Rabu, 26 September 2012

21 Tahun Nevermind : Ah sudahlah




Saya harus berterimakasih pada Nirvana karena membantu kakak saya melepaskan pengaruh dekaden hair metal. Setidaknya setelah mendengar album Nevermind, kakak saya berhenti melolongkan kaset Poison, Gun n Roses dan segala bala Kurawanya di rumah. Meski yang terjadi kemudian berganti suara orang bergumam, dalam bahasa ibu saya, racauan parau orang disunat. Puncak kesalihan kakak saya pada Nirvana adalah keinginan untuk membuat tatoo bertuliskan “I hate myself and I want to die,” di tangan. Sayang beliau keburu meninggal dua tahun lalu sebelum kata itu tersemat di tangannya.

Saya tak pernah benar-benar bisa meresapi Nirvana. Besar hanya dengan bagasi musik sekualitas Bragi, Pancaran Sinar Petromak dan Padhayangan Project membuat saya tahu diri untuk tak menilai band ini terlalu jauh. Namun ada yang menarik dari band yang bermula dari Aberdeen ini. Musik mereka adalah sebuah keterasingan yang seolah olah sudah bosan menunggu untuk diledakan. Sebuah gairah yang bocor seusai menahan diri atas kondisi yang itu-itu saja. Lantas ketika sumbu sudah dinyalakan mereka menolak untuk diam dan berusaha untuk terus berteriak.

Hari ini 24 September merupakan perayaan 21 tahun Nevermind dibuat. Entah mengapa saya ingin mengingat album ini seraya vakansi pada masa lalu yang naif. Saat SMA saya baru menyadari betapa besar pengaruh album ini. Tidak susah mencari alasannya. Album ini merupakan anti tesis dari segala raksasa musik yang mendominasi chart radio masa itu. Michael Jackson atau Gun n Roses seolah dikerjain oleh anak kemarin sore yang muncul dengan suara sengau penuh riff gitar yang berisik. Nirvana yang baru sukses dengan album mandiri Bleach mendobrak pakem musik baru yang lantas memperkenalkan Grunge.

Alasan naif lainnya juga karena beberapa band yang saya anggap keren saat itu, semacam Linkin Park atawa Limp Bizkit, mengaku sangat menghormati album ini. Belakangan saya juga menyadari bahwa pentolan Limp Bizkit, Fred Durst menjadi promotor band grunge Puddle of Mudd sebagai usaha mengembalikan pamor musik ini ke khalayak ramai dan gagal. Lagipula siapa yang masih betah mendengar lapisan suara gitar yang dicabik melengking dengan distorsi dan teriakan geram pemuda tanggung yang masih mencari jati diri? Grunge lantas menjadi hantu atas scene musik yang muncul meletup sekejap dengan jejak yang panjang.

Apa itu Grunge? Oh sampai hari ini saya masih belum mampu menemukan padu padan kata yang tepat untuk menjelaskan kata arkaik ini. Seperti juga makna kata indie, Grunge adalah sebuah medan perdebatan yang tak kunjung usai. Eddie Vadder pernah muntab karena Pearl Jam dipaksa masuk kategori ini. Soundgarden dan Alice in Chains mencak-mencak menolak dikotomi kata ini. Lantas apakah Grunge hanya milik Nirvana seorang? Entah. Yang jelas Nevermind, meminjam istilah Dave Whitaker penulis No One Needs 21 Versions of “Purple Haze”…And Other Essays from a Musical Obesessive, memulai tahun-tahun yang kelak disebut sebagai masa kedaulatan Grunge.

Nevermind dimulai dengan singgle catchy nan mudah diingat Smells like teen spirit. Secara pribadi, keseluruhan irama dalam lagu ini adalah puncak kejayaan Nirvana. Saya selalu membayangkan nomor ini adalah anthem dari generasi X yang kecewa pada dominasi orang tua dalam menentukan moralitas. Sekali mendengar mustahil kita melupakan lenguh Cobain yang mengeras pada bagian reffrain. Ada yang mencoba berontak dalam lagu ini seperti para pemacu yang sedang bertandang dalam karapan sapi. Keras, cepat, penuh agresi, konsentrasi pada dengung, lenguh kemarahan sapi dan keringat yang mengucur.

Lagu kedua adalah nubuat gelap tentang masa depan vokalis Nirvana yang suram. Dimulai dengan suara ragu-ragu Kurt dan dominasi dentuman drum Dave Ghorl. Pelan-pelan lagu yang awalnya bertempo lambat ini menggelegar dengan teriakan parau yang membawa kita pada reffrain. In Bloom membuat saya berpikir, kira-kira apakah ini lagu terakhir yang didengarkan Kurt sebelum ia memutuskan bunuh diri? Para penggemar teori konspirasi pasti akan orgasme mengaitkan lirik “And he likes to sing along” dengan frase “And he likes to shoot his gun” sebagai sebuah surat wasiat.

Come as You Are is a saint of backstabing songs. Setidaknya bagi saya. Berulang-ulang selama beberapa bulan dalam satu masa gelap hidup saya, cabikan bass Krist Novoselic yang memulai lagu ini mendominasi lingkup dengar telinga saya. Petikan gitar solo Kurt yang bersuara seperti pria tua kelelahan selalu menjadi hiburan. Lagu ini sebenarnya berpotensi menjadi primadona dalam album Nevermind. Repetisi yang dibuat Novoselic sangat mudah diingat dan dikenali. Sayang spotlight keburu menyodok Smells Like Teen Spirit sebagai bintang utama.

Berturut turut pendengar diajak bercengkrama dalam mosh pit lewat track Breed. Sejak awal lagu ini mencengkeram mereka yang hendak bermandikan darah dalam lautan konser. Suara gitar, bass dan drum bertalu-talu silih berganti meminta para pendengarnya untuk menghempas diri sekeras-kerasnya. Lantas kemudian kita diajak menurunkan tensi yang terlanjur tinggi dalam track Lithium. Lagu ini cocok didengarkan sembari mengompres dahi yang terluka saat moshing dengan bir dingin. Saya tak pandai memahami lirik ini dalam bahasa Inggris, namun Lithium saya kira adalah syahadat bromance para penggila konser bertensi tinggi.

Lagu berikutnya adalah Polly yang merupakan salah satu lagu lembut namun paling horor dalam keseluruhan album Nevermind. Suara didominasi oleh petikan ritmik Kurt dan sedikit suara bass yang tegas dari Novoselic. Suara gitar yang perlahan namun pasti membuat Polly membangun imaji tenang yang semu. Saya sering membayangkan para penculik psikopat mendengar lagu ini mendekap korban mereka seraya berbisik  “Let me clip, Your dirty wings”.

Ketenangan yang dibangun Polly tak berlangsung lama, Territorial Pissings memporak porandakan tatanan mapan yang sebelumnya sudah dibangun oleh Polly. Lagu ini merupakan renik dari pengaruh Punk yang berkembang pesat di kota Seattle. Ia cepat, ia tegang, ia memangsa, ia membakar, ia menerjang, dan kerumunan mosh pit sekali lagi terbakar seusai lagu Breed. Lagu ini lantas ditutup oleh teriakan-kehabisan-tenaga yang kelak menjadi trademark Kurt sembari membanting dan menghancurkan instrumen musik saat konser.

Nirvana jelas mencoba membongkar seluruh narasi musik yang baik dengan melakukan eksperimen pada suara dengan cara mereka sendiri. Melalui nomor Drain You mereka bermain dengan noise, dengan suara vokal naik turun yang tak jelas intonasinya, juga dengan suara-suara asing yang coba diperdengarkan seusai reff pertama dilakukan. Selama hampir 60 detik mereka bermain main dengan suara ngek ngok nyaring sebelum akhirnya masuk pada ritme awal lagu.

