Jumat, 07 Desember 2012

Draw Your Future

Pada akhir 2005 ketika baru saja lulus SMA saya bermimpi untuk bisa melanjutkan kuliah. Ya bermimpi. Kondisi ekonomi keluarga saya saat itu membuat kemewahan seperti pendidikan tinggi bagi kami hanya bisa dicapai dalam angan-angan saja. Biaya pendidikan yang saat itu berkisar dua jutaan membuat saya dan ibu harus diam, karena untuk makan sehari-hari saja kami seringkali harus berhutang. Ibu saya membesarkan hati dengan berkata jika memang rezeki Allah akan memberikan jalan. Saat itu saya sudah sadar diri dan mencoba membuang jauh keinginan untuk bisa menikmati kuliah.

Hampir awal dekade 2000an merupakan momen terpuruk keluarga kami. Dirundung hutang, dilupakan saudara, didera masalah keluarga yang tak berkesudahan dan terjebak dalam sebuah kondisi dimana kami harus benar-benar mengikat pinggang untuk bisa makan. Saya sendiri memiliki adik yang masih sekolah di tingkat SMP yang membutuhkan dana tak sedikit. Seringkali saya mesti bekerja serabutan menjual kerupuk untuk membiayai hidup, memberi uang saku dan menyisakan sedikit untuk bersenang-senang.

Saya tak bilang hidup saya keras. Barangkali hanya sedikit lebih membutuhkan usaha dari kebanyakan orang.

Ketika ramai pendaftaran Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) ramai dibicarakan, saya tengah sibuk memikirkan kemungkinan untuk bekerja penuh bersama ibu sebagai penjual kerupuk. Atau bahkan membuka usaha rental penyewaan playstation 2 yang sangat digandrungi. Tapi ibu saya bilang saya harus sekolah bagaimana pun caranya. Ia bilang mau menjual emas simpananannya yang terakhir untuk mendaftarkan saya kuliah. Saya bilang tak usah, lebih baik itu digunakan untuk nanti adik saya mendaftar SMA. Ibu setuju.

Hingga pada suatu saat saya mendengar kabar bahwa kakak saya yang selama ini di Jakarta telah mendapat pekerjaan yang lumayan mapan. Dia menganjurkan saya untuk lanjut kuliah di perguruan tinggi. Ah yang benar? Saya kuliah? Ia bahkan meminta saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Seperti ikut les bimbingan belajar dan mendaftar SPMB. Di luar dugaan, ayah saya yang selama ini tak pernah peduli dengan saya juga mengatakan hal yang sama. Ia mau bantu membayar biaya bimbingan belajar.

Saya terbiasa untuk tak banyak berharap, Seringkali harapan membuat saya sakit hati. Kabar bahwa ada seseorang yang mau menjamin dan membiayai saya kuliah terlalu muluk untuk bisa ditunaikan. Tapi saya tetap menjalani hari seperti biasanya. Membantu ibu menggoreng dan menjajakan kerupuk. Bedanya setiap pagi sampai menjelang siang saya ikut bimbingan belajar mempersiapkan SPMB. Menariknya saya ingin ambil jurusan IPS padahal saya dari IPA, sehingga saya belajar lagi pelajaran IPS SMA dari nol.

Dengan berbekal 175ribu saya mendaftar SPMB dengan pilihan IPC. Mengenai jurusan saya tak paham benar yang penting saya bisa kuliah itu sudah cukup. Bersama kawan-kawan almamater SMA saya berangkat ke kota sebelah untuk mendaftar yang saat itu belum ada fasilitas transfer bank. Di perjalanan saya berpikir, apakah ini keputusan yang benar? Keluarga saya bukan keluarga kaya. Bagaimana jika nanti ditengah perjalanan kuliah biaya hidup berhenti? Pelan-pelan ketakutan menelan kesadaran dan membuat saya ragu untuk lanjut kuliah.

Dalam salah satu kutipan masyurnya Nelson Mandela, pemimpin besar Afrika Selatan, mengatakan “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan merupakan satu alat yang paling memungkinkan seseorang dan sebuah negara untuk maju dan mendapatkan kemakmuran. Saat itu saya tak paham benar mengapa saya memutuskan untuk kuliah. Barangkali hanya sekedar untuk ikutan sebuah trend. Bahwa jadi anak kuliah lantas tinggal di kosan jauh dari orang tua itu keren. 

Tapi apakah pendidikan itu sendiri?

Pendidikan adalah sebuah proses pendewasaan karakter, pemberian kemampuan pada individu agar ia berdaya dan berkemampuan secara independen. Tanpa sebuah penddidikan menjadi manusia yang berdaya bisa jadi adalah kemustahilan. Tanpa sebuah pendidikan seseorang akan sangat sulit meraih kemandirian, yang berarti juga ia rentan menjadi korban dan akan selalu kalah. Saya percaya semestinya pendidikan adalah hak dasar setiap warga yang harus dipenuhi. Namun kita kerap kali dibokong oleh realitas yang ada. Pendidikan berkualitas kerapkali hanya serupa mimpi di siang bolong.

Melalui pendidikan tinggi banyak hal yang kini saya nikmati hasilnya. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, jaringan pertemanan yang luas dan juga kemampuan untuk berpikir secara lebih luas. Jatuh cinta pada buku dan kegiatan menulis barangkali adalah capaian paling luarbiasa yang bisa diberikan pendidikan tinggi pada saya. Dua kegiatan ini membuat saya terbang jauh melebihi angan-angan saya sebagai seorang mahasiswa yang hanya bisa duduk diam termanggu dalam kelas.

Kakak saya yang ketiga barangkali bisa menjadi salah satu potret keberhasilan pendidikan merubah nasib seseorang. Ia diterima di tiga universitas berbeda ketika UMPTN dulu ia lantas mantap memilih IPB sebagai lokasi kuliah. Ada banyak alasan yang menyertai. Selain jaringan alumni yang luas, IPB dirasa masih menjadi universitas yang memiliki jalur pembiayaan yang sedikit lebih manusiawai dari universitas lain.

Menyadari kami dari keluarga yang tak lagi mampu ia belajar sungguh-sungguh. Dibiayai oleh beasiswa dan juga hutang sana sini oleh ibu dan Sonny kakak kedua saya, dalam tempo 3 tahun 8 bulan ia menyelesaikan kuliah dengan predikat lulusan terbaik IPB pada zamannya. Kak Sonny bahkan harus kerja serabutan untuk membiayai pendidikan kakak saya yang ketiga. Ia bahkan lantas berhenti kuliah agar bisa membantu pembiayaan kakak saya.

Dengan berbekal nilai terbaik dan lulusan universitas mentereng kakak saya diterima di perusahaan multinasional. Namun bukan ini yang menjadi poin penting dari sebuah pendidikan. 

Kami yakin pendidikan tinggi adalah salah satu dari jalan paling efektif untuk memberikan kesempatan pada seseorang untuk meraih kemandirian hidup, kesuksesan dalam bekerja dan kemakmuran. Kakak saya bisa meraih kemandirian finansial diusia yang bisa dikatakan masih sangat muda. Ia mensuport keluarga kami dan mampu membiayai pendidikan saya hingga tamat kuliah. Karena pada akhirnya kami sepakat kata pemikir dan novelis C.S Lewis “The task of the modern educator is not to cut down jungles, but to irrigate deserts.” 

Kemiskinan dan ketidakmampuan secara finansial membuat kami dulu berkhayal bahwa pendidikan tinggi adalah mimpi belaka. Namun berkat bantuan orang lain yang konsern dalam hal pendidikan kami bisa meraih mimpi mendapatkan pendidikan yang layak. Dari hal inilah kami memulai mimpi bersama. Membantu orang lain yang tidak mampu namun memiliki potensi tinggi, untuk meraih pendidikan tinggi dengan bantuan donatur.

Kakak dan saya lantas merintis sebuah yayasan untuk membiayai calon mahasiswa atau mahasiswa kurang mampu untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Terinspirasi dari sistem student loan dan yayasan yang dibentuk oleh eks presiden AS Bill Clinton. Sistemnya sederhana kami membiayai kebutuhan bulanan dan kuliah mahasiswa tersebut hingga 4 tahun. Jangka waktu standar seorang mahasiswa untuk meraih gelar sarjana. Lantas ketika ia lulus ia kami minta secara aktif membantu lembaga kami sebagai donatur untuk membantu mahasiswa lain kuliah. 

Dana yayasan kami merupakan sumbangan lembaga atau perseorangan yang tidak memiliki tujuan apapun alias diberikan secara cuma-cuma dan tanpa ikatan. Kakak saya menggalang lebih dari 2 juta sebulan dari urunan kawan-kawannya yang memiliki konsern yang sama. Caranya setiap bulan mereka menyetor secara otomatis ke rekening yayasan kami. Kisarannya sumbangan tersebut tak dibatasi. Mulai dari 10ribu rupiah sampai dengan satu juta rupiah. Angka ini terus membesar seiring tersebarnya kampanye ini.

Saya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Romo Mangun perihal tanggung jawab solidaritas pendidikan. Baginya tanggung jawab utama mendapat pendidikan berada pada orang tua, lantas masyarakat/komunitas sekitarnya, terakhir adalah negara. Saya dan kakak saya tak ingin berusaha menjadi pahlawan kesiangan dengan berusaha memberikan bantuan. Lebih dari itu kami adalah pemimpi yang yakin masih ada kesalihan sosial orang-orang di Indonesia yang rela berbagi untuk pendidikan orang lain.

Gerakan kakak saya ini sudah berjalan selama setahun terakhir. Ia tengah membiayai pendidikan seorang mahasiswa di salah satu universitas swasta di Bandung. Komitmennya jelas ketika ia lulus nanti ia akan membantu lembaga sebagai donatur. Menariknya besaran sumbangan tak ditentukan. Kakak saya bilang ia sadar gaji seorang fresh graduate tidaklah besar. Namun kontuinitas danalah yang menjadi penggerak sebuah yayasan terus hidup.

Alumnus lembaga ini tak dikenai besaran wajib berapa mesti membalas "hutang" selama ia dibiayai kuliah. Hanya sekedar tawaran menjadi donatur tetap atau hanya sekedar melunasi "hutang" tadi. Kemampuan membayar disesuaikan dengan keinginan. Begitu juga jangka waktunya. Gerakan ini bukanlah gerakan yang mengutamakan profit namun juga tak naif menyadari bahwa para pengurus gerakan ini butuh makan. Dana dari para donatur akan digunakan sebagai pembiayaan kuliah dan juga gaji para staffnya. Itupun nanti jika donatur semakin banyak dan yayasan benar-benar mapan. 

Untuk saat ini? Kami bergerak serupa gerilyawan yang blusukan cari sumbangan di sana-sini.

Saat menulis ini seluruh tubuh saya diiringi semangat menggebu. Entah mengapa saya ingin segera turut ambil bagian dan menjadi suporter. Mungkin saya hanya melankolis mengingat masa lalu ketika kemiskinan begitu menjerat dan kuliah hanya sekedar mimpi. Ah can't wait to draw my own the future.

1 komentar:

  1. Kalau kata Anne Lindbergh, one can never pay in gratitude, one can only pay 'in kind' somewhere else in life. Pay it forward. Nice article btw. Sukses membuat saya somehow terharu. Salam kenal :)

    BalasHapus