Rabu, 26 Desember 2012

When Love Is All You Need


Saya tak pernah benar-benar suka The Beatles. Bagi saya mereka adalah sebuah patron yang mesti dihancurkan generasi berikutnya. Sayangnya yang menjawab tantangan ini adalah anak kecil bernama Justin Bieber yang membandingkan dirinya dengan Beatles yang maha kanon. 

Beberapa lagu mereka saya akui  merupakan pencapaian jenius yang barangkali hanya akan terjadi sekali dan tak pernah akan diulang. Ia adalah representasi sebuah zaman yang bergerak secara dinamis, cerdas, unik dan yang paling penting mampu beradaptasi. Paska bersinggungan dengan begawan musik India Ravi Shankar, warna musikalitas The Beatles mampu menunjukan bahwa apa yang dimaksud timur dan barat hanya sebuah label. Lewat musik mereka mampu membahasakan diri secara lebih ringan, lebih mudah dipahami dan yang jelas lebih baik dari segala yang menyertai setelahnya.

Saya percaya ada tiga hal di dunia yang mampu menyatukan dunia. Pertama adalah karya seni lukis, yang kedua seni pertunjukan dan yang terakhir adalah musik. Lukisan semestinya universal, ketika estetika menjadi bahasa ia bisa dipahami oleh semua orang. Seni pertunjukan tak mengenal bahasa, ia adalah sebuah keseharian yang dimanifestasikan dalam gerak. Namun di atas itu semua adalah musik yang memberikan kita kesadaran bahwa hidup bukan perkara klaim kebenaran atas yang lain. Tapi perkara merasakan, mendengarkan dan menikmati hidup dengan kesederhanaan.

Video ini adalah jawaban dari itu semua. Kebencian Terry Jones, yang dahulu pernah membakar Al Quran, luruh hanyut dibawah nyanyian cinta. The Beatles menaklukan segala perbedaan, bahwa hidup yang sebenarnya adalah hidup yang dijalani dengan cinta. Bahwa tak ada lagu yang tak bisa dinyanyikan, tak ada hal yang tak bisa dilakukan, dan tak ada yang bisa menghentikan kita untuk belajar. Selama kita memiliki cinta. Love is all you need.

Samar-samar saya membayangkan, barangkali kelak di surga jika ia ada, tuhan akan memulai pagi dengan memutar lagu ini. Kidung manusia-manusia dari segala zaman, segala peradaban dan segala ras menyatu. Mendendangkan syair yang begitu syahdu. Semoga.

There's nothing you can do that can't be done.
Nothing you can sing that can't be sung.
Nothing you can say but you can learn how to play the game
It's easy.
There's nothing you can make that can't be made.
No one you can save that can't be saved.
Nothing you can do but you can learn how to be you
in time - It's easy.

All you need is love, all you need is love

Selasa, 25 Desember 2012

Kabar Panjang Dari Jember


Jember pada akhir dekade 90-an dan awal 2000-an dicitrakan sebagai daerah yang penuh konflik. Maraknya konflik agraria dan perebutan lahan pertanian yang menautkan warga masyarakat kabupaten ini dengan militer dan PTPN X, telah mengakat reputasi daerah ini sebagai daerah pembangkang. Belum lagi reaksi keras warga Jember yang menolak ketika Gus Dur dimakzulkan dari jabatan presiden dari 2002, dengan membentuk laskar jihad berani mati. Citra keras, pemarah dan mudah dibakar isu hampir lekat dengan Jember.

Jember, saya akui, bukanlah surga. Tapi di sini kami bisa menikmati perbedaan seperti sambal yang segar. Di dalamnya ada berbagai elemen yang membuat citarasa sambal ini berbeda dan unik. Pedasnya mungkin akan membuatmu terkejut, berkeringat bahkan mungkin berkeluh tak bisa bicara. Tapi pedas itu memberikan kelegaan, sebuah kenikmatan, a blessing in disguise, sesuatu yang barangkali susah ditemukan di manapun

Saya bukan orang yang lahir dan besar di Jember. Tapi menghabiskan lebih dari delapan tahun kuliah dan tinggal di Jember memberikan saya sedikit gambaran bagaimana kabupaten ini dibangun. Di sini perbedaan adalah keseharian yang tak mungkin tak dihadapi. Dalam sejarahnya daerah ini dibangun oleh dua suku besar yaitu Jawa di sisi selatan dan Madura di sisi utara. Kedua suku ini bertemu dalam melting pot bernama Jember hingga melahirkan ragam budaya yang hibrida.

Pada masa penjajahan Belanda dua etnis ini didatangkan untuk membantu proses pertanian dan perkebunan yang menjadi tulang punggung kehidupan di Jember. Warga di sisi Selatan yang didominasi oleh orang jawa yang datang dari daerah Mataraman membuka lahan pertanian padi dan sayuran. Sementara di sisi utara orang-orang Madura bekerja di berbagai perkebunan milik pengusaha asing seperti Tebu, Kopi, dan Tembakau.

Melalui liputan mendalam yang dituliskan Andreas Harsono, seorang jurnalis lulusan Harvard asal Jember, saya mengetahui sedikit sejarah kota ini.  Pada 1850an Jember mulai berubah menjadi kota urban ketika George Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa. Birnie inilah yang di masa lalu mendatangkan pekerja dari daerah sekitar Blitar dan Pulau Madura.

Karena keberagaman etnis yang ada di Jember ini salah seorang peneliti bahasa jawa Prawiroatmodjo (1985) dalam Bausastra Jawa Indonesia II, menyebut kelompok kebudayaan yang ada sebagai masyarakat Pendalungan. Pendalungan yang berasal dari kata dhalung berarti periuk atau bejana dianggap sebagai representasi kota yang menaungi banyak etnis, kebudayaan dan identitas sosial. Di kota ini setiap perbedaan diakomodir, setiap tradisi diberi ruang dan setiap masyarakat diberi kesempatan untuk unjuk diri.

Tapi masyarakat Pendalungan bukan an sich hanya milik masyarakat Jember saja. Lebih lanjut dalam penelitian milik Guru Besar Sastra Universitas Jember, Prof Ayu Sutarto, masyarakat ini adalah mereka yang mendiami daerah tapal kuda di Jawa Timur. Seperti Bondowoso, Lumajang, Probolinggo dan Situbondo. Ciri dari masyarakat ini pada pola komunikasi yang tak mengenal strata. Dalam lingkup personal (sesama suku jawa atau antar suku madura) tradisi lisan penempatan strata bahasa mulai dihilangkan. Hal ini merupakan bentuk egalitarianisme/kebersamaan yang terbentuk dari bertahun interaksi dari kedua suku besar ini.

Namun demikian, meski terpisah jarak interaksi dua suku ini malah sangat intens pada perayaan-perayaan keagamaan dan hari besar dan di pusat kota. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Christanto P Rahardjo, seorang budayawan dan akademisi, ditemukan jika di proses adaptasi kebudayaan sangat cair. Artinya kebudayaan asli bawaan dari identitas kulutral mereka, semisal jawa dan madura, bisa berubah tergantung dari audiens penikmat dari seni tradisi tadi.

Contohnya seperti di Desa Candi Jati, Kecamatan Arjasa Jember, ada kelompok ludruk Mara Jaya yang dalam pertunjukannya menggunakan Bahasa Madura karena memang komunitas penontonnya berasal dari etnis Madura. Namun di Desa Panti, terdapat kelompok jaranan Turonggo Sakti yang memadukan jaranan Jawa dan Osing, sedangkan para pelakukanya merupakan campuran antara warga etnis Madura, Jawa, dan sebagian kecil Osing.

Kondisi yang begitu cair ini melahirkan banyak ragam modifikasi tradisi baru yang luar biasa. Contohnya adalah budaya Patrol, kesenian patrol adalah seni yang lahir dari hibridasi kebudayaan jawa-madura-islam. Dimana dua etnis ini bergabung dalam satu kelompok musik yang dulunya dimanfaatkan untuk membangunkan warga yang sedang puasa, melalui tetabuhan dan lantun sholawatan. Seiring berkembangnya zaman salawatan diubah menjadi lagu daerah, lagu dangdut bahkan juga lagu-lagu perjuangan.

Instrumen musik pada acara patrol sangat mudah dilacak sebagai gabungan antara perangkat Jawa dan Madura. Dalam penelitian Prof Ayu ditemukan bahwa instrumen tersebut antara lain a) dhung-dhung, bambu besar sepanjang kurang dari 1m dengan alat penabuhnya, berfungsi sebagai kendang; b) gong, dua buah bambu terikat dalam satu bentuk insrumen, ditabuh dengan alat penabuh yang dililit karet, berfungsi sebagai gong besar dan gong kecil; c) krucilan, perangkat angklung, berfungsi sebagai pengiring lagu; d) seruling; dan e) kempul, bambu yang berdiameter relatif kecil dan dipukul dengan penabuh yang juga dari bambu, berfungsi sebagai pengiring gong.

Dalam setiap pementasan kelompok musik patrol biasanya sang vokalis harus menjadi polygloth yang menguasai banyak bahasa. Karena mereka kadang harus bernyanyi dalam bahasa Madura, Jawa atau bahkan Osing. Ya Osing, suku asli Banyuwangi ini juga tercatat menjadi warga yang banyak mendiami sisi kota Jember sebelah barat. Meski tak banyak namun keberadaan suku Osing di Jember memberi warna tersendiri dari proses kesenian yang berkaitan dengan seni musik dan seni tarik suara.

Tak hanya Patrol, kesenian yang berkembang di Jember ternyata diilhami dari berbagai interaksi antar masyarakatnya. Seperti kesenian Can-macanan Kadhuk yang sekilas seperti barongsai ini, dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan macan yang dianggap perkasa. Dalam penuturan para seniman yang masih aktif, kesenian ini dulunya dipakai untuk menakut-nakuti garong, gali atau maling yang kerap beraksi ketika masa panen tiba. Belakangan kesenian ini sering dipentaskan pada acara sunatan atau hajatan yang bersifat tidak resmi.

Acara musik patrol ini mendapati puncak eksistensinya setiap bulan ramadhan tiba. Hampir setiap waktu sahur kelompok-kelompok ini muncul di sudut-sudut desa dan komplek di kota Jember. Meski tak sebanyak dulu mereka masih asyik dan tetap berupaya keras untuk melestarikan warisan budaya kota ini. Setiap tahun ada pula kompetisi patrol yang diadakan pada minggu kedua bulan ramadhan. Di sana tak hanya umat muslim saja yang ikut berpartisipasi dan menikmati keriuhan suasana. Beberapa kali dalam festival itu ada pula kelompok barongsai yang turut ambil bagian.

Kelompok Barongsai ini dipentaskan oleh kelompok masyarakat Tionghoa yang ada di Jember. Mereka, berbeda dengan stigma kebanyakan, merupakan kelompok masyarakat yang aktif berinteraksi dengan sekitar. Dalam setiap momen Cap Go Meh atau tahun baru China, masyarakat Tionghoa Jember diberi ruang untuk melakukan perayaan. Biasanya di kelenteng-kelenteng yang tersebar di kota Jember mereka mementaskan tarian naga, barongsai atau bahkan mengundang kelompok Reog untuk meramaikan suasana.

Meski tak sebanyak Suku Jawa dan Madura etnis Tionghoa sudah mendiami Jember sejak lama. Hal ini terbukti dari tersebarnya berbagai kelenteng di kota Jember yang memiliki umur puluhan atau bahkan ratusan tahun. Salah satunya adalah kelenteng Fung San Sie yang terletak di pusat kota Jember. Kelenteng ini dibangun pada 1940an, A Kiem generasi ketiga penjaga kelenteng ini tak hapal benar. Namun yang jelas salah satu cerobong asap kelenteng ini dibangun pada 1946.

Untuk mencapai kelenteng ini kita mesti masuk blusukan di antara kompleks pertokoan dan perumahan. Letaknya persis di samping sungai Bedadung yang membelah kota Jember. Di samping kelenteng tua ini juga terdapat pondok pesantren yang sama sekali tak pernah merasa terganggu dengan aktifitas kelenteng. Meski termasuk dalam kategori bangunan bersejarah sayangnya kelenteng ini kurang terawat. Padahal gedung ini merupakan salah satu kelenteng tertua di Jember yang masih berdiri.

Sempat dilarang pada masa Orde Baru masyarakat Tionghoa di Jember kini mulai berani berekspresi dengan memunculkan banyak sekolah Wushu dan Barongsai. Bahkan Jember merupakan satu-satunya kota yang menjadi tuan rumah PON XV diluar Surabaya, untuk cabang olahraga wushu. Kini setelah sekian lama para mentor Wushu jember tak hanya menerima murid yang berasal dari etnis Tionghoa namun juga masyarakat umum.

Tapi bukan hanya itu saja saya mengagumi Jember dengan segala keriuhannya. Lebih dari itu Jember menunjukan wajah paling manusiawi yang pernah saya lihat dalam upaya toleransi umat beragama. Tak dipungkiri bahwa Jember merupakan kota santri. Ada lebih dari 40 pondok pesantren besar atau kecil yang tersebar di seluruh penjuru kota ini. Mulai dari pesantren salafiah yang mengajarkan pemahaman kitab kuning sampai dengan pesantren modern yang akrab pada teknologi. Meski menjadi agama yang dominan Jember tak pernah riweuh dan ikut campur urusan kepercayaan orang lain.

Menurut catatan Kantor Pariwisata Kabupaten Jember di Dusun Krajan, Desa Pontang Kecamatan Ambulu terdapat satu kelompok kepercayaan Sanggar Candi Busana Persada. Kelompok ini adalah salah satu ‘agama’ yang diakomodir dan dilindungi hak-haknya. Agama ini merupakan salah satu dari cabang aliran kebathinan Sapta Dharma yang berkembang di Jawa. Para penganutnya memiliki ritus personal yang berkembang dan memberi warna pada kebudayaan masyarakat Jember.

Hal ini diperlihatkan pada acara petik laut larung sesaji yang dilakukan dua kali dalam setahun ketika bulan Suro. Dalam acara itu kelompok kepercayaan Persada bersatu bersama ulama Islam setempat untuk mendoakan sesaji yang akan dilarung. Menariknya adalah sebelum dilarung sesaji ini juga diberkati di salah satu kelenteng Dewi Kwan Im di Pantai Putih Malikan (Papuma) kecamatan Wuluhan Jember. Artinya ada harmonisasi tiga agama yang melatari tradisi petik laut ini.

Berlatar pantai berpasir putih yang konon didampuk menjadi salah satu pantai terindah di Jawa Timur, Papuma menjadi panggung ritual adat istiadat yang berumur puluhan tahun. Petik laut seolah menjadi sebuah ritus yang tak pernah lupa dilakukan pada setiap tahunnya. Kepala kerbau, hasil bumi dan beragam sesaji ditaruh dalam kapal kecil yang telah didoakan oleh pemuka tiga agama. Di pantai dengan air jernih dan pemandangan indah inilah bukti bahwa Jember adalah surga bagi mereka yang merayakan perbedaan sebagai fitrah.

Kecamatan Wuluhan dan Ambulu di Jember yang bersebelahan barangkali bisa menjadi contoh bagaimana banyak agama dan keyakinan tumbuh dan berkembang. Di dua kecamatan ini bertebaran pesantren, namun ditempat ini pula ada sebuah gereja katolik dengan jumlah jemaah yang besar, di kecamatan ini pula ada satu kelenteng yang diklaim sebagai klenteng pemuja Dewi Kwan Im terbesar di Asia Tenggara. Belum lagi keberadaan lebih dari 200 jemaat keyakinan Persada mendapat jaminan untuk bebas berkeyakinan.

Pada natal tahun inipun sama saya kira. Umat katolik yang memiliki lebih dari 20ribu jemaat di Jember melakukan kebaktian seperti biasa. Penuh khidmat dan mesti bergantian karena hanya ada dua gereja besar di kota dan satu lagi di kecamatan. Meski tak besar namun umat katolik di Jember boleh menepuk dada lega. Setiap perayaan hari besar keagamaan selalu ada banser yang menjaga jalannya misa. Apakah ini suatu bentuk antisipasi? Saya kira tidak. Barangkali ini adalah hadiah natal. 

Dalam sebuah canda, beberapa kawan aktifis Banser mengatakan mereka menjaga gereja agar semua umat katolik bisa ikut misa. Tak perlu takut lantas ikut berjaga. "Yang misa biar misa. Masa orang ibadah harus gantian karena mesti jaga?" kata kawan saya itu. Ini pula yang membuat Jember, sebagai kota dengan julukan kota Santri, bebas saja menunjukan ucapan selamat natal dengan vulgar. Belum pernah sekalipun dalam hidup saya di Jember menemukan larangan untuk mengucapkan atau melarang ibadah natal. 

Pada natal tahun lalu gereja Indonesia mencanangkan tahun budaya iman. Maka tahun ini "Allah Telah Mengasihi Kita" yang diambil dari nukilan I Yohanes 4:19. Barangkali kita bisa belajar dari keteladanan Yesus dalam menyebarkan kedamaian. Saya percaya hidup akan lebih damai ketika kita berusaha menerima persamaan daripada berusaha mencari perbedaan. Seperti di Jember, kita boleh beragama apapun. Selama ia tak mengganggu orang lain. Lagipula apa asyiknya hidup dengan membenci?

Sabtu, 15 Desember 2012

Tak Perlu Menyintas

Kawan saya semalam mengeluh ia tak bisa move on dari mantan pacarnya. Ia gadis yang manis dengan berbagai pesona sebenarnya bisa saja mendapat lelaki yang ia mau. Toh diam pun sudah banyak lelaki yang mengejarnya lintang pukang. Tapi ya dasarnya perasaan, ia bilang tak bisa memilih salah satu. Ia masih sayang dengan mantan pacarnya itu. Lelaki yang membuatnya mabuk kepayang sampe menahun menahan rindu. "Kadang kala aku cape Dhan, ditelikung perasaan sendiri. Belum tentu mantanku kepikiran seperti yang aku lakukan. Ini sia-sia,"

Sudah tahu sia-sia mengapa kau lakukan menahun? 

"Ah kau tak tahu alasannya. Kau lelaki! Mudah saja kau cari gantinya," jawab kawan saya itu marah-marah. Barangkali benar, saya tak paham benar rasanya. Butuh kerja keras untuk bisa move on atau saya lebih suka menyebutnya 'menyintas'. Jatuh cinta itu perkara mudah, tapi melupakan kau perlu kerja keras untuk duduk lama sendirian. Berkelahi dengan perasaan sendiri, bayang-bayang masa lalu lantas kau akan digerogoti kesunyian yang kau ciptakan sendiri. Menyintas tak pernah mudah tidak semudah kau merindu atau berkata aku baik-baik saja.

Lagipula memangnya mengapa jika tak menyintas? Toh perasaan melankoli berlebihan tak melulu jelak. Kukira Nietzsche tak bakal bikin karya monumental Thus Spoke Zarathustra jika kisah percintaannya dengan Lou Andreas SalomĂ© lancar saja. Atau kau tak akan mendapat puisi Chairil Anwar begitu mengiris sekiranya percintaan dengan Mirat lancar. Begitu juga dengan Albert Camus tak akan pernah membikin novel semi monolog La Chute jika hubungan persahabatannya dengan Jean Paul Sartre baik-baik saja. Di dunia ini perasaan menggigil karena cinta tak berbalas juga menghasilkan eskapisme yang menakjubkan.

Mengapa harus takut dikatakan manusia yang gagal menyintas perasaan sedih? Toh terlalu banyak cara untuk dilakukan ketika sedih ketimbang menangis sendirian. Beberapa dari kita menikmati rasa haru kegagalan dengan alkohol, yang lain dengan membebat telinga lantas menggeber musik hingga batas suara maksimum, ada pula yang sibuk melumasi kemaluan dengan pemenuhan hasrat birahi dengan sembarang orang, sedikit yang luluh tertekuk sujud diharibaan altar tuhan dan mengadu seperti kanak-kanak yang gagal piknik.

Haruskah kita menyintas? Saya kira tidak. Jika menyintas hanya karena paksaan atau lelah diolok-olok kawan, itu sama seperti kau pindah agama hanya karena tuhanmu tak lagi populer. Menyintas adalah persoalan pilihan. Jika tak ada yang salah atau tak ada alasan tepat menyintas mengapa memaksakan diri? Tak ikhlas menyintas hanya membuat permasalahan yang ada tertunda. Tak benar-benar tuntas menyintas malah bukan tak mungkin masalah yang dipendam karena menyintas prematur akan semakin besar.

"Tapi kan gak mau move on itu kan gak sehat. Masokis," kata kawan saya itu berdebat. Manusia adalah manusia masokis. Mereka bekerja 8 jam sehari untuk mencari uang dengan keras. Lantas menghabiskan seluruh penghasilannya itu dalam waktu yang singkat. Lantas manusia menyesali keputusan itu namun tetap mengulang bekerja lagi 8 jam sehari untuk bersenang-senang dengan cara yang sama. Lantas apa bedanya dengan mereka yang gagal menyintas?

Atau kau lupa bagaimana Yesus menerima dera sakit untuk menebus dosa manusia? Ataukah kau lupa Sridarta Ghautama semadi menahan lapar dibawah pohon bodi mengingat siklus kehidupan manusia? Atau sumpah Muhammad tak akan masuk ke dalam surga sebelum umat manusia terakhir masuk di dalamnya? Penderitaan adalah jalan lain kebahagiaan. Ia membuat manusia menyadari kedaifan diri, bahwa ia adalah hina dan kebahagiaan seharusnya diraih oleh perjuangan. Menyintas adalah perkara proses yang seringkali digawat-gawatkan keberadaannya. 

Kita sebenarnya begitu akrab pada penderitaan.

Menderita adalah laku awal manusia. Dalam banyak kisah penderitaan adalah basis dari sebuah peradaban.  Istanbul, Karbala, Stalingard, Madiun, dan Yerusalem adalah sedikit bukti bahwa cinta yang buta hanya melahirkan perih. Tak pernah ada umat beragama yang mampu menyintas dari kota yang berarti surga damai itu. Perang adalah bukti kecintaan manusia pada penderitaan. Mereka asyik bersyukur dalam perih dan rasa sakit. Mereka membutuhkan musuh untuk bisa menciptakan perdamaian.

"Kejauhan Dhan, ini gue lagi ngomongin mantan gue. Gue pengen balikan tapi ditolak. Gengsi dong ngemis-ngemis," katanya. Untuk kebahagiaanmu sendiri kau membuat tembok batas kesombongan. Lantas berharap semuanya baik-baik saja dan berujung gembira? Ini seperti kau tengah kelaparan di tengah hutan, lantas menemukan sepotong ayam panggang. Karena telah memutuskan menjadi vegan kau menolak memakan daging, karena berkomitmen untuk hanya menkonsumsi sayuran. Itu konyol, perasaanmu semestinya tak lebih baik dari hidupmu.

"Ngomong mah gampang Dhan. Ini gue yang ngerasain," sergahnya lagi. Tentu benar. Manusia tak pernah benar-benar bisa memahami perasaan orang lain. Kita hanya bisa meraba, mencoba mengerti, atau pura-pura mengerti. Toh perasaan, seperti juga nasib, adalah kesunyian masing-masing. Perasaan adalah sebuah keunikan. Ia bisa hadir seperti seorang maling. Dalam rintik hujan, wangi nasi goreng, potongan lagu atau bahkan wajah orang asing. Perasaan, seperti juga kenangan, adalah kemampuan manusia untuk terus hidup manusiawi.

Menyintas semestinya adalah sebuah berkah. Seperti juga luka yang membuat manusia sadar bahwa dirinya lemah. Menyintas akan menyisakan tanda. Barangkali semacam epitaph ketika momen perubahan diri telah selesai dilakukan. Tapi bagi saya menyintas adalah sebuah proses tanpa akhir. Selama manusia hidup menyintas tak akan pernah usai. Ia adalah bahan bakar yang selalu membuat manusia dinamis. Ketika menyintas usai, selesai pula tugas manusia untuk hidup.

"Kalo udah kangen gini gue cuma bisa nangis. Gak enak tahu nahan kangen belum tentu yang dikangenin ngerasa juga. Kalo gini gue suka kesel ama Tuhan, dia itu jodoh gue bukan sih?" ujar kawan saya itu. Kini kau menyalahkan tuhan. Padahal tak sedikit manusia yang jatuh cinta menasbihkan peristiwa tersebut sebagai berkah tuhan. Tuhan yang maha kasih telah memberikan manusia kesempatan untuk bisa mencintai sesamanya. Kini setelah semua usai manusia pula mengutuk tuhan sebagai entitas tak berperasaan.

Barangkali pun manusia harus diciptakan seperti malaikat yang tak disertai perasaan. Bekerja secara otomatik seperti gigi roda. Lantas berinteraksi seperlu dan sebutuhnya saja. "Garing amat idup kalo cuma begitu," potong kawan saya itu. Ia yang sedari tadi merutuki perasaanya yang tak bisa hilang lantas mengkritisi hidup tanpa perasaan. Saya seringkali tak habis pikir pada kemampuan manusia untuk tidak puas. Barangkali hanya ini kualitas manusia yang merata di seluruh dunia.

"Yaudah sih Dhan. Gue juga gak ngarep-ngarep amat balik. Masih ada yang lebih kece dari dia," kata kawan saya itu. Kau akan dikejutkan oleh kemampuan manusia untuk berubah pendapat dan berubah keinginan. Seringkali perasaan manusia seperti kentut, seringkali ia menawarkan bau busuk yang kuat lantas hilang ditelan angin. Barangkali manusia hanya mencintai kegetiran itu sendiri. Ia mencintai harapan yang tak tuntas. Ketika harapan itu terkabul manusia senantiasa dikelabuhi rasa bosan. Ia ditelan oleh keinginan-keinginannya sendiri.

Malam itu kawan saya akhirnya asik pergi dengan lelakinya yang lain. Saya hanya bisa tersenyum. Dua hari lagi ia akan merengek-rengek perihal rindu yang tak lunas. Perihal harapan-harapan yang tak terpenuhi. Lantas dengan racau dengki ia bicara ketidakadilan. Saya seperti biasa, akan mendengarkan saja. Seringkali kita bisa menyintas dengan belajar dari penderitaan orang lain. Saya tak pernah ingin menyintas. Saya tak percaya pada kata menyintas.

Kamis, 13 Desember 2012

Sepotong Fragmen di Jakarta


Ismail Marzuki komponis kepunyaan negara kita yang masyur itu pernah menyusun nada untuk syair yang berbunyi  “Mari bung, mari-mari, Jakarta menanti-nanti….” Lagunya riang dengan segala suka cita. Maklum Jakarta sebagai ibukota negara muda saat itu membutuhkan banyak tenaga untuk membangun. Apalagi romantisme kegairahan megapolitan itu membuat banyak pemuda dan pemudi dari pelosok kepincut. Seperti ngengat banyak putra daerah itu mendatangi Jakarta yang menyala terang.

Saya tak pernah bisa menyukai Jakarta. Setidaknya sampai saat ini.

Saya benci harus terus-menerus didera oleh keramaian, dipaksa menghadapi kemacetan dan berbagai kebebalan yang menyertai etos kerja “ini Jakarta bung”. Semua itu membikin saya berpikir bahwa kota ini tak pernah bisa manusiawi. Ia seperti mesin-mesin yang menghempas bahan mentah dan mengolah semuanya menjadi benda yang sama-sekali baru. Tak satu dua orang kawan yang pulang dari kota itu lantas gagap bahasa dan melupakan aku kamu menjadi gue elu.

Loh kan tak ada salahnya berganti bahasa? Tentu. Tetapi membawa adab dan perilaku yang sama sekali baru bukan perkara mudah. Apalagi bagi orang dengan anyaman lingkungan ala jawa seperti saya. Tata krama, semenyebalkan dan senormatif apapun, adalah akar yang serta merta tak akan bisa hilang. Barangkali juga merupakan identitas sosial. Sementara di Jakarta banyak orang yang berusaha melepas identitas sosialnya tadi. Bukan sekali juga pertanyaan “Kapan elu pulang ke Jawa?” menjadi sebuah pernyataan retoris yang komikal.

Barangkali memang benar Jakarta bukan jawa ia adalah yang ‘lain’.

Dalam salah satu fragmen kolumnis cum penulis bin aktor Umar Khayam pernah menulis dengan satir fenomena ini.  “Dalam panggung baru yang bernama Jakarta itu… peranan yang digariskan oleh komunitas mereka, mereka abaikan. Akibatnya, penghayatan pernanan mereka jadi kedodoran dan over acting” Pedas? Tentu saja. Monsieur Khayam selalu gemar bercanda dengan lecutan perih bagi mereka yang berpikir.

Lebih lanjut Monsieur Khayam menyatakan banyak dari orang-orang kita selepas pulang dari Jakarta menjadi kebelinger. Kena “hardik kemilau lampu kota yang terang benderang” sehingga “Menjadi lupa jagatnya sendiri”. Sampai hari ini 30 tahun lebih setelah esai itu dibikin kondisi masyarakat kita masih tetap saja seperti itu. Kebelinger dengan kota Batavia yang dulu hanya berisi sawah dan kampung-kampung melarat.

Mengapa Jakarta? “Harus Jakarta” kata bung Karno suatu saat di lapangan Ikada. “Soviet punya Moskwa, Jerman punya Berlin dan kita harus punya Jakarta” ujarnya. Dalam jagat jawa sebuah pusat kota harus mererepsentasikan elemen kedigdayaan. Alun-alun dengan pusat pemerintahan, pusat keagamaan, dan juga pusat hiburan. Di Jakarta semuanya ada kecuali hati nurani. Ah terlalu berlebihan. Barangkali benar, tapi bukan di desa Sekarputih kampung saya, seorang pemuda membakar diri dan pemimpinnya cuek saja….

Jika tak ada kebutuhan yang benar-benar perlu saya enggan untuk hadir di Jakarta. Saya merasa tercekik oleh wajah-wajah lelah, hampir seperti pucat mayat, yang baru saja pulang bekerja. Mereka adalah gambaran sekrup dari sebuah mesin raksasa bernama Jakarta. Mesin rakus yang menelan begitu banyak dan memberi terlalu sedikit. Manusia-manusia tadi bergerak secara mekanik. Berpindah dari satu kubikel ke kubikel lainnya. Rumah, kendaraan umum, kantor dan kelak barangkali liang kubur.

Dari 8.75 juta warga kota Jakarta tercatat 110 kasus kematian terjadi setiap hari di Jakarta.

Dalam film dokumenter yang memukau dari sineas muda nan cantik, Ucu Agustin, berjudul the Death in Jakarta kita akan berjumpa pada fenomena Tunawan, manusia-manusia asing yang mati tanpa identitas dan larut hilang. Mereka adalah manusia-manusia yang dulunya pernah hidup dan memiliki keluarga (barangkali hidup bahagia?) menjadi seonggok mayat yang tak jelas. Lantas atas nama kemanusiaan yang setengah hati mereka dikuburkan secara masal tanpa epitaph dan identias.

Barangkali benar kematian di Jakarta hanya sebuah statistik dingin yang terlalu sering terjadi. Dalam film ini. Kematian, sebagai suatu ritus penting dalam siklus manusia, menjadi sebuah keseharian yang menjemukan. Ia jadir tak lebih dari sebuah jadwal dan pekerjaan yang menuntut para pelakunya untuk tanggap bekerja. Hampir tanpa emosi. Seolah-olah peristiwa hilangnya nyawa adalah laku hidup sehari-hari tak lebih dari makan, tidur dan berak.

Dalam sebuah adegan tergambar bagaimana dua jenazah bayi diletakan di atas ubin yang berlapis plastik. Tak ada tangisan, tak ada doa-doa, tak ada ritus yang kudus. Semua dilakukan dengan datar dan dingin.  Jangan harapkan sebuah emosi akan tampak pada setiap petugas yang melakukan pekerjaan pengurusan jenazah. Bukan karena mereka manusia keji tapi barangkali, seperti sajak Chairil sudah terlalu banyak “Duka maha tuan bertakhta.” Sehingga tak ada lagi emosi yang tersisa.

Dalam satu esai panjang yang ditulis oleh Jaques Derrida tentang bagaimana sebuah kematian menjadi ritus pengorbanan. Melalui esai berjudul Beyond: Giving for the Taking, Teaching and Learning to Give, Death, filsuf Perancis ini mendedah upaya romantisme "Rela mati untukmu" sebagai sebuah fenomena murahan yang tak penting. Kematian, menurutnya, adalah sebuah prosesi tunggal yang tak akan pernah bisa ditiru oleh masing-masing individu. Ia adalah laku sakral yang subtil. Tapi apa yang menjadi pemikiran serius filsuf Prancis ini bisa menjadi sebuah olok-olok yang tak lucu di Jakarta.

Melalui film ini Ucu Agustin juga membongkar bagaimana praktik licik mafia jenazah.

Dalam peraturan resmi Kantor Pelayanan Pemakaman Jakarta, setiap penggali kubur diberikan upah penggalian sebesar 150ribu rupiah. Namun pada praktiknya para pekerja itu mendapatkan tak lebih dari 75ribu rupiah. Sementara sebuah blok makam bisa diperjual belikan dengan melobi secara langsung penggali kubur. Padahal secara legal peraturan yang ada memberikan kemudahan (semestinya) dengan aturan dan takaran tertentu bahwa sebuah mayat bisa dikuburkan pada petak-petak dengan kategorisasi tertentu.

Kita akan melihat fragmen dimana penggali kubur dengan mudahnya merusak atau menghancurkan makam yang tak membayar uang sewa. Lantas menindih kuburan tadi dengan jenazah baru. Kondisi makam menahun yang tak terawat melahirkan masalah baru. Retribusi liar semacam perawatan makam yang praktiknya diselewengkan. Padahal seharusnya hal ini dilakukan secara kolektif oleh pemerintah dan keluarga mendiang.

Saya dibuat terkejut oleh kejelian sang sutradara dalam menggali data dan informasi yang begitu lugas. Detail-detail kecil namun menohok seperti perbandingan antara kematian seorang anggota keluarga dan tunawan, menjadi sebuah epresentasi bias penghormatan manusia pada jenazah. Yang satu diantar menuju pembaringan terakhir dengan tangis pilu dan doa. Yang lainnya mesti berlalu sebagai sebuah benda kiriman dengan sunyi.

Tapi apakah benar? Tak ada lagi kemanusiaan tersisa di Jakarta?

Tidak juga. Ada sebuah fragmen adegan yang membuat saya tergigir nyilu. Ketika sang petugas kamar mayat RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, memberikan penghormatan akhir pada jenazah tanpa nama dengan melakukan sholat ghaib. Juga ketika satu jenazah bayi dikuburkan seorang penggali kubur memberikan adzan kepada si jabang bayi. Orang asing seringkali bisa lebih manusiawi daripada orang yang kita kenal bertahun-tahun.

Menonton Death in Jakarta mau tak mau saya mesti mengingat sebuah sajak masyur dari mendiang WS Rendra yang ia tulis Februari 2009. Sajak yang secara sederhana menampilkan kondisi kekinian dari Jakarta. Ia begitu sederhana namun begitu pula rumit. Tapi itulah Jakarta, di kota ini kemanusiaan barangkali hanya bisa ditemukan disudut-sudut paling tak terduga. Ia hadir seperti doa yang telat dikabulkan.

Doa Di Jakarta 

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.

Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?

Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?

Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

Rabu, 12 Desember 2012

Sepotong Fragmen di Jogja


Memulai kisah tentang Jogja tidak pernah mudah. Apalagi harus memulai sebuah tulisan panjang perihal lepasnya diri dari kota ini. Di Jogja kita tidak melupakan kenangan, kita merayakannya diam-diam hingga tanpa sadar menyublimnya sebagai sebuah ritus.

Lempuyangan menjelang sore adalah panorama yang selalu membuat saya takjub. Melihat gerbong-gerbong dingin yang bersandar malas. Logawa barangkali satu-satunya kereta yang paling saya akrabi dalam hidup. Entah sudah berapa kali saya menaiki kereta ini dari Jember menuju Jogjakarta. Tiap pedagang asongan, tiap sudut toilet, tiap rangkaian gerbong dan tiap menu makanan yang ada di kereta itu sudah saya lewati. 

Lempuyangan adalah seorang ibu yang selalu rela menyambut anak-anak asing di pelukannya.

Saya selalu percaya rumah adalah tempat dimana kita bisa berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Di rumah kita juga bisa membangun mimpi, menata masa depan dan merencanakan kehidupan. Rumah adalah dimana setiap impian dimulai. Namun bagi saya rumah bisa berarti apa saja. Di Jogja saya tak punya rumah, barangkali hanya beberapa tempat menginap. Itupun sementara dan tak pernah lama. Namun di manapun tempatnya, Jogja selalu berhasil membuat saya merasa pulang.

Mencari tempat yang kita sebut rumah barangkali bisa lebih rumit memilih pasangan hidup. Di rumah itu kita akan menjalin cerita. Mematri kenangan bersama orang-orang yang kita sayangi. Tapi dimanapun sudut Jogja adalah sebuah halaman rumah. Entah berapa kenangan yang saya buat di sudut-sudut kota ini. Di lingkungan keraton, di lingkungan kampus UGM-UNY, toko-toko buku dan puluhan angkringan. 

Barangkali kita diteluh, Jogja membuat mereka yang hadir selalu kasmaran untuk terus kembali.

Tapi dimana kau bisa menemukan cinta di Jogja? Semua sudut kota ini menawarkan cinta, barangkali kau hanya butuh bekerja keras untuk merasakannya. Kita tak perlu malu untuk jadi melankolis di Jogja. Setiap trotoar, pertigaan dan emperan toko barangkali sudah habis menawarkan kisah. Hanya saja sebagian dari kita ogah diam sebentar menyesap dan memaknai sebuah adegan dengan cara yang lain.

Di sebuah burjo, semacam warung 24 jam, saya duduk sendirian. Lantas seorang pria datang, dengan logat batak ia memesan nasi sayur. Tak lama seorang pria Tionghoa datang memesan Indomie dengan telor. Kami duduk terdiam lama sampai kemudian hujan datang ketika mamang burjo yang orang Sunda itu berkata. "Wah mas telornya abis," dengan polos saya menjawab "Telor siapa A' yang abis?"  Kami semua tertawa. Orang asing di tempat asing dengan berbagai latar yang sama sekali tak sama, tertawa pada sebuah lelucon yang tak sengaja.

Pernahkah anda ke Jogja dan dibuat jatuh cinta? Saya pernah. Berkali-kali.

Senin, 10 Desember 2012

Menuju Indonesia Berdikari Energi

Aldous Huxley, seorang novelis masyur Inggris, memulai novel seminalnya Brave New World dengan sebuah deskripsi yang apokaliptik tentang masa depan yang suram. Kita dipaksa percaya bahwa waktu yang belum hadir itu adalah sebuah keniscayaan. Bahwa suatu saat ketika seluruh sumber daya alam habis. Kita akan masuk ke dalam sebuah masyarakat otoritarian yang tunggal, mekanis dan terdisiplin karena terbatasnya sisa sumber daya.

Manusia hari ini saya kira sama takutnya dengan para manusia yang digambarkan Huxley dalam novelnya tersebut. Bahwa suatu saat nanti keberadaan kita mesti diatur dalam sebuah sistem yang mengontrol tumbuh  kembang populasi manusia. Takut akan masa depan yang tak pasti bahwa suatu saat dunia akah menjadi sebuah arena dominasi karena habisnya sumber energi fosil. Sementara teknologi baru sama sekali terlambat mendapatkan gantinya.

Lantas bagaimana Indonesia?

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, konsumsi bahan bakar minyak negara ini masih sangat besar. Yaitu sebesar 42,99% dari konsumsi energi total. Kemudian diikuti gas dan batubara masing-masing 18,48% dan 34,47%. Sementara jika ini terus menerus dilakukan diperkirakan pada 10 tahun mendatang cadangan energi fosil kita akan habis sama sekali.

Pertamina sendiri sebagai salah satu penyedia jasa energi fosil Indonesia menyadari ini. Bahwa suatu saat nanti energi fosil akan habis dan manusia mau tak mau harus berganti energi. Lantas bagaimana cara untuk melakukan penghematann energi tersebut? Lebih dari itu bagaimana cara untuk melakukan perubahan paradigma ketergantungan energi fosil ke energi yang terbarukan?

Seringkali pemahaman kita terhadap sumber energi yang terbarukan salah kaprah. Bahwa untuk mendapatkan energi yang baik dan tepat guna harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal. 

Hal inilah yang coba dipatahkan oleh siswa-siswa SMK Trisakti Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Dengan kesungguhan tekad dan pemahaman yang menyeluruh tentang energi alternatif, mereka menciptakan karya inovatif becak bertenaga surya. Tanpa dikayuh, becak ini sudah bisa berjalan dengan kecepatan rata-rata sampai 30 kilometer/jam. 

Melalui teknologi Solar cell diletakkan di atap becak. mereka memanfaatkan energi matahari atau solar cell yang melimpah di alam terbuka. Energi matahari yang diserap nantinya akan disimpan menjadi energi listrik di baterai yang sudah dirancang. Dengan kapasitas baterai yang dikonversikan dari energi surya tersebut mampu menghasilkan 288 watt dan kapasitas angkut sampai 150 kilogram. 

Menariknya teknologi ramah lingkungan dan bebas bahan bakar fosil itu tak memakan biaya mahal.

Anak muda kreatif asal SMK tersebut 'hanya' menghabiskan dana kurang dari 10 juta hingga tercipta becak tenaga surya. Becak ini tak menggunakan bahan bakar fosil yang berarti bisa menghemat pengeluaran. Minimnya limbah pembuangan berarti becak ini ramah lingkungan. Jika hendak ditotal dari perakitan hingga efek yang dihasilkan, apa yang dilakukan anak-anak ini jauh lebih mahal dari apa yang nampak.

Kita seringkali takut pada hal-hal yang belum kita pahami. Begitu juga dengan energi yang terbarukan. Misalnya dengan pembangkit energi nuklir atau panas bumi yang dianggap tidak stabil. Kita manusia sepatutnya belajar bahwa energi yang baik tak melulu lahir dari pusat pembangkit listrik yang masif dan super besar. Dengan ketekunan dan kemauan mengolah potensi lingkungan sekitar sebenarnya kita bisa mendapatkan energi murah dan gratis.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia di Jember sudah lama mempraktikkan kemandirian energi di lingkungannya. Memanfaatkan limbah organik dari pabrik pengolahan kopi dan cokelat mereka mampu mendapatkan suplai gas metan gratis. Selain itu energi tadi dapat dikonversi menjadi sumber listrik mandiri yang bermanfaat bagi mesin-mesin pengolahan pabrik mereka.

Melalui pengembangan dan penelitian terpadu hampir semua bagian dari instalasi dan reaktor biogas itu dibuat sendiri oleh Puslitkoka. Komponennya pun seratus persen didapat dari produk lokal jember. Bahan baku yang dibutuhkan oleh mesin pengolah biogas terserak melimpah di sekitar lokasi pabrik. Bahan baku itu bisa berupa limbah kulit kopi, cokelat, maupun kotoran ternak.

Sebenarnya dalam lingkup yang lebih luas teknologi ini bisa diaplikasikan untuk menyuplai energi satu lingkungan masyarakat. Memang butuh pengembangan yang lebih serius agar teknologi ini bisa digunakan secara masif. Namun yang penting adalah bahwa baik pemerintah maupun masyarakat perlu diberitahu dan disadarkan bahwa masih ada alternatif energi selain bahan bakar fosil yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Tapi apakah ini mungkin? Energi terbarukan yang bebas limbah atau polusi?

Mengapa tidak? Kunci penting dari sebuah energi terbarukan adalah kemampuannya untuk bisa bersinergi dengan lingkungannya. Matahari, angin, ombak laut dan juga panas bumi sangat potensial dikembangan sebagai energi, sementara disaat bersamaan dengan pengelolaan yang tepat guna mereka akan menghasilkan emisi atau limbah buang yang sama sekali kecil.

Namun yang penting selama ini adalah perubahan paradigma konsumsi bahan bakar yang masih terpaku pada energi fosil. Konsumerisme yang menjadi identitas kebudayaan juga bisa menjadi salah satu penyebab sebuah negara mengalami pemborosan energi yang besar. Bayangkan pada sebuah keluarga jika tiap anggota keluarganya memiliki masing-masing kendaraan bermotor sendiri? Polusi tinggi, konsumsi bahan bakar besar dan yang jelas keborosan yang tak perlu.

Untuk itu perlu segera ada usaha langsung untuk memperkenalkan teknologi ramah lingkungan berbasis energi terbarukan tadi. Dalam lokus yang lebih besar menghemat penggunaan bahan bakar fosil berarti menghemat beban subsidi APBN. Hal ini bisa berarti anggaran yang ada bisa dialihkan kepada pos lain yang lebih membutuhkan. Misalnya kepada penelitian pengembangan energi alternatif atau pendidikan.

Lantas apa yang saya lakukan?

Saya mencintai kendaraan umum, terutama kereta. Di kendaraan umum saya bisa bertemu banyak orang dan membayangkan apa pikiran dalam masing-masing orang yang naik kendaraan itu. Aneh memang, tapi hanya ini yang bisa saya lakukan dalam usaha mengurangi konsumsi energi fosil. Dengan memanfaatkan kendaraan umum atau bahkan berjalan kaki. Mungkin tak banyak membantu, namun saya yakin bahwa dengan menggunakan kendaraan umum saya berpartisipasi dalam usaha pengurangan polusi.

Lebih dari itu dengan berjalan kaki saya merasa lebih bisa melakukan observasi dan merenung. Berjalan kaki adalah upaya sehat yang semestinya bisa membantu kita merasapi keberadaan alam. Tentu hal ini tak mudah. Dalam banyak fragmen film Before Sunrise saya sangat iri dengan pedestrian ramah pejalan kaki yang memungkinkan kita flâneur sepuasnya. Kadang saya meyakini bahwa banyaknya kendaraan pribadi lahir akibat minimnya sarana pedestrian dan angkutan umum yang layak.

Sebagai penutup saya ingin mengutip jokes yang disampaikan komedian Amerika Bill Maher perihal energi alternatif. Ketika ia membandingkan energi fosil dan energi terbarukan. "Ketika kapal tanker jatuh ke lautan luas. Sebuah ekosistem akan terancam hancur dan tercemar. Tapi jika baling-baling (pembangkit listrik tenaga angin) jatuh kau hanya kebasahan."

Minggu, 09 Desember 2012

Selesai

Pada akhirnya saya berhenti membaca Catatan Pinggir karya Goenawan Mohammad setelah sekian lama. Zarah, yang ia kutip dari buku Partikel karya Dewi Lestari, menjadi Caping terakhir yang saya baca. Ada kekecewaan yang merayap dari dada saya. Mengapa harus Zarah?

GM dalam caping berjudul Zarah, sepertinya hendak menggambarkan bagaimana anak-anak bicara. Bagi saya Partikel adalah bagaimana orang dewasa membentuk anak-anak untuk berpikir dewasa. Zarah dibentuk sang ayah. Ia tak pernah benar-benar berpikir sendiri. Dan seperti semua umat Locke yang setia. Tabula Rasa adalah kanvas. Orang dewasalah yang kemudian menggambar bagaimana anak mereka akan menjadi sebuah pribadi. 

Ada pertaruhan besar yang dilakukan seorang penulis saat menyusun sebuah sequel cerita dengan rentang jarak waktu yang lama. Di sana seorang penulis akan mempertaruhkan segala yang ia miliki. Seringkali seorang penulis menjadi pemenenang dengan kembali merebut perhatian para pembacanya. Namun tak jarang juga ia harus terjungkal dan dilupakan karena sequel yang disusun tak sebaik karya awalnya.

Coba tengok Alexandre Dumas dalam kisah The Three Musketeer-nya. Setidaknya ada dua kisah lain yang mengisahkan petualangan Athos, Pathos dan Aramis. Namun tak membuat kisahnya yang lain semeriah pendahulunya. Meski kemudian Dumas bisa kembali bangkit melalui kisah lain, The Count of Monte Cristo. Saya kira penulis novel yang macam ini dituntut untuk memiliki mental seorang intifada yang tak kenal menyerah.

Formulasi tidak biasa dengan menolak bercerita secara linier. Hampir setiap cerita dalam episode Supernova seolah tidak memiliki keterhubungan. Namun hal inilah yang membuat setiap cerita Supernova menjadi sangat menarik dan selalu saya tunggu. Ksatira, Putri dan Bintang Jatuh barangkali adalah cinta pertama saya pada Dee. Ia membuat saya termanggu dan terus kagum dengan permainan kata dan sajian data yang luar biasa luas. Ia, barangkali, orang yang sukses menyederhanakan terma berat sains kepada banyak pembacanya.

Akar adalah kisah Supernova kedua yang membuat saya terbayang petualangan akbar macam kisah balada si Roy karangan Gola Gong. Kisah misterius Bodhi mampu menarik pergulatan pemikiran mengenai siapa tokoh ini, mengapa ia melakukan perjalanan dan silang sengketa pertemuannya dengan berbagai kejadian sungguh sangat menarik. Lebih dari itu Akar barangkali model travelogue yang sangat keren yang dipadukan dengan kisah fiksi.

Sementara Petir meski sedikit mengecewakan merupakan kisah komedi gelap. Saya suka penyosokan elektra dan bagaimana detil-detil kecil seperti tony@yahoo.com bisa membuat kita tersenyum lepas. Juga bagaimana fragmen perpindahan agama kakak elektra dan pergumulannya tentang keyakinan. Dalam banyak hal Petir merupakan episode underdog yang justru bagi saya memiliki potensi pergulatan cerita yang paling rumit. Meski ia bernada seperti menggurui atau bahkan mirip kampanye entrepreneurship.

Tapi di atas itu semua episode Supernova Partikel sangat mengecewakan.

Sejak awal membaca saya sudah membayangkan ekspektasi yang luarbiasa tinggi tentang partikel. Bagaimana tidak setelah delapan tahun menunggu saya kira Dee akan membuat sebuah gebrakan baru. Cerita yang akan membikin jantung meloncat atau kepala pening. Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan diri akan keterkejutan. Tapi rupanya benar harapan seringkali menjadi pengkhianat paling tengik.

Ada inkonsistensi yang saya temukan dalam kisah Partikel. Pada halaman 219 "Aku hanya berdoa agar Sarah tetap tenang." Berdoa? Oleh orang yang menganggap dirinya atheis? Okelah anggap ia penganut agama jamur. Berdoa kepada jamur? Err…Saya tak paham apa maksud Dee dengan menuliskan ini. Pada halaman 227 sebuah paradoks hadir. Ketika sang ayah bilang manusia adalah anak yang lupa keluarga dan perlu diingatkan perihal amnesia (?) sejarah dirinya. Tapi dilain sisi ia gagal menunjukan apa itu keluarga yang sebenarnya.

Menarik kemudian bagaimana penggambaran Zarah yang tak mampu bersosialisasi baik dengan manusia kebanyakan, mampu menyatu dengan baik dengan sekian banyak orang asing pada komunitas penyelamatan orang utan. Pada halaman 228 tergambar jelas bagaimana ia sebagai manusia yang selalu dianggap berbeda menemukan hubungan yang lebih manusiawi dengan orang utan. Fragmen ini barangkali yang paling menyentuh bagi saya.

Partikel adalah usaha menemukan timur di barat. Seusai membaca partikel ada banyak hal yang saya pikirkan. Jika ini adalah dalam episode ini ia bicara soal praktik spiritualitas pagan, mengapa tak membahas para shaman mentawai? Bishu di Sulawesi atau praktik Gandrung di Banyuwangi? Entahlah. Setiap penulis memiliki kebijaksanaanya masing-masing. Namun saya sangat terganggu perihal adanya fakta bahwa kita memiliki kedekatan geologis dengan shamanisme di negeri sendiri.

Jika pada KPBJ Dee memasukan banyak wacana sains dalam novelnya. Maka dalam episode kali ini ia bermain main dengan isu lingkungan, biologi dan shaman. Dengan sebuah perbedaan besar yang menyenangkan. Pada supernova seri pertama Dee seolah menjadi mahasiswa semester satu yang ingin memasukan semua pengetahuan baru yang ditemuinya dalam text books. Partikel lebih halus dan lebih renyah merangkai pengetahuan sains dengan kata-kata yang rapi dan tepat guna.

Secara umum partikel mencoba bercerita tentang anak pemberontak super cerdas yang ingin mencari (keberadaan ayahnya) identitas dirinya sendiri. Juga usaha mencoba berdamai dengam masa lalu daripada menentangnya sebagai sebuah realitas yang liyan. Tema ini adalah sebuah tema usang yang sebenarnya sudah sering dituliskan. Perihal pencarian diri? Hal ini hampir membuat semua episode Supernova seperti menjadi sebuah novel motivasional atawa self help book.

Namun kesalahan terbesar Dee adalah penjelasan mengenai apa tujuan penulisan Supernova. Menurut saya seorang penulis besar akan mampu menyampaikan maksudnya tanpa memberikan penjelasan. Ia akan sampai dengan sendirinya kepada pembaca. Sayangnya Dee dengan ceroboh menuliskan bahwa Supernova adalah “Buku tentang penelusuran spiriutalitas.” Apakah ia pikir pembacanya tak bisa menilai hal ini sendiri?

Partikel dan Zarah adalah karya yang seharusnya tak pernah dibuat. Ia adalah manisan yang membuat gigi nyilu. Saya rasa ini tanda untuk tak membaca lagi Supernova dan Catatan Pinggir.

Sabtu, 08 Desember 2012

Ad Captandum Vulgus

Jajang Kusnandar boleh jadi tak pernah berpikir keputusannya membuat akun pada laman twitter akan menarik banyak perhatian. Saya kira ia adalah pemuda sederhana yang hendak mengenal sosial media. Tak ada yang salah dari hal ini. Kecuali anda sepakat bahwa terma kata ngentot dan ngewe adalah sebuah kata yang main-main. Ia tak membawa implikasi serius pada sebuah pemikiran, atau jika saya boleh berlebihan, menunjukan kepribadian sebuah bangsa.

Itu pun kalau tokoh Jajang ini benar-benar ada.

Jajang, yang saya perkirakan hanya sebuah tokoh rekaan hasil konspirasi (atau pemikiran jenius?) dari orang-orang yang ditasbihkan menjadi selebtweet. Terma terahir tadi barangkali hanya di Indonesia. Penokohan seseorang menjadi selebritas, seseorang yang dirayakan kehadirannya, karena tweet tweet yang dirasa fenomenal atau bahkan sendu merasuk. Saya tak pernah benar-benar paham apa itu selebtweet.

Apakah ini wisdom of the crowd? Saya kira tidak. Ini hanya ulah iseng mengisi masa senggang dari segelintir pemilik akun twiter yang memiliki banyak pengikut. Jajang sendiri ketika nama akunnya belum berubah menjadi sebuah akun penjualan produk telah memiliki 22.327 pengikut. Mengapa perlu membuat sensasi besar hanya untuk meraih pengikut? Toh mereka hanya sebuah statistik mati yang ada dalam akun jejaring sosial media.

Saya kira awalnya begitu.

Dalam artikel menarik yang ditulis oleh Rhenald Kasali, ketua program MM UI, menjelaskan sebuah fenomen yang ia sebut sebagai revolusi Twitter. Ia berargumen bahwa hari ini Twitter sangat membantu pewartaan karya-karya yang baik. Twitter telah merevolusi banyak hal, termasuk dalam mengedukasi masyarakat. Tapi apakah ini saja? Saya kira banyak juga dari kita yang mengenal atau setidaknya pernah melihat akun Twitter yang mengabarkan keburukan, kebencian dan juga teror.

Lebih lanjut Rhenald lantas menjelaskan bahwa media jejaring sosial media telah membentuk banyak komunitas-komunitas virtual. Baik itu community of problem (dibentuk mereka yang punya masalah sama), community of profession (kesamaan profesi), dan community of interest (kesamaan minat). Setiap komunitas tadi menjaring jenis pengikutnya sendiri, yang belakangan, dimanfaatkan sebagai semacam potential customer.

Pengikut adalah sekumpulan kambing congek yang punya potensi sebagai ladang emas.

Ad Captandum Vulgus, asal kerumunan berbahagia, saya kira relevan disematkan pada fenomena Jajang Kusnandar dan seleb tweet lainnya. Ia lahir dari rahim teknologi internet yang mudah pakai, gadget culture paska BlackBerry booming, dan juga kehausan spiritualitas diri. Kehausan spiritualitas? Selebtweet lahir karena kalimat-kalimat yang terbatas 140 huruf itu terasa benar dan membuat kita tergelak. Beberapa dari kita mengikuti sebuah akun twitter karena kebutuhan motivasi, kata-kata puitis, pengetahuan, dan beberapa hanya sekedar sensasi virtual.

Toh kita menyadari benar lambat laun hampir semua selebtweet akhirnya menawarkan suatu produk, kampanye atau sekedar endorse. Mereka dibayar untuk melakukan ini dan kita secara sukarela kadang melakukan re tweet tanpa menyadari bahwa hal itu berujung pada naiknya nilai tawar sang selebtweet. Apakah ini salah? Tidak. Hal ini sah-sah saja dilakukan. Beberapa gerakan sosial yang lahir di Indonesia diinisiasi oleh selebtweet tadi. Sepertii gerakan #SaveLokananta #SavePDSHBJassin dan berbagai gerakan #Save-#Save lainnya.

Kebaikan, apapun itu bentuknya, adalah kebaikan. Ia wajib diapresiasi.

Selebtweet tadi bahkan bukanlah seorang pesohor di dunia nyata. Banyak tokoh-tokoh di twitter lahir dari sebuah sensasi (seperti Jajang), dari sebuah ajang pertaruhan konyol (ingat janji Joko Anwar), atau karena ia pejabat publik yang naik daun tapi intensitas tweetnya tak jelas (Jokowi). Belum lagi selebtweet yang lahir karena lahir dari fenomena twitwar, twitmesum dan juga seleb dadakan atas sebuah kampanye (#IndonesiaTanpaJIL whatsoever). Mereka adalah sosok-sosok imajiner yang bahkan saya tak pernah temui di alam nyata.

Kita adalah manusia yang kosong. Sampai-sampai membutuhkan orang lain untuk berpikir dan berkata-kata di jejaring sosial media. Pernah saya berpikir dan berdiskusi keras dengan seorang kawan yang aktivis masjid. Mengapa akun motivator keagamaan bisa begitu populer hanya karena ia men-Tweet ayat-ayat Quran atau hadis. Padahal kita bisa dengan mudah dapatkan dan pahami dengan membaca langsung. Apakah kita perlu membuat Al Quran dijital hanya untuk mendekatkan diri pada tuhan?

"Barangkali manusia terlalu sibuk Dhan. Sehingga ia butuh orang lain untuk mengingatkan," begitu kata kawan saya. Sibuk tapi masih sempat membuka twitter dan melakukan interaksi hingga berjam-jam ketimbang bersosialisasi, membaca atau bahkan mencari tahu sendiri? Bagi saya ini lebih pada kemalasan sosial daripada sebuah fenomena sosiologis. Kita dijebak dan dikonsumsi oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri.

Atau mungkin kebanyakan dari kita merasa twitterland lebih baik daripada dunia yang sebenarnya.

Pada Mulanya Adalah Air

Bagaimana cara air mempengaruhi lingkungan masyarakatnya?

Sebermula masa, peradaban manusia adalah peradaban air. Manusia selalu membangun kebudayaan dekat dengan sumber air. Hal ini karena air menjadi salah satu sumber inspirasi, kebutuhan dan juga pusat kehidupan masyarakat lampau. Air memberikan kemampuan manusia untuk hidup, berpikir, dan berkembang. Dalam banyak hal air juga menjadi simbol kemurnian, kesucian dan pengetahuan.

Barangkali benar tanpa air tak akan pernah ada peradaban.

Kita mengenal peradaban Eufrat-Tigris di Mesopotamia, Nil di Mesir, dan peradaban Sungai Kuning di Tiongkok yang sangat megah dibangun berdekatan dengan sumber air. Selain memberikan kemakmuran dalam hal pertanian, sungai-sungai tersebut juga menjadi akses transportasi yang membuka pintu perdagangan. Banyaknya air bersih juga menjadi sebuah indikator kemakmuran. Sehingga mereka bisa menikmati kehidupan yang sehat dan terhindar dari penyakit.

Hampir di setiap situs peninggalan peradaban besar tadi ditemukan relief atau gambar pada kendi air yang menggambarkan kemakmuran bangsanya. Kendi-kendi tersebut bisa berarti banyak hal apakah sebagai tempat menyimpan harta, minyak atau air minum. Namun yang jelas di berbagai relief yang ada kendi menjadi salah satu simbol kehidupan yang memancarkan air. Kita lantas mengenal simbol ini sebagai lambang bintang Aquarius.

Air selayaknya mudah didapatkan. Ia selalu terganti melalui siklus hujan. Dahulu orang tua kita bercerita bahwa kita dapat minum air langsung dari sumur atau sumber tanpa takut akan sakit. Kemurnian terjaga karena lingkungan masih tak tercemar limbah dan kotoran yang berpotensi menyebabkan penyakit. Sumur yang selalu penuh dan bersih ketika musim kemarau, sungai yang jernih dan segar barangkali hanya sebuah melankolia masa lalu yang degil.

Air kini tak bisa lagi menjadi karib yang selalu ada.

Penggal syair Gesang dalam Bengawan Solo yang berbunyi "Air mengalir sampai jauh," kini sudah tak lagi relevan. Di banyak tempat sumber air minum telah dikuasai oleh sekelompok orang atau korporasi. Kebutuhan sumber air minum yang tak akan pernah habis sampai akhir masa membuat beberapa orang merasa perlu melakukan monopoli. Melakukan pengekangan terhadap distribusi air sehingga hanya kepada mereka yang memiliki uang saja yang berhak menikmati.

Di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya, pada 2009 lalu sempat bersitegang dengan sebuah pabrik setempat karena matinya sumber air yang menjadi penghidupan. Pabrik tersebut memproduksi air minum kemasan dalam jumlah masif yang membuat sumber air minum yang juga sarana irigasi menjadi berkurang secara signifikan. Hasilnya adalah beberapa kawasan lumbung padi di Klaten mengalami gagal panen, belum lagi sulitnya pemenuhan sumber air minum yang bersih.

Masalah yang dialami masyarakat Klaten juga dialami oleh masyarakat yang mendiami Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Mereka menuntut penghentian proyek pembangunan sebuah hotel lantaran di wilayah tersebut terdapat mata air Umbul Gemulo yang mengairi dan menjadi sumber kehidupan empat desa sekitar.  Mereka khawatir dengan pembangunan hotel tersebut distribusi dan pasokan air minum di daerah mereka akan terhambat atau bahkan terhenti sama sekali. Permasalahan ini bisa menjadi sangat riskan dan berpotensi konflik jika tak segera dituntaskan.

Sementara di kota Bandung, Jawa Barat melalui riset intensif yang dilakukan Zaky Yamani. Ditemukan banyak fakta yang mengerikan tentang monopoli air minum di kota Kembang itu. Dalam buku yang berjudul "Kehausan di Ladang Air; Pencurian Air di Kota Bandung dan Hak Warga yang Terabaikan", Zaky mengungkap bagaimana warga kota itu dirampok secara tersembunyi sehingga mesti membeli air yang merupakan haknya.

Lantas bagaimana semestinya kita memaknai air sebagai sebuah kebutuhan?

Melalui liputan yang memukai itu Zaky menawarkan perspektif yang barangkali sering kita lakukan namun jarang kita sadari keberadaannya. Ia menjelaskan bagaimana di sudut-sudut kumuh kota Bandung masyarakat harus mengantri aliran air setiap hari. Bahkan untuk memasak mereka terpaksa membeli air dalam kemasan yang menambah beban hidup. Belum lagi bagaimana PDAM yang semestinya menjadi garda depan pemenuh kebutuhan seringkali tak bisa bekerja maksimal memberikan air minum yang layak.

Menikmati air, khususnya air minum merupakan hak asasi manusia. Hal ini telah diratifikasi dalam banyak konsensus dunia. Salah satunya dari Komite Hak Ekonomi Sosial dan Budaya PBB yang pada tahun 2002 merilis komentar umum tentang Hak Atas Air. Di dalamnya dinyatakan bahwa setiap manusia berhakmendapatkan air bersih yang cukup, aman dikonsumsi, dan terjangkau secara fisik serta finansial untuk penggunaan pribadi dan rumah tangga. 

Komentar Umum yang tertuang dalam Komite Hak Ekonomi Sosial dan Budaya PBB tersebut menetapkan beberapa hal atas hak air bersih. Seperti setiap orang harus mempunyai akses atas air yang mencukupi.  Seperti suplai sebanyak 50 – 100 liter dan atau  minimal 20 liter per orang per hari. Selain itu kualitas air harus terjamin sehat dan aman. Air yang digunakan untuk keperluan rumah tangga juga harus aman dan layak dikonsumsi.

Di Indonesia teknologi yang mengubah air biasa menjadi air yang layak konsumsi masih jarang. Jangankan teknologi itu bahkan Perusahaan Daerah Air Minum yang ada pengelolaanya kadang dilakukan oleh swasta. Sehingga yang terjadi adalah monopoli dan kegagalan pemerataan konsumsi air. Dalam salah satu laporan yang disusun Andreas Harsono pada 2003, digambarkan bagaimana konsumsi air di Jakarta dikuasai oleh dua korporasi air dunia.

Tak banyak yang bisa dilakukan untuk memperoleh jaminan atas hak kita mendapatkan air minum yang sehat. Untuk itu perlu tindakan yang taktis dan efektif dalam upaya pemenuhan hak atas air. Pertama melakukan pemetaan wilayah atas sumber air yang ada. Karena dalam UU SDA Pasal 6 disebutkan "Penguasaan sumber daya air untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," sehingga setelah usai pemetaan kita bisa melakukan proteksi dan perlindungan atasnya berdasar peraturan tersebut.

Langkah kedua adalah melakukan perbaikan kualitas air minum dengan menjaga lingkungan sekitar.  Seperti menjauhkan sumber air dari pencemaran, melakukan pembersihan lingkungan dan penanaman vegetasi yang mampu menjaga dan memperbaiki kualitas air. Pencemaran limbah industri maupun rumah tangga berpotensi mencemari air yang bisa menurunkan kualitas air. Hal ini tentu saja dapat berimbas pada air konsumsi yang kita gunakan. Bukan tidak mungkin air yang tak sehat itu dapat menyebabkan penyakit atau bahkan bisa meracuni kita.

Langkah terakhir adalah melakukan evaluasi dan pengawasan secara khusus dan terpadu terhadap kawasan yang berkaitan dengan air. Seperti daerah aliran sungai, daerah hulu air, dan bukit atau gumuk yang menjadi bank resapan air. Untuk hal ini masyarakat tak bisa bertindak sendiri. Kita perlu campur tangan dari pemerintah dan segala elemen yang terkait di dalamnya seperti PTPN, dinas kehutanan dan BKSDA. Sehingga pendekatan holistik dapat meningkatkan kemungkinan selamat air lebih baik lagi.

Setelah memahami hal ini ada baiknya kita kembali berpikir. Sumber kehidupan  pada akhirnya hanya akan habis ketika kita tak memiliki kesadaran untuk melakukan konservasi secara serius. Belum lagi permasalahan perusakan alam yang kian hari kian parah. Kualitas air minum kita semakin lama semakin merosot. Penggunaan bahan kimia bukanlah pilihan. Ia hanya menunda akhir yang sudah pasti. Barangkali benar kata kata sejarawan dan pemikir Inggris, Thomas Fuller, "We never know the worth of water till the well is dry. ” 

Jumat, 07 Desember 2012

Draw Your Future

Pada akhir 2005 ketika baru saja lulus SMA saya bermimpi untuk bisa melanjutkan kuliah. Ya bermimpi. Kondisi ekonomi keluarga saya saat itu membuat kemewahan seperti pendidikan tinggi bagi kami hanya bisa dicapai dalam angan-angan saja. Biaya pendidikan yang saat itu berkisar dua jutaan membuat saya dan ibu harus diam, karena untuk makan sehari-hari saja kami seringkali harus berhutang. Ibu saya membesarkan hati dengan berkata jika memang rezeki Allah akan memberikan jalan. Saat itu saya sudah sadar diri dan mencoba membuang jauh keinginan untuk bisa menikmati kuliah.

Hampir awal dekade 2000an merupakan momen terpuruk keluarga kami. Dirundung hutang, dilupakan saudara, didera masalah keluarga yang tak berkesudahan dan terjebak dalam sebuah kondisi dimana kami harus benar-benar mengikat pinggang untuk bisa makan. Saya sendiri memiliki adik yang masih sekolah di tingkat SMP yang membutuhkan dana tak sedikit. Seringkali saya mesti bekerja serabutan menjual kerupuk untuk membiayai hidup, memberi uang saku dan menyisakan sedikit untuk bersenang-senang.

Saya tak bilang hidup saya keras. Barangkali hanya sedikit lebih membutuhkan usaha dari kebanyakan orang.

Ketika ramai pendaftaran Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) ramai dibicarakan, saya tengah sibuk memikirkan kemungkinan untuk bekerja penuh bersama ibu sebagai penjual kerupuk. Atau bahkan membuka usaha rental penyewaan playstation 2 yang sangat digandrungi. Tapi ibu saya bilang saya harus sekolah bagaimana pun caranya. Ia bilang mau menjual emas simpananannya yang terakhir untuk mendaftarkan saya kuliah. Saya bilang tak usah, lebih baik itu digunakan untuk nanti adik saya mendaftar SMA. Ibu setuju.

Hingga pada suatu saat saya mendengar kabar bahwa kakak saya yang selama ini di Jakarta telah mendapat pekerjaan yang lumayan mapan. Dia menganjurkan saya untuk lanjut kuliah di perguruan tinggi. Ah yang benar? Saya kuliah? Ia bahkan meminta saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Seperti ikut les bimbingan belajar dan mendaftar SPMB. Di luar dugaan, ayah saya yang selama ini tak pernah peduli dengan saya juga mengatakan hal yang sama. Ia mau bantu membayar biaya bimbingan belajar.

Saya terbiasa untuk tak banyak berharap, Seringkali harapan membuat saya sakit hati. Kabar bahwa ada seseorang yang mau menjamin dan membiayai saya kuliah terlalu muluk untuk bisa ditunaikan. Tapi saya tetap menjalani hari seperti biasanya. Membantu ibu menggoreng dan menjajakan kerupuk. Bedanya setiap pagi sampai menjelang siang saya ikut bimbingan belajar mempersiapkan SPMB. Menariknya saya ingin ambil jurusan IPS padahal saya dari IPA, sehingga saya belajar lagi pelajaran IPS SMA dari nol.

Dengan berbekal 175ribu saya mendaftar SPMB dengan pilihan IPC. Mengenai jurusan saya tak paham benar yang penting saya bisa kuliah itu sudah cukup. Bersama kawan-kawan almamater SMA saya berangkat ke kota sebelah untuk mendaftar yang saat itu belum ada fasilitas transfer bank. Di perjalanan saya berpikir, apakah ini keputusan yang benar? Keluarga saya bukan keluarga kaya. Bagaimana jika nanti ditengah perjalanan kuliah biaya hidup berhenti? Pelan-pelan ketakutan menelan kesadaran dan membuat saya ragu untuk lanjut kuliah.

Dalam salah satu kutipan masyurnya Nelson Mandela, pemimpin besar Afrika Selatan, mengatakan “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan merupakan satu alat yang paling memungkinkan seseorang dan sebuah negara untuk maju dan mendapatkan kemakmuran. Saat itu saya tak paham benar mengapa saya memutuskan untuk kuliah. Barangkali hanya sekedar untuk ikutan sebuah trend. Bahwa jadi anak kuliah lantas tinggal di kosan jauh dari orang tua itu keren. 

Tapi apakah pendidikan itu sendiri?

Pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan karakter, pemberian kemampuan pada individu agar ia berdaya dan berkemampuan secara independen. Tanpa sebuah penddidikan menjadi manusia yang berdaya bisa jadi adalah kemustahilan. Tanpa sebuah pendidikan seseorang akan sangat sulit meraih kemandirian, yang berarti juga ia rentan menjadi korban dan akan selalu kalah. Saya percaya semestinya pendidikan adalah hak dasar setiap warga yang harus dipenuhi. Namun kita kerap kali dibokong oleh realitas yang ada. Pendidikan berkualitas kerapkali hanya serupa mimpi di siang bolong.

Melalui pendidikan tinggi banyak hal yang kini saya nikmati hasilnya. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, jaringan pertemanan yang luas dan juga kemampuan untuk berpikir secara lebih luas. Jatuh cinta pada buku dan kegiatan menulis barangkali adalah capaian paling luarbiasa yang bisa diberikan pendidikan tinggi pada saya. Dua kegiatan ini membuat saya terbang jauh melebihi angan-angan saya sebagai seorang mahasiswa yang hanya bisa duduk diam termanggu dalam kelas.

Kakak saya yang ketiga barangkali bisa menjadi salah satu potret keberhasilan pendidikan merubah nasib seseorang. Ia diterima di tiga universitas berbeda ketika UMPTN dulu ia lantas mantap memilih IPB sebagai lokasi kuliah. Ada banyak alasan yang menyertai. Selain jaringan alumni yang luas, IPB dirasa masih menjadi universitas yang memiliki jalur pembiayaan yang sedikit lebih manusiawai dari universitas lain.

Menyadari kami dari keluarga yang tak lagi mampu ia belajar sungguh-sungguh. Dibiayai oleh beasiswa dan juga hutang sana sini oleh ibu dan Sonny kakak kedua saya, dalam tempo 3 tahun 8 bulan ia menyelesaikan kuliah dengan predikat lulusan terbaik IPB pada zamannya. Kak Sonny bahkan harus kerja serabutan untuk membiayai pendidikan kakak saya yang ketiga. Ia bahkan lantas berhenti kuliah agar bisa membantu pembiayaan kakak saya.

Dengan berbekal nilai terbaik dan lulusan universitas mentereng kakak saya diterima di perusahaan multinasional. Namun bukan ini yang menjadi poin penting dari sebuah pendidikan. 

Kami yakin pendidikan tinggi adalah salah satu dari jalan paling efektif untuk memberikan kesempatan pada seseorang untuk meraih kemandirian hidup, kesuksesan dalam bekerja dan kemakmuran. Kakak saya bisa meraih kemandirian finansial diusia yang bisa dikatakan masih sangat muda. Ia mensuport keluarga kami dan mampu membiayai pendidikan saya hingga tamat kuliah. Karena pada akhirnya kami sepakat kata pemikir dan novelis C.S Lewis “The task of the modern educator is not to cut down jungles, but to irrigate deserts.” 

Kemiskinan dan ketidakmampuan secara finansial membuat kami dulu berkhayal bahwa pendidikan tinggi adalah mimpi belaka. Namun berkat bantuan orang lain yang konsern dalam hal pendidikan kami bisa meraih mimpi mendapatkan pendidikan yang layak. Dari hal inilah kami memulai mimpi bersama. Membantu orang lain yang tidak mampu namun memiliki potensi tinggi, untuk meraih pendidikan tinggi dengan bantuan donatur.

Kakak dan saya lantas merintis sebuah yayasan untuk membiayai calon mahasiswa atau mahasiswa kurang mampu untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Terinspirasi dari sistem student loan dan yayasan yang dibentuk oleh eks presiden AS Bill Clinton. Sistemnya sederhana kami membiayai kebutuhan bulanan dan kuliah mahasiswa tersebut hingga 4 tahun. Jangka waktu standar seorang mahasiswa untuk meraih gelar sarjana. Lantas ketika ia lulus ia kami minta secara aktif membantu lembaga kami sebagai donatur untuk membantu mahasiswa lain kuliah. 

Dana yayasan kami merupakan sumbangan lembaga atau perseorangan yang tidak memiliki tujuan apapun alias diberikan secara cuma-cuma dan tanpa ikatan. Kakak saya menggalang lebih dari 2 juta sebulan dari urunan kawan-kawannya yang memiliki konsern yang sama. Caranya setiap bulan mereka menyetor secara otomatis ke rekening yayasan kami. Kisarannya sumbangan tersebut tak dibatasi. Mulai dari 10ribu rupiah sampai dengan satu juta rupiah. Angka ini terus membesar seiring tersebarnya kampanye ini.

Saya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Romo Mangun perihal tanggung jawab solidaritas pendidikan. Baginya tanggung jawab utama mendapat pendidikan berada pada orang tua, lantas masyarakat/komunitas sekitarnya, terakhir adalah negara. Saya dan kakak saya tak ingin berusaha menjadi pahlawan kesiangan dengan berusaha memberikan bantuan. Lebih dari itu kami adalah pemimpi yang yakin masih ada kesalihan sosial orang-orang di Indonesia yang rela berbagi untuk pendidikan orang lain.

Gerakan kakak saya ini sudah berjalan selama setahun terakhir. Ia tengah membiayai pendidikan seorang mahasiswa di salah satu universitas swasta di Bandung. Komitmennya jelas ketika ia lulus nanti ia akan membantu lembaga sebagai donatur. Menariknya besaran sumbangan tak ditentukan. Kakak saya bilang ia sadar gaji seorang fresh graduate tidaklah besar. Namun kontuinitas danalah yang menjadi penggerak sebuah yayasan terus hidup.

Alumnus lembaga ini tak dikenai besaran wajib berapa mesti membalas "hutang" selama ia dibiayai kuliah. Hanya sekedar tawaran menjadi donatur tetap atau hanya sekedar melunasi "hutang" tadi. Kemampuan membayar disesuaikan dengan keinginan. Begitu juga jangka waktunya. Gerakan ini bukanlah gerakan yang mengutamakan profit namun juga tak naif menyadari bahwa para pengurus gerakan ini butuh makan. Dana dari para donatur akan digunakan sebagai pembiayaan kuliah dan juga gaji para staffnya. Itupun nanti jika donatur semakin banyak dan yayasan benar-benar mapan. 

Untuk saat ini? Kami bergerak serupa gerilyawan yang blusukan cari sumbangan di sana-sini.

Saat menulis ini seluruh tubuh saya diiringi semangat menggebu. Entah mengapa saya ingin segera turut ambil bagian dan menjadi suporter. Mungkin saya hanya melankolis mengingat masa lalu ketika kemiskinan begitu menjerat dan kuliah hanya sekedar mimpi. Ah can't wait to draw my own the future.

Rabu, 05 Desember 2012

Bon Voyage Mendieta



Di Indonesia tragedi, seperti juga kematian, adalah sebuah perayaan yang dibesar-besarkan. Ada tangis, kesedihan dan perpisahan. Tapi ada pula kasak kusuk, cerita busuk dan segenap bumbu lain bernama fitnah.

Barangkali tak susah bagi kita untuk mengingat kematian yang tak disertai oleh omongan-omongan tak perlu. Tentang bagaimana sebuah kematian bisa disebabkan oleh dosa yang menumpuk.  Di sini kualitas manusia hidup seringkali tak lebih baik dari sebuah mayat yang perlahan menjadi bangkai. Kita mengenal azab. Bahwa ajal manusia merupakan pembalasan atas sebuah kejahatan. Seolah-olah Tuhan adalah anak kecil yang mendendam.

Apakah kematian itu selalu sebuah takdir yang tegas?

Saya kira tidak. Kematian tak bisa dihindari. Namun sebuah kematian akibat alasan yang tak perlu semestinya bisa ditangguhkan. Ketika kemajuan teknologi kesehatan dan pemikiran sudah mencapai tahap pari purna. Kematian akibat alasan sepele seharusnya tak perlu terjadi. Apalagi hanya karena ketidakpedulian…

Tapi apakah benar kematian tak bisa dilawan? Diego Mendieta, seorang lelaki tinggi dengan tubuh kekar dan sehat. Ketika ia tiba di Indonesia ia tak pernah berpikir akan terbunuh oleh kelelahan akibat sesuatu yang ia cintai. Sepak bola. Tapi bukankah kita sepakat bahwa tuhan selalu punya lelucon yang tak tuntas? Seringkali cinta yang menggebu membunuh paling cepat.

Diego luput dari panggung cerita utama media. Padahal ia, seperti juga mungkin ratusan pemain sepak bola lain di tanah ini, sedang menunggu kepastian. Perihal kisruh yang melahirkan terlalu banyak kebohongan, kekecewaan dan sumpah serapah. Media kita lebih suka kekerasan, sensasi dan skandal. Ada Diego lain yang lebih cocok dari peran ini, yang barangkali kemampuannya tak lebih baik dari Diego kita.

Di Paraguay Diego meninggalkan istri dan dua orang anak. Barangkali ketika ia berpisah dengan anak istrinya ia berjanji banyak hal. Tentang sebuah rumah sederhana yang kelak akan dimiliki seusai pulang dari Indonesia. Barangkali pula, sebagai seorang ayah, Diego berjanji pada anaknya beberapa buah mainan. Sebuah robot-robotan dengan sinar merah yang memancarkan laser. Tapi semua itu kini tak penting lagi. Sang ayah, sang suami, sang matahari sudah meredup mati.

Siapa yang salah? Tak ada yang patut disalahkan pada sebuah kematian. Tidak juga tuhan.

Kematian semestinya bukan tragedi. Ia adalah perpisahan agung. Karena hidup manusia akhirnya purna dengan beralihnya alam. Namun apakah kematian itu perlu dirayakan? Ketika peristiwa kudus itu terjadi akibat kelalaian seseorang? Keacuhan yang melahirkan drama? Tak ada kehormatan pada seseorang yang membiarkan kematian, sementara ia bisa menyelamatkan hidup. Manusia yang demikian adalah kehinaan yang nyata.

“Aku hanya ingin tiket pulang ke rumah. Agar aku bisa bertemu dengan mama,” kata Diego menjelang sakratul maut. Kira-kira begitu. Ada yang lelah dalam kalimat itu. Sebuah penerimaan akan kekalahan dan rasa rindu yang teramat sangat. Siapakah manusia yang bisa dengan keji menafikan permintaan semacam ini? Adakah harga dari sebuah keinginan? Atau semua atas nama ambisi adalah fana belaka.

Perlu ada sebuah perubahan. Kita bersama tahu siapa pihak berseteru yang menyebabkan petaka ini. Semestinya mereka menyadari di antara perang dua gajah yang berseteru, akan ada kehancuran yang menyertai. Ataukah kata-kata sudah kehilangan daya, sehingga kalimat-kalimat tak lagi dipahami. Seruan dilupakan dan peringatan ditanggalkan. Kita adalah manusia-manusia nir bahasa yang tak lagi mampu mengeyam perbincangan.

Kisah hidup Diego Miendeata membuat saya teringat sebuah sajak pendek milik Alexander Sergeyevich Pushkin. Dalam Solitude ia berbicara soal mimpi dan hidup yang layak dengan lirih. “He's blessed, who lives in peace, that's distant” katanya. “ From the ignorant fobs with calls, Who can provide his every instance. With dreams, or labors, or recalls;” adakah sebuah igauan berarti ketika maut menjemput? Saya kira ia tak pernah berarti apa-apa.