Kamis, 15 November 2012

Pada Sebuah Perdebatan

Ada hal yang semestinya dikenang sebagai sebuah tapal batas untuk memulai hidup baru. Sekedar usaha untuk menyadari bahwa hidup bukan masalah bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup. Manusia, aku kira, semestinya harus lebih dari itu. Tidak sekedar berpikir mengenai dirinya sendiri tapi juga manusia lain di sekitarnya. Manusia memiliki terlalu banyak berkah dan kelebihan untuk dinikmati oleh dirinya sendiri. Berbagi seharusnya adalah sebuah bagian dari sifat alamiah manusia.

Tapi toh tak ada yang salah dari berusaha menjamin masa depan sendiri lebih baik. Itu hak setiap manusia yang hidup. Barangkali memang benar bahwa menjadi egois adalah sebuah sifat alamiah. Ia mengalir deras dalam tiap pembulu nadi manusia. Kita cenderung untuk mementingkan diri sendiri daripada orang lain. "Mind your own business" toh juga tak semua orang tak suka dibantu atau dicampuri urusannya.

Kita bersosialisasi seringkali hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Alasan egois. Karena kebutuhan kita tak bisa dipenuhi sendiri dan membutuhkan campur tangan orang lain. Keberadaan manusia lain tak lebih seperti alat untuk membantu pemenuhan kebutuhan. Seusai kebutuhan tadi lepas kita seringkali mundur teratur. Ogah mau tahu dengan urusan manusia lain. Kita adalah mahluk pragmatis yang pernah berjalan di atas bumi.

Menjadi pragmatis tidak salah. Itu adalah pilihan paling masuk akal yang bisa dilakukan. Kita bukan superman atau presiden sebuah lembaga donor tanpa batas yang bisa menolong tanpa beban. Kita juga toh kerap nyinyir dengan Bill Gates, meski ia hanya seorang filantropis dengan kekayaan paling purna di dunia. Kita seringkali dihantui keinginan-keinginan untuk meraih kemapanan diri dengan mengorbankan orang lain. Menjadi yang paling puncak dengan menginjak yang lain.

Tidak ada yang salah dari sebuah ambisi untuk melakukan dominasi, kekuatan dan juga otoritas. Kita manusia, bukan malaikat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar