Jumat, 18 Mei 2012

The Crossroads

Saya tidak percaya pada kata move on dan mungkin tidak akan pernah. Dalam banyak tulisan saya mengatakan bahwa manusia tak pernah dibekali manual untuk bertahan dari luka. Mereka mengembangkan kekebalan dari sekian banyak luka dan luka yang diterima. Tapi, seperti juga banyak virus, luka juga akan membentuk kekuatan baru yang akhirnya membuat kata move on menjadi sebuah ide imajiner. 

Move on hanya das solen yang tak pernah akan tercapai.

Namun dalam satu sajak yang tak begitu masyur dari Wystan Hugh Auden, epos The Quest, ia bercerita perihal kepergian. Bukan tentang perpisahan yang manis. Tapi lebih sebagai sebuah perpindahan dari rasa kecewa dan mencari sesuatu untuk menambal yang hilang. Saya kira ini adalah satu hal yang paling mendekati dari imaji manusia tentang move on. Yaitu sebuah pencarian yang tak kunjung selesai

Auden salah satu penyair, yang menurut saya, paling konsisten menggambarkan pencarian manusia tentang makna perjuangan hidup. Meski pada akhirnya ia gagal dalam merumuskan perjuangan manusia yang mana dan bagaimana. Ini adalah representasi paling degil dari keinginan manusia untuk move on. Bahwa kita sebenarnya tak pernah kemana-mana. Hanya berganti dan melupakan masalah yang ada.

Penyair kelahiran York itu berkata dalam salah satu Fragmen epos The Quest yang berjudul The Crossroads. Auden berkata "Two friends who met here and embraced are gone," kata Auden seolah menarik nafas panjang, "Each to his own mistake; one flashes on." Ia bercerita tentang persimpangan jalan dua sahabat yang mengambil jalan berbeda. Entah mengapa saya percaya ada beberapa orang yang melakukan perjalanan untuk menghilangkan kebencian.

Sebuah perjalanan yang dilakukan berdua, tak akan pernah berarti jika selalu sejalan seiring. Para pelakunya mesti dituntut untuk berpisah dan bertanggung jawab atas jalan yang mereka tempuh sendiri. Di situ pilihan-pilihan dan konsekuensi logis dari alasan melakukan perjalanan akan diadu dan dibuktikan kebenarannya. Perjalanan akan melumat setiap petualang yang setengah-setengah.

Sebenarnya saya malu saat ditantang untuk menuliskan destinasi terbaik untuk move on. Karena definisi ini terlalu asing buat saya yang gemar menyimpan dendam. Terma move on seringkali hanya sebuah apologi daripada sebuah usaha. Sehingga untuk saya yang selalu memahami hidup sebagai sebuah proses. Mendendam adalah sebuah keharusan. Ia adalah satu-satunya pelindung manusia terhadap resiko terluka untuk kesekian kalinya.

Saya jadi ingat kata-kata Al Imam Ghazali "Seringkali, untuk menemukan apa yang hilang. Kita harus keluar untuk mencari," Seperti yang terungkap dalam salah satu karya monumental"al-Munqidh min al-Dalal" disitu tergambar benar keinginannya untuk selamat dari kesesatan. Bahwa iman yang selama ini telah diterima berpotensi untuk korup. Maka ia memutuskan untuk mencari apa itu iman, dengan melakukan perjalanan pencarian.

Tapi apa yang sebenarnya kita cari dalam sebuah perjalanan? Apakah pemandangannya? Pengalaman? Atau sekedar kepuasan diri karena telah mencapai destinasi. Dari alasan-alasan yang ada saya memilih menjadikan perjalanan sebagai sebuah proses. Dari situ saya berfikir ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan dan move on buat saya adalah alasan yang paling absurd.

Namun apalah artinya hidup yang sudah pasti? Jika move on adalah sebuah konsep absurd? Mengapa tak meramaikannya sebagai ujian yang menantang? Maka jika kemudian saya kelak terluka (lagi) maka disinilah kiranya saya akan memilih untuk sembunyi dan memperbaiki diri. Mempersiapkan hidup untuk semakin pejal dan kuat. Here, we go!




1. Bromo

Ada sebuah ironi di sini. Saya kira kita mengenal mengenai sejarah Tengger dan bagaimana peradaban Bromo dibangun. Konon dalam sebuah hikayat, para pendiri Suku Tengger, adalah para pelarian yang menolak tunduk pada sebuah dogma setelah Majapahit runtuh. Di situ lahir manusia-manusia tangguh yang lebih memilih terasing daripada harus tunduk pada sebuah pemaksaan.

Bromo selalu memberikan para pengunjungnya kejutan yang menyenangkan. Barisan bukit yang mengelilingi kaldera dan beberapa hutan yang kini kondisinya mengkhawtirkan sejak erupsi terakhir. Juga keberadaan candi yang seolah-olah muncul begitu saja dari tengah padang pasir. Bromo adalah segala yang kalian inginkan dari sebuah pendakian yang mudah.

M.A.W Brouwer, seorang teolog dan psikolog, dalam salah satu esainya yang genit mengatakan "Bandung lahir Ketika Tuhan sedang tersenyum," maka saya percaya bahwa Tuhan sedang ingin sendiri saat ia menciptakan Bromo. Pegunungan ini selalu menyediakan berbagai sudut tersembunyi kala pagi, untuk mereka yang ingin sendiri menikmati matahari terbit yang cahayanya menerpa perbukitan Bromo dengan  magis.

Move on tak melulu berlalu dari masalah hati karena kekasih. Al Ghazali jelas menggambarkan hal itu dalam "al-Munqidh min al-Dalal" yang menjadikannya sebagai "seorang pencari tuhan". Ketidakpastian dalam hidup iman seseorang seringkali membuat mereka menuntut kestabilan. Berbeda dengan seorang hamba partikelir, seorang yang benar-benar beriman dan bertakwa akan selalu mencari dan mencari kebenaran.

Bromo dalam hal ini adalah sebagian dari banyak representasi manusia tentang mencari dan berusaha move on dari keraguan. Gunung atau bukit telah lama menjadi simbol kedekatan manusia dengan tuhan. Ingat hikayat Musa dan bukit Sinai. Juga penyaliban Kristus di Golgota. Di tanah air sendiri Bromo (atau Brahma) adalah lokasi utama dalam ritual kurban kasodo.

Di sini, saat saya sedang sangat terpuruk atas sebuah pengkianatan dan kehilangan cinta, saya belajar perihal berkorban dan menyesapi kehilangan. Bahkan dalam mitologi peradaban Tenger. Roro Anteng dan Joko Seger toh mesti mengorbankan salah satu anak kesayangannya untuk bisa hidup. Jadi pengorbanan, keikhlasan, dan kebahagiaan komunal adalah sebuah keseharian dari salah satu pegunungan terindah di Jawa ini.

Di hutan pinus Bromo yang sepi menjelang matahari terbit saya belajar. Hidup, seringkali, adalah tentang mempersiapkan diri untuk kehilangan.

Jika anda ke Bromo saya sarankan untuk datang sendiri. Karena kenikmatan pegunungan ini tak akan terasa maksimal dalam keramaian. Ia mesti dinikmati pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Mengelilingi berbagai sudut kampung yang ada dan berjalan di antara puluhan hektar kebun sayuran. Meresapi hidup di Bromo lebih seperti menikmati kopi pahit selepas tidur panjang. Ia memberikan sebuah pencerahan yang hanya dimiliki dengan melakukan proses yang lambat dan total.

Jangan bayangkan bahwa Bromo adalah sebuah pegunungan dengan jalur pendakian yang tinggi dan terjal. Mungkin memang ada di beberapa titik. Tapi jika sebuah gunung bisa saya tapaki puncaknya, maka siapapun bisa. Mengapa? Dengan badan seberat 95kg dan tubuh yang tak pernah diuji olah raga saya mampu. Mengapa anda tidak?

Ayo para manusia putus asa, datanglah ke Bromo! Nikmati kesendirian anda dengan cara yang paling magis. Hiduplah diantara pinus-pinusnya yang menjulang. Kebun sayur yang segar dan segala yang bernama kesunyian saat matahari terbit. Lalu lanjutkan hidup. Dengan atau tanpa mendendam.





2. Perpustakaan dari UI, I : Boekoe sampai C2O

Saya selalu percaya bahwa buku tak pernah mengkhianati. Setidaknya belum.  Buku selalu memberikan ruang untuk penyelamatan. Di dalamnya selalu ada barisan kata ajaib, kutipan monumental, atau sekedar deskripsi yang manis tentang berbagai hal. Sesuatu yang membuat kita sejenak lupa pada masalah-masalah tengik dalam hidup. Kitab suci, novel, kumpulan puisi hingga cerita stensil terbukti banyak memberikan penyembuhan, atau sekedar pelarian yang menyenangkan.

Saya ingat saat pertama kali saya patah hati di usia 12 tahun karena mencintai anak SMP yang 2 tahun lebih tua. 42 seri komik Dragon Ball menyelamatkan hidup saya dari sebuah melankolia masa muda. Juga pada saat saya dihina dengan sangat luar biasa karena menyatakan cinta pada kawan sekelas saat SMA. Supernova Dewi Lestari mampu melambungkan pikiran saya pada perdebatan sains yang melenakan. Buku telah banyak menyelamatkan saya dari kebodohan.

Sekali lagi, Auden dalam epos The Quest bab The Second Temptation menuliskan sebaris sajak perihal perpustakaan. "The library annoyed him with its look," katanya. Sebuah metafora paling tekstual yang saya yakini. Memang sebuah perpustakaan, yang tak dimiliki sendiri, selalu berhasil membuat saya kesal dengan segala isinya yang menggiurkan.

Ada tiga perpustakaan yang melekat dalam pikiran saya. Pertama adalah Perpustakaan Universitas Indonesia di Depok Jawa Barat, Perpustakaan I : Boekoe di Patehan Jogjakarta dan yang terakhir adalah perpustakaan otonom C2O di Surabaya. Seolah mengamini doa Jose Luis Borges yang mengatakan "Saya selalu percaya, surga adalah perpustakaan dengan banyak buku."

Perpustakaan UI, yang konon sumbangan dari dinasti Al Saud, terletak di jantung universitas paling biasa saja di Depok. Ia disandingkan dengan sebuah danau buatan dengan arsitektur gedung yang futuristik. Konon diklaim sebagai perpustakaan paling lengkap di Asia Tenggara. Saya tak sempat memasuki banyak ruang di dalamnya karena terlanjur terkejut dengan penampakan hantu bernama Starbucks.

Meski saya selalu berpendapat perpustakaan harus diberi jarak paling jauh dengan konsumerisme. Namun suasana dan imaji mengenai koleksi buku yang berkilo-kilo sudah membuat saya kegirangan. Bahwa di dalam perpustakaan yang entah berapa lantai itu menunggu berbagai buku kanon untuk dibaca. Di dinding terluarnya, pada 2011 lalu, saya membayangkan ada Satanic Verses dari Shalman Rusdie dan The Castle susunan Kafka.

Perpustakaan kedua adalah I:Boekoe yang terletak di Patehan Jogjakarta. Meski kota gudeg ini banyak menyimpan memori satir dalam hidup saya, I:Boekoe selalu membuat saya ingat bahwa hidup tak hanya sekedar mengingat mantan. Bahwa ada banyak buku yang belum terbaca dan menunggu dituntaskan.

Di sebuah gang yang menjorok dalam keramaian Alun-alun Kidul, I:Boekoe menawarkan sanctuary bagi para nerd untuk menyembuhkan diri. Di dalamnya ada banyak koleksi buku yang lumayan lengkap dari Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Adjidarma dan juga buku-buku terbitan dari si Empu perpustakaan. Lalu buku mana yang akan kau dustakan?

Terakhir adalah perputakaan C20 yang terletak di Surabaya. Saya hanya datang sekali di perpustakaan ini dan dengan bangga mengklaim "I'm home". Bukan karena banyak lokasi buku import yang memang telah lama saya cari seperti Don Quixote dan The Island. Tapi lebih pada sikap ramah si penjaga perpus dan tata letak perpustakaan yang melenakan dalam arti sebenarnya.

Perpustakaan ini memberikan semua yang saya butuhkan. Kesunyian yang tak terlalu, kedai kopi, ruang baca yang nyaman dan yang terpenting koleksi buku yang tak biasa. Cervantes, Zizek, Murakami, Nabokov dan Sapardi. Sebutkan maka kemungkinan kalian akan menemukan di dalam perpustakaan mungil di depan Konjen AS Surabaya ini.


***

Masih dalam fragmen The Crossroads, Auden menutup puisinya tersebut dengan beberapa baris puisi paling pilu yang pernah saya baca. Ia berkata "What friends could there be left then to betray, What joy take longer to atone for; yet" katanya lirih. "Who could complete without the extra day, The journey that should take no time at all?"  Disitu ia berbicara tentang sebuah pilihan dan konsekuensi logis dari sebuah perlarian. Meski kita seringkali lupa. Bahwa hidup bukan hanya menghadapi masalah. Tapi juga tentang belajar dari masalah dan menunggu waktu yang tepat untuk kelak membalasnya lebih keras.

7 komentar:

  1. di bromo, saya kehilangan.


    aniwe, very nice story maaas dhani! gilak, as always.

    BalasHapus
  2. Bromo, seperti menghilangkan melankoli dalam jejak-jejak langkah sejarah. Pembersihan hipokampus yang tak stabil dengan jiwa, melalui napak tilas sejarah. Menarik. Kesendirian di sana sepertinya memang menuntut perenungan.

    Dan buku, saya pun hampir menghamba pada buku ketika jatuh. Bahkan, bukulah yang mampu mengangkat saya untuk bangkit.

    Nice share. :)

    Shalom.

    BalasHapus
  3. wuiiih... mbake.. sing sabar yo mbak :D

    BalasHapus
  4. :D tulisan moveon paling bagus
    tapi banyak istilah aku ga ngerti kaka. das solen apa artinya ya?

    BalasHapus
  5. Das solen kui sejenis molen. suatu cita-cita yang gak bakal tercapai.

    BalasHapus
  6. hiudp itu das sein. otak lah yang das solen. tapi bagaimanapun juga, tindakan juga selalu berdasar moral. bukankah itu esensi dari hidup beradab? hahahaha

    ngmg2, 31 jilid komik slam dunk juga menyelamatkan hidup saya dari jurang cinta buta. sungguh. saya berterima kasih mendalam sama takehiko inoue. tanpa dia, saya bodoh.

    BalasHapus