjudul Seperti Belanda, Fikar seolah ingin menjadi suara lantang yang menggugat Indonesia (dalam hal ini Jakarta) yang kerap kali bertingkah seperti penipu. Memberikan kita janji-janji, rasa nyaman dan juga kesenangan. Namun akhirnya menikam dari dalam. Atjeh, seperti juga Borneo dan Papua adalah bangsa-bangsa yang terlalu sering dikhianati.

4/ John Waromi (Wawini)
Para Mambotaran telah melangkahi utara
Anak-anak mereka sedang memanggul panah
dan tombak, menuju timur.
Hari masih subuh.
Saat Ampari, sang kakek renta
menegakkan punggungnya.

Sejauh ini John Waromi merupakan satu-satunya Indonesianis asal Papua. Ia mengejutkan saya dengan perkataan “Sukarno adalah seorang pemimpin hebat yang keinginannya kerap kali disalahartikan oleh saudara saya di Papua.” Saya terpukau dengan sikapnya yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan orang papuia yang saya temui.

Tapi tentu saja John, sebagai seorang penyair dan intelektual, memiliki keberpihakan yang jelas. Dalam puisi yang berjudul Wawini ia menggambarkan kehidupan pastoral di Papua. Tanha yang saat ini tengah bersimbah luka dikebiri haknya, diperkosa tubuhnya dan dizalimi penduduknya. John dengan cerdas menggambarkan keindahan Papua, yang bukan tak mungkin, pelan-pelan menuju kepunahan.

5/ WS Rendra (Sajak Sebatang Lisong)

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Ada sebuah video yang dibuat pada 19 Agustus 1977 di ITB. Seorang lelaki mengisap sebatang lisong. Ia adalah Rendra muda, dengan rambut gondrong dan dada terbuka. Berlatar api yang menggelora si burung merak bicara tentang Indonesia dalam bahasa yang paling sinis. Perihal birokrasi yang busuk, korupsi dan kebebalan aparatus negara yang ogah mengerti.

Sajak Sebatang Lisong yang tersususn dalam Potret Pembangunan bisa menjelma antitesis dari Repelita, GBHN dan juga SDSB. Bahwa pemerintah telah gagal memakmurkan bangsanya. Bahwa pemerintah saat ini hanya diisi oleh tiran tiran medioker yang menghamba pada komprador-komprador raksasa. Dan sepertinya Indonesia sedang di jual murah.

2 komentar:

  1. Yang paling cocok memang sajak nomor 5. Saya setuju. Ini realita yang terlihat paling dekat dengan kondisi Indonesia saat ini. Birokrasi busuk, dan kebebalan aparatus negara. :)

    Salam.

    BalasHapus
  2. waah dikomen mbak ayu. *sembah nuwun*

    BalasHapus