Rabu, 26 September 2012

21 Tahun Nevermind : Ah sudahlah




Saya harus berterimakasih pada Nirvana karena membantu kakak saya melepaskan pengaruh dekaden hair metal. Setidaknya setelah mendengar album Nevermind, kakak saya berhenti melolongkan kaset Poison, Gun n Roses dan segala bala Kurawanya di rumah. Meski yang terjadi kemudian berganti suara orang bergumam, dalam bahasa ibu saya, racauan parau orang disunat. Puncak kesalihan kakak saya pada Nirvana adalah keinginan untuk membuat tatoo bertuliskan “I hate myself and I want to die,” di tangan. Sayang beliau keburu meninggal dua tahun lalu sebelum kata itu tersemat di tangannya.

Saya tak pernah benar-benar bisa meresapi Nirvana. Besar hanya dengan bagasi musik sekualitas Bragi, Pancaran Sinar Petromak dan Padhayangan Project membuat saya tahu diri untuk tak menilai band ini terlalu jauh. Namun ada yang menarik dari band yang bermula dari Aberdeen ini. Musik mereka adalah sebuah keterasingan yang seolah olah sudah bosan menunggu untuk diledakan. Sebuah gairah yang bocor seusai menahan diri atas kondisi yang itu-itu saja. Lantas ketika sumbu sudah dinyalakan mereka menolak untuk diam dan berusaha untuk terus berteriak.

Hari ini 24 September merupakan perayaan 21 tahun Nevermind dibuat. Entah mengapa saya ingin mengingat album ini seraya vakansi pada masa lalu yang naif. Saat SMA saya baru menyadari betapa besar pengaruh album ini. Tidak susah mencari alasannya. Album ini merupakan anti tesis dari segala raksasa musik yang mendominasi chart radio masa itu. Michael Jackson atau Gun n Roses seolah dikerjain oleh anak kemarin sore yang muncul dengan suara sengau penuh riff gitar yang berisik. Nirvana yang baru sukses dengan album mandiri Bleach mendobrak pakem musik baru yang lantas memperkenalkan Grunge.

Alasan naif lainnya juga karena beberapa band yang saya anggap keren saat itu, semacam Linkin Park atawa Limp Bizkit, mengaku sangat menghormati album ini. Belakangan saya juga menyadari bahwa pentolan Limp Bizkit, Fred Durst menjadi promotor band grunge Puddle of Mudd sebagai usaha mengembalikan pamor musik ini ke khalayak ramai dan gagal. Lagipula siapa yang masih betah mendengar lapisan suara gitar yang dicabik melengking dengan distorsi dan teriakan geram pemuda tanggung yang masih mencari jati diri? Grunge lantas menjadi hantu atas scene musik yang muncul meletup sekejap dengan jejak yang panjang.

Apa itu Grunge? Oh sampai hari ini saya masih belum mampu menemukan padu padan kata yang tepat untuk menjelaskan kata arkaik ini. Seperti juga makna kata indie, Grunge adalah sebuah medan perdebatan yang tak kunjung usai. Eddie Vadder pernah muntab karena Pearl Jam dipaksa masuk kategori ini. Soundgarden dan Alice in Chains mencak-mencak menolak dikotomi kata ini. Lantas apakah Grunge hanya milik Nirvana seorang? Entah. Yang jelas Nevermind, meminjam istilah Dave Whitaker penulis No One Needs 21 Versions of “Purple Haze”…And Other Essays from a Musical Obesessive, memulai tahun-tahun yang kelak disebut sebagai masa kedaulatan Grunge.

Nevermind dimulai dengan singgle catchy nan mudah diingat Smells like teen spirit. Secara pribadi, keseluruhan irama dalam lagu ini adalah puncak kejayaan Nirvana. Saya selalu membayangkan nomor ini adalah anthem dari generasi X yang kecewa pada dominasi orang tua dalam menentukan moralitas. Sekali mendengar mustahil kita melupakan lenguh Cobain yang mengeras pada bagian reffrain. Ada yang mencoba berontak dalam lagu ini seperti para pemacu yang sedang bertandang dalam karapan sapi. Keras, cepat, penuh agresi, konsentrasi pada dengung, lenguh kemarahan sapi dan keringat yang mengucur.

Lagu kedua adalah nubuat gelap tentang masa depan vokalis Nirvana yang suram. Dimulai dengan suara ragu-ragu Kurt dan dominasi dentuman drum Dave Ghorl. Pelan-pelan lagu yang awalnya bertempo lambat ini menggelegar dengan teriakan parau yang membawa kita pada reffrain. In Bloom membuat saya berpikir, kira-kira apakah ini lagu terakhir yang didengarkan Kurt sebelum ia memutuskan bunuh diri? Para penggemar teori konspirasi pasti akan orgasme mengaitkan lirik “And he likes to sing along” dengan frase “And he likes to shoot his gun” sebagai sebuah surat wasiat.

Come as You Are is a saint of backstabing songs. Setidaknya bagi saya. Berulang-ulang selama beberapa bulan dalam satu masa gelap hidup saya, cabikan bass Krist Novoselic yang memulai lagu ini mendominasi lingkup dengar telinga saya. Petikan gitar solo Kurt yang bersuara seperti pria tua kelelahan selalu menjadi hiburan. Lagu ini sebenarnya berpotensi menjadi primadona dalam album Nevermind. Repetisi yang dibuat Novoselic sangat mudah diingat dan dikenali. Sayang spotlight keburu menyodok Smells Like Teen Spirit sebagai bintang utama.

Berturut turut pendengar diajak bercengkrama dalam mosh pit lewat track Breed. Sejak awal lagu ini mencengkeram mereka yang hendak bermandikan darah dalam lautan konser. Suara gitar, bass dan drum bertalu-talu silih berganti meminta para pendengarnya untuk menghempas diri sekeras-kerasnya. Lantas kemudian kita diajak menurunkan tensi yang terlanjur tinggi dalam track Lithium. Lagu ini cocok didengarkan sembari mengompres dahi yang terluka saat moshing dengan bir dingin. Saya tak pandai memahami lirik ini dalam bahasa Inggris, namun Lithium saya kira adalah syahadat bromance para penggila konser bertensi tinggi.

Lagu berikutnya adalah Polly yang merupakan salah satu lagu lembut namun paling horor dalam keseluruhan album Nevermind. Suara didominasi oleh petikan ritmik Kurt dan sedikit suara bass yang tegas dari Novoselic. Suara gitar yang perlahan namun pasti membuat Polly membangun imaji tenang yang semu. Saya sering membayangkan para penculik psikopat mendengar lagu ini mendekap korban mereka seraya berbisik  “Let me clip, Your dirty wings”.

