Selasa, 12 Juni 2012

Skripsi Setan Sekali



Sebuah karya monumental lo fi yang cult pada eranya. Terbukti telah membuat para pendengarnya lulus dengan IPK cemerlang. Sebuah lagu asal musisi kamar yang rendah hati tidak sombong dan pintar bersolek. The dynamic duo. Awe Mayer dan Duik Ass Hole. Dalam salah satu single yang tak akan pernah dibuat lagi kembarannya. Skripi Setan Sekali!

Lagu yang pernah mengguncang jagat musik Indonesia karena menolak ditampilkan dalam acara musik pagi Dering dan Dahsyat. Dalam salah satu wawancara yang tertuang dalam majalah ESKUAYER, Awe Mayer sang ukuleler merasa Dahsyat dan Dering terlalu mainstream. "Kami hanya akan bermain jika Didi Kempot dan Paramitha Rusadi muncul dalam satu panggung," tutur Awe mantap.

Untuk itu kami segenap penggemar musik tepian kali code menampilkan lagi nomor klasik yang telah menjadi legenda ini. Hendaknya lagu ini didengar sebelum melakukan bimbingan. Sehingga anda bisa selamat sampai tujuan. Wasalam!



Status mahasiswa tingkat akhir
teori sudah pasti lepas
KKN juga sudah pulang
saatnya menatap masa depan
katakanlah sebuah kata yang cukup menyakitkan

skripsiii skripsiiii skripsiii skripsii

mulailah semuanya dengan bab 1
lalu lanjut dengan bab 1

bab satu itu teoori
bab satu tidak cukup tuk selesaikan semuanya
saatnya lanjut ke bab duaa
bab dua itu pendalaman teori
bab tiga itu institusi
bab empat itu analisis data

dan akhirnya sampailah pada bab lima
bab lima itu apa mas dwik?

Kesimpulan dan saraaan
jangan lupaaa halaman terimakasihhh
saatnya lalu lanjuut ke pendadaran
disitu kita diuji oleh dosen penguji

uooo ouoouuuoo

skrispii
skripsi
skripsiii setan sekaluu


auu


janganlah takut wahai kawan
pada skripsi
karena skripsi itu setan sekali

tapi setan itu takut pada orang yang soleh
makanya kuncinya hanya satu
apa mas duwik?

sholat
sholat lima waktu

berdoa  mengerjakan bab satu
lantas bab dua lanjut bab tiga bab empat
dan bab lima lalu pendadaran
karna itu skripsi
skripsi
asik sekali

skripsi
skripsi
skripsiiii asik sekali

Gumam

Mungkin, ada baiknya kita berhenti bicara terlalu banyak dan lebih meluangkan waktu untuk mendengar. Seperti sunyi subuh yang hendak menyambut pagi. Seperti diam seorang ibu yang melihat lelap tidur anaknya. Karena kata-kata sudah terlalu banyak digunakan seperti lembu di sawah. Mereka kini pelan-pelan menjadi ringkih dan kehilangan daya seperti baterai yang bekerja tanpa henti.

Pekik ramai manusia yang berlomba-lomba ingin dipercaya, ingin dibela dan ingin dibenarkan. Kata-kata sudah jadi becak yang lalu-lalang seusai jam pulang sekolah. Kata-kata telah kelelahan dalam keramaian bunyi yang terlalu. Bahwa manusia, meski bukan satu-satunya yang berkata-kata, sudah terlampau memperkosa makna. Kata kini jadi sekedar angin lalu. Semacam musim yang beredar lalu selesai.

Kata-kata menjadi murah. Seikat beberapa rupiah. Menjadi semacam dagangan yang hampir tak berguna. Hampir gratis dan hampir dilupakan. Dijejalkan melalui berbagai medium yang meraga. Kegenitan yang dibuat-buat sehingga meluluhkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Seperti tetes air di tengah hujan deras. Rumah yang dibangun dari sisa-sisa kayu kapal perompak. Sebuah imaji yang tanggung. Kesia-siaan yang bernama jamak dan kebanyakan.

Seusai kata adalah bunyi. Seusai bunyi adalah sunyi. Selesai.

Anatomi Kehilangan

Ia lahir dari sebuah keinginan. Dari sebingkai harapan yang tak utuh. Bopeng dan urung selesai. Seperti sebuah musim yang tak jelas bentuknya. Sebentar hujan lalu kering yang membahana. Direkatkan dengan terburu-buru oleh waktu. Seperti rasa gegas yang memuakan. Seperti buah yang dikarbit. Ia ada namun tak semestinya ada. Ia lahir dari sebuah keinginan.

Ia adalah sebuah kutukan yang dieja pelan. Masuk dari sebuah titik yang tak pernah di duga. Dilahirkan dari keinginan-keinginan yang melenceng. Sebuah cerita yang dibuat untuk tamat dengan segera. Menyisakan pertanyaan-pertanyaan atas detail yang dipaksakan. Seperti rasa lapar yang tertunda atau makan siang pada sore hari. Ia adalah kutukan yang dieja pelan.

Ia merupakan teriakan gagap dari orang yang menyerah. Kalut atas sebuah takdir yang diketik tergesa. Seolah akhir cerita sudah ditentukan saat penolakan terjadi. Perasaan yang meleleh. Ragu yang menembus hati dengan kekuatan yang lebih hebat dari doa para pendosa. Ada yang lepas. Menaut pada sungsai cerita lampau. Seperti anak itik yang lepas dari pelukan. Ia merupakan teriakan gagap dari orang yang menyerah.

"Kehilangan," katamu "Tak pernah menjadi sebuah pilihan. Ia adalah keadaan yang senantiasa. Kita pernah coba untuk berjuang. Memperdebatkan sebuah akhir yang telah lama kita ketahui ujungnya."

Ia serupa gagasan-gagasan mistik dari para sufi dan santo yang kasmaran. Penyatuan adalah upaya melepaskan diri dari yang fana. Membiarkan diri yang mendaging meretas luluh dalam yang gaib. Ornamen peleburan. Bahwa untuk bisa merasakan, kita mesti merelakan. Debu yang ringan atau besi yang keras. Adalah perkara persepsi. Dibentuk dari sudut pandang yang tak pernah utuh. Ia serupa gagasan-gagasan mistik dari para sufi dan santo yang kasmaran.

Ia jalan terakhir para pecundang. Meraung dalam satu titik temu yang dilibas kegetiran. Perihal ciuman yang tak memiliki arti apapun. Atau sebuah senyum sederhana yang meremukkan. Tentang sepetak mata yang pernah ditinggali. Di sana ada sebuah guguran daun. Kering lagi rapuh. Seakan jika ada sebuah nafas yang terlampau keras terhembus. Dedaunan itu akan lumat menjadi serpih pilu. Sehingga diam adalah bahasa lain dari 'maaf'. Ia jalan terakhir para pecundang.

Ia pelabuhan yang menyimpan langkah akhir para kelasi dan mualim.

"Maka biarlah aku berlalu. Seperti gelap yang menelan malam," katamu suatu malam.
"Kau tak pernah pergi," aku menahan laut yang bergelombang dalam sudut mataku. "Kau hanya berpindah. Tapi akan selalu ada, satu pojok kecil. Sebuah lubang yang menunggu kau isi. Entah kapan,"

"Kita adalah sebuah lelucon yang dibuat tuhan. Tapi terlalu gagu untuk bisa dipahami sebagai ujian,"

Karena satu adalah bahasa yang punah. Bahkan sebelum kau mencoba.


*semacam prosa yang disusun dari lirik dan lagu What If oleh Mocca*

Minggu, 10 Juni 2012

Abu Kabut



foto oleh Maharsi Wahyu K

abu kabut,
selimut duka usai pagi
rapuh tubuh,
sunyi

Selasa, 05 Juni 2012

Old Dirty Bastard's



Saya beruntung pernah menjadi anggota Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Tegalboto Universitas Jember. Saya beruntung bisa menjadi bagian dari sejarah panjang legenda yang berkubang pada wacana penulisan, filsafat dan juga kajian kebudayaan. Namun lebih dari itu, saya beruntung pernah dikirim ke luar untuk mengirimkan majalah di kampus-kampus Jogja.

Mungkin tanpa Tegalboto saya tak akan pernah menemukan apa itu mencintai Jogja dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Baru saja saya melihat foto kawan-kawan Jogja di Facebook. Malam ini saya merindu mereka. Merindukan diskusi omong-kosong-filsafat-taik-kucing yang dilakukan sampai dini hari. Berbincang perihal degilnya dunia dan bagaimana hidup mesti dihadapi dengan guyonan. Mengenai hidup yang larut dalam warna monokrom dan selebihnya mekanis. Menjadi sekrup atau sekedar pelumas dalam mesin besar bernama tanggung jawab.

Lucu. Bagaimana sebuah foto bisa melahirkan kenangan-kenangan yang lampau. Beserta segala hiruk pikuk suasana yang sepertinya baru saja terjadi. Seperti kenangan pada akhir 2007 saat pertama kali menginjakkan kaki ke Jogja dan mesti menjadi anak hilang karena buta arah. Bertemu seekor babon kribo bau tengik yang baru bangun dari pulas tidur di sebuah perpustakaan UKM.

Atau pertemuan bersama raksasa hitam legam yang bukan asal papua namun Klaten asli. Juga pertemuan dengan so called preman terminal pulo gadung yang berputing ganda. Juga santri Nahdatul Ulama yang bercita-cita jadi penjaga masjid Muhammadiyah. Atau priyayi gagal yang ogah minum aqua. Anarkhis KW 2. Ah terlalu banyak. Jogja terlalu banyak menyimpan orang orang yang sulit saya lupakan.

Setiap kali ke Jogja selalu berkelebat kawan-kawan lama yang kini sudah beranjak pergi. Menjadi pendidik, pewarta, advokat dan seterusnya. Mereka sudah melangkah dari hiruk pikuk keramaian dan privilage status mahasiswa. Mereka adalah para pemberani, lantang menyambut nasib yang belum tentu apa akhirnya. Mereka memutuskan untuk tidak lagi berkelit dengan usia yang bertambah dan tanggung jawab yang mengikuti.

Setiap kali ke Jogja selalu ada wajah baru yang menjadi rekan-rekan baru. Menjadi jangkar baru ingatan jika sudah pulang. Menemani lagi keharuan-keharuan centil yang tiba tiba meloncat saat dengkur suara kereta Logawa membawa saya pulang ke Jember. Selalu begitu sejak 2007 pertama kali datang ke Jogja. Kota yang selalu menyandera para pendatang untuk kembali dan selali kembali.

Kenangan itu melahirkan kerinduan-kerinduan yang tak perlu, Di saat-saat semestinya kita berpikir tentang hal gawat lainnya. Ah saya hanya rindu. Rindu kalian terlalu. Nyoooh!

Senin, 04 Juni 2012

Atas Nama Kemanusiaan

Murid SLB Bintoro - Heru Putranto


Arida Choirunisa sedang duduk sendiri dalam ruangan yang berukuran empat kali tujuh meter itu. Di sampingnya ada lima buah meja besar yang ditemani oleh kursi-kursi kecil berwarna merah. Salah satu sudut di ruangan itu tampak sebuah lemari kaca besar yang berisi berkas-berkas. Sementara empat jendela besar yang tak berkorden menerangi ruangan pada pagi itu.

“Sebentar ya mas, saya mau menyelesaikan berkas ini,” katanya lembut.

Saat itu sekolah tempatnya bekerja memang sedang melaksanakan Ujian Nasional Bahasa Indonesia. Sebagai guru bagian kurikulum, tugasnya adalah memastikan bahwa kegiatan ujian berlangsung lancar. Wajah Arida tampak serius, ia memakai kerudung berwarna putih yang dipadu dengan seragam berwarna coklat gelap. 


Tak berapa lama ia kemudian tersenyum dan menaruh berkas itu di samping tangannya. Memastikan jika semua berkas yang ada telah benar dikoreksi dan dibaca seksama.

Seraya berdiri Arida menawari saya untuk minum kopi dan makan kue, tapi saya menolak karena baru saja sarapan. “Ini bukan suap kok mas, santai aja,” katanya bercanda. Ia lalu keluar ruangan untuk menyerahkan berkas yang tadi ia kerjakan kepada pengawas ujian yang datang.


Setelah itu, Arida duduk di hadapan saya. "Jadi sampai dimana kita tadi?" katanya.

Ia seorang wanita berumur 53 tahun dengan semangat yang seperti ogah padam. Arida telah 30 tahun mengajar sebagai guru sekolah luarbiasa di Jember. Dalam karirnya yang panjang sudah berulang kali ia berhadapan dengan kaum disabilitas. “Disabilitas adalah sebutan untuk orang-orang istimewa yang memiliki sedikit perbedaan dengan kita,” ungkap Arida yang berlanjut “dan jangan gunakan kata keterbatasan, itu sama dengan kita melemahkan mereka.”

Arida lantas bercerita mengenai pengalamannya sebagai pengajar. Ia mengklasifikasikan keluarga dan masyarakat menjadi tiga golongan dalam interaksinya dengan kaum disabilitas. “Pertama adalah mereka yang acuh, yang kedua adalah mereka yang mengasingkan, dan yang terakhir adalah mereka yang paham.”

Masyarakat Indonesia kebanyakan, seperti juga saya, seringkali salah kaprah dalam memperlakukan kaum disabilitas. Kita cenderung memandang sebelah mata, melecehkan, menganggap remeh dan tak jarang mengkasihani secara berlebihan. 


“Kasihan boleh tapi jangan merendahkan,” kata Arida.

Memang kerap kali masyarakat memandang remeh perihal kemampuan dari kelompok disabilitas. Tak sedikit yang dengan alasan kasihan malah menutup akses untuk pengembangan diri yang lebih baik. Ia mencontohkan kasus di Jember dimana seorang guru tuna netra bernama Rahman, harus berjuang selama bertahun-tahun untuk bisa menjadi PNS. Padahal sebagai kelompok disabilitas ia telah memperoleh gelar paska sarjana dengan nilai yang sangat cemerlang.

Permasalahan disabilitas di Indonesia adalah perkara kepedulian dan kemauan untuk melakukan perubahan. Itu yang mungkin luput dipahami dalam proses dialog dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Ambil saja contoh 1% ruang kerja publik dan pemerintah yang diamanatkan undang-undang bagi kaum disabilitas. Nyatanya toh ruang itu hampir mendekati nol, karena baik pemerintah maupun swasta sama-sama ragu mempekerjakan kelompok berkebutuhan khusus.

Padahal jika dirunut lebih jauh toh kelompok disabilitas merupakan manusia yang bisa jadi lebih unggul daripada masyarakat kebanyakan. Mereka memiliki konsentrasi yang lebih, etos kerja yang tinggi dan disiplin yang ketat. Dalam banyak hal kebanyakan dari kita menutup mata akan potensi ini dan menganggap kekurangan yang ada itu malah akan menghambat proses kerja.

Tapi itu semua tak membuat bangsa ini sadar tentang pentingnya memberikan ruang bagi kaum disabilitas untuk berproses. Di kota saya tinggal, Jember, misalnya, masih tetap ada diskriminasi pada kelompok berkebutuhan khusus. Yang paling mengejutkan adalah diskriminasi ini terjadi pada akses terhadap kebutuhan dasar yang sebenarnya diamanatkan undang-undang, seperti pendudikan dan pekerjaan.


Pada Agustus 2011 seorang tuna netra lulusan sekolah inklusi, Dinka Yuliani, ditolak untuk bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jember. Alasannya sederhana kampus dimana Dinka ingin kuliah tidak menyediakan alat bantu untuk para tuna netra. Ironisnya jurusan yang hendak diambil gadis itu adalah Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Isu ini lantas berkembang dan diangkat di media lokal. Locus permasalahan yang awalnya berkisar pada Dinka dan pihak sekolah membesar. Di situ toh tak banyak peran aktif masyarakat karena menganggap aneh seorang tuna netra yang hendak kuliah. Malah yang banyak berperan adalah pers dalam membentuk opini publik tentang hak dan akses pendidikan bagi kaum disabilitas.

Selama seminggu polemik ini terus diangkat di surat kabar lokal dengan menyertakan argumen dan basis peraturan perundangan pendidikan. Bahwa sejatinya pendidikan itu adalah hak semua warga masyarakat baik yang berkebutuhann khusus atau tidak. Namun selama itu pula pihak rektorat kampus tersebut bersikukuh bahwa PLB yang dimaksud adalah untuk, dalam bahasa mereka, “Mahasiswa normal yang diharapkan kelak bisa berproses di PLB.”

Sedikit demi sedikit masyarakat Jember mulai mengenal istilah disabilitas, kebutuhan khusus, sekolah inklusi dan hak 1 % bagi kelompok disabilitas. Meski akhirnya Dinka bisa kuliah, bahkan diberi beasiswa seumur hidup, toh diskriminasi ini tetap ada. Kerapkali disabilitas dianggap sebagai sebuah 'penyakit menular' daripada sebuah kondisi yang 'given'.



Banyak hal yang semestinya bisa dipahami oleh masyarakat kita mengenai kaum disabilitas. Tidak ada manusia yang ingin dilahirkan dalam kondisi yang tidak lengkap. Juga tidak pernah ada manusia yang ingin disepelekan keberadaannya. Kita sebagai homo simbolicum memaknai diri sebagai sebuah individu yang mandiri yang berdaulat. Jadi saat ada sebuah diskriminasi, kita cenderung melawan dan tak ingin direndahkan.


Dikalangan masyarakat kita pemahaman disabilitas seringkali disalahartikan sebagai ketidakutuhan organ tubuh. Disabilitas lebih dari itu. Terma ini mewakili banyak kelompok yang termarjinalkan seperti autisme, tuna wicara, buta dan juga kelompok yang memiliki kelainan pada kepribadian. Sehingga kerap kali terma-terma yang dianggap bukan mewakili disabilitas dibuat guyonan. Autisme misalnya telah lama disalahgunakan sebagai terma asosial seolah olah hal itu adalah sebuah kelucuan.


Terma Autisme merupakan kata yang kuat. Ia mewakili banyak anak istimewa yang tumbuh dalam keluarga yang sangat menyayangi perbedaan tersebut. Autisme hadir karena banyak alasan. Namun yang lebih penting adalah penempatan autisme sebagai kondisi khusus yang mesti kita hargai maknanya. Bukan sekedar guyonan atas kelompok manusia yang asosial. Autisme adalah sebuah kata yang serius karena mewakili banyak harapan dan doa para keluarga.

Permasalahan kemauan pemerintah (juga masyarakat) untuk mencari tahu dan memahami wacana akses bagi kaum disabilitas bisa semakin panjang jika kita membahasnya dari aras ruang publik. Banyak fasilitas umum yang tak berpihak atau setidaknya mengakomodasi bagi kaum disabilitas. Karena mindset bahwa “Orang cacat kok keluar rumah? Apa gak sebaiknya di rumah saja,” itu masih ada dan berjelaga dalam pikiran bangsa ini.

Alun-alun, lembaga pendidikan, tempat ibadah, lokasi hiburan dan juga pusat transportasi tidak memiliki fasilitas tambahan bagi kelompok berkebutuhan khusus. Seolah-olah semua manusia ini terlahir dengan panca indra dan tubuh yang sempurna. Sehingga jika ada kelompok masyarakat disabilitas yang hendak mengakses ruang dan fasilitas publik tadi ia harus berkompromi dengan “Kelompok manusia kebanyakan.”

Saya kira ada yang salah disini. Ada dialog yang terputus antara masyarakat yang liyan, masyarakat kebanyakan dan pemerintah yang semestinya jadi penengah. Karena bagi orang-orang seperti Dinka yang ingin maju dan berkembang, pemerintah kerap kali gagal menunjukan keberpihakan mereka sebagai sebuah pengayom.

Selama ini disabilitas kerap kali disalahartikan sebagai sebuah beban sosial. Sehingga kepedulian terhadap masalah ini hanya ditunjukan pada momen-momen tertentu. Seperti saat kampanye politik atau hari-hari besar keagamaan. Akhirnya pemaknaan yang lahir adalah disabilitas adalah sebuah masalah sosial yang akan selesai dengan bantuan materi.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak di antara kita yang berusaha menyembunyikan keluarga yang memiliki kebutuhan khusus. Anak yang lahir dengan disabilitas biasanya diisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia yang sama sekali terbatas. Aktivitas dan haknya sebagai manusia kemudian dikekang oleh keluarga yang obsesif.

Dampaknya sangat fatal bagi si manusia dengan kebutuhan khusus tersebut. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku. Ibu Arida dalam sebuah perbincangan yang panjang menyebut keluarga yang seperti ini sebagai “Sebuah proses tidak manusiawi yang kejam”

Lalu apa yang mesti dilakukan dengan kondisi yang terlanjur tengik seperti saat ini? Saya percaya mengutuk masalah dan diam saja tak akan pernah menyelesaikan masalah. Keputusan ada di tangan pemerintah untuk membentuk dan melaksanakan regulasi yang berpihak kepada kelompok berkebutuhan khusus. Juga sikap aktif masyarakat untuk mencari tahu dan memahami wacana disabilitas.

Tentunya dengan sikap yang jelas. Bahwa kaum berkebutuhan khusus tidak membutuhkan rasa kasihan. Karena rasa kasihan, meminjam bahasa Pramoedya Ananta Toer, "Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat,” katanya dalam bahasa yang tegas. “Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang seorang yang mampu melakukan kemauan baiknya."

Jumat, 01 Juni 2012

Percakapan Menjelang Maghrib

Ibu dan almarhum Kakak saya.


Setiap Ibu adalah samudera yang tak pernah lelah menerima segala yang sisa. Barangkali ibu adalah satu-satunya manusia yang menerima kau setengik apapun kau jadinya. Bagi ibu, selamanya kau adalah kanak-kanak yang sedang belajar meniti jalan. Sesekali ia akan turun gelanggang membantumu tertatih jalan. Lalu membiarkanmu sendirian menghadapi ketidakseimbangan. Untuk berakhir limbung atau terus tegar menghadapi jalanan.

Ibu saya juga demikian. Sekeras apapun, sekeji apapun, atau sejahat apapun sebuah kenyataan yang melekat pada anak-anaknya. Ia akan selalu menerima saya dan kakak saya dengan apa adanya. Mungkin ia akan marah dan berteriak-teriak tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk lantas selepas semua amarahnya tamat. Ibu saya akan diam lantas menyuruh kami semua untuk makan dan menganggao semua masalah tadi selesai.

Seperti kebanyakan anak tentara yang lahir sebelum kemerdekaan. Ibu saya adalah seorang abangan yang tak paham benar perihal agama. Itulah yang membuat dia selama sepuluh tahun terakhir tawadhu mendekatkan diri pada yang khalik. Ia belajar sendiri mengaji tanpa diajari siapapun. Membaca iqro secara otodidak lantas menghapal satu persatu huruf hijaiyah hingga mampu merangkai bacaan dengan benar.

Pelan namun pasti ibu saya belajar tentang tata cara sholat yang benar. Membaca Quran dengan tartil dan sesuai. Juga mengikuti sunah-sunah puasa lantas meningkat hingga ibadah tahajud yang selama lima tahun terakhir tak pernah ia tinggalkan. Ibu, bagi saya, adalah prototipe Ibrahim versi wanita yang mencari tuhan dalam usianya yang tak lagi muda. "Jika ada yang patut disesalkan, mungkin waktu mamah telat belajar agama. itu saja. Sisanya mamah bersyukur diberi nikmat selama hidup," katanya di suatu sore.

Ibu adalah seorang muslim yang berjihad. Karena sejatinya Jihad adalah mereka yang bersungguh-sungguh.

Rabu kemarin saya memutuskan pulang ke rumah setelah hampir sebulan tak melihat ibu . Beberapa hari sebelumnya Ibu tiri seorang kawan meninggal. Semalaman tubuh ini menggigil. Bagaimana jika ibu  meninggal? Sementara sampai 25 tahun hidup, tak sekalipun saya membuatnya bangga atau senang. Tak sekalipun dalam seperempat abad usia hidup, ibu bisa tersenyum bahagia karena apa yang telah saya perbuat.

Hari itu saya bergegas untuk pulang. Tak peduli jika ada tenggat waktu tulisan atau hutang wawancara. Hari itu saya mesti pulang apapun yang terjadi. Meski siang panas sedang garang-garangnya tak menghentikan niat untuk pulang menemui ibu sebelum sore. Karena hanya waktu itu saya bisa duduk dan bersantai bertukar pikiran bersama ibu dengan tenang.

Sore di rumah kami adalah saat-saat menikmati secangkir teh hangat dengan kue kering. Kebiasaan yang entah sejak kapan muncul. Ia datang begitu saja seperti musim yang berganti diam-diam.

Dulu saat almarhum kakak kedua saya masih hidup saya dan ibu selalu membuat dua jenis minuman. Kopi setengah pahit dan teh panas. Lalu bersama-sama menikmati sore yang berlalu di dapur. Menikmati senja yang beranjak rubuh sambil mendengarkan tartil pembacaan Quran dari corong masjid. Lantas berbincang tentang cucu-cucunya yang bertambah banyak. Tentang keinginan untuk naik haji dan menyepi sendiri dengan Tuhan. 

Meski kini kakak sudah tak ada, ritus minum teh itu tetap tak berubah. Saya kira ibu sedang menginat masa lalu. Mengenang kakak dengan cara yang paling sunyi. Ia selalu menerima takdir kakak yang meninggal di usia muda sebagai keputusan terbaik Allah. Tak seperti saya yang merutuki takdir, ibu selalu menerima. Meski saya tahu, kadang di tengah malam saat ia tahajud, ibu kerap menangis memohon ampun atas dosa almarhum kakak.

Mungkin itu juga alasan yang membuat saya berani untuk jujur. Untuk mengakui bahwa saya saat ini sedang jatuh cinta dengan seorang gadis katolik. Ibu harus tahu. Saya enggan berbohong padanya demi alasan apapun. Meski saya tahu keputusan ini memiliki resiko yang sangat besar. Semua menantu perempuan ibu saya adalah perempuan muslim yang berkerudung rapat. Memilih di luar kategori itu sama artinya berusaha menentang status quo.

Tapi saya selalu yakin, ibu adalah samudera, ia bisa menerima segala yang ada, tanpa merasa dibebani.

Sore itu saya jujur mengutarakan mengenai kedekatan saya dengan seorang gadis non muslim. Ibu hanya menanggapi ringan. "Sudah yakin mau pacaran sama orang katolik? Wong pacaran sesama islam aja udah gak boleh. Mana ada pacaran pas jaman nabi," kata ibu saya datar. Ia menyesap teh panasnya pelan-pelan dan tidak melihat saya.

Saya tahu ini awal mula diskusi panjang yang melelahkan. Ibu adalah wanita lembut yang memilliki hati sekeras karang. Sekali berkata tidak pantang ditarik kembali. Kami diam sejenak memberi jeda dari kalimat yang baru saja terucap. Setelah beberapa lama lantas saya kembali bicara. "InsyaAllah amanah Ma. Bisa jaga diri. Bisa jaga Mamah juga."

Ibu tak langsung menjawab alih alih ia meminum tehnya pelan sekali seperti punya waktu selamanya. "Apa dasarnya kamu ngomong gitu?" Saya tahu ibu bertanya tentang kredibilitas saya sebagai seorang lelaki. Jenis manusia yang seringkali menyerah pada nafsu selangkangan. "Pacarku jauh kok. Jadi gak macem-macem," kata saya singkat.

"Wong sing niat. Wesi wae iso putung," ujar ibu. Benar. Seringkali manusia yang bernafsu bisa melakukan apa saja. Nekat mengerjakan apapun agar bisa memuaskan keinginannya. Demikian juga saya sebagai manusia. "Sebisa mungkin jaga apa yang bisa dijaga." lalu diam. Sunyi yang menyebalkan.

Teh yang semula panas mulai beranjak hangat. Tapi perbincangan kami malah mulai memanas. Ibu bukan seorang ahli agama yang memiliki pengetahuan luas perihal hadist atau ayat Quran. Baginya islam itu sederhana. Islam adalah ibadah kepada Allah dan berbagai pada sesama manusia. Ia tak pernah merecoki paham islam yang dianut masing-masing anaknya. Entah itu liberal, konservatif atau kritis.

"Wong lanang kui imam. Sing iso gowo keluargane nang swargo," kata ibu saya. Ia bicara perihal kemungkinan-kemungkinan mengkonversi gadis yang saya sukai menjadi muslim. Ini merupakan salah satu ketakutan yang saya pikirkan dulu. "Allah memberikan kepada siapa hidayah yang dia terima. Aku gak mau memaksakan apa yang bukan menjadi hakku," kata saya singkat.

Ibu menoleh melihat mata saya dan mencoba mencerna perkataan saya. Ibu, berbeda dengan bapak, bukan orang yang disebutnya "wis tau kuliah" ibu hanya tamatan SMA yang gagal kuliah. Ia tak paham filsafat atau wacana islam kontenporer. "Aku gak mau memaksa seseorang jadi islam. Yen kui ra keinginanya sendiri," kata saya menambahkan. Ibu lantas kembali duduk seperti semula, menolak melihat mata saya.

"Kamu sudah yakin? Bukankah lebih baik yang seagama? Apa gak ribet nanti kalau mau serius. Nikahnya gimana?" kata ibu. Saya tertawa. Ibu berpikir terlalu jauh mengenai hal hal yang belum pasti. Saya sedang dekat dengan seseorang yang kebetulan katolik. Memang ada keinginan menikah namun bukan satu-satunya yang menjadi tujuan utama. "Sing penting dijinkan dulu. Piye?"

Lalu kembali ada jeda sunyi yang mencekik.

Teh ibu sudah tandas. Lantas ia berdiri untuk kemudian mencuci gelas cangkir yang ia pakai. Seperti anak itik, saya mengekor pada ibu dan menemaninya hingga sampai di tempat cuci piring. "Sebaik-baiknya wanita adalah yang menjaga auratnya," ia bicara tanpa melihat wajah saya. "InsyaAllah dia menjaga diri dan kehormatannya," saya tetap berdiri mematung.

Senja hampir selesai dan pengeras suara masjid, seperti biasa sejak dua tahun lalu, memutar surat Ar Rahman keras keras. Ibu saya berjalan menuju rak piring lantas membenamkan gelas cangkir di sana. Masih dengan kesunyian yang mencekik ia diam. "Kamu tahu mama punya adik yang dulu islam lalu berubah karena menikah sama orang kristen," katanya.

Ibu bertutur tentang seorang bibi di Purwodadi yang menikah dengan orang katolik. Buat ibu semua orang katolik ya kristen, ia tak mengenal dikotomi katolik protestan. "Iya tahu," saya jawab. Ibu lantas duduk di salah satu kursi dekat meja makan. "Mamah pernah kehilangan saudara sekali. Dia diasingkan oleh sodara-sodara yang lain. Bahkan dilarang mendekati jenazah bapak (eyang) waktu meninggal. Kamu mau kaya gitu?" lalu diam.

Ibu masih berpikir bahwa kristenisasi dilakukan dengan jalan pendekatan personal seperti pernikahan atau pacaran. "Jika Allah mau mengkafirkan seseorang. Tak ada satupun mahluk yang bisa menghentikan. Juga sebaliknya," kata saya. Saya tahu ibu masih menyimpan argumen-argumen lain. "Tapi kalau tak menjaga diri ya setan bisa datang darimana saja," saya tahu ibu mulai kecewa.

Saya ingin sekali menjelaskan bahwa jika seseorang ingin menjadi katolik ada banyak rangkaian yang mesti dilakukan. Tak seperti islam yang hanya membutuhkan saksi dan pembacaan syahadat dihadapan ulama. Konversi katolik melibatkan banyak ritus yang panjang dan keyakinan teguh. Ia tak serta merta bisa berubah hanya dengan pembaptisan atau datang ke gereja.

Tapi saya enggan menjelaskan. Entah kenapa menjelaskan tetek bengek mengenai kristenisasi adalah pembelaan diri. Itu hanya akan membawa kebingungan baru kepada ibu. Hal terakhir yang saya inginkan adalah ibu murka karena merasa digurui oleh anaknya. Ibu harus tetap tenang sampai ia memberi keputusan yang lahir dari pikiran dingin dan bukan emosi sesaat.

"Jadi piye?" kata saya bertanya.

Wajah tuanya perlahan berubah murung. Saya tahu ibu sangat kecewa. Karena dalam keluarga hanya saya yang belum menikah. Hanya saya yang selalu berbeda dari saudara yang lain. Hanya saya yang selama ini selalu diam saat semua saudara dimanjakan dengan hadiah-hadiah mewah.  Hanya saya juga yang selama ini tak sempat ia bahagiakan. Ibu selalu merasa berhutang pada saya karena tak pernah bisa memberikan kemakmuran yang pernah dicecap keluarga saya dahulu.

Keluarga kami pernah sangat mapan. Mempunyai rumah besar yang lengkap dengan segala hiburan yang diinginkan. Memiliki kendaraan dan benda-benda mewah. Namun saat saya masuk SMP semuanya berubah. Ayah saya kecelakaan sehingga menguras semua harta yang ada untuk biaya pengobatannya. Lebih dari itu kami jatuh miskin sehingga pernah saya dan ibu tak makan karena kehabisan beras.

"Cuma kamu anak mama yang belum tak senengno," kata ibu suatu saat.

Saya tak pernah menuntut sesuatu. Saya tak pernah meminta apapun dari ibu. Saya hidup dengan menyadari bahwa dilahirkan sebagai anaknya adalah sebuah kebanggaan yang tak terperi. Ibu masih diam dan saya memaksakan diri untuk menjawab. "InsyaAllah bisa jaga diri," lalu diam sebentar. "Jaga diri gimana. Wong kamu sekarang gak pernah sholat. Gak pernah ngaji. Gak kaya dulu," jawabnya cepat.

Ibu benar. Saat ini saya sedang mengambil jarak dengan Tuhan. Tuhan yang mengambil almarhum kakak saya secara tiba-tiba. Tuhan yang selalu diam saat saya terpuruk dikhianati dan ditinggalkan teman. Ada kemarahan yang belum tuntas dalam hati sehingga saya menolak beribadah. "InysaAllah nanti sholat lagi. Nanti ngaji lagi. Kalau sudah dikasih jalan," kata saya.

Sudut mata ibu membasah. Saya tahu itu berat baginya. Seorang muslimah yang baru belajar mengenal tuhan, menemukan anaknya menjauh dari tuhan, karena sebuah takdir yang semestinya diterima sebagai fitrah. "Ibu gak pernah minta apapun selain kamu sholat. Itu saja lainnya gak," kata ibu. Suaranya gemetar. Ini adalah pertaruhan terakhir. Ibu adalah segalanya bagi saya. Jika ia mengatakan tidak maka saya akan mengakhiri hubungan saya dengan pacar saya sekarang.

"Kalau Dhani sholat berarti boleh?" kata saya menawar.

Ibu diam. Ia hanya menatap kosong pintu yang ada di ujung ruangan.

"Kalau ngaji lagi boleh?" kata saya menambahkan.

Ibu tetap diam.

"Kalau nanti lulus kuliah boleh?" kata saya mendesak.

Ibu masih diam.

"Kalau nanti diajak kesini ketemu mama boleh?" saya menawarkan.

Tiba-tiba dengan gerakan cepat namun juga melambat. Seperti sebuah slowmo. Ibu bangkit dan menatap garang pada mata saya. "Asal kamu tetep islam. Asal kamu gak macem-macem. Sak karepmu," lalu ibu berjalan menuju kamar. 

Saya tahu ibu terpaksa. Ia menolak namun tak kuasa berkata tidak. Setidaknya hari itu saya sudah berusaha jujur. Entah kenapa saya merasa menyesal untuk berkata jujur. Tapi ada rasa lega yang menjalar di dada. Mungkin selepas ini saya putus dengan pacar saya. atau malah serius menikah dengannya, atau malah suatu saat kamu bermusuhan. Atau mungkin saya selepas ini saya ditinggalkan atau meninggalkan. Variabel kemungkinan itu berputar membuat saya lelah.

Saya masih menunggu ibu keluar dari kamar. Untuk kemudian minta maaf jika memang ada perkataan saya yang salah. Di dalam kamar hanya Tuhan yang tahu apa yang tengah terjadi. Setengah jam kemudian ia keluar dari kamar matanya memerah dan hidung mampet. Dengan menggunakan mukena lenggap ia membawa sajadah dan tasbih di tangan kanan. Tapi kali ini Ibu tersenyum. "Wong lanang kui sing dicekel omongane. Coba saiki sembahyang nang mesjid," katanya.

Saya tahu ibu sudah menerima keputusan saya. Saya tahu ibu adalah segala yang bernama keikhlasan. Ibu adalah ya dan tidaknya Tuhan. Saya yakin ada keraguan dalam ibu. Tapi adalah tugas seorang anak untuk meyakinkan ibunya perihal jodoh yang ia pilih. Tugas seorang anak pula untuk berbakti tanpa henti pada ibu. Hari itu saya sholat di masjid untuk pertama kalinya setelah entah berapa lama.

Ibu adalah penyelamat, yang menunjukan saya jalan pulang menuju Tuhan. 

Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa