Minggu, 12 Agustus 2012

Pedusi Liat


apa yang kau cari?
kabar kekasihkah menyertai
atau sekedar ingin kembali?
tahukah kamu, di sini
seumur hujan ia menanti
Radhar Panca Dahana - Pulang


Ada sebuah mitos dari suku Mentawai yang barangkali kini mulai dilupakan. Tentang perempuan yang ditipu keadaan lantas menunggu. Tentang berdamai dengan diri sendiri dan menikmati kemenangan sebagai sebuah proses. Inilah kisah Sinanalep Siguk Galajet, atau terjemahan harfiahnya Perempuan yang menelan barang-barangnya. Kisah ini sangat membekas bagiku karena ia bercerita tentang kekuatan memaafkan. Bahwa harapan yang dibokong bisa diatasi dengan cinta yang tulus.

Alkisah, seperti yang dituturkan para tetua pada Pastor Bruno Spina, orang Mentawai yang mendiami Kepulauan Pagai percaya bahwa roh-roh alamiah tinggal di langit yang disebut Taikamanua. Beberapa tinggal roh ini juga tinggal di hutan atau Takaleleu, yang lain tinggal di laut atau Taikabaga't Koat dan sisanya tinggal di bawah bumi atau Taikabaga't Polak. Kisah Sinanalep Siguk Galajet, yang hendak kuceritakan ini terjadi di bumi kuno Suku Mentawai, yaitu  di sekitar Takaleleu.

Pada suatu masa yang tak begitu jauh dari zaman ketika para Kerei (shaman Mentawai) berkuasa, hiduplah pemuda yang hendak melaksanakan Mukebbukat (menikah). Seorang Kerei menyuruhnya datang di tepi salah satu Takaleleu yang didiami oleh seorang wanita dengan dua anak. Sang Kerei menyuruhnya menikahi sang adik karena baik budi dan sikapnya. Tapi tentu kisah yang mulus tak akan menarik bukan?

Si lelaki ini membawakan mahar kalung mutiara, alat masak, alat berburu dan benda-benda indah yang lainnya. Karena iri sang kakak lantas mencuri minyak wangi yang biasa dipakai adiknya, sehingga berganti raga mirip dengan si adik. Tertipu penampilan si kakak, sang lelaki tadi akhirnya menikahinya tanpa sadar. Singkat cerita si adik merasa dikhianati, ia lantas memakan semua barang lamaran yang ditingggalkan sang lelaki tadi hingga menjadi buruk rupa. Kau tentu tau perasaan ini, perasaan orang yang dianiaya harapan dan pengkhianatan. 

Di sini kuhentikan dulu cerita ini. Kukira kau mesti paham benar, bahwa bersikap acuh pada perubahan adalah usaha bunuh diri. Pilihan terbaik adalah menjalaninya dengan kepala tegak, atau kau boleh menekuk tubuh dan mengkasihani diri. Hidup toh perihal pilihan-pilihan konyol dalam mempersiapkan kehilangan. Karena manusia tak pernah dilahirkan dengan buku panduan menghadapi getir perasaan. Kita mengembangkan kekebalan diri terhadapnya. Beberapa berhasil bangkit, yang lainnya tersungkur lantas menyerah.

Kukira kau perlu belajar, bahwa luka yang kau rasakan itu bisa jadi tak seberapa, konyol malah jika dibanding jutaan manusia lain di luar sana. Apa arti kehilanganmu bagi manusia yang mesti merasakan perebutan kuasa tuhan atas kematian. Kukira kehilangan yang paling purna adalah kematian. Di luar itu hanya sedu sedan centil yang semestinya di masukan dalam keranjang sampah lantas dibakar. Perasaan manusia itu khianat, mereka tak pernah benar-benar memberikan substansi nyata pada kedewasaan diri.

Satu waktu kau merasa terbebaskan. Merasa hidup. Merasa manusia yang paling bahagia di jagat ini. Dikelilingi sahabat, handai taulan, saudara yang merangkulmu dalam cinta. Lantas sepotong sajak, atau syair lagu, atau aroma parfum, atau dialog film, atau kencing kuda, atau apapun membawamu pada sebuah kenangan pilu. Lantas kau terisak menangis meratapi diri. Merasa tak berguna, hina dina dan tak beruntung. Kau lupa, kau dicintai dengan seksama. Hanya saja kau menolak membuka mata lebih lebar dan melihat ke sekeliling.

Aku kasih kau sesusun sajak panjang dari Radhar Panca Dahana. Baca lalu renungkan.

andaikata kuregang badan sekujur waktu, tetap saja tak kutemukan kau di situ. sejak lama sudah, kecewa ini kupelihara, seperti lumut menyelimuti batu. aku tak pernah sia-sia, walau sekali lagi, sekali lagi, melulu kekalahan kurayakan.secangkir kopi panas yang kuhirup pagi dini sekali, menyodorkan kangen yang selalu datang di permukaan peruntunganku; kapan aku bisa memenangkan kejuaraan yang tak pernah dipertandingkan? kangen yang selalu mengingatkan bahwa kau masih ada. tapi koran pagi, berita radio dan televisi tak henti mengingatkan siapa saja bahwa waktu sudah tiada. karena itu, silakan kita ramai ramai membunuh kecewa. kita tidak bisa lagi mengenali diri sendiri lewat cermin mephistopheles. bahkan kata hati pun sudah tidak jujur pada dirinya sendiri. lidah selalu mengatakan “yang sebenarnya” dari yang sebenarnya bukan. emhh…betapa panas hari, dan tak ada angin di sini. padahal masih dini pagi, dan tukang sayur mulai menjajakan koran.pada saat seperti itu, pada suasana seperti itu, hanya satu yang ingin aku nyatakan; aku dapatkan satu dari kamu dengan melenyapkan satu dariku. kau tak tahu.
Pembunuhan Kopi di Pagi Hari - Radhar Panca Dahana

Aku menulis ini tak hendak mengguruimu. Kukira kau sudah cukup dewasa untuk bisa belajar sendiri. Atau lebih baik, cukup bijak untuk bisa berpikir sendiri. Kehilangan akan sesuatu memang tak pernah mudah, tapi kesalahan atas kelenyapan tak bisa melulu kau tunjuk pada orang lain. Kau mesti duduk sendiri bertafakur, berpikir dalam diam dan tenang, apa kesalahanmu sehingga kau kemudian mesti kehilangan. 

Kau tak bisa berpikir bahwa kau selalu jadi korban. Kau mesti berpikir panjang, jangan-jangan kau adalah biang kerok. Semacam kutu kupret yang merusak keadaan. Orang-orang hanya berusaha sabar di dekatmu, berusaha bertahan di sekitarmu. Padahal sebenarnya mereka lelah. Padahal mereka sudah jengah. Mereka sudah tak tahan untuk mendengar segala rengekanmu. Menunggu waktu yang tepat untuk kabur dan meninggalkanmu sendiri. 

Kau mesti belajar mengamini kesendirian sebagai seorang karib yang setia. Manusia selalu lahir dari kesunyian, kesendirian kemudian mati dalam kesendirian. Lantas kelak di akherat, jika kau percaya, manusia akan menemui sendiri pertanggung jawabannya. Mungkin kau bisa bertemu dengan Santo Petrus di gerbang surga. Atau barangkali mesti menikmati api penyucian dosa? Entahlah, seperti kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyian masing-masing.

Hiduplah sebagai Pedusi yang liat. Kau tau Pedusi? Pedusi adalah bahasa lain perempuan dalam kazanah melayu minang kalau tak salah. Pedusi tak tunduk pada lelaki, mereka menundukan lelaki, dominan, serta tahu benar apa yang mereka mau. Penguasa atas nasibnya sendiri. Jauh sebelum para feminis dunia melakukan demitologi atas konsepsi kesetaraan lelaki dan perempuan, para pedusi telah menjadikan diri mereka setara di mata para lelaki.

Seroang Pedusi tak akan kalah oleh keadaan. Ia akan sigap bergerak, kalau perlu melawan, atau seperti pasir, menjadi liat. Pedusi akan selalu bersikap lemah lebut tapi bukan berarti ia takluk. Seorang pedusi akan bersabar, bukan berarti ia akan diam diinjak. Ia adalah nama lain dari tekad yang keras. Pedusi adalah perempuan dewasa yang mengerti bagaimana bersikap pada perubahan juga pada kehilangan. Kukira kau harus mengerti ini. Aku mau kau mengerti tentang dunia lain di luar duniamu yang muram penuh amarah itu.

Kamu mau tahu akhir dari kisah Sinanalep Siguk Galajet? Akhirnya sang Adik bertemu dengan si lelaki tadi setelah bertahun lamanya. Si lelaki dan kakaknya tadi telah memiliki anak. Ia tak lagi menaruh dendam, malah sang adik menerima tawaran si lelaki tadi untuk merawat anak-anak mereka. Si adik lalu memuntahkan semua barang-barang yang ditelannya dulu. Ia kembali cantik dan membuka tabir penipuan sang kakak. Si adik lantas menjalani hidupnya dengan kedamaian, bahwa kesempurnaan akan tercapai dengan memaafkan orang yang menyakitinya. Lalu sisanya menjadi tak penting. 

Kukira kau harus mengerti bahwa seiring bertambahnya usia manusia mesti mengerti arti penting kedewasaan. Kita tak lagi bisa merajuk cemburu hanya karena Justin Bieber masih diputar di MTV. Atau mengumpat karena Jakarta masih saja diperkosa kemacetan yang menyebalkan. Atau mencibir karena tiket konser Radiohead kepalang brengsek mahalnya. Atau kita menangis karena gagal menjalani sebuah hubungan. Hidup, kukira, terlalu berharga untuk diisi dengan kesia-siaan semacam itu.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Dalam Perjalanan Kita...

Adam, manusia pertama adalah traveler. Dia mencari dimana Hawa berada.

Salman Rushdie memulai novel masyurnya, Satanic Verses, dengan sebuah pernyataan filosofis yang menggetarkan. "To be born again," kata malaikat Gibreel Farishta menggema dari surga, "first you have to die.” Saya kira Rushdie hendak menyampaikan sebuah pesan. Bahwa untuk menemukan sesuatu, kita mesti kehilangan yang lain. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa didapat hanya dengan berdiam diri dan terlena pada satu keadaan. 

Pernah dalam suatu masa saya merasa jenuh dengan kehidupan yang monoton. Kuliah, berorganisasi, pacaran lalu pulang tidur di kosan. Rutinitas yang awalnya menyenangkan ini pelan-pelan menjadi semacam penjara. Semua yang dulunya adalah kegiatan yang saya inginkan, berubah menjadi kebiasaan yang menjemukan. Tidak ada greget yang dulu memantik semangat hidup. Seringkali dalam diam pertanyaan datang dengan cara yang menyebalkan. "Apa ada yang salah dalam hidup saya?"

Lalu pada akhir 2007 saya berkenalan dengan seorang kawan yang gemar melakukan perjalanan. Ia mengaku dirinya sebagai petualang. Terinspirasi dari sebuah novel karangan Gola Gong, si norak ini tampil dengan tampilan gembel. Kerap dalam diskusi kami yang diselangi makian itu ia becerita, bahwa di luar sana, di Indonesia ada jutaan tempat yang menunggu dijamah, menunggu ditemukan, menanti untuk diceritakan. Tanpa sadar ia membakar semangat baru dalam hidup saya. Semangat petualangan.

Saya bukan seorang pemberani. Seringkali dalam hidup saya lebih memilih berjalan di pinggiran daripada berdiri tegak menghadapi masalah. Pengecut yang ragu-ragu lebih tepatnya. Tapi si norak kawan saya itu rupanya punya cara jitu untuk menyebarkan laku perjalanan, atau traveling, sebagai sebuah gairah hidup. Ia tidak mencemooh gaya hidup aman yang selama ini saya inginkan. Lulus cepat, jadi PNS atau karyawan bank, menikah, beranak lantas mati. Ia hanya bertanya. "Apa yang didapat dari hidup semacam itu?"

Saya kira hidup bukan perihal mendapat gaji lalu beranak. Manusia lebih hebat dari itu.

Pelan-pelan saya memacu diri untuk berani melakukan perjalanan. Awalnya beramai-ramai dengan beberapa kawan pergi ke Jogja, lantas berjalan sendiri. Kota ini adalah kota pertama yang mungkin akan selalu membuat saya menyemai rindu. Ia adalah segala yang bernama kepulangan, sahabat dan juga getir. Getir? Ah sudahlah suatu saat saya akan ceritakan. Tapi di sini saya bertemu dengan kawan-kawan lain yang juga menyadari arti penting sebuah petualangan. Perpindahan manusia kerap kali melahirkan gagasan, kawan dan juga pencerahan yang baru.

Tapi bagaimana sebuah perjalanan mesti dimaknai? Saya kira setiap manusia pernah melakukan perjalanan, petualangan dan ziarah. Tiap-tiap dari perpindahan tersebut memiliki arti sendiri. Sebuah perjalanan tidak selalu linier dengan keinginan kita. Artinya, dalam beberapa kasus, perjalanan bisa menjadi sebuah neraka atau surga tergantung bagaimana kita melakukannya. Perjalanan, seperti juga hidup, semestinya memiliki tujuan normatif. Tidak melulu datang foto-foto, menulis lalu melupakan begitu saja. Perjalanan yang semacam ini, buat saya, adalah perjalanan yang dangkal.


Kadang untuk memuaskan dahaga perjalanan, saya membaca, karena gak punya duit buat jalan.

Mau tidak mau saya ingin bersepakat dengan Jack Kerouac dalam cara menikmati sebuah perjalanan. Melalui magnum opusnya, On the Road, Kerouac bercerita bahwa perjalanan semestinya dimaknai seperti membaca buku. Ia bersama Dean Moriarty ia menjelajahi Amerika Serikat seperti membaca sebuah puisi. "I preferred reading the American landscape as we went along." katanya "Every bump, rise, and stretch in it mystified my longing.” Saya kira ia punya cara yang asik dalam bersenang-senang.

Apakah perjalanan juga harus dilakukan pada sebuah lokasi yang terpencil? Melulu indah dan eksotis? Saya kira tidak. Saya belajar dari Orhan Pamuk yang menyusun Istanbul dengan jeli. Perjalanan semestinya proses yang mencerahkan. Seperti saat pertama kali saya melakukan perjalanan ke Jogja. Saya terpesona akan segala yang dimiliki kota itu. Para penduduknya, toko bukunya, stasiun keretanya dan juga makanannya. Jogja seperti ibu lain yang selalu membuat saya betah berlama-lama menikmati peraduan yang ia sediakan.

Setiap kota, bagi saya, selalu menawarkan satu sudut baru untuk diceritakan, satu sosok baru untuk dikenali dan satu jalan baru untuk dijalani. Untuk itu, dalam setiap perjalanan, dimanapun destinasinya, saya selalu memperlakukan mereka sebagai sebuah tempat asing yang pertama kali dijamah. Sehingga meski satu tempat telah berkali-kali dijamah, dikunjungi atau diceritakan. Ia pasti memiliki sudut lain yang lalai dijelaskan. Perjalanan bagi saya bisa jadi merupakan sinonim dari sebuah pencarian.

Beberapa saat lalu seorang kawan, Farchan Noor Rachman, menuliskan sebuah bernas yang berjudul "What are you traveling for?" Si manis berkaca mata hitam ini berkata "Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana menikmati perjalanan dengan apapun, kemanapun dan dengan ongkos berapapun." Awalnya saya hendak setuju dengan pernyataan ini, kalimat itu benar sebagai sebuah jargon. Namun sebagai pribadi yang pernah mengenyam 30 episode Wiro Sableng dan 42 jilid kitab Dragon Ball saya diajarkan untuk menjadi kritis. 

Farchan alpa pada apa yang telah ia dan kawan-kawan travelernya lakukan. Mereka telah menyebarkan demam perjalanan sebagai sebuah gaya hidup baru, tanpa mempersiapkan pribadi-pribadi lain yang akan terjun dalam petualangan itu. Seperti juga cinta, melancong adalah sebuah virus yang bisa menjangkiti siapapun. Sayangnya tak semua orang bisa memperlakukan perjalanan dengan bijaksana. Beberapa, meminjam bahasa Farchan, "dunia traveling sudah terlalu riuh, terjadi kekosongan, terjadi upaya sombong-sombongan."


Saya ingin berdialog dengan Farchan juga situs semacam hifatlobrain atau yang lainnya, perihal kode etik seorang pejalan. Sebenarnya apa esensi sederhana dari sebuah perjalanan? Kerapkali situs traveling atau travel writer gagal menyampaikan pesan tersebut. Kebanyakan dari mereka hanya stimulan, perayu yang mengiming-imingi orang lain untuk melakukan perjalanan, tanpa memberikan sebuah cagar batas apa tujuan dari sebuah perjalanan. Katakanlah tujuan setiap manusia dalam melakukan perjalanan berbeda satu sama lainnya. Tapi bukan berarti tak ada batasan bagaimana sebuah perjalanan dilakukan bukan?

Apakah mereka salah? Tidak. Saya hanya khawatir perjalanan tersebut hanya menjadi sebuah vakansi kosong. Sebuah ziarah semu atas ego kita menaklukan sebuah destinasi. Saya ingat perjalanan saya ke Toraja 2009 silam. Di balik riuh promosi dan hiperbola keindahan tanah kematian tersebut, rupanya tersimpan duka. Kita boleh jadi melihat sebuah perayaan kematian yang luar biasa, puluhan kerbau dibantai, babi disembelih untuk sebuah pemandangan. Tapi sedikit sekali kemudian yang menyigi bahwa dalam ritus itu beberapa keluarga jatuh bangkrut. Pernahkah kita peduli?

David Chaney, seorang pemikir kajian budaya populer, mengatakan adanya fenomena illusory surface. Penampakan luar yang indah namun membusuk di dalam. Saya mengakui begitu menikmati ratusan foto indah yang dipamerkan dengan tagar #indonesia atau #traveling. Tapi keindahan itu buat saya menjadi ironis, kerap kalo menusuk, jika kemudian kita gagal memahami realitas sosial yang ada dibalik foto tersebut. Melulu kita memamerkan sebuah surga tapi lupa, barangkali para penghuni surga tersebut sebagian besar putus sekolah atau bahkan mal nutrisi.


Meminjam istilah Pink Floyd, we just two lost soul in the fish bowl. Orang asing yang datang ke destinasi asing.

Saya pikir kita perlu bertanya dalam diri kita sendiri. Perlukah perjalanan hanya perihal destinasi tanpa serta berupaya memberikan sesuatu kembali? Di Bromo beberapa waktu lalu saya kembali dihadapkan pada situasi yang pelik. Dalam khusyuk upacara kasada para pencari berkah berkumpul di dalam kawah. Menanti sesaji yang dilempar untuk kemudian dikumpulkan. Siapa mereka ini? Seorang kawan berkata bahwa mereka adalah para penduduk Bromo yang miskin. Mengumpulkan sesaji bertaruh nyawa hanya untuk mengumpukan renik. Hati saya nyeri.

Ada juga beberapa pelancong yang abai dengan kondisi lingkungan sekitar dimana ia berkunjung. Permasalahan Cagar Alam sebagai lokasi perlindungan telah banyak dicabuli oleh pelancong yang enggan mengerti. Ambil contoh Cagar Alam Pulau Sempu dan Cagar Alam Pulau Nusa Barong. Sila anda cari di Google foto kedua lokasi tersebut. Puluhan atau mungkin ratusan foto akan muncul memamerkan keindahan pantainya. Tapi apakah mereka sadar jika lokasi tersebut adalah daerah konservasi alam?

Vidiadhar Surajprasad Naipaul, penulis dan peraih nobel asal India, pernah menulis sebuah catatan perjalanan yang bernas. Ia tak melulu bicara soal keindahan atau pesona alam. Jauh lebih itu ia bicara soal kemanusiaan. Soal realitas sosial yang terjadi di India. Ia bicara tentang kemiskinan yang kejam, konflik ras dan agama yang keji, juga polemik Khasmir antara Pakistan dan India. Adakah dari kita, para pejalan tadi, berani menuliskan itu semua? Menuliskan perjalanan sebagai apa adanya, bukan sekedar surga, indah, mengagumkan dan wow semata.

Sejauh ini pula belum pernah saya membaca travel writer yang berani menulis perihal Papua dalam perspektif humanisme. Deskripsi yang muncul selalu saja, pantai yang indah, penduduk yang unik, hutan yang memukau dan sederet eufimisme lain. Padahal dari catatan Human Rights Watch, hampir setiap hari terjadi pembunuhan di Papua. Kekerasan atas nama rasialisme dan juga konflik tanah adat. Pernahkah para pejalan tadi berani mengigir kisah ini dalam ceritanya? Saya ragu.

Dalam An Area of Darkness, V.S Naipul juga bercerita tentang kehidupan sehari hari. Ia bicara soal kehidupan sosial di India yang disebutnya sebagai sebuah tragedi. Kebanyakan dari kita mungkin berpikir jika India adalah bollywood yang indah, atau dalam bahasa Naipul "All the extravagantly coloured women with big breast and big hips," katanya. Lalu dilanjut dengan kalimat lebih nyinyir "a descendant of those figures of old indian sculpture which, until separated from the people who created them, like a tragic folk longing."

Saya kira kita perlu belajar mengambil jarak pada sebuah keindahan. 

Entah mengapa sebuah perjalanan di Indonesia kehilangan kaidah-kaidah kemanusiaan. Apakah traveling di Indonesia tak memiliki semacam norma atau kode etik? Semacam tapal batas. Bahwa, saat kau melakukan sebuah perjalanan ke satu destinasi tentukan tujuanmu ke sana. Apakah hanya sekedar hura-hura, pelarian, menyelami kebudayaan mereka, atau sekedar mampir. Lantas apa yang bisa kau berikan pada destinasi tersebut? Pajak lewat penginapan? Kabar perihal problema sosial di sana? Atau menutup mata dan berkata. Wow lokasinya indah, lo mesti ke sana deh.

Farchan, juga beberapa kawan di situs Hifatlobrain, saya kira perlu menalar lagi tujuan mereka dalam melakukan perjalanan. Atau dalam kasus hifatlobrain, mempromosikan lokasi wisata. Perlukah kita mengajak orang datang ke satu destinasi hanya sekedar untuk menikmati keindahannya tanpa berpartisipasi dalam pengembangan manusia yang tinggal disana? Atau Hifatlobrain berhenti pada wacana travel experience, experience yang mana? Yang foto-foto narsiskah? Yang murah-murahankah? Atau yang eksotis-eksotiskah? Sekali lagi, pengalaman menjadi personal bagi masing-masing manusia.


Foto oleh Heru Putranto. Saya ngobrol dengan nelayan di pantai Puger. Mereka kerap terbelit hutang jika tak melaut. Kita para pelancong kerap menikmati pemandangan alam tapi mungkin luput peduli pada detail semacam tadi.

Farchan pantas khawatir jika perjalanan yang dilakukannya kini menjadi impulsif. Saya kira ia takut apa yang ia cintai, perjalanan itu, menjadikan ia pribadi yang congkak, sombong lagi naif. Perjalanan, seperti juga ziarah, bukan perihal berapa destinasi yang telah kita lalui, atau berapa negara yang telah kita singgahi. Kalian, seperti juga saya, para manusia lebih dari itu. Perjalanan semestinya momen untuk menyadari kedhaifan diri. Berbagi kisah pada sesama untuk bahan renungan, pelajaran atau mungkin pencerahan.

Samuel Clemens atau yang biasa kita kenal sebagai Mark Twain, dalam salah satu karyanya yang tak terkenal, The Innocents Abroad, berkata “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts." Sebuah perjalanan yang diawali dari prasangka hanya akan berujung sia-sia. Lebih dari itu ia melanjutkan "Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one's lifetime.”

Satu kehidupan tak akan pernah cukup membuat kita mengelilingi bumi. Apalagi belajar dari setiap destinasi yang ada. Pilihan wajarnya adalah menikmati perjalanan tersebut, belajar darinya, lantas memberikan timbal balik pada lingkungan dimana kita tuju. Itu saja uneg-uneg yang hendak saya sampaikan. Saya belum banyak melakukan perjalanan, belum banyak pelajaran juga pengalaman yang bisa saya bagi.

Jumat, 10 Agustus 2012

Kemudian Quran

Iqra karya Haya Segal

Ada yang semestinya dipahami dalam setiap peringatan Nuzulul Quran. Bahwa perintah pertama dalam islam adalah Iqra atawa bacalah. Bukan sekedar beribadah lalu mengklaim diri sebagai mahluk yang beriman. Lebih dari itu. Islam adalah agama yang mengajarkan kesadaran kritis. Kita di tuntut untuk "(mem)Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan." Membaca juga tak melulu dari buku saya kira. Iqra dalam kazanah relijius perlu juga diperluas pemaknaannya.

Dalam lima ayat pemula dari Al Alaq, Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, memerintahkan dua kali untuk membaca. Saya kira perintah ini bukan sekedar ayat yang turun tanpa sebab. Al Quran, berbeda dengan kitab lain, turun secara bertahap. Ia lahir sebagai sebuah peringatan, sebagai sebuah panduan dan juga sebuah jalan keluar atas permasalahan. Hal ini lantas melahirkan kitab Azbabun Nuzul yang berguna untuk memehami konteks sosio historis sebuah ayat dan perintah di dalamnya.

Saya percaya Al Quran merupakan manifestasi panduan hidup juga perintah yang harusnya dijalani orang muslim, sebagai bagian dari proses keimanan. Tapi sebagai manusia yang memutuskan jatuh cinta pada puisi. Al Quran adalah segala yang dirindukan para penyair. Narasi yang elok, diksi yang menggugah, kata yang kuat dan juga seranai kalimat yang menggugah. Kadang saya berpikir tuhan adalah seorang penyair yang malu-malu. Ia menyisipkan makna dalam setiap firman yang ada.

Mu'shaf Quran adalah kiasan yang menunggu dimengerti para pembacanya. Bahwa banyak kata, kalimat juga cerita di dalamnya yang kadang gagap dipahami sebagai sebuah pesan dari masa lalu. Al Quran pulalah yang menjadi sebab banyak manusia merasa memiliki warisan kuasa tuhan. Bahwa atas nama kata-kata, juga perintah yang kadang masih bisu, manusia menindas manusia yang lain. Kitab dengan isi kejam juga menjadi beringas pada kaum karena salah dimengerti.

Quran telah berabad-abad menjadi inspirasi manusia. Ia adalah cahaya yang menerangi gelap akal budi dan juga pelita atas kelam perilaku. Coba tengok manusia-manusia utama yang menjadikan Quran sebagai jalan hidup. Para alim ulama, ahlul bait, juga sufi yang merindu tuhan. Apakah melulu Quran adalah milik umat islam? Tidak. Quran, seperti juga islam, adalah berkah bagi seluruh umat. Rahmatan Lil Alamin yang sebenar benarnya.

Si murung Edgar Alan Poe adalah salah satu manusia yang terinspirasi dari Quran. Al Aaraaf adalah sajak terpanjang yang pernah ditulis penyair asal Amerika ini. Ia bercerita tentang Peri Nesace yang diperintahkan Tuhan untuk mengabarkan kepada para malaikat, untuk melaksanakan perintah Nya. Akan tetapi perintah ini gagal dilakukan karena dua malaikat terlibat dalam kisah asmara. Akibatnya Tuhan mengutuk dua malaikat ini untuk tak diterima baik di surga dan di neraka. Al Aaraaf  sendiri memiliki arti yang di antara surga dan neraka.

Dalam salah satu surat yang mesra Goethe, penyair besar Jerman itu, pernah memuji keindahan syair dan makna Quran. Kepada Schlosser ia berkata "to celebrate respectfully that night when the Prophet was given the Koran completely from above" Apakah ia mengimani Quran sebagai kalamullah/ kata-kata tuhan? Entahlah. Yang jelas Goethe yang dikala muda pernah jatuh cinta pada jazirah Arab juga pada bahasanya. Dalam kata-kata yang penuh igauan ia berkata, bahasa Arab dalah "In no other language spirit, word and letter are embodied in such a primal way."

Al Quran bagi saya adalah sebuah kitab yang mencerahkan. Ia memberikan orgasmus bagi saya yang mencintai sajak. Tuhan menunjukan bagaimana kata-kata dirajut hingga menjadi sebuah bala keselamatan. Tuhan menjadikan firman bukan hanya sekedar perintah yang mesti ditaati, tetapi juga sebuah teka-teki yang menunggu dipecahkan. Al Quran adalah segala yang bernama kesejukan. Kalimat yang indah, suara yang magis juga sahabat yang kental.

Menikmati Al Quran adalah menikmati hidup sebagai seorang sufi. Kita tak perlu tunduk tafakur dan menjadi a sosial untuk memahami bahwa Al Quran menyediakan segala yang rohani kita butuhkan. Ia sebenar-benarnya karib yang banyak bercerita tentang kaum lampau. Berharap kita bisa belajar dari mereka. Juga melepaskan beribu petuah tanpa perlu menjadi hakim yang garang. Ia ada di sana. Segala yang kita rindukan dari sebuah petunjuk. Janji yang mesra, ancaman yang nyata juga panutan yang rendah hati.

Sepertinya saya rindu mengaji. 

Minggu, 05 Agustus 2012

Anasir / Retak

#1

Kau mencari satu titik untuk berhenti,
sementara rindu menunggu ditemukan.
Lalu mestikah kita bersengketa
perihal waktu dimana perpisahan
selalu menjadi bagian dari akhir cerita

#2

Hujan selalu datang dalam diam, juga
ketergesaan yang malu-malu.
Siapkah kita menghadapi masa
lalu yang merambat?

#3

Pada sebuah malam yang dihadiri bulan
awan datang dengan semangat.
Bahwa gelap, tak harus berujung pekat
juga harapan patut diperjuangkan.
Dengan atau tanpa bayonet,
pendosa berhak bertobat.

#4

Apa yang lebih parau dari keraguan?
Di bilik rumahnya hanya ada curiga.
Sementara manusia adalah fana.
Juga harapan, yang dibiarkan diam.

#5

Kita menyemai harapan seperti debu.
Takluk pada apa yang kasat mata
seolah-olah zaman lahir
karena ketiadaan. Sementara niskala
hadir seperti rupa udara.

#6

Sebuah perbincangan tergeletak tak berdaya.
Tatal kacang, juga ampas kopi.
"Kemerdekaan," katamu "Lahir dari manusia yang bangun dinihari"
Esok pagi, sepasang ayam jantan meludah.
"Manusia tak pernah belajar,"
tapi kita tak pernah tahu apa maksud ayam berkokok bukan?

#7

Yadnya Kasada, dengung rapal doa.
Serupa mantra. Serupa tulah.
Serupa wajah-wajah yang menunggu
debu surut, pagi usai, juga angan angan.
Larung sesaji di puncak api.

#8

Asa tetas di satu sudut bernama persimpangan.
Lalu kau, lelaki yang menganyam
dendam berkarat. Sudahkah masa depan
bercerita tentang satu cerita?
Tentang sungai Gangga yang
melabuhkan anak cucu Santanu.

#9

Sinode pagi dimana Musa datang sebagai
musafir yang kelelahan. "Adakah Yesus di antara kalian? Saya lapar."
"Tuan, tidakkah tuan tahu? Yesus mati
tiga hari lalu," kata seorang wanita bercadar hitam.
"Jika Yesus mati. Lalu siapakah yang
membukakan pintu maaf pada umat manusia?"


Rabu, 01 Agustus 2012

Anjing!

Teater Tiang dalam lakon Monumen Para Anjing



Pada satu cerpen masyur karya Kuntowijoyo yang berjudul Anjing-anjing Menyerbu Kuburan, ada sebuah fragmen tentang simbol keserakahan yang teramat nyata. Tentang bagaimana manusia dan hewan, dalam hal ini anjing, bisa masuk dalam sebuah kriteria yang sama. Menjadi mahluk yang tak berpikiran logis dan menjadi budak atas keinginannya sendiri. Anjing yang memakan bangkai manusia dan manusia yang mencuri dari bangkai sesamanya. Keduanya seragam atas nama ketamakan.


Interpertasi yang muncul dalam Anjing-anjing Menyerbu Kuburan adalah posisi kemanusiaan yang sudah diambang batas. Tokoh utama yang sedang melakukan ritual digambarkan tengah berada dalam himpitan ekonomi, sehingga ia rela melakukan apapun untuk meraih kekayaan. Sementara para anjing liar, yang entah darimana, tiba-tiba muncul untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Makan. Dua kebutuhan yang bertemu dengan alasan yang kurang lebih mirip. Hanya satu berdasarkan insting dan yang lainnya keterhimpitan.


25 Juli lalu pada sebuah malam yang tak begitu larut, Unit Jegiatan Seni Pertunjukan Mahasiswa Teater Tiang FKIP Universitas Jember, tengah mementaskan sebuah lakon teater surealis yang berjudul Monumen Para Anjing. Naskah nir dialog ini disutradari oleh Ferick Sahid Persi, yang juga ketua Teater Tiang. Meski tak banyak dihadiri oleh penonton, namun pementasan yang berdurasi sekitar 45 menit ini mampu membuat saya terhenyak dengan fragmen-fragmen simbolis yang berkelebat.


Dimulai dari tata panggung yang sebagian besar diisi oleh kursi juga sebuah gerobak yang membawa kursi tadi. Karena memang tak banyak ragam properti yang digunakan Teater Tiang pada lakon kali ini. Sebuah lapangan bundar di tengah kampus FKIP Unej dipilih sebagai tempat pementasan. Di awal hingga akhir pementasan para pemain sama sekali tak melakukan dialog. Hanya permainan ekspresi dan suara-suara yang mirip dengan Anjing.



Pada paruh awal pementasan para aktor tak banyak melakukan gerakan. Gerak yang dilakukan juga lamat-lamat seperti ogah-ogahan. Tidak melulu menampilkan banyak gestur yang gegas apalagi terburu-buru. Salah satu unsur yang menarik yang saya sukai dari naskah Monumen Para Anjing adalah penggunaan unsur simbol dan ketiadaan dialog. Para penonton dibuat bertanya-tanya mengenai apa maksud dari pementasan tersebut. Boleh jadi antar satu penonton dan yang lainnya memiliki tafsir yang berbeda.

Simbol-simbol yang dimainkan oleh Ferick dan kawan-kawan memiliki beberapa lapisan tafsir. Tentang simbol anjing, tentang kursi dan juga gerak yang lambat. Ia seolah bicara tentang manusia yang tunduk. Manusia yang hanya bisa mengekor dan dipelihara oleh sistem. Kursi sendiri merupakan perlambang kekuasaan. Sebuah monumen yang merepresentasikan otoritas dan penguasa. Sementara para anjing adalah manusia-manusia yang direpresi dan dimanjakan oleh penguasa tersebut.

Dalam lakon Monumen Para Anjing, para anjing tadi awalnya adalah manusia. Namun karena mereka tunduk dan direpresi pelan-pelan kesadaran kritis mereka habis. Direduksi oleh teror, uang dan juga propaganda yang dilakukan penguasa. Hal ini disimbolkan oleh Teater Tiang melalui amplop, anjing yang meneror juga indoktrinasi melalui topeng-topeng. "Kita semua awalnya manusia. Tapi berubah jadi anjing. Anjing yang tunduk dan hanya bisa diam saja," tukas Ferick.

Ferick sendiri sebagai sutradara sebenarnya terinspirasi sejak lama untuk mementaskan teater surealis yang nir dialoh. "Saya telah lama ingin menyusun naskah ini. Sejak pertama bisa membaca pada koran, saya rasa tidak pernah ada perubahan yang berarti dalam pemberitaan," katanya dengan landai. Ia lantas bercerita jika naskah ini adalah upaya untuk mengkritisi kondisi masyarakat yang tak pernah berubah sejak bertahun lampau.

Namun yang membuat pementasan ini kurang sempurna adalah menjelang akhir, Ferick saya kira melakukan blunder dengan menuliskan kata-kata. Seperti Demokrasi, Anti Korupsi dan lainnya. Ia yang sedari awal ingin pementasan ini sebagai sebuah "Puisi yang dimaknai secara mandiri," telah menggiring penontonnya terhadap sebuah pemaknaan. Padahal jika dilakukan dengan rapi ia bisa menggunakan simbol-simbol lain yang mewakili kata-kata tersebut.

Sebagai penutup saya hendak mengingat beberapa fragmen dalam cerpen  karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Legenda Wong Asu. Anjing digambarkan sebagai sebuah komoditas juga simbol kesetiaan. Ia hadir dalam penggambaran sengsu (oseng-oseng asu) yang dikonsumsi sebagai makanan. Lebih dari itu detail narasi Seno tentang bagaimana perbandingan anjing liar dan anjing domestik bisa menjadi sebuah ironi. Bahwa dalam dunia binatang pun terdapat perbedaan bagaimana sebuah keas dibentuk. Apakah kau seekor anjing buluk atau anjing aristokrat.

Sabtu, 28 Juli 2012

Thoreau Mix Tape List





Seharusnya ada perayaan 12 juli lalu. Saat jakartabeat merayakan weekend mixtape ke #5 bertemakan Occupy. Jakartabeat melupakan satu nama besar di Amerika Serikat.  Si murung Hendry David Thoreau. Pria dengan jambang selebat Oma Irama ini seorang pacifist yang menolak penindasan dengan cara damai. Sebuah usaha intelectual mocking terhadap pemerintahan (baca negara) tanpa membuat aparatusnya merasa tersinggung.

Pada musim panas Juli 1846 Thoreau melewati satu malam dalam sebuah sel dingin di kota Concord. Sebagai kulit putih terdidik ia menentang perbudakan setelah beberapa tahun sebelumnya menolak membayar sebagian dari pajak yang dikenakan padanya. Tipikal kelompok kelas menengah ngehe yang sadar gerakan. Tentunya gerakan ini perlu nama, lantas entah siapa yang tengik menyebut tindakan pria berjambang ini sebagai Pembangkangan Sipil karena tiga tahun selepas ia dipenjara, pada 1849 melahirkan esai panjang berjudul Resistance to civil government.

Lantas pemikiran iseng muncul seusai membaca catatan pinggir Goenawan Mohammad yang mulai membosankan itu. “Jika Thoreau hidup pada era Google yang maha tau. Kira-kira lagu seperti apa yang akan ia dengarkan?” Maka keisengan ini berujung pada upaya saya menyusun lima lagu tentang pembangkangan sipil. Meski dalam esainya Thoreau tak pernah menyebutkan frase Civil Disobidience secara gamblang. Saya kira akan menyenangkan merumuskan pembangkangan dalam sebuah sajak lagu.

Oh tentu saja saya hanya bercanda saat mengatakan bahwa daftar ini dibuat sebagai perayaan Weekend mix-tape. Karena saya tidak berasal dari scene indie manapun. Meski saya memaknai Indie senagai the art of having fun. Toh daftar ini dibuat sebagai bentuk lain tahlilan terhadap 150 tahun usia pembangkangan sipil yang dilahirkan Thoreau. Setelah mengobrak-abrik 111 giga file musik yang sebagian besar diunduh secara ilegal saya menyusun lima lagu untuk Thoreau.

Hasilnya ya tentu saja sekedar daftar lagu eklektik. Alasannya? Karena saya bukan pendengar musik yang taat. Sehingga memilih lima lagu dari beberapa dekade terakhir adalah upaya melawan kelampauan yang nisbi. Juga karena saya tak paham benar perbedaan antara resistance dan disobidience. Apakah perlawanan adalah bentuk pembangkangan atau malah sebaliknya? Tapi sajak dalam lagu toh bisa ditafsirkan secara bebas.

Secara sadar saya menyisihkan We Shall Over Come yang dipopulerkan oleh Joan Baez. Lagu ini  yang sempat sangat jamak di dengar di era 70an, bukanlah lagu yang menganjurkan pembangkangan. Lagu itu lebih seperti bentuk lain dari pacifist yang digaungkan oleh Ghandi. Meski pada 1956 Rosa Parks bersama Marthin Luther King Jr, dalam great march of Washington We Shall Over Come adalah anthem para pejuang hak sipil.

Saya juga menyadari bahwa sebagian besar dari daftar yang saya susun sebagian besar berasal dari Amerika. Ada sebuah ironi yang menyebalkan. Tanah kebebasan toh tidak bebas-bebas amat sehingga melahirkan pemikir yang merumuskan ide tentang pembangkangan sipil. Negara yang dibangun dari 300 tahun pembantaian dan perang saudara. Apa yang lebih tengik dari itu?

5. We're Not Gonna Take It Lyrics - Twisted Sister (1984)

We've got the right to choose and
There ain't no way we'll lose it
This is our life, this is our song

                Saya mesti mengakui tidak semua glam/hair metal dekaden. Beberapa bisa dengan cerdas meramu kata-kata dan lirik yang secara semiotik berupa perlawanan terhadap segala yang mapan. 1980an adalah masa di mana seluruh orang sudah muak dengan perang dingin. Kejatuhan Soviet dan runtuhnya Berlin. Teror Petrus di Indonesia membuat para preman bergidik nyeri dan jalanan menjadi sepi di malam hari.

                Twisted Sister mentasbihkan diri sebagai kumpulan pemberontak. Dengan sound mirip heavy metal mereka melawan apapun yang ditasbihkan pada sebuah band metal. Gelap, garang dan menakutkan. Lantas mengubahnya menjadi berwarna, terang dan penuh suka cita. Twisted Sister boleh jadi salah satu band yang mencoba mengeluarkan Amerika Serikat dari regresi semangat akibat dua perang tanpa hasil.     

4. The Revolution Will Not Be Televised - Gil Scott-Heron (1971)

Green Acres, The Beverly Hillbillies, and Hooterville
Junction will no longer be so damned relevant, and
women will not care if Dick finally gets down with
Jane on Search for Tomorrow because Black people
will be in the street looking for a brighter day.
The revolution will not be televised.

Sebut saya sebagai pendengar musik yang naif. Tapi the godfather of hip-hop ini adalah seorang imam mahdi. Jauh di masa 1970 an saat Fox News dan CNN belum sebejat hari ini. Ia telah meramalkan bahwa media akan menjadi anjing pudel peliharaan pemerintah. Maka satu-satunya jalan melawan hal tersebut adalah berhenti menonton TV, memulai jaringan informasi sendiri dan lakukan perubahan dari tingkat RT/RW.

Thoreau dengan pedas menuliskan “Unjust laws exist;” dengan jeda panjang lantas ia melanjutkan dengan sebuah pertanyaan penting ” shall we be content to obey them, or shall we endeavor to amend them, and obey them until we have succeeded, or shall we transgress them at once?” Sejalan dengan itu Gil, menurut saya telah berusaha abai dengan adanya negara dengan perangkat komunikasi mereka.  

3. I Ain't Marching Anymore - Phil Ochs (1965)

For I stole California from the Mexican land
Fought in the bloody Civil War
Yes I even killed my brothers
And so many others But I ain't marchin' anymore

                Mari kita sepakati bahwa Phil Ochs bukan Bob Dylan dan ia sama sekali tidak berupaya menjadi Dylan. Meski hubungan Ochs dan Dylan lebih seperti mentor dan murid dalam relasi yang di gambarkan dalam Star Wars. Dalam banyak hal, berbeda dengan Dylan, Ochs yang memutuskan secara sadar masuk ke dalam aksi politik. Ochs secara terbuka mendukung Kuba saat perang dingin berlangsung. Ia bahkan perlu repot membaca kembali Engels dan Marx, meski tak pernah benar-menar meyakini manifesto komunis sebagai nubuat.

I Ain't Marching Anymore merupakan rangkuman singkat sejarah kekerasan yang ada di Amerika Serikat. Mulai dari pembantaian kaum Indian sampai dengan rasialisme kulit hitam. Bahwa demokrasi yang hadir hari ini dibangun dari darah. Mungkin lagi ini juga salah satu yang mendorong sejarawan radikal AS, Howard Zinn menuliskan A People's History of the United States. Puncaknya adalah ajakan Ochs untuk menolak wajib militer dan bagian dari perang Vietnam.

2. No Suprises – Radiohead (1997)
You look so tired and unhappy
Bring down the government
They don't, they don't speak for us
I'll take a quiet life

Tahun 90an adalah puncak dari malaise cita rasa. The so called generasi X berusaha melepaskan identitas diri dari apa yang telah mapan sebelumnya. Repetisi dari sejarah yang berulang-ulang. Pekerjaan yang membosankan dan para pemuda hanya menjadi skrup dari korporasi internasional. Saat Radiohead masih belum semenyebalkan hari ini (ya menyebalkan mereka ogah konser di Indonesia) yang dengan sinis memotret sikap nyinyir kelas menengah ngehe. Bring down the government adalah oxymoron dari sebuah negara yang masih terbuai mitos monarki.

Radiohead lewat no surprises seolah ingin mengajak para pendengarnya menjalankan apa yang disebut Thoreau sebagai “Quietly declare war with the State” bahwa hidup yang monoton, seragam dan tertebak ujungnya adalah sebuah kesia-siaan. Untuk itu salahkan pemerintah dan boikot terhadap pekerjaan apapun. Lagu ini bukan sebuah penolakan terhadap zaman ia hanya mengejeknya. Tentu lagu ini masih relevan didengar oleh para pejuang hak-hak sipil melalui Ipod di salah satu pojok starbucks.


1. Mosi Tidak Percaya – Efek Rumah Kaca (2008)

Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya

Thoreau menutup esai panjangnya dengan sebuah harapan. Bahwa kelak di masa depan akan ada sebuah negara yang berpihak pada masyarakatnya. “I have imagined, but not yet anywhere seen.” Saya mesti percaya pada Cholil dan kawan-kawan bahwa satu kalimat di atas adalah puncak dari segala yang bernama pembangkangan. Bahwa suatu saat masyarakat di negara yang mulai membusuk ini akan sampai pada satu titik bahwa mereka sudah cukup dikadalin oleh pemerintahannya. Titik dimana negara bersama aparatusnya telah menjadi Leviathan dalam terminologi Hobbesian.

Pemerintahan korup dan ragu-ragu adalah sebuah lelucon yang mesti diakhiri. Dengan lirik lagu yang mudah diingat, mudah dicerna dan mudah dinyanyikan. Lagu ini sebenarnya berpotensi menjadi sebuah koor wajib pada setiap demonstrasi damai. Tapi pembangkangan sipil ala Thoreau bukanlah demonstrasi jalanan yang dilakukan dengan kekerasan. Thoreau menginginkan kesadaran kritis dari para warganya untuk menuntut pemerintah bekerja dengan benar. "ini masalah kuasa, alibimu berharga, kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?"


in honorable mention

Rage Against The Machine - take the power back
Pink Floyd - Mother
Swami - Bongkar
Flaming Lips - Jesus Shootin' Heroin
Arcade Fire - Antichrist Television Blues

Jumat, 27 Juli 2012

Sinonim Kesepian



~ Penyair tidak pernah mati. Mereka tinggal dalam barisan sajak yang dibaca di tiap-tiap sudut pasar dan pertunjukan.

Saya kira 26 April mesti diberi warna merah terang pada tanggal kalender. Karena hari itu 90 tahun yang lalu seorang penyair lahir dan menghantui Indonesia untuk selamanya. Seorang penyair yang mati karena penyakit kelamin dan dielu-elukan sebagai pembaharu. Namun lebih dari itu Chairil Anwar, si penyair jalang itu, adalah seorang yang kesepian. Seseorang yang hanya hidup untuk sendiri dan ditinggalkan.

Mari kita mulai membayangkan pada sebuah pagi 26 April 1922. Seorang pamong praja bernama Toeloes, yang saat itu barangkali berusia 30an, tengah tersenyum bangga menatap istrinya Saleha. "Aku telah mendapatkan seorang lelaki. Kelak ia akan mewarisi darahku," katanya dalam hati. Medan pada hari itu serasa seperti di halaman surga. Kebahagiaan menyeruak di antara tangis seorang bayi kecil bernama Chairil Anwar.

Bertahun kemudian saat Chairil lepas berusia 19 tahun ia berpindah dari medan ke Jakarta. Di sini penyair kita ini tak lulus Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Namun mengenyam pendidikan sejak tingkatan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) telah membuatnya fasih bahasa asing. Juga mengakses sastrawan-sastrawan terkemuka dunia macam Auden dan Whitman. Salah satu yang lantas ia gandrungi adalah penulis Perancis André Paul Guillaume Gide. Kelak salah satu bukunya diterjemahkan Chairil sebagai Pulanglah Ia si Anak Hilang.

Pada usia 20 tahun Chairil Anwar mencatatkan dirinya dalam sejarah sastra Indonesia setelah salah satu puisinya termuat di Majalah Nisan pada tahun 1942. Adalah paus sastra Indonesia, HB Jassin, orang yang konon pertama kali menemukan bakat Chairil. Salah satu syair masyur yang diciptakannya adalah sajak Nisan. Konon sajak ini dibuat seusai kematian sang Nenek yang sangat ia cintai. Sajak ini buat saya adalah tonggak keparipurnaan dalam penggambaraan rasa kehilangan.
“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta”
Dalam sajak itu diksi yang disusun membangun imaji tentang bagaimana sebuah kematian mesti dihadapi. Namun dalam saat yang bersamaan sajak tersebut menggambarkan mengenai kehilangan yang teramat sangat. Sampai hari ini saya kira belum ada sajak yang mampu menandingi Nisan perihal penggambaran kematian sebagai sebuah proses keikhlasan.

Proses kepenyairan Chairil adalah proses kepenyairan yang otobiografis. Sajak-sajaknya lahir seperti sebuah narasi yang mengalir. Ia pernah jatuh cinta dengan malu-malu, pernah kehilangan, dikhianati dan juga terbakar nuansa perjuangan kemerdekaan. Sajak-sajak seusai melewati individualitas dan kematian keluarga mengantarkan era baru dalam tema perjuangan dan kehidupan.

Coba saja liat sajak-sajak seperti sajak Karawang Bekasi yang ditulis pada 1943. Sementara Persetujuan Dengan Bung Karno, Diponegoro, dan Prajurit Jaga Malam ditulis pada 1948. Meski Karawang Bekasi kerap kali dianggap menjiplak The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish. Sajak-sajak tersebut bahkan oleh Lekra, organisasi kesenian PKI, dinilai bukan merupakan sebuah sajak individualis. Namun sajak yang bernuansa perjuangan dan anti imprealisme.
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Sajak Persetujuan Dengan Bung Karno dianggap Lekra sebagai sebuah pernyataan anti fasisme. Begitu gandrungnya Lekra sehingga menginspirasi salah satu penulisnya, Pramoedya Ananta Toer, untuk menuliskan sebuah fragmen yang ditujukan bagi Chairil. Dalam novel Larasati, ia dikisahkan pernah beradu mulut dengan Idrus perihal honor tulisan sajak.

Menjadi penyair adalah upaya mencintai kemerdekaan dan kebebasan. Hal ini tak ia hanya ia tunjukan dalam sajak-sajak yang bernuansa nasionalisme. Namun juga dalam gaya hidupnya yang urakan dan bohemian. Bahkan kepada siapapun ia tak ingin menjadi orang lain, meski orang itu adalah Presiden Republik Indonesia. Coba tengok sedikit kisah yang tertuang dalam memoar Basuki Resobowo. Chairil dan Affandi dulu pernah diminta Soekarno untuk bikin poster kemerdekaan.

Di tengah desakan yang bertubi-tubi akhirnya si tengil Chairil berucap "bung ayo bung" yang terdengar sangat elegan. Padahal kata bung merupakan sebutan jantan bagi para lelaki yang diucapkan oleh pelacur. Tak percaya? Sila anda nonton film "Lewat Djam Malam". Maka anda akan terpukau kata-kata Laila yang berujar "Bung terlihat lelah". Tentu bung bukanlah kata asing bagi Chairil yang doyan jajan ini. Kelak ia pun dikenal sering berhutang pada kawan untuk membeli obat buat penyakit sipilis yang dideritanya.

Sebagai seorang penyair ego rupanya merupakan bagian dari jati diri Chairil. Bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, ia menyusun Surat Kepercayaan Gelanggang. Sebuah manifesto kesenian yang berusaha lebas dari nilai- nilai politis dan pemaksaan kolonial. Dengan pongah mereka menuliskan "Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri." Lebih dari itu pada suatu wawancara dengan radio Belanda si kecil kumal Chairil mengumpat "Yang bukan Penyair, tidak ambil bagian!"

Meski dikenang sebagai seorang yang urakan, ketus, keras kepala dan apa adanya. Chairil rupanya seorang pecinta yang melankolis. Ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sri Ayati, seorang penyiar radio di Jakarta saat masa pendudukan Jepang. Sri adalah salah satu dari beberapa gadis yang pernah menjadi objek afeksi personal Chairil dalam sajak. Senja di Pelabuhan Kecil adalah buktinya;
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Entah mengapa bagi saya sajak ini seolah penggambaran rasa menyerah dan kekalahan. Chairil seperti telah kelelahan dalam upaya menggenapkan perasaan. Jatuh cinta barangkali adalah sebuah kemewahan bagi seorang penyair yang miskin. Dalam bayangan saya, Chairil menulis sajak ini di Sunda Kelapa. Seusai bertemu dengan Sri Ayati dengan perasaan yang remuk. Sajak ini ditutup dengan sebuah kalimat yang letih. "Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap."

Seiring bertambahnya usia, semakin gelap dan putus asa sajak yang diciptakan Chairil. Seperti sajak Derai-Derai Cemara, Aku Berada Kembali dan Yang Terhempas dan Yang Terputus. Si Binatang Jalang yang pernah ingin hidup 1000 tahun lagi ini telah habis daya hidupnya. Ia telah merutuki keterasingan dalam kata-kata yang ia torehkan sebagai puisi. Saya kira justru ini yang membuat Chairil menjadi penyair yang besar. Ia bisa hidup dalam berbagai warna kehidupan, tapi bukan hidup dalam satu warna monokrom.
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Derai-Derai Cemara adalah puisi terakhir yang diciptakan oleh Chairil. Boleh jadi hanya puisi inilah, bagi saya, yang mampu merajut imaji tentang kekalahan. Ia bercerita tentang hidup yang sia-sia. Barangkali ia ingin berkata bahwa pada akhirnya semua manusia akan kalah pada kesunyian bernama waktu. Ia yang pernah berkata bahwa "Nasib adalah kesunyian masing-masing," telah mengalami "Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi,". Lantas dikuburkan sebagai mayat dan berakhir sebagai sebuah nisan.

Rabu, 25 Juli 2012

5 Buku Baik Ramadhan

Ramadhan adalah harapan bagi para pendosa. Tapi bagi saya, ramadhan adalah saat dimana saya bisa asyik membaca dengan waktu yang terbentang luas tanpa diganggu. Orang-orang yang sebelumnya penuh energi dan kapan saja bisa mengajak pergi, mendadak malas dan lebih suka tiduran daripada keluar rumah di tengah terik. Momen seperti ini adalah saat yang menyenangkan bagi saya. Ditemani sepi membaca bisa jadi sangat menyenangkan.

Ramadhan juga selalu hadir untuk mengisi garasi wacana tentang agama. Well, paham agama tidak berarti harus relijius. Beragama juga tak mesti paham benar tentang kemaslahatan umat. Buat saya belajar agama tidak linier dengan menjadi fanatik lalu fasis. Terkadang membaca kitab bisa membuat kita menjadi 100% taat atau sebaliknya 100% murtad. Itulah mengapa dalam islam, meminjam istilah Bapak saya, perlu pemahaman dan diskusi yang ketat antara apa yang ada dalam kitab dan yang tersirat di sekitarnya.

Realitas agama selalu sejalan dengan zaman yang hadir saat itu. Ia tak berhenti pada satu waktu saja, mesti demikian tafsir adalah perkara perspektif. Ingat bagaimana sebelum Muhammad berkuasa atas Mekah, perbudakan adalah niscaya. Lantas setelah islam berjaya perbudakan dan pernikahan siri di hapuskan. Ini bukti bahwa agama boleh jadi tetap, namun tafsir selalu saja dinamis.

Hamzah Fansuri, penyair sufistik yang berasal dari Barus, pernah menuliskan sajak masyur dalam Syair Perahu. Dimana ia membuat metafora ilmu dan iman sebagai kemudi. Ia berkata "Wujud Allah nama perahunya, ilmu Allah akan [dayungnya], iman Allah nama kemudinya, “yakin akan Allah” nama pawangnya." Ia bicara tak semata-mata ilmu adalah tentang membaca Qur'an. Tapi juga pengetahuan lain yang bisa menjadi 'dayung'.

Untuk itu sementara Ramadhan baru berjalan beberapa hari saya hendak menuliskan beberapa buku yang sebaiknya dibaca selama puasa. Tentu tak melulu tentang agama islam. Juga ada beberapa buku lain yang menarik untuk dibaca dan diresapi nilainya. Silahkan menikmati.


5. Idiologi Kaum Intelektual (Suatu Wawasan Islam) - Ali Syariati

Buku ini adalah apa yang saya sebut sebagai "Buku yang habis dibaca dalam setarikan nafas namun membebaskan." Buku ini tebalnya tak lebih dari 185 halaman memiliki pengantar memukau dari Jalaludin Rakhmat, seorang intelektual muslim syi'ah Indonesia. Kalimat dalam buku ini begitu melekat di kepala saya selepas membaca fragmen "Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala." Jalaludin Rakhmat saya kira sedang bercerita tentang sejarah panjang kekerasan dalam syiah.

Buki ini baik dibaca bagi mereka yang hendak mempertanyakan arti penting seorang pemikir dalam agama islam. Terlepas buku ini disusun oleh intelektual syiah, sunni maupun ahmadi saya kira perlu membaca buku ini. Saya sendiri baru selesai membaca sekitar empat bulan lalu dan kini sedang saya baca ulang. Di dalamnya saya temukan lagi risalah-risalah mutakhir yang menempatkan Ali Syariati sebagai seorang teknokrat yang membebaskan. Ia bicara perihal pentingnya ilmu pengetahuan bagi pengembangan agama.

Anda mungkin hanya sedikit menemukan fragmen-fragmen Al Quran di dalamnya, namun akan banyak sekali menemukan jejak-jejak pemikiran dan sejarah dari masa lampau. Hal ini saya kira sangat baik dibaca untuk menambah wacana tentang bagaiman ilmu ditempatkan. Ia (ilmu pengetahuan) tak bersifat sekuler, tapi menyublim dalam ritus-ritus agama kita. Tapi juga menjadi sebuah pisau dan kendali bahwa hidup tak melulu tentang membaca, tapi juga mengalami realitas dengan segala pahit getirnya.

4. Hidup Itu Indah - Aji Prasetyo

Saya membayangkan jika Nabi masih hidup dan membaca komik Aji ia akan menghadapi dilema. Bahwa ia mesti tertawa melihat ironi yang tergambar, atau menangis melihat kondisi umatnya kini. Mau tidak mau saya juga teringat pada salah satu fragmen cerpen "Langit Makin Mendung" karya Ki Pandji Kusmin. Apakah seorang petani miskin yang memampang bendera palu arit lebih baik daripada seorang kyai yang terpukau uang segepok dalam kitab?

Mas Aji saya kira bisa melahirkan komik sebagai sebuah opini yang merdeka. Ia mungkin salah satu dari sedikit orang yang bisa membebaskan komik dari kungkungan stigma 'hanya dibaca oleh anak-anak'. Buku ini dengan cerdas menguliti secara rapi, bagaimana wajah fanatisme beragama (baca : islam) di Indonesia disalahgunakan. Tentang bagaimana ego pribadi telah mengkooptasi sebuah institusi relijius sebagai sebuah kendaraan politis.

Entah mengapa beberapa minggu setelah komik ini diluncurkan langsung raib di toko-toko buku. Kalaupun ada dengan harga yang lumayan mahal. Bagi beberapa orang di negeri ini, saya kira agama adalah perihal ketetapan. Sesuatu yang saklek dan tak pantas dikritisi. Sayangnya mereka tak paham bahwa tindakannya itu membenarkan apa yang dikritik oleh Aji. Fanatisme buta tanpa pemahaman yang utuh bahwa agama seyogyanya adalah perihal menjadi lebih baik bagi orang lain.

3. Jihad Melawan Islam Ekstrem - Al Ashmawy

Mohammad Said Al Ashmawy membuka esai panjang mengenai fanatisme dengan mengutip salah satu ayat dalam The Egyptian Book of Dead. "Aku adalah masa lalu, Aku mengetahui hari esok; Aku bisa menjadi muda, Aku adalah osiris; Aku datang untuk memerangi kegelapan." Sebuah tindakan berani dari seorang mantan ketua pengadilan tinggi Kairo Mesir. Negeri yang selama kekuasaan Hosni Mubarak, dikenal memiliki barisan ulama sangat brutal dalam menangani perbedaan keagamaan.

Dalam buku ini kita bisa melihat argumentasi dan narasi jernih dari salah seorang pejuang keberagaman asal Mesir ini. Meski lahir dalam keluarga yang kental dengan tradisi Wahabiah namun Al Ashmawy membuktikan dirinya sebagai seorang pemikir yang ulung. Ia dengan ajeg menyusun pembelaan dengan menyertakan banyak pemikiran yang tak melulu berakar dari sumber Islam. Namun juga dari Kristen dan juga Judaisme.

Baginya kebenaran tunggal bukanlah sesuatu yang didapat dari satu sudut pandang saja. Ia lahir dari berbagai visi yang menyentuh satu substansi kemanusiaan bernama pemahaman toleransi. Yang paling menarik kemudian adalah bagaimana sikap Al Ashmawy yang getol menolak negara Islam. Baginya agama tak boleh dekat dengan politik. "Karena saat agama bergabung dengan politik, ia menjadi idiologi dan tak lagi murni sebagai agama."

2. Hanya Islam Bukan Wahabi -  Nashir bin Abdul Karim Al-Aql

Saya kira Muhammad Ibn Abdul Wahab adalah orang yang selama ini menjadi korban dari sebuah nama. Ia adalah seorang pemimpin dan ulama dari sebuah suku badui kecil di Jazirah arab. Abdul Wahab merupakan salah satu dari sedikit sekali kaum badui yang terdidik secara literer, dalam arti bisa membaca dan menuliskan. Lebih khusus lagi ia adalah sedikit dari sekian banyak masyarakat suku badui yang bisa menyusun pemikirannya menjadi sebuah ajaran.

Dengan bahasa yang santun Abdul Wahab pernah menuliskan "Aqidah saya adalah sama dengan aqidah kaum Ahli Sunnah wal Jama'ah," katanya. Ia ingin menjawab sebuah tuduhan bahwa ada seorang badui yang hendak membikin mazhab baru diluar empat mazhab yang ada. Saat dimana pengaruh mazhab bisa menentukan sebuah legalitas kepemimpinan. Dengan terbata ia menekankan dalam Ad-Durrar As Sunniyah "Saya adalah pengikut mereka sampai hari kiamat nanti".

Buku ini meski ditulis dengan sangat membosankan dan hiperbolis (karena banyaknya pujian bagi Abdul Wahab), merupakan pengantar yang baik untuk mengenal siapa sebenarnya dibalik sebuah paham Wahabi. Bagi saya konten dalam buku ini lumayan adil dalam menempatkan sosok ulama yang namanya kerap dianggap sebagai penyebab teror di dunia. Kitab berjudul asli Islamiyah la Wahabiyah ini terdapat berbagai fragmen surat yang konon ditulis langsung oleh sang ulama. Dimana salah satunya ia dengan jujur mengakui pernah melakukan pembakaran buku yang dianggap menyimpang. Sehingga kita bisa menilai sendiri siapa sebenarnya Abdul Wahab itu

1. Ramadhan di Jawa- Andre Moller

Barangkali buku ini adalah salah satu buku yang akan selalu saya baca selama Ramadhan di sisa hidup saya. Buku ini memberikan sebuah parodi dan pemikiran yang naif tentang bagaimana islam berkembang di Jawa. Jika pendapat fasis saya mengenai Indonesia adalah sama dengan Jawa maka buku ini adalah sebuah kritik yang tuntas. Ia bercerita tentang dualisme, mitologi dan juga praktek relijius yang beragam dari sebuah agama yang disebut islam.

Buku yang awalnya merupakan tesis dari Moller ini berjudul asli Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting, hadir seperti sebuah linimasa dari berbagai hastag yang muncul selama ramadhan. Seperti #Tarawih, #Takjil, #Sahur #Ngabuburit, #Itikaf dan juga #Ritusdadakanlainnya. Peneliti asal Jonstrop Swedia ini dengan cerdas dan komikal menuliskan sebuah rekam jejak yang baik tentang bagaimana ramadan dilakukan di Jawa.

Ramadhan boleh jadi puncak segala konsumerisme umat islam di Jawa. Namun dengan jeli Moller menggambarkan bahwa konsumerisme yang dimaksud adalah sebuah ritus lain. Ia membandingkan banyak sekali proses lain konsumsi masif yang terjadi selama ramadhan di berbagai tempat di jawa. Mulai dari ujung timur ke barat. Saya kira buku ini merupakan bentuk lain Lonely Planet dalam versi teologis yang menyenangkan.

***

Jadi buku mana yang akan engkau dustakan selama ramadhan?

Selasa, 24 Juli 2012

RA Kosasih Seda


Pagi ini saya memulai pagi dengan berduka. Raden Ahmad Kosasih, salah satu komikus legendaris Indonesia, meninggal setelah pertarungan panjang melawan penyakit paru-paru yang dideritanya. Kematian kerap kali datang, seperti seorang sahabat jauh yang mampir tiba-tiba. Ia mengakrabi kita dengan cara yang tersembunyi.

Saya kira bangsa ini berhutang banyak pada RA Kosasih. Sedikit banyak ia telah memberikan anak-anak pada zamannya keberanian untuk bermimpi. Bahwa kepahlawanan ialah perihal karakter yang dibangun dari sikap diri. Hal ini diperlihatkan dalam jalinan narasi yang ia bangun dalam setiap cerita gambar yang dibangun. Dengan tegas dalam setiap karyanya ia membagi kubu. Hitam putih secara arbiter dengan garis yang lurus.

Dulu saat kecil Ayah saya memiliki koleksi lengkap komik karya RA Kosasih dan Teguh Santosa. Komik-komik ini, yang dahulu dibuat dalam dimensi besar, selalu memantik imaji saya yang paling liar. Bagaiman jika Gatot Kaca melawan Arjuna? Bima dan Dursasana siapa yang paling kuat? Kalau Batara Guru dan Semar berkelahi siapa yang menang? Imaji-imaji itu membuat saya berani untuk berpikir di luar konteks yang pakem. 

Sebagai penggemar sebagian besar karyanya, saya selalu menyelidik dengan ragu-ragu mengapa Kosasih menggambar karakternya dengan tubuh yang montok dan citra wajah oval. Berbeda dengan kolega satu profesinya Teguh Santosa yang cenderung tajam dan gelap. Kosasih menciptakan imaji setiap tokohnya seperti sebuah lingkaran yang kemudian diberi ekspresi. Hal ini melahirkan ciri khas yang mustahil ditiru oleh orang lain.

Lewat karakter yang oval itu pula Kosasih seolah ingin menunjukan kedekatan diri dengan manusia yang hidup. Seperti sebuah puisi yang mudah dimengerti. Seperti sebuah lagu yang mudah diingat. Menarik kemudian hampir seluruh karakter baik yang ia gambarkan selalu memiliki kumis tipis. Sementara tokoh yang jahat selali digambarkan dengan mata yang membelalak dan gigi besar dengan taring menjelang.

Mungkin jika ada yang kurang gathuk di hati saya adalah penokohan para karakter mahabaratha dan ramayana yang terlalu priyayi sentris. Hampir dalam setiap karyanya ia jarang memberikan ruang pada tokoh minor untuk muncul dan memberi nafas hidup. Seolah-olah kehidupan ini hanya diisi oleh para kaum ningrat. Entah karena hal ini pengaruh Kosasih yang lahir dari keluarga ningrat atau memang ia teguh pada pakem cerita wayang yang hanya menokohkan kaum ningrat dengan porsi utama.

Kosasih lahir pada 4 April 1919 di sebuah dusun di Bogor. Perkenalan awalnya dengan komik awalnya tidak di sengaja. Sebagai murid Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan, Kosasih muda mendapatkan kemudahan akses terhadap banyak buku fiksi. Salah satu yang paling ia sukai adalah kisah klasik mengenai si raja hutan Tarzan. Dari kesukaan itulah iseng-iseng ia membuat gambar ilustrasi. Bertahun-tahun usai lulus dari HIS ia tak lantas menjadi pamong praja. Malah ia mendapatkan pekerjaan pertama sebagai seorang komikus di harian Pedoman Bandung. 

Namun bukan karena sekedar sebagai komikus ia patut dikenang. Namun karena usahanya untuk melahirkan cerita yang dekat dengan para pembacanya. Meski ada beberapa hal komikal yang perlu dikenang. Seperti usaha Kosasih untuk membuat narasi Pandawa Seda yang terlalu dibuat Islami. Sepertinya ada sebuah tekanan keharusan bahwa cerita komik dari epos Hindu ini mesti di-Indonesiakan. Sehingga terpaksa memaksa pakem aslinya diadopsi dengan nilai-nilai yang 'sesuai dengan pancasila'.

Beberapa minggu yang lalu bersama seorang kawan saya menghadiri Jakarta Book Fair. Di salah satu lapak buku yang agak asing saya menemukan beberapa bendel komik Ramayana dengan tahun terbit sekitar 1968. Kami bertatap muka dengan seorang pemuda akhir tigapuluhan yang memborong tumpukan komik Kosasih. Dengan mata berbinar ia berkata "Komik RA Kosasih itu asli, kalau sampul depannya ada ijin dari Polda," katanya bangga.

Bagi mereka yang besar pada akhir 80an dan awal 90an pasti mengetahui tentang kredo ini. Perihal komik-atawa buku yang mesti lolos sensor kejaksaan dan polisi. Menjadi menarik karena meski Kosasih adalah salah satu seniman yang pernah menjadi korban kritik dan oposisi Lekra. Komiknya dianggap memiliki potensi "Mengganggu stabilitas kamtibmas". Apa pasal? Tentu karena naskah Barathayuda adalah mengenai perang dari status quo dan kebenaran. Di situ ada ketakutan yang dibuat-buat.

Bagi saya Kosasih adalah seorang pendongeng yang ulung. Meski ia sangat mencintai Komik dan Dongeng ia telah mengakui kekalahan pada umur dan telah berhenti menggambar pada medio 70an. Seingat saya komik terakhir yang ia buat adalah variasi lain dari Sri Dewi, tokoh superhero wanita lokal, yang bernama Cempaka. Karakter terakhir merupakan katarsis dari tokoh Tarzan yang menjadi idolanya selama bertahun lampau. 

Tapi lebih dari itu. Kosasih adalah penganyam mimpi. Ia mendekatkan epos Mahabarata sebagai sebuah pertarungan kebatilan dan kebenaran pada akhirnya mesti menang. Dalam babak Pandawa Seda bagi saya merupakan puncak spiritualitas dan kematangan Kosasih sebagai manusia dan komikus. Dengan panel-panel terbatas dan minim warna ia menciptakan sebuah perpisahan yang lugas. Satu-persatu tokoh baik dalam keluarga Pandawa dibunuh sesuai karmanya.

Pandawa Seda juga merupakan sebuah alegori dari sebuah zaman yang angkuh. Dibuat pada zaman ketika Lekra berkuasa kisah Mahabarata Kosasih dianggap terlalu kebarat-baratan. Melalui pena ia kemudian menggambarkan peperangan idiologis antara seniman zamannya. Ia turut jelas ambil bagian dalam perang tersebut. Bahwa kesenian tak melulu harus bersikap politis. Ia mesti bebas dan punya unsur hiburan dan tak selalu perihal propaganda.

Hari ini sekitar pukul 01.00 RA Kosasih meninggal. Seperti banyak legenda lain ia meninggalkan warisan besar bagi para pembacanya. Sebagai bapak komik modern Indonesia. Juga sebagai manusia yang dengan jeli menggambarkan zaman dalam tokoh wayang. Tentang negara beserta aparatusnya yang keji melalui simbol Hastina dan Kurawa, juga para oportunis tengil yang berkelindan diantara pemerintah yang disimbolkan melalui Sengkuni.

Saya selalu ingat tokoh Bhisma bikinan Kosasih. Tokoh ini menjadi salah satu yang paling karismatis dalam seluruh cerita bikinan kosasih. Hanya ia satu-satunya tokoh yang selalu konsisten ada dalam tiga babak cerita Mahabarata, Barathayudha dan Pandawa Seda. Bhisma yang menolak hak diri sebagai Raja dan memilih hidup sebagai seorang begawan. Manusia yang tidak takut mempersiapkan kematiannya sendiri.


RA Kosasih tak hanya menggambar. Ia menuliskan sejarah.

Sabtu, 21 Juli 2012

Rejse



Ada sebuah puisi epos yang konon menjadi sajak tertua dalam sejarah literasi Inggris. Kisah perjuangan pangeran Denmark, Beowulf yang agung. Ditulis dalam bahasa Anglo-Saxon kuno (old English) puisi ini memantik romantisme seluruh eropa terhadap petualangan. Sebuah kebanggaan yang kelak melahirkan God, Gold and Glory. Petualangan atau dalam lidah warga Skandinavia Rejse, Reise atau Resa merupakan identitas lahiriah.

Lalu apakah sebenarnya petualangan itu? Dalam banyak peradaban dan kebudayaan petualangan merupakan bagian dari hidup. Ia adalah tolok ukur kedewasaan dalam sistem masyarakat adat minang dengan "rantau". Juga merupakan momen seorang lelaki diakui sebagai bagian dari masyarakat dalam sistem masyarakat maritim Bugis. Karenanya, kadang saya berpikir, Indonesia dibangun dari petualang yang menolak tidur di rumah dan mati berkarat.

Adalah Seamus Heaney, penyair dan peraih nobel sastra dunia, yang kemudian dengan jenius menerjemahkan Beowulf. Syair yang dimulai dengan paragraf "So. The Spear-Danes in days gone by / ad the kings who ruled them had courage and gratness. / We have heard of those princes' heroic campaigns." Selalu ada unsur dramatik dalam puisi epik. Mereka (puisi) selalu menjadi katalis bagi para pendengarnya untuk memantik imajinasi akan sesuatu yang tak nampak.

Tapi bukan tentang itu saya menuliskan cerita ini. Bagi banyak masyarakat tradisional Skandinavia petualangan juga merupakan upaya menemukan diri sendiri. Upaya untuk menaklukan diri sendiri dan menjadi pribadi yang baru. Terkadang dalam usaha pencarian tadi kita mesti tersesat, menemukan jalan buntu dan kalau perlu memutar jauh. Meminjam kata-kata Henry David Thoreau, seorang pacifis dan pemikir asal Amerika Serikat, "Not until we are lost do we begin to understand ourselves."

12 Juli lalu seorang kawan, Maharsi Wahyu, berulang tahun entah yang keberapa. Sebenarnya kami tak bisa dikatakan kawan. Karena masih belum pernah bertemu muka atau bercakap langsung. Hanya sekedar pembicaraan maya di ruang digital. Bercanda dan berbagi cerita. Selebihnya hanya sekedar seru sapa salam yang membosankan. Yang menarik adalah hari ulang tahun Kincung, begitu dia disapa, bersamaan dengan dua penulis besar favorit saya Henry David Thoreau dan Pablo Neruda.

Kincung saya kenal dari lingkaran kawan-kawan traveler. Petualang muda yang memiliki keyakinan seperti Gie. Orang-orang yang mungkin mencintai tanah ini dengan cara yang menyenangkan. Para petualang yang lahir dari kredo "Bagaimana bisa mencintai tanah ini? Jika kau belum pernah menelusuri lekuk sudutnya?" Kincung adalah sedikit dari beberapa traveler perempuan muda yang saya kenal.

Ia mengaku sebagai mahasiswi Akutansi Universitas negeri di Jogja. Kadang saya suka berpikir, tuhan punya cara sendiri mengubah alur hidup manusia. Seorang mahasiswi fakultas ekonomi dari universitas terkenal, rela melakukan petualangan yang bahkan entah apa ujungnya. Saya kira, mungkin juga Kincung, meyakini bahwa hidup terlalu singkat hanya untuk dijalani seperti orang kebanyakan. Lulus cepat, menjadi karyawan, menikah, beranak lalu mati. Sunyi.

Bertambah tua adalah brengsek. Setidaknya itu menurut saya. Bertambah umur adalah bertambahnya beban. Seringkali beban yang lahir bukan karena keinginan kita. Ia lahir dari konsensus masyarakat yang dipelihara bertahun-tahun lantas melekat seperti kerak pada dinding. "Kapan lulus?" "Kapan nikah?" "Kapan punya anak?" dan repetisi itu menghantui. Meneror seolah-olah kewajiban hidup adalah perkara memenuhi harapan orang lain.

Ada pepatah klasik dalam ajaran Zen Budha yang sangat saya sukai. "Seseorang berdiri di antara cahaya. Lantas bertanya mengapa ada bayangan hitam di hadapannya." Dalam hidup seringkali kita lupa untuk menghargai diri sendiri. Pongah akan harapan orang lain yang membuat diri kita dibayang-bayangi kesuksesan masa silam. Dalam hal ini Kincung berusaha mendobrak semua itu. Ia bukan lagi seorang petualang, melainkan seorang penakluk.

Beberapa hari menjelang ulang tahun. Gadis ini memutuskan untuk pergi ke tanah Jonggring Solaka. Tanah para dewa. Dataran tertinggi di pulau jawa. Gunung semeru yang agung. Simply, because she want give herself a present. Conquering Semeru. Apa yang lebih angker dari itu?

Pada 1854 Henry David Thoreau, menuliskan salah satu travelogue monumentalnya yang terkumpul dalam "Walden". Lelaki berjambang lebat seperti Oma Irama ini berkata "I went to the woods because I wished to live deliberately, to front only the essential facts of life, and see if I could not learn what it had to teach, and not, when I came to die, discover that I had not lived." Ia bicara perihal hidup yang diadu. Hidup yang pejal dan penuh liku. Saya kira Kincung sudah tamat dalam masalah seperti ini.

Akhirnya tidak ada lagi kekaguman yang bisa saya tuliskan padanya. Ia telah berhasil menaklukan Semeru. Berhasil terpilih dalam barisan pemuda-pemudi yang akan mengangkat sauh dan melakukan kembara bahari. Perempuan yang menolak takluk. Dimana kelak Kincung akan mencatat namanya sendiri sebagai seseorang yang keluar dari barisan manusia mekanis. Yang hanya hidup untuk dirinya sendiri dan terkungkung dalam kubikel bernama masyarakat otomatik.

Sebagai penutup saya ingin mengutip sajak masyur dari Walt Whitman. "Kini beta paham, rahasia menjadi manusia utama, adalah untuk hidup bersama alam raya, jua tidur dan makan bersama Nya." Bukankah hidup adalah perihal menemukan jalan pulang?