Sabtu, 22 September 2012

Malam




Pada suatu hari di bulan September yang dingin tahun 1889, musim gugur barangkali sudah merontokan daun kering terakhir. Van Gogh, pelukis impresionis asal Belanda, tengah dalam kegandrungan besar. Sesuatu yang murni, barangkali tuhan jika ia percaya, telah mendorongnya untuk membikin suatu lukisan. "... it that doesn’t stop me having a tremendous need for, shall I say the word — for religion — so I go outside at night to paint the stars." Maka, seperti tuhan yang bersabda jadilah cahaya, Van Gogh membikin lukisan Gemintang Malam, De sterrennacht atau The Starry Night.

Lukisan ini, seperti semua kanvas impresionis yang diciptakannya, mengabarkan sebuah perasaan yang gugup. Goresan yang timbul dibikin dengan kegagahan yang ragu-ragu. Saya tak pernah melihat lukisan ini, tapi beberapa kali melihat langsung karya impresionisme, membikin saya percaya karya Van Gogh barangkali akan lebih arkaik. Ini yang membuat Gemintang Malam bagi saya bermakna lain. Barangkali Tuhan hendak bercerita tentang suatu hal pada Van Gogh yang murung. Tentang keindahan malam yang terlampau kudus.

Saint-Rémy-de-Provence, lokasi dimana lukisan ini dibuat, kota tua dengan banyak reruntuhan sisa masa lampau. Daerah pinggiran nan teduh ini terletak diperbukitan di selatan Perancis. Van Gogh yang saat itu sedang dirundung sakit, tengah dirawat di salah satu sanatorium. Hampir setiap malam ia memandangi langit Prancis yang cerah, hingga suatu saat ia menerima bisikan untuk melukis. Tuhan kerap kali datang pada manusia dalam kegelapan. Ia menantang manusia untuk percaya pada sesuatu yang belum jelas bentuknya.

…gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kitab Kejadian membuka diri dengan proses terjadinya alam semesta. Tuhan mencipta jagat raya selama enam masa dalam kegelapan. Bagi umat beragama, malam adalah laku kesalihan. Ia adalah keasingan yang membawa diri kita pada rasa takut akan kegelapan. Manusia saya kira tak bisa dan sulit untuk berdamai dengan malam tanpa bantuan. Kita menciptakan lampu karena terbiasa untuk bekerja dalam cahaya. Malam seringkali kita lalui dalam lelap tidur.

Jutaan keajaiban dan percik pemikiran murni lahir dari kegelapan malam. Saya kira, kita perlu belajar dari para santo dan wali yang mengakrabi malam seperti seorang kekasih yang molek. Malam tak pernah benar-benar sunyi. Dalam segala muram yang ada ia sebenarnya hendak bercerita mengenai narasi masa silam. Langit yang sama yang ada ribuan tahun lampau. Langit malam merekam jejak peradaban dalam hitam. Para ulama zuhud juga para pecinta mabuk ilahi dalam remang usai cahaya hilang.

Kegelapan yang pekat banyak menuntun para pemikir cemerlang menemukan cahaya. Dalam remang kelam yang asing, mereka meraba-raba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak bisa diberikan saat siang. Banyak pemikiran jenius para pembaharu dunia terjadi saat malam. Ketika manusia-manusia biasa tertidur, mereka yang terjaga sibuk memikirkan dunia, merumuskan petuah sehingga mencapai perjuangan. Alegori orang gua Plato boleh menjadi salah satu rujukan pembanding. Bagaimana sebenarnya manusia yang hidup dalam gua gelap dan memandang bayang-bayang api, adalah orang yang tak tercerahkan. Hanya mereka yang berani melawan kegelapan pekat akan menemukan cahaya yang sebenar-benarnya.

Beberapa waktu lalu saya diberi sebuah buku berjudul Dark Night of the Soul. Sebuah karya klasik karya mistikus katolik John The Cross. Ia adalah sebuah sajak panjang yang bercerita tentang kerinduan hamba pada Tuhannya. Sebuah renungan yang subtil perihal kefanaan diri yang mencoba mencari setitik cinta dari sang khalik. Sebuah buku memukau yang dimulai dengan kalimat yang indah.

One dark night, fired with love's urgent longings

John yang juga salah satu reformis ordo carmel ini adalah salah satu mistikus katolik yang masyur pada zamannya. Sebagai salah satu pengikut ordo pendoa ini, John banyak menghabiskan waktunya dalam beribadah. Carmel merupakan salah satu dari sedikit ordo yang memfokuskan diri pada satu liturgi khusus. Kebanyakan dari mereka hidup dalam kuil-kuil dengan banyak kamar. Masing-masing menyepi dan melewatkan sepanjang malam dan siang untuk berdoa. Rentang waktu ibadah ini bisa sangat panjang tergantung dari masing-masing orang.

Satu biara milik ordo Carmel biasanya terdiri dari para laki-laki yang hidup selibat. Dari sekian banyak kamar-kamar sempit kecil, isinya hanya kasur dan altar untuk berdoa. Terkadang mereka cuma datang berkumpul untuk makan pagi dan makan malam. Sisanya mereka habiskan untuk berdoa dalam bilik masing-masing. Tak jarang mereka hidup tanpa kata-kata. Kesunyian menjadi sahabat karib dan doa seringkali dilakukan dalam diam. Para anggota ordo ini percaya doa, kesunyian dan malam akan membuka hati dan mempertajam insting diri menjadi lebih baik.

Tuhan hadir dalam kesunyian. Lebih dari itu bagi John kesunyian malam melahirkan berkah yang lain. "Thus, while the spirit is tasting, the flesh tastes nothing at all and becomes weak in its work. But through this nourishment the spirit grows stronger and more alert, and becomes more solicitous than before about not failing God." Dalam gelap malam tuhan bicara dengan perlahan dan gagap. Ia menguji iman para hambanya dengan teka teki tauhid. Malam menghadirkan kerinduan juga kecemburuan hamba pada tuhannya. Hanya sedikit manusia yang bangkit berdoa kala malam, manusia pilihan yang berebut cinta penciptanya.


Foto karya Maharsi Wahyu Kinarsih.

Demi malam apabila ia menyelubungi segala-galanya (dengan gelap-gelitanya)

Al Lail, yang berarti malam, salah satu surat dalam Al Quran dimulai dengan sumpah Allah kepada salah satu ciptaan Nya. Dalam tradisi aqidah Islam manusia dilarang bersumpah atas nama mahluk. Seperti demi fulan, demi ibuku atau demi langit. Menurut Islam hanya Allah ta'alla yang berhak bersumpah atas nama mahluk ciptaannya. Seperti demi masa, demi langit dan bumi juga demi malam. Malam merupakan salah satu 'mahluk' istimewa yang atas namanya Allah khusus bersumpah.

Islam memuliakan malam sebagai momen magis yang kudus. Kegelapan terkadang linier pada frase waktu bersama Tuhan. Bagi umat muslim kegelapan malam adalah waktu yang tepat untuk berdoa. Mereka percaya Allah hadir dalam kegelapan untuk menyapa para hamba yang terpilih. Mereka yang menjauhkan lambungnya dari pembaringan akan menerima pencerahan sebagai umat yang diselamatkan. Lebih dari itu Allah memberikan penghormatan kepada mereka yang terjaga kala gelap malam, dimuliakanlah mereka yang terjaga disepertiga akhir malam.

Al Quran merupakan kitab puitis yang menyimpan ragam rahasia. Malam banyak disebutkan sebagai sebuah momen yang sakral. Sedikit manusia yang memahami rahasia malam. Ada dua ayat dan dua surat berbeda mengabarkan perihal keistimewaan manusia yang terbangun kala malam tertuang dalam Adz-Dzariyat: 17-18 dan As-Sajadah: 16. Dalam banyak hadist Rasulullah menyebut manusia-manusia ini sebagai kaum yang sedikit.

Ibnu Mas'ud, manusia zuhud dan pioner umat yang masuk Islam pertama kali, mengaitkan malam dan Quran sebagai sebuah entitas yang penting. "Siapapun yang telah memahami Quran dan meyakini dengan penuh cinta," katanya "Akan menghargai malam ketika manusia lain terlelap." Ibnu Mas'ud memaknai dunia sebagai dua kutub yang berbeda Malam dan Siang, Kebahagiaan dan Kesedihan sebagai entitas yang terpisahkan. Hal ini diharapkan bisa membuat "Orang-orang yang tercerahkan seperti dalam keriuhan pasar."

Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu dia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah akan memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.

Sederet peristiwa profetik dalam sejarah kebudayaan Islam terjadi di malam hari. Peristiwa seperti Lailatul Qadr, Isra’ Mi’raj, juga Nuzulul Quran. Pada malam hari pula Allah menyelamatkan Isa Al Masih dari cengkraman orang-orang romawi dan merubah wajah Yudas Iskariot. Pada malam hari pula Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang mengitari Ka’bah. Juga pada malam hari Nabi Yunus ditelan oleh ikan paus. Di kegelapan malam itulah doa masyur Nabi Yunus terucap "La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin."

Malam tak pernah jadi sederhana. Seperti juga usaha manusia yang mencoba mengerti kehendak Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar