Setidaknya sampai beberapa tahun yang lalu, saya masih percaya bahwa
puisi dapat menyelamatkan umat manusia. Mereka hanya perlu duduk sebentar,
mendengar baik baik, dan meresapi kata demi kata demi kata dengan segala panca
indra yang ada. Merenungi setiap makna yang tersirat dalam sebuah stanza. Lalu merefleksikan
kata tersebut dalam dirinya sendiri.
Tapi saya salah. Umat manusia tak akan pernah berubah hanya karena puisi.
Dahulu saat saya masih muda, bapak saya pernah menuturkan , Umar ibn
Khatab yang barbar dan pembunuh keji itu. Meluluh hatinya dan menangis seperti
kanak-kanak. Karena jatuh cinta pada sajak karya Allah dalam At Thaha. Hingga
tanpa sadar ia berkata “Betapa indah dan mulia kata-kata ini,” katanya.
Bapak saya selalu berkata bahwa semua pemimpin dan kalifah besar dalam
Islam adalah seorang penikmat puisi. Umar sebelum menjadi zuhud dan menjadi
islam dikenal sebagai salah satu penikmat syair di Mekah. Belakangan saya
kemudian menemukan, tak hanya dalam islam, para pemikir seperti Santo
Fransiskus dari Asisi dan Fransis Bacon adalah seorang penikmat puisi.
Mereka adalah orang-orang yang bijak karena telah tercerahkan oleh
makna kata-kata. Orang yang berani mencari tahu dan belajar bertafakur meresapi
sajak-sajak sebagai pesan yang tersembunyi. Sayangnya tak semua manusia
demikian. Beberapa manusia terlalu malas, dan seringkali, lebih percaya begitu
saja yang tampak tanpa pernah mau belajar membaca yang tersirat.
Indonesia hari ini saya kira telah gagal menunjukan wajahnya yang
indah. Indonesia seperti seorang ibu yang kelelahan melihat pertengkaran
anak-anaknya yang gagal memahami bahwa mereka sebenarnya bersaudara. Dan seorang
saudara tak sepantasnya saling menikam. Saya kira bangsa ini sudah dan tak akan
pernah bisa memahami puisi sebagai media terapi.
Sebenarnya merumuskan tentang Indonesia itu adalah sebuah pekerjaan
berat. Apalagi merumuskan tentang 5 sajak yang merepresentasikan Indonesia.
Karena seringkali tanpa kita sadari, memaknai Indonesia sama dengan jawa.
Banyak sajak yang dikenal dan diperkenalkan bercerita tentang jawa. Namun
jarang sekali puisi yang mampu berbicara tentang Indonesia secara universal.
Akhir-akhir ini pula saya mengalami kegelisahan yang begitu hebat.
Tentang kondisi bangsa ini yang semakin hari semakin keruh, panas dan gelisah. Kebencian
dan kecurigaan menjadi sesuatu yang biasa. Kekerasan adalah bahasa sehari-hari.
Hal ini mau tak mau membuat saya meyakini bahwa Indonesia tak lagi butuh puisi.
Ia lebih butuh suatu penyelesaian yang manunggal.
Tapi kemudian saya berpikir kembali, jika saya menyerah pada sikap
bar-bar maka saya tak lebih baik dari pelaku fasis tadi. Untuk itu saya kembali
pada keheningan kamar. Membaca lagi beberapa tumpukan sajak-sajak yang tercerai
berai. Menggeluti sekitar 40 buku untuk kemudian merunutkan kata-kata indah
yang saya kira akan merepresentasikan Indonesia.
Tak mudah memang. Karena rupanya banyak penyair yang saya kumpulkan
karyanya adalah orang yang tinggal di Jawa. Saya takut nanti menjadikan
kumpulan sayak yang saya pilih adalah tentang jawa dan bukan tentang Indonesia.
Tapi saya pikir biarlah para pembaca yang menilai. Bukankah sebuah tulisan tak
lagi menjadi milik penulisnya? Ia sah menjadi mangsa para pembaca.
Inilah beberapa kumpulan Penyair dan Sajak yang saya pikir bisa
merepresentasikan Indonesia saat ini.
1/ Goenawan Mohamad (Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari
Pemilihan Umum)
Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukanPuisi ini menggambarkan sebuah teror. Sebuah tragedi yang terjadi menjelang pemilu. Kata-kata yang ditulis naratif dan membangun imajinasi sebuah desa yang sunyi. Lalu gempar karena sebuah penemuan mayat tak bertuan. Permainan diksi tak begitu banyak dilakukan GM saat itu. Namun puisi ini bisa membuat pembacanya menyusun imaji yang lugas. Bahwa sebuah politik bisa menjadi ladang pembantaian.
Liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk
dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini takberkartu.
Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar
Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku?
Puisi ini ditulis GM
pada 1971 saya kira merupakan kegelisahan bangsa muda yang baru bangkit dari
keterpurukan. Pada 5 Juli 1971 Indonesia menyambut Pemilu pertama setelah orde
baru bangkit. Saat itu ada 10 partai politik yang ikut serta. Dimana lima besar
dalam Pemilu ini adalah Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai
Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.
2/ Abdul Hadi W.M (Doa Untuk Indonesia)
Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalah berita-berita yang ditulis
Dalam bahasa yang kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kausimpan dalam dokumentasi dunia ?
Saya justru mengenal Abdul Hadi W.M sebagai penulis mengenai sufisme. Saya
menikmati benar Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra
Sufistik dan Seni Rupa sebagai sebuah telaah yang multi disiplin tentang salah
satu pendekatan dalam beragama itu. Hal ini juga tercermin dalam banyak
puisinya yang bersifat profetik dan fatalis.
Namun puisinya yang berjudul Doa Untuk Indonesia saya kira adalah salah
satu karya Abdul Hadi yang paling baik. Di dalamnya ia berbicara panjang lebar
perihal Indonesia. Aforisme dan estetika sajak yang sederhana membuat puisinya
membumi. Puisi yang bisa dipahami bahkan oleh para fasis yang tak pernah
membaca sajak sekalipun.
3/ Fikar W Eda (Seperti Belanda)
seperti Belanda
mereka suguhi kami anggur
hingga kami mendengkur
lalu dengan leluasa mengeruk perut kami
gas alam, minyak, emas, hutan,
sampai akar rumput bumi
Pertemuan pertama saya dengan Fikar terjadi saat Forum Penyair
Internasional Indonesia di Surabaya. Bertempat di gedung Cak Durasim, Fikar
dengan rambut yang terburai dan suara menggelegar, ia mampu membuat seluruh
pengunjung di gedung itu larut dalam sajak yang indah mengenai tsunami Atjeh.
Di situ segala identitas luruh menjadi satu. Menjadi kesedihan itu sendiri.
Dalam puisi berjudul Seperti Belanda, Fikar seolah ingin menjadi suara
lantang yang menggugat Indonesia (dalam hal ini Jakarta) yang kerap kali
bertingkah seperti penipu. Memberikan kita janji-janji, rasa nyaman dan juga
kesenangan. Namun akhirnya menikam dari dalam. Atjeh, seperti juga Borneo dan Papua adalah bangsa-bangsa yang terlalu sering dikhianati.
4/ John Waromi (Wawini)
Para Mambotaran telah melangkahi utara
Anak-anak mereka sedang memanggul panah
dan tombak, menuju timur.
Hari masih subuh.
Saat Ampari, sang kakek renta
menegakkan punggungnya.
Sejauh ini John Waromi merupakan satu-satunya Indonesianis asal Papua.
Ia mengejutkan saya dengan perkataan “Sukarno adalah seorang pemimpin hebat
yang keinginannya kerap kali disalahartikan oleh saudara saya di Papua.” Saya
terpukau dengan sikapnya yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan orang
papuia yang saya temui.
Tapi tentu saja John, sebagai seorang penyair dan intelektual, memiliki
keberpihakan yang jelas. Dalam puisi yang berjudul Wawini ia menggambarkan
kehidupan pastoral di Papua. Tanha yang saat ini tengah bersimbah luka dikebiri
haknya, diperkosa tubuhnya dan dizalimi penduduknya. John dengan cerdas
menggambarkan keindahan Papua, yang bukan tak mungkin, pelan-pelan menuju
kepunahan.
5/ WS Rendra (Sajak Sebatang Lisong)
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Ada sebuah video yang dibuat pada 19 Agustus 1977 di ITB. Seorang
lelaki mengisap sebatang lisong. Ia adalah Rendra muda, dengan rambut gondrong
dan dada terbuka. Berlatar api yang menggelora si burung merak bicara tentang
Indonesia dalam bahasa yang paling sinis. Perihal birokrasi yang busuk, korupsi
dan kebebalan aparatus negara yang ogah mengerti.
Sajak Sebatang Lisong yang tersususn dalam Potret Pembangunan bisa menjelma antitesis dari Repelita, GBHN dan
juga SDSB. Bahwa pemerintah telah gagal memakmurkan bangsanya. Bahwa pemerintah
saat ini hanya diisi oleh tiran tiran medioker yang menghamba pada komprador-komprador
raksasa. Dan sepertinya Indonesia sedang di jual murah.







