Sabtu, 15 Desember 2012

Tak Perlu Menyintas

Kawan saya semalam mengeluh ia tak bisa move on dari mantan pacarnya. Ia gadis yang manis dengan berbagai pesona sebenarnya bisa saja mendapat lelaki yang ia mau. Toh diam pun sudah banyak lelaki yang mengejarnya lintang pukang. Tapi ya dasarnya perasaan, ia bilang tak bisa memilih salah satu. Ia masih sayang dengan mantan pacarnya itu. Lelaki yang membuatnya mabuk kepayang sampe menahun menahan rindu. "Kadang kala aku cape Dhan, ditelikung perasaan sendiri. Belum tentu mantanku kepikiran seperti yang aku lakukan. Ini sia-sia,"

Sudah tahu sia-sia mengapa kau lakukan menahun? 

"Ah kau tak tahu alasannya. Kau lelaki! Mudah saja kau cari gantinya," jawab kawan saya itu marah-marah. Barangkali benar, saya tak paham benar rasanya. Butuh kerja keras untuk bisa move on atau saya lebih suka menyebutnya 'menyintas'. Jatuh cinta itu perkara mudah, tapi melupakan kau perlu kerja keras untuk duduk lama sendirian. Berkelahi dengan perasaan sendiri, bayang-bayang masa lalu lantas kau akan digerogoti kesunyian yang kau ciptakan sendiri. Menyintas tak pernah mudah tidak semudah kau merindu atau berkata aku baik-baik saja.

Lagipula memangnya mengapa jika tak menyintas? Toh perasaan melankoli berlebihan tak melulu jelak. Kukira Nietzsche tak bakal bikin karya monumental Thus Spoke Zarathustra jika kisah percintaannya dengan Lou Andreas Salomé lancar saja. Atau kau tak akan mendapat puisi Chairil Anwar begitu mengiris sekiranya percintaan dengan Mirat lancar. Begitu juga dengan Albert Camus tak akan pernah membikin novel semi monolog La Chute jika hubungan persahabatannya dengan Jean Paul Sartre baik-baik saja. Di dunia ini perasaan menggigil karena cinta tak berbalas juga menghasilkan eskapisme yang menakjubkan.

Mengapa harus takut dikatakan manusia yang gagal menyintas perasaan sedih? Toh terlalu banyak cara untuk dilakukan ketika sedih ketimbang menangis sendirian. Beberapa dari kita menikmati rasa haru kegagalan dengan alkohol, yang lain dengan membebat telinga lantas menggeber musik hingga batas suara maksimum, ada pula yang sibuk melumasi kemaluan dengan pemenuhan hasrat birahi dengan sembarang orang, sedikit yang luluh tertekuk sujud diharibaan altar tuhan dan mengadu seperti kanak-kanak yang gagal piknik.

Haruskah kita menyintas? Saya kira tidak. Jika menyintas hanya karena paksaan atau lelah diolok-olok kawan, itu sama seperti kau pindah agama hanya karena tuhanmu tak lagi populer. Menyintas adalah persoalan pilihan. Jika tak ada yang salah atau tak ada alasan tepat menyintas mengapa memaksakan diri? Tak ikhlas menyintas hanya membuat permasalahan yang ada tertunda. Tak benar-benar tuntas menyintas malah bukan tak mungkin masalah yang dipendam karena menyintas prematur akan semakin besar.

"Tapi kan gak mau move on itu kan gak sehat. Masokis," kata kawan saya itu berdebat. Manusia adalah manusia masokis. Mereka bekerja 8 jam sehari untuk mencari uang dengan keras. Lantas menghabiskan seluruh penghasilannya itu dalam waktu yang singkat. Lantas manusia menyesali keputusan itu namun tetap mengulang bekerja lagi 8 jam sehari untuk bersenang-senang dengan cara yang sama. Lantas apa bedanya dengan mereka yang gagal menyintas?

Atau kau lupa bagaimana Yesus menerima dera sakit untuk menebus dosa manusia? Ataukah kau lupa Sridarta Ghautama semadi menahan lapar dibawah pohon bodi mengingat siklus kehidupan manusia? Atau sumpah Muhammad tak akan masuk ke dalam surga sebelum umat manusia terakhir masuk di dalamnya? Penderitaan adalah jalan lain kebahagiaan. Ia membuat manusia menyadari kedaifan diri, bahwa ia adalah hina dan kebahagiaan seharusnya diraih oleh perjuangan. Menyintas adalah perkara proses yang seringkali digawat-gawatkan keberadaannya. 

Kita sebenarnya begitu akrab pada penderitaan.

Menderita adalah laku awal manusia. Dalam banyak kisah penderitaan adalah basis dari sebuah peradaban.  Istanbul, Karbala, Stalingard, Madiun, dan Yerusalem adalah sedikit bukti bahwa cinta yang buta hanya melahirkan perih. Tak pernah ada umat beragama yang mampu menyintas dari kota yang berarti surga damai itu. Perang adalah bukti kecintaan manusia pada penderitaan. Mereka asyik bersyukur dalam perih dan rasa sakit. Mereka membutuhkan musuh untuk bisa menciptakan perdamaian.

"Kejauhan Dhan, ini gue lagi ngomongin mantan gue. Gue pengen balikan tapi ditolak. Gengsi dong ngemis-ngemis," katanya. Untuk kebahagiaanmu sendiri kau membuat tembok batas kesombongan. Lantas berharap semuanya baik-baik saja dan berujung gembira? Ini seperti kau tengah kelaparan di tengah hutan, lantas menemukan sepotong ayam panggang. Karena telah memutuskan menjadi vegan kau menolak memakan daging, karena berkomitmen untuk hanya menkonsumsi sayuran. Itu konyol, perasaanmu semestinya tak lebih baik dari hidupmu.

"Ngomong mah gampang Dhan. Ini gue yang ngerasain," sergahnya lagi. Tentu benar. Manusia tak pernah benar-benar bisa memahami perasaan orang lain. Kita hanya bisa meraba, mencoba mengerti, atau pura-pura mengerti. Toh perasaan, seperti juga nasib, adalah kesunyian masing-masing. Perasaan adalah sebuah keunikan. Ia bisa hadir seperti seorang maling. Dalam rintik hujan, wangi nasi goreng, potongan lagu atau bahkan wajah orang asing. Perasaan, seperti juga kenangan, adalah kemampuan manusia untuk terus hidup manusiawi.

Menyintas semestinya adalah sebuah berkah. Seperti juga luka yang membuat manusia sadar bahwa dirinya lemah. Menyintas akan menyisakan tanda. Barangkali semacam epitaph ketika momen perubahan diri telah selesai dilakukan. Tapi bagi saya menyintas adalah sebuah proses tanpa akhir. Selama manusia hidup menyintas tak akan pernah usai. Ia adalah bahan bakar yang selalu membuat manusia dinamis. Ketika menyintas usai, selesai pula tugas manusia untuk hidup.

"Kalo udah kangen gini gue cuma bisa nangis. Gak enak tahu nahan kangen belum tentu yang dikangenin ngerasa juga. Kalo gini gue suka kesel ama Tuhan, dia itu jodoh gue bukan sih?" ujar kawan saya itu. Kini kau menyalahkan tuhan. Padahal tak sedikit manusia yang jatuh cinta menasbihkan peristiwa tersebut sebagai berkah tuhan. Tuhan yang maha kasih telah memberikan manusia kesempatan untuk bisa mencintai sesamanya. Kini setelah semua usai manusia pula mengutuk tuhan sebagai entitas tak berperasaan.

Barangkali pun manusia harus diciptakan seperti malaikat yang tak disertai perasaan. Bekerja secara otomatik seperti gigi roda. Lantas berinteraksi seperlu dan sebutuhnya saja. "Garing amat idup kalo cuma begitu," potong kawan saya itu. Ia yang sedari tadi merutuki perasaanya yang tak bisa hilang lantas mengkritisi hidup tanpa perasaan. Saya seringkali tak habis pikir pada kemampuan manusia untuk tidak puas. Barangkali hanya ini kualitas manusia yang merata di seluruh dunia.

"Yaudah sih Dhan. Gue juga gak ngarep-ngarep amat balik. Masih ada yang lebih kece dari dia," kata kawan saya itu. Kau akan dikejutkan oleh kemampuan manusia untuk berubah pendapat dan berubah keinginan. Seringkali perasaan manusia seperti kentut, seringkali ia menawarkan bau busuk yang kuat lantas hilang ditelan angin. Barangkali manusia hanya mencintai kegetiran itu sendiri. Ia mencintai harapan yang tak tuntas. Ketika harapan itu terkabul manusia senantiasa dikelabuhi rasa bosan. Ia ditelan oleh keinginan-keinginannya sendiri.

Malam itu kawan saya akhirnya asik pergi dengan lelakinya yang lain. Saya hanya bisa tersenyum. Dua hari lagi ia akan merengek-rengek perihal rindu yang tak lunas. Perihal harapan-harapan yang tak terpenuhi. Lantas dengan racau dengki ia bicara ketidakadilan. Saya seperti biasa, akan mendengarkan saja. Seringkali kita bisa menyintas dengan belajar dari penderitaan orang lain. Saya tak pernah ingin menyintas. Saya tak percaya pada kata menyintas.

5 komentar:

  1. Kancamu salah curhat. Curhat tentang move on kok karo wong sing gak iso move on :p

    BalasHapus
  2. artikel bagus dan',
    tp sy ada pertanyaan,,,,,,,,

    kamu nulis ini "Manusia tak pernah benar-benar bisa memahami perasaan orang lain. Kita hanya bisa meraba, mencoba mengerti, atau pura-pura mengerti"...

    kenapa bisa ada pertanyaan ini dan' "Sudah tahu sia-sia mengapa kau lakukan menahun?" ...

    sebelumnya, apakah kau sudah meraba, mencoba mengerti, atau pura-pura mengerti atas apa yg temenmu rasakan?,,,

    saya rasa, kau belum melakukannya :d ....

    BalasHapus
  3. menyintas arti sebenernya apa yah?

    BalasHapus
  4. ini postingan paling super yang pernah saya baca di penghujung tahun :D. mantap gan!

    BalasHapus
  5. saya suka kalimat ini, ' Tapi bagi saya menyintas adalah sebuah proses tanpa akhir.'. dalam bahasa saya, stabilitas dalam hidup adalah sebuah ilusi...

    BalasHapus