Jumat, 10 Agustus 2012

Kemudian Quran

Iqra karya Haya Segal

Ada yang semestinya dipahami dalam setiap peringatan Nuzulul Quran. Bahwa perintah pertama dalam islam adalah Iqra atawa bacalah. Bukan sekedar beribadah lalu mengklaim diri sebagai mahluk yang beriman. Lebih dari itu. Islam adalah agama yang mengajarkan kesadaran kritis. Kita di tuntut untuk "(mem)Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan." Membaca juga tak melulu dari buku saya kira. Iqra dalam kazanah relijius perlu juga diperluas pemaknaannya.

Dalam lima ayat pemula dari Al Alaq, Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, memerintahkan dua kali untuk membaca. Saya kira perintah ini bukan sekedar ayat yang turun tanpa sebab. Al Quran, berbeda dengan kitab lain, turun secara bertahap. Ia lahir sebagai sebuah peringatan, sebagai sebuah panduan dan juga sebuah jalan keluar atas permasalahan. Hal ini lantas melahirkan kitab Azbabun Nuzul yang berguna untuk memehami konteks sosio historis sebuah ayat dan perintah di dalamnya.

Saya percaya Al Quran merupakan manifestasi panduan hidup juga perintah yang harusnya dijalani orang muslim, sebagai bagian dari proses keimanan. Tapi sebagai manusia yang memutuskan jatuh cinta pada puisi. Al Quran adalah segala yang dirindukan para penyair. Narasi yang elok, diksi yang menggugah, kata yang kuat dan juga seranai kalimat yang menggugah. Kadang saya berpikir tuhan adalah seorang penyair yang malu-malu. Ia menyisipkan makna dalam setiap firman yang ada.

Mu'shaf Quran adalah kiasan yang menunggu dimengerti para pembacanya. Bahwa banyak kata, kalimat juga cerita di dalamnya yang kadang gagap dipahami sebagai sebuah pesan dari masa lalu. Al Quran pulalah yang menjadi sebab banyak manusia merasa memiliki warisan kuasa tuhan. Bahwa atas nama kata-kata, juga perintah yang kadang masih bisu, manusia menindas manusia yang lain. Kitab dengan isi kejam juga menjadi beringas pada kaum karena salah dimengerti.

Quran telah berabad-abad menjadi inspirasi manusia. Ia adalah cahaya yang menerangi gelap akal budi dan juga pelita atas kelam perilaku. Coba tengok manusia-manusia utama yang menjadikan Quran sebagai jalan hidup. Para alim ulama, ahlul bait, juga sufi yang merindu tuhan. Apakah melulu Quran adalah milik umat islam? Tidak. Quran, seperti juga islam, adalah berkah bagi seluruh umat. Rahmatan Lil Alamin yang sebenar benarnya.

Si murung Edgar Alan Poe adalah salah satu manusia yang terinspirasi dari Quran. Al Aaraaf adalah sajak terpanjang yang pernah ditulis penyair asal Amerika ini. Ia bercerita tentang Peri Nesace yang diperintahkan Tuhan untuk mengabarkan kepada para malaikat, untuk melaksanakan perintah Nya. Akan tetapi perintah ini gagal dilakukan karena dua malaikat terlibat dalam kisah asmara. Akibatnya Tuhan mengutuk dua malaikat ini untuk tak diterima baik di surga dan di neraka. Al Aaraaf  sendiri memiliki arti yang di antara surga dan neraka.

Dalam salah satu surat yang mesra Goethe, penyair besar Jerman itu, pernah memuji keindahan syair dan makna Quran. Kepada Schlosser ia berkata "to celebrate respectfully that night when the Prophet was given the Koran completely from above" Apakah ia mengimani Quran sebagai kalamullah/ kata-kata tuhan? Entahlah. Yang jelas Goethe yang dikala muda pernah jatuh cinta pada jazirah Arab juga pada bahasanya. Dalam kata-kata yang penuh igauan ia berkata, bahasa Arab dalah "In no other language spirit, word and letter are embodied in such a primal way."

Al Quran bagi saya adalah sebuah kitab yang mencerahkan. Ia memberikan orgasmus bagi saya yang mencintai sajak. Tuhan menunjukan bagaimana kata-kata dirajut hingga menjadi sebuah bala keselamatan. Tuhan menjadikan firman bukan hanya sekedar perintah yang mesti ditaati, tetapi juga sebuah teka-teki yang menunggu dipecahkan. Al Quran adalah segala yang bernama kesejukan. Kalimat yang indah, suara yang magis juga sahabat yang kental.

Menikmati Al Quran adalah menikmati hidup sebagai seorang sufi. Kita tak perlu tunduk tafakur dan menjadi a sosial untuk memahami bahwa Al Quran menyediakan segala yang rohani kita butuhkan. Ia sebenar-benarnya karib yang banyak bercerita tentang kaum lampau. Berharap kita bisa belajar dari mereka. Juga melepaskan beribu petuah tanpa perlu menjadi hakim yang garang. Ia ada di sana. Segala yang kita rindukan dari sebuah petunjuk. Janji yang mesra, ancaman yang nyata juga panutan yang rendah hati.

Sepertinya saya rindu mengaji. 

1 komentar:

  1. Keren sekali mas... terimakasih kopi paginya, saya banyak belajar paham dari essay ini. Salam sego krawu!

    BalasHapus