Minggu, 29 Desember 2013

Buku Buku Terbaik 2013

Ada baiknya kita memulai membunuh harapan dipenghujung 2013 ini, bahwa segala yang terlalu baik biasanya akan berujung sangat buruk. 2013 bagi saya merupakan tahun yang sangat baik, bukan, bukan tentang diri saya tapi tentang dunia buku yang meski masih carut marut dan kacau balau, masih memberikan secercah harapan dengan hadirnya buku-buku bagus berkualitas. Saya masih dimanjakan dengan buku, baik fiksi maupun non fiksi, dengan kualitas yang jauh dari ekspektasi saya.

Awalnya setelah kejatuhan Dewi Lestari pada sekuel ke empat supernova saya sudah menyatakan diri untuk tidak lagi membaca buku penulis indonesia. Tapi seperti biasa, saya menjilat ludah saya sendiri, karena godaan beberapa buku yang diresensi/direview terlalu bagus. Entah kebanyakan orang, saya punya tendensi negatif untuk tak percaya apa yang terlanjur mapan. Hal ini juga berlaku pada buku-buku yang syarat pujian. Untungnya negativitas saya kali ini tumpul dan salah. Beberapa buku yang dipuji tadi memang benar-benar bagus dan memang sangat layak direkomendasikan.

Salah satu buku yang saya sukai, tapi tak masuk dalam daftar ini adalah Pulang karya Leila S Chudori. Buku ini barangkali adalah sebuah pembuktian dari Leila untuk mendobrak gelar cerpenis yang ia pegang selama menahun. Ini karya ketiga, jika saya tak salah, setelah kumcer Malam Terakhir dan 9 Dari Nadira yang telah ia lepas sebelumnya. Buku ini meski dengan basi mengambil tema 65 memberikan sebuah perspektif agak berbeda-meski tidak baru-yang sayangnya, oleh para kritikus (kiri) gagal ditangkap. Manusia-manusia eksil yang terbuang karena idiologi, memiliki nasionalismenya sendiri. Mereka yang dilabeli pengkhianat masih punya kerinduan dan cinta pada tanah air.

Saya sangat mengapresiasi positif atas munculnya karya ini, terlepas juga polemik tentang kemenangannya pada Katulistiwa Literary Award, karya ini adalah pembuktian bahwa Leila bisa menulis novel. Menariknya saya membaca sebuah kritik dari Dea Anugrah yang ditulis di jurnal kebudayaan Indoprogress. Sebagian besar saya setuju kritik Dea atas Pulang, meski saya kira ia tak adil jika membandingan Pulang dengan Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam kritik itu ia juga mengaku tak adil, tapi entah sengaja atau tidak, perbandingan yang dipilih Dea bagi saya janggal. Ia tak apple to apple. Idealnya jika ingin membandingkan karya Novel pertama dari seorang cerpenis, maka ia harus bandingkan pula novel pertama Pram setelah sebelumnya ia dituduh berak oleh Idrus. Meski Pulang, bagi saya, terlalu biasa saja untuk bisa disebut prosa. Namun usaha dan kekuatan bertutur (yang dianggap keminther oleh kritikus karena banyak sebut nama besar) Leila tejaga apik dan bisa dibedakan dengan jelas dari cerpen-cerpennya.

Tapi cukup soal Pulang. Tahun ini saya merasa beruntung bisa bertemu beberapa penulis hebat yang saya kagumi. AS Laksana, Damhuri Muhammad, Yusi Avianto Pareanom, Agustinus Wibowo dan Rony Agustinus. Orang-orang ini adalah para kanon yang menjalani laku hidup bushido. Barangkali agak berlebihan menyebut demikian, tapi mereka adalah orang-orang yang total dalam pengembangan sastra Indonesia. Dari mereka saya belajar tentang integritas, dunia penerbitan, kepenulisan, apresiasi karya dan yang paling penting kedewasaan berpolemik.

Dalam menyusun karya ini saya tak menggunakan urutan dalam menentukan buku mana yang terbaik. Semua buku dalam daftar ini saya anggap terbaik untuk tahun ini. Jika sebelumnya saya dikritik karena tak membikin kriteria dalam penyusunan daftar, untuk kali ini saya susun sedikit syarat mengapa sebuah buku bisa dianggap terbaik. Ini bukan sesuatu yang orisinil, bahkan cenderung snobs, tapi kriteria ini bisa diaplikasikan kepada masing-masing individu pembaca terhadap karya yang mereka anggap terbaik.

Kriteria Pertama buku tersebut menjadi pembeda dengan karya sejenis, tema boleh seragam dan mirip tapi kemampuan seseorang bisa diukur baik atau tidaknya dari bagaimana ia membuat tema pop menjadi berkualitas dari bagaimana ia menuturkan sebuah narasi. Kedua buku itu memantik perdebatan sehat yang berujung pada mendidik pembaca perihal karya yang berkualitas. Ketiga buku tersebut tidak disusun untuk mengikuti sebuah trend yang tengah berlangsung dan laris di pasaran. Terakhir Keempat buku tersebut bukanlah karya instan yang lahir dari pesohor dadakan, melainkan dari penulis yang berkapasitas. Untuk yang terakhir ini adalah upaya (sangat tendensius) saya untuk membedakan buku yang lahir dari kultur sosial media dan mereka penulis (beneran) yang lahir karena dialektika karya.

1. Titik Nol – Agustinus Wibowo

Saya meresensi buku ini pada paruh awal 2013 sebagai satu-satunya travelogue terbaik yang bisa disusun dengan gaya gonzo. Pendapat itu tidak berubah. Buku ini menujukan bahwa buku perjalanan bukan sekedar tentang jumlah stempel negara di paspor, bukan pula tentang pernah ke Machu Pichu atau ke Great Wall. Barangkali ada manusia yang krisis identitas pos kolonial yang pelu memamerkan destinasi, tapi tidak Agustinus. Dalam buku ini ia biara tentang memoar perjalanan hidup. Juga tentang renungan-renungan yang dihasilkan dari sebuah kepergian.

Berbeda dengan buku sejenis yang terlampau terjebak pada destinasi dan keindahan, Agus bicara tentang dirinya sendiri juga bagaimana hidup bisa mengajarkan ironi, berjalan ke negeri-negeri jauh toh tak akan membuatmu jadi hebat. Ia hanya mengajarkanmu kerendahan hati dan menghargai perbedaan. Di sini Agus juga bicara tentang bagaimana seorang anak mengenang ibunya.  Ia bicara tentang keluarga, tentang kematian, tentang kepedihan dan tentang makna hidup.

Di sini manusia-manusia yang memiliki otak, diajarkan untuk belajar. Bahwa perjalanan bukan sekedar gaya hidup, bukan sekedar pamer, bukan sekedar membikin buku berseri-seri lantas menasbihkan diri sebagai pengelana hebat atau bahkan bukan sekedar merendahkan negara lain karena ketololan sendiri visa kita ditolak sebuah negara. Tapi bagaimana menulis dengan baik, menulis dengan estetik, menulis dengan hati tentang sebuah perjalanan tanpa terjebak gimmick murahan ala agen perjalanan.

2. Murjangkung – AS Laksana

Beberapa orang yang saya kenal mengatakan bahwa Murjangkung adalah kumpulan cerpen terbaik tahun ini. Saya tidak setuju, setidaknya selama satu dekade terakhir, dengan segala kelemahannya Murjangkung melampaui apa yang telah ada dalam kebanyakan koran kita hari ini. Cerpen-cerpen yang berusaha menyesuaikan selera dari masing-masing redaktur koran minggu alih alih mencari gaya bertutur dan berkaya sebagusnya, sebaiknya, dan sebebas bebasnya. Menyadari bahwa sastra seharusnya mencari bentuk baru dan hanya menghamba pada kreatifitas bukan kepada pasar.

Saya jarang membaca pengantar buku, selain itu tindakan sia-sia, seringkali isinya hanya “glorifikasi diri lewat ucapan terima kasih pada kolega yang punya nama,” tapi tentu saja bukan Sulak namanya kalau tak bisa bikin pembaca menjadi terkecoh. Saya mau tak mau harus ditampar dengan kalimat “Urusan pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Sebaliknya, urusan penulis adalah menghapus apa-apa yang sudah pernah ia bikin”. Ini adalah upaya menyindir, atau mengejek, dalam artian seorang penulis bisa diukur dari bagaimana karyanya diingat, juga bagaimana ia tak ambil pusing dengan nasib karangannya sendiri.

Tapi apa itu sebenarnya karya sastra yang berkualitas? Dalam buku ini anda akan menemukan sebuah ramalan dari Franz Kafka, bahwa karya yang baik adalah sebuah kapak yang akan memecahkan es dalam kepalamu. Sejak cerpen pertama Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut sampai dengan Peristiwa Kedua, Seperti Komedi Putar kita diajak kembali menemukan karya sastra sesungguhnya. Karya yang tidak lagi puitis hanya karena metafora picisan dari senja atau hujan. Tapi kisah sehari-hari yang dituturkan ulang dengan kesederhanaan yang subtil.

3. Kekerasan Budaya Paska 1965 – Wijaya Herlambang

Buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 adalah upaya untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana kuasa dominasi hegemoni kultural, bisa masuk melalu elemen-elemen paling tak terduga dalam hidup Bahwa pada akhirnya upaya mengendalikan masyarakat tidak lagi efektif dilakukan dengan cara-cara kekerasan, tapi dengan kekuatan halus tak kasat mata seperti karya sastra dan film. Di sini represi dan tirani pemerintah merupakan elemen kecil dari sebuah narasi besar untuk melegalkan dan membenarkan kekerasan terhadap mereka yang tertuduh terlibat pada coup 65.

Wijaya lantas melakukan sebuah penelitian ala detektif untuk meneliti agen-agen yang dibayar dan dibiayai untuk melanggengkan kekerasan secara kultural terhadap komunisme. Banyak nama-nama besar dalam kebudayaan modern Indonesia yang disasar. Seperti Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan kaitanannya dengan agen CIA Ivan Kats. Wijaya secara dingin berusaha membuktikan apa yang selama ini hanya sekedar gunjing pasar, menjadi sebuah penelitian empiris yang dapat dipertanggungjawabkan isinya.

Saya mengklaim bahwa buku ini wajib dibaca bagi mereka yang ingin paham sejarah polemik kebudayaan di Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana sosok budayawan yang dianggap suci dan seolah berpihak pada humanisme universal, ternyata bagian dari satu sistem besar jagal yang menyudutkan korban 65. Barangkali beberapa nama yang disebutkan dalam buku ini telah cuci tangan dengan membuka dukungan terhadap upaya rekonsiliasi, tapi bukan berarti mereka bisa lepas dari pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilanggengkan.

4. Al Rashafat – Ismail Fajrie Alatas

Al Rashafāt: Percikan Cinta para Kekasih karangan Ismail Fajri Alatas adalah oase di tengah kecamuk kejumudan dan kesempitan pemikiran islam hari ini, ia boleh jadi satu di antara sedikit nama yang membuat Islam menjadi segar dan lapang. Tentu ini hiperbolis dan romantik. Toh, dengan peradaban yang kiat gegas dan dinamis, apa yang dilakukan Fajrie bukan hal baru. Tapi menawarkan kerumitan dan keagungan narasi cinta dalam kazanah sufistik di zaman seperti inilah, ia saya pikir, sudah membuat kita sadar ada yang lebih baik dan mulia daripada sekedar merengkuh hedonisme hidup.

Ada empat bagian dalam yang dibedah dalam Al Rashafāt hal ini dilakukan agar bisa menjadi lebih
fokus untuk memahami sajak-sajak Imam Abd al-Rahman Bilfaqih. Pembagian itu adalah Minuman Cinta para Kekasih, Keadaan para Wali, Kehadiran para wali pada Setiap Masa dan Urgensi Keberadaan Mereka, Kemuliaan Manusia (insan) dan Hakikatnya sebagai Khalifah Yang Maha Pengasih (al Rahman). Pembabakan ini memudahkan kita untuk memahai jenjang-jenjang (keimanan?) usaha mencintai dalam perspektif sufisme dan relasinya dalam ibadah.

Bagaimana menyakinkan anda untuk membaca buku ini? Tidak perlu. Jika anda menganggap buku pseudo religi medioker berjudul Udah Putusin Aja seabagi buku berkualitas, anda tak akan bia memahami buku ini. Buku ini akan mengajarkan anda bahwa cinta, seperti juga agama, merupakan kesunyian masing-masing pemeluknya. Ia memberikan kebijaksanaan bagi yang mengerti, kedewasaan bagi mereka yang berpikir dan iba hati bagi mereka yang merasa. Al Rashafāt adalah ekstase kerinduan seorang hamba akan tuhannya.

5. Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya – Dewi Kharisma Michellia

Saya iri pada Michel. Ia adalah penulis cerpen terbaik dalam generasi saya, generasi K Pop yang memuja sosial media dan generasi yang gagap membaca sejarah. Michel adalah seorang kenalan yang memberikan saya garis jelas antara penulis beneran dan penulis jadi-jadian. Ia adalah apa yang mustahil saya capai. Seorang penulis muda dengan selera baca yang keren. Lebih dari itu novel epistolari yang disusun Michel tentang tuan dan nona Alien, tentang harapan, tentang cinta yang pada akhirnya harus selesai.

Saya penggemar berat karya penulisan epistolari. Bahkan teknik bercerita menggunakan sejumlah dokumen yang berurutan seperti catatan harian, artikel atau jurnal ini merupakan cara menulis paling saya gemari. Dan Michel dengan piawai menuliskan kisahnya tanpa terjebak menjadi tendensius ataupun snobs. Gaya ini banyak diadopsi sebagai gaya menulis cerpen karena relatif lebih efisien dan mudah ditulis. Namun menyusunnya sebagai sebuah novel dengan kontinyuitas perlu kemampuan lebih. Ia harus punya jahitan kuat antar satu surat dan yang lainnya. Ini yang membuat novel Michel jadi pembeda dengan generasi penulis seumurannya.

Surat-surat yang ditulis Nona Alien adalah sebuah rekam jejak. Sebuah dokumentasi akan hidup yang pernah terjadi. Sebuah salam untuk kemudian merelakan seseorang yang pernah sangat berarti bagimu untuk pergi. Novel ini ditulis dengan plot yang tidak linier, tidak terduga dan penuh kejutan. Meski kemudian pada beberapa hal, surat-surat tadi hanya sekedar remeh temeh belaka, tapi ia adalah upaya akhir seseorang untuk mengingat sebelum akhirnya menyerah lantas merelakan. Apakah karya ini indah? Tentu saja. Ia akan memberimu perspektif lain, bahwa menulis bukan sekedar cuitan 140 karakter tentang kegalauan yang itu-itu saja.

Selain lima buku tadi ada beberapa buku lain yang menarik perhatian saya. Seperti riset yang dilakukan oleh Ruang Rupa dan Yayasan Tifa berjudul Publik dan Reklame di Ruang Kota Jakarta, Based on A True Story Pure Saturday susunan Idhar Resmadi, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa susunan Fernando Baez merupakan salah satu buku yang keren tahun ini. Sayang saya tak banyak membaca buku puisi. Kecuali Plesir Mimpi karya Adimas Imanuel, Doa Untuk Anak Cucu karya WS Rendra, Kepulangan Kelima karya Irwan Bajang dan Gandari karya Goenawan Mohammad saya tak banyak membaca buku puisi lain.

Tahun depan konon akan menjadi momen dimana buku buku puisi akan banyak diterbitkan. Saya berharap buku yang hadir adalah buku yang benar benar digarap sebaiknya bukan buku yang asal muncul hanya untuk memenuhi target produksi dari penerbit.

Jumat, 27 Desember 2013

Anak Kosan Yang Merasa Akrab

Kemarin saya membaca sebuah tulisan yang bernas dan kritis dari Ardi Wilda. Seorang kenalan di sosial media yang baru saya temui sekali di konser Melancholic Bitch. Ia adalah penulis yang saya kagumi. Bukan sekedar menjilat atau puja-puji belaka, Awe, begitu saya dengar ia biasa disapa, menulis dengan kerendahan hati. Menulis dengan bahasa sederhana tentang masalah pelik yang tidak dibuat rumit. Menulis dengan ide-ide kecil tentang hal yang besar. Ia adalah apa yang segala saya inginkan tapi tidak pernah bisa saya lakukan.

Pada tulisan itu Awe menuduh, ah tidak mengingatkan lebih tepatnya, jika saya sebagai seorang penulis terlalu cari perhatian, sehingga lupa akan subtansi. Saya lebih sering berpolemik tanpa berupaya memberikan jalan atau mengajak orang lain berpikir lebih baik. Awe tepat, saya selalu mengejar kanon satu dan kanon lainnya, mencari kesalahan mereka, seperti orang suci mengumbar bobrok, mengkritik keras lantas saya semua selesai saya pergi tanpa memberikan jawaban tentang apa maksud semua itu.

Tapi ia salah memilih parabel. Saya bukan orang ganteng yang bisa ganti-ganti pasangan, saya tak punya banyak pacar, jika pun ada barangkali ia tak mengakui saya sebagai pacar.

Tapi marilah kita sepakati parabel yang digunakan oleh Awe. Saya barangkali sering membawa pasangan ke kosan. Hari ini pasangan itu bernama Goenawan Mohamad, mungkin minggu depan pasangan itu bernama Trinity, atau minggu lalu pasangan saya bernama Dewi Lestari, dan bukan tak mungkin pasangan yang saya bawa beberapa hari lagi adalah Anies Baswedan. Awe berhak berpikir bahwa saya sedang pamer, bahwa saya bisa pacaran dengan menghantam keras nama-nama besar itu, ia boleh saja curiga dan berpendapat bahwa saya sedang cari muka kepada mereka.

Sekarang saya perjelas lagi sesuatu yang sebenarnya telah jelas. Iya, saya sedang cari muka, tapi tidak kepada mereka. Tapi kepada orang-orang yang terlanjur taklid buta dan menganggap para kanon tadi adalah manusia yang maksum. Manusia yang tanpa dosa dan mustahil salah.

Sebagai sesama anak kos, meski baru kenal, Awe tahu ia bertanya mengapa, bisa menggugat, dan ia lakukan itu dalam suratnya yang ditulis dengan jernih itu. Saya pun berhak menjawab atas gugatan dan hal yang ia permasalahkan itu. Awe punya pandangan agak buruk tentang apa yang saya lakukan dan itu hal yang wajar. Saya dan dia hidup dalam lingkungan yang berbeda, kami memiliki pola perilaku dan lingkar kawan yang barangkali berbeda cara berpikirnya.

Berbeda dengan Awe yang berfalsafah hidup taktis dan jelas. Saya mustahil untuk berpikir sederhana dan bertindak sederhana seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu bahwa ada hal-hal sederhana yang tak bisa diselesaikan dengan cara sederhana. Saya menolak untuk menjadi inspirasi seperti yang ia lakukan dalam tulisannya. Saya ingin jadi peluru, saya ingin jadi dinamit, saya ingin jadi petasan yang membuat orang kaget dan marah. Orang butuh disadarkan bahwa ada yang salah dengan kita, ada yang salah dengan orang-orang yang kita puja, ada yang salah dengan segala yang tampaknya baik-baik saja itu.

Saya menolak diam, seperti Awe dengan keputusannya menjadi guru dan bertindak sederhana tapi nyata, saya memilih untuk jadi selilit, jadi benalu, jadi kotoran kuping, jadi upil dan jadi bisul yang membuat orang lain tak nyaman. Sesuatu yang abstrak, sesuatu yang hasilnya tak bisa dirasakan hari itu juga, tak bisa dirasakan oleh banyak orang, atau bahkan bisa terlihat seperti orang yang onani, merasa puas dan bahagia sendiri. Tapi Awe tidak tahu, saya tidak bahagia, saya merasa sedih, sedih tahu bahwa ia menganggap semuanya sedang baik-baik saja.

Awe yang terlalu rajin pergi saat ada jadwal kuliah, lalu pulang ketika kuliah usai, di akhir minggu sesekali pergi bermain futsal, tidak pernah tahu, bahwa anak-anak kosan tempat ia tinggal, lebih suka membolos daripada kuliah, lebih suka dugem daripada bermain futsal, dan lebih suka nongkrong di mall daripada aktif berorganisasi. Awe, seperti anak-anak yang suka menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan lupa, bahwa fungsi lilin adalah memberikan cahaya agar bisa melihat lebih jelas, bukan menjadi satu-satunya pemilik otoritas cahaya yang seenaknya bisa menerangi daerah daerah gelap yang ia sukai.

Awe juga lupa, bahwa saya lebih memilih mengutuk gelap dan tak menyalakan lilin seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu, untuk bisa menyalakan lilin, seseorang harus punya lilin terlebih dahulu, sayang tak semua orang punya lilin. Bagi saya, juga ratusan juta manusia yang dibikin gelap hidupnya oleh bapak kosan yang brengsek, hanya mampu mengutuk, menggerutu, marah dan memaki. Awe yang rajin kuliah, aktif diorganisasi, sesekali main futsal, dan rajin membaca itu tak tahu. Ia tak pernah tahu bahwa anak kosan yang lain tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya menurut saya mereka tidak baik-baik saja.

Saya tak bisa menjadi baik, orang baik seringkali diinjak. Saya memilih untuk jadi bedebah yang membuat orang lain jengah. Toh banyak dari kita yang lebih menyukai negativitas daripada menjadi baik. Orang baik seperi Awe, yang lebih memilih bekerja sendirian seperti ronin, merasa lebih baik dari yang lain. Orang yang berpikir "Saya sudah bekerja nyata, di pelosok, tak ribut ribut ngomong doang seperti kalian," adalah bagian dari masalah. The good Samaritan syndrome, sindrom merasa cukup karena telah berbuat baik sesekali, lantas berhak menghakimi orang lain.

Itulah wisdom of the crowd saat ini, merasa lebih baik daripada orang lain. Bedanya saya mengakui itu, saya lebih baik daripada kebanyakan orang, saya tak malu mengakui jika fasis sejak dalam pikiran, saya menolak jadi kerumunan yang cuma bisa ikut ikutan dan tunduk, saya menolak cuma sekedar mendidik setahun lantas merasa cukup, saya menolak menunjukan kepedulian cuma dari sosial media saja, saya tahu saya punya cara lebih efektif dari itu, menunjuk muka orang-orang yang sudah terlalu mapan untuk bertanggung jawab atas kebodohan yang ia langgengkan.

Saya tak ingin jadi inspirasi dengan menunjukan kerja-kerja nyata saya. Ada orang yang lebih tampan dan lebih bergincu untuk peran itu. Saya ingin jadi orang jahat saja, orang jahat pacarnya banyak, bisa nikung temen sendiri lagi. Begitu.

Kamis, 19 Desember 2013

Untuk Bapa Fransis

Dear Bapa Paus Fransiskus Jorge Mario Bergoglio di Vatikan.

Apa kabar pak? Sehat? Alhamdulillah. Saya selalu mendoakan kepada Allah agar orang-orang baik seperti anda selalu diberikan kesehatan. Selalu diberikan kemujuran juga kekuatan untuk terus memberikan yang terbaik bagi umat manusia. Teladan, dengan aksi nyata, barangkali adalah hal yang paling dibutuhkan peradaban dunia modern. Ketimbang kutipan-kutipan ayat, seruan perihal ibadah atau bahkan jaminan sorga. Manusia butuh kebaikan hari ini bukan janji, yang bisa jadi salah, di hari akhir nanti.

Bapa Frans, bolehkah saya memanggil anda demikian? Saya ingin lebih akrab dengan anda. Barangkali anda suka kopi? Saya pribadi lebih suka susu stroberi dingin. Apalagi dengan Pocky coklat pisang. Apakah anda pernah coba itu Bapa Frans? Pocky Coklat dan Susu Stroberi Dingin bisa jadi kudapan segar untuk anda nikmati di hari-hari musim panas Vatikan. Anda tentu bisa saja memesan gellato dingin, tapi cobalah makan Pocky Coklat, atau kue cucur mungkin? Kue dari Indonesia yang terkenal legit dan nikmat.  Well, kita semua butuh piknik sesekali bukan? Merasakan hidup dan menikmati sedikit berkah Tuhan.

Tapi bukan untuk itu saya menulis ini Bapa Frans. Barangkali seperti yang anda sudah ketahui. Indonesia, negeri dimana saya tinggal, merupakan negeri dengan populasi penganut ajaran Islam terbesar di dunia. Sayangnya tidak semua orang yang mengaku Islam tadi adalah orang muslim. Kebanyakan mereka hanya berhenti pada tataran mualaf. Orang yang baru masuk dan belajar menjadi muslim. Mengapa saya sebut demikian? Ya karena banyak dari orang-orang ber KTP Islam tadi hanya berhenti menjadi manusia yang beribadah lima kali sehari, naik haji jika punya uang, puasa jika ramadhan, sholat berjamaah seminggu sekali di masjid, tapi gagal menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Agak keras? Tidak juga Bapa Frans yang baik. Jika orang orang yang mengaku muslim tadi sadar akan sejarah agamanya sendiri, paham akan makna ajaran agamanya sendiri dan mengerti konsep utama dari agamanya sendiri barangkali ia akan menjadi anda Bapa Frans yang baik. Menyadari bahwa kesalihan sosial lebih penting daripada liturgi. Bahwa ritus adalah perkara keyakinan masing-masing. Ia tak perlu ditunjukan, tak perlu disombongkan dan yang jelas tak perlu dipaksakan kepada orang lain. Barangkali mereka yang merasa perlu menunjukan keyakinan mereka adalah orang yang sebenarnya dipenuhi kelemahan atas imannya sendiri.

Seperti anda, saya juga tak percaya konversi keyakinan. Colek saya jika salah, bukankah anda dalam wawancara bersama la Reppublica mengatakan jika proselytism adalah omong kosong? Bagi saya usaha konversi keyakinan adalah usaha untuk merebut keyakinan seseorang. Tak penting siapa utusan yang dipilih oleh Tuhan untuk membawa pesan Nya. Entah itu Musa, Isa (atau Yesus) dan Muhammad. Yang penting apakah kau menerima pesan yang ia sampaikan? Sayang banyak manusia yang mengaku beragama, termasuk muslim, gagal paham pernyataan anda. Melulu, mereka pikir status dan label agama lebih penting daripada kesalihan sosial.

Barangkali, di antara kesibukan Bapa Frans yang baik, sudilah kiranya datang ke Indonesia. Mengajari kami umat Islam di Indonesia bagaimana caranya menjadi muslim yang baik. Karena saya menemukan lagi apa arti muslim dalam laku hidup dan sikap yang Bapa Frans lakukan. Menjadi muslim adalah menjadi rendah hati, toleran, saling menolong, terbuka dan tulus juga iklas. Anda, pada beberapa derajat, lebih muslim daripada orang islam sendiri. Mungkin dengan kehadiran Bapa Frans yang mulia mereka, manusia-manusia yang mengaku islam tapi jumud berpikir sempit, bisa belajar perihal menjadi manusia di antara manusia terlepas apapun keyakinannya.

Saya gemar sekali mendengarkan kidung Mazmur. Bukankah keindahan tak mengenal label agama Bapa Frans yang baik? Saya sendiri awalnya ada dalam barisan yang membenci nasrani. Membenci Yesus dan membenci mereka yang berbeda dengan saya. Seumur hidup saya merasa bahwa kalian, umat katolik dan kristen, adalah wabah, hantu, wewegombel atau semacam jerangkong yang mengajak umat Islam berpindah agama. Berpindah keyakinan. Seperti yang diajarkan dalam surat Al Baqarah ayat 120. Tapi sebagai manusia yang berpikir dan berotak saya menolak hanya menerima sebuah perintah tanpa paham dulu konteks sebuah ayat atau perintah diturunkan.

Melulu kita bisa saja diam, bersandar pada satu tafsir yang tunggal. Saya menolak itu Bapa Frans yang bijak. Pada Ali ‘Imran ayat 118 misalnya Allah berfirman

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."

Dalam Asbabun Nuzul nya tercatat dari Ibnu Jarir dan Ibnu Ishak mengetengahkan dari Ibnu Abbas, katanya, "Beberapa orang laki-laki Islam masih juga berhubungan dengan laki-laki Yahudi disebabkan mereka bertetangga dan terikat dalam perjanjian jahiliah yang mengikat. Allah menurunkan ayat ini supaya umat muslim terhindar dari fitnah dan kewajiban memerangi sesama muslim karena perjanjian itu. Konteks ayat itu jelas, bahwa kaum muslimin masih lemah dan dalam peperangan. Tapi apakah kita saat ini berperang? Apakah kaum muslimin, di Indonesia, sedang berperang dengan umat anda Bapa Frans? Tentu saja tidak.

Jika semata kita membaca teks ini tanpa memahami Asbabun Nuzul-nya tentu akan ada syiar kebencian. Bahwa umat Islam diajarkan untuk ekslusif. Diajarkan untuk menjaga jarak, diajarkan untuk curiga, takut dan memusuhi. Tapi yang demikian bukanlah ajaran Islam Bapa Frans yang baik. Islam yang baik menunut para pemeluknya untuk terus berpikir. Terus mencari tahu dan bukan diam sekedar menerima suapan ajaran. Bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan berpikir, Iqra, bunyi surat pertama yang turun dalam ajaran kami bukan melulu perintah membaca Qur'an belaka. Namun ilmu pengetahuan lain yang membuat kami sebagai muslim bisa menjadi terbuka dan bijak.

Bapa Frans yang baik. Apakah anda tahu Imam Ali bin Abi Thalib? Ia yang dijuluki bulul 'ilmi, pintu dari kota ilmu pengetahuan bernama Nabi Muhammad. Ia yang dijuluki pula oleh kanjeng Nabi kami sebagai Abu Thurab si manusia yang diselimuti abu. Tahukah anda mengapa ia menerima julukan ini Bapa Frans yang baik? Karena ia, Imam Ali yang sederhana, saudara terdekat kanjeng Nabi, menantunya yang mulia, pria berjuluk Al Faruq al Azham, tertidur di masjid tertutup debu padang pasir. Lantas Kanjeng Nabi Muhammad yang agung membangunkannya seraya berkata "Bangunlah Abu Thurab," ia, Imam Ali kami, sungguh menyukai panggilan ini.

Tapi mungkin Bapa Frans yang baik bertanya. Mengapa jika benar Imam Ali adalah orang yang mulia, menerima bahkan senang ketika ia dijuluki Abu Thurab alias si manusia debu? Karena ia menjadi manusia, menjadi fana, menjadi sederhana dan tidak menyalahi fitrah sebagai umat. Tahukah anda Bapa Frans yang baik? Sebagai Imam dan Kalifah ke IV dalam Islam ia bisa saja memilih hidup bermewah-mewahan seperti Abu Sufyan, muawiyah dan yazid keturunannya, tapi si Abu Thurab ini memilih hidup sederhana, miskin dan tak punya apa-apa. Karena apa yang dimiliki baitul mal, seperti juga bank Vatikan yang anda tegur karena terlalu matrealis, adalah milik umat. Bukan milik pribadi pemimpin.

Memang agak kurang tepat membandingkan anda Bapa Frans dengan Imam Ali. Bukan, bukan karena kalian berasal dari dua label agama yang berbeda. Tapi karena Bapa Frans dan Imam Ali berada pada dua zaman dengan dua permasalahan berbeda. Saat itu, seperti yang juga terjadi hari ini, umat muslim tengah pecah oleh manusia yang gemar mengkafirkan dan menyesatkan. Manusia-manusia dungu yang gagal melihat perbedaan sebagai fitrah. Hari ini pekerjaan Bapa Frans mungkin sedikit lebih mudah. Dengan segala kesederhanaan dan kebijakan membumi yang bapa bikin umat Katolik, saya pikir, mencapai puncak peradaban sosialnya yang paripurna.

Sebagai pemimin anda tak ragu mencuci kaki anak anak nakal yang terkena masalah. Dua di antaranya adalah muslim. Toleransi ini, boleh jadi adalah gincu, sekedar usaha menaikan rating dan citra gereja yang terpuruk sebelumnya. Barangkali pula ini sekedar pura-pura. Tapi kita tahu, saya tahu, anda tahu. Sikap baik selalu berpotensi dianggap pencitraan. Tapi Bapa Frans yang baik. Saya percaya anda adalah orang yang jujur. Mungkin saya bisa salah. Tapi di zaman dimana keras hati dan teror adalah raja, cinta kasih yang anda tunjukan adalah rahmat lil alamin yang saya rindukan. Anda mungkin bukan orang islam tapi bagi saya anda lebih muslim daripada muslim itu sendiri.

Sulit bagi saya untuk tak turut haru mengingat bagaimana pada awal-awal sejarah lahirnya Islam kaum Nasrani turut membantu dan memberikan perlindungan. Sulit bagi saya untuk tak membandingkan kebaikan mereka yang berbeda keyakinan perihal kekudusan Yesus, atau Isa, namun tak membuat nasrani saat itu bersitegang ataupun memusuhi kaum muslimin. Pada sebuah kisah di tahun 628 M, beberapa utusan dari Biara St. Catherine, sebuah gerejadi kaki Gunung Sinai mengunjungi Nabi Muhammad untuk meminta perlindungan. Lantas melalui sebuah dokumen Nabi Muhammad menjamin keselamatan para biarawan nasrani tadi.

Beberapa intelektual muslim mendebat keabsahan dokumen ini. Tentu saja, seperti yang saya bilang di awal, niat baik selalu dicurigai sebagai kepalsuan. Barangkali terlalu sering kita dikhianati sehingga apa yang sebenarnya baik dan tulus dicurigai sebagai kejahatan yang dipalsukan. Kepada biarawan St. Catherine nabi Muhammad berjanji bahwa

“Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di mana pun mereka berada, kami bersama mereka. Bahwasanya aku, para pembantuku, dan para pengikutku sungguh membela mereka, karena orang Kristen juga rakyatku; dan demi Allah, aku akan menentang apa pun yang tidak menyenangkan mereka. Tidak boleh ada paksaan atas mereka. Tidak boleh ada hakim Kristen yang dicopot dari jabatannya demikian juga pendeta dari biaranya. Tak boleh ada seorang pun yang menghancurkan rumah ibadah mereka, merusaknya, atau memindahkan apa pun darinya ke rumah kaum Muslim. Bila ada yang melakukan hal-hal tersebut, maka ia melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Bahwasanya mereka sesungguhnya adalah sekutuku dan mereka aku jamin untuk tidak mengalami yang tidak mereka sukai. Tidak boleh ada yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Muslimlah yang harus berperang untuk mereka. Bila seorang perempuan Kristen menikahi lelaki Muslim, pernikahan itu harus dilakukan atas persetujuannya. Ia tak boleh dilarang untuk mengunjungi gereja untuk berdoa. Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja mereka dan tidak boleh pula ditolak haknya atas perjanjian ini. Tak boleh ada umat Muslim yang melanggar perjanjian ini hingga hari penghabisan (kiamat).”

Dokumen di atas boleh jadi palsu, boleh jadi asli, boleh jadi bikinan dan boleh jadi sebuah konspirasi. Tapi apakah kepalsuan itu? Apakah yang asli? Apakah asli jika sesama manusia kau sekedar tunduk pada nafsu jahiliah akan kegemilangan masa lalu? Bahwa ada manusia-manusia yang merasa punya kuasa untuk menekan kelompok lainnya atas perintah surga? Bapa Frans yang baik. Anda selama ini, selama kepemimpinan anda sebagai seorang paus Katolik yang agung, mengajarkan saya untuk menjadi muslim yang benar. Muslim yang menyadari bahwa beragama tidak lantas melupakan tugasnya sebagai manusia. Yaitu menjadi manusia di antara manusia.

Bapa Frans yang baik. Semoga anda selalu sehat. Semoga akal sehat selalu menjadikan anda kawan karib. Semoga anda tetap mencontohkan bahwa keimanan bukan sekedar pertunjukan, tapi ia adalah tanggung jawab bersama. Bahwa mencintai surga tak lantas menjadikan orang lain di sekitar kita jadi terlantar. Atau lebih buruk lagi menjadikan orang yang ada di sekitar kita jadi ketakutan. Lantas apa gunanya beragama? Berkeyakinan jika hanya meneror dan memusuhi yang lain? Bukankah itu hanyalah kesia-siaan?

Mungkin kaum muslimin lupa bahwa paska penaklukan Mekah Kanjeng Nabi tidak memaksa, mengancam atau membunuh kaum non muslim. Ia memberikan kebebasan bagi kaum Nasrani dan kaum Yahudi untuk menjalankan keyakinannya. Bahkan pada sebuah narasi yang dituturkan oleh Karen Amstrong, mengisahkan bahwa seusai penghancuran berhala-berhala. Di dalam Ka'bah, rumah suci bagi kaum muslimin, terdapat satu lukisan Bunda Maria dan bayi Isa. Jika ini benar, terbukti dan bisa dipertanggung jawabkan, betapa absurdnya permusuhan yang dilakukan atas nama agama beratus tahun seusainya.

Ah Bapa Frans yang baik. Maafkan saya telah meracau dan membuang waktu anda yang berharga. Barangkali kita perlu berjumpa. Seperti yang anda katakan, manusia butuh lebih banyak bersama, berjumpa dan bicara dari hati ke hati. Ketimbang mengumbar teror, kebencian dan sekedar buruk sangka. Ah andai saja, ya, andai saja banyak umat muslim yang berpikir lebih bijak dan lebih panjang. Barangkali mereka akan menyukai anda Bapa Frans.

Jumat, 06 Desember 2013

Nyala Kebaikan Yang Kau Padamkan Sendiri

Imam Ali yang mulia, pintu kota ilmu pengetahuan suci Kanjeng Nabi Muhammad, pernah berkata "Mereka yang bukan saudaramu dalam agama, adalah saudaramu dalam kemanusiaan". Ucapan ini ia termaktub dalam Nahj ul Balagha volume III. Perkataan ini, bagi saya, adalah tanda bahwa kepedulian tidak terbatas hanya pada keyakinan. Tapi juga pada masalah kemanusiaan, namun sayangnya, seringkali, kemanusiaan hanya masalah gombal yang ditawarkan ketika keharuan dan tragedi terjadi.

Menjadi sufi bukan berarti menjadi benar. Sufi adalah jalan hidup. Sebagian memilih kesunyian, sedikit memilih panggung dan perhatian. Beberapa sufi menolak disebut sufi. Menjadikan laku hidup hanya untuk bersatu, mabuk, dan bercinta dengan tuhannya. Sedikit di antaranya bernyanyi di depan televisi, menumpang kawan-kawan pesohornya, menjadi selebritis, menjadi penulis, memuji diri sendiri dan numpang tenar membonceng gelar suci kaum bijaksana untuk menghamba pada dunia.

Kebijaksanaan peradaban kaum suci yang menolak terkenal, menolak dibajak. Tapi tak apa, barangkali seperti sebagian dari kita, ada orang orang yang merasa perlu melabeli diri sendiri agar bisa dikenal.

Islam adalah kedamaian. As salam bukan sekedar padan kata, atau sekedar turunan makna. Ia adalah pedoman hidup. Perdamaian tak melulu harus diam. Seperti Imam Ali yang kemudian memerangi kaum Khawarij. Ia percaya bahwa sebuah kebenaran mesti ditegakan meski harus berhadapan dengan kawan sendiri. Sebuah tawaran damai, persekutuan, dan usaha rekonsiliasi diberikan. Tapi sejarah mencatat, penolakan dan sikap TIDAK MERASA SALAH, harus diperangi. Tentu tidak dengan kekerasan. Imam Ali yang lembut hati itu coba menawarkan jalan. Meski akhirnya ditolak oleh manusia manusia yang ditutup nyala nurani hatinya.

Kita tahu. Bahwa kelak, dalam persimpangan hidup yang rumit, kita akan dipaksa memilih. Seringkali pilihan itu sangat berat. Seperti apakah harus selalu membela kawan. Atau seperti yang kita ketahui saat dimana dalam sejarah, ada murid-murid menentang gurunya, rekan dekat mengkritik, dan seorang kawan paling baik harus bersikap. Bahwa ketika kelaliman terjadi, entah saudara entah karib, harus membuka mata dan tahu menempatkan pembelaannya. Tidak dengan buta tunduk pada ewuh pakewuh semu bernama solidaritas sesama seniman

Adalah benar jihad tertinggi adalah jihad melawan nafsu diri sendiri. Tentunya melawan akibat buruk nafsu teman sendiri adalah bagian jihad. Itupun jika kita konsisten. Sulit untuk bisa bersikap jelas, apabila dalam hidup kita yang pendek ini, kita berkawan pada penjahat. Lebih buruk lagi, penjahat yang berbuat baik kepada kita. Tapi tentu saja, seringkali kata-kata manis, slogan keren dan pamflet-pamflet adalah kalimat bergincu belaka. Ia kosong. Tak lebih kosong daripada kolom yangditulis dengan nada-nada moral tapi miskin sikap karena harus berpijak pada konco-isme.

Mungkin bisa jadi demikian. Kata-kata indah ditulis, dijahit, makna dieram sehingga tampak manis, tapi kemudian ada yang disembunyikan. Fastabiqu 'l-khairat terlalu sempit jika kemudian dimaknai mendiamkan dan mendoakan penjahat agar bertaubat. Taubat haruslah lahir dari diri sendiri, bukan karena tertangkap basah, lantas mengaku khilaf, setelah berulangkali melakukan kejahatan dengan modus operandi yang sama. Maka saat ini anekdot menyedihkan al-islamu mahjubun bil-muslimin, kemuliaan Islam dituupi toleh perilaku oknum orang Islam itu sendiri tak terbantahkan.

Seharusnya, saat merasa diri ini dhaif, salah, berdosa dan tidak sempurna. Kita harus bersikap untuk mencari tahu dan belajar berpikir. Membela pendosa adalah sikap mulia. Tapi jika kemudian dengan membela itu kita lantas menutup mata dan melupakan keberadaan korban dari kelaliman. Maka apa gunanya kita beragama? Jika kau hanya mampu merasa peduli, simpati dan haru hanya kepada kawan? Lantas apakah harus menunggu keluargamu menjadi korban untuk peduli? Kita peduli karena kita merasa saudara dalam kemanusiaan dan itu lebih suci daripada sekedar perkawanan.

Barangkali benar hidup adalah tragedi bagi mereka yang merasa, komedi bagi mereka yang berpikir, parodi bagi mereka yang ingin numpang tenar.

Maka belajarlah dari Abu Turab, Si Pintu Ilmu Pengetahuan. Bahwa pengetahuan yang luhur lahir dari ucapan dan tindak tanduknya. Saat Ia coba dibunuh, menjelang kematian, dengan kepala penuh darah, Imam Ali yang mulia memang degan santun dan tulus meminta agar si pembunuh diperlakukan adil. Tapi tentu ia, yang dalam hidupnya teguh menjaga damai itu, meminta agar hukum tetap tegak. "Hukumlah ia seusai ajaran agama kita. Berikan satu pukulan yang akan membunuhnya," itu kata Imam Ali dihadapan dua penghulu surga Imam Hasan dan Imam Hussain.

Ia yang mengaku sufi tentu paham. Cinta memang adalah ajaran tertinggi dalam agama. Beberapa memproklamirkan bahwa cinta adalah agama itu sendiri. Jadi saat ada sufi yang kemudian membenarkan, atau bahkan bersikap acuh, saat cinta dinodai dengan paksaan, tipu daya dan kejahatan. Saya tak tahu sufi macam apa itu. Boleh jadi ia hanyalah pencatut yang menumpang nama sufi itu sendiri. Cinta adalah nyala hidup. Ia selayaknya suci dan tak tercemar. Sayang beberapa dari kita lebih memilih memadamkan nyala cahaya itu, hanya demi membela keburukan yang terlembaga.

Rabu, 04 Desember 2013

The Death of Conscience

Mahasiswi ini kehilangan kehormatannyanya, pada sebuah malam, di sebuah kamar kosan di Jakarta. Seorang penyair besar, yang menolak poligami dan selalu tampil membela moralitas, menyetubuhi mahasiswi dengan paksa setelah sebelumnya si penyair merayu dengan puisi yang jadi kelihaiannya itu.
“Ah itu kan belum pasti,” kata sebagian orang. “Kita buktikan saja di pengadilan,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok si perempuannya baru melapor,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Saya percaya mas penyair ia tak mungkin demikian,” kata seorang kolega. “Barangkali ini pengalihan isu,” kata rekan sejawat.
RW, nama inisial korban yang terlanjur diketahui publik, mungkin tidak tahu alasan siapa yang mengalihkan isu, siapa mas penyair, siapa yang perlu dibuktikan. Ia telah mencoba berebut mempertahankan kehormatannya dari mulut manis dan paksaan si penyair. Ia telah dikunci, ditarik masuk ke kamar. Ia telah menendang. Ia berusaha berontak lagi dan dicekoki minuman keras. Ia telah berontak tapi tentu nafsu yang ditambah kekuatan binatang tak akan mampu dikalahkan oleh seorang perempuan yang lemah.
Tapi ia melihat tubuhnya sedang dinodai, ia melihat kehormatannya terbang, maka ia kembali meloncat mencoba melawan si penyair yang tengah asyik mencumbu. Ia meronta dan coba berteriak-teriak, “Tolong jangan... tolong jangan....”
Dan benar: RW kemudian kehilangan kehormatannya, di sebuah kamar yang barangkali disewa melulu hanya untuk persetubuhan liar.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok mau diajak ke kamar kosannya,” kata rekan sejawat si penyair. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang mantan pemimpin redaksi.
Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari ribuan mahasiswi di Jakarta adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan kehormatannya di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu mahasiswi diperkosa, di sebuah sudut, satu genius yang sama bejat dengan si penyair mungkin sedang ngencuk (kali ini dengan tidak paksaan) dengan yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….
Penderitaan manusia?
Beberapa kali RW mencoba bunuh diri, Ia malu kepada keluarganya. Ia seolah bicara kepada keluarganya yang taat beragama itu: "Ibu aku salah. Ayah aku salah. Aku sudah tidak sanggup hidup. Tapi ia menolak tunduk. Bersama rekan. Bersama kawan ia memutuskan untuk melawan. Melaporkan tindak pelecehan seksual, bagi seorang perempuan yang bukan siapa-siapa, bukan perkara kecil.
Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?
Seorang mahasiswi yang selama ini jatuh cinta pada sajak, menyukai puisi, mencintai kata kata, percaya bahwa sastra adalah sesuatu yang besar. Tapi ia lantas dikhianati oleh apa yang ia cintai, oleh apa yang ia puja, ia ditipu, diperdaya, sampai hancur segala yang dimiliki. Padahal ia punya cita-cita, barangkali yang mulia, menjadi seseorang yang mampu berguna bagi sesama. Lantas setelah belajar keras ia dapat diterima di sebuah kampus negeri mentereng di republik ini adalah sebuah kebanggaan, juga mungkin, kehormatan yang lain.
Satu kota sebelah dari tempat RW diperkosa, ada pusat kebudayaan. Di sana tertulis sebuah visi yang mulia "...memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual."
Kehormatan RW bukanlah sekedar barang. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa terhadap perilaku anggotanya sendiri. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.
Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.
Seperti sebuah sajak Zagreb, ditulis oleh seorang budayawan besar Goenawan Mohammad, dalam buku Misalkan Kita di Sarajevo, ketika bangsa ini masih dalam kekuasaan diktaktor, Ketika kebudayaan adalah usaha melawan rezim. Setelah akhirnya sebuah simbol tiran, Soeharto pada Mei 1998 akhirnya kalah dan terkubur:
Hanya seakan ada yang meneriakan tuhan, lewat lubang angindi tembok kiri, ke dalam deru hujan, menyerukan ajal,memekikan jajal, dan desaunya seperti sebuah sembahyang tak jelas,nyeri, sebuah doa dalam bekas.
RW juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, SS harus ditangkap,” kata mahasiswi itu, pada sebuah tembok yang diam. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….
RW meminta, dengan kondisi tubuh berbadan dua, dengan bayi dalam kandungan, berharap mungkin dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.
Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. RW hanya mahasiswi yang sendiri: sudah teramat rapuh untuk dikeroyok para lingkar kekuasaan budaya dan media, terlampau lemah untuk berontak. Tapi ia, yang masih punya nyala hidup, toh masih punya dosen yang peduli, rekan yang tak tinggal diam, khalayak ramai tak dikenal yang peduli. Ia harus berdiri dengan dukungan dan perlindungan. Ia boleh coba dibungkam, diteror, tapi ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.


tulisan ini ditulis dengan menyadur tanpa ijin dari sini.

Jumat, 29 November 2013

Lima Tips Caper Untuk Gita Wirjawan

Apakah judul di atas salah ketik dari capres menjadi caper? Oh tidak. Tentu saja tidak. Demi Rara Sekar yang cantiknya absolut judul di atas bukanlah typo. Barangkali ia penegasan, jika anda tak suka fakta, bahwa Bung Besar Gita Wirjawan adalah selebritas (saya bingung dan lupa ia menjabat sebagai mentri apa) yang mumpuni. Ia bisa tampil lebih banyak dan lebih memuakkan daripada Olga Syahputra, meski tentu jika saya tak salah ingat, mereka pernah satu frame dalam sebuah acara musik abal-abal untuk kemudian secara komikal berkaraoke bersama dengan Wali Band.

Barangkali hanya di Indonesia sebuah bangsa bisa dengan lantang tertawa sementara kepalanya masih diinjak. Bung Besar Gita Wirjawan tahu ini. Ia sadar betul bahwa dalam abad media citra adalah segalanya. Ini hal universal yang berlaku jika anda 1. Cantik 2. Ganteng. Nah bagi manusia medioker di luar itu, seperti saya misalnya, menjadi pusat perhatian adalah segalanya. Nah bagaimana jika dua elemen tadi digabung? Anda tampan dan anda suka caper. Maka muncullah Bung Besar Gita Wirjawan sebagai jawaban, Manusia Sejuta Iklan.

Saya kadang suka pusing dengan keberadaan Iklan Bung Besar Gita Wirjawan yang kepalang mengganggu itu. Seolah-olah memajang wajah besar putih tanpa cela dengan bedak berlebihan adalah bagian dari kerja. Atau jangan-jangan itu kerja anda yang sebenarnya Bung Besar Gita Wirjawan? Bersolek dan bersiap diri dihadapan kamera untuk tampil elegan, gagah, manis dan tentu saja mahal. Barangkali merupakan hal yang sangat susah membuat harga jengkol jadi terjangkau. Barangkali pula merupakan hal yang teramat melelahkan untuk mengatur harga daging terjangkau. Sehingga, seperti yang kita bisa lihat, anda lebih suka tampil di depan kamera ketimbang bekerja mengatur kebijakan agar pengangguran semacam saya bisa makan dengan murah.

Saya tahu Bung Besar Gita Wirjawan sibuk sekali. Selain tampil diberbagai konser jazz sebagai bintang berbayar (maksud saya untuk tampil anda dibayar atau membayar) bung juga merupakan bintang iklan yang wajahnya ada dimana-mana. Sayang lho bung kalo situ punya wajah ganteng malah mbayar untuk nampil di pariwara. Daripada Ariel atau Pasha ungu saya lebih sepakat situ yang jadi bintang iklan pembersih muka. Selain anda punya banyak waktu luang sebagai mentri yang tak banyak kerjaan di kabinet ini, anda juga bisa memanfaatkan bakat terpendam anda sebagai model iklan. Lumayan tho? Di masa harga daging ayam, jengkol dan bawang mahal ini kita semua, bahkan mentri macam bung juga butuh uang tambahan.

Ada baiknya Bung Besar Gita Wirjawan berhenti membuang uang. Ini serius lho bung, situ sudah susah susah kerja sambilan sebagai model dan mentri sekaligus. Ketimbang bung habiskan itu uang hanya untuk Iklan yang tak jelas tolok ukurnya,bung bisa kasih itu duit untuk bikin pusat kebugaran, salon kecantikan atau jasa edit fotografi. Atau mungkin Bung Besar Gita Wirjawan tertarik untuk bikin itu usaha penyedia model dan talent? Bung bisa bikin FTV dengan bujet murah yang bayaran pada pekerja seninya tak lebih menghina dari gelar Roy Suryo sebagai pakar IT. Kan siapa tahu, selepas gagal capres ini, Bung Besar Gita Wirjawan bisa tukar guling peran jadi bintang film. Lumayan lho bung, situ bisa lebih terkenal dari mata melototnya mertua mbak Dian Sastro.

Lagipula, begini Bung Besar Gita Wirjawan, apa yang bikin bung yakin pasti menang hanya dengan banyak iklan?Apa bung lupa bagaimana blangsaknya nasib Andi Malarangeng dalam kongres demokrat terdahulu?Itu dia punya muka sudah banyak menjilat anggota partai agar bisa jadi ketua.Toh pada akhirnya ia gagal. Dalam sejarah manusia penjilat pantat adalah penyebab sebagian besar runtuhnya peradaban. Bung boleh belajar itu dari Mohammad Yamin yang, aduh gelinya, membikin citra Gajah Mada seperti ia punya muka. Apa bung juga mau bikin? Misalnya bikin pewajahan Prabu Siliwangi atau Arya Kamandanu serupa milik bung punya wajah? Kalau ingin narsis jangan nanggung bung. Jadilah macam Yamin narsisnya menginspirasi puluhan tahun sejarah model gincu republik ini.

Untuk itu, demi bangsa ini, saya rela berkorban. Kasih ini tips untuk anda punya hidup Bung Besar Gita Wirjawan. Tentu ini tips bukan sembarang tips. Ini tips kualiteit nomor wahid tidak seperti tips KW penulis abal-abal di situs marxis sebelah. Namun ini saran bukan sembarang saran ini penting dan murah. Dalam era sosial media dan jagat maya yang luas ini percuma pencitraan di jalan. Itu tiada bikin anda dikenal bung. Di jalan orang lebih suka main hape dan twitteran daripada lihat muka orang super zoom dengan senyum garing terpaksa di tengah jalan.

Para pembaca budiman dan penggemar Bung Besar Gita Wirjawan juga bisa praktikan ini saran untuk pencitraan di social media sendiri. Situ ndak butuh Iklan bung. Kalo situ bisa jalan ke studio buat syuting dan foto-foto, situ berarti bisa ngetwit sendiri bung. Toh meski tak bisa jadi capres anda bisa bikin kehebohan, lumayan kalau gagal jadi presiden bisa jadi selebtweet. Berikut adalah tipsnya: 

1. Jadilah berbudaya, maksud saya berbudaya, berkumpullah di Salihara jadi anggotanya kalau perlu bikin konser tunggal jazz interraktif cum pagelaran seni dengan judul post modern-haiku-naturalis-moii indie-esque semacam “Kentang: ziarah musik megalitik nasi uduk dalam perspektif Hans Georg Gadamer”.Ini yang penting jangan lupa ajak serta bung Nirwan Dewanto yang maha segala tahu itu untuk jadi kurator apapun performance art yang Bung Besar Gita Wirjawan bikin. Dijamin ciamik dan akan masuk koran. Yah sukur-sukur Kompas. Minimal Tempo lah. Selepas masuk dua koran itu, apalagi laman hari minggu, wuih anda sah menjadi budayawan dengan syarat menutup segala diskusi dengan kata tabik.

2. Be Social. When i mean social it doesn’t mean you have to be a nice guy who works. Jadilah membumi bukan dalam perspektif kebanyakan. Bung salah pikir kalau membumi adalah dengan ke pasar sayur terus selfie depan wartawan seolah-olah bekerja. Itu salah bung. Harusnya anda membumi turun ke bawah dengan.. Yak benar anda harus turun ke bawah dengan twitter. Enjoying twitwar, bikin pantun kaya Tiffie, atau jadi ahli IT macam Roy Suryo atau stand up-comedian macam Bathoegana. Bung tertinggal jauh dalam hype ini!

3. Jadilah sombong. Bung sadar itu bung bisa maen piano? Tunjukin! Bikin soundcloud mosok kalah dengan musisi medioker yang cuma bisa genjrang genjreng udah ngaku musisi. Inget bung punya itu label? Manfaatin. Bung bisa bikin banyak grupis lho. Jangan salah bung, anak gigs itu sangat mudah dipengaruhi. Kasih mereka folk, suka folk, kasih mereka drone metal bakal suka. Manfaatkan jiwa labil mereka bung! Gabung dalam skena dan raih pemilih pemula. Jaminan mutu!

4. Jadilah kebanyakan. Hipster is so yesterday bro! Mainstream is the new cult! Bung harus bisa berpikir semacam orang kebanyakan. Ikuti hype yang ada. Ikut maraton, jadilah filatelis, peduli dengan hiu, bikinlah lisensi menyelam, jadilah backpaker, jadilah aktivis akhir pekan yang berjuang dengan tagar. Sesekali mengeluhlah soal macet dan yang penting bung. Ingat pemilih anda bukanlah kelas buruh atau masyarakat miskin. Tapi kelas menengah. Jilat pantat mereka sepuas puasnya! And voila anda jadi presiden. Oke bukan presiden RI. Mungkin negara imajiner macam Negeri Jancuk? Anda bisa kudeta Agus Sujiwo dari kursinya bung.

5. Terakhir, ini adalah yang paling penting, perbanyak selfie bung. Anda butuh itu! Oxford English Dictionary tak akan memasukan kata itu dalam jajaran Word of the Year jika tak menyadari kecenderungan narsistik masyarakat kita. Belum lagi kegemaran memuja diri sendiri lewat rituitan pujian. Bangsa ini gemar menjadi seseorang ketimbang menjadi inspirasi. Semua orang berlomba jadi nomor satu, jadi pujaan, tapi banyak yang lupa cara untuk bisa berbagi. Jika Bung Besar Gita Wirjawan bisa manfaatkan ini. Banyakin selfie di Instagram atau bolehlah bagi foto keluarga atau makanan seperti ibu negara kita. Bung pasti sukses. Saya kira alasan kenapa bangsa ini masih teguh dan tegar diberakin pemerintah karena keluarga istana senang berbagi kebahagiaan dengan rakyatnya yang sengsara,

Jadi lupakan cara konvensional untuk caper Bung Besar Gita Wirjawan. Negara ini butuh lebih dari sekedar presiden tampan (yang takut istri). Negara ini butuh, tentu saja, presiden yang bisa dekat dengan rakyatnya. Apalagi cara dekat selain dengan social media? Bangsa ini bekerja, berkomentar, peduli dan bergerak cuma berdasar status atawa twit. Lupakan billboard raksasa itu bung. Iklan iklan yang anda pakai, selain menghina nalar dan akal sehat kami, toh akan berakhir menjadi sampah visual yang kelewat mahal, muka anda yang bung pikir ganteng itu tak ada satu persen pesona dari Rara Sekar yang absolut itu. Tabik.

Kamis, 28 November 2013

Manusia Manusia Banyuwangi

Banyuwangi dibangun dari pesona manusianya. Ia adalah refleksi keluhuran budi dan kekayaan kazanah kebudayaan yang begitu pekat, sehingga dalam setiap identitas manusia-manusianya, Banyuwangi bukan lagi sebuah lanskap geografis, tapi ia adalah jati diri yang lain. Di sini keberadaan seni budaya memainkan peran sentral sebagai pembentuk dan transformasi diri dari sebuah individu tunggal menjadi kelompok masyarakat yang plural namun khas. Sulit untuk kemudian melepaskan manusia Banyuwangi dari identitas kebudayaan mereka. 

Bagi manusia-manusia yang lahir di Banyuwangi, kebudayaan bukanlah kebanggan premordial semu. Namun lebih dari itu, bagi setiap manusianya kebudayaan adalah apa yang membuat mereka menjadi manusia seutuhnya. 

Umar Kayam dalam pidato kebudayaan di Universitas Gajah Mada 19 Mei 1989 di Yogyakarta mengatakan bahwa transformasi kebudayaan merupakan elemen penting dalam perubahan masyarakat. Sebuah kebudayaan boleh jadi terlihat statis, namun pada beberapa masyarakat kebudayaan terus dinamis, beradaptasi dan menemukan bentuk bentuknya yang baru.Transformasi kebudayaan dalam masyarakat Banyuwangi dapat dibayangkan sebagai sautu proses yang lama bertahap‐tahap akan tetapi dapat pula dibayangkan sebagai suatu titik balik yang cepat bahkan abrupt. Proses ini menjadi dialektik yang terus‐menerus dengan kondisi‐kondisi transformasi antara untuk kemudian dibayangkan akan tercapainya transformasi akhir, besar dan langgeng.

Kekayaan Seni Budaya Banyuwangi tidak hanya berupa produk produk yang berupa produk kriya. Seni Kebo-keboan misalnya merupakan ritus sekaligus kearifan budaya lokal yang punya nilai filosofis penting bagi masyarakatnya. Kebo-keboan konon berkembang di dua tempat di Banyuwangi. Yaitu di kawasan Aliyan dan Alas Malang. Ritual kebo-keboan lahir sebagai upaya syukur terhadap panen yang besar. Beberapa juga dilakukan sebagai bagian dari ritual bersih desa yang biasanya pada bulan Suro pada kalender Jawa.

Novi Anoegrajekti, Dosen Luar Biasa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, menyebutkan Kesenian tradisi Banyuwangi bertumpu dan bertahan atas dasar tata nilai lokal yang dikandungnya berhadapan dengan tuntutan-tuntutan baru. Tuntutan baru tadi tak hanya lahir dari masyarakat luar Banyuwangi, tetapi ia lahir dari generasi yang tumbuh dan berkembang dengan bauran teknologi asing. Hal ini bukan saja berpotensi bisa melumpuhkan kebudayaan namun juga bisa melibas keberadaan identitas budaya masyarakat yang ada apabila kebudayaan itu tak mampu berkembang dan mematutkan diri.

Tetapi seperti yang kita lihat, seni budaya dan masyarakat Banyuwangi dapat hidup berdampingan. Seni budaya bisa memastikan rasionalitasnya pada kepatutan modern. Dalam makalahnya Novie Anoegrajeki memastikan bahwa kesenian yang lahir dari masyarakat perlu mempertimbangkan elemen survival dari segi ekonomi. Hal tersebut yang akan menentukan apakah kesenian tersebut berpeluang hidup atau tidak di masa-masa mendatang. Sejarah gandrung yang panjang menyisakan catatan bahwa kesenian milik komunitas Using ini selalu berhadapan dengan kekuatan kekuatan di luar dirinya. 

Kesenian Gandrung yang lahir dari manusia-manusia Banyuwangi adalah seni tari yang  subtil. Ia dipentaskan oleh seorang perempuan dewasa yang menari berpasangan dengan laki-laki yang dikenal sebagai pemaju. Pertunjukan ini dilakukan hanya pada saat-saat tertentu saja. Pada sejarahnya Gandrung melulu dilakukan pada puncak perayaan masyarakat desa seperti petik laut atau bersih desa. Namun pada perkembangannya hari ini Gandrung dilakukan pada banyak perayaan rakyat seperti pernikahan atau hari-hari besar nasional.

Gandrung Banyuwangi konon merupakan satu buah karya seni yang lahir dari perkembangan dari ritual seblang, upacara bersih desa atau selamatan desa yang diselenggarakan setahun sekali dan dianggap sebagai ritus tertua di Banyuwangi. Ritus seblang itu sendiri berkaitan dengan kultus kesuburan atau pemujaan dewi padi yang merupakan peninggalan kebudayaan Pra-Hindu. Butuh stamina besar untuk melakukan pementasan Gandrung. Mereka harus melakukan pertunjukan semalam suntuk. Ada pembabakan dalam tari gandrung yang masing masing memiliki filosofinya sendiri.

Dalam makalahnya Novie Anoegrajeki menjelaskan pembagian itu sebagai sebuah ritus yang berkesinampungan. Pembabakan itu adalah adalah Jejer, Paju, dan Seblang-seblang. Jejer dan Seblang-seblang adalah adegan pembuka dan penutup pertunjukan, berlangsung sekitar 45-60 menit (Jejer) dan 85-120 menit (Seblang-seblang) yang tidak melibatkan seorang pun dari penonton. Sementara Paju, yang memperoleh waktu lebih panjang (antara 4-5 jam), merupakan adegan terbuka bagi penonton untuk menari berpasangan atau membawakan lagu-lagu.

Ada yang menarik dalam pembabakan tari gandrung ini. Ia adalah representasi dari hubungan antara manusia dan alam, manusia dan manusia dan manusia dengan penciptanya. Meski demikian, sebagai bentuk kesenian, babak pertunjukan gandrung yang paling lama dan mendapat perhatian penonton adalah Paju yang berisi tari berpasangan dan ngrepen. Dalam babak ini tampak bahwa pertunjukan gandrung menjadi milik publik, sulit dipisahkan antara pertunjukan dan penontonnya.

Gandrung adalah satu dari sekian banyak karya manusia-manusia Banyuwangi. Karya lain seperti kain batik khas bermotif Gajah Oling yang lahir sebagai upaya akulturasi citarasa unik dan pemaknaan terhadap lingkungannya. Ia, menurut Bupati Abdullah Azwar Anas sebagai local genius yang mampu bercerita tentang banyak hal, mulai dari fashion, tradisi, hingga gaya hidup. Ia tidak hanya merupakan karya unik yang bernilai estetik namun juga memiliki nilai ekonomis yang bisa menjadi penanda langsung dari masyarakatnya.

Lantas apakah sekian banyak kesenian itu hanya merupakan perayaan kosong belaka? Tentu tidak. Anda bisa dating dan melihat sendiri bahwa manusia-manusia Banyuwangi adalah individu dengan kebanggaan tinggi akan identitas kulturalnya. Album-album lagu Using bertebaran, dinyanyikan dan dirayakan sebagai keseharian. Pemandangan yang sangat kontras akan anda lihat di daerah lainnya dimana kaum mud justru lari tunggang langgang menolak jati dirinya. Sementara pemuda-pemudi Banyuwangi justru merengkuh dan mengamininya sebagai hidup.

Para tamu dan pendatang di kota ini akan ditunjukan sebuah teater hidup dari masyarakatnya. Manusia-manusia Banyuwangi tak mengenal basa basi dalam berinteraksi. Mereka adalah apa yang mereka tunjukan. Anda akan mendengar teriakan-teriakan, beberapa umpatan, atau bahkan dialog yang keras. Tapi ia bukan mencirikan manusia-manusia Banyuwangi sebagai mahluk yang barbar dan tak punya kebudayaan. Mereka adalah mahluk ekspresif yang tegak dengan jati dirinya sendiri.

Idiom lare using bukan ditunjukan sebagai upaya pemisahan dan segregasi rasial dengan masyarakat yang lain. Tidak. Lare Using lahir dari pemaknaan bahwa kemana pun manusia-manusia Banyuwangi pergi, jangan pernah lupa akan akar dan rumah dimana kamu dilahirkan. Apakah hal ini kemudian menjadikan Banyuwangi sebagai kota yang ekslusif? Tentu saja tidak. Jika anda mampir ke daerah-daerah dimana kebudayaan berkembang seperti Muncar, Genteng dan lainya anda akan menemukan masyarakat-masyarakat plural yang berasal dari komunitas lain di nusantara.

Ada Suku Madura, Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis dan Suku Using yang kemudian membentuk wajah Banyuwangi menjadi apa yang ada hari ini. Ia adalah satu mangkuk masyarakat yang tidak tunggal. Ia melahirkan manusia-manusia yang menolak tunduk pada gegas zaman. Di sini anda akan melihat dan menikmati bagaimana seni budaya dirayakan bukan hanya sekedar ritus. Tapi sebagai sebuah pengakuan. Bahwa Banyuwangi bukanlah kota biasa. Ia adalah kota yang lahir dan berkembang dari rahim manusia-manusia unik di dalamnya.

Selasa, 12 November 2013

Mata Hati Cinta Al Rashafāt

2013 adalah tahun yang melelahkan dalam merumuskan dan mencari sosok buku ideal. Betapa tidak? Di antara gempuran berbagai buku sampah macam motibasi, religi dangkal dan sastra presidensial picisan. Buku-buku bermutu susah untuk ditemukan. Toko buku hari ini susah dibedakan dengan toko kelontong yang menjual kebutuhan ATK. Rak best seller dengan sangat menyedihkan memampang aurat tanpa malu-malu buku pseudo sains Garut Kota Iluminati setelah berhari-hari sebelumnya memuja buku komikal Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman. Saya sudah hampir putus asa dan menyerah untuk percaya buku-buku baik akan ditemukan tahun ini apabila, tentu saja, pada satu hari minggu saya menemukan buku Al Rashafāt: Percikan Cinta para Kekasih.

Kamis, 07 November 2013

Pidato Kebudayaan Albert Camus Saat Menerima Nobel Sastra 1957

Dalam penerimaan atas penghargaan yang telah begitu murah hati diberikan kepada saya oleh akademi anda yang bebas, saya ucapkan terima kasih secara mendalam, terutama ketika saya ingin mempertimbangkan sejauh mana penghargaan ini telah mempengaruhi kemampuan pribadi saya. Setiap manusia, dan untuk alasan yang kuat, setiap seniman, ingin diakui. Saya juga demikian. Tetapi saya belum bisa memahami keputusan Anda tanpa membandingkan dampak (penghargaan ini) kepada siapa diri saya sendiri. Seorang pria yang hampir masih muda, hanya kaya dalam keraguan dan dengan karyanya masih dalam proses, terbiasa hidup dalam kesendirian kerja atau menjauhi persahabatan: bagaimana dia tidak merasa sedikit panik saat mendengar keputusan yang membuat dia tiba-tiba, sendirian dan mereduksi dirinya sendiri, ke dalam pusat cahaya yang benderang? Dan dengan perasaan apa dia bisa menerima kehormatan ini pada saat penulis lain di Eropa, di antaranya yang sangat besar, diminta untuk diam, dan bahkan pada saat yang sama negara kelahirannya sedang melalui penderitaan tak berujung? 

Minggu, 03 November 2013

Kepulangan Kelima Dan Puisi Yang Biasa Saja

Bagaimana cara anda menikmati puisi? Apakah dengan kesunyian dan teh yang hangat menjelang senja tiba? Ataukah dalam hingar bingar ramai pasar yang bertempik sorak perihal harga yang ditawar? Ataukah seperti banyak pegiat kebudayaan, anda datang pada sebuah sarasehan melihat pembacaan puisi dengan segenap ekstase, musikalisasi, dramatisasi dan deklamasi yang dibuat buat? Apapun itu semoga anda tak menikmati puisi dengan cara menangis di depan podium sambil bicara soal moral.

Jumat, 01 November 2013

Surat Terbuka Seorang Buruh Tentang Kelas Menengah Yang Budiman

Kepada yang Budiman Mr dan Mrs Pelari Maraton

Selamat malam Mr dan Mrs Pelari Maraton. Sebelumnya maafken saya karena udah berani-beraninya nulis daripada surat yang begini. Sebagai buruh dan babu yang penghasilannya kecil ini, berani beraninya ganggu panjenengan mas dan mbak karyawan karyawati yang wangi. Tapi ini penting Mr dan Mrs Pelari Maraton yang terhormat sekalian. Saya harus bicara. Saya harus ngomong soalnya hati saya sudah kepalang mangkel. Bukan sama Mr dan Mrs Pelari Maraton sekalian. Sumpah ndak. Saya berani suer. Tapi saya mangkel sama itu loh yang katanya mas mas korlap (saya ndak tau artinya) kelas menengah (nuwun sewu) ngehek. Orang yang selalu marah dan ngejek saya kaum buruh karena demo.

Selasa, 29 Oktober 2013

Mualaf

Bagi saya keimanan tidak datang dari langit. Ia lahir dari usaha mencari, memilah, mempertanyakan, meragukan dan menyimpulkan atas apa sebenarnya konsep Tuhan itu. Keimanan bukanlah hal yang melekat pada kita sejak lahir. Saya terlahir sebagai penganut agama Islam, tapi bukan berarti secara otomatis saya beriman kepada Allah. Saya diajarkan bahwa Allah adalah tuhan yang maha. Seringkali dengan wajah angker ia digambarkan menjadi keji, kejam dan tak berperasaan. Ia menciptakan neraka untuk mengutuk, menyiksa dan menista manusia yang melawannya.

Minggu, 27 Oktober 2013

Kematian Sebagai Piknik Yang Lain

Untuk Intan

Dear kamu. Perempuan hebat yang bisa (pura-pura) tertawa menghadapi kematian. Apa kabar? Saya. Saya mah selalu baik-baik saja. Hidup saya sudah pernah sampai pada titik nadir yang (semoga) tidak mungkin bia lebih blangsak daripada itu. Kita berdua barangkali sudah mengenal rupa kematian dan mau tidak mau harus mengakrabinya sebagai sebuah keseharian. Kamu dengan kematian ibumu aku dengan kematian kakakku. Tentu tak ada derajat pembeda dihadapan duka. Siapapun yang meninggal berhak kita tangisi. Sayang dalam agama yang kuanut aku dilarang meratap, toh kemudian aku berpikir, pekerjaan itu tidak ada gunanya.

Pernahkah kamu membaca buku The Mourning Diary karya Roland Barthes? Kuharap kau punya waktu untuk membacanya (ini agak tricky karena bukunya susah didapat) karena mungkin akan membantu. Buku itu berkisah tentang bagaimana Barthes bisa menghadapi kematian ibunya. Ia bercerita seperti orang yang bergumam, meracau dan mengeluh. Tidak ada struktur yang baku, semua mengalir dan lebih intim karena ia tak harus menjadi Barthes seorang pemikir tapi cukup menjadi Barthes seorang anak manusia. Di sini aku belajar, dihadapan kematian, akal pengetahuan seseorang tidaklah berguna.

Dear Intan. Sampai lupa menyapa. Apa kabar kamu di sana? Semoga baik baik saja. Semoga kamu selalu dalam keadaan yang segar, mudah tidur dan tidak susah buang air besar. Karena kamu tahu? Ada dua hal tertahan yang menyebalkan di jagat raya ini. Bersin dan keinginan pup. Bayangkan jika kau gemuk sepertiku, gemar makan tapi tidak juga buang air besar. Tentu hidup akan semakin sengsara. Kalau gajimu tertahan kau bisa pinjam uang dan seterusnya dan seterusnya. Tapi itu barangkali tidak seberapa sengsara daripada jatuh cinta namun tidak berani menunjukannya.

Intan yang baik, hei aku lupa siapa yang sepuh di antara kita, jadi kukira-kira saja kita sebaya. Apakah kau sedang sibuk hari minggu ini? Setiap hari bagiku adalah minggu. Karena kau tahu? Sebagai pengangguran hidupku tak jauh-jauh amat dari bermalas-malasan. Dan hei kenapa aku melantur soal hidupku? Tentu akan jadi absurd jika surat ini berbeda isinya dengan judul yang kuberikan. Maafkan, kepala penganggur sering berkelebat dengan ingatan dan bayangan lain. Ia tak bisa utuh dan fokus kecuali, ya tentu saja, sedang ditodong senapan atau dalam cumbu kekasih.

Aku percaya kematian bukan akhir. Tentu kau juga demikian. Aku bukan penganut ajaran Hindu (kapan-kapan ajari aku soal kematian dalam perspektif ini) dan bagaimana mereka menghadapi kematian. Tapi yang jelas sebagai umat Islam, terlebih pecinta Imam Ali dan Ahlul Baytnya (beberapa menyebut kami Syiah) kematian adalah pintu menuju kebahagiaan yang lain. Tentu bukan surga. Surga adalah apa yang akan kau raih setelah pengadilan dan hari akhir tiba. Kamu muslim percaya ada jeda antara dunia saat ini (fana) dan dunia yang kekal (akhirat) yaitu alam kubur.

Kematian, bagiku, adalah piknik yang lain. Kau tidak bisa mengukur segala sesuatu dari apa yang nampak. Meski sebagian dari diriku yang agnostik meragukan keberadaan alam sesudah kematian. Carl Gustav Jung (halah pake ngutip) dalam Life After Death hanyalah sebuah ide dari "sekumpulan ingatan, bayangan dan kelebatan kenangan dari waktu yang telah lampau dan terus menerus melekat di kepal kita," katanya. Tentu ini hanya sekedar perspektif saja. Jikapun demikian toh aku akan berusaha mengenang dan mengingat almarhum kakakku dari sudut kebahagiaannya saja.

Kebanyakan orang menganggap kematian adalah sebuah momen menyedihkan. Tapi bagi kaum Syiah, kematian adalah hal yang dirindukan. Ia adalah tiket untuk kemudian bisa bersatu dengan junjungannya. Keimananku belum sampai pada tahap ini. Umat Syiah meyakini bahwa menghadapi kematian (terutama dari para tiran) adalah memenuhi undangan untuk bertemu kekasih yang mereka puja. Dalam hal ini para Imam yang mengajarkan laku hidup prihatin.

Aku sendiri meragukan bahwa kematian (bukan prosesnya lho ya) adalah sesuatu yang seram. Kematian adalah sekedar kepergian yang lain. Bedanya yang ini tidak akan kembali lagi, tidak akan membalas mention kita dan barangkali tidak akan menjadi bodoh bersama lagi di karaoke. Kemudian kau dan aku harus bertanya lagi. Saat kematian siapa yang lebih egois? Mereka yang pergi karena memang itu harus atau kita yang memaksa ingin ditemani padahal juga tak pernah setia untuk ada. Kadangkala kematian adalah jalang paling masuk akal untuk bermufakat perihal kebahagiaan orang yang kita sayangi.

Tentu bohong kalau aku bilang hari ini, bahkan selepas dua tahun kematian kakak, aku sudah ikhlas. Mustahil menjadi ikhlas dalam kehilangan. Kita telah lama diajarkan untuk menyimpan, menerima dan memiliki. Tapi jarang sekali diajari untuk merelakan, memberi dan mengikhlaskan. Hidup tak pernah memiliki panduan lengkap yang efektif menghadapi rasa pedih atas kekosongan akibat ditinggalkan. Toh ini tak membuat kita untuk berhenti hidup bukan? Pada beberapa derajat kematian mengajarkan kita untuk bersiap dan tegar. Dengan cara paling nyeri.

Mempersiapkan hidup setelah kematian juga tidak mudah. Butuh waktu berbulan-bulan, ada yang menahun, untuk bisa sekedar tegak setelah dihajar kematian. Aku begitu, entah kamu. Tapi Intan. Anggap saja begini, kematian adalah plesir. Kau hanya bisa mendoakan (apakah ada konsep doa dalam Hindu?) bagi mereka yang mati agar piknik mereka menyenangkan. Karena kamu tahu? Bahkan dalam piknik terkadang ada kesialan yang terjadi. Kita yang tak bisa ikut pergi piknik tentu hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja. Kalau pun ada yang bisa dilakukan ya berdoa, berdoalah dengan panjang, detil, jelas dan sebanyak-banyaknya.

Aku percaya yang pergi juga bisa merasakan ketidakrelaan kita, betapa sebenarnya mereka juga tidak ingin pergi. Tapi keadaan, membuat apa boleh bikin, mereka harus angkat jangkar dan pergi. Maka kurangi kekhawatiran mereka dengan menjalani hidup kita sebaik-baiknya. Toh mereka yang pergi juga bisa melihat kita di kejauhan meski kita tak bisa melihat mereka. Dengan menjalani hidup dengan bahagia, dengan tidak lupa makan dan mandi, kita telah memenuhi keinginan mereka untuk bahagia.

Itu saja mungkin. Semoga berkenan. Anti klimaks ya? Sama aku pikir juga gitu. Nanti akan kutulis lagi surat yang lebih baik. Sekian.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Yang Kesepian

Tidak ada satupun yang lebih kesepian dan dongkol daripada Tuhan. Kita pasti kenal, mungkin malah menjadi salah satunya, orang-orang yang merasa tahu keinginan dan kehendak Tuhan. Padahal mengenali Ia yang agung adalah usaha abadi mustahil dilakukan dalam satu rentang waktu kehidupan. Banyak hal yang menjadi alasannya. Pertama kita bukan Tuhan itu sendiri, yang kedua kita bukan nabi atau rasul yang jelas-jelas bisa berkomunikasi (meski tidak langsung) kepada Nya. Sebagai manusia, terlebih sebagai umat, kita hanya bisa mengira-ngira apa kehendak dan kemauan daripada Tuhan.

Tentu menjadi hal yang kepalang rumit hari ini untuk melakukan itu semua. Ada banyak orang, atau kelompok anda pilih saja, yang merasa punya legitimasi dan pewaris tunggal penafsir dan penerjemah keinginan tuhan (dengan t kecil). Legitimasi ini lahir dari pemahaman parsial dan sempit dari teks sebagai satu-satunya cara berkomunikasi dengan tuhan. Sayangnya, seperti yang kita ketahui, komunikasi semacam ini hanya berlaku satu arah. Kita hanya bisa memperkirakan sebuah kebenaran apabila itu dilakukan melalui monolog.

Sebelum ditemukannya teks dalam kitab suci, manusia hanya bisa mendengar tentang Tuhan dari mereka yang diutus Nya. Lantas kita menemukan mesin cetak, peradaban di bumi setelahnya tidak akan pernah sama lagi. Penyebaran pengetahuan menjadi lebih terang. Tanpa ada pengetahuan dan nilai-nilai humanisme  peradaban manusia akan musnah. Ilmu pengetahuan menjadi barang yang tak lagi menjadi hak istimewa kaum agamawan. Siapapun, yang memiliki akses terhadap buku, kertas atau selebaran apapun. Dapat mengeyam pengetahuan, pendidikan dan informasi tentang Tuhan.

Manusia-manusia determinis yang mengira bisa mengerti Tuhan hanya dari sebuah teks adalah mahluk yang sombong. Lebih sombong daripada mereka yang jatuh cinta tapi menjaga diri untuk tidak mengucapkannya. Padahal dari ribuan tahun peradaban agama kita hanya bisa meraba dari apa itu yang disebut kehendak Tuhan. Oligarki suci yang dipegang oleh kaum ulama dan mujtahid memberikan legitimasi bahwa hanya mereka yang terpilih saja yang bisa menerjemahkan kalimat Tuhan. Tapi hal ini pun tidak membuat beberapa manusia menjadi rendah hati, mengingat ketidaktahuan adalah kutukan, untuk sok tahu dan menganggap bahwa dengan menyanding satu tafsir bisa menafikan tafsir yang lain.

Kemudian kita mengenal Liturgi. Bangsa Yunani menyebutnya sebagai leitourgia secara etimologi berasal dari laos (artinya rakyat) dan ergon (artinya pekerjaan). Liturgi adalah peribadatan masal dimana seluruh anggota jemaah ambil bagian dalam usaha menyembah dan memuliakan tuhan. Idealnya liturgi adalah sebuah pertunjukan. Umat menjadi pemainnya, pemimpin agama menjadi konduktor dan Tuhan jadi penontonnya. Dengan demikian Tuhan tak perlu kesepian. Ia bisa tenang menjadi juri sekaligus penentu apakah si pemain berbakat dalam lakonnya, benarkah konduktor dalam memimpin dan bagaimana jalannya pertunjukan berlangsung.

Kiranya jika Ia berkenan, saat kita berpikir kita seolah tahu apa yang Tuhan pikir. Di satu titik di jagat raya ini. Ia tertawa keras.

Jumat, 25 Oktober 2013

Semacam Pesan Untuk Gadis Kesayangan

Jika aku menjadi lelakimu kelak. Aku tak akan membiarkanmu sendirian makan. Tidak jika aku sedang bersamamamu. Mungkin tidak menyuapimu, kau sudah dewasa dan bisa makan sendiri, tapi mungkin akan menikmati melihatmu makan. Lantas menyeka sisa saus di bibirmu, krim yang belepotan di pipimu atau menyelesaikan sisa nasi goreng jumbo istimewa yang kau pesan dengan gegabah. Aku akan menghabiskannya meski aku sendiri sudah kenyang. Karena mungkin, siapa tahu, dalam sisa nasi itu ada berkah tuhan untukmu yang dititipkan padaku.

Kamis, 24 Oktober 2013

Hatimu Bianglala Pasar Malam

Hatimu adalah bianglala. Pada pasar malam pertama bulan paling terang kau biasanya berputar. Cahayanya merah, kuning dan sesekali biru. Tiang tiangnya kurus dari baja pilihan anti karat. Kursinya dari kayu cendana. Setiap aku mengendarainya aku akan lupa cara menangis. Pelan pelan kesedihanku akan gugur seperti buih sabun dibasuh air.

Hatimu bianglala paling cerah. Kanak-kanak riang gembira bermain di teras hatimu. Gulali dan permen menjadi among tamu. Rindu adalah tiketnya gelak tawa adalah jaminannya. Lantas pada setiap putaran kau akan diajari cara tersenyum. Lantas mengabadikan keriuhan jiwamu. Hatimu terlalu ramah untuk mengabadikan amarah. Pada setiap hati yang hancur bianglalamu menawarkan pelukan dan teh hangat.

Aku sekarat menunggumu. Bianglalamu selalu penuh dengan kecemasan-kecemasan orang lain. Sementara kau membiarkan hatimu, bianglala, pelan pelan keropos dari dalam. Apakah kau akan terus pura pura kuat? Pura-pura menjadi karang yang tegar lantas terus menerus membahagiakan orang lain? Hatimu butuh diurus. Petugas bianglala yang cakap dan tegas. Yang paham kapan harus memberi jeda dan kapan harus memperbaiki kerusakan.

Hatimu bianglala. Keriuhan pasar malam tak membuatmu kurang bersinar.

Tiga sajak


di ruang maya

Pada sebuah amsal. Doa para pendosa,
via dolorosa, dan api penyucian. Mazmur suci
adalah rindu. Sementara
amarah
adalah kutuk haru.
apa yang lebih kalut, dari
sudut alismu
yang gugur. ketika malam tiba
guguk mengeong, menirukan suara

adzan di kejauhan.

12.33

Ibu yang baik. ini pesan
bukan soal batuk angin apalagi
meminta pulsa dan atau kiriman uang saku yang
terlambat datang. tapi
soal rindu yang berjelaga
di antaranya ada aku, doa-doamu dan
Tuhan yang kelelahan

Umaamika

Eka itu satu. satunya tunggal. bukan dua
kalau dua itu dwi. Dwi itu tidak tiga
ya jelas
kamu bukan matematika
kamu itu aku
memayu hayuning ati
sesudah ditulis lalu
selesai

Rabu, 23 Oktober 2013

Ketika Isi Kepala Mendidih

"Kamu itu keras kepala. Sudah kubilang jangan, malah menantang. Akhirnya luka bukan," katamu sambil berkacak pinggang.

Sejak kapan orang kasmaran menggunakan otak dalam berpikir? Jadi ceritanya sejak pagi aku sedang bingung. Isi kepalaku berjibaku antara menyelesaikan pekerjaan dan bermalas malasan. Siapa yang tak suka malas? Lagi pula malas itu menyenangkan. Semacam usaha diam dan menuruti nafsu. Memenuhi keinginan nafsu adalah hal yang melenakan. Tapi sedari tadi aku resah. Kenapa bermalasan tak membuatku tenang. Aku malah dalam kebingungan dan kesakitan ini membayangkan prosa. Semacam sadurann dari sajak orang yang kupelintir isinya.

Jika benar cinta adalah mimpi buruk lantas mengapa kau kaukenang masa kanakmu? Saat dimana kau bersitegang dengan mengadu nyali melawan perintah siapapun. Kita pernah bermimpi mengenang kunangkunang yang nasibnya telah binasa pematang. Mengingat bagaimana dahulu kita berusaha menaruhnya dalam toples sampai fajar datang, hingga cahya terakhir mereka redup perlahan.

Itu, itu sajak orang yang kusadur lalu aku akui sebagai karya. Tak apalah. Toh si penyair kawanku sendiri. Kupinjam barang selarik dua larik sebait dua bait tak akan bikin ia miskin. Karena aku butuh drama. Drama yang tengik. Drama yang bisa bikin aku lupa bagian luka itu sendiri. Karena luka itu membuatku ingat pertanyaan brengsek. "Mengapa harus terpaut pada dirimu, jika terus menerus kau melawanku?" Barangkali jawabannya ada pada Google beserta tiap inci neuron yang membuat kita mengerti. "Pernah, sekali waktu akan kukirai juga yang dulu-dulu, dan lacur: dari mana mesti bertolak segala aku?"

"Royal Weding Gusti Kanjeng Raden siapa namanya itu udah mulai. Kamu kapan menikah?" samar samar suara ibu menggema.

Lho bagaimana mau menikah? Bapakku berbini empat mencerai ibuku, kakaku bercerai karena alasan keyakinan. Kok ndadak malah mau nuntut aku nikah? Itu kan sebuah hil yang mustahal. Kita saling lupa memaafkan ketololan, pun tetap membingkai sekerdil apa kenangan. Kemudian adalah hidup, masa lalu dan kini yang melulu kurekam keberadaannya. Bagaimana bapak dan ibu baku hantam dan bagaiman hidup membuatku mendendam.

"Waduh. Serius amat jon omongan lu?" kata seorang kenalan.

"Ye upil biawak. Nyamber aja tulisan orang," jawabku cuek.

Tentang Jatuh Cinta Yang Tak Sakit Sakit Amat

Kita berdua saling mencintai. Iya. Kamu dan aku. Sama-sama sayang. Sama-sama membutuhkan. Sama-sama menginginkan dan sama-sama mengumi. Aku dengan segala kecerobohanku dan kau dengan segala kedisiplinanmu. Tapi ya itu kita, ah mungkin hanya kau saja, berpikir bahwa kita tidak mungkin bisa bersatu. Terlalu banyak hal yang dikorbankan dan terlalu banyak yang disakiti agar kita bisa bersama. Itulah kau, seseorang yang selalu ingin sempurna. Manusia yang ingin menyenangkan siapa saja dan tak ingin menyakiti.

Selasa, 22 Oktober 2013

Terang Dalam Gelap


Dalam sepenggal puisi kelam Bertold Brecht yang berjudul to posterity, tertulis sebuah pesan yang kuat. “Indeed I live in the dark ages! A guileless word is an absurdity. A smooth forehead betoken.” bahwa pada satu masa kita akan menyerah pada rasa takut, sementara negativitas adalah keseharian yang lain.  Tapi benarkah kita akan menyerah pada kegelapan? Saya percaya kita dibekali pemikiran untuk melawan segala yang tak kita ketahui. Seperti Ahmad Wahib, seorang pemikir muda subversif, yang pemikirannya telah melampaui masa ia hidup.

Pada catatannya yang tertanggal 16 Agustus 1970 misalnya. Wahib muda telah mengkritisi agama dan politik sebagai sebuah bangunan utuh. Baginya tak ada yang tak bisa dibongkar dan dipertanyakan lagi nilanya. Tentu saja usaha ini  harus punya nilai dan tujuan yang jelas. Bukan sekedar kritik kosong tanpa ada upaya perbaikan. "Cara bersikap kita terhadap ajaran Islam, Qur’an dan lain-lain sebagaimana terhadap Pancasila harus berubah," katanya "yaitu dari sikap sebagai insan otoriter menjadi sikap insan merdeka, yaitu insan yang produktif, analitis dan kreatif."

Sejalan dengan puisi Brecht, ketakutan Wahib hingga hari ini masih sangat relevan untuk dimaknai sebagai kalatida. Zaman yang tenggelam dalam teror. Zaman dimana menjadi berbeda adalah kesediaan untuk dipancung dan disingkirkan. Tapi kita semua pasti sepakat jika setiap zaman memiliki pembaharunya sendiri. Melalui “Pergolakan Pemikiran Islam” sedang bertanya-tanya tentang zaman yang muram. Ia meletup lebih keras dari petasan, meragu terhadap segala yang pakem dan kesepian karena segala pemikirannya sendiri. Ia manusia yang disingkirkan zaman.

Buku Ahmad Wahib menjadi penting bukan lagi dibaca sebagai sebuah epos upaya pembaharuan nilai-nilai dogmatis Islam. Tapi sebagai memoar tentang bagaimana manusia yang menyadari dirinya dhaif dan naif untuk mau bertanya. Saya tak benar benar memahami mengapa ia harus peduli kepada rupa zaman yang bopeng. Namun jika dengan kita merayakan kebodohan dan kebencian, maka mencari dan bertanya adalah upaya untuk memperbaiki keadaan. Wahib sadar itu dalam catatan hariannya.

Pada 9 Juni 1969 ia menuliskan sebuah refleksi teologis yang sangat dalam. Ia bertanya pada tuhan perihal oemahaman kita terhadap keyakinan. Bagi Wahib, sebelum meyakini, manusia harus terlebih dahulu meragu. Karena keraguan menuntun pada usaha mencari tahu dan usaha itu akan berujung pada keyakinan yang tidak bergoyah. Wahib menulis "Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang.

Pembacaan kita hari ini menganggap pemikiran semacam itru adalah sebuah tindakan radikal. Karena selama ini kita meyakini agama dan keyakinan sebagai berkah dari tuhan yang diterima apa adanya. Lebih jauh usaha untuk bertanya dan berdialektika dibawa Wahib melalui pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam. Pola bertanya lantas menjawab ini adalah ciri khas dari perenungan filsafat. Melalui pertanyaan-pertanyaan manusia didorong untuk berpikir. Melalui pikiran manusia mencari pembenaran dan pembenaran itu membuahkan kebijaksanaan.

"Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kepadaku dengan kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri."

Catatan harian yang disusun oleh Ahmad Wahib tidak dibuat untuk melakukan perubahan besar. Ia hanya sebuah goresan pena yang muram, berjarak, ragu dan bertanya-tanya. Ia tak berusaha membuat dunia lebih baik dengan idealisme yang muluk, ia bicara tentang kesederhanaan, tentang apa yang ia rasakan dan alami. Hidup barangkali seperti itu, merasakan keresahan, menuliskannya lantas berusaha untuk tidak menjadi bagian dari skenario brengsek hidup yang monoton. Wahib, seperti juga Soe Hok Gie dan Anne Frank, menuliskan memoar bukan untuk glorifikasi diri. Ia menulis untuk catatan agar dirinya tak menjadi bagian yang brengsek tadi.

"Kita orang Islam belum mampu menerjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values dalam ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan penerjemahan-penerjemahan." katanya pada 17 Januari 1969. Ini adalah upaya dingin bagi seorang umat beragama. Karena Wahib ingin memisahkan antara islam sebagai sebuah ajaran teologis dan islam sebagai sebuah jalan hidup. Baginya akibat pembacaan yang cenderung tradisional dan tekstual, umat islam menjadi "orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung ekslusif."

Memoar Wahib juga memberikan kita sebuah pandangan pada sebuah zaman. Bahwa pada satu waktu keadaan bisa sangat pelik dan menunut seseorang tetap waras adalah sebuah kemustahilan. Kita mengenali sebuah buku sebagai sebuah representasi pengetahuan. Tapi ia juga bisa menjadi petasan, obor dan pendobrak yang meruntuhkan dogma. Memoar pribadi yang awalnya hanya teronggok menjadi catatan yang sunyi, intim dan personal. Bisa jadi sebuah letupan baru kanal yang menjadikan keraguan-keraguan hilang. Ia adalah mahluk hidup lain yang menulari kita untuk tidak tunduk pada ketakutan-ketakutan.

Pada akhirnya catatan pribadi adalah representasi dari sikap paling sederhana kita terhadap suatu hal. Ia tak harus besar, tak harus rumit dan juga tak mesti serius. Gelap masa yang ditakuti Brecht adalah zaman yang menghamba pada kezaliman fikir. Sementara kezaliman semacam ini hanya bisa ditaklukan dengan menyadari bahwa sebagai manusia kita dhaif dan lemah. Wahib menemukan caranya sendiri untuk tak menyerah pada ketakutan itu. “Dengan membaca aku melepaskan diri dari kenyataan yaitu kepahitan hidup. Tanpa membaca aku tenggelam sedih,” tulisnya pada 20 April 1970.

Hujan Lain Sapardi

Tak ada yang lebih bijak dari Hujan Bulan Juni? Ah kata siapa. Banyak orang barangkali lupa jika Sapardi bicara banyak hal yang lebih bijak dari sekedar hujan, ia pernah berkisah soal November yang penuh perjuangan, ia pernah pula menyapa Selamat Pagi Indonesia, tentang keinginan mencintai yang sederhana, tapi kita tak akan lupa jika Sapardi juga punya mata pisau dan duka yang abadi. Ada banyak yang diceritakan Sapardi dengan liris dan tak melulu hanya gosip.

Tapi mengapa hanya Hujan Bulan Juni yang selalu kita ingat kehadirannya? "tajam hujanmu," kata Sapardi dalam Kumpulan Sajak Perahu Kertas, "...sudah terlanjur mencintaimu:" sehingga "payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,:" lantas membuat " dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan," karena "deras dinginmu, sembilu hujanmu". Ia menjadikan hujan sebagai seorang karib yang tak habis diceritakan. Barangkali hujan memang selalu bertutur soal kisah yang jamak, namun hanya sedikit yang mau mendengar dan peduli.

Buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni diterbitkan pertama kali oleh Grasindo pada 1994. Namun Sajak-sajak tentang dan bertemakan hujan juga terdapat dalam buku puisi lain yang pernah terbit sebelumnya, seperti: duka-Mu abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Selain karya tersebut Sapardi juga menuliskan beberapa karya apresiasi sastra. Priyayi abangan : dunia novel jawa tahun 1950-an yang disusun berdasarkan tesisnya, juga Sihir Rendra: permainan makna yang ia tulis sebagai apresiasi kepada si burung Merak.

Sapardi tak melulu menulis tentang hujan. Meski dalam puisi hujan yang ia bikin selalu ada sihir yang membuat kita patuh dan takluk. Dalam banyak cerita kita percaya suasana yang dibawa mendung itu melahirkan kehidupan. Namun "Hujan" katanya dalam sajak Sihir Hujan tak hanya "mengenal baik pohon, jalan, dan selokan" Tapi hujan juga punya keahlian lain, punya wajah laih, punya ciri yang membuat kita manusia "kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela."

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Tapi bukan hanya si penyair sepuh ini yang terinspirasi dengan hujan. Setidaknya dengan sajak yang ia bikin, Sapardi membuat orang lain berkarya sebagai sebuah usaha apresiasi. Ananda Sukarlan misalnya pada awal 2008 menggelar konser bertajuk "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisinya. Juga seperti yang dilakukan dalam album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibum, album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari, album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu dan album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu.

Ada pula satu lagu dari album "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul 'Aku Ingin', diambil dari sajak Sapardi dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani. Seluruh pencapaian ini memang sangat luarbiasa. Karena tak hanya pada kazanah seni musik, puisi hujan Sapardi telah berkembang hingga pada seni musik dan seni lukis. Seperti yang dibuat oleh Mansjur Daman. komikus silat pencipta serial Mandala.

Pada 11 April 2013, dalam pembukaan Retro Man 50 Tahun Berkarya di Bentara Budaya Jakarta, Mansjur menginterpertasi puisi Sapardi Djoko Damono Hujan di Bulan Juni menjadi sebuah komik. Baginya puisi merupakan penggambaran yang paripurna tentang sebuah kepergian dan perpisahan. Dalam komiknya itu Mansjur menggambarkan hujan sebagai sebuah perpisahan yang subtil dan agung.

A Teeuw, kritikus dan pemerhati sastra Indonesia asal Belanda, menyebut Sapardi telah menciptakan genre baru dalam kesusasteraan Indonesia. Pernyataan ini boleh jadi terlalu tendensius, mengingat sebagai penyair bergaya aku liris. Hampir tak ada kebaruan yang dibawa olehnya selain usaha untuk membuat aku penyair dan lingkungan menjadi lebih akrab. Meski menurut Goenawan Mohammad, puisi Sapardi adalah selayaknya dicemburui dan langsung buat kita bertanya, mengapa saya tidak menulis seperti itu!

Sementara itu Mangasa Sotarduga Hutagalung salah satu pendiri dan dedengkot kritikus sastra mazhab Rawamangun pernah membuat heboh kalangan sastrawan setelah ceramahnya di Fakultas Sastra UI pada 24 November 1973. Baginya penyair Indonesia terkemuka saat itu adalah Subagio Sastrowardoyo, baru menyusul kemudian Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan WS Rendra. Meski demikian hal ini tak membuat kepenyairan Sapardi menjadi kecil.

Oleh karena itu sebagai upaya apresiasi. Saya bagikan beberapa puisi hujan yang barangkali kurang terkenal dibandingkan Hujan Bulan Juni yang telah masyur itu. Sebagian berasal dari kumpulan puisi Mata Pisau (1982) dan kumpulan sajak Perahu Kertas (1983). Keduanya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Semoga bermanfaat bagi kalian para pembaca.

Hujan Dalam Komposisi I

"Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di selokan?"
Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan,
membanyangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang.
"Tak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri yang di balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa di pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik air menggelincir dari daun dekat jendela itu. Atau memimpikan semacam suku kata yang akan mengantarmu tidur."
barangkali sudah terlalu sering dia mendegarnya dan tak lagi mengenalnya.

1969

Hujan Dalam Komposisi II

Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa pohon jambu itu; tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah dan jatuh ke bumi.

Apakah yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan kecil, mericik swaranya, menyusur selokan, terus mericik sejak sore, mericik juga di malam gelap ini, bercakap tentang lautan.

Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan. Selamat tidur.

1969

Hujan Dalam Komposisi III

dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya
terpisah dari hujan

1969

Percakapan Malam Hujan:

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, "Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam."

"Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang."


dan kesedihan yang sering terasa saat sendiri... atau apakah kesedihan memang untuk dinikmati sendiri?
entah..


Pada Suatu Pagi Hari:

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi
itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa
berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang yang
bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan
rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

1973

Kuterka Gerimis:

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

1982.