Senin, 09 Juli 2012

Monokrom


"Dendam" Aku memulai perbincangan itu sambil menyesap pelan asap rokok. "Melahirkan pejuang paling gigih, yang bahkan para malaikat juga iblis enggan berurusan."


Ia hanya diam memandangi rumput yang mengering. Seperti harapannya yang enggan kembali. Kehilangan semangat untuk hidup. Kadang, manusia menyerah pada pilihan-pilihan wajar dalam hidupnya. Dipaksa mengenali kemampuan diri di depan yang maha daya. Kehilangan selalu punya cara menaklukan ego

Kita semua pernah kehilangan. Well, tapi tak semuanya pernah merasakan kesedihan dan perih karena dipaksa kehilangan. Bahwa sebuah kehilangan adalah runtuhnya tatanan dunia mapan yang kita kenal. Yang sehari-hari kita jalani. Yang semata-mata kita harapkan akan terus ada dan tak pernah berakhir. Dunia utopis yang melahirkan kesempurnaan dalam imaji sederhana kita tentang kebahagiaan.

Kita semua pernah mengenal luka. Seperti juga para peziarah yang meratapi akhir perjalanan.

Ada lubang besar yang kusam saat sebuah tatanan mapan yang kita alami tiba-tiba direngut dengan paksa. Seperti perasaan seorang penjudi yang kalah dalam taruhan setelah memenangkan perjudian berturut-turut. Ia menyesali nasib sebagai sebuah kesialan yang terlambat dipahami. Bahwa kekalahan, seperti juga kehilangan, adalah niscaya. Namun terlalu bebal untuk dimengerti akan tiba dalam waktu yang gegas.

"Mengapa bertemu jika mesti berpisah?" katamu ragu. Seolah-olah pertemuan harus menjadi satu dengan kebersamaan. Apa kau pikir pertemuan dan penyatuan adalah sebuah kebenaran tunggal? Sebuah paket yang tak bisa kita dapatkan terpisah? "Kau naif," jawabku malas.

Kau menahan tangis yang hampir rubuh. Kekalahan telak yang menunggu proklamasinya sendiri.

"Hidup tak bisa diterka. Menentukan cerita sendiri pada hidup yang masih berjalan adalah sebuah kesia-siaan," kataku pelan. Kita sedang duduk memandang langit yang mengeruh kelam. Di antara ratusan orang yang berlalu menghindari rintik hujan yang turun berderai. "Seperti air mata," katamu.

"Hujan selalu seperti air mata. Ia hadir dengan keadaan yang getir. Deras atau hanya sekedar rintik menahan perih. Kadang kala dengan badai yang menggelegar. Hujan adalah air mata. Bagiku begitu,"

Di sebuah lapangan besar. Dengan atap pohon beringin yang menjalar menutupi langit. Kita bertikai mengenai sebuah kesepakatan. Satu akan kehilangan sementara yang lain menemukan.

Karena tak pernah ada sebuah kehilangan yang lunas dipersiapkan.

Kita berusaha untuk mengukur kekuatan diri. Perihal rindu yang mesti diganti dengan berbagai nama lain. "Kau tak boleh lagi merindu. Kita bukan kekasih. Tak pernah jadi kekasih," kataku pelan.

Aku tahu pertahananmu akan sekali lagi rubuh. Tersungkur dengan rasa nyeri di dada yang teramat sangat. Perasaan yang dulu pernah kau rasakan. Saat maut merengut orang yang menjadi pahlawan hidupmu. Lalu kini aku mengulang perasaan itu. Dengan kadar yang lebihh pekat. Menikam tepat di ulu hati lantas memutarnya perlahan. Aku tahu itu. Aku menikmati semua detik saat menyakitimu.

"Mari bertukar puisi." katamu tiba-tiba. "Aku selalu tahu kau suka puisi. Janji, jika ada puisi yang bagus kau akan tetap tinggal lebih lama. Tidak pergi malam ini," kau bergetar menahan tangis.

"Baik, Aku mulai?"

"Tentu kau mulai. Kau yang paham benar apa itu puisi. Aku hanya menikmati. Puisi bagiku selalu rumit untuk dipahami,"

"Di kota yang tercatat namanya itu, pagi kekal di peraduan. dan kita tak akan berbaring di dalamnya,"

"GM dalam sajak di tepi Jucar," katamu riang dengan air mengambang di ujung mata.  "Ketika sunyi menyediakan sebuah beranda merah muda yang bernama kebisuan, Lalu apakah arti percakapan kita dari halte ke halte menyusuri jalan yang berliku,"

"Hmm, dari puisi Acep Zamzam Noor - Untuk Melika Hamaudy. Pilihan yang indah," kataku.

"Aku tinggalkan harum kubangan, dan ciuman yang rapuh seperti daun luruh di belahan rambutmu,"

"Oh demi tuhan.. Dina Oktaviani. L'Acteur -  yang tak pernah kau mengerti. Dari semua puisi mengapa itu?"

"Kau kalah," kataku acuh. Dan percakapan kikuk itu berakhir. Aku pikir ini sudah waktunya mengakhiri. Menghentikan apapun yang kita pernah miliki. Perpisahan tak pernah jadi prosesi yang menyenangkan dan mengakhiri sebuah hubungan tanpa menyakiti satu yang lain adalah sebuah kebohongan besar. Meminjam kata Chairil Anwar "Ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah,"

"Chairil?" katamu mengusap air mata dengan pinggiran lengan jaketmu. "Ia dikhianati. Aku dikhianati. Kau juga dikhianati. Kita dikhianati keadaan,"

Keadaan tak pernah khianat. Perasaan kita yang pelan-pelan menanamkan dusta. Kehilangan tak pernah mudah dan perpisahan tak pernah menyenangkan. Lalu apa yang kau harapkan dari sebuah rindu yang tak utuh kasihku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar