Sabtu, 28 Juli 2012

Thoreau Mix Tape List





Seharusnya ada perayaan 12 juli lalu. Saat jakartabeat merayakan weekend mixtape ke #5 bertemakan Occupy. Jakartabeat melupakan satu nama besar di Amerika Serikat.  Si murung Hendry David Thoreau. Pria dengan jambang selebat Oma Irama ini seorang pacifist yang menolak penindasan dengan cara damai. Sebuah usaha intelectual mocking terhadap pemerintahan (baca negara) tanpa membuat aparatusnya merasa tersinggung.

Pada musim panas Juli 1846 Thoreau melewati satu malam dalam sebuah sel dingin di kota Concord. Sebagai kulit putih terdidik ia menentang perbudakan setelah beberapa tahun sebelumnya menolak membayar sebagian dari pajak yang dikenakan padanya. Tipikal kelompok kelas menengah ngehe yang sadar gerakan. Tentunya gerakan ini perlu nama, lantas entah siapa yang tengik menyebut tindakan pria berjambang ini sebagai Pembangkangan Sipil karena tiga tahun selepas ia dipenjara, pada 1849 melahirkan esai panjang berjudul Resistance to civil government.

Lantas pemikiran iseng muncul seusai membaca catatan pinggir Goenawan Mohammad yang mulai membosankan itu. “Jika Thoreau hidup pada era Google yang maha tau. Kira-kira lagu seperti apa yang akan ia dengarkan?” Maka keisengan ini berujung pada upaya saya menyusun lima lagu tentang pembangkangan sipil. Meski dalam esainya Thoreau tak pernah menyebutkan frase Civil Disobidience secara gamblang. Saya kira akan menyenangkan merumuskan pembangkangan dalam sebuah sajak lagu.

Oh tentu saja saya hanya bercanda saat mengatakan bahwa daftar ini dibuat sebagai perayaan Weekend mix-tape. Karena saya tidak berasal dari scene indie manapun. Meski saya memaknai Indie senagai the art of having fun. Toh daftar ini dibuat sebagai bentuk lain tahlilan terhadap 150 tahun usia pembangkangan sipil yang dilahirkan Thoreau. Setelah mengobrak-abrik 111 giga file musik yang sebagian besar diunduh secara ilegal saya menyusun lima lagu untuk Thoreau.

Hasilnya ya tentu saja sekedar daftar lagu eklektik. Alasannya? Karena saya bukan pendengar musik yang taat. Sehingga memilih lima lagu dari beberapa dekade terakhir adalah upaya melawan kelampauan yang nisbi. Juga karena saya tak paham benar perbedaan antara resistance dan disobidience. Apakah perlawanan adalah bentuk pembangkangan atau malah sebaliknya? Tapi sajak dalam lagu toh bisa ditafsirkan secara bebas.

Secara sadar saya menyisihkan We Shall Over Come yang dipopulerkan oleh Joan Baez. Lagu ini  yang sempat sangat jamak di dengar di era 70an, bukanlah lagu yang menganjurkan pembangkangan. Lagu itu lebih seperti bentuk lain dari pacifist yang digaungkan oleh Ghandi. Meski pada 1956 Rosa Parks bersama Marthin Luther King Jr, dalam great march of Washington We Shall Over Come adalah anthem para pejuang hak sipil.

Saya juga menyadari bahwa sebagian besar dari daftar yang saya susun sebagian besar berasal dari Amerika. Ada sebuah ironi yang menyebalkan. Tanah kebebasan toh tidak bebas-bebas amat sehingga melahirkan pemikir yang merumuskan ide tentang pembangkangan sipil. Negara yang dibangun dari 300 tahun pembantaian dan perang saudara. Apa yang lebih tengik dari itu?

5. We're Not Gonna Take It Lyrics - Twisted Sister (1984)

We've got the right to choose and
There ain't no way we'll lose it
This is our life, this is our song

                Saya mesti mengakui tidak semua glam/hair metal dekaden. Beberapa bisa dengan cerdas meramu kata-kata dan lirik yang secara semiotik berupa perlawanan terhadap segala yang mapan. 1980an adalah masa di mana seluruh orang sudah muak dengan perang dingin. Kejatuhan Soviet dan runtuhnya Berlin. Teror Petrus di Indonesia membuat para preman bergidik nyeri dan jalanan menjadi sepi di malam hari.

                Twisted Sister mentasbihkan diri sebagai kumpulan pemberontak. Dengan sound mirip heavy metal mereka melawan apapun yang ditasbihkan pada sebuah band metal. Gelap, garang dan menakutkan. Lantas mengubahnya menjadi berwarna, terang dan penuh suka cita. Twisted Sister boleh jadi salah satu band yang mencoba mengeluarkan Amerika Serikat dari regresi semangat akibat dua perang tanpa hasil.     

4. The Revolution Will Not Be Televised - Gil Scott-Heron (1971)

Green Acres, The Beverly Hillbillies, and Hooterville
Junction will no longer be so damned relevant, and
women will not care if Dick finally gets down with
Jane on Search for Tomorrow because Black people
will be in the street looking for a brighter day.
The revolution will not be televised.

Sebut saya sebagai pendengar musik yang naif. Tapi the godfather of hip-hop ini adalah seorang imam mahdi. Jauh di masa 1970 an saat Fox News dan CNN belum sebejat hari ini. Ia telah meramalkan bahwa media akan menjadi anjing pudel peliharaan pemerintah. Maka satu-satunya jalan melawan hal tersebut adalah berhenti menonton TV, memulai jaringan informasi sendiri dan lakukan perubahan dari tingkat RT/RW.

Thoreau dengan pedas menuliskan “Unjust laws exist;” dengan jeda panjang lantas ia melanjutkan dengan sebuah pertanyaan penting ” shall we be content to obey them, or shall we endeavor to amend them, and obey them until we have succeeded, or shall we transgress them at once?” Sejalan dengan itu Gil, menurut saya telah berusaha abai dengan adanya negara dengan perangkat komunikasi mereka.  

3. I Ain't Marching Anymore - Phil Ochs (1965)

For I stole California from the Mexican land
Fought in the bloody Civil War
Yes I even killed my brothers
And so many others But I ain't marchin' anymore

                Mari kita sepakati bahwa Phil Ochs bukan Bob Dylan dan ia sama sekali tidak berupaya menjadi Dylan. Meski hubungan Ochs dan Dylan lebih seperti mentor dan murid dalam relasi yang di gambarkan dalam Star Wars. Dalam banyak hal, berbeda dengan Dylan, Ochs yang memutuskan secara sadar masuk ke dalam aksi politik. Ochs secara terbuka mendukung Kuba saat perang dingin berlangsung. Ia bahkan perlu repot membaca kembali Engels dan Marx, meski tak pernah benar-menar meyakini manifesto komunis sebagai nubuat.

I Ain't Marching Anymore merupakan rangkuman singkat sejarah kekerasan yang ada di Amerika Serikat. Mulai dari pembantaian kaum Indian sampai dengan rasialisme kulit hitam. Bahwa demokrasi yang hadir hari ini dibangun dari darah. Mungkin lagi ini juga salah satu yang mendorong sejarawan radikal AS, Howard Zinn menuliskan A People's History of the United States. Puncaknya adalah ajakan Ochs untuk menolak wajib militer dan bagian dari perang Vietnam.

2. No Suprises – Radiohead (1997)
You look so tired and unhappy
Bring down the government
They don't, they don't speak for us
I'll take a quiet life

Tahun 90an adalah puncak dari malaise cita rasa. The so called generasi X berusaha melepaskan identitas diri dari apa yang telah mapan sebelumnya. Repetisi dari sejarah yang berulang-ulang. Pekerjaan yang membosankan dan para pemuda hanya menjadi skrup dari korporasi internasional. Saat Radiohead masih belum semenyebalkan hari ini (ya menyebalkan mereka ogah konser di Indonesia) yang dengan sinis memotret sikap nyinyir kelas menengah ngehe. Bring down the government adalah oxymoron dari sebuah negara yang masih terbuai mitos monarki.

Radiohead lewat no surprises seolah ingin mengajak para pendengarnya menjalankan apa yang disebut Thoreau sebagai “Quietly declare war with the State” bahwa hidup yang monoton, seragam dan tertebak ujungnya adalah sebuah kesia-siaan. Untuk itu salahkan pemerintah dan boikot terhadap pekerjaan apapun. Lagu ini bukan sebuah penolakan terhadap zaman ia hanya mengejeknya. Tentu lagu ini masih relevan didengar oleh para pejuang hak-hak sipil melalui Ipod di salah satu pojok starbucks.


1. Mosi Tidak Percaya – Efek Rumah Kaca (2008)

Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya

Thoreau menutup esai panjangnya dengan sebuah harapan. Bahwa kelak di masa depan akan ada sebuah negara yang berpihak pada masyarakatnya. “I have imagined, but not yet anywhere seen.” Saya mesti percaya pada Cholil dan kawan-kawan bahwa satu kalimat di atas adalah puncak dari segala yang bernama pembangkangan. Bahwa suatu saat masyarakat di negara yang mulai membusuk ini akan sampai pada satu titik bahwa mereka sudah cukup dikadalin oleh pemerintahannya. Titik dimana negara bersama aparatusnya telah menjadi Leviathan dalam terminologi Hobbesian.

Pemerintahan korup dan ragu-ragu adalah sebuah lelucon yang mesti diakhiri. Dengan lirik lagu yang mudah diingat, mudah dicerna dan mudah dinyanyikan. Lagu ini sebenarnya berpotensi menjadi sebuah koor wajib pada setiap demonstrasi damai. Tapi pembangkangan sipil ala Thoreau bukanlah demonstrasi jalanan yang dilakukan dengan kekerasan. Thoreau menginginkan kesadaran kritis dari para warganya untuk menuntut pemerintah bekerja dengan benar. "ini masalah kuasa, alibimu berharga, kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?"


in honorable mention

Rage Against The Machine - take the power back
Pink Floyd - Mother
Swami - Bongkar
Flaming Lips - Jesus Shootin' Heroin
Arcade Fire - Antichrist Television Blues

Jumat, 27 Juli 2012

Sinonim Kesepian



~ Penyair tidak pernah mati. Mereka tinggal dalam barisan sajak yang dibaca di tiap-tiap sudut pasar dan pertunjukan.

Saya kira 26 April mesti diberi warna merah terang pada tanggal kalender. Karena hari itu 90 tahun yang lalu seorang penyair lahir dan menghantui Indonesia untuk selamanya. Seorang penyair yang mati karena penyakit kelamin dan dielu-elukan sebagai pembaharu. Namun lebih dari itu Chairil Anwar, si penyair jalang itu, adalah seorang yang kesepian. Seseorang yang hanya hidup untuk sendiri dan ditinggalkan.

Mari kita mulai membayangkan pada sebuah pagi 26 April 1922. Seorang pamong praja bernama Toeloes, yang saat itu barangkali berusia 30an, tengah tersenyum bangga menatap istrinya Saleha. "Aku telah mendapatkan seorang lelaki. Kelak ia akan mewarisi darahku," katanya dalam hati. Medan pada hari itu serasa seperti di halaman surga. Kebahagiaan menyeruak di antara tangis seorang bayi kecil bernama Chairil Anwar.

Bertahun kemudian saat Chairil lepas berusia 19 tahun ia berpindah dari medan ke Jakarta. Di sini penyair kita ini tak lulus Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Namun mengenyam pendidikan sejak tingkatan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) telah membuatnya fasih bahasa asing. Juga mengakses sastrawan-sastrawan terkemuka dunia macam Auden dan Whitman. Salah satu yang lantas ia gandrungi adalah penulis Perancis AndrĂ© Paul Guillaume Gide. Kelak salah satu bukunya diterjemahkan Chairil sebagai Pulanglah Ia si Anak Hilang.

Pada usia 20 tahun Chairil Anwar mencatatkan dirinya dalam sejarah sastra Indonesia setelah salah satu puisinya termuat di Majalah Nisan pada tahun 1942. Adalah paus sastra Indonesia, HB Jassin, orang yang konon pertama kali menemukan bakat Chairil. Salah satu syair masyur yang diciptakannya adalah sajak Nisan. Konon sajak ini dibuat seusai kematian sang Nenek yang sangat ia cintai. Sajak ini buat saya adalah tonggak keparipurnaan dalam penggambaraan rasa kehilangan.
“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta”
Dalam sajak itu diksi yang disusun membangun imaji tentang bagaimana sebuah kematian mesti dihadapi. Namun dalam saat yang bersamaan sajak tersebut menggambarkan mengenai kehilangan yang teramat sangat. Sampai hari ini saya kira belum ada sajak yang mampu menandingi Nisan perihal penggambaran kematian sebagai sebuah proses keikhlasan.

Proses kepenyairan Chairil adalah proses kepenyairan yang otobiografis. Sajak-sajaknya lahir seperti sebuah narasi yang mengalir. Ia pernah jatuh cinta dengan malu-malu, pernah kehilangan, dikhianati dan juga terbakar nuansa perjuangan kemerdekaan. Sajak-sajak seusai melewati individualitas dan kematian keluarga mengantarkan era baru dalam tema perjuangan dan kehidupan.

Coba saja liat sajak-sajak seperti sajak Karawang Bekasi yang ditulis pada 1943. Sementara Persetujuan Dengan Bung Karno, Diponegoro, dan Prajurit Jaga Malam ditulis pada 1948. Meski Karawang Bekasi kerap kali dianggap menjiplak The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish. Sajak-sajak tersebut bahkan oleh Lekra, organisasi kesenian PKI, dinilai bukan merupakan sebuah sajak individualis. Namun sajak yang bernuansa perjuangan dan anti imprealisme.
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Sajak Persetujuan Dengan Bung Karno dianggap Lekra sebagai sebuah pernyataan anti fasisme. Begitu gandrungnya Lekra sehingga menginspirasi salah satu penulisnya, Pramoedya Ananta Toer, untuk menuliskan sebuah fragmen yang ditujukan bagi Chairil. Dalam novel Larasati, ia dikisahkan pernah beradu mulut dengan Idrus perihal honor tulisan sajak.

Menjadi penyair adalah upaya mencintai kemerdekaan dan kebebasan. Hal ini tak ia hanya ia tunjukan dalam sajak-sajak yang bernuansa nasionalisme. Namun juga dalam gaya hidupnya yang urakan dan bohemian. Bahkan kepada siapapun ia tak ingin menjadi orang lain, meski orang itu adalah Presiden Republik Indonesia. Coba tengok sedikit kisah yang tertuang dalam memoar Basuki Resobowo. Chairil dan Affandi dulu pernah diminta Soekarno untuk bikin poster kemerdekaan.

Di tengah desakan yang bertubi-tubi akhirnya si tengil Chairil berucap "bung ayo bung" yang terdengar sangat elegan. Padahal kata bung merupakan sebutan jantan bagi para lelaki yang diucapkan oleh pelacur. Tak percaya? Sila anda nonton film "Lewat Djam Malam". Maka anda akan terpukau kata-kata Laila yang berujar "Bung terlihat lelah". Tentu bung bukanlah kata asing bagi Chairil yang doyan jajan ini. Kelak ia pun dikenal sering berhutang pada kawan untuk membeli obat buat penyakit sipilis yang dideritanya.

Sebagai seorang penyair ego rupanya merupakan bagian dari jati diri Chairil. Bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, ia menyusun Surat Kepercayaan Gelanggang. Sebuah manifesto kesenian yang berusaha lebas dari nilai- nilai politis dan pemaksaan kolonial. Dengan pongah mereka menuliskan "Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri." Lebih dari itu pada suatu wawancara dengan radio Belanda si kecil kumal Chairil mengumpat "Yang bukan Penyair, tidak ambil bagian!"

Meski dikenang sebagai seorang yang urakan, ketus, keras kepala dan apa adanya. Chairil rupanya seorang pecinta yang melankolis. Ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sri Ayati, seorang penyiar radio di Jakarta saat masa pendudukan Jepang. Sri adalah salah satu dari beberapa gadis yang pernah menjadi objek afeksi personal Chairil dalam sajak. Senja di Pelabuhan Kecil adalah buktinya;
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Entah mengapa bagi saya sajak ini seolah penggambaran rasa menyerah dan kekalahan. Chairil seperti telah kelelahan dalam upaya menggenapkan perasaan. Jatuh cinta barangkali adalah sebuah kemewahan bagi seorang penyair yang miskin. Dalam bayangan saya, Chairil menulis sajak ini di Sunda Kelapa. Seusai bertemu dengan Sri Ayati dengan perasaan yang remuk. Sajak ini ditutup dengan sebuah kalimat yang letih. "Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap."

Seiring bertambahnya usia, semakin gelap dan putus asa sajak yang diciptakan Chairil. Seperti sajak Derai-Derai Cemara, Aku Berada Kembali dan Yang Terhempas dan Yang Terputus. Si Binatang Jalang yang pernah ingin hidup 1000 tahun lagi ini telah habis daya hidupnya. Ia telah merutuki keterasingan dalam kata-kata yang ia torehkan sebagai puisi. Saya kira justru ini yang membuat Chairil menjadi penyair yang besar. Ia bisa hidup dalam berbagai warna kehidupan, tapi bukan hidup dalam satu warna monokrom.
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Derai-Derai Cemara adalah puisi terakhir yang diciptakan oleh Chairil. Boleh jadi hanya puisi inilah, bagi saya, yang mampu merajut imaji tentang kekalahan. Ia bercerita tentang hidup yang sia-sia. Barangkali ia ingin berkata bahwa pada akhirnya semua manusia akan kalah pada kesunyian bernama waktu. Ia yang pernah berkata bahwa "Nasib adalah kesunyian masing-masing," telah mengalami "Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi,". Lantas dikuburkan sebagai mayat dan berakhir sebagai sebuah nisan.

Rabu, 25 Juli 2012

5 Buku Baik Ramadhan

Ramadhan adalah harapan bagi para pendosa. Tapi bagi saya, ramadhan adalah saat dimana saya bisa asyik membaca dengan waktu yang terbentang luas tanpa diganggu. Orang-orang yang sebelumnya penuh energi dan kapan saja bisa mengajak pergi, mendadak malas dan lebih suka tiduran daripada keluar rumah di tengah terik. Momen seperti ini adalah saat yang menyenangkan bagi saya. Ditemani sepi membaca bisa jadi sangat menyenangkan.

Ramadhan juga selalu hadir untuk mengisi garasi wacana tentang agama. Well, paham agama tidak berarti harus relijius. Beragama juga tak mesti paham benar tentang kemaslahatan umat. Buat saya belajar agama tidak linier dengan menjadi fanatik lalu fasis. Terkadang membaca kitab bisa membuat kita menjadi 100% taat atau sebaliknya 100% murtad. Itulah mengapa dalam islam, meminjam istilah Bapak saya, perlu pemahaman dan diskusi yang ketat antara apa yang ada dalam kitab dan yang tersirat di sekitarnya.

Realitas agama selalu sejalan dengan zaman yang hadir saat itu. Ia tak berhenti pada satu waktu saja, mesti demikian tafsir adalah perkara perspektif. Ingat bagaimana sebelum Muhammad berkuasa atas Mekah, perbudakan adalah niscaya. Lantas setelah islam berjaya perbudakan dan pernikahan siri di hapuskan. Ini bukti bahwa agama boleh jadi tetap, namun tafsir selalu saja dinamis.

Hamzah Fansuri, penyair sufistik yang berasal dari Barus, pernah menuliskan sajak masyur dalam Syair Perahu. Dimana ia membuat metafora ilmu dan iman sebagai kemudi. Ia berkata "Wujud Allah nama perahunya, ilmu Allah akan [dayungnya], iman Allah nama kemudinya, “yakin akan Allah” nama pawangnya." Ia bicara tak semata-mata ilmu adalah tentang membaca Qur'an. Tapi juga pengetahuan lain yang bisa menjadi 'dayung'.

Untuk itu sementara Ramadhan baru berjalan beberapa hari saya hendak menuliskan beberapa buku yang sebaiknya dibaca selama puasa. Tentu tak melulu tentang agama islam. Juga ada beberapa buku lain yang menarik untuk dibaca dan diresapi nilainya. Silahkan menikmati.


5. Idiologi Kaum Intelektual (Suatu Wawasan Islam) - Ali Syariati

Buku ini adalah apa yang saya sebut sebagai "Buku yang habis dibaca dalam setarikan nafas namun membebaskan." Buku ini tebalnya tak lebih dari 185 halaman memiliki pengantar memukau dari Jalaludin Rakhmat, seorang intelektual muslim syi'ah Indonesia. Kalimat dalam buku ini begitu melekat di kepala saya selepas membaca fragmen "Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala." Jalaludin Rakhmat saya kira sedang bercerita tentang sejarah panjang kekerasan dalam syiah.

Buki ini baik dibaca bagi mereka yang hendak mempertanyakan arti penting seorang pemikir dalam agama islam. Terlepas buku ini disusun oleh intelektual syiah, sunni maupun ahmadi saya kira perlu membaca buku ini. Saya sendiri baru selesai membaca sekitar empat bulan lalu dan kini sedang saya baca ulang. Di dalamnya saya temukan lagi risalah-risalah mutakhir yang menempatkan Ali Syariati sebagai seorang teknokrat yang membebaskan. Ia bicara perihal pentingnya ilmu pengetahuan bagi pengembangan agama.

Anda mungkin hanya sedikit menemukan fragmen-fragmen Al Quran di dalamnya, namun akan banyak sekali menemukan jejak-jejak pemikiran dan sejarah dari masa lampau. Hal ini saya kira sangat baik dibaca untuk menambah wacana tentang bagaiman ilmu ditempatkan. Ia (ilmu pengetahuan) tak bersifat sekuler, tapi menyublim dalam ritus-ritus agama kita. Tapi juga menjadi sebuah pisau dan kendali bahwa hidup tak melulu tentang membaca, tapi juga mengalami realitas dengan segala pahit getirnya.

4. Hidup Itu Indah - Aji Prasetyo

Saya membayangkan jika Nabi masih hidup dan membaca komik Aji ia akan menghadapi dilema. Bahwa ia mesti tertawa melihat ironi yang tergambar, atau menangis melihat kondisi umatnya kini. Mau tidak mau saya juga teringat pada salah satu fragmen cerpen "Langit Makin Mendung" karya Ki Pandji Kusmin. Apakah seorang petani miskin yang memampang bendera palu arit lebih baik daripada seorang kyai yang terpukau uang segepok dalam kitab?

Mas Aji saya kira bisa melahirkan komik sebagai sebuah opini yang merdeka. Ia mungkin salah satu dari sedikit orang yang bisa membebaskan komik dari kungkungan stigma 'hanya dibaca oleh anak-anak'. Buku ini dengan cerdas menguliti secara rapi, bagaimana wajah fanatisme beragama (baca : islam) di Indonesia disalahgunakan. Tentang bagaimana ego pribadi telah mengkooptasi sebuah institusi relijius sebagai sebuah kendaraan politis.

Entah mengapa beberapa minggu setelah komik ini diluncurkan langsung raib di toko-toko buku. Kalaupun ada dengan harga yang lumayan mahal. Bagi beberapa orang di negeri ini, saya kira agama adalah perihal ketetapan. Sesuatu yang saklek dan tak pantas dikritisi. Sayangnya mereka tak paham bahwa tindakannya itu membenarkan apa yang dikritik oleh Aji. Fanatisme buta tanpa pemahaman yang utuh bahwa agama seyogyanya adalah perihal menjadi lebih baik bagi orang lain.

3. Jihad Melawan Islam Ekstrem - Al Ashmawy

Mohammad Said Al Ashmawy membuka esai panjang mengenai fanatisme dengan mengutip salah satu ayat dalam The Egyptian Book of Dead. "Aku adalah masa lalu, Aku mengetahui hari esok; Aku bisa menjadi muda, Aku adalah osiris; Aku datang untuk memerangi kegelapan." Sebuah tindakan berani dari seorang mantan ketua pengadilan tinggi Kairo Mesir. Negeri yang selama kekuasaan Hosni Mubarak, dikenal memiliki barisan ulama sangat brutal dalam menangani perbedaan keagamaan.

Dalam buku ini kita bisa melihat argumentasi dan narasi jernih dari salah seorang pejuang keberagaman asal Mesir ini. Meski lahir dalam keluarga yang kental dengan tradisi Wahabiah namun Al Ashmawy membuktikan dirinya sebagai seorang pemikir yang ulung. Ia dengan ajeg menyusun pembelaan dengan menyertakan banyak pemikiran yang tak melulu berakar dari sumber Islam. Namun juga dari Kristen dan juga Judaisme.

Baginya kebenaran tunggal bukanlah sesuatu yang didapat dari satu sudut pandang saja. Ia lahir dari berbagai visi yang menyentuh satu substansi kemanusiaan bernama pemahaman toleransi. Yang paling menarik kemudian adalah bagaimana sikap Al Ashmawy yang getol menolak negara Islam. Baginya agama tak boleh dekat dengan politik. "Karena saat agama bergabung dengan politik, ia menjadi idiologi dan tak lagi murni sebagai agama."

2. Hanya Islam Bukan Wahabi -  Nashir bin Abdul Karim Al-Aql

Saya kira Muhammad Ibn Abdul Wahab adalah orang yang selama ini menjadi korban dari sebuah nama. Ia adalah seorang pemimpin dan ulama dari sebuah suku badui kecil di Jazirah arab. Abdul Wahab merupakan salah satu dari sedikit sekali kaum badui yang terdidik secara literer, dalam arti bisa membaca dan menuliskan. Lebih khusus lagi ia adalah sedikit dari sekian banyak masyarakat suku badui yang bisa menyusun pemikirannya menjadi sebuah ajaran.

Dengan bahasa yang santun Abdul Wahab pernah menuliskan "Aqidah saya adalah sama dengan aqidah kaum Ahli Sunnah wal Jama'ah," katanya. Ia ingin menjawab sebuah tuduhan bahwa ada seorang badui yang hendak membikin mazhab baru diluar empat mazhab yang ada. Saat dimana pengaruh mazhab bisa menentukan sebuah legalitas kepemimpinan. Dengan terbata ia menekankan dalam Ad-Durrar As Sunniyah "Saya adalah pengikut mereka sampai hari kiamat nanti".

Buku ini meski ditulis dengan sangat membosankan dan hiperbolis (karena banyaknya pujian bagi Abdul Wahab), merupakan pengantar yang baik untuk mengenal siapa sebenarnya dibalik sebuah paham Wahabi. Bagi saya konten dalam buku ini lumayan adil dalam menempatkan sosok ulama yang namanya kerap dianggap sebagai penyebab teror di dunia. Kitab berjudul asli Islamiyah la Wahabiyah ini terdapat berbagai fragmen surat yang konon ditulis langsung oleh sang ulama. Dimana salah satunya ia dengan jujur mengakui pernah melakukan pembakaran buku yang dianggap menyimpang. Sehingga kita bisa menilai sendiri siapa sebenarnya Abdul Wahab itu

1. Ramadhan di Jawa- Andre Moller

Barangkali buku ini adalah salah satu buku yang akan selalu saya baca selama Ramadhan di sisa hidup saya. Buku ini memberikan sebuah parodi dan pemikiran yang naif tentang bagaimana islam berkembang di Jawa. Jika pendapat fasis saya mengenai Indonesia adalah sama dengan Jawa maka buku ini adalah sebuah kritik yang tuntas. Ia bercerita tentang dualisme, mitologi dan juga praktek relijius yang beragam dari sebuah agama yang disebut islam.

Buku yang awalnya merupakan tesis dari Moller ini berjudul asli Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting, hadir seperti sebuah linimasa dari berbagai hastag yang muncul selama ramadhan. Seperti #Tarawih, #Takjil, #Sahur #Ngabuburit, #Itikaf dan juga #Ritusdadakanlainnya. Peneliti asal Jonstrop Swedia ini dengan cerdas dan komikal menuliskan sebuah rekam jejak yang baik tentang bagaimana ramadan dilakukan di Jawa.

Ramadhan boleh jadi puncak segala konsumerisme umat islam di Jawa. Namun dengan jeli Moller menggambarkan bahwa konsumerisme yang dimaksud adalah sebuah ritus lain. Ia membandingkan banyak sekali proses lain konsumsi masif yang terjadi selama ramadhan di berbagai tempat di jawa. Mulai dari ujung timur ke barat. Saya kira buku ini merupakan bentuk lain Lonely Planet dalam versi teologis yang menyenangkan.

***

Jadi buku mana yang akan engkau dustakan selama ramadhan?

Selasa, 24 Juli 2012

RA Kosasih Seda


Pagi ini saya memulai pagi dengan berduka. Raden Ahmad Kosasih, salah satu komikus legendaris Indonesia, meninggal setelah pertarungan panjang melawan penyakit paru-paru yang dideritanya. Kematian kerap kali datang, seperti seorang sahabat jauh yang mampir tiba-tiba. Ia mengakrabi kita dengan cara yang tersembunyi.

Saya kira bangsa ini berhutang banyak pada RA Kosasih. Sedikit banyak ia telah memberikan anak-anak pada zamannya keberanian untuk bermimpi. Bahwa kepahlawanan ialah perihal karakter yang dibangun dari sikap diri. Hal ini diperlihatkan dalam jalinan narasi yang ia bangun dalam setiap cerita gambar yang dibangun. Dengan tegas dalam setiap karyanya ia membagi kubu. Hitam putih secara arbiter dengan garis yang lurus.

Dulu saat kecil Ayah saya memiliki koleksi lengkap komik karya RA Kosasih dan Teguh Santosa. Komik-komik ini, yang dahulu dibuat dalam dimensi besar, selalu memantik imaji saya yang paling liar. Bagaiman jika Gatot Kaca melawan Arjuna? Bima dan Dursasana siapa yang paling kuat? Kalau Batara Guru dan Semar berkelahi siapa yang menang? Imaji-imaji itu membuat saya berani untuk berpikir di luar konteks yang pakem. 

Sebagai penggemar sebagian besar karyanya, saya selalu menyelidik dengan ragu-ragu mengapa Kosasih menggambar karakternya dengan tubuh yang montok dan citra wajah oval. Berbeda dengan kolega satu profesinya Teguh Santosa yang cenderung tajam dan gelap. Kosasih menciptakan imaji setiap tokohnya seperti sebuah lingkaran yang kemudian diberi ekspresi. Hal ini melahirkan ciri khas yang mustahil ditiru oleh orang lain.

Lewat karakter yang oval itu pula Kosasih seolah ingin menunjukan kedekatan diri dengan manusia yang hidup. Seperti sebuah puisi yang mudah dimengerti. Seperti sebuah lagu yang mudah diingat. Menarik kemudian hampir seluruh karakter baik yang ia gambarkan selalu memiliki kumis tipis. Sementara tokoh yang jahat selali digambarkan dengan mata yang membelalak dan gigi besar dengan taring menjelang.

Mungkin jika ada yang kurang gathuk di hati saya adalah penokohan para karakter mahabaratha dan ramayana yang terlalu priyayi sentris. Hampir dalam setiap karyanya ia jarang memberikan ruang pada tokoh minor untuk muncul dan memberi nafas hidup. Seolah-olah kehidupan ini hanya diisi oleh para kaum ningrat. Entah karena hal ini pengaruh Kosasih yang lahir dari keluarga ningrat atau memang ia teguh pada pakem cerita wayang yang hanya menokohkan kaum ningrat dengan porsi utama.

Kosasih lahir pada 4 April 1919 di sebuah dusun di Bogor. Perkenalan awalnya dengan komik awalnya tidak di sengaja. Sebagai murid Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan, Kosasih muda mendapatkan kemudahan akses terhadap banyak buku fiksi. Salah satu yang paling ia sukai adalah kisah klasik mengenai si raja hutan Tarzan. Dari kesukaan itulah iseng-iseng ia membuat gambar ilustrasi. Bertahun-tahun usai lulus dari HIS ia tak lantas menjadi pamong praja. Malah ia mendapatkan pekerjaan pertama sebagai seorang komikus di harian Pedoman Bandung. 

Namun bukan karena sekedar sebagai komikus ia patut dikenang. Namun karena usahanya untuk melahirkan cerita yang dekat dengan para pembacanya. Meski ada beberapa hal komikal yang perlu dikenang. Seperti usaha Kosasih untuk membuat narasi Pandawa Seda yang terlalu dibuat Islami. Sepertinya ada sebuah tekanan keharusan bahwa cerita komik dari epos Hindu ini mesti di-Indonesiakan. Sehingga terpaksa memaksa pakem aslinya diadopsi dengan nilai-nilai yang 'sesuai dengan pancasila'.

Beberapa minggu yang lalu bersama seorang kawan saya menghadiri Jakarta Book Fair. Di salah satu lapak buku yang agak asing saya menemukan beberapa bendel komik Ramayana dengan tahun terbit sekitar 1968. Kami bertatap muka dengan seorang pemuda akhir tigapuluhan yang memborong tumpukan komik Kosasih. Dengan mata berbinar ia berkata "Komik RA Kosasih itu asli, kalau sampul depannya ada ijin dari Polda," katanya bangga.

Bagi mereka yang besar pada akhir 80an dan awal 90an pasti mengetahui tentang kredo ini. Perihal komik-atawa buku yang mesti lolos sensor kejaksaan dan polisi. Menjadi menarik karena meski Kosasih adalah salah satu seniman yang pernah menjadi korban kritik dan oposisi Lekra. Komiknya dianggap memiliki potensi "Mengganggu stabilitas kamtibmas". Apa pasal? Tentu karena naskah Barathayuda adalah mengenai perang dari status quo dan kebenaran. Di situ ada ketakutan yang dibuat-buat.

Bagi saya Kosasih adalah seorang pendongeng yang ulung. Meski ia sangat mencintai Komik dan Dongeng ia telah mengakui kekalahan pada umur dan telah berhenti menggambar pada medio 70an. Seingat saya komik terakhir yang ia buat adalah variasi lain dari Sri Dewi, tokoh superhero wanita lokal, yang bernama Cempaka. Karakter terakhir merupakan katarsis dari tokoh Tarzan yang menjadi idolanya selama bertahun lampau. 

Tapi lebih dari itu. Kosasih adalah penganyam mimpi. Ia mendekatkan epos Mahabarata sebagai sebuah pertarungan kebatilan dan kebenaran pada akhirnya mesti menang. Dalam babak Pandawa Seda bagi saya merupakan puncak spiritualitas dan kematangan Kosasih sebagai manusia dan komikus. Dengan panel-panel terbatas dan minim warna ia menciptakan sebuah perpisahan yang lugas. Satu-persatu tokoh baik dalam keluarga Pandawa dibunuh sesuai karmanya.

Pandawa Seda juga merupakan sebuah alegori dari sebuah zaman yang angkuh. Dibuat pada zaman ketika Lekra berkuasa kisah Mahabarata Kosasih dianggap terlalu kebarat-baratan. Melalui pena ia kemudian menggambarkan peperangan idiologis antara seniman zamannya. Ia turut jelas ambil bagian dalam perang tersebut. Bahwa kesenian tak melulu harus bersikap politis. Ia mesti bebas dan punya unsur hiburan dan tak selalu perihal propaganda.

Hari ini sekitar pukul 01.00 RA Kosasih meninggal. Seperti banyak legenda lain ia meninggalkan warisan besar bagi para pembacanya. Sebagai bapak komik modern Indonesia. Juga sebagai manusia yang dengan jeli menggambarkan zaman dalam tokoh wayang. Tentang negara beserta aparatusnya yang keji melalui simbol Hastina dan Kurawa, juga para oportunis tengil yang berkelindan diantara pemerintah yang disimbolkan melalui Sengkuni.

Saya selalu ingat tokoh Bhisma bikinan Kosasih. Tokoh ini menjadi salah satu yang paling karismatis dalam seluruh cerita bikinan kosasih. Hanya ia satu-satunya tokoh yang selalu konsisten ada dalam tiga babak cerita Mahabarata, Barathayudha dan Pandawa Seda. Bhisma yang menolak hak diri sebagai Raja dan memilih hidup sebagai seorang begawan. Manusia yang tidak takut mempersiapkan kematiannya sendiri.


RA Kosasih tak hanya menggambar. Ia menuliskan sejarah.

Sabtu, 21 Juli 2012

Rejse



Ada sebuah puisi epos yang konon menjadi sajak tertua dalam sejarah literasi Inggris. Kisah perjuangan pangeran Denmark, Beowulf yang agung. Ditulis dalam bahasa Anglo-Saxon kuno (old English) puisi ini memantik romantisme seluruh eropa terhadap petualangan. Sebuah kebanggaan yang kelak melahirkan God, Gold and Glory. Petualangan atau dalam lidah warga Skandinavia Rejse, Reise atau Resa merupakan identitas lahiriah.

Lalu apakah sebenarnya petualangan itu? Dalam banyak peradaban dan kebudayaan petualangan merupakan bagian dari hidup. Ia adalah tolok ukur kedewasaan dalam sistem masyarakat adat minang dengan "rantau". Juga merupakan momen seorang lelaki diakui sebagai bagian dari masyarakat dalam sistem masyarakat maritim Bugis. Karenanya, kadang saya berpikir, Indonesia dibangun dari petualang yang menolak tidur di rumah dan mati berkarat.

Adalah Seamus Heaney, penyair dan peraih nobel sastra dunia, yang kemudian dengan jenius menerjemahkan Beowulf. Syair yang dimulai dengan paragraf "So. The Spear-Danes in days gone by / ad the kings who ruled them had courage and gratness. / We have heard of those princes' heroic campaigns." Selalu ada unsur dramatik dalam puisi epik. Mereka (puisi) selalu menjadi katalis bagi para pendengarnya untuk memantik imajinasi akan sesuatu yang tak nampak.

Tapi bukan tentang itu saya menuliskan cerita ini. Bagi banyak masyarakat tradisional Skandinavia petualangan juga merupakan upaya menemukan diri sendiri. Upaya untuk menaklukan diri sendiri dan menjadi pribadi yang baru. Terkadang dalam usaha pencarian tadi kita mesti tersesat, menemukan jalan buntu dan kalau perlu memutar jauh. Meminjam kata-kata Henry David Thoreau, seorang pacifis dan pemikir asal Amerika Serikat, "Not until we are lost do we begin to understand ourselves."

12 Juli lalu seorang kawan, Maharsi Wahyu, berulang tahun entah yang keberapa. Sebenarnya kami tak bisa dikatakan kawan. Karena masih belum pernah bertemu muka atau bercakap langsung. Hanya sekedar pembicaraan maya di ruang digital. Bercanda dan berbagi cerita. Selebihnya hanya sekedar seru sapa salam yang membosankan. Yang menarik adalah hari ulang tahun Kincung, begitu dia disapa, bersamaan dengan dua penulis besar favorit saya Henry David Thoreau dan Pablo Neruda.

Kincung saya kenal dari lingkaran kawan-kawan traveler. Petualang muda yang memiliki keyakinan seperti Gie. Orang-orang yang mungkin mencintai tanah ini dengan cara yang menyenangkan. Para petualang yang lahir dari kredo "Bagaimana bisa mencintai tanah ini? Jika kau belum pernah menelusuri lekuk sudutnya?" Kincung adalah sedikit dari beberapa traveler perempuan muda yang saya kenal.

Ia mengaku sebagai mahasiswi Akutansi Universitas negeri di Jogja. Kadang saya suka berpikir, tuhan punya cara sendiri mengubah alur hidup manusia. Seorang mahasiswi fakultas ekonomi dari universitas terkenal, rela melakukan petualangan yang bahkan entah apa ujungnya. Saya kira, mungkin juga Kincung, meyakini bahwa hidup terlalu singkat hanya untuk dijalani seperti orang kebanyakan. Lulus cepat, menjadi karyawan, menikah, beranak lalu mati. Sunyi.

Bertambah tua adalah brengsek. Setidaknya itu menurut saya. Bertambah umur adalah bertambahnya beban. Seringkali beban yang lahir bukan karena keinginan kita. Ia lahir dari konsensus masyarakat yang dipelihara bertahun-tahun lantas melekat seperti kerak pada dinding. "Kapan lulus?" "Kapan nikah?" "Kapan punya anak?" dan repetisi itu menghantui. Meneror seolah-olah kewajiban hidup adalah perkara memenuhi harapan orang lain.

Ada pepatah klasik dalam ajaran Zen Budha yang sangat saya sukai. "Seseorang berdiri di antara cahaya. Lantas bertanya mengapa ada bayangan hitam di hadapannya." Dalam hidup seringkali kita lupa untuk menghargai diri sendiri. Pongah akan harapan orang lain yang membuat diri kita dibayang-bayangi kesuksesan masa silam. Dalam hal ini Kincung berusaha mendobrak semua itu. Ia bukan lagi seorang petualang, melainkan seorang penakluk.

Beberapa hari menjelang ulang tahun. Gadis ini memutuskan untuk pergi ke tanah Jonggring Solaka. Tanah para dewa. Dataran tertinggi di pulau jawa. Gunung semeru yang agung. Simply, because she want give herself a present. Conquering Semeru. Apa yang lebih angker dari itu?

Pada 1854 Henry David Thoreau, menuliskan salah satu travelogue monumentalnya yang terkumpul dalam "Walden". Lelaki berjambang lebat seperti Oma Irama ini berkata "I went to the woods because I wished to live deliberately, to front only the essential facts of life, and see if I could not learn what it had to teach, and not, when I came to die, discover that I had not lived." Ia bicara perihal hidup yang diadu. Hidup yang pejal dan penuh liku. Saya kira Kincung sudah tamat dalam masalah seperti ini.

Akhirnya tidak ada lagi kekaguman yang bisa saya tuliskan padanya. Ia telah berhasil menaklukan Semeru. Berhasil terpilih dalam barisan pemuda-pemudi yang akan mengangkat sauh dan melakukan kembara bahari. Perempuan yang menolak takluk. Dimana kelak Kincung akan mencatat namanya sendiri sebagai seseorang yang keluar dari barisan manusia mekanis. Yang hanya hidup untuk dirinya sendiri dan terkungkung dalam kubikel bernama masyarakat otomatik.

Sebagai penutup saya ingin mengutip sajak masyur dari Walt Whitman. "Kini beta paham, rahasia menjadi manusia utama, adalah untuk hidup bersama alam raya, jua tidur dan makan bersama Nya." Bukankah hidup adalah perihal menemukan jalan pulang?

Rabu, 18 Juli 2012

Tota'an





Langit biru dan matahari terik memanggang. Tepat pukul 11.00 di salah satu ruas jalan di Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Jember Jawa Timur. Ratusan orang datang berkumpul dengan membawa keranjang berisi burung dara. Mereka berarak. Ada yang berjalan, menaiki motor dan menaiki truk. Wajah mereka diliputi semangat yang meluap. Seolah hendak adu kebanggan.

            Matahari tak juga mengurangi teriknya. Sengat panasnya melahirkan bulir-bulir keringat diantara para warga yang berkumpul. Tentu tak hanya manusia saja yang merasakan panas. Hampir 4.000 burung dara yang dibawa orang-orang itu bergerak gaduh menolak panas. Hari itu mereka sedang bersiap untuk melakukan kegiatan tota’an, sebuah seremoni kebersamaan, yang kerap kali di lakukan masyarakat sisi selatan Jember.

            Seorang pria dengan peci hitam dan kemeja putih berdiri di salah satu gang di pinggir jalan itu. Ia mempersilahkan para pembawa burung dara untuk masuk dan berkumpul di halaman rumahnya. “Acara ini sebenarnya sebagai ajang silaturahmi dan juga pengenalan anggota baru terhadap paguyuban persaudaraan burung dara,” kata Haji Mohammad Solikhin, ketua paguyuban burung dara Dewa Angin Semboro, ketua panitia acara hari itu.





Setiap burung dara yang mengikuti kegiatan tota’an didandani dengan berbagai pernik. Seperti pita warna-warni dan juga hiasan jambul. Nama kelompok burung-burung itu pun mengundang senyuman. Ada kelompok yang menamakan dirinya kelompok penakluk cewek, ada pula anak manja, ada pula yang putra utama. “Penamaan ini buat senang-senang. Juga sebagai penanda kepemilikan.”


  Hari itu para pecinta burung dara dari seluruh kecamatan Semboro datang mengikuti tota’an. Kebanyakan dari mereka memang telah saling mengenal satu sama lain. “Keguyuban ini selalu kami jaga sebagai alat pemersatu, kalau burung ini kan cuma alasan hobi saja,” kata ia. Tak hanya disuguhi atraksi andukan dara, mereka juga diberikan makan gratis dan juga saling tukar info mengenai perawatan burung dara.

            Siang makin terik dan adzan dhuhur mulai berkumandang. Halaman rumah Haji Solikhin semakin ramai. Seperti layaknya pertemuan ibu-ibu, tota’an juga diramaikan dengan undian serupa arisan. Namun hadiah berasal dari kas organisasi atau hibah dari para penyumbang. “Intinya supaya ada yang lucu-lucu dan buat senang bersama. Hadiahnya juga tak besar,” ujar Haji Solikhin.

Dari arah jalan utama seorang pria berpakaian hitam dan berkumis tebal datang. Ia adalah Ismail Pacicik, penikmat burung dara asal Semboro. Ismail, begitu ia disapa, sudah mengenal tota’an sejak lama. Kebiasaan ini bahkan telah menjadi salah satu identitas kultural sejak lama. “Dari saya kecil sudah ada tota’an ini. Kalau gak salah malah tahun 60an itu lebih banyak lagi,”.

            Dari penuturan Ismail hobi ini kemudian berkembang tak hanya di daerah Semboro saja. Namun mulai meluas ke daerah Tanggul hingga Mangli di pusat kota Jember. hal ini karena keunikan hobi ini yang membuat para pemilik burung dara bisa saling unjuk kebolehan kemampuan. “Mereka ini dilatih untuk patuh dan ingat sama tuannya, itu yang membuat saya tertarik sama hobi ini,”

            Ismail dan Haji Solikhin lantas berjalan ke tengah lapangan. Mereka berdiskusi sebentar lantas mengambil sepasang burung dara, lantas memeriksanya. “Ada istilahnya pengantin barat sama timur. Burung dara yang berasal dari dua daerah yang beda,” kata Ismail. Dari dua burung tersebut rencananya akan dilepaskan sebagai tanda awal dimulainya acara tota’an.

Selepas pasangan pengantin itu diterbangkan. Para perawat burung dara dari berbagai kelompok berkumpul ditengah lapangan. Mereka bersiap untuk melepaskan ribuan burung yang sedari tadi telah dipersiapkan.Wajah mereka ada yang cemas, ada yang tergelak, ada pula yang mengantuk. “Ayo sodara-sodara siap. Nanti kalau sudah dihitung tiga dilepas ya,”.

“Satu, dua, tigaaaaa. Ayo sodara-sodara dilepas,” teriak Haji itu. Langit serta merta ditutupi burung dara. Lapangan lokasi acara tota’an berlangsung riuh ramai dengan teriakan. Namun para pemilik burung dara tak terlihat khawatir dara mereka hilang. Karena mereka tahu bahwa burung-burung tersebut akan kembali. “Sudah dilatih untuk ingat rumah. Jadi mau dilepas dimanapun pasti akan kembali kata Ismail.

            Hobi ini sendiri potensial untuk dijadikan kebiasaan atau adat istiadat mengingat sejarahnya yang lumayan panjang. pada masa pergolakan politik Indonesia tahun 60an. Totaan sempat dimanfaatkan orang-orang Lesbumi dan NU untuk menjaga kesatuan desa. mereka menganggap tota’an sangat berpotensi di infiltrasi paham-paham PKI. “Tapi dulu biasanya sebelum tota’an ada pengajian, sekarang sudah nggak,”

            Dulu PKI melakukan pendekatan dengan menggunakan perangkat kesenian seperti ludruk. Sesuatu yang mudah dan murah untuk diperagakakan. Daerah Semboro sendiri meski bukan basis NU, banyak dihuni oleh seniman-seniman dalang dan penari reog Ponorogo. Sampai hari ini jejak kesenian ini masih bisa dilihat dan ditemui di Semboro.



            Kesenian seperti wayang dianggap PKI sebagai seni kaum priyayi. Sehingga untuk mencari tandingan terhadap kesenian itu dulu sering diadakan seni ludruk dan kesenian politis. Andreas Harsono, jurnalis dan penulis, pernah bercerita konon dulu pada saat terjadi coup PKI. Sungai Bedadung yang membelah kota Jember pernah memerah dengan darah. Namun sayang sampai hari ini, masih belum ada naskah yang bisa membuktikan itu.

            Meski tota’an sudah banyak dan jamak ditemui di Semboro, namun kesenian ini masih kalah pamor dengan atraksi lain di Jember seperti JFC atau Kesenian Patrol. Seringkali tota’an diselenggarakan dengan dana swadaya yang melibatkan para pesertanya untuk membayar acara yang mereka ikuti. “Padahal saya yakin ini bagus jika dibuat atraksi turis,” kata Haji Solikhin polos.

            Selain itu jika pemanfaatnya tepat, Haji Solikhin percaya ini bisa menjadi daya tarik pariwisata. mengingat banyaknya peserta dan ruang lingkup tota’an yang tak terbatas di satu daerah saja. kadang dalam satu kampung bisa memiliki 2-3 kelompok burung dara. “Acara ini biasanya diadakan setahun dua kali, bisa jadi acara penarik turis kalau mau,” pungkasnya.

                Siang sudah tergeincir dan sore sudah diambang kehadiran. Wajah-wajah kelelahan berpeluh itu menyunggingkan senyum. Mereka adalah kelompok terakhir penjaga budaya tota’an. Entah sampai kapan kebudayaan ini akan bisa terjaga. Namun Haji Solikhin dan Ismail yakin budaya ini akan tetap ada. “Saya sudah mengajarkan anak saya, tetangga saya, saudara saya. Masa tidak ada yang mau melanjutkan? Kan ini warisan.”. Sementara para merpati tadi terbang entah kemana. 




*semua foto oleh Heru Putranto*

Selasa, 17 Juli 2012

In Selo We Trust

Menjadi mahasiswa, kata Ahmad Wahib, adalah bersiap keluar dari kungkungan sebagai "Pahlawan dalam Kandang Kecil". Seseorang yang harusnya berani bersikap kritis dan mampu menunjukan pemikirannya dengan rapi. Sesosok manusia yang multi talenta. Semacam perpaduan antara Broery Marantika, Rony Patinasarani dan juga Benny Moerdani. Pintar bernyanyi sambil menggocek bola dalam siaran pers Pangkomtatib soal demonstrasi harga sembako.

Tapi bagi saya menjadi mahasiswa adalah menjadi Selo. Menjadi manusia yang tidak terikat norma kesusilaan dan bebas nilai. Selo sendiri menurut pengamat JKT48 lulusan IKIP Jogja, Ardyan M Airlangga, merupakan kata /adj/ berada dalam situasi lapang; tidak terhimpit; bukan hipster; tak kuliah di sekolah tinggi. Sehingga Selo adalah sebuah zetgeist dari para pemuda-pemudi yang menikmati bangku perkuliahan unipersitas.  Sebuah definisi cutting edge avantgarde yang impresionis dan berdasar ukhuwah.

Masa kuliah buat saya adalah masa yang panjang. Saat saya bilang panjang itu merupakan terma yang merujuk pada waktu dan bukan pada satuan jarak. Oke tujuh tahun kuliah sarjana strata satu. Tapi hei bukankah Bung Hatta menyelesaikan kuliahnya selama 11 tahun? Ia pun selo bersama rekan-rekannya di Nederland sana dengan tergabung dalam geng lokal Indische Vereeniging. Dan bukan, itu bukan geng motor.

Masa kuliah bagi saya adalah momen idealis. Menjadi agen perubahan dan penyambung suara penderitaan rakyat. Atau setidaknya saya pikir begitu. Pada awal masuk kuliah saya sudah menjadi korban politik kampus antara ya sebut saja Himpunan Mahasiswa Imbisil dan Permakluman Manusia Intoleran Ih (silahkan singkat sendiri). Pertempuran perebutan pengaruh dari kedua organisasi ini sempat membuat beberapa mahasiswa menjadi panas. Termasuk saya yang terpancing untuk membunuh Presiden BEM saat itu.

Maka beruntunglah mereka yang kuliah dan menikmati segala macam keisengan, keseloan, romansa, dan juga kesedihan ala mahasiswa. Hidup cuma sekali, maka selo lah selagi bisa. Jangan salahkan si Komo lewat jika anda menjadi tua sia-sia.

5. KKN Relijius

Saya adalah salah satu dari sedikit rombongan badut angkatan 2005 yang baru bisa ikut KKN pada tahun 2010. Atau telat setahun dari yang dijadwalkan. Alasannya? Sederhana, saya ingin ngecengin adik kelas karena jika telat setahun saya berharap bisa satu kelompok dengan dedek-dedek angkatan yang unyu. Dan seperti biasa Tuhan selalu punya lelucon yang tak utuh buat saya. Dari 8 orang anggota kelompok KKN kami. Semuanya laki-laki dan satu di antaranya adalah kawan satu angkatan dan kawan ngopi. Fuck.

Karena kami semua adalah lelaki keparat yang tak mengerti bagaimana menjalankan KKN secara serius. Maka kami menyusun program KKN berdasarkan insting. Yup, ajak main poker perangkat desa, bikin monumen, dan gaul dengan pemuda setempat biar motor tak ilang. Namun lebih dari itu semua saya ditunjuk kepala desa untuk menjadi salah satu pengasuh buletin masjid yang diterbitkan tiap Jum'at.

Tak berhenti sampai di situ salah seorang pengasuh masjid meminta saya untuk menjelaskan konten dari buletin sebelum disebarkan. Saya pikir ini semacam sensor, rupanya bukan. Si pengurus ingin agar apa yang disampaikan itu bisa menjadi bahan untuk kutbah. "Soalnya kotbahnya dari dulu sama aja mas. Kalau gak soal solat lima waktu ya puasa senin kemis," katanya.

Akhirnya dengan tata artistik seadanya dibantu dengan windows office (ya saya ngelayout dengan ofis karena di komputer desa cuma ada itu) jadilah empat episod kisah perjuangan Salahudin al Ayubi yang dibuat berkala. Bayangkan buletin Jum'at dengan gaya cerpen. Tau akibatnya? Seluruh jemaat sholat Jum'at di empat masjid lebih memilih membaca buletin itu daripada dengerin khotib kutbah.

4. Konser Satu Malam

Pernahkah kalian sangat jatuh cinta pada seseorang sehingga memtuskan untuk melakukan kegiatan gila? Pernahkah kalian jatuh cinta sehingga rela mengorbankan kesempatan liburan ke tanah eksotis Lombok hanya untuk bersua wajah dengan pujaan hati? Pernahkah anda dengan begitu bodoh melakukan 11 jam perjalanan melelahkan paska thypiod hanya untuk melihat sebuah senyum? Saya pernah. Menempuh lebih dari 300 Km untuk menemani gadis pujaan anda nonton konser. Menyisihkan waktu super padat di antara jadwal kerja semacam romusha, LPJ UKM yang mepet dan juga momen bimbingan skripsi? Mungkin kalian pikir ini romantis, nyatanya toh ini tindakan selo.

3. UKPKM Tegalboto

Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Tegalboto adalah segala yang bernama kontenplasi. Di sini saya pernah menemani kawan seorang protestan, sebut saja ia Erik Sinaga, untuk bertakbir di depan kumpulan maba di UKM Katolik. Atau menghadiri pelantikan kelompok relawan palang merah, dengan celana cutbray kekecilan yang memiliki resleting rusak? Meminjam kursi batu seberat 80kg dari klub tenis hanya untuk tempat ngopi dan ngecengin anak UKM sebelah?

UKPKM Tegalboto adalah segala yang bernama dialektika kritis. Melakukan perdebatan esensial penting antara apakah Lampung itu melayu atau bukan. Dan bagaimana cara untuk bisa mendapatkan kamar mandi pribadi pada rektorat dengan alasan kebersihan dan sanitasi? Juga melakukan pembersihan rayap dengan membakar kayu yang dimakan hama dengan sebotol bensin penuh? Atau masuk ke dalam konser Ari Lasso gratis dengan id card pers mahasiswa dan gelagapan saat diminta wawancara langsung? Well, saya sudah melakukannya semua.

2. Tukar Celana Dalam

Selama hidup di UKPKM Tegalboto saya tak banyak membawa baju. Hanya beberapa saja. Sebagai golongan menengah ke bawah saya lebih memilih beli buku daripada beli pakaian. Alhasil sebagian besar pakaian saya adalah warisan dari kakak atau sumbangan dari orang. Termasuk juga untuk urusan celana dalam. Hampir semua kawan saya tau kalau saya memiliki celana dalam (baca : sempak) paling buruk sedunia. Sudah melar, banyak bolongnya dan sobek pula. Well, bukankah pakaian itu perihal kenyamanan?

Suatu hari saya lupa untuk mencuci pakaian sementara pagi itu ada kuliah wajib dari kepala jurusan yang terkenal galak. Mau tidak mau saya bangun pagi dan berangkat kuliah. Masalahnya saya sudah empat hari tak ganti celana dalam, dan seluruh selangkangan saya terasa gatal luar biasa. Untuk itu lantas saya mencari solusi di salah satu lemari besi yang biasanya digunakan kawan-kawan untuk menyimpan pakaian.

Rupanya di lemari paling bawah ada beberapa potong pakaian, dan puji tuhan, sebuah celana dalam warna merah marun. Oh yeah. Tanpa pikir panjang saya pakai pakaian itu, yang ternyata luar biasa kecil sekali. Namun keterdesakan dan rasa gatal yang terlanjur merajalela membuat saya tak ambil pusing. Tapi tindakan ini membawa pada bencana.

Selama kuliah saya merasa tak nyaman. Selain menekan terlalu keras. Ternyata celana dalam ini juga sangat jelek bahannya dan membuat parah gatal yang saya alami. Sepulang kuliah kawan saya Miko kebingungan mencari sesuatu. Rupanya celana itu adalah miliknya. "Pe'en wis. Gak usah dibalikno," katanya. Ia tak pernah sebaik itu sebelumnya. I wonder why? Kegiatan ini juga terjadi secara tak sengaja pada seorang kacung bernama Nuran Wibisono. Entah kenapa ukuran celana dalam kami sama.

1. Kuliah 7 Tahun

Apakah anda mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh mata kuliah pada semester enam dengan IPK 3.40? Apakah anda pernah mendapatkan dua kali IP sempurna 4 dua kali secara berturut-turut? Namun ogah mengerjakan skripsi? Well sama. Sampai tulisan ini dimuat, kegiatan selo ini masih berlangsung. Sekian.

Senin, 09 Juli 2012

Monokrom


"Dendam" Aku memulai perbincangan itu sambil menyesap pelan asap rokok. "Melahirkan pejuang paling gigih, yang bahkan para malaikat juga iblis enggan berurusan."


Ia hanya diam memandangi rumput yang mengering. Seperti harapannya yang enggan kembali. Kehilangan semangat untuk hidup. Kadang, manusia menyerah pada pilihan-pilihan wajar dalam hidupnya. Dipaksa mengenali kemampuan diri di depan yang maha daya. Kehilangan selalu punya cara menaklukan ego

Kita semua pernah kehilangan. Well, tapi tak semuanya pernah merasakan kesedihan dan perih karena dipaksa kehilangan. Bahwa sebuah kehilangan adalah runtuhnya tatanan dunia mapan yang kita kenal. Yang sehari-hari kita jalani. Yang semata-mata kita harapkan akan terus ada dan tak pernah berakhir. Dunia utopis yang melahirkan kesempurnaan dalam imaji sederhana kita tentang kebahagiaan.

Kita semua pernah mengenal luka. Seperti juga para peziarah yang meratapi akhir perjalanan.

Ada lubang besar yang kusam saat sebuah tatanan mapan yang kita alami tiba-tiba direngut dengan paksa. Seperti perasaan seorang penjudi yang kalah dalam taruhan setelah memenangkan perjudian berturut-turut. Ia menyesali nasib sebagai sebuah kesialan yang terlambat dipahami. Bahwa kekalahan, seperti juga kehilangan, adalah niscaya. Namun terlalu bebal untuk dimengerti akan tiba dalam waktu yang gegas.

"Mengapa bertemu jika mesti berpisah?" katamu ragu. Seolah-olah pertemuan harus menjadi satu dengan kebersamaan. Apa kau pikir pertemuan dan penyatuan adalah sebuah kebenaran tunggal? Sebuah paket yang tak bisa kita dapatkan terpisah? "Kau naif," jawabku malas.

Kau menahan tangis yang hampir rubuh. Kekalahan telak yang menunggu proklamasinya sendiri.

"Hidup tak bisa diterka. Menentukan cerita sendiri pada hidup yang masih berjalan adalah sebuah kesia-siaan," kataku pelan. Kita sedang duduk memandang langit yang mengeruh kelam. Di antara ratusan orang yang berlalu menghindari rintik hujan yang turun berderai. "Seperti air mata," katamu.

"Hujan selalu seperti air mata. Ia hadir dengan keadaan yang getir. Deras atau hanya sekedar rintik menahan perih. Kadang kala dengan badai yang menggelegar. Hujan adalah air mata. Bagiku begitu,"

Di sebuah lapangan besar. Dengan atap pohon beringin yang menjalar menutupi langit. Kita bertikai mengenai sebuah kesepakatan. Satu akan kehilangan sementara yang lain menemukan.

Karena tak pernah ada sebuah kehilangan yang lunas dipersiapkan.

Kita berusaha untuk mengukur kekuatan diri. Perihal rindu yang mesti diganti dengan berbagai nama lain. "Kau tak boleh lagi merindu. Kita bukan kekasih. Tak pernah jadi kekasih," kataku pelan.

Aku tahu pertahananmu akan sekali lagi rubuh. Tersungkur dengan rasa nyeri di dada yang teramat sangat. Perasaan yang dulu pernah kau rasakan. Saat maut merengut orang yang menjadi pahlawan hidupmu. Lalu kini aku mengulang perasaan itu. Dengan kadar yang lebihh pekat. Menikam tepat di ulu hati lantas memutarnya perlahan. Aku tahu itu. Aku menikmati semua detik saat menyakitimu.

"Mari bertukar puisi." katamu tiba-tiba. "Aku selalu tahu kau suka puisi. Janji, jika ada puisi yang bagus kau akan tetap tinggal lebih lama. Tidak pergi malam ini," kau bergetar menahan tangis.

"Baik, Aku mulai?"

"Tentu kau mulai. Kau yang paham benar apa itu puisi. Aku hanya menikmati. Puisi bagiku selalu rumit untuk dipahami,"

"Di kota yang tercatat namanya itu, pagi kekal di peraduan. dan kita tak akan berbaring di dalamnya,"

"GM dalam sajak di tepi Jucar," katamu riang dengan air mengambang di ujung mata.  "Ketika sunyi menyediakan sebuah beranda merah muda yang bernama kebisuan, Lalu apakah arti percakapan kita dari halte ke halte menyusuri jalan yang berliku,"

"Hmm, dari puisi Acep Zamzam Noor - Untuk Melika Hamaudy. Pilihan yang indah," kataku.

"Aku tinggalkan harum kubangan, dan ciuman yang rapuh seperti daun luruh di belahan rambutmu,"

"Oh demi tuhan.. Dina Oktaviani. L'Acteur -  yang tak pernah kau mengerti. Dari semua puisi mengapa itu?"

"Kau kalah," kataku acuh. Dan percakapan kikuk itu berakhir. Aku pikir ini sudah waktunya mengakhiri. Menghentikan apapun yang kita pernah miliki. Perpisahan tak pernah jadi prosesi yang menyenangkan dan mengakhiri sebuah hubungan tanpa menyakiti satu yang lain adalah sebuah kebohongan besar. Meminjam kata Chairil Anwar "Ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah,"

"Chairil?" katamu mengusap air mata dengan pinggiran lengan jaketmu. "Ia dikhianati. Aku dikhianati. Kau juga dikhianati. Kita dikhianati keadaan,"

Keadaan tak pernah khianat. Perasaan kita yang pelan-pelan menanamkan dusta. Kehilangan tak pernah mudah dan perpisahan tak pernah menyenangkan. Lalu apa yang kau harapkan dari sebuah rindu yang tak utuh kasihku?