Jumat, 18 Mei 2012

The Crossroads

Saya tidak percaya pada kata move on dan mungkin tidak akan pernah. Dalam banyak tulisan saya mengatakan bahwa manusia tak pernah dibekali manual untuk bertahan dari luka. Mereka mengembangkan kekebalan dari sekian banyak luka dan luka yang diterima. Tapi, seperti juga banyak virus, luka juga akan membentuk kekuatan baru yang akhirnya membuat kata move on menjadi sebuah ide imajiner. 

Move on hanya das solen yang tak pernah akan tercapai.

Namun dalam satu sajak yang tak begitu masyur dari Wystan Hugh Auden, epos The Quest, ia bercerita perihal kepergian. Bukan tentang perpisahan yang manis. Tapi lebih sebagai sebuah perpindahan dari rasa kecewa dan mencari sesuatu untuk menambal yang hilang. Saya kira ini adalah satu hal yang paling mendekati dari imaji manusia tentang move on. Yaitu sebuah pencarian yang tak kunjung selesai

Auden salah satu penyair, yang menurut saya, paling konsisten menggambarkan pencarian manusia tentang makna perjuangan hidup. Meski pada akhirnya ia gagal dalam merumuskan perjuangan manusia yang mana dan bagaimana. Ini adalah representasi paling degil dari keinginan manusia untuk move on. Bahwa kita sebenarnya tak pernah kemana-mana. Hanya berganti dan melupakan masalah yang ada.

Penyair kelahiran York itu berkata dalam salah satu Fragmen epos The Quest yang berjudul The Crossroads. Auden berkata "Two friends who met here and embraced are gone," kata Auden seolah menarik nafas panjang, "Each to his own mistake; one flashes on." Ia bercerita tentang persimpangan jalan dua sahabat yang mengambil jalan berbeda. Entah mengapa saya percaya ada beberapa orang yang melakukan perjalanan untuk menghilangkan kebencian.

Sebuah perjalanan yang dilakukan berdua, tak akan pernah berarti jika selalu sejalan seiring. Para pelakunya mesti dituntut untuk berpisah dan bertanggung jawab atas jalan yang mereka tempuh sendiri. Di situ pilihan-pilihan dan konsekuensi logis dari alasan melakukan perjalanan akan diadu dan dibuktikan kebenarannya. Perjalanan akan melumat setiap petualang yang setengah-setengah.

Sebenarnya saya malu saat ditantang untuk menuliskan destinasi terbaik untuk move on. Karena definisi ini terlalu asing buat saya yang gemar menyimpan dendam. Terma move on seringkali hanya sebuah apologi daripada sebuah usaha. Sehingga untuk saya yang selalu memahami hidup sebagai sebuah proses. Mendendam adalah sebuah keharusan. Ia adalah satu-satunya pelindung manusia terhadap resiko terluka untuk kesekian kalinya.

Saya jadi ingat kata-kata Al Imam Ghazali "Seringkali, untuk menemukan apa yang hilang. Kita harus keluar untuk mencari," Seperti yang terungkap dalam salah satu karya monumental"al-Munqidh min al-Dalal" disitu tergambar benar keinginannya untuk selamat dari kesesatan. Bahwa iman yang selama ini telah diterima berpotensi untuk korup. Maka ia memutuskan untuk mencari apa itu iman, dengan melakukan perjalanan pencarian.

Tapi apa yang sebenarnya kita cari dalam sebuah perjalanan? Apakah pemandangannya? Pengalaman? Atau sekedar kepuasan diri karena telah mencapai destinasi. Dari alasan-alasan yang ada saya memilih menjadikan perjalanan sebagai sebuah proses. Dari situ saya berfikir ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan dan move on buat saya adalah alasan yang paling absurd.

Namun apalah artinya hidup yang sudah pasti? Jika move on adalah sebuah konsep absurd? Mengapa tak meramaikannya sebagai ujian yang menantang? Maka jika kemudian saya kelak terluka (lagi) maka disinilah kiranya saya akan memilih untuk sembunyi dan memperbaiki diri. Mempersiapkan hidup untuk semakin pejal dan kuat. Here, we go!




1. Bromo

Ada sebuah ironi di sini. Saya kira kita mengenal mengenai sejarah Tengger dan bagaimana peradaban Bromo dibangun. Konon dalam sebuah hikayat, para pendiri Suku Tengger, adalah para pelarian yang menolak tunduk pada sebuah dogma setelah Majapahit runtuh. Di situ lahir manusia-manusia tangguh yang lebih memilih terasing daripada harus tunduk pada sebuah pemaksaan.

Bromo selalu memberikan para pengunjungnya kejutan yang menyenangkan. Barisan bukit yang mengelilingi kaldera dan beberapa hutan yang kini kondisinya mengkhawtirkan sejak erupsi terakhir. Juga keberadaan candi yang seolah-olah muncul begitu saja dari tengah padang pasir. Bromo adalah segala yang kalian inginkan dari sebuah pendakian yang mudah.

M.A.W Brouwer, seorang teolog dan psikolog, dalam salah satu esainya yang genit mengatakan "Bandung lahir Ketika Tuhan sedang tersenyum," maka saya percaya bahwa Tuhan sedang ingin sendiri saat ia menciptakan Bromo. Pegunungan ini selalu menyediakan berbagai sudut tersembunyi kala pagi, untuk mereka yang ingin sendiri menikmati matahari terbit yang cahayanya menerpa perbukitan Bromo dengan  magis.

Move on tak melulu berlalu dari masalah hati karena kekasih. Al Ghazali jelas menggambarkan hal itu dalam "al-Munqidh min al-Dalal" yang menjadikannya sebagai "seorang pencari tuhan". Ketidakpastian dalam hidup iman seseorang seringkali membuat mereka menuntut kestabilan. Berbeda dengan seorang hamba partikelir, seorang yang benar-benar beriman dan bertakwa akan selalu mencari dan mencari kebenaran.

Bromo dalam hal ini adalah sebagian dari banyak representasi manusia tentang mencari dan berusaha move on dari keraguan. Gunung atau bukit telah lama menjadi simbol kedekatan manusia dengan tuhan. Ingat hikayat Musa dan bukit Sinai. Juga penyaliban Kristus di Golgota. Di tanah air sendiri Bromo (atau Brahma) adalah lokasi utama dalam ritual kurban kasodo.

Di sini, saat saya sedang sangat terpuruk atas sebuah pengkianatan dan kehilangan cinta, saya belajar perihal berkorban dan menyesapi kehilangan. Bahkan dalam mitologi peradaban Tenger. Roro Anteng dan Joko Seger toh mesti mengorbankan salah satu anak kesayangannya untuk bisa hidup. Jadi pengorbanan, keikhlasan, dan kebahagiaan komunal adalah sebuah keseharian dari salah satu pegunungan terindah di Jawa ini.

Di hutan pinus Bromo yang sepi menjelang matahari terbit saya belajar. Hidup, seringkali, adalah tentang mempersiapkan diri untuk kehilangan.

Jika anda ke Bromo saya sarankan untuk datang sendiri. Karena kenikmatan pegunungan ini tak akan terasa maksimal dalam keramaian. Ia mesti dinikmati pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Mengelilingi berbagai sudut kampung yang ada dan berjalan di antara puluhan hektar kebun sayuran. Meresapi hidup di Bromo lebih seperti menikmati kopi pahit selepas tidur panjang. Ia memberikan sebuah pencerahan yang hanya dimiliki dengan melakukan proses yang lambat dan total.

Jangan bayangkan bahwa Bromo adalah sebuah pegunungan dengan jalur pendakian yang tinggi dan terjal. Mungkin memang ada di beberapa titik. Tapi jika sebuah gunung bisa saya tapaki puncaknya, maka siapapun bisa. Mengapa? Dengan badan seberat 95kg dan tubuh yang tak pernah diuji olah raga saya mampu. Mengapa anda tidak?

Ayo para manusia putus asa, datanglah ke Bromo! Nikmati kesendirian anda dengan cara yang paling magis. Hiduplah diantara pinus-pinusnya yang menjulang. Kebun sayur yang segar dan segala yang bernama kesunyian saat matahari terbit. Lalu lanjutkan hidup. Dengan atau tanpa mendendam.





2. Perpustakaan dari UI, I : Boekoe sampai C2O

Saya selalu percaya bahwa buku tak pernah mengkhianati. Setidaknya belum.  Buku selalu memberikan ruang untuk penyelamatan. Di dalamnya selalu ada barisan kata ajaib, kutipan monumental, atau sekedar deskripsi yang manis tentang berbagai hal. Sesuatu yang membuat kita sejenak lupa pada masalah-masalah tengik dalam hidup. Kitab suci, novel, kumpulan puisi hingga cerita stensil terbukti banyak memberikan penyembuhan, atau sekedar pelarian yang menyenangkan.

Saya ingat saat pertama kali saya patah hati di usia 12 tahun karena mencintai anak SMP yang 2 tahun lebih tua. 42 seri komik Dragon Ball menyelamatkan hidup saya dari sebuah melankolia masa muda. Juga pada saat saya dihina dengan sangat luar biasa karena menyatakan cinta pada kawan sekelas saat SMA. Supernova Dewi Lestari mampu melambungkan pikiran saya pada perdebatan sains yang melenakan. Buku telah banyak menyelamatkan saya dari kebodohan.

Sekali lagi, Auden dalam epos The Quest bab The Second Temptation menuliskan sebaris sajak perihal perpustakaan. "The library annoyed him with its look," katanya. Sebuah metafora paling tekstual yang saya yakini. Memang sebuah perpustakaan, yang tak dimiliki sendiri, selalu berhasil membuat saya kesal dengan segala isinya yang menggiurkan.

Ada tiga perpustakaan yang melekat dalam pikiran saya. Pertama adalah Perpustakaan Universitas Indonesia di Depok Jawa Barat, Perpustakaan I : Boekoe di Patehan Jogjakarta dan yang terakhir adalah perpustakaan otonom C2O di Surabaya. Seolah mengamini doa Jose Luis Borges yang mengatakan "Saya selalu percaya, surga adalah perpustakaan dengan banyak buku."

Perpustakaan UI, yang konon sumbangan dari dinasti Al Saud, terletak di jantung universitas paling biasa saja di Depok. Ia disandingkan dengan sebuah danau buatan dengan arsitektur gedung yang futuristik. Konon diklaim sebagai perpustakaan paling lengkap di Asia Tenggara. Saya tak sempat memasuki banyak ruang di dalamnya karena terlanjur terkejut dengan penampakan hantu bernama Starbucks.

Meski saya selalu berpendapat perpustakaan harus diberi jarak paling jauh dengan konsumerisme. Namun suasana dan imaji mengenai koleksi buku yang berkilo-kilo sudah membuat saya kegirangan. Bahwa di dalam perpustakaan yang entah berapa lantai itu menunggu berbagai buku kanon untuk dibaca. Di dinding terluarnya, pada 2011 lalu, saya membayangkan ada Satanic Verses dari Shalman Rusdie dan The Castle susunan Kafka.

Perpustakaan kedua adalah I:Boekoe yang terletak di Patehan Jogjakarta. Meski kota gudeg ini banyak menyimpan memori satir dalam hidup saya, I:Boekoe selalu membuat saya ingat bahwa hidup tak hanya sekedar mengingat mantan. Bahwa ada banyak buku yang belum terbaca dan menunggu dituntaskan.

Di sebuah gang yang menjorok dalam keramaian Alun-alun Kidul, I:Boekoe menawarkan sanctuary bagi para nerd untuk menyembuhkan diri. Di dalamnya ada banyak koleksi buku yang lumayan lengkap dari Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Adjidarma dan juga buku-buku terbitan dari si Empu perpustakaan. Lalu buku mana yang akan kau dustakan?

Terakhir adalah perputakaan C20 yang terletak di Surabaya. Saya hanya datang sekali di perpustakaan ini dan dengan bangga mengklaim "I'm home". Bukan karena banyak lokasi buku import yang memang telah lama saya cari seperti Don Quixote dan The Island. Tapi lebih pada sikap ramah si penjaga perpus dan tata letak perpustakaan yang melenakan dalam arti sebenarnya.

Perpustakaan ini memberikan semua yang saya butuhkan. Kesunyian yang tak terlalu, kedai kopi, ruang baca yang nyaman dan yang terpenting koleksi buku yang tak biasa. Cervantes, Zizek, Murakami, Nabokov dan Sapardi. Sebutkan maka kemungkinan kalian akan menemukan di dalam perpustakaan mungil di depan Konjen AS Surabaya ini.


***

Masih dalam fragmen The Crossroads, Auden menutup puisinya tersebut dengan beberapa baris puisi paling pilu yang pernah saya baca. Ia berkata "What friends could there be left then to betray, What joy take longer to atone for; yet" katanya lirih. "Who could complete without the extra day, The journey that should take no time at all?"  Disitu ia berbicara tentang sebuah pilihan dan konsekuensi logis dari sebuah perlarian. Meski kita seringkali lupa. Bahwa hidup bukan hanya menghadapi masalah. Tapi juga tentang belajar dari masalah dan menunggu waktu yang tepat untuk kelak membalasnya lebih keras.

Minggu, 13 Mei 2012

5 Sajak yang menggambarkan Indonesia



 Setidaknya sampai beberapa tahun yang lalu, saya masih percaya bahwa puisi dapat menyelamatkan umat manusia. Mereka hanya perlu duduk sebentar, mendengar baik baik, dan meresapi kata demi kata demi kata dengan segala panca indra yang ada. Merenungi setiap makna yang tersirat dalam sebuah stanza. Lalu merefleksikan kata tersebut dalam dirinya sendiri.

Tapi saya salah. Umat manusia tak akan pernah berubah hanya karena puisi.

Dahulu saat saya masih muda, bapak saya pernah menuturkan , Umar ibn Khatab yang barbar dan pembunuh keji itu. Meluluh hatinya dan menangis seperti kanak-kanak. Karena jatuh cinta pada sajak karya Allah dalam At Thaha. Hingga tanpa sadar ia berkata “Betapa indah dan mulia kata-kata ini,” katanya.

Bapak saya selalu berkata bahwa semua pemimpin dan kalifah besar dalam Islam adalah seorang penikmat puisi. Umar sebelum menjadi zuhud dan menjadi islam dikenal sebagai salah satu penikmat syair di Mekah. Belakangan saya kemudian menemukan, tak hanya dalam islam, para pemikir seperti Santo Fransiskus dari Asisi dan Fransis Bacon adalah seorang penikmat puisi.

Mereka adalah orang-orang yang bijak karena telah tercerahkan oleh makna kata-kata. Orang yang berani mencari tahu dan belajar bertafakur meresapi sajak-sajak sebagai pesan yang tersembunyi. Sayangnya tak semua manusia demikian. Beberapa manusia terlalu malas, dan seringkali, lebih percaya begitu saja yang tampak tanpa pernah mau belajar membaca yang tersirat.

Indonesia hari ini saya kira telah gagal menunjukan wajahnya yang indah. Indonesia seperti seorang ibu yang kelelahan melihat pertengkaran anak-anaknya yang gagal memahami bahwa mereka sebenarnya bersaudara. Dan seorang saudara tak sepantasnya saling menikam. Saya kira bangsa ini sudah dan tak akan pernah bisa memahami puisi sebagai media terapi.

Sebenarnya merumuskan tentang Indonesia itu adalah sebuah pekerjaan berat. Apalagi merumuskan tentang 5 sajak yang merepresentasikan Indonesia. Karena seringkali tanpa kita sadari, memaknai Indonesia sama dengan jawa. Banyak sajak yang dikenal dan diperkenalkan bercerita tentang jawa. Namun jarang sekali puisi yang mampu berbicara tentang Indonesia secara universal.

Akhir-akhir ini pula saya mengalami kegelisahan yang begitu hebat. Tentang kondisi bangsa ini yang semakin hari semakin keruh, panas dan gelisah. Kebencian dan kecurigaan menjadi sesuatu yang biasa. Kekerasan adalah bahasa sehari-hari. Hal ini mau tak mau membuat saya meyakini bahwa Indonesia tak lagi butuh puisi. Ia lebih butuh suatu penyelesaian yang manunggal.

Tapi kemudian saya berpikir kembali, jika saya menyerah pada sikap bar-bar maka saya tak lebih baik dari pelaku fasis tadi. Untuk itu saya kembali pada keheningan kamar. Membaca lagi beberapa tumpukan sajak-sajak yang tercerai berai. Menggeluti sekitar 40 buku untuk kemudian merunutkan kata-kata indah yang saya kira akan merepresentasikan Indonesia.

Tak mudah memang. Karena rupanya banyak penyair yang saya kumpulkan karyanya adalah orang yang tinggal di Jawa. Saya takut nanti menjadikan kumpulan sayak yang saya pilih adalah tentang jawa dan bukan tentang Indonesia. Tapi saya pikir biarlah para pembaca yang menilai. Bukankah sebuah tulisan tak lagi menjadi milik penulisnya? Ia sah menjadi mangsa para pembaca.

Inilah beberapa kumpulan Penyair dan Sajak yang saya pikir bisa merepresentasikan Indonesia saat ini.

1/ Goenawan Mohamad (Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum)

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan
Liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk
dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini takberkartu.
Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar
Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku? 
      Puisi ini menggambarkan sebuah teror. Sebuah tragedi yang terjadi menjelang pemilu. Kata-kata yang ditulis naratif dan membangun imajinasi sebuah desa yang sunyi. Lalu gempar karena sebuah penemuan mayat tak bertuan. Permainan diksi tak begitu banyak dilakukan GM saat itu. Namun puisi ini bisa membuat pembacanya menyusun imaji yang lugas. Bahwa sebuah politik bisa menjadi ladang pembantaian.

            Puisi ini ditulis GM pada 1971 saya kira merupakan kegelisahan bangsa muda yang baru bangkit dari keterpurukan. Pada 5 Juli 1971 Indonesia menyambut Pemilu pertama setelah orde baru bangkit. Saat itu ada 10 partai politik yang ikut serta. Dimana lima besar dalam Pemilu ini adalah Golongan Karya, Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

2/ Abdul Hadi W.M (Doa Untuk Indonesia)

Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalah berita-berita yang ditulis
Dalam bahasa yang kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kausimpan dalam dokumentasi dunia ?

Saya justru mengenal Abdul Hadi W.M sebagai penulis mengenai sufisme. Saya menikmati benar Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa sebagai sebuah telaah yang multi disiplin tentang salah satu pendekatan dalam beragama itu. Hal ini juga tercermin dalam banyak puisinya yang bersifat profetik dan fatalis.

Namun puisinya yang berjudul Doa Untuk Indonesia saya kira adalah salah satu karya Abdul Hadi yang paling baik. Di dalamnya ia berbicara panjang lebar perihal Indonesia. Aforisme dan estetika sajak yang sederhana membuat puisinya membumi. Puisi yang bisa dipahami bahkan oleh para fasis yang tak pernah membaca sajak sekalipun.

3/ Fikar W Eda (Seperti Belanda)
seperti Belanda
mereka suguhi kami anggur
hingga kami mendengkur
lalu dengan leluasa mengeruk perut kami
gas alam, minyak, emas, hutan,
sampai akar rumput bumi

Pertemuan pertama saya dengan Fikar terjadi saat Forum Penyair Internasional Indonesia di Surabaya. Bertempat di gedung Cak Durasim, Fikar dengan rambut yang terburai dan suara menggelegar, ia mampu membuat seluruh pengunjung di gedung itu larut dalam sajak yang indah mengenai tsunami Atjeh. Di situ segala identitas luruh menjadi satu. Menjadi kesedihan itu sendiri.

Dalam puisi berjudul Seperti Belanda, Fikar seolah ingin menjadi suara lantang yang menggugat Indonesia (dalam hal ini Jakarta) yang kerap kali bertingkah seperti penipu. Memberikan kita janji-janji, rasa nyaman dan juga kesenangan. Namun akhirnya menikam dari dalam. Atjeh, seperti juga Borneo dan Papua adalah bangsa-bangsa yang terlalu sering dikhianati.

4/ John Waromi (Wawini)
Para Mambotaran telah melangkahi utara
Anak-anak mereka sedang memanggul panah
dan tombak, menuju timur.
Hari masih subuh.
Saat Ampari, sang kakek renta
menegakkan punggungnya.

Sejauh ini John Waromi merupakan satu-satunya Indonesianis asal Papua. Ia mengejutkan saya dengan perkataan “Sukarno adalah seorang pemimpin hebat yang keinginannya kerap kali disalahartikan oleh saudara saya di Papua.” Saya terpukau dengan sikapnya yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan orang papuia yang saya temui.

Tapi tentu saja John, sebagai seorang penyair dan intelektual, memiliki keberpihakan yang jelas. Dalam puisi yang berjudul Wawini ia menggambarkan kehidupan pastoral di Papua. Tanha yang saat ini tengah bersimbah luka dikebiri haknya, diperkosa tubuhnya dan dizalimi penduduknya. John dengan cerdas menggambarkan keindahan Papua, yang bukan tak mungkin, pelan-pelan menuju kepunahan.

5/ WS Rendra (Sajak Sebatang Lisong)

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Ada sebuah video yang dibuat pada 19 Agustus 1977 di ITB. Seorang lelaki mengisap sebatang lisong. Ia adalah Rendra muda, dengan rambut gondrong dan dada terbuka. Berlatar api yang menggelora si burung merak bicara tentang Indonesia dalam bahasa yang paling sinis. Perihal birokrasi yang busuk, korupsi dan kebebalan aparatus negara yang ogah mengerti.

Sajak Sebatang Lisong yang tersususn dalam Potret Pembangunan bisa menjelma antitesis dari Repelita, GBHN dan juga SDSB. Bahwa pemerintah telah gagal memakmurkan bangsanya. Bahwa pemerintah saat ini hanya diisi oleh tiran tiran medioker yang menghamba pada komprador-komprador raksasa. Dan sepertinya Indonesia sedang di jual murah.

Jumat, 11 Mei 2012

Apologi

Mari kita mulai pembicaraan ini dari dua kisah yang mungkin relevan untuk menjadi pertimbangan. Pertama adalah sikap keras kepala Hans Bague Jassin saat ia memutuskan untuk tidak mengungkap siapa sebenarnya Kipandjikusmin. Dalam kontroversi besar yang tersusun dalam cerpen "Langit Makin Mendung", Jassin tetap mengunci erat mulutnya untuk tidak mengungkapkan siapa penulis jenius di balik cerpen mahakarya tersebut.

Meski akibatnya ia dipaksa meringkuk dalam jahanam penjara sembilan bulan karena dianggap bersalah oleh pengadilan Tinggi Sumatera Utara. Toh meski telah melakukan pembelaan hingga berbusa-busa dan juga dukungan dari berbagai pihak ia tetap gagah pendirian dan menolak buka mulut. Dalam banyak hal seorang lelaki berhak menyimpan apa yang dianggapnya berharga. Entah itu sebuah sikap keras kepala atau kebencian yang membara. 


Juga kisah hidup dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang memilih diam daripada turun gelanggang menyelesaikan prahara van Der Wijk. Ia memilih tafakur dan hidup sebagai seorang fatalis daripada memperdulikan ocehan para penggugat di Harian Rakjat. Kelak toh akhirnya kita belajar, bahwa sang Buya toh tak hanya menyusun satu karya itu. Namun juga tafsir monumental Al Azhar.


Dia paham bahwa toh terlalu banyak mengumbar pembelaan hanya akan membuatnya semakin terpojok. Maka diam dan hanya sesekali mendesah resah adalah sebuah jalan bijak. Karena sebuah pertengkaran literer tak mesti dilayani. Dan setiap pemukulan tak harus dibalas. Ini adalah sikap lemah yang kerap dimaknai sebagai eskapisme masokis.


Tapi mereka salah. Eskapisme masokis adalah saat kita hanya diam dan tak berbuat apapun. Menikmati lukanya dan mencari pembenaran sendiri. Seseorang yang berjuang melawan rasa sakit dan melampaui kebencian. Proses yang demikian tak akan selesai hanya dari dukungan kata kata atau sekedar pegangan di pundak. Ia membutuhkan jeda untuk bisa selesai!

Kita tidak bicara perihal sikap kekanak-kanakan. Ini perihal perasaan yang tidak bisa sekedar sembuh hanya dengan maaf atau sekedar move on. Kalian, lebih dari siapapun di dunia, mestinya sadar. Bahwa kata-kata maaf tak bisa langsung menyelesaikan masalah. Ia butuh proses. Sehari, sejam, sebulan, setahun dan waktu itu tak pernah bisa ditebak. Masing masing manusia memiliki melankolianya sendiri.

Ini juga bukan tentang sikap dewasa. Apa itu dewasa? Dewasa adalah pura-pura semuanya selesai hanya dengan bicara empat mata dan memberi maaf? Menekan kebencian dan mengulang-ulang mantra bahwa semuanya baik-baik saja? Tidak. Saya lebih memilih untuk terus dikutuk jadi anak-anak daripada harus tunduk pada yang demikian.

Kita juga tak sedang bicara tentang menyimpan rasa sakit dan menikmatinya pelan-pelan. Ini perihal kemampuan menahan diri. Menahan amuk amarah yang jika sedikit saja tergelincir maka ia akan berujung dengan darah. Lagi pula siapa orang tolol yang dengan sadar membiarkan dirinya dilukai dan tak segera mengobati lukanya itu.

Ada tiga hal yang dilakukan orang yang terluka. Ia mengobati dirinya sendiri dan yang lain mengejar orang yang menyakiti dan membuatnya lebih menderita. Adapula orang yang ketiga. Mengobati dirinya pelan-pelan sambil mengejar dan membalas amuk amarahnya. Ini adalah sikap wajar, bahwa mereka yang diserang akan bertahan, dan mereka yang terpojok akan menantang.

Ini juga bukan tentang merasa paling sengsara di dunia. Ini perihal keterkejutan, rasa malu, kebencian dan rasa sedih yang hebat. Kecuali kalian semua adalah robot, maka jelas kalian tak perlu memahami kata-kata tadi. Manusia tak pernah dilengkapi panduan untuk bertahan dari rasa sedih. Mereka mengembangkan kemampuan daya tahab dirinya sendiri.

Kita juga tak berbicara mengenai bagaimana bersikap santun atau jujur. Kita bicara mengenai hal-hal yang tak bisa serta-merta dibagi kepada orang asing. Seseorang yang terlanjur pernah percaya dan membagi semuanya, lantas dikhianati begitu rupa, dipermainkan dan ditinggalkan. Akan curiga pada segala yang mendekat. Kalian, lebih dari segala manusia bebal di jagat ini, mestinya paham apa itu xenophobia.

Ini juga bukan tentang menyelesaikan masalah sebagai seorang lelaki, terlebih lagi seorang yang dewasa. Tidak. Ini jauh lebih dari itu. Ini tentang bagaimana bersikap dengan seorang maling, pencoleng dan pembajak. Toh juga pembelaan apapun tak akan berarti karena ini masalah "hati".

Tidak juga mengenai harus bersikap wajar dan membiarkan semuanya berlalu bersama angin. Dan bersikap seperti kebanyakan orang untuk menjadikannya sebuah momen untuk berkembang. Bahwa jadi orang yang terjebak pada masalah yang itu-itu saja adalah sikap bodoh. Ini lebih dari itu. Ini tentang menuntut keadilan, tapi tak jelas kepada siapa.

Ada baiknya perihal mendengar dan mendengarkan dipahami sebagai tahu diri dan mampu menempatkan diri. Bahwa ada orang yang secara konyol bisa dengan mudah memaki ibunya sendiri. Namun ada pula orang yang dengan taklid buta mengagungkan Milan sebagai sebuah klub pilihan tuhan. Ada beberapa orang yang memiliki sikap aneh dan berbeda dalam memaknai sesuatu.

Untuk bisa berdamai dengan diri sendiri ada waktunya dan ada pilihannya. Bahkan seorang budha juga menunggu waktu hingga pencerahan tertinggi untuk bisa menyadari dharma bisa memberikan kebebasan. Kita bukan nabi dan manusia bukan malaikat. Mereka memiliki kelemahan yang membuat mereka dhaif.

Saya bukan Mandela yang bisa memaafkan penindasan kulit putih kepada bangsanya. Juga bukan Al Hallaj yang meminta ampunan para pembunuhnya. Saya kira saya sudah cukup menunjukan bahwa saya tak pernah minta apapun yang berlebihan. Tidak meminta yang terlalu berat. Toh saya tak pernah memaksakan diri untuk sebuah penolakan. Saya menghormati keputusan-keputusan.

Bahwa apa yang telah terjadi pada saya dan seorang yang pernah menjadi teman adalah sebuah drama yang komikal, konyol dan kekanak-kanakan. Maka biarlah. Semoga hanya saya yang dianggap kekanakan karena menganggap sebuah sikap tak bertanggung jawab atas keputusan dan pilihan, adalah hina. 

Juga perihal banyak janji yang tak lunas. Manusia bukan Vhisnu yang bisa memecah dirinya menjadi banyak untuk kemudian bekerja dengan banyak ragam. Ada prioritas-prioritas yang sering lalai dipenuhi karena kemunculan-kemunculan prioritas lain. Hingga kemudian takdir manusia sebagai individu yang alpa dan pelupa memenuhi artinya sendiri.

Untuk bisa dimengerti hendaknya belajar mengerti. Jika seseorang tak pernah menuntut untuk suatu hal maka orang lain tak berhak menuntut hal yang lain. Juga seseorang yang menyimpan erat perasaanya bukan berarti ia seorang melankolis. Manusia kerapkali tertutupi tuntutan-tuntutan daripada menunggu dengan sabar untuk sebuah proses yang tak semuanya gegas.

Jika kemudian seorang lelaki dianggap penakut, pecundang atau menghindari menghadapi masalah dalam diamnya. Maka biarlah. Toh bahkan seorang Yesus seperti juga Muhammad tak bisa menyelamatkan Yudas dan Abu Thalib dari api neraka.

Seharusnya sebagai orang yang cerdas, kalian bisa belajar bagaimana bersikap kepada seorang yang mendendam. Tinggalkan atau diam dan menunggu. Malam ini terlalu larut untuk diramaikan dengan hal-hal yang sepele. Terlalu banyak beban kerja dan emosi yang tumpah dari mahasiswa akhir yang terlalu banyak dituntut. Itu saja.

Kamis, 03 Mei 2012

Kepergian yang Tiba-tiba



Mari kita bicara perihal kehilangan yang tiba-tiba. Tentang orang asing yang sekejap menjadi dekat bukan karena kita mengenalnya selama bertahun-tahun. Namun lebih disebabkan oleh rasa rindu dan kaget yang bertaut berkelindan menjadi satu. Melahirkan perasaan baru bernama panik dan rasa malu. Kehilangan yang demikian tak pernah mudah dan mungkin akan selalu membekas.

Kehilangan selalu menyisakan beberapa detik yang hening. Namun detik-detik itu tak terikat definisi ruang dan waktu. Ia hadir sebagai sebuah entitas yeng meluruhkan segala panca indra. Sebuah kesunyian yang kudus. Seperti juga Tuhan yang selalu mengakrabi manusia dalam keheningan. Ia hadir dalam doa-doa yang lirih dan bukan mimbar yang besar.

Saya selalu meyakini, bahwa mereka yang telah meninggal, hanya akan tetap hidup dalam kenangan. Mereka tak benar-benar hilang. Mereka hanya berganti raga dan menjadi semacam proyeksi astral. Kita masih mengenai suara mereka, baunya, eksprsi sang mendiang dan juga percakapan-percakapan yang telah selesai. Di situ saya kira kematian tak berhasil merebut mereka yang kita cintai.

Kerap kali kehilangan identik dengan kepemilikan atau rasa memiliki. Namun tak jarang ia lahir dari sebuah rasa pertalian. Sebuah keterikatan yang tak bisa dijabarkan dalam sebaris kalimat. Hubungan yang lahir secara tiba-tiba, karena memang kematian, bisa menautkan sebuah hubungan yang tak pernah kita miliki sebelumnya.

Pada akhir 2009 selepas pulang dari Pekan Nasional Pers Mahasiswa (Pena Emas) di Makasar saya berkenalan dengan Budi Andana Marahimin di Facebook. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang kawan,  yang kebetulan kuliah di jurusan Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU). Orangnya ramah, periang dan cenderung suka berbagi. Dalam beberapa kesempatan kami kerap mengobrol via chat facebook.

Kami berdua langsung akrab. Seperti sepasang kawan lama yang tidak pernah bertemu. Saling bertukar informasi dan kadang juga bertukar canda. Budi, demikian saya menyapa, adalah pribadi yang dinamis enggan diam dan selalu gegas untuk menjadi lebih baik. Dia senang bergabung dalam suatu komunitas, berkenalan dan berjejaring. Bagi Budi, kawan adalah harta yang ingin ia bagi terhadap sesama.

Seperti juga Budi, saya menyenangi fotografi. Kami kian akrab saat ia menunjukan salah satu galeri digitalnya di deviantart.com sebuah jejaring seni internet. Kami sering bertukar pendapat perihal tone foto, pencahayaan, perihal infra red dan berbagai macam tetek bengek fotografi. Ia dalam banyak kesempatan, seperti seorang kakak yang dengan tekun mengajari adiknya yang bebal belajar hal baru. Dalam hal ini sayalah sang adik.

Kami tak pernah bertemu. Namun intensitas pergaulan kami selama 2010 sangat akrab. Namun saat 2011 saya mulai bekerja dan ia aktif dalam jejaring pemuda Indonesia kami jarang berinteraksi. Biasanya ia selalu aktif di sosial media untuk berbagi info pelatihan atau forum kepemudaan. Namun entah mengapa selama setahun terakhir ia tak ada kabar. Saya memiliki perasaan cemas yang tak berbentuk.

Rupanya benar perasaan saya itu. Dari seorang kawan di Medan, saya diberi tahu jika Budi telah meninggal dunia. Budi, seorang pejuang yang rendah hati itu, tengah bertempur dengan leukimia stadium empat. Saya tak pernah tahu mengenai penyakit ini. Dan ia juga bukan orang yang gemar unjuk kepedihan, ia adalah rekan yang lebih memilih berbagi kebahagiaan dan menyembunyikan rasa sakit rapat-rapat.

Saya tak pernah bertemu Budi dan tak akan pernah lagi bertatapan dengannya. Kami memiliki janji untuk menjelajahi Medan dan mengabadikan pasarnya. Mencicipi bika ambon dan juga menaiki bentor. Sayangnya semua itu tidak akan pernah terjadi. Requiem æternam dona eis, Domine, et lux perpetua luceat eis. Semoga kedamaian menyertaimu dan cahaya menemanimu selalu.

Demikianlah. Seperti sebuah penggalan sajak Toto S. Bachtiar dalam Kereta Mati yang sangat masyur itu. Kematian Budi yang tiba-tiba seperti kejadian yang hadir dihadapan tanpa tanda. "Tiada karangan bunga tersilang / Tiada kepedihan enggan hampir" Karena peringatan atas sebuah keringatan adalah laku pilu. Sementara Manusia menangis di tepi pelabuhan penghabisan.

Indonesia dalam Sepotong Arsip Sejarah


Salah satu contoh model interpertasi Digital Hermeneutics


Sejarah adalah perkara kedaulatan menentukan masa lalu kita sendiri. Tetapi seringkali untuk mempelajari sejarah kita harus meminta bantuan pada orang lain .Seperti saat saya ingin belajar tentang sejarah Indonesia. Terus terang ada rasa amuk amarah yang melekat saat saya mengorek masa lalu bangsa ini. Karena banyak dari arsip sejarah kita tak lengkap atau tak berada di Indonesia.

            Namun hal ini tak perlu jadi masalah lagi. Karena Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie (NIOD, Institut dokumentasi perang Belanda) pada 22 Januari lalu telah membuka akses terhadap delapan puluh meter bahan arsip sejarah dunia yang diantaranya ada sejarah mengenai Indonesia.

            Tentu ini merupakan kabar yang menggembirakan. Mengingat hanya sedikit kronikus di Indonesia  yang punya keinginan kuat dalam proses dokumentasi. Kabarnya lagi arsip-arsip yang dikeluarkan tersebut terdapat lukisan, koran Indonesia, dokumentasi pemerintah Belanda, buku harian dan catatan perkara.

Sebelumnya Arsip Nasional Belanda telah membuka lebih dari 110 kilometer bahan arsip yang menjadi koleksinya. Arsip yang berasal dari bentang waktu 1.000 tahun sebelum masehi sampai 20 tahun yang lalu. Hal ini melengkapi akses terhadap 4.954 gambar dan 4.000 eksemplar asli dari arsip museum Museon di Den Haag dan kira-kira seribu eksemplar lainnya disimpan di NIOD di Amsterdam.

            Adalah Martin Berendse, direktur Arsip Nasional Belanda, yang pernah menjelaskan tentang arsip sejarah yang dimiliki lembaganya. Dimana dalam koleksi yang diperlihatkan terdapat keistimewaan, yaitu arsip-arsip itu belum ada orang yang pernah melihat atau membacanya. Artinya segala fakta-fakta baru dari suatu peristiwa atau kejadian bisa diperoleh para peneliti, sejarawan dan wartawan.

            Belum lagi teknologi baru Digital Hermeneutics, yang diperkenalkan oleh Chiel van den Akker cumsuis dari Faculty of Arts - History Department University Amsterdam. Di mana arsip-arsip dalam bentuk karya seni seperti lukisan dan foto akan ditambah perangkat penerjemah maya. Ini adalah sebuah teknologi baru yang masih dalam proses pengembangan.

            Digital Hermeneutics sebenarnya adalah gabungan antara hermeneutika sebuah ilmu kajian mengenai interpertasi kemanusiaan. Hal ini digabungkan dengan elemen digital dan semiotika lanjut. Sehingga karya seni seperti lukisan bisa dimaknai dengan mudah oleh mereka yang tak memiliki basis pengetahuan filsafat dan sejarah. Sehingga teknologi ini sangat membantu pemahaman terhadap sejarah yang terkandung dalam karya seni.

            Melalui teknologi ini variabel seperti kondisi sosial sejarah, latar belakang penyusun dan data-data primer sebuah arsip seni akan digabungkan. Karena memang sejatinya Digital Hermeneutics adalah penemuan interdisipliner yang menggabungkan berbagai studi keilmuan yang berbeda.

            Interpertasi lukisan dari Mohamad Toha misalnya yang diberi tajuk a child in war. Dimaknai  sebagai sebuah kritik terhadap kondisi perang saat itu. Mengenai keikutsertaan anak-anak dalam perang. Dan bagaimana ia bisa menerjemahkan kebrutalan di atas kanvas.

          Saya kira teknologi ini penting untuk memudahkan pembacaan sejarah. Mengingat tak semua orang mau ambil pusing belajar mengenai sejarahnya sendiri. Toh sejarah, meminjam kata-kata Kurt Vonnegut "is merely a list of surprises," dimana ia melanjutkan "It can only prepare us to be surprised yet again."

Mencari Toha di Belanda


Salah satu lukisan Toha. 



Saya membayangkan rentetan peluru berdesing cepat. Di kejauhan bunyi bom menggelegar seperti membelah bumi. Suasana panik tak terkendali. Teriakan mengaduh sayup-sayup terdengar di antara nyaring senapan. Sementara itu seorang anak, dengan selembar kertas dan cat minyak. Bersembunyi di balik pohon dan melukis suasana itu. Suasana saat Yogyakarta tenggelam dalam pertempuran hebat di awal Agresi Militer kedua Sekutu.

Hanya itu yang saya bisa bayangkan dari hidup seorang Mohamad Toha Adimidjojo. Seorang pelukis sekaligus kronik sejarah yang mengabadikan momen perang di jogja pada 1948. Saat itu ia masih berusia 11 tahun. Mengendap-endap di antara KNIL dan sekutu. Menyembunyikan peralatan lukisnya untuk kelak mengabadikan momen-momen yang menggetarkan.

Saya kira kita berhutang banyak pada pemerintahan Belanda saat itu (dan juga kini) yang mau menyelamatkan dan mengabadikan 45 lukisan Toha kecil. Saya kira jika lukisan itu masih di Indonesia. Ia akan hancur. Bukan karena tak dirawat, namun karena kedegilan politik rezim yang kerap kali tak bisa bersikap bijak pada karya seni.

Mengingat dan mengenali Toha bukan perkara mudah. Tak banyak orang di Indonesia yang mengenal karya-karyanya. Bukan karena karyanya sudah di borong ke Rijksmuseum. Namun karena keengganan masyarakat Indonesia untuk mencari dan mengenali sejarahnya sendiri. Mereka kerap kali terjebak dalam hiruk pikuk kondisi kekinian.

Padahal di Belanda karya-karya Toha telah beberapa kali dipamerkan dan mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Seperti pada 1992, ke-45 lukisan pejuang cilik ini di pamerkan di Legermuseum di kota Delft. Di sana, menurut penuturan kurator dan kritikus seni rupa Agus Dermawan T, “Lukisan Toha di asuransikan oleh Firma Blom En Van Der Aa seharga 1 juta gulden dan mendapatkan pengamanan ketat oleh sejumlah polisi,”

Mau tidak mau saya dipaksa kagum. Bahwa lukisan seorang anak usia 11 dari Indonesia dihargai begitu rupa hingga mencapai nilai 1,4 milyar pada kurs 1992. Lebih dari itu lukisan yang besarnya tak lebih dari telapak tangan itu mendapatkan apresiasi yang begitu rupa dari masyarakat Belanda. Negara lain yang bukan tanah kelahiran si pelukis. Saya kira kita berhutang sejarah pada mereka.

Kekaguman masyarakat Belanda pada Toha tak berhenti sampai disitu. Pada 1993 sebuah film berjudul Een waarheid met vele gezichten (Kebenaran dalam Banyak Wajah) membuat banyak veteran dan pecinta sejarah Indonesia tercengang. Dalam film itu Toha kecil dihidupkan dan direkonstruksi. Merekam ulang proses kreatif pelukis cilik asal Yogyakarta itu.

            Sedikit banyak saya menyimpan mimpi untuk bisa ke Belanda. Untuk bisa masuk dan menghayati karya seni yang ada di Rijksmuseum. Tentu untuk melihat langsung lukisan Toha yang oleh pelukis impresionis terkemuka indonesia, Affandi, dijuluki “Berdaya tangkap tajam dan edan tenan!” Jika Affandi sang maestro berkata demikian. Maka saya yakin Toha adalah sebuah maestro yang terlipat dalam sejarah.

            Di Rijksmuseum karya Toha bersanding dengan para kanon-kanon lukis dunia. Seperti Vincent van Gogh, Rembrandt van Rijn, dan maestro moii indie Raden Saleh. Dalam keremangan lampu dan penjagaan ketat lukisan Toha memang jauh dari ‘rumah’, namun ia berada di tempat yang tepat. Jauh dari hiruk pikuk kepentingan dan dicintai sebagai sebuah karya seni tinggi.

Senin, 30 April 2012

Manusia Pramoedya

di unduh dari Hastamitra.net


Saya membayangkan, dengan rokok Djarum yang terus mengepul, Pram, mengetik dengan tergesa-gesa jawaban atas surat Terbuka yang dilayangkan padanya oleh Goenawan Mohamad. Wajahnya tertekuk hebat, mengejan dan otot mukanya keluar dengan sengaja. Luka yang sempat dilupakan, ternyata masih menyakitkan.

Goenawan Mohamad mengatakan "Bung telah bersuara parau ketidak-adilan" sebuah hantaman yang cukup keras. Esais dan penyair asal Batang itu merasa gerah dengan sikap Pram yang menolak permintaan maaf Abdurahman Wahid, presiden Indonesia saat itu. Ia juga menambahkan bahwa Pram adalah pribadi pendendam, yang disebutnya sebagai "Seorang yang merasa lebih ”tinggi” derajat ke-korban-annya akan mudah merasa berhak jadi maha hakim terakhir".

Siapapun yang menerima surat semacam itu saya kira akan bergetar marah. Dalam kata-kata yang indah dan halus itu ada sebuah cemoohan, vonis, sindiran dan juga tuntutan. Pram tak perlu lama menuliskan jawaban surat itu kepada Goenawan Moehamad.

Ia mengawali suratnya dengan sangat ketus "Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan." Sebuah kakhi dasi yang memilukan. Ia menjawab surat GM, begitu mantan Pemred Tempo itu disapa, dengan padu padan kata yang pelan namun menusuk. Siapapun yang membaca surat itu akan menyepakati bahwa Pram sedang bertahan dari luka yang teramat perih.

Pram dengan garang, namun cukup santun, mengkritik balik Goenawan. Ia menganggap petinggi penulis Caping itu sebagai orang yang naif. Karena menganggap maaf bisa dengan mudah menyelesaikan masalah. Pram sudah lelah untuk percaya. Termasuk pada Gus Dur dan Goenawan Mohamad, yang disebutnya "adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim."

Pram dengan bahasa yang tertatih dan kelelahan menuliskan "Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme." Saya kira manusia yang tak sanggup lagi percaya sesamanya adalah orang yang telah lama kalah. Seseorang yang sudah memberikan apapun yang dimiliki untuk kemudian dikhianati.

Saya setuju dengan Pram. Gampang amat memaafkan. Goenawan tidak pernah dipenjara untuk sesuatu yang ia sendiri tak tahu kenapa. Goenawan tak perlu merutuk setiap malam karena karyanya dibakar dengan kejam setelah riset bertahun tahun. Dan yang paling penting, Goenawan tidak pernah merasakan perih saat keluarganya harus mengalami diskriminasi atas tuduhan komunis.

Dalam surat yang sama Pram bercerita panjang tentang pengorbanan yang terlalu banyak. Mengenai "Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan," ia harus disudutkan dan menjadi kalah "sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya." Pram kemudian menginsyafi bahwa dirinya memang harus sendiri dalam menghadapi segala penindasan Orde Baru.

Memaafkan adalah perkara karakter. Dan sebuah karakter paling pemaaf pun saya ragu akan tetap bertahan melewati 3.001 malam, atau delapan dari 12 tahun penyekapan tanpa sebab di Buru, untuk bisa menjadi waras. Tidak. Saya akan mendendam. Mengeras dan membatu. Goenawan tak perlu mengalami itu semua. Karena ia toh masih tetap bisa menulis tanpa mengalami rumah dan kebebasanya dirampas paksa.

Mereka yang mengkritik Pram, seperti Mochtar Loebis dan Taufiq (dengan q bukan k) Ismail, boleh menyebutnya sebagai antek Lekra. Tapi Pram mengakui itu. Ia dengan gagah mengakui bahwa ia memang bagian dari padanya, tidak lari bersembunyi, juga bermanis-manis dengan Soeharto. Ia juga tak perlu menangis di atas mimbar, seperti salah seorang penyair, untuk memperoleh ampunan. Pram merdeka dan berjuang dengan kemampuannya sendiri.

Meski ia harus kalah. Toh seperti penuturannya pada Koesalah Soebagyo Toer dan André Vltchek. "Saya merasa terasing dengan bangsa ini," terasing karena melihat generasi mudanya hanya bisa mengkonsumsi dan berternak. Juga merutuki bagaimana Liliek, panggilan terhadap Koesalah Soebagyo Toer, membiarkan anak, cucu, dan keponakannya sebagai pribadi peminta-minta. "Saya merasa jijik dan malu,"

Pram juga menolak Doa. Menolak segala yang mirip dengan mengemis. Ia hanya percaya dirinya sendiri. Tuhan dan Pram adalah dua pihak yang sama keras kepala. Pram merajuk karea selama di Buru tak sekalipun tuhan menolongnya. Lalu dibalas Pram dengan tak pernah tunduk dan berdoa kepada Nya. Dalam salah satu fragmen cerpen Sunyi Senyap Di Siang Hidup Pram memuat doa yang begitu profetik "Moga-moga anakku tak akan mengalami segala yang aku alami dalam hidup,"

Mereka yang menyebut diri Pramis, seperti saya tentunya, paham benar harapannya terhadap generasi muda. Untuk memulai Revolusi dan memperbaiki kondisi. Generasi tua yang ia anggap korup sudah tak bisa terselamatkan. Hingga akhir hayatnya, ia masih memimpikan generasi muda untuk memulai perubahan. Sayangnya, seperti juga saya, karya Pram hanya sekedar bacaan. Tak pernah menjadi sebuah percik revolusi subuh.

Kebencian dan dendam Pram bukan kepada republik ini, tapi kepada penguasa. Pram yang baru saja keluar dari Buru dengan gagah mengecam tindakan Soeharto kepada Timor Timur juga kepada Bangsa Atjeh (ia selalu mengatakan Jawa berhutang pada Atjeh). Terakhir beberapa hari sebelum meninggal, ia bahkan masih sempat mengkliping pemberitaan mengenai Papua dan freeport. Totalitas. Sesuatu yang bahkan saya ragu bisa dilakukan seorang combatan paling gigih sekalipun.

Tapi tak banyak yang mau mencari tahu siapa Pram dibalik kemarahan dan dendamnya. Di balik kemegahan Tetralogi Pulau Buru. Pram adalah seorang Ayah dan Suami yang luar biasa. Coba tengok surat-surat untuk anaknya di Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Juga beberapa fragmen penggambaran betapa ia mencintai Maemunah, istri kedua Pram, dengan cara yang sederhana. Tidak perlu kata aku cinta kau atau puisi yang lagi-lagi dibacakan dengan air mata.

Tentu Pram bukan seorang Santo yang lepas dari kesalahan-kesalahan. Ia dengan galak menyerang HAMKA dengan menyediakan ruang penistaan sastrawan tua itu atas "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk". Juga pada saat menyetujui bila orang-orang yang tak sepaham dengan Revolusi (Soekarno) disingkirkan. Namun karena ia memilih itulah Pram menjadi manusiawi. Menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Juga seperti dukungannya terhadap Soekarno secara taklid buta. Pram menganggap Bung Karno, yang menista Syahrir dan mengeksekusi Kartosuwiryo, sebagai pemimpin "yang tak ada banding". Menuturkan dengan banyak penekanan yang hiperbolis. Dalam dua buku berbeda satu dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian dan Pramoedya Ananta Toer Dari Dekat Sekali. Sukarno, sebut Pram, adalah pemimpin sejati bangsa ini.

Ini yang membuat Pram menjadi pribadi yang paradoks. Di satu sisi ia menentang dan membenci sesuatu yang disebutnya sebagai fasisme jawa, yaitu taklid buta dan tunduk pada perintah atasan. Namun di sisi lain memuja dan memuji Soekarno tanpa hendak melakukan kritik yang adil terhadapnya. Saya rasa Pram telah menjadi pikun karena terlalu lama memilih untuk menulis sebagai pribadi yang menolak otoritas macam apapun.

Juga pada musuh-musuhnya yang mereka sebut sebagai kelompok Manifest Kebudayaan. Pram, seperti yang ditulis Ajip Rosidi dalam obituarinya, menteror penandatangan Manifes melalui Lentera. Ia berdalih bahwa pertentangan idea adalah hal yang wajar. Melawan kata dengan kata. Namun sedikit banyak menjadi absurd saat ia ingin menuntut Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto, seperti yang tertulis dalam buku susunan Liliek Toer, karena melakukan fitnah. Apa yang berbeda?

Saya kira Pram telah selesai memberi kepada bangsa ini. Namun sejauh ini hanya Gus Dur yang benar-benar menghargai Pram. Saya ragu dan lupa apakah Megawati, putri orang yang ia puja, pernah menghargai Pram. Membuatnya menjadi pahlawan nasional. Atau mewajibkan pembacaan karyanya sebagai sebuah karya kanonik. Toh, saya juga tak yakin Pram menginginkan itu. Buatnya basa-basi selalu tak penting.

Saya bisa berdebat panjang lebar mengenai karya mana yang membuat Pram harus dicatat sejarah sebagai penulis sastra kanonik. Namun Bukan Pasar Malam adalah sebuah Magnum Opus, yang saya kira, dengan sangat manis menggambarkan pribadi Pram yang utuh dan manusiawi.  Di dalamnya merupakan gambaran manusia urban. Seseorang yang harus berdamai dengan masa lalu (Bapak) dan juga bertikai dengan masa kini (Istri).

Juga bagaimana Pram menggambarkan masa lalu hanya sebagai beban. Ini adalah potret masa lampau yang masih relevan hingga kini. Anak yang terlanjur nyaman di kota, merasa jengah dan lelah karena harus kembali pada keluarga dan kampung halaman. Ini, buat saya, seolah menggenapi pernyataan Tariq Ali dalam obituari Pram. "Toer was writing about the past, but much of what he wrote resonated with the present."

30 April 2006. Bahkan di ujung hayatnya Pram masih menolak untuk tunduk. Minggu pukul 05.00 pria tua yang sebelumnya menolak dirawat di Saint Carolus ini sempat mengerang. "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," di ujung nafas yang paling akhir pun ia tak mau nasibnya ditentukan orang lain. Seperti yang telah ia sampaikan pada André Vltchek, "Kalau ngomong soal Indonesia, saya kebakaran" Api kemarahan sudah membakar Pram begitu pekat.

Minggu, 29 April 2012

Epigon Platonik

Jakarta adalah sebuah nama yang sama-sama kita kutuki. Bukan karena lambat macet yang membuat waktu terasa lamat. Juga bukan karena sesak udara yang terlalu pekat. Tapi karena memang kita sama-sama dipisahkan oleh sebuah fakta bahwa jarak, bukan lagi kesepakatan geografis. Tapi juga sebuah fakta keji betawa lelah dan materi juga membelenggu keinginan bertemu.

Bahwa seringkali, meminjam sajak Chairil Anwar, rindu bisa "Tambah ini menanti jadi mencekik, Memberat-mencekung pundak," Dan kerap kali kita dihadapkan sebuah pilihan-pilihan untuk pisah atau lanjut. Dengan konsekuensi yang sama sama menakutkan bahwa "Ini sepi terus ada. Dan menanti."

Kukira persekongkolan keji yang membuat kita ragu ini mesti ditamatkan.

Ada baiknya kita bertemu. Di sebuah kafe yang menyajikan kopi pekat hitam yang berampas banyak. Di sertai lagu-lagu kesukaan kita, katakanlah Mocca atau Moldy Peaches. Kamu tertawa dan aku pura-pura berpenampilan bijak. Kita bertukar kata sampai mulut pejal, perut kaku karena canda dan juga jeda diam saat kita mendengar fragmen "anything but you" atau "what if".

Ada baiknya juga kita flâneur mengelilingi kota tua Jakarta (atau Surabaya atau Jogja? terserah kau). Pelan-pelan menikmati sejuk sore setelah sebelumnya kita memaki panas yang terlalu, bising yang terlalu, dan polusi yang terlalu.Di kota ini kukira segala yang terlalu adalah sebuah keharusan. Mungkin ini yang menjelaskan bahwa aku merindukan kau. Terlalu.

Menyusuri sesak bus yang menghantarkanmu pulang. Di sana. Di bagian paling belakang. Berbagi telinga. Mendengarkan lagu-lagu yang syahdu. Menikmati hujan deras. Tapi kini tak sendiri. Ada aku disitu. Bersama kau. Kita boleh baku pukul sepanjang jalan. Beradu debat tentang mana lezat Indomie Goreng kegemaranku. Kubiarkan kau merajuk untuk nanti aku mengalah.
Dan kau nona. Berhentilah gelisah. Berhentilah gelisah mengenai nama tuhan yang berbeda.
Bahwa setiap tuhan menawarkan surga juga neraka. Tak perlu ribut siapa yang benar. Karena ada baiknya kita ribut mengenai kegemaranku membeli buku yang tak habis-habis. Karena siapa tahu kelak, jika kita harus menikah, itu akan mengurangi jatah nasi, telur dan daging anak-anakku. Bahwa jika nanti anakku kurus kering kurang gizi itu karena bapaknya tak tahu diri menahan nafsu membeli kitab-kitab yang belum tentu dibaca.

Melalui hubungan ini kita akan belajar untuk benar-benar menghargai perbedaan. Bahwa Salam Maria dan Sholawat Badar adalah sebuah puja-puji yang kudus. Bahwa Yesus dari Nazareth dan Muhammad dari Mekkah adalah manusia-manusia yang luar biasa. Manusia fana yang mencintai tuhan dengan caranya masing masing. Kau dengan tuhanmu dan aku dengan tuhanku.

Oh tentu saja jika kau masih gelisah. Akan kutemani kau setiap minggu untuk misa. Kuantar kau setiap Paskah untuk liturgi. Seperti kau juga masih sudi marah-marah setiap sahur tiba. Mengingatkanku bergegas untuk sahur dan sebagainya dan sebagainya. Bukankah bangun dini hari paling baik untuk menonton bola? Kelak kau akan kuajarkan untuk memilih satu di antara sekian banyak klub bola.
Karena mencintai tak pernah serumit ini. Apakah segala yang bernama kasih sayang harus seragam?
Apa yang tadi kukatakan itu mungkin mimpi. Tapi tak apa bermimpi. Mimpi itu bagus. Menandakan kita masih menjadi manusia. Masih memiliki keinginan-keinginan untuk berusaha menggapai sesuatu yang belum dimiliki. Juga melatih kita untuk bertanggung jawab pada keinginan. Tentu kita, kau dan aku, tak ingin berakhir sebagai pembual bukan? Yang berhenti pada keinginan dan tak melakukan apapun untuk menuntaskannya.

Kita, maksudnya kau dan aku, akan terus mengingat saat-saat kita bersama. Di pelataran kampus Fisip UI yang rindang, halaman perpustakaan kolosalnya, danaunya yang luas lagi sepi dan juga hutan beserta pohon-mirip-hantu-orang nya. Di sana akan berserak segala macam kenangan yang akan membuat kita menyungging senyum atau menusuk hati.

Kukira racauan ini semua disebabkan kerinduan yang terlalu lama tak bertemu. Kerinduang yang pelan-pelan membuat bara ragu semakin besar. Kemudian kita melihat perbedaan semakin menakutkan. Perihal nama tuhan. Perihal jarak. Perihal waktu yang tak banyak dilalui bersama. Perihal pesan-pesan sms. Dan semua itu menyatu bersepakat membuat kita ragu.

Setiap cerita punya akhirnya sendiri. Ia merupakan anak sah peradaban. 

Toh jika kemudian semua ini tidak terjadi. Kau perlu ingat bahwa kita pernah mencoba. Pernah sama-sama menolak kalah. Meski kemudian harus mundur. Lalu mengakui ada beberapa hal yang terlalu bebal untuk mau peduli dan berubah. Menganggap segala perbedaan kita adalah suatu takdir mati yang tak mungkin berganti. Untuk memaksa mereka percaya bahwa perbedaan adalah sebuah pemberian yang tak terelakan.

Tak perlu menangis atau marah. Karena sebenarnya mereka yang tak ingin kita satu, adalah pribadi-pribadi yang harus dikasihani, sebab gagal memahami makna tuhan dalam perbedaan. Karena seringkali apa yang tersirat, terlalu berat untuk dipahami. Kita harus bersyukur karena pada satu titik. Kita bisa lunas mencintai hingga menafikan segala yang beda.

Dan kelak kita akan duduk bersama. Di sebuah cafe yang redup. Tersenyum tipis mengenang kata-kata Nyai Ontosoroh "Kita telah melawan nak, Sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya."

Kamis, 26 April 2012

The Hifatlobrainers


Best Combo - Lemper dan Bakpao


Hari sudah menjelang senja di Gunung Bromo, Probolinggo, saat puluhan wisatawan asing hilir mudik di depan pos masuk Cemara Kandang. Beberapa dari mereka mengenakan jaket tebal dan sibuk menggosok-gosokan kedua tangannya. Suhu gunung Bromo saat itu memang terasa sangat dingin meski mereka telah memakai jaket tebal. Sesekali uap keluar dari mulut kita saat menghela nafas atau untuk sekedar bersenang-senang dengan fenomena semacam itu.

Tepat di pintu masuk gerbang Taman Nasional Bromo berdiri sebuah warung. Pijar lampu neon menunjukan nama Warung Makan Tante Toli di salah satu kisi sudutnya. Untuk menuju ke dalam warung, pengunjung diharuskan menuruni lima anak tangga yang lumayan curam. Di kiri-kanannya ada sebuah gerobak dengan wajan dan dandang. Salah satu kaca gerobak itu bertuliskan "Bakso dan Gorengan. 

Di dalam warung Tante Toli ada sekelompok anak muda yang tengah sibuk berbicara dan bersiap berbuka. Saat itu, pertengahan Agustus 2011, memang sedang bulan puasa. Saya sendiri mengenali  seorang dari pengunjung tersebut sebagai Dwi Putri Ratnasari, seorang festival hunter kawakan yang soon to be legend asal Jember. Kenapa saya dan dia bisa kenal? Well sebagai anak gaul yang up to date dan nge hips (pinggul) abies tentu saya harus kenal beliau ini.

Petang itu ia memakai jaket berwarna kuning terang. Wajahnya bulat dengan sepasang pipi yang membentuk bulat bakpao. Mengapa berbentuk bulat bakpao? Well itu sudah menjadi salah satu dari tujuh misteri dunia yang tak terpecahkan versi on the spot. Tapi tentu bukan tentang itu saya menulis ini. Hari itu dia dan teman-temannya khusus datang ke Bromo untuk survey lokasi dan pengambilan video terbaru (kelak bernama Homeland) dari hifatlobrain. “Sekalian untuk liat upacara Kasodo,” katanya.

Tak lama setelah itu televisi di sudut ruangan mengumandangkan adzan maghrib. Putri dan rekan-rekannya segera menyambar teh panas untuk kemudian membatalkan puasa. Dari bilik warung yang agak tertutup seorang pria berkaus hitam keluar. Wajahnya oval dengan rambut tipis. Sebuah kacamata sederhana berframe hitam sederhana menaut di wajahnya. “Ayo kita buka dulu,” ujar pria itu. Dia adalah our working class heroes Ayos Purwoaji, pemilik travelblog legendaris hifatlobrain.

Salah satu Scene di Homeland

Selepas berbuka Ayos lantas pergi untuk menyelesaikan urusan penginapan. Putri dan teman-temannya yang ternyata pegiat film surabaya itu duduk mengobrol. “Mereka ini temen-temen dari Surabaya, ada juga anak fotografi antara dari Jakarta,”. Mereka adalah Samuel Respati, Giri Prasetyo, Luki Sumarjo, Jeri Kusuma dan Idham Rahmanarto. Belakangan saya mulai menyesali karena mengakrabi kawan-kawan Putri dan Ayos itu. Kenapa? Well karena mereka adalah orang yang ma'rifat. Atau dalam bahasa Bastian Tito, orang orang yang pilih tanding.

 Sebagai bloger yang lumayan dikenal di jagad dewa, Putri memang memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Mulai dari fotografer, editor, film maker, bakul sego goreng, calo tiket, imam masjid sampai penulis buku. Pergaulan ini juga membuktikan bahwa si Pyut adalah sosialita kelas wahid. Konon tersiar kabar di kalangan para traveler underground Indonesia bahwa Putri telah berhasil menaklukan jagawana Taman Nasional Laiwangi di Wanggameti. 

Saya sendiri datang bersama tiga orang lainnya. Ini merupakan kunjungan kali ketiga Putri ke Bromo dan pertama kalinya untuk saya. Sebelumnya Putri bilang sudah menghadiri dua kali upacara kasodo bersama Ayos. Alumnus Farmasi Unair ini bercerita jika jalan menuju puncak Lautan Pasir Gunung Bromo hampir sepenuhnya tertutup debu vulkanik. Perigi yang dulunya pernah teraliri air, kini hampir kering sepenuhnya dengan pasir. “Dulu bukit di samping itu Bromo indah sekali. Sayang kamu datangnya telat.”

Kecintaan Putri untuk melakukan traveling berawal dari keluarganya. Paman dan bibi Putri senang mengajak keponakan mereka untuk jalan-jalan. Sebelumnya dia malah bukan seorang yang cukup punya nyali untuk berpetualang sendirian. Rupanya kenangan bersama paman dan bibinya begitu membekas. Sehingga  suatu saat ia memberi pesan singkat pada Ayos jika ia baru saja selesai mendaki ijen. “Ojo ngomong thok ditulis pyut, kata Ayos. Nah sejak saat itu aku mulai nulis.”

Putri lantas membuat blog saat ia magang di sebuah perusahaan Semarang. Tentu tak serta merta dia menulis tentang traveling. Kebanyakan malah curhat dan racauan yang tak jelas. Namun Ayos melihat potensi menulis Putri. Inilah awal mula dia menjadi kontributor tetap hifatlobrain. “Dan inilah saya menjadi rekan dan anak buah Ayos,” ujarnya sambil tertawa. 

Dalam melakukan traveling Putri berprinsip sederhana. “Just enjoy your time, meet someone new, feel something new, it is the essence of traveling” katanya. Tentu ini adalah sebuah konsep imajiner yang perlu aplikasi nyata dilapangan. Dalam sebuah catatan manis di blognya ia kemudian mendefinisikan diri sebagai slow traveler. Sebuah konsep perjalanan yang menghindari traveling-numpang-mandi yang hanya menguras tenaga dan waktu.


Senyum manis menawan citra pria metrominiseksual
“Menjadi bukan siapa-siapa di tanah yang asing. Tidak menjadi apa-apa. Lantas menjadi spon kering yang menyerap saripati hidup.”  ~ Ayos Ingin Wisuda

Putri sendiri memang nekat untuk menjadi travel blogger. Karena dalam keluarganya ada sedikit rasa khawatir mengingat Putri, yang terakhir saya ingat masih berstatus sebagai wanita ini, harus bertualang di sudut Indonesia. “Bapak pernah marah, tapi selalu aku bisa jelaskan baik-baik.” katanya. Toh ini juga tak menghentikan dia untuk mengikuti Aku Cinta Indonesia (ACI). Sebuah program yang memberikan kesempatan pada orang untuk berjalan ke satu destinasi Indonesia secara gratis. Untuk kemudian menuliskannya dalam bentuk catatan perjalanan.

Tepat pada pukul 20.00 Ayos datang lagi ke warung Tante Toli. Setelah selesai membayar makanan ia mendekati kursi dan meja dimana Putri duduk. Dengan bergegas mahasiswa ITS jurusan desain produk ini meminta teman-temannya bersiap. “Besok kita bangun pagi, jadi kalo bisa istirahat dulu malam ini,” ujarnya singkat. Seperti biasa ketua dewan pembina gerakan Gusti Allah Foundation ini selalu taktis. Meski kadang suka bau amis.

Agenda Ayos memang padat, selain sibuk menyelesaikan studinya di ITS, ia kini sedang mengembangkan sebuah konsep institusi penulisan baru. Konsep yang terbilang leap year dari kebanyakan  penulis kreatif di Indonesia. Jika kebanyakan penulis masih berpikir pada tataran menciptakan karya  'best seller', maka penggila Senthong Belakang ini sudah memikirkan untuk penciptaan pasar. “Hifatlobrain travel institute itu tentang pengembangan baru penulisan traveling di Indonesia. Kita coba membuat pasar baru,” ujarnya.

Baru beberapa hari belakangan saya menyadari apa yang dimaksud Ayos sebagai membuat 'pasar baru'. Dalam sebuah postingan satir, kritis dan cenderung gemas. Hifatlobrain pernah menuliskan apa yang ia sebut sebagai buku perjalanan yang sesat lagi dangkal. Buku yang memberikan panduan sekian juta ke destinasi A. Atau cara murah ke destinasi B. Buku-buku semacam ini dalam bahasa Hifatlobrain "buku (yang) menawarkan utopia: dengan sedikit uang, Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri sampai mblenger."

Saya pribadi sejak lama telah memproklamirkan peperangan terhadap segala buku yang berbau motivasi, panduan dan juga cara jitu. Buat saya buku yang ingin menjadi messiah kerap kali gagal mengartikulasikan masalah secara lebih global. Selalu ada variabel X yang membuat masalah dan hidup seseorang berbeda. Demikian juga perjalanan. Tak ada satu pun institusi (atau buku) yang bisa menyeragamkan sebuah konsep perjalanan kecuali travel agent.

Maka lahirlah Hifatlobrain Travel Institute. Sebuah proyek yang saya nilai ambisius lahir dari perjaka tambyn berusia tengah duapuluhan tahun. “Awalnya ini saat aku kecewa dengan buku travel kala ini. Kita dicekoki buku travel picisan. Harusnya mereka belajar banyak dari sebuah perjalanan,” keluhnya. Nah dari situ Ayos mencoba membuat sebuah institusi yang mencoba mendobrak keseragaman penulisan  travel. “Dengan memberi bacaan bagus, otomatis mereka akan semakin bijak dalam melakukan perjalanan.” 

Ayos sendiri telah menyukai traveling sejak duduk di bangku sekolah. Ia merasa sangat menikmati perjalanan, bertemu dengan orang asing dan menikmati pengalaman yang benar-benar baru. Atau memang saya curiga dia sebenarnya mengalami gangguan-tinggal-lama-di-rumah. Tapi kecurigaan ini dipatahkan dari pernyataanya yang sangat seksi sekali. “Menjadi bukan siapa-siapa di tanah yang asing. Tidak menjadi apa-apa. Lantas menjadi spon kering yang menyerap saripati hidup.” 

Cantik? Sori-sori Jek sudah ada yang punya
“Just enjoy your time, meet someone new, feel something new, it is the essence of traveling” ~ Putri pengen Nikah.
Hal ini ternyata banyak diapresiasi oleh blogger dan sosial  junkies di dunia maya. Berbagai komentar yang menunggu kemunculan travel institute ini semakin mendorong finalis esai Tempo ini untuk terus berkarya. “Salah satunya dari editor national geographic Indonesia. Kenapa gak dibikin secara masif? Aku pikir juga sama,” kata Ayos. Untuk itu ia kemudian menggiatkan perjalanan dengan perspektif yang lebih intens dan personal.

Apa yang dilakukan Ayos dan Putri tidak sia-sia memang. Gerakannya untuk mendobrak definisi lama mengenai traveling dan berpetualang melahirkan penulis-penulis cum petualang baru. “Hifatlobrain sekarang lagi banyak tulisan yang masuk, tapi lagi nunggu editing dan foto yang baik,” kata Ayos. Sebagai editor Ayos memang dikenal sebagai orang yang disiplin dan tegas. “Dia itu sadis, gak segan nolak tulisan kalo fotonya kacau,” kata Putri.

Konsistensi dan kedisiplinan Ayos pada penampilan foto ini bukannya tanpa alasan. Sebagai bentuk quality control dan peningkatan kualitas tampilan web, Ayos tak mau setengah-setengah. “Nulis jelek masih bisa diperbaiki, kalau foto kacau. Tiada toleransi.” Tapi hal ini bukan berarti Ayos tak mahir menulis. Ia sendiri adalah salah satu penulis terbaik yang pernah memenangi kompetisi menulis tingkat Asean. Di mana dia berkenalan dengan salah satu icik ehem demenan saya dulu (lost focus).

Namun baginya passion terbesar adalah tetap merawat hifatlobrain. Dalam salah satu postingan klasiknya Ayos pernah menjadi sebuah pribadi yang rapuh dan manusiawi. “Ketakutan terbesar saya adalah suatu saat saya tak bisa merawat blog ini lagi.” Ia ingin terus mengembangkan dan menjadikan hifatlobrain sebagai katalis perjuangan melawan buku travel yang nir makna.


Seperti juga Soe Hok Gie, pria botak yang masih perjaka ini percaya bahwa salah satu cara mencintai Indonesia adalah menjelajahinya. Saya juga mengamini pendapat Ayos. Saya pribadi telah lumayan melakukan perjalanan menjelajahi sudut-sudut Indonesia. Meski tak banyak pengalaman yang saya tuliskan karena memang tak punya kemampuan sebagai travelogue. Mungkin ini kutukan penulis kelas kambing seperti saya.

Dus, Ayos dan Putri, seperti juga pembantu saya bernama Nuran, selalu percaya akan ada campur tangan the invisible hand dalam sebuah perjalanan. Bagaimana Tuhan mampu mengubah destinasi dan destiny petualang dalam sekejap. “Saya selalu percaya, ada banyak kebetulan yang terjadi dalam perjalanan,” tuturnya. "Kisah-kisah coincidental seperti ini hanya Tuhan yang bisa atur. Dan saya selalu percaya: God always save the traveler!"


Anda bisa liat video Homeland di sini.
In honorary mention Savitri Winda: Sori wind belum pernah ketemu jadi gak bisa di tulis. :D

Selasa, 24 April 2012

Menyigi Naskah Penggali Intan




Tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah luka yang disebabkan oleh orang yang kita cintai. Ia akan melahirkan dendam, kemarahan dan amuk yang bisa mengubah pemikiran seseorang. Inilah kiranya yang mewarnai lakon Penggali Intan yang ditampilkan kelompok Teater Tiang Universitas Jember (Unej) di Gedung Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) pada Jumat (19/4) lalu.

Naskah yang  disusun oleh Kirdjomulyo ini sarat dengan kemarahan, kebencian dan juga kekecewaaan. Sebuah pergulatan makna atas eksistensi manusia terlukiskan dalam karakter tiga orang penggali intan. Ketiganya adalah Sanjoyo diperankan Ferick Sahid Persi, Siswadi diperankan Kristanto, dan Sarbini Ary Wibowo dipernakan. Tak lupa satu-satunya karakter perempuan dalam naskah itu, Sunarsih, yang diperankan oleh Rina Yuastri.

Bagi saya yang awam dalam menikmati teater lakon kali ini entah mengapa sangat sedap dinikmati. Waktu selama satu setengah jam terasa sangat singkat untuk lakon yang lumayan lama. Babak demi babak mengalir dengan sendirinya. Seolah-olah lakon yang ada di depan saya ini merupakan tontonan televisi yang tak diselingi oleh iklan.

Entah karena penggarap lakon ini adalah Teater Tiang yang telah lama di kenal di Jember sebagai salah satu kelompok Teater yang mumpuni. Mereka adalah sekumpulan maestro yang sudah terlanjur dianggap sebagai para resi seni pertunjukan teater. Entah itu Monolog ataupun Drama kolosal. Teater Tiang selalu bisa memberikan yang terbaik meski seringkali panggung dimana mereka berpentas minim pendukung.



Salah satu bagian yang membuat saya tertarik adalah penokohan Sanjoyo. Dalam hal ini Ferick, aktor Teater Tiang, mampu memerankan karakter Sanjoyo yang hatinya keras bagai batu. Dia dengan total berganti ujud menjadi manusia delusional yang bermimpi menjadi orang kaya, dengan menggali intan di aliran Sungai Barito di Kalimantan Selatan. Dalam lakon para tokoh dikisahkan berasal dari Yogyakarta yang merantau ke Kalimantan dengan harapan menjadi Borjuis sehingga bisa berbuat apa saja dengan kekayaannya, termasuk menggaet gadis-gadis.

 Kekuatan keaktoran Ferric yang bagus membuat sosok Sanjoyo yang dendam karena sakit hati cintanya ditampik oleh gadis pujaannya, Sunarsih, menghidupkan suasana kesendirian. Ia tampil seperti manusia paling malang di dunia dan mengutuk segala orang yang ada. Contoh yang mirip dengan karakter Heathcliff kisah Wuthering Heigts yang disusun oleh Emily Brontë.

”Sarbini yang tidak mengharapkan apa-apa dapat sebutir intan di belokan sungai yang dangkal. Sebenarnya siapa yang menguasai nasib,” 
Seringkali pertautan emosi terhadap sebuah tokoh begitu kuat sehingga seolah-olah aktor yang bermain bukan seseorang yang kita kenal. Dalam pementasan ini saya melihat gejala itu. Bahwa para aktor Tiang merupakan seniman tulen itu jelas. Namun bila sampai bisa menjadi seorang aktor yang berganti kepribadian maka baru kali ini saya melihat pementasan yang demikian.



Dalam seni pertunjukan elemen-elemen estetik dan juga kedalaman penokohan merupakan sesuatu yang mutlak. Namun teater tidak melulu tentang keindahan dan penguasaan tokoh. Di dalamnya ada juga kemampuan blocking, suara dan juga kecerdasan membuat improvisasi.  Naskah Penggali Intan ini sebelumnya pernah dipentaskan dengan baik oleh Teater Koma. Tentu ada sebuah tanggung jawab dalam setiap pelaku seni pertunjukan untuk membuat sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Gejala ini merupakan apa yang disebut Benny Yohanes, penulis naskah drama dan esai teater, sebagai reklamasi biografis. Di dalamnya kita menggali naskah, mengisi tokoh, memadatkan cerita dan juga membentuk sentuhan-sentuhan baru agar penampilan yang selanjutnya lebih baik atau sama sekali berbeda. Dengan mengindari penanaman idiologis dalam pertunjukan tentunta.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis pernah berkata “Karya sastra tidak bisa direduksi menjadi sebuah pemikiran”. Namun membaca Penggali Intan tidak bisa tidak membuat kita bertanya tanya. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Kirdjomulyo dalam lakonnya ini. Apakah melulu berkisah tentang cinta yang tak bersambut atau ada pemaknaan lain yang lebih holistik?
          




Untuk itu saya kemudian membaca kembali Bre X, Sebungkah emas Di Kaki Pelangi karya Bondan Winarno. Untuk mempelajari kondisi sosial masyarakat saat naskah ini dibuat pada 1957. Tahun dimana saat itu Indonesia sedang berusaha berdiri sebagai negara berdaulat. Kalimantan sendiri pada saat itu merupakan propinsi primadona untu mencari emas dan intan. Sebagai jalan pintas untuk mencapai kekayaan. Maklum sebagai negara yang masih muda tak banyak pekerjaan yang ada saat itu.


Kegiatan penambangan di Kalimantan sudah terjadi sejak jaman pendudukan Belanda. Menurut catatan geologi Belanda pada 1930 ada sebuah tambang batubara enam kilometer dari muara Sungai Kelian, Kecamatan Longiram, Kabupaten Kutai. Juga pada pertengahan abad 18, Sultan Mempawah (Kalimantan Barat) mendatangkan sekitar 20 orang Cina dari Provinsi Kwantung untuk dipekerjakan di tambang-tambang emas di Kalimantan Barat.

Intan yang merupakan alotropi karbon – dan merupakan zatalami terkeras yang dikenal orang – sudah ditemukan di berbagai tempat di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Barat selama beberapa abad. Tambang intan tradisional yang terkenal di Kalimantan adalah Martapura. Di Campaka, dekat Martapura, Kalimantan Selatan, pada 1965 ditemukan intan sebesar 166 karat yang terkenal dan diberi nama“Trisakti.

Dengan memahami konteks sosial saat naskah ini dibuat maka kita bisa menengahi pertentangan antara otonomi pengarang dan otonomi semantic. Atau perdebatan antara textual meaning of plays dan authorial meaning.of plays. Tentu saja hal ini tidak serta merta kita terbebas dari beban pemaknaan subjektif penonton. Atau apa yang George Lukacs  menyebutnya sebagai “dilema intelektual kesusastraan”.

Namun secara umum saya menikmati naskah Penggali Intan lewat dialog dan juga ceritanya. Terbebas dari kondisi yang terjadi saat naskah ini dibuat tentunya. Tentang manusia yang ingin berjuang dengan kekuatannya sendiri melawan nasib. Juga perjuangan seorang kekasih yang dikecewakan yang berujung pada luka. Tentunya ada wajah-wajah kumuh manusia dalam setiap lakon teater yang sengaja dibuat untuk mengejek para penontonnya. Dan saya tak sabar untuk menonton lakon berikutnya.