Minggu, 27 Mei 2012

Air Mata



Jika ada satu bagian dari tubuh yang ingin saya hilangkan, maka itu adalah kelenjar air mata. Ia seringkali bekerja dengan cara yang sangat keparat.

Beberapa jam yang lalu Nuran, kawan saya, mengirimkan pesan singkat yang mengatakan bahwa ibu Panjul, seorang karib yang lain, meninggal dunia. Tubuh saya bergetar hebat. Saya seringkali tak bisa bersikap ramah pada kehilangan yang satu itu. Kematian telah benar-benar merubah kehidupan saya setahun lalu. Saat kehilangan kakak kandung saya yang meninggal akibat pendarahan organ dalam. Kematian adalah musuh terbesar dalam hidup saya.

Sejak saat itu saya menjadi berjarak dengan Tuhan. Dengan segala kecintaan yang pernah membuat saya dengan kusyuk mencium sajadah masjid lima waktu. Sesaat sebelum kematian kakak kandung saya meningggal, saya bergumam doa. "Jika memang segala amal perbuatanku dulu sholat lima waktu dan mengaji engkau terima. Ambillah, tapi jangan kau bawa pergi kakakku." Tapi rupanya Tuhan punya rencana lain. 

Sejak saat itu saya membenci segala apa yang dinilai Nya baik. Kematian kakak dan sahabat, membuat saya berpikir panjang yang melelahkan. Bahwa tak pernah ada kematian yang mudah. Ia membuat sebuah lubang besar dalam diri kita yang tak akan pernah bisa terisi kembali. Mungkin Tuhan, saya kira, senang membuat hamba Nya menjadi seorang yang limbung dan jatuh. Menguji sampai mana tapal batas keimanan yang ia miliki.

Sayangnya saya bukan nabi, yang bisa diam menangis dan menghadapi kematian anaknya dengan ratapan lirih.

Pelan-pelan saya merutuki kematian sebagai sebuah tindakan kejam. Ia mengambil mahluk hidup, yang telah lama ada disekitar kita, nyaman diantara kita, lalu wuss dengan sekejap mata mahluk hidup itu hilang dan tak akan pernah kembali lagi. Kita sebenarnya sedang berjuang mempersiapkan kehilangan. Sementara kematian selalu datang dengan cara yang paling mengejutkan.

Kematian selalu meninggalkan lubang. Ia meninggalkan ruang kosong. Seperti sebuah kursi tanpa pemilik di ujung meja makan. Menu masakan yang tak pernah hadir karena si pemamah sudah tak ada. Atau kamar yang tiba-tiba sepi dari suara lagu hair metal yang keras. Kematian kakak saya membuat rumah seperti ruang penyiksaan yang kelam. Dia menyisakan kenangan-kenangan yang tak mau lekas selesai. 

Saya tak pernah berusaha mengakrabi kematian juga keputusan tuhan saat menentukan kapan hal itu dilakukan. Meski toh saya tak ingin egois. Saat kita kehilangan seorang sodara, bukan diri kita sendiri yang terluka. Seluruh keluarga merasakan pedih yang teramat sangat. Bahkan mungkin dengan kadar yang lebih. Dalam hal ini saya selalu belajar pada ibu, yang dengan sekuat karang, masih tegar memeluk saya sepanjang malam saat hari kematian kakak saya.

Panjul kawan saya adalah lelaki yang sinis pada kehidupan. Ia adalah apa yang anda lihat dan bukan apa yang anda pikirkan. Saya banyak belajar tentang bagaimana bersikap sebagai diri sendiri darinya. Mendengar kabar bahwa ibu tirinya meninggal, saya mau tak mau, dipaksa mengingat perasaan saat saya kehilangan kakak saya. Saat ini entah dimana Panjul pasti tertusuk kesedihan. Hanya saja, mungkin ia sedikit lebih cerdik perihal menyembunyikan perasaan.

Untuk Panjul saya hendak mengutip puisi dari WS Rendra. Perihal rasa sayang kepada seorang ibu. Ibu tak mesti orang yang melahirkan kita. Ibu adalah seorang perempuan yang mencintai anak-anak dengan tulus dan tanpa syarat. Mereka adalah sekeping sosok Tuhan yang mewahdatul wujud dalam bentuk mahluk. Ibu adalah segala yang kau beri nama keiklhasan tanpa batas.

Ibunda

Engkau adalah bumi, Mama

aku adalah angin yang kembara.
Engkau adalah kesuburan
atau restu atau kerbau bantaian.
Kuciumi wajahmu wangi kopi
dan juga kuinjaki sambil pergi
kerna wajah bunda adalah bumi.
Cinta dan korban tak bisa dibagi.
Ibu adalah sosok tegar yang bisa sekuat karang. Ibu saya sendiri mengajarkan bahwa tak perlu takut dan marah kepada tuhan atas kehilangan. "Hidup yang sebenarnya, ada di balik nisan," katanya. Ia selalu mengatakan itu dengan mukena dan ciuman lembut di ubun-ubun saya. Entah mengapa saya ingin sekali mengatakan itu pada Panjul. Mungkin saja, hidup yang lebih  mulia menunggu ibu tirinya di balik nisan.

Kita tak pernah bisa memahami apa maksud dari sebuah kehilangan dan kematian. Bahwa manusia mesti belajar dari rasa sakit dan ketiadaan untuk bisa menghargai hidup. Panjul, dalam hal ini, adalah orang yang pernah menghibur saya saat kakak meninggal. Tak pernah ada kata-kata yang sempurna yang bisa menggenapi duka. Setidaknya, lewat tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa Panjul dicintai. Oleh saya dan kawan-kawan lain.

Malam ini dia mungkin dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Samar-samar saya membayangkan perasaan Panjul akan sama seperti saat saya pulang dari Jogja untuk menemui bahwa kakak saya sudah menjadi jasad dingin kaku. Perjalanan pulang menyambut kematian itu seperti membiarkan diri dibakar pelan-pelan dengan api kecil. Perasaan sakit dan luka itu semula pias namun kian menusuk tajam dan itu tak akan pernah lebih mudah.

Beberapa hari sebelumnya Panjul menulis sebuah notes yang satir lagi melankolis. Saya kira dia adalah sedikit orang yang bisa benar-benar menuliskan perasaan tanpa perlu mendayu-dayu. "Hidupnya adalah perpaduan api dan batu, nanah dan darah. Air mata hanyalah sia-sia." Mungkin benar kehidupan bukan air mata. Tapi saya selalu percaya dengan menangis, sedikit demi sedikit, lubang yang menganga tadi bisa tertutupi.

Dan malam ini entah kenapa air mata saya enggan berhenti keluar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar