Rabu, 05 Desember 2012

Bon Voyage Mendieta



Di Indonesia tragedi, seperti juga kematian, adalah sebuah perayaan yang dibesar-besarkan. Ada tangis, kesedihan dan perpisahan. Tapi ada pula kasak kusuk, cerita busuk dan segenap bumbu lain bernama fitnah.

Barangkali tak susah bagi kita untuk mengingat kematian yang tak disertai oleh omongan-omongan tak perlu. Tentang bagaimana sebuah kematian bisa disebabkan oleh dosa yang menumpuk.  Di sini kualitas manusia hidup seringkali tak lebih baik dari sebuah mayat yang perlahan menjadi bangkai. Kita mengenal azab. Bahwa ajal manusia merupakan pembalasan atas sebuah kejahatan. Seolah-olah Tuhan adalah anak kecil yang mendendam.

Apakah kematian itu selalu sebuah takdir yang tegas?

Saya kira tidak. Kematian tak bisa dihindari. Namun sebuah kematian akibat alasan yang tak perlu semestinya bisa ditangguhkan. Ketika kemajuan teknologi kesehatan dan pemikiran sudah mencapai tahap pari purna. Kematian akibat alasan sepele seharusnya tak perlu terjadi. Apalagi hanya karena ketidakpedulian…

Tapi apakah benar kematian tak bisa dilawan? Diego Mendieta, seorang lelaki tinggi dengan tubuh kekar dan sehat. Ketika ia tiba di Indonesia ia tak pernah berpikir akan terbunuh oleh kelelahan akibat sesuatu yang ia cintai. Sepak bola. Tapi bukankah kita sepakat bahwa tuhan selalu punya lelucon yang tak tuntas? Seringkali cinta yang menggebu membunuh paling cepat.

Diego luput dari panggung cerita utama media. Padahal ia, seperti juga mungkin ratusan pemain sepak bola lain di tanah ini, sedang menunggu kepastian. Perihal kisruh yang melahirkan terlalu banyak kebohongan, kekecewaan dan sumpah serapah. Media kita lebih suka kekerasan, sensasi dan skandal. Ada Diego lain yang lebih cocok dari peran ini, yang barangkali kemampuannya tak lebih baik dari Diego kita.

Di Paraguay Diego meninggalkan istri dan dua orang anak. Barangkali ketika ia berpisah dengan anak istrinya ia berjanji banyak hal. Tentang sebuah rumah sederhana yang kelak akan dimiliki seusai pulang dari Indonesia. Barangkali pula, sebagai seorang ayah, Diego berjanji pada anaknya beberapa buah mainan. Sebuah robot-robotan dengan sinar merah yang memancarkan laser. Tapi semua itu kini tak penting lagi. Sang ayah, sang suami, sang matahari sudah meredup mati.

Siapa yang salah? Tak ada yang patut disalahkan pada sebuah kematian. Tidak juga tuhan.

Kematian semestinya bukan tragedi. Ia adalah perpisahan agung. Karena hidup manusia akhirnya purna dengan beralihnya alam. Namun apakah kematian itu perlu dirayakan? Ketika peristiwa kudus itu terjadi akibat kelalaian seseorang? Keacuhan yang melahirkan drama? Tak ada kehormatan pada seseorang yang membiarkan kematian, sementara ia bisa menyelamatkan hidup. Manusia yang demikian adalah kehinaan yang nyata.

“Aku hanya ingin tiket pulang ke rumah. Agar aku bisa bertemu dengan mama,” kata Diego menjelang sakratul maut. Kira-kira begitu. Ada yang lelah dalam kalimat itu. Sebuah penerimaan akan kekalahan dan rasa rindu yang teramat sangat. Siapakah manusia yang bisa dengan keji menafikan permintaan semacam ini? Adakah harga dari sebuah keinginan? Atau semua atas nama ambisi adalah fana belaka.

Perlu ada sebuah perubahan. Kita bersama tahu siapa pihak berseteru yang menyebabkan petaka ini. Semestinya mereka menyadari di antara perang dua gajah yang berseteru, akan ada kehancuran yang menyertai. Ataukah kata-kata sudah kehilangan daya, sehingga kalimat-kalimat tak lagi dipahami. Seruan dilupakan dan peringatan ditanggalkan. Kita adalah manusia-manusia nir bahasa yang tak lagi mampu mengeyam perbincangan.

Kisah hidup Diego Miendeata membuat saya teringat sebuah sajak pendek milik Alexander Sergeyevich Pushkin. Dalam Solitude ia berbicara soal mimpi dan hidup yang layak dengan lirih. “He's blessed, who lives in peace, that's distant” katanya. “ From the ignorant fobs with calls, Who can provide his every instance. With dreams, or labors, or recalls;” adakah sebuah igauan berarti ketika maut menjemput? Saya kira ia tak pernah berarti apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar