Rabu, 03 Oktober 2012

Kulino Tresno

Hari ini saya sholat lagi setelah sekitar dua tahun saya berhenti melakukannya. Saya berhenti beribadah setelah kakak kedua saya meninggal. Tak ada alasan khusus sebenarnya. Ini bukan masalah kemarahan pada tuhan atau karena pemikiran kritis hasil pergulatan filsafat. Bukan pula karena alasan sentimentil kesedihan yang berkepanjangan yang membuat saya berhenti pada sesuatu. Saya berhenti beribadah karena malas.

Tuhan membuat saya berhenti mencintainya dengan ritus. Ritus seringkali jadi tanda dhaifnya iman.

Hari ini entah mengapa pada tengah hari yang sangat panas saya memutuskan untuk berteduh di masjid kampus. Banyak wajah baru yang tak saya kenali. Setidaknya beberapa tahun lalu saya mengenali beberapa jama'ah tetap sebagai rekan pegiat UKM. Beberapa di antaranya bahkan menjadi teman dekat. Mungkin mereka sudah lulus. Tapi karena tak ada satupun yang dikenal itu ada sesuatu yang aneh. Sebuah perasaan keterasingan membuat saya merasa nyaman. Seperti ada yang akrab namun tak menemukan jawaban untuk mendeskripsikannya.

Barangkali memang seperti itu. Manusia lahir untuk menjadi terasing bagi dirinya sendiri.

Ibadah, bagi saya, kini tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan. Ia hanya sekedar repetisi. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali. Makna ibadah lantas hilang sama sekali. Awalnya saya kira saya tak sholat sebagai bentuk protes pada Tuhan yang telah mengambil almarhum kakak saya. Tapi alasan ini menjadi absurd. Toh selama ini saya tak begitu dekat dengan kakak saya. Kamu tak bisa kehilangan apa yang tak pernah kamu miliki bukan?

Tapi justru karena tak pernah merasa memiliki itulah saya bersedih. Bukankah cinta itu harusnya lekat?

Barangkali siang tadi adalah pertama kalinya dalam dua tahun saya merasa khusyuk berwudhu. Pelan pelan saya basuh muka, tangan dan kaki saya. Hari memang sangat terik, terlampau panas untuk bisa ditolerir tanpa air. Barangkali bukan rasa khusyu yang saya rasakan tadi. Mungkin hanya rasa segar yang menggelegar dalam hati. Menikmati dinginnya air yang mengalir. Tapi ada sesuatu yang mencoba keluar dari hati saya. Seperti karib yang telah lama tak jumpa.

"Air yang kau basuh ketika berwudhu," kata lebai masjid "Akan membuatmu cemerlang dihari akhir,"

Sholat atas keinginan sendiri setelah sekian lama membuat saya kikuk. Sama seperti perasaan seorang mahasiswa tua yang tak pernah melakukan bimbingan. Ada rasa sungkan, jengah dan tak nyaman yang menggelora. Hanya saja ketika kau sholat. Perasaan itu beranak pinak berkali lipat. Habis semua rasa congkak saya dibikin gentar dengan satu takbir. Suara saya sumbang dan gemetaran. 

"Tidaklah pantas orang- orang musyrik itu memakmurkan mesjid- mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir..."

Barangkali benar saya kafir. At Taubah 17 menyindir muslim, ah bukan, kafir yang mengaku beriman namun tak pernah benar-benar menghayati keimanannya sebagai sebuah wujud cinta. Ketika ibadah hanya dimaknai sebagai tolak bala agar kelak tak masuk neraka. Umat itu adalah umat yang hanya mencari keselamatan. Ia akan diberi keselamatan. Tapi apalah yang tak bisa diberikan oleh seorang kekasih. Saya kira, mencintai Tuhan adalah keniscayaan bagi seorang hamba. Cinta Tuhan adalah sebenar-benarnya keselamatan.

Tapi bagaimanakah mendapatkan cinta Tuhan itu? Ia tak hadir di forum social media.

"Hanya sholat yang bisa menyelamatkanmu," kata ibu saya. "Jika kau tak sholat, lantas siapa yang akan mendoakan kakakmu di alam kubur?" Saya benci ketika ibu menggunakan almarhum kakak untuk mengingatkan saya masalah ibadah. Karena ia benar. Akan terputus amalan seseorang kecuali do'a anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat. Saya tak pernah menilai diri saya sebagai manusia yang baik. Apalagi anak yang sholeh.

Doa yang dituturkan para pendosa apakah akan kau terima Tuhan?

Dalam banyak kisah pemimpin besar revolusi umat dan manusia yang tak bisa tak saya cintai, Muhammad, mengatakan bahwa Allah maha pengasih dan pemberi ampun. Allah tak pernah jauh. Ia lebih dekat daripada pembulu nadi lehermu. Ia mencintai para pendosa yang meminta maaf, para pembunuh yang memohon ampun, juga mencintai mereka yang menyadari kelemahan diri. Dosa adalah fitrah manusia. Tak pernah ada manusia yang tak pernah berdosa. Bahkan pula Muhammad.

 "Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." Al-Nisa' 43

Seusai sholat tadi siang dada saya yang selalu bergemuruh perlahan mengerut. Seperti ada ruang kosong yang sekian lama tak ditinggali kembali menemukan pemiliknya. Siang tadi ada yang mencoba mengabarkan satu fragmen hidup yang sudah saya lupakan keberadaanya. Manusia dhaif yang mencari jalan pencerahan dengan bersekutu bersama Tuhan. Ibadah boleh jadi salah satu caranya.

Mengakrabi kekasih bisa dengan cara mendekatinya sesering mungkin.

Lantas bagaimana cara umat mengakrabi Tuhan? Ritus agama sejatinya adalah jalan untuk setapak mendekati Tuhan. Jika kau mendekatinya dengan berjalan, maka Ia akan mendekatimu dengan berlari. Ibadah yang berulang-ulang semestinya tak menjadikan seorang umat bosan. Bukankah cinta datang karena sudah terbiasa? Atau kita terbiasa beribadah karena sudah jatuh cinta?  Tuhan barangkali sedang menunggu untuk dicintai.

Allahumma Innaka 'Afuwwun, Tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Anni

2 komentar:

  1. Hi Nama saya Egi
    Beberapa orang percaya dengan kita melakukan ritus yang ada, kita akan dimasukkan ke dalam surga. Tapi bukankah, Tuhan maha Tahu. Manusia yang menjalankan peraturan Tuhan hanya karena ingin masuk surga, bagaikan seseorang yang ingin berteman untuk mendapatkan sesuatu. Beribadah karena cinta kepada Tuhan, bukan karena surganya. ~tambahan saya

    Nice post :))

    BalasHapus
  2. Halo mas, salam kenal nama saya Rinta.Ketemu blog mas dari link kakak tingkat saya di UGM yang ngepost di Twitternya: Percakapan menjelang Maghrib.

    Saya suka sekali postingan ini, mungkin karena merasa terkoneksi mungkin juga karena saya sedang rindu dengan Tuhan akhir akhir ini.Saya pernah selama beberapa tahun menolak untuk sholat dan melaksanakan sholat seperti robot, otomatis, hanya karena saya tidak ingin mengecewakan ibu saya.Tetapi dalam tahun-tahun itu saya merasakan sepi dan kepalsuan, saya tidak ingin melaksanakan segala ritual tanpa memahami maknanya tetapi disaat bersamaan saya merasakan rindu yang luar biasa kepada Tuhan. Bagai sebuah kontradiksi, saya rindu pada Nya tetapi saya berlari dari Nya.

    Lalu kemudian, beberapa bulan yang lalu saya mengenal seseorang dan disaat bersamaan sedang dalam masa masa patah hati.Saya butuh komunikasi yang genuine, curhat tanpa harus takut lawan curhat saya muak dengan curhatan saya.Saya mengenal seseorang yang mengenalkan saya pada konsep bahwa ritus ini merupakan cara berkomunikasi dengan orang yang paling mencintai kita, yang selalu memelihara kita, yaitu Tuhan.Maka saya ilhami ritus sebagai sebuah komunikasi, saya butuh berkomunikasi, secara intense, secara mendalam, dengan passion, seperti kita saya berkomunikasi dengan orang yang saya cintai di dunia.

    Saya pun sampai pada konklusi bahwa, bagaimana saya bisa mencapai dia tanpa ritus apabila saya cuma manusia biasa yang terkadang lupa untuk berdoa? dan bagaimana saya bisa mengenal dia kalau untuk memahami arti dari Al Fatihah pun saya enggan? bagaiamana saya bisa lepas dari sepi kalau saya menghindar dari komunikasi dengan Nya?

    Lalu saya pun pulang, ke rumah yang paling nyaman.Saya masih tidak menyukai ritus, pemujaan yang komunal padahal seharusnya vertikal, tetapi saya rindu dia, saya ingin berkomunikasi, dan saya pun berhenti berlari.

    Anyway.Postingan yang luar biasa. Walaupun tidak mengenal mas secara langsung saya sangat mengagumi tulisan-tulisan mas, dari cara berbahasa hingga konten tulisannya.

    Salam.
    I Gusti Ayu Azarine Kyla Arinta.
    HI UGM 2010.

    BalasHapus