Sabtu, 11 Agustus 2012

Dalam Perjalanan Kita...

Adam, manusia pertama adalah traveler. Dia mencari dimana Hawa berada.

Salman Rushdie memulai novel masyurnya, Satanic Verses, dengan sebuah pernyataan filosofis yang menggetarkan. "To be born again," kata malaikat Gibreel Farishta menggema dari surga, "first you have to die.” Saya kira Rushdie hendak menyampaikan sebuah pesan. Bahwa untuk menemukan sesuatu, kita mesti kehilangan yang lain. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa didapat hanya dengan berdiam diri dan terlena pada satu keadaan. 

Pernah dalam suatu masa saya merasa jenuh dengan kehidupan yang monoton. Kuliah, berorganisasi, pacaran lalu pulang tidur di kosan. Rutinitas yang awalnya menyenangkan ini pelan-pelan menjadi semacam penjara. Semua yang dulunya adalah kegiatan yang saya inginkan, berubah menjadi kebiasaan yang menjemukan. Tidak ada greget yang dulu memantik semangat hidup. Seringkali dalam diam pertanyaan datang dengan cara yang menyebalkan. "Apa ada yang salah dalam hidup saya?"

Lalu pada akhir 2007 saya berkenalan dengan seorang kawan yang gemar melakukan perjalanan. Ia mengaku dirinya sebagai petualang. Terinspirasi dari sebuah novel karangan Gola Gong, si norak ini tampil dengan tampilan gembel. Kerap dalam diskusi kami yang diselangi makian itu ia becerita, bahwa di luar sana, di Indonesia ada jutaan tempat yang menunggu dijamah, menunggu ditemukan, menanti untuk diceritakan. Tanpa sadar ia membakar semangat baru dalam hidup saya. Semangat petualangan.

Saya bukan seorang pemberani. Seringkali dalam hidup saya lebih memilih berjalan di pinggiran daripada berdiri tegak menghadapi masalah. Pengecut yang ragu-ragu lebih tepatnya. Tapi si norak kawan saya itu rupanya punya cara jitu untuk menyebarkan laku perjalanan, atau traveling, sebagai sebuah gairah hidup. Ia tidak mencemooh gaya hidup aman yang selama ini saya inginkan. Lulus cepat, jadi PNS atau karyawan bank, menikah, beranak lantas mati. Ia hanya bertanya. "Apa yang didapat dari hidup semacam itu?"

Saya kira hidup bukan perihal mendapat gaji lalu beranak. Manusia lebih hebat dari itu.

Pelan-pelan saya memacu diri untuk berani melakukan perjalanan. Awalnya beramai-ramai dengan beberapa kawan pergi ke Jogja, lantas berjalan sendiri. Kota ini adalah kota pertama yang mungkin akan selalu membuat saya menyemai rindu. Ia adalah segala yang bernama kepulangan, sahabat dan juga getir. Getir? Ah sudahlah suatu saat saya akan ceritakan. Tapi di sini saya bertemu dengan kawan-kawan lain yang juga menyadari arti penting sebuah petualangan. Perpindahan manusia kerap kali melahirkan gagasan, kawan dan juga pencerahan yang baru.

Tapi bagaimana sebuah perjalanan mesti dimaknai? Saya kira setiap manusia pernah melakukan perjalanan, petualangan dan ziarah. Tiap-tiap dari perpindahan tersebut memiliki arti sendiri. Sebuah perjalanan tidak selalu linier dengan keinginan kita. Artinya, dalam beberapa kasus, perjalanan bisa menjadi sebuah neraka atau surga tergantung bagaimana kita melakukannya. Perjalanan, seperti juga hidup, semestinya memiliki tujuan normatif. Tidak melulu datang foto-foto, menulis lalu melupakan begitu saja. Perjalanan yang semacam ini, buat saya, adalah perjalanan yang dangkal.


Kadang untuk memuaskan dahaga perjalanan, saya membaca, karena gak punya duit buat jalan.

Mau tidak mau saya ingin bersepakat dengan Jack Kerouac dalam cara menikmati sebuah perjalanan. Melalui magnum opusnya, On the Road, Kerouac bercerita bahwa perjalanan semestinya dimaknai seperti membaca buku. Ia bersama Dean Moriarty ia menjelajahi Amerika Serikat seperti membaca sebuah puisi. "I preferred reading the American landscape as we went along." katanya "Every bump, rise, and stretch in it mystified my longing.” Saya kira ia punya cara yang asik dalam bersenang-senang.

Apakah perjalanan juga harus dilakukan pada sebuah lokasi yang terpencil? Melulu indah dan eksotis? Saya kira tidak. Saya belajar dari Orhan Pamuk yang menyusun Istanbul dengan jeli. Perjalanan semestinya proses yang mencerahkan. Seperti saat pertama kali saya melakukan perjalanan ke Jogja. Saya terpesona akan segala yang dimiliki kota itu. Para penduduknya, toko bukunya, stasiun keretanya dan juga makanannya. Jogja seperti ibu lain yang selalu membuat saya betah berlama-lama menikmati peraduan yang ia sediakan.

Setiap kota, bagi saya, selalu menawarkan satu sudut baru untuk diceritakan, satu sosok baru untuk dikenali dan satu jalan baru untuk dijalani. Untuk itu, dalam setiap perjalanan, dimanapun destinasinya, saya selalu memperlakukan mereka sebagai sebuah tempat asing yang pertama kali dijamah. Sehingga meski satu tempat telah berkali-kali dijamah, dikunjungi atau diceritakan. Ia pasti memiliki sudut lain yang lalai dijelaskan. Perjalanan bagi saya bisa jadi merupakan sinonim dari sebuah pencarian.

Beberapa saat lalu seorang kawan, Farchan Noor Rachman, menuliskan sebuah bernas yang berjudul "What are you traveling for?" Si manis berkaca mata hitam ini berkata "Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana menikmati perjalanan dengan apapun, kemanapun dan dengan ongkos berapapun." Awalnya saya hendak setuju dengan pernyataan ini, kalimat itu benar sebagai sebuah jargon. Namun sebagai pribadi yang pernah mengenyam 30 episode Wiro Sableng dan 42 jilid kitab Dragon Ball saya diajarkan untuk menjadi kritis. 

Farchan alpa pada apa yang telah ia dan kawan-kawan travelernya lakukan. Mereka telah menyebarkan demam perjalanan sebagai sebuah gaya hidup baru, tanpa mempersiapkan pribadi-pribadi lain yang akan terjun dalam petualangan itu. Seperti juga cinta, melancong adalah sebuah virus yang bisa menjangkiti siapapun. Sayangnya tak semua orang bisa memperlakukan perjalanan dengan bijaksana. Beberapa, meminjam bahasa Farchan, "dunia traveling sudah terlalu riuh, terjadi kekosongan, terjadi upaya sombong-sombongan."


Saya ingin berdialog dengan Farchan juga situs semacam hifatlobrain atau yang lainnya, perihal kode etik seorang pejalan. Sebenarnya apa esensi sederhana dari sebuah perjalanan? Kerapkali situs traveling atau travel writer gagal menyampaikan pesan tersebut. Kebanyakan dari mereka hanya stimulan, perayu yang mengiming-imingi orang lain untuk melakukan perjalanan, tanpa memberikan sebuah cagar batas apa tujuan dari sebuah perjalanan. Katakanlah tujuan setiap manusia dalam melakukan perjalanan berbeda satu sama lainnya. Tapi bukan berarti tak ada batasan bagaimana sebuah perjalanan dilakukan bukan?

Apakah mereka salah? Tidak. Saya hanya khawatir perjalanan tersebut hanya menjadi sebuah vakansi kosong. Sebuah ziarah semu atas ego kita menaklukan sebuah destinasi. Saya ingat perjalanan saya ke Toraja 2009 silam. Di balik riuh promosi dan hiperbola keindahan tanah kematian tersebut, rupanya tersimpan duka. Kita boleh jadi melihat sebuah perayaan kematian yang luar biasa, puluhan kerbau dibantai, babi disembelih untuk sebuah pemandangan. Tapi sedikit sekali kemudian yang menyigi bahwa dalam ritus itu beberapa keluarga jatuh bangkrut. Pernahkah kita peduli?

David Chaney, seorang pemikir kajian budaya populer, mengatakan adanya fenomena illusory surface. Penampakan luar yang indah namun membusuk di dalam. Saya mengakui begitu menikmati ratusan foto indah yang dipamerkan dengan tagar #indonesia atau #traveling. Tapi keindahan itu buat saya menjadi ironis, kerap kalo menusuk, jika kemudian kita gagal memahami realitas sosial yang ada dibalik foto tersebut. Melulu kita memamerkan sebuah surga tapi lupa, barangkali para penghuni surga tersebut sebagian besar putus sekolah atau bahkan mal nutrisi.


Meminjam istilah Pink Floyd, we just two lost soul in the fish bowl. Orang asing yang datang ke destinasi asing.

Saya pikir kita perlu bertanya dalam diri kita sendiri. Perlukah perjalanan hanya perihal destinasi tanpa serta berupaya memberikan sesuatu kembali? Di Bromo beberapa waktu lalu saya kembali dihadapkan pada situasi yang pelik. Dalam khusyuk upacara kasada para pencari berkah berkumpul di dalam kawah. Menanti sesaji yang dilempar untuk kemudian dikumpulkan. Siapa mereka ini? Seorang kawan berkata bahwa mereka adalah para penduduk Bromo yang miskin. Mengumpulkan sesaji bertaruh nyawa hanya untuk mengumpukan renik. Hati saya nyeri.

Ada juga beberapa pelancong yang abai dengan kondisi lingkungan sekitar dimana ia berkunjung. Permasalahan Cagar Alam sebagai lokasi perlindungan telah banyak dicabuli oleh pelancong yang enggan mengerti. Ambil contoh Cagar Alam Pulau Sempu dan Cagar Alam Pulau Nusa Barong. Sila anda cari di Google foto kedua lokasi tersebut. Puluhan atau mungkin ratusan foto akan muncul memamerkan keindahan pantainya. Tapi apakah mereka sadar jika lokasi tersebut adalah daerah konservasi alam?

Vidiadhar Surajprasad Naipaul, penulis dan peraih nobel asal India, pernah menulis sebuah catatan perjalanan yang bernas. Ia tak melulu bicara soal keindahan atau pesona alam. Jauh lebih itu ia bicara soal kemanusiaan. Soal realitas sosial yang terjadi di India. Ia bicara tentang kemiskinan yang kejam, konflik ras dan agama yang keji, juga polemik Khasmir antara Pakistan dan India. Adakah dari kita, para pejalan tadi, berani menuliskan itu semua? Menuliskan perjalanan sebagai apa adanya, bukan sekedar surga, indah, mengagumkan dan wow semata.

Sejauh ini pula belum pernah saya membaca travel writer yang berani menulis perihal Papua dalam perspektif humanisme. Deskripsi yang muncul selalu saja, pantai yang indah, penduduk yang unik, hutan yang memukau dan sederet eufimisme lain. Padahal dari catatan Human Rights Watch, hampir setiap hari terjadi pembunuhan di Papua. Kekerasan atas nama rasialisme dan juga konflik tanah adat. Pernahkah para pejalan tadi berani mengigir kisah ini dalam ceritanya? Saya ragu.

Dalam An Area of Darkness, V.S Naipul juga bercerita tentang kehidupan sehari hari. Ia bicara soal kehidupan sosial di India yang disebutnya sebagai sebuah tragedi. Kebanyakan dari kita mungkin berpikir jika India adalah bollywood yang indah, atau dalam bahasa Naipul "All the extravagantly coloured women with big breast and big hips," katanya. Lalu dilanjut dengan kalimat lebih nyinyir "a descendant of those figures of old indian sculpture which, until separated from the people who created them, like a tragic folk longing."

Saya kira kita perlu belajar mengambil jarak pada sebuah keindahan. 

Entah mengapa sebuah perjalanan di Indonesia kehilangan kaidah-kaidah kemanusiaan. Apakah traveling di Indonesia tak memiliki semacam norma atau kode etik? Semacam tapal batas. Bahwa, saat kau melakukan sebuah perjalanan ke satu destinasi tentukan tujuanmu ke sana. Apakah hanya sekedar hura-hura, pelarian, menyelami kebudayaan mereka, atau sekedar mampir. Lantas apa yang bisa kau berikan pada destinasi tersebut? Pajak lewat penginapan? Kabar perihal problema sosial di sana? Atau menutup mata dan berkata. Wow lokasinya indah, lo mesti ke sana deh.

Farchan, juga beberapa kawan di situs Hifatlobrain, saya kira perlu menalar lagi tujuan mereka dalam melakukan perjalanan. Atau dalam kasus hifatlobrain, mempromosikan lokasi wisata. Perlukah kita mengajak orang datang ke satu destinasi hanya sekedar untuk menikmati keindahannya tanpa berpartisipasi dalam pengembangan manusia yang tinggal disana? Atau Hifatlobrain berhenti pada wacana travel experience, experience yang mana? Yang foto-foto narsiskah? Yang murah-murahankah? Atau yang eksotis-eksotiskah? Sekali lagi, pengalaman menjadi personal bagi masing-masing manusia.


Foto oleh Heru Putranto. Saya ngobrol dengan nelayan di pantai Puger. Mereka kerap terbelit hutang jika tak melaut. Kita para pelancong kerap menikmati pemandangan alam tapi mungkin luput peduli pada detail semacam tadi.

Farchan pantas khawatir jika perjalanan yang dilakukannya kini menjadi impulsif. Saya kira ia takut apa yang ia cintai, perjalanan itu, menjadikan ia pribadi yang congkak, sombong lagi naif. Perjalanan, seperti juga ziarah, bukan perihal berapa destinasi yang telah kita lalui, atau berapa negara yang telah kita singgahi. Kalian, seperti juga saya, para manusia lebih dari itu. Perjalanan semestinya momen untuk menyadari kedhaifan diri. Berbagi kisah pada sesama untuk bahan renungan, pelajaran atau mungkin pencerahan.

Samuel Clemens atau yang biasa kita kenal sebagai Mark Twain, dalam salah satu karyanya yang tak terkenal, The Innocents Abroad, berkata “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts." Sebuah perjalanan yang diawali dari prasangka hanya akan berujung sia-sia. Lebih dari itu ia melanjutkan "Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one's lifetime.”

Satu kehidupan tak akan pernah cukup membuat kita mengelilingi bumi. Apalagi belajar dari setiap destinasi yang ada. Pilihan wajarnya adalah menikmati perjalanan tersebut, belajar darinya, lantas memberikan timbal balik pada lingkungan dimana kita tuju. Itu saja uneg-uneg yang hendak saya sampaikan. Saya belum banyak melakukan perjalanan, belum banyak pelajaran juga pengalaman yang bisa saya bagi.

8 komentar:

  1. Tulisan yang menarik, Mas.
    Semacam sebuah hook keras yang menyadarkan.

    BalasHapus
  2. mantab, Bung. suka sekali dengan tulisan ini.

    BalasHapus
  3. gimana aku bisa nulis kayak dhaniii aaargh

    BalasHapus
  4. Tulisan mas ini ngingetin banget kalau perjalanan (apapun niatnya) yang nge-blend ama penduduk lokal memang sangat nggak terlupakan.

    BalasHapus
  5. Asyik nih minggu pagi baca beginian. Buat saya setiap orang berkembang dengan level kesadarannya sendiri. Biarkan virus travelling itu menyebar dulu Mas, beberapa orang membutuhkannya. Tapi kan hidup adalah proses belajar, belajar memaknai perjalanan, belajar membekali diri dalam perjalanan, belajar jadi pejalan yang bertanggung jawab. Pada akhirnya, saya juga berdoa semua pejalan menjadi seperti yang Mas Arman cita-citakan. Sedari awal manusia berada di dunia, hidupnya adalah perjalanan.....

    BalasHapus
  6. perjalanan akan selalu menjadi sesuatu yang privat. yang akan memiliki pengalaman yang magis.
    saya setuju pada mas dhani, dan saya percaya para traveler akan menemukan apa yang dimauinya sesuai pengalaman dan waktu berjalan.

    BalasHapus
  7. Kalaupun belum bisa memberikan sesuatu pada destinasi kita, setiap traveler harus konvservatif terhadap destinasi tersebut. Artinya, jangan sampai kehadirannya mengganggu alam ataupun kehidupan di sana. Contohnya aja seperti sampah, banyak para traveler yang masih malas membuangnya di tempat seharusnya.

    Mungkin terdengar klise, tapi prinsip para pecinta alam ini harus selalu kita laksanakan. Jangan mengambil apapun kecuali foto ; Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak ; Jangan bunuh apapun kecuali waktu.

    Dan untuk cara masing-masing orang melakukan perjalanan, tentu akan berbeda masing-masing. Ini adalah sesuatu yang sangat personal. Tetapi pejalan harus selalu berhati terbuka. Melihat realita sosial di masing-masing destinasi bisa dijadikan sebuah refleksi kehidupan yang dapat dipelajari. Dan kalau memang mampu mungkin kita bisa membantu mereka, entah itu membuat tulisan atau tindakan lainnya.

    Terima kasih atas tulisannya mas, saya belajar banyak.

    BalasHapus
  8. tulisan yang inspiratif..

    sy jg kadang berpikir, apakah setiap perjalanan mesti hrs ke tempat yg jauh. menyebrengi pulau, keluar negeri. ke negri antah berantah. ke tempat2 yg perlu biaya yg mahal dan waktu yg luang. kl begitu sy hrs menunggu waktu lama untuk mjd pejalan.

    lalu sy mendari, utk mjd pejalan, saya tidak perlu hrs berjalan jauh kl belum mampu. perjalanaan bisa dilakukan di tempat2 dekat. di kota sendiri, kota sebalah, di gunung, di sawah, di tempat2 dekat saya. ternyata di tempat yg dekat2 itu saja banyak blum saya ketahui. kl menurut saya, kualitas perjalanan itu bukan jauhnya perjalanan yang kita tempuh (lokasi georgrafis), tapi dari nilai apa yag kita peroleh dari tiap perjalan. pelajaran yag bisa kita ambil.

    salam kenal.

    BalasHapus