Sabtu, 19 Mei 2012

Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Saya selalu berusaha menghindari mendengarkan semua lagu Sheila on 7. Bukan. Bukan karena saya seorang hipster yang merasa terlalu mainstream untuk mendengar band asal Jogja itu. Tapi karena Sheila terlalu banyak membawa kenangan dan membuat saya tanpa sadar menteskan air mata. Ya, saya rapuh dan sentimentil.

Tak mudah buat saya untuk berhenti dan mulai menggali lagi kenangan-kenangan yang menyakitkan. Perihal kematian yang terlalu mendadak dan perpisahan yang terlalu tengik. Ingatan mengenai seorang karib yang menggemari Sheila on 7, meninggal sekitar lima tahun lalu. Semua tak mudah dan saya kira tak akan pernah mudah untuk bercerita tentang kematian.

Malam ini saya dibuat mbrebes mili sendirian dalam kamar kosan. Mendengarkan streaming konser Sheila on 7 yang tengah berulang tahun di Jogja. Saya sudah memaksakan diri untuk tidur cepat. Mematikan laptop dan menyimpan baik-baik modem. "Malam ini tak ada Sheila. Sama seperti malam-malam yang terdahulu," kata saya dalam hati. Tapi seperti yang saya bilang. Saya rapuh dan sentimentil.

Toh saya beruntung untuk tak banyak mendengarkan nomor-nomor lagu legendaris dari dua album pertama. Saya menghidupkan laptop pada saat konser hampir berakhir. Tapi sepertinya Tuhan memang senang bercanda dengan pria-pria yang rapuh. Sekitar pukul 22.00 saya menghidupkan laptop, memasang modem, dan memutar live streaming konser 16 tahun Sheila on 7. Tepat saat mereka memutar lagu Hari Bersamanya dan hati saya seperti teriiris.

Ingatan saya terlempar pada waktu 12 tahun yang lalu. Saat saya masih duduk di bangku sekolah. Sebagai seorang nerd saya adalah pribadi pemalu yang mungkin hanya bisa berkomunikasi dengan buku dan playstation. Saya berusia 13 tahun dan hampir menamatkan SMP namun hanya memiliki tiga teman dekat. Hidup saya mungkin akan berakhir menyedihkan jika saya tak pernah mengenal Sheila on 7.

Almarhum Ahmad Dahlan, atau Klasik, adalah salah satu dari sedikit kawan yang saya punya. Kami berteman sejak SD dan ketika SMP kami berpisah sekolah. Ia melanjutkan sekolah di MTsN sedang saya ke SMP negeri. Meski berbeda sekolah intensitas pertemuan tetap terjaga meski akhirnya berkurang sama sekali. 

Tapi kami disatukan oleh kecintaan yang sama. Kecintaan terhadap musik yang renyah dan mudah dipahami.

Saat SD sampai menjelang SMP saya sangat menyukai Bragi (oh yeah kalian bisa menghina saya dengan ini) lalu menyukai Sheila On 7. Sedangkan Klasik adalah die hard fans Base Jam. Kami kerap berdebat panjang lebar mengenai mana yang lebih keren dari Bukan Pujangga atau Dan. Meski saya selalu menang dengan argumen "Base Jam keren di album kedua sementara Sheila selalu keren di awal kemunculannya,"

Siapapun yang besar dan belajar dewasa di era akhir 90an pasti mengenal Sheila On 7 dan Base Jam. Saya tak pernah berusaha membandingkan mereka, karena memang memiliki genre yang benar-benar berbeda. Saya mengibaratkan Sheila sebagai Rendra yang energik dan kritis dalam merajut lirik. Sementara Base Jam cenderung seperti Sapardi liris namun klise.

Sampai hari ini saya masih percaya bahwa Sheila adalah apa yang mereka susun dalam dua album pertama mereka. Saat ritme gitar cantik Sakti masih hidup dan gebukan santun Anton masih berima centil. Saat lirik-lirik mereka begitu menancap dalam sekali dengar. Saat musikalitas mereka masih kasar jujur dan apa adanya. 

Saya tak mengatakan Sheila hari ini membuat lirik yang populis, lemah dan susah diingat. Atau Sheila hari ini menjadi sangat tunduk pada pasar. Lebih dari itu. Saya ingin mengatakan Sheila pernah sangat cerdas dan jenius bahkan di awal kemunculan mereka. Sementara apa yang mereka capai hari ini adalah buah dari pengalaman dan polesan skill selama bertahun-tahun.

Jika sahabat saya klasik masih hidup, ia pasti akan menentang. Sekali waktu dalam perbincangan di rumahnya yang juga berfungsi sebagai wartel, ia berkata "Musik itu proses yang terus terjadi. Gak bisa diukur dari satu album," ia merujuk pada base jam yang saya akui memang menjadi dewasa pada album kedua mereka. 

Menjelang Ebtanas SMP kami mulai memisahkan diri. Kami sadar kami bukan anak yang pintar dan mesti belajar mati matian. Toh ada satu mata pelajaran yang tak membuat saya keteteran. Yaitu mata pelajaran keterampilan yang mewajibkan para siswanya ujian seni. Hanya ada satu keinginan saya saat itu. Menyanyikan lagu Sheila dengan diiringi alat musik akustik.

Tapi sayangnya saya tak bisa apa-apa. Saya menyukai puisi namun payah dalam membuat dan membaca puisi. Satu-satunya cara selamat dari ujian praktik kelompok adalah bergabung dengan kawan sekelas yang pintar memainkan alat musik. Lalu dengan suara fals dan berantakan saya berteriak-teriak menyanyikan lagu Temani Aku. Tak aada rasa malu atau keki, yang ada hanya sebuah kebanggaan membuncah dan kepala yang tegak.

Entah kebetulan atau tidak sepulang ujian Klasik menelpon saya dan mengatakan ia ingin sekolah di SMA Negeri dan mengatakan ingin meminjam kaset Sheila on 7 milik saya. Selepas itu kami berpisah selama beberapa minggu dan bertemu di sekolah sebagai seorang murid baru. Momen ini yang tak akan pernah saya lupakan. Karena saat itu saya mengejeknya dengan mengatakan. "Sheila emang apik to?" 

Diterima dalam satu sekolah yang sama membuat kami semakin asik berbincang soal musik. Di sini kami sama-sama belajar untuk menyukai musik dari satu sama lain. Ia belajar tentang betapa keren dan puitisnya lagu Dan milik Sheila. Saya belajar untuk memahami betapa gelap dan masokisnya Bukan Pujangga milik Base Jam. Dari kecintaan musik inilah saya belajar untuk menghargai perbedaan.

Di SMA saya berubah dari seorang nerd yang kutu buku menjadi pemuda tanggung yang mendadak gaul karena sudah mendengarkan Sheila on 7 dan Base Jam before it was cool. Call me a hipster but Bondowoso is really small town. Saya dan klasik toh tetap suka dan mengamini kekerenan Sheila hingga dua album setelah Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

Nama Klasik sendiri lahir dengan adegan yang komikal dan konyol. Saat itu di Bondowoso tengah ada produk rokok baru bernama classic dan entah apa lasannya ia memakai kaos itu saat tes masuk ekskul pecinta alam di SMA. Dari situ ia dikenal sebagai klasik.

Saya selalu percaya time flies real fast at high school. Terakhir yang saya ingat saya baru diterima dan dimaki-maki senior karena tak memakai pantofel. Lalu kemudian kami berada di pesta perpisahan dengan band sekolah yang menyanyikan lagu Sheila sebagai penutup konser. Tentu kalian bisa menebak apa judul lagunya. 

Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan.

Dua tahun kemudian kami sudah kuliah. Klasik memutuskan untuk kuliah di Malang dan mengambil jurusan teknik komputer. Sedangkan saya memutuskan tinggal di Jember dan kuliah di Fisip Unej. Kami masih seperti dulu. Saling bertukar buku, bertukar kaset dan bertukar cerita. Bedanya saat itu saya menyukai Linkin Park dan dia tetap setia pada Base Jam.

Suatu malam, dua hari menjelang kematiannya saya datang ke rumah klasik. Rumahnya masih seperti dulu. Sederhana dengan toko kecil yang dilengkapi tape mini kompo yang bersambung pada sound seadanya. Hari itu ia terlihat sangat kelelahan. Mukanya pucat. Entah kenapa saat saya datang ia memutar album pertama Sheila dan bukan Base Jam seperti biasanya.

Mungkin itu yang namanya pertanda. Dua hari kemudian ia meninggal.

Saya tak pernah menangis sekeras itu sebelumnya, yang kelak terulang saat kakak saya meninggal. Seperti yang saya bilang. Tak pernah ada kematian yang mudah. Terlebih bagi lelaki rapuh seperti saya. Hidup seringkali hanya sebuah fase untuk mempersiapkan kehidupan lain yang lebih abadi. Urip mung mampir ngombeh. Andai saja saat mampir itu kita tak perlu dekat dan mengenal orang lain.

Malam ini Sheila on 7 menutup konsernya dengan memutar lagu Sebuah Kisah Klasik. Beberapa tahun kenangan hidup bersama seorang sahabat yang telah meninggal seperti diputar dalam klise yang usang. Persis seperti ending dalam video klip mereka.

Malam ini juga menandai era baru konser yang selamanya tak akan saya lupakan. Saya mesti berterima kasih pada radio.pamityang2an yang mampi memampatkan jarak dan membuat saya seolah ada di venue konser. Sebuah konser digital yang disiarkan secara live. Saya belum pernah tahu ada band yang pernah melakukan cara ini.

Melalui streaming concert. Mereka yang berada ratusan kilo dari Jogja bisa bergabung dengan ribuan orang lainnya meneriakan lagu-lagu Sheila. Meringkuk di dalam kamar mengingat kenangan bersama kekasih, mantan kekasih atau dalam kasus saya. Bersama mendiang sahabat. 

Untuk itu saya berterima kasih. Terima kasih Sheila. Terima kasih karena kalian masih membuat saya ingat bahwa saya pernah punya sahabat yang baik. Mungkin diriku masih ingin bersama kalian. Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian.



3 komentar:

  1. Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali...

    Sheila on 7 dan Base Jam sekarang sudah kemana ya? Saya tidak mau komentar panjang, takutnya Anda mrebes mili lagi. :D

    Shalom.

    BalasHapus
  2. sheila semalam baru konser ultah ke 16. base jam yang entah dimana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Vokalis Base Jam mungkin sudah bertransformasi jadi Bang Adon Rearon, band grunge dari Sawangan, Depok. :))

      Hapus