Jumat, 30 November 2012

Anak


Barangkali tak ada penulis yang begitu terobsesi dengan anak yatim selain Samuel Langhorne Clemens. Kita dibuat berkenalan dengan sosok Huckleberry Finn dan Tom Sawyer sebagai sebuah anti tesis bahwa menjadi yatim piatu melahirkan melankolia. Berbeda dengan banyak teks teologis yang menempatkan anak yatim piatu sebagai korban yang lena dan tak berdaya. Dengan penokohan yang luarbiasa kita bisa belajar perihal bagaimana kehidupan keras harus dijalani.

Mark Twain, begitu kebanyakan dari kita mengingat nama lain Samuel, juga berupaya melakukan dekonstruksi pada teks dewasa. Siapa yang patut disebut dewasa? Apakah ia melulu diukur dari umur? Atau ada upaya lain untuk melakukan pembebatan konteks kedewasaan? Upawa keras Twain bisa dilihat dengan kemampuan menulisnya yang luwes. Ia bicara perihal kebijakan dari mulut seorang anak-anak. Sehingga kita seringkali dipaksa terdiam atas sebuah kebenaran yang susah payah kita abaikan.

Dalam Huckleberry Finn misalnya, seorang anak (atau remaja?) bisa jadi lebih baik dari orang dewasa sekitarnya dalam konteks keberagaman ras. Si Nigger Jim, tokoh budak kulit hitam, dalam kisah ini melahirkan banyak aforisme dan fallacy terhadap pembenaran perbudakan pada masanya. Belum lagi persahabatan mereka berdua yang begitu syahdu sehingga membuat beberapa sarjana menganggap hal ini sebagai bentuk lain homoseksualitas.

Sementara dalam kisah Tom Sawyer, Mark Twain ingin bicara tentang bagaimana kenakalan anak-anak adalah bentuk kreativitas berpikir, keberanian bertindak dan pemberontakan terselubung. Jika ia menempatkan Huck sebagai anak yang pemberontak egalitarian maka Tom adalah representasi pemberontak yang agresif. Lebih dari itu kedua tokoh ini mengajarkan setiap anak yang membacanya untuk hidup sehidup-hidupnya dan menikmati masa kanak-kanak sebagai laku kreatif.

Anak-anak adalah sebuah kanvas. Bagi saya anak-anak tak punya beban masa lalu. Mereka selalu membayangkan masa depan sebagai sebuah kebebasan absolut. Sementara orang dewasa menganggap kedewasaan adalah penjara. Saya sendiri seringkali menginginkan untuk kembali menjadi anak-anak. Menjadi tak bertanggung jawab dan menikmati hidup. Anak-anak merupakan bentuk paling subtil dari kemerdekaan ekspresi.

Lantas apakah yatim piatu itu? Secara sederhana mereka adalah anak-anak yang telah ditinggalkan orang tua. Baik ayah maupun ibu. Namun dalam banyak hal terma ini meluas menjadi anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Mereka yang dipaksa asing dari relasi keluarga. Dalam banyak kisah kontenporer anak yatim adalah para pahlawan yang menunggu bangkit.

Sayangnya tidak semua kisah anak yatim menjadi kisah yang menyenangkan. Lebih dari itu menjadi anak-anak yang ditinggalkan tidak melulu menjadi kisah yang mendewasakan. Dalam sebuah sajak dari Walt Whitman ia bicara tentang kedewasaan dengan cara pandang yang lain. Walt bertanya “What do you think has become of the young and old men?” katanya dengan sebuah keragu-raguan.  “All goes onward an outward.... and nothing collapses  and to die is different from what any one supposed, and luckier

Sajak itu berjudul A Child said, What is a Grass?. Ada kekecewaan dan negativitas yang hendak ditawarkan oleh Walt. Barangkali dewasa bukanlah hasil. Ia adalah proses yang keras dan tangguh. Tak ada kehidupan yang mudah. Bahkan untuk menjadi hedonis dibutuhkan nyali besar menafikan nurani. Sementara orang dewasa harus berupaya keras menyingkirkan ego dan gengsi. Anak-anak, dalam hal ini menikmati hidup, adalah pemberani yang tak tanggung-tanggung.


Sementara dalam tataran teologis, beberapa agama menempatkan anak yatim sebagai prioritas pihak yang mesti disejahterakan. Lebih dari itu ganjaran kemuliaan pada setiap usaha memuliakan anak yatim akan diberikan lebih dari laku sosial yang lain. Dalam islam misalnya, Rasulullah bersabda “Aku dan penjaga anak yatim akan berada di dalam Jannah yang berdekatan seperti dekatnya jari tengah dan jari telunjuk.” Metafora jari tengah dan telunjuk adalah sebuah wujud lain dari laku salih keagamaan mesti sejajar dengan laku salih sosial.

Keyakinan Budha juga memperkenalkan Shravasti salah satu distrik di India, sebagai Taman Pelindung Anak Yatim dan para Pertapa. Di dalamnya dituturkan sang Budha pernah membantu MahaMogallanam, salah satu murid Budha, untuk menyelamatkan ke dua orangtuanya dari siksaan reinkarnasi hantu. Di sini posisi anak yang harusnya selalu dilindungi dan diayomi, berubah menjadi seorang pahlawan yang mesti memberikan keselamatan bagi orang tuanya.

Tentunya menjadi tidak adil jika saya menuliskan Mahamoggallana yang sudah dewasa itu sebagai anak-anak. Saya hanya berusaha memberikan perspektif bagaimana jika anak-anak menjadi mesiah? Penyelamat yang sebenarnya selama ini kita tunggu namun jarang kita pahami keberadaannya. Dalam islam anak-anak sholeh merupakan dambaan karena mampu menyelamatkan orang tua dari api neraka. Sementara dalam kepercayaan katolik anak adalah objek suci yang perlu diselamatkan melalui pembaptisan.

Menjadi menarik bagaimana anak-anak dalam banyak budaya diperlakukan. Betrand Russel, melalui sejarah Filsafat Barat, menceritakan bagaimana anak-anak cacat dalam mayarakat Sparta "diseleksi" sehingga yang tertinggal dan hidup hanyalah mereka yang baik secara fisik dan prima dalam pemikiran. Juga bagaimana dalam banyak kebudayaan peralihan antara anak-anak menjadi dewasa dirayakan sebagai sebuah ritus yang serius dan seringkali beresiko fatal.

Tapi apakah anak-anak itu? Anak-anak bagi saya adalah state of mind. Meminjam istilah yang digunakan seringai dalam salah satu lirik lagunya "generasi menolak tua". Anak-anak bukan lagi hanya berkisar pada kondisi fisik an sich. Ia adalah laku hidup. Menjadi anak-anak adalah keberanian tersendiri. Sementara menjadi dewasa begitu membosankan.

Kamis, 29 November 2012

Pada Sebuah Foto




Pada suatu hari barangkali di akhir musim gugur, pemikir Strukturalis Prancis Roland Barthes begitu terkesima dengan penampakan foto adik Napoleon yang ia sebut sebagai momen magis “…melihat langsung mata sang kaisar”. Seusai itu Barthes begitu terobsesi pada medium foto yang seolah mampu menghentikan waktu. Hal inilah yang kelak membuat filsuf metropolis ini berupaya keras untuk menjelaskan fotografi yang dianggapnya sama sekali berbeda dengan film (cinema).

Camera Lucida boleh jadi tapal batas usaha barthes untuk menjelaskan fenomena fotografi, yang mengejutkan, tak sempat ia bahas pada Mythology. Apa pasal? Bagi Barthes fotografi adalah ‘… a weightless transparent envelope’ Lantras ia membagi predikat fotografi menjadi operator (pencipta foto), spectator (penonton), dan spectum (objek dalam foto).



Ada dimensi pemahaman yang berbeda dari masing masing predikat ketika menikmati objek foto. Hal ini membuat fotografi menjadi sebuah entitas yang sama uniknya dengan film dan karya sastra. Barangkali hal inilah yang membuat Barthes, yang juga kritikus sastra, menjadikan fotografi sebagai ranah penelitiannya. Salah satu yang paling menarik bagaimana ia menawarkan perspektif multiplisitas pemaknaan atas sebuah foto.

“Ketika aku memotret diriku sendiri,” katanya “ada sebuah identitas yang hilang. Apakah ia yang ada dalam foto itu adalah aku, atau aku yang sedang memandang fotoku sendiri adalah aku?” pernyataan filosofis yang barangkali menarik untuk dicermati secara lebih lanjut.  Pada halaman 14 Camera Lucida Barthes mengemukakan ‘Total-Image …Death in person; others… turn me…  into an object…. classified in a file, ready for the subtlest of deceptions…

Lantas apakah realitas dalam foto itu? Mata kita melihat sebuah objek yang sama persis dengan realitas mata telanjang. Yang membikin berbeda adalah dalam sebuah foto objek menjadi statis. Menjadi sebuah dimensi lain yang seolah-olah tak pernah berubah. Barthes sepaham dengan Sartre perihal posisi spectator dalam spectum.  ‘…they drift between the shores of perception, between sign and image, without ever approaching either ’.

Realitas menjadi tak penting lagi. Diktum seeing is believing menjadi tak relevan kemudian karena apa yang kita lihat belum tentu benar dan apa yang terpampang pada sebuah foto bukan realitas yang final. Menarik coba kita kaitkan apa yang dipahami Barthes pada Camera Lucida dengan John Berger dan Ways of Seeing-nya.



Berger berpendapat apa pemahaman kita atas realitas ‘melihat’ tergantung pada bagaimana pengetahuan kita atas objek tersebut. Ia bisa jadi sebuah sebuah reproduksi pemahaman atas pengalaman masa lalu dan bias lingkungan dimana kita lihat. Di awal Berger menjelaskan bagaimana relasi antara kata-kata dan realitas yang kita lihat sehari-hari. Ia lantas menawarkan sebuah pertanyaan eksistensialis “melihat dan pemahaman benda hadir lebih dahulu daripada penamaan benda tersebut,”

Berger percaya bahwa “An image is a sight which has been recreated or reproduced”  dengan nada yang lebih nyinyir ia melanjutkan “which has been detached from the place and time in which it first made its appearance ,,” sejalan dengan ini sebuah realitas mesti diretas sedemikian rupa sehingga ia bisa benar-benar lepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya.



Pengaruh yang dikatakan Berger ini sejalan dengan konsep Anxiety of Influence yang dicetuskan Harold Bloom. Pemahaman kita dalam melihat objek fotografi menjadi terbatas akan pengalaman dan pengetahuan kita. Sehingga tafsir setiap individu menjadi unik dan terbatas pada individu tersebut. Dengan demikian Berger seolah berkata tak pernah ada tafsir tunggal pada sebuah produk foto.

Ah tapi semua itu terlalu serius. Fotografi seringkali hanya tentang mengabadikan perasaan atau sekedar menyimpan kenangan. Begitu.

Sabtu, 24 November 2012

Mata Lelah

"Aku sudah bosan menangis." katamu suatu kali. Tapi benarkah demikian? Aku tahu kau berbohong. Menangis adalah satu-satunya jalan bagimu untuk melawan. Hidup yang teramat keji memaksamu untuk selalu diam. Semua usaha melawan seperti telah menabrak tembok berat. Amarah membuatmu lemas, kedengkian membuatmu terpuruk dan rasa benci hanya menambah kadar keresahanmu meningkat. Tak ada yang benar-benar berhasil membuatmu bangkit kecuali menangis.

Matamu adalah sepasang kebencian yang telah reda. Kita sama-sama paham harapan adalah musuh besar keinginan. Ia memberi ruh untuk kebencian. Setiap keinginan yang tak terwujud menjadikan manusia tengik. Kukira kamu tahu itu. Kukira aku juga mengalami hal ini. Bahwa ada beberapa keinginan, terlepas betapa hal itu sangat alami, tak mungkin bisa dipenuhi. Seperti juga kamu yang berharap ia kembali.

"Aku ingin kembali, tapi tak mungkin. Kamu mengharapkan hujan yang kering,"

Bisakah kita membuat metafora lain? Hujan, senja, malam, terang bulan, pantai, subuh sudah terlalu sering dijamah. dibuat berbagai idiom yang sebenarnya tak selalu tepat. Tak selalu benar dan tak selalu sesuai. "Ada senja di matamu, ada hujan di matamu, ada berak di matamu dan sebagainya," Tapi hanya itu yang terpikir. Hanya itu yang indah. Senja, hujan, badai selalu syahdu didengar. Seolah-olah hanya keadaan semacam demikian yang menggugah hati manusia.

"Matamu adalah sepasang badai yang telah usai."

Nah, boleh lah. Kau mulai berpikir seperti seorang penyair. Tapi penyair apkiran. Penyair pinggir kali yang bisa sangat sukses berkarir menjadi penulis kartu ucapan Valentine. "Brengsek. Kau tahu menjadi penyair tak mudah. Sudah berapa abad sejak manusia mengenal kata. Berapa milyar padu padan kata yang dibuat. Dan penyair harus membuat modifikasi baru," ya ya ya. Bahkan tuhan pun penyair. Pada mulanya adalah kata bukan?

Matamu masih redup. Masih seperti mendung yang ogah surut. Muram yang keras kepala. Monokromatik yang membuat pagan paling bebal sekalipun akan merasa melankolis. Bukankah tuhan menciptakan dunia dalam gelap? Lantas munculah cahaya. Di antaranya adalah warna murung. Tempat diantara kelam dan terang. "Kenapa mesti takut menangis? Takutlah ketika kau tak bisa lagi merasakan."

Gombal!

Tentu gombal. Lelaki adalah mahluk paling gombal setelah kuda. Itupun karena kuda tak bisa bicara. "Mengapa kuda? Mengapa bukan kupu-kupu yang cantik?" Kau tentu ingat sayangku. Dalam banyak kisah, kesatria berwajah tampan selalu datang dengan kuda putih bersurai lebat. Ia gagah, ia magis dan yang paling penting ia anggun. Misoginis yang paling tak pernah disadari oleh perempuan. Kuda adalah representasi keperkasaan namun mereka menyukainya. Kuda selalu gombal.

"Menangis adalah satu-satunya rumah dimana aku bisa nyaman tinggal. Suatu saat aku ingin mati seusai menangis panjang. Kelelahan." Mati adalah perkara mudah. Kau bisa saja menenggelamkan diri dalam larutan jus mangga. Atau menabrakan diri pada ratusan biri-biri yang menyeberang.Tapi untuk hidup? Untuk hidup kau harus memiliki nyali seorang penjudi! Kau akan bertaruh dalam hidup yang tak pasti. Kau akan menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tak satu setan pun tahu kemana akhirnya.

Matamu adalah lautan pasang. Ia menenggelamkan pelabuhan-pelabuhan kenangan yang gagal diselamatkan. "Kukira aku akan terus menunggu. Berharap semuanya baik-baik saja. Berharap bahwa hidup hanya perkara menanti lantas terjadi," katamu. Matamu kosong. Lelah menghadapi hidup. Kukira memang ada baiknya kau berhenti berkelahi dengan dirimu sendiri. Meyakinkan diri perihal harapan-harapan yang sebenarnya sudah tamat sebelum diperjuangkan. Tapi kau terlalu bebal meyakini tak ada yang tak mungkin.

"Biarkan aku tidur. Sebentar saja. Bangunkan aku jika kopi pekat pahitmu sudah tersedu," 

Jumat, 23 November 2012

Menakar Regulasi ala Nazi di Jawa Barat


Pada 20 Januari 1942 di vila Wannsee, Jerman, beberapa pejabat tinggi Nazi memulai rapat penting yang kelak akan dikenal sejarah sebagai embrio Genosida. Dalam pertemuan itu dihasilkan perumusan sistematis yang bernama  die Endlösung der Judenfrage atau “solusi akhir” yang hendak digunakan untuk mengatasi masalah yahudi. Di dalamnya ada kengerian yang tak terperi bahwa dalam satu tahun seluruh bangsa Yahudi akan dimusnakahkan melalui kamar gas. Setelah sebelumnya mereka diceraiberaikan, dilarang memiliki keturunan, dilarang menikah campur dan dilarang memiliki pekerjaan.

Dalam sejarah manusia kemudian belajar untuk memahami bahwa Hollocaust terjadi akibat keacuhan. Dunia terlambat menyelamatkan bangsa yahudi yang terlanjur terbantai. Kematian manusia terjadi seperti sebuah kewajaran. Saya kira genosida atas bangsa ini terjadi bukan hanya karena kedegilan Nazi yang merasa superior. Tetapi juga karena ketidakpedulian bangsa disekitarnya atas apa yang terjadi dengan bangsa yahudi. Meminjam kata-kata Einstein, tragedi terjadi seringkali karena sikap diamnya orang baik.

Ketidakpedulian, bagi saya, adalah sumber segala masalah. Ia bisa menjelma menjadi apa saja. Rasisme, korupsi, dan juga tindak kekerasan pada kelompok minoritas. Apa yang dilakukan Nazi adalah sedikit potret dari itu semua. Ketidakmampuan sebagian bangsa Jerman menerima kekalahan perang dunia I membuat mereka mencari kambing hitam. Lantas lahirlah tulisan-tulisan yang menebar anti semitisme. Bangsa Jerman yang malu dan kalah ogah mencari tahu kebenaran tulisan tersebut. Sehingga lahrlah tragedi yang kita kenal sebagai Holocaust.

Kejahatan seringkali terjadi bukan karena kebencian. Ia lahir karena kita tidak mau tahu. Di rumah saya memiliki ibu yang penyayang, kakak yang rajin membaca kitab agama dan ayah yang rajin sholat di masjid. Namun kesalihan normatif semacam ini tak membuat mereka menjadi orang yang bisa menerima perbedaan. Mereka memiliki pandangan sempit tentang bagaimana sebuah keyakinan, dalam hal ini islam, mesti dijalani. Islam yang benar adalah islam yang tunggal bukan yang multi tafsir. Hasilnya adalah pesudo relijiusitas yang melahirkan kebencian sektarian.

Ibu saya yang penyayang bisa berubah menjadi kejam membenarkan kekerasan pada ahmadiyah karena perbedaan tafsir. Kakak saya yang cerdas bisa berubah menjadi seorang fasis ketika berhadapan dengan pemahaman kaum syiah. Ayah saya yang rajin ibadah itu bisa berubah menjadi barbar ketika mendengar adanya pembangunan gereja baru. Bagi mereka menjaga kemurnian agama adalah hal yang mutlak dilakukan.

Isu sektarian lahir karena kita kurang berusaha memahami keberadaan liyan yang berada di luar kita. Keterasingan membuat kita merasa perlu menjaga diri. Perlu untuk membangun dinding pembatas bahwa kita adalah kelompok murni dan memiliki klaim atas kesucian. Lantas dari sini fasisme muncul, klaim melahirkan perasaan otoritas tertinggi yang berusaha menegasikan kelompok lain. Dalam banyak hal ia melahirkan kebencian.

Di Indonesia ketidaktahuan seringkali melahirkan tragedi. Kita tentu ingat pembasmian eksponen PKI, pembantaian Santa Cruz di Timor Timur dan pemberlakukan DOM di Atjeh. Negara dalam hal ini merupakan aktor utama dalam menyebarkan kengerian. Meski bangsa ini telah keluar dari belenggu orde baru. Namun mentalitas tiran yang anti perbedaan masih saja dipelihara.

Salah satu contoh terkini adalah apa yang dilakukan Gubernur Jawa Barat melalui Peraturan Larangan Kegiatan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di propinsinya. Akibat perda yang diteken 3 Maret 2011 tersebut  ratusan anggota JAI menjadi korban. Tak hanya harta benda yang hilang bahkan tragedi Cikeusik pada 6 Februari lalu mengakibatkan 3 orang anggota JAI meninggal dunia.

Dalam salah satu laporannya Wahid Institute mencatat bahwa Jawa Barat merupakan propinsi dengan tingkat kekerasan sektarian yang paling tinggi. Kekerasan kepada anggota JAI dan GKI Yasmin merupakan beberapa dari kasus yang seringkali luput diperhatikan. Posisi negara dalam hal ini pemda dan pemprov tak pernah jelas. Mereka membiarkan saja kelompok paramiliter berlabel agama beraksi menjadi seorang penjagal.

Pemerintah Propinsi Jawa Barat melalui Gubernurnya bukan hanya gagal melakukan fungsi perlindungan terhadap masyarakatnya, lebih dari itu, ia menjadi bagian dari sistem yang melakukan pemusnahan. Selain mengeluarkan peraturan daerah yang inkonstitusional, Ahmad Heryawan juga membuka jalan bagi kelompok tertentu melaksanakan syiar kebencian. Hasilnya adalah penindasan bagi kaum Ahmadiyah yang dilegitimasi oleh peraturan konyol tersebut.

Misalnya pada 12 Nopember lalu ratusan massa dari Forum Silaturahim Umat Islam memaksa KUA Kecamatan Salawu, Tasikmalaya, untuk tidak mengesahkan pernikahan dua anggota Ahmadiyah. Massa dari FSUI menganggap bahwa kedua mempelai bukanlah orang islam, oleh karenanya mereka tak boleh menikah secara islam dan disahkan oleh KUA setempat. Bagi saya apa yang dilakukan ormas ini adalah sebuah kekonyolan yang maha garing.

Tindakan FSUI ini mirip dengan hal yang dilakukan Reichsmarschall Hermann Göring melalui Wannsee Protocol. Secara sistematis pejabat tinggi nazi itu melakukan pemusnahan etnis dengan melarang pernikahan sesama Yahudi dan memaksa pasangan yahudi non yahudi untuk berpisah. Hal ini dilakukan dengan harapan suatu saat bangsa yahudi akan habis karena tak mampu berkembang biak.

Dalam kasus kekerasan yang dilakukan organisasi paramiliter berlabel agama, posisi pemerintah haruslah jelas. Pemerintah memiliki otoritas untuk memberikan perlindungan kepada kelompok minortias. Mereka, dalam hal ini Ahmadiyah, harus dilindungi hak dan kehidupannya. Bukan hanya karena klaim menegakkan amar ma’ruf nahi munkar pemerintah lantas gentar dan ketakutan.

Keberagaman adalah niscaya. Pemerintah sebagai unit terbesar dalam sebuah negara berhak menyaomi hal itu. Apalagi dengan kredo Bineka Tunggal Ika seharusnya mereka bisa menyadari bahwa kemajemukan di negara ini adalah hal yang tak bisa dihindari. Pemerintah semestinya tak boleh mendiskreditkan satu kelompok masyarakat. Apalagi melakukan tindakan pemusnahan secara sistematis dan terlembaga.

Penindasan kepada jemaah Ahmadiyah di Jawa Barat tak berhenti sampai disini. Penghentian kegiatan donor darah yang dilakukan jemaah Ahmadiyah di Masjid An Nashir, Bandung oleh Kesbangpol-linmas pada 22 Nopember kemarin sudah keterlaluan. Kesbangpol-linmas berpendapat apa yang dilakukan oleh jemaah Ahmadiyah ini melanggar Pergub nomor 12 tahun 2011 tentang pelarangan aktivitas jemaah Ahmadiayah.

Ada yang menyedihkan disini. Seolah olah darah dari kaum jemaat ahmadiyah menjadi haram. Menjadi sesuatu yang tak boleh dibagikan. Apa yang dilakukan pemerintah Jabar tak lebih baik daripada pemerintahan Nazi yang memberlakukan kebijakan anti semit. Apabila Pergub tersebut tak dicabut saya khawatir penindasan atas jemaah Ahmadiyah ini akan terus terjadi. Bukan tidak mungkin akan meningkat ekskalasinya menjadi lebih brutal.

Masyarakat kita barangkali telah lupa bahwa kekerasan, apapun alasannya, adalah sebuah tindakan barbar. Ia tidak pernah memiliki nilai baik hanya karena alasan membela agama tuhan. Untuk ini saya setuju pendapat almarhum Gus Dur. Tuhan tak perlu dibela, jika ia perlu dibela maka ia tak pantas disembah.

Apa yang dilakukan Pemprov Jabar barangkali hanya potret kecil dari sikap acuh dan ogah peduli yang banyak dilakukan masyarakat negara ini. Mereka nyaman dengan keadaan yang ada sehingga susah menerima perbedaan atau pemikiran baru. Ketika ruang nyaman tadi terusik dengan pendapat asing kita cenderung berusaha melawan ketimbang mencoba mencari tahu dan menerimanya sebagai sesuatu yang alami.

Sabtu, 17 November 2012

Kini Masalah Su Dekat

Apa yang membedakan kengerian yang terjadi di Palestina dan di Papua?


Bagi saya ada yang lebih penting daripada sekedar latah ikut peduli pada masalah dalam negeri orang lain. Seperti ribut perihal peperangan yang beberapa hari ini terjadi di Jalur Gaza. Semestinya kepedulian tidak melulu harus dilakukan dengan terus-terusan latah berpendapat perihal urusan dapur orang lain. Palestina dan Israel adalah dua negara yang jauh sekali dari Indonesia. Kita, berusaha sekuat apapun, membaca data dan buku sebanyak apapun, tak akan pernah benar-benar bisa memahami masalah mereka.

Konflik Palestina dan Israel, bagi saya tak pernah menjadi konflik teologis. Ia murni konflik politik teritorial. Dalam salah satu catatannya, Akhmad Sahal, intelektual muslim Indonesia mengatakan. Peperangan antara bangsa Yahudi dan Bangsa Palestina muncul karena perebutan tanah. Israel lahir pada 1948 dengan mengusir lebih dari 700.000 orang Palestina. Para sarjana Arab lantas menyebut peristiwa ini sebagai al-Nakba (bencana hebat). Lantas apakah usaha kita untuk memahami peta konflik yang terjadi di tanah suci tiga agama ini? Saya kra tidak ada.

Sebelumnya perlu kita pahami masalah ini dengan membaca British Mandate for Palestine yang konon merupakan cikal bakal kelahiran negara Israel. Kemunculan negara Israel merupakan pengejawantahan dari pemikiran fasis utopis dari Theodor Herzl, yang meramalkan kemunculan Eretz Yisrael (Tanah Israel) sebagai tanah yang diwariskan tuhan. Gerakan kembali ke tanah suci inilah yang kemudian kita kenal sebagai gerakan zionis. Pelan-pelan sejarah ini dilunturkan media dan digiring menjadi konflik teologis.

Apa yang terjadi di Jalur Gaza hari ini adalah keseharian yang barangkali tiap hari terjadi disana. Pembunuhan dan pembantaian atas nama kedaulatan dilakukan sebagai sebuah tindakan standar pengamanan. Apa yang terjadi di Palestina hari ini barangkali mirip sekali dengan apa yang terjadi di Indonesia. Di Papua hampir setiap hari kekerasan dilakukan. Bagi saya daripada mesti harus kaget dan merasa gumun dengan apa yang terjadi di Jalur Gaza, apa yang terjadi di Papua lebih mengerikan.

Indonesia tak lebih baik daripada Israel. Negara yang mengaku berbineka tunggal ika ini hampir setiap hari melakukan penindasan yang lebih keji daripada Israel. Perebutan tanah adat dari masyarakat lokal, pembunuhan aktifis politik, dan pembungkaman pendapat. Sejak pemerintahan Indonesia hadir di tanah ini lebih dari 400.000 masyarakat asli dibantai. Barangkali ini merupakan angka kematian tertinggi yang dilakukan pemerintah Indonesia setelah tragedi 65.

Apakah Papua merupakan bangsa yang merdeka? Kita bisa berdebat panjang perihal ini. Seperti juga keberadaan Negara Palestina yang oleh Israel dianggap sebagai organisasi teroris. Pemerintahan kita menyematkan terma gerakan separatis bagi masyarakat Papua yang hendak merdeka. Mengapa? Pemerintahan kita menganggap bahwa Organisasi Papua Merdeka  merupakan gerakan separatis yang berkembang paska referendum tahun 1969, yang bagi banyak aktivis Papua, penuh cacat.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, Papua seperti sebagian tanah di Indonesia (bukan seluruhnya), merupakan bagian dari koloni Belanda. Pada 1950 Pemerintahan Belanda yang terdesak sedang menjanjikan dan mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat. Hingga pada akhirnya pada 1 Desember 1961 mereka menyatakan kemerdekaan diri dengan bendera Bintang Kejora dan lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua. Lantas jika kemerdekaan adalah hak segala bangsa, lantas apa yang pemerintah Indonesia lakukan bagi Papua hari ini menunjukan hal itu?

Terlalu banyak kasus kekerasan atas nama kemanusiaan yang terjadi di Papua untuk saya tuliskan di sini. Tapi sebagai perbandingan mari kita coba lakukan komparasi. Di Jalur Gaza militer Israel membantai anak-anak dan masyarakat sipil. Di Papua militer dan polisi kerap melakukan kekerasan yang sama. Jika di Tepi Barat masyarakat Palestina tak bisa bebas keluar masuk negaranya. Maka masyarakat Papua juga tak bisa bebas menikmati kekayaan tanahnya akibat Freeport. Dalam banyak hal saya kira Pemerintahan Indonesia tak lebih baik daripada pemerintahan Israel.

Kepedulian pada Jalur Gaza hari ini tak lebih dari komoditas politik bagi banyak kelompok politik. Memahami peta politik timur tengah sangat penting untuk memahami pernyataan saya ini. Kelompok Hamas juga Fatah di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan Ikhwanul Muslimin di Mesir sering memanfaatkan isu perang di Palestina sebagai usaha meraih dukungan. Tak mengherankan jika di tanah air ada beberapa partai yang getol membawa isu ini sebagai usaha menarik perhatian umat muslim Indonesia. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk menjaring suara.

Tentu kita seirng melihat beberapa organ politik maupun non politik di Indonesia yang kerap berdemonstrasi anti Israel dan anti Amerika Serikat. Dengan membawa berbagi foto korban kekerasan di Palestina kita diajak untuk peduli. Sayangnya usaha solidaritas ini dikotori oleh panji-panji partai politik yang menyertai. Belum lagi seruan-mirip-kotbah-usang perihal pentingnya negara khilafah untuk menyelamatkan negeri ini. Bagi saya tak ada yang lebih menjijikan daripada menarik simpati dengan mempertontonkan penderitaan orang lain.

Permasalahan di Papua juga menjadi sangat menarik ketika Front Pembela Islam, salah satu organ para militer berbasis teologi, memberikan pernyataan tentang tanah di timur Indonesia ini. Dalam salah satu jumpa pers para petinggi FPI menyatakan bahwa Papua harus tetap berada dibawah kedaulatan NKRI. Mereka siap berangkat jihad ke propinsi ini apabila terjadi usaha memisahkan diri. Di sini isu yang dibawa FPI bukan lagi perihal nasionalisme, namun juga perihal sentimen agama.

Sentimen agama di Indonesia boleh jadi merupakan bahan bakar paling efektif untuk mengendalikan massa. Hasyim Muzadi, salah satu intelektual NU dan MUI, pernah memberikan pernyataan kontroversial di salah satu TV swasta yang menyatakan bahwa di Papua sangat sulit membuat masjid. Oleh karena itu wajar apabila pembangunan gereja di tempat lain dipersulit. Saya kira disini ada upaya pemenuhan hak yang tidak adil antar umat beragama.

Dalam isu yang lebih privat Papua selalu direpresentasikan dengan daerah non muslim yang tak terdidik. Banyak kaum asli (indigenous people) yang dianggap barbar. Perhalan isu sektarian keagamaan ini menjadi meluas dan berkembang sebagai usaha untuk menurunkan organisasi paramiliter ke Papua. Metode semacam ini saya kira dilakukan sebagai usaha cuci tangan pihak militer dan aparat lokal yang terlalu banyak terlibat kekerasan. Sehingga lokus yang ada hendak ditarik menjadi pertentangan antar warga masyarakat.

Masalah lain yang perlu kita soroti adalah upaya pengambilan lahan untuk proyek kolosal Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Proyek ini memangsa jutaan hektar tanah adat yang dimiliki oleh warga lokal. Rosa Moiwend, salah satu aktivis Papua yang menentang proyek MIFEE pernah meramalkan bahaya proyek ini. Baginya identitas atau jati diri sebagai seorang Malind akan pelan-pelan punah seiring dengan punahnya unsur-unsur alam yang menjadi simbol setiap klan (Dema). Ia khawatir jika proyek pangan MIFEE ini hanya akan membawa kepunahan bagi orang lokal.

Apa yang terjadi di Jalur Gaza hari ini memang sangat menyedihkan. Sebuah tindakan keji pada kemanusiaan. Namun apa yang terjadi di Papua saya kira perlu mendapatkan perhatian yang sama. Lebih dari itu ini bukan lagi permasalahan agama. Bahwa mereka yang ada di Palestina juga sama menderita dengan masyarakat asli Papua. Tak ada yang lebih mengerikan daripada ditindas oleh orang asing di tanah air sendiri.

Kamis, 15 November 2012

Pada Sebuah Perdebatan

Ada hal yang semestinya dikenang sebagai sebuah tapal batas untuk memulai hidup baru. Sekedar usaha untuk menyadari bahwa hidup bukan masalah bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup. Manusia, aku kira, semestinya harus lebih dari itu. Tidak sekedar berpikir mengenai dirinya sendiri tapi juga manusia lain di sekitarnya. Manusia memiliki terlalu banyak berkah dan kelebihan untuk dinikmati oleh dirinya sendiri. Berbagi seharusnya adalah sebuah bagian dari sifat alamiah manusia.

Tapi toh tak ada yang salah dari berusaha menjamin masa depan sendiri lebih baik. Itu hak setiap manusia yang hidup. Barangkali memang benar bahwa menjadi egois adalah sebuah sifat alamiah. Ia mengalir deras dalam tiap pembulu nadi manusia. Kita cenderung untuk mementingkan diri sendiri daripada orang lain. "Mind your own business" toh juga tak semua orang tak suka dibantu atau dicampuri urusannya.

Kita bersosialisasi seringkali hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Alasan egois. Karena kebutuhan kita tak bisa dipenuhi sendiri dan membutuhkan campur tangan orang lain. Keberadaan manusia lain tak lebih seperti alat untuk membantu pemenuhan kebutuhan. Seusai kebutuhan tadi lepas kita seringkali mundur teratur. Ogah mau tahu dengan urusan manusia lain. Kita adalah mahluk pragmatis yang pernah berjalan di atas bumi.

Menjadi pragmatis tidak salah. Itu adalah pilihan paling masuk akal yang bisa dilakukan. Kita bukan superman atau presiden sebuah lembaga donor tanpa batas yang bisa menolong tanpa beban. Kita juga toh kerap nyinyir dengan Bill Gates, meski ia hanya seorang filantropis dengan kekayaan paling purna di dunia. Kita seringkali dihantui keinginan-keinginan untuk meraih kemapanan diri dengan mengorbankan orang lain. Menjadi yang paling puncak dengan menginjak yang lain.

Tidak ada yang salah dari sebuah ambisi untuk melakukan dominasi, kekuatan dan juga otoritas. Kita manusia, bukan malaikat.


Perempuanku


Barangkali ketika kita sudah benar-benar dilahap waktu dan jarak. Kita akan belajar arti bersama. Ketika kau tersenyum dan aku terdiam. Waktu melambat dengan segala ketergesaannya. Tapi kukira ada yang lebih seru  dari sekidar rindu yang tak terbalas kasihku. Yaitu perihal usahamu untuk mengerti aku, perihal kesabaranmu yang seperti muara. Juga ketabahanmu yang tak pernah jera. Kukira aku perlu belajar untuk bisa mencintai utuh sepertimu kasihku.

Barangkali pula ada yang lebih bijak daripada sekedar menulis dan berbicara. Ia adalah tindakan. Semisal cita-cita untuk membahagiakanmu, atau tentang menemanimu menjalankan misa di hari minggu yang kudus, atau menyeka pelan keringatmu ketika kita berdua menikmati mie yang sangat bedebah pedasnya. Aku, lebih dari siapapun di dunia, ingin bisa menunjukan tindakan padamu daripada hanya sekedar kata-kata manis.

Tapi seperti yang selalu kubilang. Hidup tak akan pernah sebrengsek ini apabila setiap keinginan kita terkabulkan. Manusia seringkali dipaksa memejalkan diri, menyabung nasib hingga tahap yang paling kalis untuk bisa sedikit lebih dekat dari keinginannya. Manusia lantas bersiasat soal keinginannya, memendam gelora sedemikian rupa hingga tanpa sadar keinginan itu lantas padam. Kukira hidup hanya sekedar barisan-barisan kekecewaan. Kamu tahu itu kasihku?

Beberapa dari kita begitu keras memendam keinginan sehingga ia menjadi robot. Menjalani hidup secara otomatik. Manusia yang menjadi sekrup untuk menggerakan sebuah mesin raksasa bernama masyarakat adil dan makmur. Lantas mereka menjadi mayat hidup. Sebuah entitas organik yang tak lebih dari pelumas dari organisme brengsek raksasa bernama pemerintah.

Aku tau kita tak begitu sayangku. Aku tau kita tak akan pernah mau menjadi itu semua. Lebih dari apapun yang ada. Kita ingin menjadi seorang tumbal, sebuah sekrup, setetes pelumas. Kita adalah manusia yang memilih merdeka ditengah jutaan mayat hidup di ibukota. Kita berdua menanam bibit mimpi. Merawatnya pelan-pelan. Memberinya pupuk harapan. Kita berjuang menumbuhkan keinginan ditengah belantara bernama ketidakpedulian.

Kasihku. Kau tentu tahu bermimpi membutuhkan nyali. Bermimpi adalah pekerjaan gawat berbahaya yang hanya dilakoni oleh para pemberani. Mereka yang tahu benar dalam meraih mimpi kita hanya memiliki dua pilihan. Bertaruh habis-habisan atau kalah telanjang. Namun semua itu hanya perkara jalan hidup kasihku. Hidup kita yang seringkali hanya bisa merintih perlu sesekali dilecut dengan ketakutan dan kengerian masa depan. Agar tak perlu ada lagi sedu sedan penantian.

Pada sebuah syair yang begitu syahdu dari W.H Auden yang berjudul Journey to Iceland, ada sebuah doa. Doa yang barangkali hanya bisa kita rasakan. Seperti yang selalu kubilang sayangku. Puisi tak bisa dimengerti melalui hitung-hitungan rumus. Puisi selalu mewujud sebagai upaya mencari jati diri. Upaya untuk meredam segala yang wujud untuk memahami yang fana. 

Beauty, midnight, vision dies:
Let the winds of dawn that blow
Softly round your dreaming head
Such a day of sweetness show
Eye and Knocking heart may bless,
find the mortal world enough;
noons of dryness see you fed
by the involuntary powers,
nights of insult let you pass
watched by every human love.
Januari 1937

Auden tak pernah gagal merajut puisi sehingga menjadi jalinan kata yang magis. Ia bicara perihal harapan yang terlalu curam untuk dijalani. Perihal masa depan yang terlalu naif untuk dijalani. Perihal mimpi yang seringkali tak mampu kita pahami. Auden tak pernah mengengecewakanku kasihku. 

Mungkin ini semua tak penting bagimu. Aku tahu kau sedang sibuk. Sedang dipenjara pekerjaan yang menuntutmu untuk terus bergegas dan berpikir keras. Tak ada waktu bagimu untuk sekali lagi menjerat makna dari tulisan sentimentil ini. Tapi bagiku sayang, ketika kau jatuh cinta dan mencintai. Hidup adalah keberanian untuk berkata jujur. Bahwa diri ini tak lebih baik dari berak di jamban.