Sabtu, 21 Juli 2012

Rejse



Ada sebuah puisi epos yang konon menjadi sajak tertua dalam sejarah literasi Inggris. Kisah perjuangan pangeran Denmark, Beowulf yang agung. Ditulis dalam bahasa Anglo-Saxon kuno (old English) puisi ini memantik romantisme seluruh eropa terhadap petualangan. Sebuah kebanggaan yang kelak melahirkan God, Gold and Glory. Petualangan atau dalam lidah warga Skandinavia Rejse, Reise atau Resa merupakan identitas lahiriah.

Lalu apakah sebenarnya petualangan itu? Dalam banyak peradaban dan kebudayaan petualangan merupakan bagian dari hidup. Ia adalah tolok ukur kedewasaan dalam sistem masyarakat adat minang dengan "rantau". Juga merupakan momen seorang lelaki diakui sebagai bagian dari masyarakat dalam sistem masyarakat maritim Bugis. Karenanya, kadang saya berpikir, Indonesia dibangun dari petualang yang menolak tidur di rumah dan mati berkarat.

Adalah Seamus Heaney, penyair dan peraih nobel sastra dunia, yang kemudian dengan jenius menerjemahkan Beowulf. Syair yang dimulai dengan paragraf "So. The Spear-Danes in days gone by / ad the kings who ruled them had courage and gratness. / We have heard of those princes' heroic campaigns." Selalu ada unsur dramatik dalam puisi epik. Mereka (puisi) selalu menjadi katalis bagi para pendengarnya untuk memantik imajinasi akan sesuatu yang tak nampak.

Tapi bukan tentang itu saya menuliskan cerita ini. Bagi banyak masyarakat tradisional Skandinavia petualangan juga merupakan upaya menemukan diri sendiri. Upaya untuk menaklukan diri sendiri dan menjadi pribadi yang baru. Terkadang dalam usaha pencarian tadi kita mesti tersesat, menemukan jalan buntu dan kalau perlu memutar jauh. Meminjam kata-kata Henry David Thoreau, seorang pacifis dan pemikir asal Amerika Serikat, "Not until we are lost do we begin to understand ourselves."

12 Juli lalu seorang kawan, Maharsi Wahyu, berulang tahun entah yang keberapa. Sebenarnya kami tak bisa dikatakan kawan. Karena masih belum pernah bertemu muka atau bercakap langsung. Hanya sekedar pembicaraan maya di ruang digital. Bercanda dan berbagi cerita. Selebihnya hanya sekedar seru sapa salam yang membosankan. Yang menarik adalah hari ulang tahun Kincung, begitu dia disapa, bersamaan dengan dua penulis besar favorit saya Henry David Thoreau dan Pablo Neruda.

Kincung saya kenal dari lingkaran kawan-kawan traveler. Petualang muda yang memiliki keyakinan seperti Gie. Orang-orang yang mungkin mencintai tanah ini dengan cara yang menyenangkan. Para petualang yang lahir dari kredo "Bagaimana bisa mencintai tanah ini? Jika kau belum pernah menelusuri lekuk sudutnya?" Kincung adalah sedikit dari beberapa traveler perempuan muda yang saya kenal.

Ia mengaku sebagai mahasiswi Akutansi Universitas negeri di Jogja. Kadang saya suka berpikir, tuhan punya cara sendiri mengubah alur hidup manusia. Seorang mahasiswi fakultas ekonomi dari universitas terkenal, rela melakukan petualangan yang bahkan entah apa ujungnya. Saya kira, mungkin juga Kincung, meyakini bahwa hidup terlalu singkat hanya untuk dijalani seperti orang kebanyakan. Lulus cepat, menjadi karyawan, menikah, beranak lalu mati. Sunyi.

Bertambah tua adalah brengsek. Setidaknya itu menurut saya. Bertambah umur adalah bertambahnya beban. Seringkali beban yang lahir bukan karena keinginan kita. Ia lahir dari konsensus masyarakat yang dipelihara bertahun-tahun lantas melekat seperti kerak pada dinding. "Kapan lulus?" "Kapan nikah?" "Kapan punya anak?" dan repetisi itu menghantui. Meneror seolah-olah kewajiban hidup adalah perkara memenuhi harapan orang lain.

Ada pepatah klasik dalam ajaran Zen Budha yang sangat saya sukai. "Seseorang berdiri di antara cahaya. Lantas bertanya mengapa ada bayangan hitam di hadapannya." Dalam hidup seringkali kita lupa untuk menghargai diri sendiri. Pongah akan harapan orang lain yang membuat diri kita dibayang-bayangi kesuksesan masa silam. Dalam hal ini Kincung berusaha mendobrak semua itu. Ia bukan lagi seorang petualang, melainkan seorang penakluk.

Beberapa hari menjelang ulang tahun. Gadis ini memutuskan untuk pergi ke tanah Jonggring Solaka. Tanah para dewa. Dataran tertinggi di pulau jawa. Gunung semeru yang agung. Simply, because she want give herself a present. Conquering Semeru. Apa yang lebih angker dari itu?

Pada 1854 Henry David Thoreau, menuliskan salah satu travelogue monumentalnya yang terkumpul dalam "Walden". Lelaki berjambang lebat seperti Oma Irama ini berkata "I went to the woods because I wished to live deliberately, to front only the essential facts of life, and see if I could not learn what it had to teach, and not, when I came to die, discover that I had not lived." Ia bicara perihal hidup yang diadu. Hidup yang pejal dan penuh liku. Saya kira Kincung sudah tamat dalam masalah seperti ini.

Akhirnya tidak ada lagi kekaguman yang bisa saya tuliskan padanya. Ia telah berhasil menaklukan Semeru. Berhasil terpilih dalam barisan pemuda-pemudi yang akan mengangkat sauh dan melakukan kembara bahari. Perempuan yang menolak takluk. Dimana kelak Kincung akan mencatat namanya sendiri sebagai seseorang yang keluar dari barisan manusia mekanis. Yang hanya hidup untuk dirinya sendiri dan terkungkung dalam kubikel bernama masyarakat otomatik.

Sebagai penutup saya ingin mengutip sajak masyur dari Walt Whitman. "Kini beta paham, rahasia menjadi manusia utama, adalah untuk hidup bersama alam raya, jua tidur dan makan bersama Nya." Bukankah hidup adalah perihal menemukan jalan pulang?

6 komentar:

  1. Spik spik-mu sing iki asu banget bro. Ihik.

    BalasHapus
  2. apik banget mas. speechless aku :')

    BalasHapus
  3. Wow selamat ultah kinkin haha. Mas dhani romantis sekali yah :D

    BalasHapus
  4. cie cie jago bener nyepiknya :'>

    BalasHapus
  5. cie cie bang dhani jago banget nyepiknya

    BalasHapus