Kamis, 03 Mei 2012

Kepergian yang Tiba-tiba



Mari kita bicara perihal kehilangan yang tiba-tiba. Tentang orang asing yang sekejap menjadi dekat bukan karena kita mengenalnya selama bertahun-tahun. Namun lebih disebabkan oleh rasa rindu dan kaget yang bertaut berkelindan menjadi satu. Melahirkan perasaan baru bernama panik dan rasa malu. Kehilangan yang demikian tak pernah mudah dan mungkin akan selalu membekas.

Kehilangan selalu menyisakan beberapa detik yang hening. Namun detik-detik itu tak terikat definisi ruang dan waktu. Ia hadir sebagai sebuah entitas yeng meluruhkan segala panca indra. Sebuah kesunyian yang kudus. Seperti juga Tuhan yang selalu mengakrabi manusia dalam keheningan. Ia hadir dalam doa-doa yang lirih dan bukan mimbar yang besar.

Saya selalu meyakini, bahwa mereka yang telah meninggal, hanya akan tetap hidup dalam kenangan. Mereka tak benar-benar hilang. Mereka hanya berganti raga dan menjadi semacam proyeksi astral. Kita masih mengenai suara mereka, baunya, eksprsi sang mendiang dan juga percakapan-percakapan yang telah selesai. Di situ saya kira kematian tak berhasil merebut mereka yang kita cintai.

Kerap kali kehilangan identik dengan kepemilikan atau rasa memiliki. Namun tak jarang ia lahir dari sebuah rasa pertalian. Sebuah keterikatan yang tak bisa dijabarkan dalam sebaris kalimat. Hubungan yang lahir secara tiba-tiba, karena memang kematian, bisa menautkan sebuah hubungan yang tak pernah kita miliki sebelumnya.

Pada akhir 2009 selepas pulang dari Pekan Nasional Pers Mahasiswa (Pena Emas) di Makasar saya berkenalan dengan Budi Andana Marahimin di Facebook. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang kawan,  yang kebetulan kuliah di jurusan Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU). Orangnya ramah, periang dan cenderung suka berbagi. Dalam beberapa kesempatan kami kerap mengobrol via chat facebook.

Kami berdua langsung akrab. Seperti sepasang kawan lama yang tidak pernah bertemu. Saling bertukar informasi dan kadang juga bertukar canda. Budi, demikian saya menyapa, adalah pribadi yang dinamis enggan diam dan selalu gegas untuk menjadi lebih baik. Dia senang bergabung dalam suatu komunitas, berkenalan dan berjejaring. Bagi Budi, kawan adalah harta yang ingin ia bagi terhadap sesama.

Seperti juga Budi, saya menyenangi fotografi. Kami kian akrab saat ia menunjukan salah satu galeri digitalnya di deviantart.com sebuah jejaring seni internet. Kami sering bertukar pendapat perihal tone foto, pencahayaan, perihal infra red dan berbagai macam tetek bengek fotografi. Ia dalam banyak kesempatan, seperti seorang kakak yang dengan tekun mengajari adiknya yang bebal belajar hal baru. Dalam hal ini sayalah sang adik.

Kami tak pernah bertemu. Namun intensitas pergaulan kami selama 2010 sangat akrab. Namun saat 2011 saya mulai bekerja dan ia aktif dalam jejaring pemuda Indonesia kami jarang berinteraksi. Biasanya ia selalu aktif di sosial media untuk berbagi info pelatihan atau forum kepemudaan. Namun entah mengapa selama setahun terakhir ia tak ada kabar. Saya memiliki perasaan cemas yang tak berbentuk.

Rupanya benar perasaan saya itu. Dari seorang kawan di Medan, saya diberi tahu jika Budi telah meninggal dunia. Budi, seorang pejuang yang rendah hati itu, tengah bertempur dengan leukimia stadium empat. Saya tak pernah tahu mengenai penyakit ini. Dan ia juga bukan orang yang gemar unjuk kepedihan, ia adalah rekan yang lebih memilih berbagi kebahagiaan dan menyembunyikan rasa sakit rapat-rapat.

Saya tak pernah bertemu Budi dan tak akan pernah lagi bertatapan dengannya. Kami memiliki janji untuk menjelajahi Medan dan mengabadikan pasarnya. Mencicipi bika ambon dan juga menaiki bentor. Sayangnya semua itu tidak akan pernah terjadi. Requiem √¶ternam dona eis, Domine, et lux perpetua luceat eis. Semoga kedamaian menyertaimu dan cahaya menemanimu selalu.

Demikianlah. Seperti sebuah penggalan sajak Toto S. Bachtiar dalam Kereta Mati yang sangat masyur itu. Kematian Budi yang tiba-tiba seperti kejadian yang hadir dihadapan tanpa tanda. "Tiada karangan bunga tersilang / Tiada kepedihan enggan hampir" Karena peringatan atas sebuah keringatan adalah laku pilu. Sementara Manusia menangis di tepi pelabuhan penghabisan.

2 komentar:

  1. aku kenal dengan budi
    kalu mas enggak keberatan,,aku siap menggantikan bang budi buat nemenin mas menjelajahi medan dan mengabadikan pasarnya. meski mungkin rasanya tak akan sama

    #salam kenal

    BalasHapus
  2. Budi, sahabat yang baik. Salam kenal dari Medan.

    BalasHapus