Ketenangan yang dibangun Polly tak berlangsung lama, Territorial Pissings memporak porandakan tatanan mapan yang sebelumnya sudah dibangun oleh Polly. Lagu ini merupakan renik dari pengaruh Punk yang berkembang pesat di kota Seattle. Ia cepat, ia tegang, ia memangsa, ia membakar, ia menerjang, dan kerumunan mosh pit sekali lagi terbakar seusai lagu Breed. Lagu ini lantas ditutup oleh teriakan-kehabisan-tenaga yang kelak menjadi trademark Kurt sembari membanting dan menghancurkan instrumen musik saat konser.

Nirvana jelas mencoba membongkar seluruh narasi musik yang baik dengan melakukan eksperimen pada suara dengan cara mereka sendiri. Melalui nomor Drain You mereka bermain dengan noise, dengan suara vokal naik turun yang tak jelas intonasinya, juga dengan suara-suara asing yang coba diperdengarkan seusai reff pertama dilakukan. Selama hampir 60 detik mereka bermain main dengan suara ngek ngok nyaring sebelum akhirnya masuk pada ritme awal lagu.

Lagu-lagu berikutnya seperti seperti On A Plain, Stay Away, dan Lounge Act tak begitu saya dengarkan secara khusus. On A Plain bicara tentang narsisme angst sementgara Stay Away bicara soal hidup monoton yang diatur oleh trend fashion. Lounge Act barangkali cocok menjadi manifesto Generasi X. Ia bercerita tentang penolakan pada norma, ia bicara kemunafikan, ia bicara keinginan untuk sesuatu yang baru. Hal ini pula yang membuat Nirvana menjadi band yang tak hanya sekedar bicara perihal penolakan-penolakan anak muda. Mereka bicara tentang sesuatu yang subtil. Keinginan agar generasi muda diberikan kesempatan untuk bicara dan didengar.

Saya menyukai keputusan Butch Vig, produser dan juga penyelaras irama Nevermind, yang menempatkan Something In The Way di akhir lagu. Lagu ini tenang dan dilakukan atas petikan malas gitar Kurt Cobain. Gesekan alat musik, mungkin biola, membuat lagu ini semakin kelam. Ditambah suara Kurt yang muram bernyanyi seolah berbisik dan kelelahan. Saya selalu menikmati lagu ini seperti sebuah doa panjang yang tak berharap dikabulkan.

Nevermind adalah alasan bagi para pemuda pada zamannya untuk marah tanpa sebab. Geram dengan segala tata krama dan moralitas yang dianggap semu. Padahal, ya, sekedar tak ingin sekolah atau terlalu malas untuk melakukan sesuatu. Tapi yang kemudian saya lihat Nevermind seolah menjadi berhala yang dielukan tanpa kritik. Tengok saja dogma Pitchfork yang menyebutkan bahwa siapapun yang menjelekan Nevermind adalah hipster yang mencoba keren, sayangnya mereka adalah hipster gagal. Sebegitu kerenkah Nevermind hingga menjadi sebuah karya ilahi yang absolut?

Dari cerita almarhum kakak saya jadi mengetahui bagaimana Nevermind bisa begitu lekat di kepala para pendengarnya. Bondowoso, kota dimana kami tinggal, adalah daerah tertinggal yang selera musik ditentukan oleh radio yang saban hari didominasi oleh musik dangdut. Suatu hari menjelang akhir tahun ajaran 1992 atau setahun selepas Nevermind keluar. Smeels Like Teen Spirit diputar di salah satu radio. Satu-satunya cara untuk memiliki album kaset saat itu adalah pergi ke Surabaya atau Malang. Alternatif lainnya adalah membayar Rp. 1000 kepada penyiar radio untuk mengkopi satu album penuh yang susah didapat.

Pengaruh Nevermind dalam budaya populer dunia juga sangat luar biasa. Saya mengingat setidaknya dua kali album ini menjadi cameo dalam kartun ultra sarkastik kesayangan amerika. Pertama mereka muncul dalam salah satu poster The Simpsons, dimana Bart, berperan sebagai bayi berenang. Juga muncul dalam salah satu fragmen episode The Family Guy dimana Stewie, menyimpan Vinyl Nevermind, dan hijrah ke masa lalu untuk mencegah Kurt bunuh diri. Sebagai gantinya ia menyarankan kurt untuk mencoba kudapan.

Mendengar lagi album ini setelah sekian lama membuat saya kembali menyadari. Saya hanya pemuda yang melewati masa SMA dengan euforia kebebasan paska Soeharto. Saya tak benar-benar besar di era 90an yang menjadi rahim kelahiran Nevermind. Bukan pula generasi X yang bosan dengan segala tetek bengek malaise modern yang dibawa perang dingin atau glam rock. Tak ada yang benar-benar saya lawan, akhirnya, tak ada yang benar-benar saya dengarkan sebagai sebuah identitas. Album ini adalah legenda hidup yang semestinya dibiarkan mencari nasibnya sendiri. Bukan lantas dijadikan semacam berhala, tapi ah sudahlah here we are now, entertain us Nirvana!

Sabtu, 22 September 2012

Malam




Pada suatu hari di bulan September yang dingin tahun 1889, musim gugur barangkali sudah merontokan daun kering terakhir. Van Gogh, pelukis impresionis asal Belanda, tengah dalam kegandrungan besar. Sesuatu yang murni, barangkali tuhan jika ia percaya, telah mendorongnya untuk membikin suatu lukisan. "... it that doesn’t stop me having a tremendous need for, shall I say the word — for religion — so I go outside at night to paint the stars." Maka, seperti tuhan yang bersabda jadilah cahaya, Van Gogh membikin lukisan Gemintang Malam, De sterrennacht atau The Starry Night.

Lukisan ini, seperti semua kanvas impresionis yang diciptakannya, mengabarkan sebuah perasaan yang gugup. Goresan yang timbul dibikin dengan kegagahan yang ragu-ragu. Saya tak pernah melihat lukisan ini, tapi beberapa kali melihat langsung karya impresionisme, membikin saya percaya karya Van Gogh barangkali akan lebih arkaik. Ini yang membuat Gemintang Malam bagi saya bermakna lain. Barangkali Tuhan hendak bercerita tentang suatu hal pada Van Gogh yang murung. Tentang keindahan malam yang terlampau kudus.

Saint-Rémy-de-Provence, lokasi dimana lukisan ini dibuat, kota tua dengan banyak reruntuhan sisa masa lampau. Daerah pinggiran nan teduh ini terletak diperbukitan di selatan Perancis. Van Gogh yang saat itu sedang dirundung sakit, tengah dirawat di salah satu sanatorium. Hampir setiap malam ia memandangi langit Prancis yang cerah, hingga suatu saat ia menerima bisikan untuk melukis. Tuhan kerap kali datang pada manusia dalam kegelapan. Ia menantang manusia untuk percaya pada sesuatu yang belum jelas bentuknya.

…gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kitab Kejadian membuka diri dengan proses terjadinya alam semesta. Tuhan mencipta jagat raya selama enam masa dalam kegelapan. Bagi umat beragama, malam adalah laku kesalihan. Ia adalah keasingan yang membawa diri kita pada rasa takut akan kegelapan. Manusia saya kira tak bisa dan sulit untuk berdamai dengan malam tanpa bantuan. Kita menciptakan lampu karena terbiasa untuk bekerja dalam cahaya. Malam seringkali kita lalui dalam lelap tidur.

Jutaan keajaiban dan percik pemikiran murni lahir dari kegelapan malam. Saya kira, kita perlu belajar dari para santo dan wali yang mengakrabi malam seperti seorang kekasih yang molek. Malam tak pernah benar-benar sunyi. Dalam segala muram yang ada ia sebenarnya hendak bercerita mengenai narasi masa silam. Langit yang sama yang ada ribuan tahun lampau. Langit malam merekam jejak peradaban dalam hitam. Para ulama zuhud juga para pecinta mabuk ilahi dalam remang usai cahaya hilang.

Kegelapan yang pekat banyak menuntun para pemikir cemerlang menemukan cahaya. Dalam remang kelam yang asing, mereka meraba-raba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak bisa diberikan saat siang. Banyak pemikiran jenius para pembaharu dunia terjadi saat malam. Ketika manusia-manusia biasa tertidur, mereka yang terjaga sibuk memikirkan dunia, merumuskan petuah sehingga mencapai perjuangan. Alegori orang gua Plato boleh menjadi salah satu rujukan pembanding. Bagaimana sebenarnya manusia yang hidup dalam gua gelap dan memandang bayang-bayang api, adalah orang yang tak tercerahkan. Hanya mereka yang berani melawan kegelapan pekat akan menemukan cahaya yang sebenar-benarnya.

Beberapa waktu lalu saya diberi sebuah buku berjudul Dark Night of the Soul. Sebuah karya klasik karya mistikus katolik John The Cross. Ia adalah sebuah sajak panjang yang bercerita tentang kerinduan hamba pada Tuhannya. Sebuah renungan yang subtil perihal kefanaan diri yang mencoba mencari setitik cinta dari sang khalik. Sebuah buku memukau yang dimulai dengan kalimat yang indah.

One dark night, fired with love's urgent longings

John yang juga salah satu reformis ordo carmel ini adalah salah satu mistikus katolik yang masyur pada zamannya. Sebagai salah satu pengikut ordo pendoa ini, John banyak menghabiskan waktunya dalam beribadah. Carmel merupakan salah satu dari sedikit ordo yang memfokuskan diri pada satu liturgi khusus. Kebanyakan dari mereka hidup dalam kuil-kuil dengan banyak kamar. Masing-masing menyepi dan melewatkan sepanjang malam dan siang untuk berdoa. Rentang waktu ibadah ini bisa sangat panjang tergantung dari masing-masing orang.

Satu biara milik ordo Carmel biasanya terdiri dari para laki-laki yang hidup selibat. Dari sekian banyak kamar-kamar sempit kecil, isinya hanya kasur dan altar untuk berdoa. Terkadang mereka cuma datang berkumpul untuk makan pagi dan makan malam. Sisanya mereka habiskan untuk berdoa dalam bilik masing-masing. Tak jarang mereka hidup tanpa kata-kata. Kesunyian menjadi sahabat karib dan doa seringkali dilakukan dalam diam. Para anggota ordo ini percaya doa, kesunyian dan malam akan membuka hati dan mempertajam insting diri menjadi lebih baik.

Tuhan hadir dalam kesunyian. Lebih dari itu bagi John kesunyian malam melahirkan berkah yang lain. "Thus, while the spirit is tasting, the flesh tastes nothing at all and becomes weak in its work. But through this nourishment the spirit grows stronger and more alert, and becomes more solicitous than before about not failing God." Dalam gelap malam tuhan bicara dengan perlahan dan gagap. Ia menguji iman para hambanya dengan teka teki tauhid. Malam menghadirkan kerinduan juga kecemburuan hamba pada tuhannya. Hanya sedikit manusia yang bangkit berdoa kala malam, manusia pilihan yang berebut cinta penciptanya.


Foto karya Maharsi Wahyu Kinarsih.

Demi malam apabila ia menyelubungi segala-galanya (dengan gelap-gelitanya)

Al Lail, yang berarti malam, salah satu surat dalam Al Quran dimulai dengan sumpah Allah kepada salah satu ciptaan Nya. Dalam tradisi aqidah Islam manusia dilarang bersumpah atas nama mahluk. Seperti demi fulan, demi ibuku atau demi langit. Menurut Islam hanya Allah ta'alla yang berhak bersumpah atas nama mahluk ciptaannya. Seperti demi masa, demi langit dan bumi juga demi malam. Malam merupakan salah satu 'mahluk' istimewa yang atas namanya Allah khusus bersumpah.

Islam memuliakan malam sebagai momen magis yang kudus. Kegelapan terkadang linier pada frase waktu bersama Tuhan. Bagi umat muslim kegelapan malam adalah waktu yang tepat untuk berdoa. Mereka percaya Allah hadir dalam kegelapan untuk menyapa para hamba yang terpilih. Mereka yang menjauhkan lambungnya dari pembaringan akan menerima pencerahan sebagai umat yang diselamatkan. Lebih dari itu Allah memberikan penghormatan kepada mereka yang terjaga kala gelap malam, dimuliakanlah mereka yang terjaga disepertiga akhir malam.

Al Quran merupakan kitab puitis yang menyimpan ragam rahasia. Malam banyak disebutkan sebagai sebuah momen yang sakral. Sedikit manusia yang memahami rahasia malam. Ada dua ayat dan dua surat berbeda mengabarkan perihal keistimewaan manusia yang terbangun kala malam tertuang dalam Adz-Dzariyat: 17-18 dan As-Sajadah: 16. Dalam banyak hadist Rasulullah menyebut manusia-manusia ini sebagai kaum yang sedikit.

Ibnu Mas'ud, manusia zuhud dan pioner umat yang masuk Islam pertama kali, mengaitkan malam dan Quran sebagai sebuah entitas yang penting. "Siapapun yang telah memahami Quran dan meyakini dengan penuh cinta," katanya "Akan menghargai malam ketika manusia lain terlelap." Ibnu Mas'ud memaknai dunia sebagai dua kutub yang berbeda Malam dan Siang, Kebahagiaan dan Kesedihan sebagai entitas yang terpisahkan. Hal ini diharapkan bisa membuat "Orang-orang yang tercerahkan seperti dalam keriuhan pasar."

Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu dia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah akan memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.

Sederet peristiwa profetik dalam sejarah kebudayaan Islam terjadi di malam hari. Peristiwa seperti Lailatul Qadr, Isra’ Mi’raj, juga Nuzulul Quran. Pada malam hari pula Allah menyelamatkan Isa Al Masih dari cengkraman orang-orang romawi dan merubah wajah Yudas Iskariot. Pada malam hari pula Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang mengitari Ka’bah. Juga pada malam hari Nabi Yunus ditelan oleh ikan paus. Di kegelapan malam itulah doa masyur Nabi Yunus terucap "La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin."

Malam tak pernah jadi sederhana. Seperti juga usaha manusia yang mencoba mengerti kehendak Nya.

Sajak Subtil Abdul Hadi W.M



Jika saya ditanya siapa penyair Madura yang sajaknya selalu membuat saya tergetar, dengan cepat saya akan menjawab Abdul Hadi W.M. Bukan mengecilkan arti Zhawawi Imron, namun bagi saya Abdul Hadi adalah seorang sufi penyair yang menjauh dari peradaban. Ia seperti punya daya magis untuk meramu kata sebagai sebuah doa.  Belum lagi puluhan berbagai telaah yang ia buat mengenai dunia sufi tanah air yang membuat kita terperangah, dengan luasnya pemikiran dan pengetahuan beliau.

Perkenalan awal saya dengan beliau adalah dari buku tentang Hamzah Fansuri, penyair sufistik asal Barus Sumatera Utara. Dalam buku itu ia beberapa kali memberikan pengantar. Karena penasaran akhirnya saya memutuskan mencari tahu siapa dan apa karya dari bung Abdul Hadi tersebut. Seperti kelasi yang menemukan pulau setelah lama melaut. Sajak-sajaknya, saya kira, adalah sebuah ekstraksi dari pergulatan seorang penyair.

Saya melihat sajak-sajak yang disusun Abdul Hadi terasa sangat dekat, mistis, juga melenakan. Seperti pelukan seorang kekasih yang telah lama tak berjumpa. Atau sesekali seperti seorang tua yang tiba-tiba nyerocos mengenai hari akhir, lantas berpesan mengenai agama. Terkadang juga bisa beralih rupa menjadi seorang demonstran kelelahan yang terlalu gemas dengan kondisi sosial yang ada. Abdul Hadi WM seorang perupa yang masih belum puas memahat satu tema dalam setiap puisi-puisinya.

Seperti yang tertuang pada sajak-sajak dalam kumpulan sajak Tergantung Pada Angin. Kumpulan sajak ini pertama kali diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1977. Menjadi menarik karena sebagian kumpulan sajak yang dibikin Abdul Hadi WM selalu diterbitkan oleh DKJ. Padahal ia adalah penyair kelahiran Madura dan banyak menulis syair tentang pantai Madura di Jawa Timur.  Dalam Nina Bobo Sebuah Kursi, Abdul Hadi bermain dengan persepsi dan ke-mahluk-an sebuah benda. Seperti berikut;
Tidurlah Kursi, tidurlah di atas ombak.
Tidurlah di samping nyenyak dan gelisah tak nampak.
Tidurlah bersama sunyi, bersama jemu yang membengkak.
Dan bersama gemetar yang memangku anak.
Dalam satu bait sederhana Abdul Hadi bercerita tentang sebuah keadaan yang gawat. Suatu kerinduan akan suasana yang baik-baik saja. Ia bicara tentang keresahan yang kasat mata. Entah mengapa dalam sajak ini saya membayangkan imaji tentang seorang diktaktor tua, seorang mantan penguasa, atau pemimpin yang jatuh. Tidurlah kursi, tidurlah di atas ombak. Si penyair seperti sedang menasihati agar sang pemimpin tadi berhenti untuk memiliki keinginan berkuasa.

Penyair selalu menggawat-gawatkan hal sederhana dan menyederhanakan hal gawat. Namun di tangannya, Abdul Hadi berusaha tenang. Ia mampu merangkum segala yang sederhana tetap sederhana namun memiliki makna yang gawat. Atau bisa jadi hal gawat dibuat sangat gawat  dengan kata yang mudah dimengerti. Seperti dalam lanjutan sajak berikut;
Tidurlah.
Di samping kabut
derai angin dan luka yang menuliskan sajak
Saya sangat menyukai frase derai angin dan luka yang menuliskan sajak. Kalimat ini seperti sebuah suasana hati yang kelelahan. Suasana kota yang baru saja meringkuk sendiri dihajar hujan lebat. Seperti tanah basah seusai kemaru panjang. Semangat yang terbata-bata namun memaksa diri untuk bangkit. Ada getar yang tak terperi dari sebuah derai angin meski sedang luka namun ingin terus memaksa diri menulis sajak.

Belakangan saya juga mengetahui jika Abdul Hadi juga menerjemahkan beberapa karya sufistik dan syair dari Muhammad Iqbal. Salah satunya adalah Pesan Kepada Bangsa-bangsa Timur. Dalam kumpulan sajak yang berjudul asli Pas Chih Bayad Kard, Abdul Hadi saya kira dengan piawai membuat penyederhanaan sajak Iqbal yang terkenal sangat rumit itu. Rumit di sini bukan dalam pemahaman susah diterjemahkan, namun susah mencari padan kata yang tepat dan sesuai dengan konteks sajak yang dimaksud.

Novelis dan penerjemah sastra Indonesia asal Australia, Harry Aveling, secara khusus menyebut sajak Abdul Hadi sebagai "(sebuah) sikap hidup mati yang berpusat pada hubungan alam dan manusia," lebih khusus Aveling menilai sajak awal Abdul Hadi sangat terpengaruh dengan puisi liris yang dibawa Chairil Anwar dan dikembangkan Sapardi Djoko Damono. Harry dengan sikap yang memuji "Sajak-sajaknya lembut, banyak menggunakan statemen semu dan subtil," meski seusai era 70an banyak sajak Abdul Hadi yang kemudian mengalami pendewasaan dengan memasukan humor-humor dan bentuk pemikiran sufistik.

Meski sangat rajin mengkaji pemikiran sufistik, Abdul Hadi menolak dikatakan sebagai seorang Sufi. Baginya gelar itu terlalu tinggi dan mulia untuk disematkan padanya. Ia lebih memilih dikategorikan sebagai seorang manusia yang gemar belajar perihal kebijaksanaan sufi. Dalam kumpulan esainya Hermeneutika, Estetika dan Religiusitas Abdul Hadi membuka diri bahwa kajian sufi yang sempat marak pada dekade 70 dan 80an telah banyak mempengaruhi tapal batas kesusastraan Indonesia. Namun sedikit sekali kajian yang membahas mengenai apa itu sufi dan tulisan yang bisa mendekatkan dunia sufi dan pembacanya.

Abdul Hadi bukanlah orang yang dengan pengetahuan seadanya lantas mengangkat diri sebagai sufi. Berbeda dengan beberapa orang yang kita kenal hari ini sebagai sufi plastik, kehidupan Abdul Hadi WM jauh dari hingar bingar media. Hal ini bisa jadi merupakan pengamalan dari sense of exile yang ia temukan pada banyak kehidupan sufi. "Sense of exile merupakan pengalaman kefakiran atau kesadaran anak dagang," kata Abdul Hadi.

Sabtu, 15 September 2012

Kemiskinan

Saya tak pernah membenci kemiskinan seperti malam ini. Ketika saya melihat empat anak kecil mengais daging di atas sisa makanan pada sebuah pesta. Dengan baju kumuh, mata kuyu dan gigi menguning. Anak-anak itu bergegas mengumpulkan tiap potongan daging utuh yang tak habis dimakan para tamu undangan. Ada sebuah kegetiran. Sebuah ironi yang tengik di sana. Beberapa orang dengan pakaian anggun dan mewah, rangkaian kalung dan gelang emas menikmati potongan besar daging. Lantas membiarkan sisanya terbuang. Sementara anak-anak itu, menatap nanar menunggu piring disingkirkan. 

Saya tak pernah membenci kemiskinan sebagai sebuah takdir. Tak pernah ada manusia yang seharusnya dilahirkan miskin. Tuhan orang islam berkata kemiskinan dekat dengan kekufuran. Sementara tuhan orang nasrani kemiskinan dekat dengan anak tuhan. Tak pernah ada tuhan yang berhak memberikan kemiskinan pada manusia. Kemiskinan, meminjam bahasa Mohandas Gandhi, adalah seburuk-buruknya kekerasan. Ia memangsa harapan. Ia meremukkan keinginan dan memaksa orang untuk menyerah lantas mengemis pada nasib yang terlanjur disematkan.

Saya tak pernah membenci kemiskinan sebagai sebuah akibat. Saya melihat seorang nenek yang bekerja dari subuh hingga petang pada sebuah keluarga. Sendiri ia menyapu rumah, memasak, mencuci piring dan pakaian lantas merapikan kamar. Saya tak pernah percaya ada strata dalam pekerjaan. Saya tak percaya bahwa ada manusia yang digaji 20 milyar sebulan, sementara ada manusia yang bekerja berpeluh sehari penuh hanya untuk 20ribu rupiah. Saya tak percaya pada manusia yang bisa dengan tengik berkata itu adalah akibat sistem. Akibat nasib. Akibat kemalasan.


Saya pernah belajar dipaksa berteman dengan kemiskinan yang pelik. Hidup dengan melihat ibu saya mesti berpuasa karena tak tega berebut makan dengan dua anaknya yang sekolah. Hidup dengan rasa malu karena hampir setiap hari penagih hutang datang dan menggedor pintumu seperti seorang pesakitan. Hidup dengan rasa minder karena hampir tak ada yang bisa dibanggakan dari sebuah hidup yang melarat. Kemiskinan menghancurkan semua kebanggaan.

Saya tak pernah membenci kemiskinan seperti malam ini. Kebencian yang mengiris sehingga kamu berpikir menikmati hidup adalah sebuah dosa bakhil.

Kamis, 06 September 2012

Penerang

diambil dari
 http://antitankproject.files.wordpress.com/2008/07/munir-refuse-to-forget-project.jpg


Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apa kita biarkan mereka untuk gagah. Mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ganti baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sebuah kehinaan. Sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Sesuatu yang mereka bayar sampai titik manapun. Munir Said Thalib

Bagaimana seorang pahlawan mesti dikenang? Saya tak pernah suka pada konsep pahlawan. Pahlawan cenderung membentuk imaji sesosok manusia yang superior, seringkali egois dan kadang melahirkan jarak.  Mereka adalah manusia pilihan yang menolak bekerja secara komunal. Lebih sering bekerja sendiri karena menilai tak ada manusia lain yang setara dan bisa bekerja sebaik dirinya. Kepahlawanan adalah bahasa lain fasisme. Konsep ini cenderung melahirkan kebanggaan semu.

Tak pernah ada tolak ukur yang jelas bagaimana kita bisa mengenal atau mendefinisikan pahlawan. Ia merupakan terma abstrak, cair dan multi interpertasi. Konsep demikian selalu melahirkan pertentangan yang tak jarang malah hanya membawa kemudharatan. Tapi bagi saya ada konsep sederhana bagi pahlawan, mereka adalah orang-orang yang mampu membawa kita keluar dari kegelapan. Cahaya terang setelah lama takluk pada sesuatu yang suram. Pahlawan yang demikian tidak mengadili, ia menunjukan jalan, memberi contoh dengan berjalan seiring. 

Namun mengharapkan pahlawan yang demikian di Indonesia sama seperti menunggu Godot. Kita akan dipaksa berhadapan dengah harapan dengan hasil akhir yang sudah telak ditentukan. Kepahlawanan hanya sekedar keset yang diinjak-injak. Nilai disusun, jasa dibuat dan klaim perihal sejarah diplintir. Kita kerapkali memaknai sejarah, juga tokoh di dalamnya, sebagai sebuah narasi saklek yang haram dikritisi. Akhirnya pahlawan adalah manusia-manusia asing yang tak jelas betul kontribusinya pada alam bawah sadar kita. Lantas yang lahir adalah keterasingan pada sosok.

Bagi saya kata pahlawan hampir sinonim dengan nama Munir Said Thalib.

Munir, meminjam deskripsi Sidney Jones direktur eksekutif International Crisis Group, adalah tokoh yang menjadikan Indonesia lepas dari stigma negatif. Lebih dari itu, lanjutnya, Munir selalu memberikan harapan ketika yang lain sudah menyerah. Saya kira ini tidak berlebihan, Cak Munir merupakan representasi pekerja sosial yang berusaha keluar dari dikotomi penghamba proyek dan sponsor. Ia konsisten berjuang bukan atas nama biaya big boss, saya kira, lebih dari itu ia bekerja atas nama kemanusiaan. 

Munir bukan sekedar sesosok manusia yang parlente. Saya ingat sekali Munir mengendarai honda grand tahun 90an dengan helm kupluk dan jaket coklat usang. Untuk tokoh seperti Munir ia bisa dengan mudah dapat menikmati berbagai fasilitas sebagai seorang dhrektur eksekutif LSM. Namun Munir menolak itu semua. Padahal ketika ia meraih Right Livelihood Award pria asli Malang ini  memperoleh hadiah ratusan juta rupiah. Sebagian besar disumbangkan untuk Kontras, sisanya diminta untuk bisa membangun rumah sendiri di kampung halaman.

Munir adalah nama lain keberanian. Ketika sebagian besar aktifis negeri ini merengek pada lembaga donor dan bekerja atas nama pamrih. Munir berani menantang maut dengan menuntut pengungkapan kasus-kasus pelanggaran HAM berat. Sebagian besar terjadi pada era Soeharto yang bisa dengan mudah membunuh lawan politiknya. Kasus-kasus berat seperti peristiwa Talangsari, kerusuhan Tanjung Priuk, kekerasan Atjeh,  pembantaian Santa Cruz Timor-Timur, Pembunuhan aktifis Marsinah dan yang lainnya. Munir adalah salah satu dari sedikit orang yang berani berdiri paling depan menuntut kebenaran diungkap.

Pada kasus-kasus tersebut militer selalu menjadi tokoh antagonis yang diduga menjadi pelaku utama. Militer adalah nama lain penguasa ketika Soeharto berkuasa. Mereka adalah alat yang tak segan menindak, mengamankan, dan membela kepentingan negara. Apakah ini sempat membuat Munir gentar? Tentu saja. Sebagai manusia biasa Munir takut. Namun ia bukan takut akan dibunuh, lebih dari itu, ia menyadari segala resiko dengan terjun sebagai aktifis hak asasi manusia. Ketakutan terbesarnya adalah ia akan mengecewakan keluarga korban pelanggaran HAM. Ia takut ketika mati maka tak ada lagi yang akan meneruskan usahanya. Dalam banyak hal saya melihat sosok munir sebagai seorang lone wolf yang bekerja sendirian.

Apakah Munir adalah sosok yang tanpa cela? Saya kira tidak. Ia manusia biasa.

Munir terlalu naif. Ia berpikir mampu menyelesaikan seluruh masalah HAM di Indonesia sendirian. Entah mengapa saya hanya mendengar nama Munir, Munir, Munir yang terus berusara dalam berbagai kasus kekerasan di Indonesia. Bekerja sendiri sebagai lone wolf membuat banyak kasus di tanah air seolah seutuhnya bergantung pada Munir. Hal ini melahirkan banyak persepsi yang salah. Muncul pengkultusan Munir sebagai pahlawan HAM yang bekerja tunggal. Padahal perang melawan ketidakadilan bukanlah pekerjaan seorang diri. Ia membutuhkan banyak orang dan banyak bantuan untuk segera membantu penyelesaiannya. Di sini sosok Munir menjadi lalai.

Penyosokan Munir menyebabkan banyak kasus HAM di Indonesia seolah-olah hanya dibela, diperjuangkan dan diusut hanya olehnya. Ketika Munir meninggal akhirnya banyak kasus yang selama ini diperjuangkan Munir seolah hilang. Luput dari perhatian khalayak ramai karena si jendral yang berjuang paling depat sudah tamat riwayatnya. Meski hal ini tak seluruhnya benar. Munarman, salah satu pentolan FPI hari ini adalah salah satu dari sedikit penerus yang dulu pernah berjuang untuk HAM. Kinerja Munarman sangat baik saat pengurusan kejahatan kemanusiaan di Atjeh, meski kini ia berubah 180*.

Permasalahan HAM di Indonesia bukanlah perjuangan satu orang. Semestinya Munir bekerja dan percaya lebih banyak orang. Bahwa perlawanan terhadap mereka yang keji dan pengecut tak harus ditanggung sendiri. Bahwa ketakutan yang lahir dari teror tak mesti harus dirasakan sendiri. Namun dengan kematian Munir dan bagaiman ketidakadilan pada kasusnya terjadi telah melahirkan banyak pejuang HAM baru. Munir boleh jadi berubah menjadi mayat, namun semangatnya tetap hidup. Diwarisi oleh puluhan atau bahkan manusia-manusia baru lainnya. Kita bisa melihat hal ini dari Suciwati, istri mendiang Munir, yang tegak berdiri ketika orang lain menyerah. Ia berjuang, boleh dikatakan sendirian, menuntut penuntasan kasus munir.

Pada suatu ketika presiden kita yang juga musisi gagal itu bernah berkata "Munir murdered case is a test of our history," Tapi seperti semua janji gombal dan omong kosong yang telah kita dengar selama ini, kasus munir masih saja terbengkalai, dilupakan dan seolah-olah dianggap sudah selesai dengan ditangkapnya Pollycarpus. Namun kita semua tahu Munir, yang berarti penerang, adalah cahaya yang menolak padam. Melanjutkan kata-kata Goenawan Mohammad, Ia membuat kita semua tidak takut pada kegelapan.

Kegelapan membuat kita ragu dan cahaya memberikan kita kepastian. Apakah kita akan menyerah?

Saya kira kita tidak akan menyerah begitu saja pada teror dan tentu saja anda juga bukan? Menyerah pada teror hari ini berarti memberikan leher generasi berikut kita untuk disembelih. Munir mengajarkan itu diam-diam. Beberapa dari kita hanya menjadikan ia sosok tanpa pernah belajar mengerti. Perjuangan di tanah ini adalah perjuangan melawan ketakutan dan usaha melupakan. Mereka yang takut akan berusaha lupa, berusaha untuk membiarkan keadaan seolah baik baik saja. Mereka yang bebal akan menganggap usaha sekecil apapun melawan lupa adalah kesia-siaan. Tak pernah ada usaha sia-sia melawan penindasan.

Dalam perjuangan untuk kemanusiaan tak pernah ada usaha kecil, usaha besar atau usaha yang tak berguna. Semua usaha memiliki perannya masing-masing. Ada yang keras berteriak di jalan sembari mengangkat toa, ada yang salih membaca lantas menulis usaha keadilan, ada pula yang berjuang dengan diam-diam seraya memberdayakan masyarakat sekitarnya. Lantas bagaimana anda akan memposisikan diri? Dalam perang melawan kejahatan kemanusiaan tidak pernah ada area abu-abu. Jika anda tak berada dalam barisan solusi, maka anda adalah bagian dari masalah.

Saya menyadari bangsa ini adalah bangsa manja yang degil. Sekumpulan mahluk manja yang hanya peduli pada urusan perut dan dirinya sendiri. Manusia yang dimanjakan zaman dan menolak menjadi kritis. Rasa nyaman telah membuat kebanyakan dari kita tak mau peduli pada masalah orang lain. Kalian pasti punya satu dua teman yang menganggap remeh masalah Papua sebagai usaha merongrong nasionalisme. Mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah merasakan bagaimana pedihnya rumah direbut dan saudara dibunuh. Atau mereka tak pernah merasakan betapa sesaknya kehilangan ayah tanpa tahu apakah ia sudah meninggal atau masih hidup.

Kita hidup sepanjang hari dengan r`tusan hiburan yang memborbardir imaji bahwa negeri ini baik-baik saja. Berapa persen dari penduduk negeri ini yang tahu jika pernah ada kasus Talangsari, kasus pembantaian bangsa Atjeh, kasus Tanjung Priuk, Sum Kuning, Tragedi Semanggi, Marsinah dan kasus pembantaian atas nama PKI. Seolah olah label komunisme memberi kita kewenangan untuk membunuh, memperkosa lantas merebut hak hidup orang lain. Dalam banyak hal Munir berusaha menyadarkan pada kita, mereka yang ditindas adalah manusia yang sama dengan kita. Namun seperti biasa, suaranya barangkali sudah redup, mulai hilang ditengah hiruk pikuk televisi dan struk tagihan kartu kredit.

Semoga penduduk negeri ini sadar. Mendiamkan kejahatan adalah sama dengan turut berpartisipasi di dalamnya.

Rabu, 05 September 2012

Selebihnya Dusta

Sayang, kukira kita harus memulai percakapan ini dengan sebuah kesepakatan. Bahwa saat ini, meski aku selalu tampil gombal dengan banyak wanita, hanya kau dan selalu kau yang menjadi episentrum kebahagiaanku. Hakikat dari segala jerih yang kulakukan untuk belajar, memejalkan diri, lantas bisa bekerja, mencari uang dan membangun kehidupan mapan. Meski terkadang, bukan, seringkali aku masih mengingat masa lalu sebagai sebuah penyesalan bukan lagi proses. Sebagian dari kita adalah Homo Praeteritus, mahluk yang terjebak pada kenangan.

Tapi bukankah sebuah hubungan, sebut saja percintaan kita, bukan sekedar bahagia semata. Sesekali kita perlu mencicipi getir sebuah kecemburuan, atau perihnya kebohongan, atau paniknya ketiadaan kabar dan sebagainya. Hubungan yang tanpa gejolak cenderung seperti sebuah air dalam tempayan. Ia akan menjadi tempat kuman, bakteri dan penyakit membiak. Namun hal ini bukan berarti kita berhak terus menerus menyakiti satu sama lain. Berdalih bahwa semua yang bernama perbedaan tak bisa diluruskan menjadi sebuah kesepahaman bersama. Tentu ada batas juga jeda dimana sebuah perbedaan (atau permasalahan) harus dibicarakan baik-baik.

Kukira aku mesti jujur. Jatuh cinta bagiku bukan perkara mudah. Ia butuh proses, sesekali kadang menggelikan, naif dan juga terlalu tolol untuk bisa dimaklumi. Kita berdua tahu itu, atau bahkan seperti kau bilang, kau lebih paham perihal diriku daripada aku sendiri. Lantas bagaimana aku harus bersikap ketika pada suatu mendung yang keperakan, aku memandang jendela lantas di batas horizon kumpulan walet berterbangan di atas persawahan. Ada yang subtil dari suasana itu. Lantas warna kelam itu membuatku ingat pada abu merapi, yang lantas membawaku kepada sebuah kenangan yang coba kukubur sejak lama.

Terkadang kita seperti dikepung sebuah perasaan asing yang mencoba masuk tiba-tiba. Merasuk seolah-olah menjadi mahluk maha penting yang berhak mengambil alih kendali diri. Kondisi itulah yang tiba-tiba muncul pada hari mendung itu sayangku. Seperti sebuah sajak lama dari Amir Hamzah "Hanyut aku! ulurkan tanganmu, tolong aku. sunyinya sekelilingku!" Ada satu waktu kita begitu khusyuk menikmati keadaan hingga diri kita memasuki nuansa trance yang melenakan.

Manusia cenderung bertindak bodoh ketika sedang dalam keadaan lena. Seperti juga aku yang impulsif membuka puisi ketika mendung tiba. Lantas membaca berbagai sajak yang berkisah perihal kepedihan dan perpisahan. Tentu saja ini tak sehat. Hasilnya kemudian aku malah berusaha menggali lagi fragmen fragmen lampau. Berusaha mengakrabinya setelah berbulan bulan menjauhinya. Bukankah sudah kubilang aku seringkali menyerah pada perasaan, ketimbang bersukutu pada pikiran. 

Kukira semua itu kini tak penting sayangku. Toh kaupun merasakan cemburu, bagaimana mungkin juga menerima, seseorang yang sudah berkasih lantas mengingat (calon) kekasihnya yang terdahulu. Menuliskannya begitu mesra lantas bertingkah seolah itu hal yang lumrah. Sesuatu yang ditolelir sebagai sebuah kondisi yang jamak. Aku tahu kau memendam amarah, mungkin luka, tapi juga kau begitu santun tak meledakkan semuanya. Hanya bersikap ketus menungguku untuk sadar. Tapi tak apa sayangku, aku pantas menerima segala yang ketus darimu. Berkali lipat juga tak apa, tentu dengan syarat jangan kau tinggalkan aku. Nah lo manis kan?




Lantas aku mengingat sebuah lagi profetik nan romantis dari Aretha Franklin. Sebuah lagu cinta yang menyelipkan realitas sosial kelas pekerja kulit hitam. Ia bercerita tentang kegigihan, tentang doa dan tentang perjuangan keras. Bukankah cinta itu diraih sayang, lantas sesekali kita menyelipkan harapan lewat doa. Mencintai juga perkara memuaskan rindu atau melunaskan nafsu. Ia lebih dari itu, terkadang cinta, seperti yang kita rasakan dan lakukan, adalah perkara bersenang senang seusai marah sengit. Mencintaimu itu sederhana, memujamu tak pernah semenyenangkan ini sayang. Itu saja.

I run for the bus, dear
While riding I think of us, dear
I say a little prayer for you
At work I just take time
And all through my coffee break time
I say a little prayer for you


Sabtu, 01 September 2012

Semacam Fragmen Kenangan


~ untuk R

Semestinya ada yang lebih bijaksana dari sebuah perpisahan yang pelik. Semacam kesepakatan dengan masa lalu agar tak lagi datang diam-diam. Sebenarnya bukan perpisahan itu yang menyebalkan, tapi perihal ingatan-ingatan yang kerap datang seperti maling. Juga berbagai khusyuk perjuangan melupakan saat kesendirian datang. Hidup sering menjadi sebuah usaha melawan kenangan dan kita kerap dipaksa menyerah kalah sebelum memulai.

Aku belajar untuk menerima kekalahan, juga menerima fakta bahwa mengingat adalah laku batin yang pedih. Kita tak bisa benar-benar membagi perasaan kepada orang lain. Perasaan adalah sebuah medium yang unik. Ia tak bisa kembar karena masing-masing manusia memiliki kondisi tersendiri dalam mengalami sebuah perasaan. Adakalanya orang menangis tanpa sebab kala hujan tiba, juga sebuah senyuman tulus ketika melihat sebuah senja yang keemasan. Perasaan adalah anugerah yang tak pernah bisa dimengerti.

Kenangan, seperti juga perasaan, bekerja dengan cara yang ajaib. Kita tak bisa mengendalikan bagaimana sebuah perasaan datang. Tak pernah ada perasaan utuh, seperti juga kenangan lengkap. Ketika kenangan datang kita tak pernah benar-benar seutuhnya memutar ulang kejadian yang telah lampau. Kita mesti hidup dengan cara yang demikian sebagai sebuah proses tanpa akhir.

Banyak hal yang tak bisa kita sepakati dalam hidup. Seolah-olah kita adalah sebuah sekrup yang bekerja mekanis dan sistematis. Robot yang harus tunduk pada perintah-perintah yang bahkan kita sendiri tak bisa mengerti. Seperti tiba-tiba merindu lantas haru. Atau bertemu lantas terluka. Kejadian-kejadian yang menuntut kita untuk dewasa pada perasaan. Sayangnya, tak pernah ada manusia yang dengan bijak menyapa masa lalu yang perih seperti seorang karib.

Aku belajar untuk melupakan lesung pipit sebagai sebuah masa lalu. Juga dahi lebar dengan hidung mungil yang kerap berubah indah ketika sebuah senyuman hadir tiba-tiba. Bukankah siksa paling keji adalah merasakan rasa sakit tanpa sebab? Kukira ada yang lebih bijak dari sekedar mengumpat, walau itu pada kenangan paling perih sekalipun. Atau pada sebuah keadaan yang sama sekali tak bisa dikembalikan. Atau pada sebuah perasaan yang tak bisa dihilangkan.

Kukira jatuh cinta padamu adalah sebuah keniscayaan. Sebuah perasaan yang tidak mungkin tidak hadir. Ia adalah nasib, atau juga kutukan, yang dengan sukarela aku terima. Bukankah kita semua pernah kecewa, meratap lantas dilupakan? Tapi mencintaimu bukanlah pilihan. Ia adalah kondisi apa boleh buat yang aku yakin semua orang akan setuju. Jika tidak kami akan bertemu lantas baku hantam untuk memaksakan perasaanku.

Ada beberapa kisah cinta yang memang berakhir tragis untuk melahirkan kisah lain yang lebih manis. Juga beberapa pengorbanan yang sia-sia karena tak pernah ada pelajaran gratis. Hidup adalah perkara berdamai dengan kekalahan lantas mengais sisa harapan. Semua yang sisa adalah daya hidup paling pejal, paling laten dan paling pegas. Ia bisa diinjak, bisa ditekan dan bisa dihimpit. Namun sekeras itu pula mereka akan melawan. Kukira perasaanku padamu juga demikian.

Pada suatu malam aku menulis puisi setelah membaca puisi. Kau akan begitu terkejut bagaimana sederhananya (sekaligus rumitnya) pikiran kita bekerja. Aku memagut diksi begitu banyak juga menafsir kata begitu banyak. Sebagian besar malah melahirkan proyeksi bentuk wajahmu yang merupa dalam begitu banyak ekspresi. Tentu sebagian besar adalah senyuman, meskipun ada beberapa mimik nyinyir dan genit. Tapi semua menjadi samar, karena kini saat aku mengingatnya semua rupa tadi hilang.

Aku mencintai puisi seperti kau mencintai segala obsesimu. Puisi adalah segala yang bernama semangat. Kau akan begitu tergagap memahami bagaimana kata-kata yang dijalin bisa memberikan kendali atas perasaanmu. Seperti sepotong sajak Goenawan Mohamad “Akulah Don Quixote de La Mancha, Majnenun yang mencintaimu.” Ada yang mencoba lepas dari sajak itu. Sebuah perasaan yang melompat ketika kau kasmaran.

Dalam puisi aku bebas memahat pesan dan menempatkanya dalam sebuah kado dengan pita merah jambu. Lantas menaruhnya diam-diam di sebuah lini pasa jejaring sosial maya. Kita tak pernah akan menduga siapa saja yang terjerat lantas urun haru. Atau siapa saja yang tercekat lantas merutuk amuk. Puisi menghadirkan itu semua. Aku tak mengharap kau paham tapi aku berdoa kau bisa merasakan apa yang ada dalam setiap sajak yang kubikin.

Dalam puisi aku bisa berkisah tentang perjalanan semalam dengan deru bus yang merambat pelan, seusai menikmati pagelaran musik dengan rupa malam begitu kudus. Atau sebuah perjalanan sepanjang siang hingga petang pada sebuah atap perpustakaan. Atau juga ribuan pesan pendek dengan basa basi konyol. Juga sebuah senyum dengan abu merapi yang menetas dalam gelas jeruk panas. Di sana ada angkringan, beberapa tikar dan sebuah tembok yang kelak akan runtuh. Seperti juga sebuah rezim yang berdiri terlalu lama.

Dalam puisi aku juga bisa berteriak kesakitan. Menggarami luka lanyas menyayat perih sebuah borok. Atau mengemas kebencian dengan ragam warna cerah. Seolah olah dunia baik-baik saja namun membusuk dari dalam. Dalam puisi aku bisa menjadi orang munafik yang tak pernah belajar merelakan. Seperti batu yang menghimpit lantas menekan keras. Harapan, kukira, adalah perkakas paling sadis dalam menyakiti. Kau tak akan pernah tau seberapa sakit rindu yang koyak.

Kentingan

Seperti puisi, aku mengingatmu sebagai ilusi
biji wijen, serpih haru musim hujan
tapi apakah itu penting?
malam turun dan anjing bercengkrama

Kukira kita harus  belajar pada awan mendung
yang lekas hilang seusai hujan

Tapi rindu bukanlah perkara buang hajat
(di sini kita berdebat, tentang bagaimana
orang kidal membasuh kenangan)
sementara di kejauhan bising kota mencair

Gementing warna kelam
gagap adalah bahasa para pecinta yang
hatinya dikuasai kasih
menggebu seperti arus mudik lebaran

Kukira kita harus  belajar pada awan mendung
yang lekas hilang seusai hujan

Bisik kereta dan sepenggal lirik lagu pop
menguning bising pada radio
“siapa hari ini yang masih mendengar gelombang FM
ketika jejak masa lalu sudah disimpan dalam
123 bit kartu ingatan bikinan tiongkok”

Seperti Isa yang rindu bapa Nya
kita menyerah hanya pada cinta


Kukira kita telah jatuh pada sebuah sungai keruh. Kita berdua salah paham perkara kabar. Itu saja.