Rabu, 01 Agustus 2012

Anjing!

Teater Tiang dalam lakon Monumen Para Anjing



Pada satu cerpen masyur karya Kuntowijoyo yang berjudul Anjing-anjing Menyerbu Kuburan, ada sebuah fragmen tentang simbol keserakahan yang teramat nyata. Tentang bagaimana manusia dan hewan, dalam hal ini anjing, bisa masuk dalam sebuah kriteria yang sama. Menjadi mahluk yang tak berpikiran logis dan menjadi budak atas keinginannya sendiri. Anjing yang memakan bangkai manusia dan manusia yang mencuri dari bangkai sesamanya. Keduanya seragam atas nama ketamakan.


Interpertasi yang muncul dalam Anjing-anjing Menyerbu Kuburan adalah posisi kemanusiaan yang sudah diambang batas. Tokoh utama yang sedang melakukan ritual digambarkan tengah berada dalam himpitan ekonomi, sehingga ia rela melakukan apapun untuk meraih kekayaan. Sementara para anjing liar, yang entah darimana, tiba-tiba muncul untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Makan. Dua kebutuhan yang bertemu dengan alasan yang kurang lebih mirip. Hanya satu berdasarkan insting dan yang lainnya keterhimpitan.


25 Juli lalu pada sebuah malam yang tak begitu larut, Unit Jegiatan Seni Pertunjukan Mahasiswa Teater Tiang FKIP Universitas Jember, tengah mementaskan sebuah lakon teater surealis yang berjudul Monumen Para Anjing. Naskah nir dialog ini disutradari oleh Ferick Sahid Persi, yang juga ketua Teater Tiang. Meski tak banyak dihadiri oleh penonton, namun pementasan yang berdurasi sekitar 45 menit ini mampu membuat saya terhenyak dengan fragmen-fragmen simbolis yang berkelebat.


Dimulai dari tata panggung yang sebagian besar diisi oleh kursi juga sebuah gerobak yang membawa kursi tadi. Karena memang tak banyak ragam properti yang digunakan Teater Tiang pada lakon kali ini. Sebuah lapangan bundar di tengah kampus FKIP Unej dipilih sebagai tempat pementasan. Di awal hingga akhir pementasan para pemain sama sekali tak melakukan dialog. Hanya permainan ekspresi dan suara-suara yang mirip dengan Anjing.



Pada paruh awal pementasan para aktor tak banyak melakukan gerakan. Gerak yang dilakukan juga lamat-lamat seperti ogah-ogahan. Tidak melulu menampilkan banyak gestur yang gegas apalagi terburu-buru. Salah satu unsur yang menarik yang saya sukai dari naskah Monumen Para Anjing adalah penggunaan unsur simbol dan ketiadaan dialog. Para penonton dibuat bertanya-tanya mengenai apa maksud dari pementasan tersebut. Boleh jadi antar satu penonton dan yang lainnya memiliki tafsir yang berbeda.

Simbol-simbol yang dimainkan oleh Ferick dan kawan-kawan memiliki beberapa lapisan tafsir. Tentang simbol anjing, tentang kursi dan juga gerak yang lambat. Ia seolah bicara tentang manusia yang tunduk. Manusia yang hanya bisa mengekor dan dipelihara oleh sistem. Kursi sendiri merupakan perlambang kekuasaan. Sebuah monumen yang merepresentasikan otoritas dan penguasa. Sementara para anjing adalah manusia-manusia yang direpresi dan dimanjakan oleh penguasa tersebut.

Dalam lakon Monumen Para Anjing, para anjing tadi awalnya adalah manusia. Namun karena mereka tunduk dan direpresi pelan-pelan kesadaran kritis mereka habis. Direduksi oleh teror, uang dan juga propaganda yang dilakukan penguasa. Hal ini disimbolkan oleh Teater Tiang melalui amplop, anjing yang meneror juga indoktrinasi melalui topeng-topeng. "Kita semua awalnya manusia. Tapi berubah jadi anjing. Anjing yang tunduk dan hanya bisa diam saja," tukas Ferick.

Ferick sendiri sebagai sutradara sebenarnya terinspirasi sejak lama untuk mementaskan teater surealis yang nir dialoh. "Saya telah lama ingin menyusun naskah ini. Sejak pertama bisa membaca pada koran, saya rasa tidak pernah ada perubahan yang berarti dalam pemberitaan," katanya dengan landai. Ia lantas bercerita jika naskah ini adalah upaya untuk mengkritisi kondisi masyarakat yang tak pernah berubah sejak bertahun lampau.

Namun yang membuat pementasan ini kurang sempurna adalah menjelang akhir, Ferick saya kira melakukan blunder dengan menuliskan kata-kata. Seperti Demokrasi, Anti Korupsi dan lainnya. Ia yang sedari awal ingin pementasan ini sebagai sebuah "Puisi yang dimaknai secara mandiri," telah menggiring penontonnya terhadap sebuah pemaknaan. Padahal jika dilakukan dengan rapi ia bisa menggunakan simbol-simbol lain yang mewakili kata-kata tersebut.

Sebagai penutup saya hendak mengingat beberapa fragmen dalam cerpen  karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Legenda Wong Asu. Anjing digambarkan sebagai sebuah komoditas juga simbol kesetiaan. Ia hadir dalam penggambaran sengsu (oseng-oseng asu) yang dikonsumsi sebagai makanan. Lebih dari itu detail narasi Seno tentang bagaimana perbandingan anjing liar dan anjing domestik bisa menjadi sebuah ironi. Bahwa dalam dunia binatang pun terdapat perbedaan bagaimana sebuah keas dibentuk. Apakah kau seekor anjing buluk atau anjing aristokrat.

1 komentar:

  1. wah asik apresiasinya mas.... cerpen legenda wong asu bisa jadi literatur saya nanti mengenai naskah ini... rencananya naskah ini akan saya pentaskan legi dengan simbol dan penggarapan yang lebih abnormal lagi... saya tunggu lagi kehadiran dan apresiasinya...

    BalasHapus