Lagu-lagu berikutnya seperti seperti On A Plain, Stay Away, dan Lounge Act tak begitu saya dengarkan secara khusus. On A Plain bicara tentang narsisme angst sementgara Stay Away bicara soal hidup monoton yang diatur oleh trend fashion. Lounge Act barangkali cocok menjadi manifesto Generasi X. Ia bercerita tentang penolakan pada norma, ia bicara kemunafikan, ia bicara keinginan untuk sesuatu yang baru. Hal ini pula yang membuat Nirvana menjadi band yang tak hanya sekedar bicara perihal penolakan-penolakan anak muda. Mereka bicara tentang sesuatu yang subtil. Keinginan agar generasi muda diberikan kesempatan untuk bicara dan didengar.

Saya menyukai keputusan Butch Vig, produser dan juga penyelaras irama Nevermind, yang menempatkan Something In The Way di akhir lagu. Lagu ini tenang dan dilakukan atas petikan malas gitar Kurt Cobain. Gesekan alat musik, mungkin biola, membuat lagu ini semakin kelam. Ditambah suara Kurt yang muram bernyanyi seolah berbisik dan kelelahan. Saya selalu menikmati lagu ini seperti sebuah doa panjang yang tak berharap dikabulkan.

Nevermind adalah alasan bagi para pemuda pada zamannya untuk marah tanpa sebab. Geram dengan segala tata krama dan moralitas yang dianggap semu. Padahal, ya, sekedar tak ingin sekolah atau terlalu malas untuk melakukan sesuatu. Tapi yang kemudian saya lihat Nevermind seolah menjadi berhala yang dielukan tanpa kritik. Tengok saja dogma Pitchfork yang menyebutkan bahwa siapapun yang menjelekan Nevermind adalah hipster yang mencoba keren, sayangnya mereka adalah hipster gagal. Sebegitu kerenkah Nevermind hingga menjadi sebuah karya ilahi yang absolut?

Dari cerita almarhum kakak saya jadi mengetahui bagaimana Nevermind bisa begitu lekat di kepala para pendengarnya. Bondowoso, kota dimana kami tinggal, adalah daerah tertinggal yang selera musik ditentukan oleh radio yang saban hari didominasi oleh musik dangdut. Suatu hari menjelang akhir tahun ajaran 1992 atau setahun selepas Nevermind keluar. Smeels Like Teen Spirit diputar di salah satu radio. Satu-satunya cara untuk memiliki album kaset saat itu adalah pergi ke Surabaya atau Malang. Alternatif lainnya adalah membayar Rp. 1000 kepada penyiar radio untuk mengkopi satu album penuh yang susah didapat.

Pengaruh Nevermind dalam budaya populer dunia juga sangat luar biasa. Saya mengingat setidaknya dua kali album ini menjadi cameo dalam kartun ultra sarkastik kesayangan amerika. Pertama mereka muncul dalam salah satu poster The Simpsons, dimana Bart, berperan sebagai bayi berenang. Juga muncul dalam salah satu fragmen episode The Family Guy dimana Stewie, menyimpan Vinyl Nevermind, dan hijrah ke masa lalu untuk mencegah Kurt bunuh diri. Sebagai gantinya ia menyarankan kurt untuk mencoba kudapan.

Mendengar lagi album ini setelah sekian lama membuat saya kembali menyadari. Saya hanya pemuda yang melewati masa SMA dengan euforia kebebasan paska Soeharto. Saya tak benar-benar besar di era 90an yang menjadi rahim kelahiran Nevermind. Bukan pula generasi X yang bosan dengan segala tetek bengek malaise modern yang dibawa perang dingin atau glam rock. Tak ada yang benar-benar saya lawan, akhirnya, tak ada yang benar-benar saya dengarkan sebagai sebuah identitas. Album ini adalah legenda hidup yang semestinya dibiarkan mencari nasibnya sendiri. Bukan lantas dijadikan semacam berhala, tapi ah sudahlah here we are now, entertain us Nirvana!

1 komentar: