Kamis, 31 Januari 2013

Perihal Menulis

Saya tak pernah menganggap menulis adalah pekerjaan. Setidaknya bukan dari kerja keras yang dilakukan dengan berkeringat dan penuh perjuangan. Menulis barangkali adalah sebuah keseharian yang menyenangkan. Sama halnya dengan menikmati segelas teh hangat di sore hari atau seloyang pizza ketika hujan. Kegiatan yang menyenangkan dilakukan sering-sering, namun bisa menjadi memuakkan jika dilakukan terus menerus tanpa jeda. 

Sekitar medio 2007 saya bergabung dengan sebuah organisasi pers mahasiswa lantas jatuh cinta pada proses literasi ini. Barangkali cinta terlarang. Karena menulis membuat saya melupakan perkuliahan dan membuang 3.5 tahun kuliah dengan kegiatan sia-sia. Membaca, jalan-jalan dan tentu saja menulis tadi. Apakah saya menyesal? Tentu tidak. Menulis adalah cinta yang rela saya lakukan berulang kali meski tahu endingnya akan menyakitkan.

Tapi cukup tentang saya. Hari ini seorang kawan mengajak sebuah kampanye menarik yaitu 7 hari menulis. Agak klise sebenarnya. Kampanye seragam sudah terlalu banyak dan sayangnya hanya sedikit saja yang bisa bertahan dan menyebarkan virus literasi. Tapi saya selalu mengapresiasi kampanye semacam ini. Di tengah brengseknya kondisi komunitas penulis Indonesia paska booming social media. Munculnya penulis-penulis baru seperti sebuah pemandangan senja di sesaknya Jakarta. Blessing in disguise.

Saya ingat sekali pertama kali bagaimana rasanya menulis. Mual, bersemangat, penuh gairah, takut dan congkak berbaur jadi satu. Hasilnya? Dua halaman tulisan panjang tentang kondisi warung kampus yang dijejali promosi kapitalis industri rokok. Naif dan sok idealis. Lantas ketika masuk meja editor, tulisan hasil kerja keras itu semalaman dihajar, dicoret dan dikritisi hingga tersisa satu paragraf saja. Dan benar kata orang, First cut is the deepest.

Bertahun kemudian saya menonton film nyaris-self-help tentang budaya literasi yang berjudul Finding Forester. "First rule of writing is to write, not to think," kata Sean Connery dalam film itu. Ada yang komikal dan profetik dalam pernyataan itu. Tugas pertama seorang penulis adalah menuliskan bait-bait pemikirannya dalam lingkar kerja kalimat. Dari situ teks akan melahirkan makna yang kemudian akan dimaknai oleh pembaca. Sebuah proses tanpa akhir dari relasi yang kelak, semoga saja, akan melahirkan peradaban.

Peradaban yang lahir dari kata-kata adalah peradaban yang mulia. Penulis dalam hal ini punya peran sentral dalam bagaiman peradaban, juga kebudayaan, itu dibentuk. Saya tak akan memulai perdebatan dengan mengatakan bahwa firman dalam kitab suci adalah buatan manusia atau tidak. Tapi saya akan berbagi cerita perihal beberapa penulis dan karyanya yang membantu membentuk peradaban modern jadi lebih baik lagi. Mungkin akan membosankan, tapi ini akan menarik jika anda suka menulis.

Tentu perlu batas. Segala yang berlebihan pada akhirnya hanya akan membawa kebebalan. Juga dalam menulis. Penulis yang hebat adalah penulis yang mampu memberikan perubahan, melahirkan polemik dan yang pasti membuat orang tergerak untuk melakukan sesuatu. Penulis yang demikian hanya sedikit saja ada di dunia. Beberapa dari mereka adalah agitator propagandis (agprop) yang ulung. Sehingga bisa melahirkan karya seminal yang merubah peradaban dunia.

3.000 tahun sebelum masehi bangsa Mesopotamia menyadari pentingnya mengabadikan sebuah pesan. Barangkali di sinilah tulisan pertama dicatatkan. Apa sebenarnya yang penting dari sebuah tulisan? Toh dalam catatan tertua hanya berisi laporan perihal distribusi pangan. Bangsa Mesopotamia mengamini keteraturan sebagai sumber kemakmuran. Catatan yang kelak disebut sebagai cuneiform mampu menciptakan masyarakat yang terorganisir. Metode ini beratus tahun kemudian diadopsi oleh peradaban Mesir dengan sistem hieroglyphics-nya. 

Belajar pada karya Klasik

Untuk itu penting untuk memahami pentingnya karya klasik, tapi saat ini saya tak ingin terlalu banyak membahasnya. Pertama karya klasik terlalu membosankan untuk bisa dipahami dengan konteks kekinian secara harfiah. Kedua karya klasik terlalu banyak dan beberapa telah menjadi arkaik sebelum kita membacanya. Ketiga karya klasik, sebagaimana makanan dan musik, adalah perihal selera dan klaim. Ia tak bisa dipertanggung jawabkan secara etik kepada seluruh manusia. Dan yang terakhir karya klasik is much to overrated.

Tapi ada baiknya kita sedikit belajar tentang beberapa karya dari penulis klasik yang mempengaruhi peradaban dunia. Namun sebelum itu kita simak dulu paparan Jeffrey Brenzel, dekan sekaligus dosen di Jurusan Filsafat Universitas Yale, tentang lima kriteria sebuah karya tulisan menjadi klasik. Hal ini menarik sebagai sebuah pijakan standar untuk memahami secara rasional mengapa karya itu menjadi penting. Juga sebagai sebuah rangsangan bagi mereka yang penasaran untuk mencari tahu.

Kriteria tersebut antara lain; 1. Berurusan dengan kemaslahatan umat manusia, 2. Merubah paradigma umum yang telah pakem selama ini, 3. Mempengaruhi karya lain yang juga lebih hebat, 4. Dihormati oleh berbagai kalangan sebagai karya yang luar biasa, 5. Menantang untuk bisa dipahami tapi sangat setimpal dengan kerja keras yang dikeluarkan. Saya tak akan menjelaskan satu persatu pokok pikiran dari kriteria tersebut. Karena saya tak ingin mengejek kapasitas intelektual pembaca sekalian sebagai orang yang cerdas.

Jeffrey Brenzel menyebutkan Republic karya Plato sebagai fondasi awal karya peradaban klasik yang paling penting. Ia berargumen bahwa karya ini membahas perihal upaya menjawab pertanyaan klasik tentang "apa itu keadilan", tentang nilai pendidikan bagi sebuah masyarakat, tentang pemerintahan ideal, dan yang paling penting perdebatan tentang apa itu hidup mulia. Tapi perlu dicatat bahwa karya ini juga bukan karya murni Plato karena berisi berbagai diskusi bersama maha guru filsafat dunia Socrates.

Daftar yang dibikin oleh dekan Universitas Yale itu bisa jadi sangat subjektif. Karena bagi beberapa orang karya klasik tak melulu harus terikat pada ruang waktu yang lampau. Penulis masyur Shalman Rushdie misalnya tak begitu menyukai karya-karya tulis klasik era Yunani kuno, namun malah mengaku sangat menyukai karya pop nan kitsch Fifty Shade of Gray. Entah ini adalah sebuah sarkasme atau pernyataan jujur. Tapi sebuah buku atau tulisan bisa menjadi klasik tergantung bagaimana memaknai pengaruh karya tersebut dalam proses kreatif kita.

Tapi apa alasan saya membawa anda para pembaca membawa karya tulis yang sudah berumur lebih dari 2.400 tahun? Untuk menjawab itu perlu pembaca pahami bahwa dunia baru menikmati sistem pendidikan modern yang terbuka bagi siapapun pada abad ke 19. Sebelumnya semua akses terhadap pendidikan hanya dinikmati oleh kaum penguasa, kaum agamawan dan juga keluarga kerajaan. Sehingga akses pengetahuan sebelumnya adalah monopoli kaum tertentu saja.

Untuk itu memahami karya klasik saat ini dan mengapa ia penting merupakan berkah. Sehingga dengan akses internet yang begitu luas, kalian harusnya merebut kesempatan ini untuk membaca karya tersebut sebagai sebuah berkah kebebasan. Tapi sebentar saya ngomong ngalur ngidul tentang bacaan apa sih pentingnya bacaan terhadap menulis? Bukankah kita sedang membahas proses menulis sebelumnya? Jawabannya sederhana. Mustahil menulis tanpa membaca.

Setelah mengetahui bahwa karya klasik memiliki pengaruh pada peradaban. Juga kriteria-kriteria yang membuat karya klasik menjadi penting. Lantas fakta bahwa akses karya klasik tersebut kini sudah terbuka lebar, sebagai penulis apa yang akan kalian lakukan? Ah tapi saya ogah menggurui toh saya juga belum bikin buku.

Tulis Baca Lakukan Seterusnya

Akibat sebuah pamflet Eropa pada 1848 pernah dihantui. Hantu bernama komunisme gara-gara artikel panjang yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Manifesto Komunis, judul artikel itu, membuat banyak borjuis bergidik nyeri ketakutan. Apakah ini kali pertama Eropa dihantui sesuatu yang lahir dari tulisan? Sayangnya tidak. Jauh sebelumnya pada 1517, seorang teolog bernama Martin Luther, menuliskan 95 fatwa yang membikin tahta suci gereja bergoyang keras.

Apakah karya tersebut merupakan tulisan yang lahir asal jadi? Tidak. Karl Marx menuliskan karya itu setelah menahun pergulatan panjang sebagai pembaca dan penulis yang rakus. Martin Luther bergulat dengan berbagai literatur dan pemahaman al kitab sehingga melahirkan fatwa-fatwa tadi. Di sini posisi sebagai penulis tak bisa lepas dari bahan bacaan yang ia konsumsi. Lebih dari itu apa yang kamu baca bisa menjadi sebuah tolok ukur kualitas tulisan yang akan kamu hasilkan.

Hampir tidak ada alasan untuk seorang manusia untuk tak menulis. Dari puluhan jam selama sehari menulis, seperti juga membaca, semestinya memiliki ruang sela yang teramat banyak. Ketika sedang mengantri, ketika sedang istirahat, atau ketika sedang buang hajat sekalipun. Penulis yang manja adalah penulis yang sibuk menyusun alasan daripada duduk bekerja mencatatkan kalimat dalam kepalanya. Penulis yang demikian hanyalah sebuah mur dari peradaban yang jika rusak akan banyak gantinya.

Mustahil seorang munsyi menjadi pakar bahasa jika ia belajar membaca dan memahami kata dari pesan singkat ponsel. Peradaban menulis dan membaca kita sudah begitu buruk sehingga kata-kata dari seorang penulis terkenal bisa menjadi dogma yang tak bisa dikritik. Kita disuguhi tulisan-tulisan kualitas berak yang itu-itu saja. Referensi bacaan diatur oleh sebuah korporasi literasi yang hanya mengakomodir satu genre busuk yang teramat buruk kualitasnya.

Barangkali pengantar ini terlalu berat untuk sebuah kampanye menulis sederhana. Tapi ada baiknya kita menjejak dari sebuah tanah yang keras, daripada lahir dari belantara surga. Kita tak butuh penulis yang lahir hanya untuk memuji dan dipuji. Di tengah peradaban menulis yang hanya dikangkangi segelintir komprador dan pemujaan berlebih. Penulis yang kejam dan berwawasan luas diperlukan. Untuk itu saya menantang kalian para pegiat penulis yang turut ambil bagian dari gerakan #7harimenulis menjadi penulis yang demikian. Kejam tanpa ampun untuk peradaban yang lebih baik. 


Catatan Perihal Buku


1//
Oke, aku bagi catatan ini dalam beberapa bagian ya, catatan yang agak kacau balau..hehe..


Aku mulai dari daftar buku yang kamu pilih dan dengan sangat sedikit komentarku.

Caping 9: ah, alasannya cuma dua: yang pertama diarahkan pada TEMPO yang gagal menelurkan esais selain GM. Alasan ini jelas tidak ada hubungannya dengan buku caping 9. Yang kedua adalah gaya (bahasa penulisan) caping dari GM, dari caping 1 (yang masih ada beberapa yang belum matang gayanya) sampai caping 9 yang semua gayanya sama. (Gaya yang bikin bosan ya…) Ini juga bukan terkait dengan kualitas isi buku, yang aku yakin di antara lima buku yang kamu pilih, inilah yang paling berbobot mungkin. Tentang gaya bahasa caping memang hampir 100% semua sama. Bagiku ini sebuah konsistensi gaya kepengarangan, yang dalam segi gaya bahasa sudah menjadi milik GM, tapi dari segi isi, kita bisa memperbandingkan dengan tulisan-tulisan yang lain yang serupa isinya, dan di sini kita bisa beradu argument mana yang terbaik dari segi kualitas isi pemikiran.

Maka, pilihan dan alasanmu kurang kuat bahkan lemah, apalagi yang lainnya semuanya dihakimi lewat kualitas isi. (Apakah gara-gara aku suka caping ya. Menurutmu? Ya, meskipun aku bahkan tidak punya satu buku caping pun, hanya membaca di perpustakaan dan pinjem teman, dan tentu membaca di majalah TEMPO. So, buku-buku capingmu boleh dikirim ke aku aja berhubung kamu sudah berhenti membaca caping. Berani? Tidak berani juga tidak apa-apa kok…hehehe). 

Partikel: ah, aku kok sepakat.

Tweet: idem, ah, (eh, buku-buku Pidi Baiqku belum dikembalikan sama temen2)…

Ngawur: ya, aku sepakat. Hampir tidak ada kerja keringat otak, dan kerja literatur tentu ngawur yang bener itu seperti apa, paling tidak aku berharap akan ada prolog yang sedikit mempertanggungjawabkan kengawurannya secara, bolehlah, filosofis. Ya, biar lebih baik dari klirumologi itu..

Chaerul Tanjung: hmm… alasan untuk buku ini jelas pada sisi best seller. Pada tahun ini, banyak buku-tokoh serupa yang aduhai narsisnya tapi tidak kamu masukkan karena tidak menjadi best seller tentunya…

Yang jelas aku kok malah bukan menyalahkan Chaerul Tanjung ya, tapi malah pembacanya. Kok bisa-bisanya mereka membeli buku seperti ini? Tapi, secara sosiologis (bolehlah ditambah sosiologis-ideologis) buku seperti ini adalah sebuah glorifikasi sistem kapitalisme, seperti halnya di Amerika yang jadi cikal-bakal buku-buku serupa, terutama buku-buku motivasi. Ah, jadi ingat, pada edisi pergantian abad dari 20 ke 21, majalah TIME edisi minggu pertama Januari 2000 dengan kover kembang api mengangkat buku-buku motivasi para motivator seperti Positive Thinking, How to Win Friends, dll, sebagai buku yang konon katanya berpengaruh... hmm.

Aku malah tertarik membaca disertasi (ya disertasi yang dikerjakan dg serius!) yang mengangkat tema buku2 motivasi dari sudut ekonomi-politik dengan pendekatan psikologi, terutama di negara dunia ketiga yang diimpori buku2 motivasi. Aku pikir, setelah buku The Wealth of Nation dari Adam Smith dan buku pengkritiknya Das Capital yang malah mengukuhkan kapitalisme, bukunya Max Weber tentang Protestan etik, (termasuk bukunya David McClelland (bener ga sih tulisannya), buku-buku motivasilah yang menjadi penjaga iman sistem kapitalisme di dunia ini daripada buku-buku ilmiah yang ditulis oleh para professor dari universitas manapun di dunia ini. Sudah ada tidak ya disertasi semacam ini…


2//

Kelemahan dalam membuat daftar buku, entah yang layak diterbitkan, berpengaruh, dll. adalah lemahnya parameter untuk bisa diterima secara umum atau tertentu dalam satu kategori buku. Dalam daftar bukumu, jelas buku-buku yang kamu pilih tidak memiliki karakter kategorial buku yang sama. Ada catatan yang intelektualistik, novel, tanggapan jurnalistik dengan pendekatan mitos cerita, ada buku 'biografi', dan buku kata-sekali-uculdari media sosial.

Kelemahan ini akan sangat terlihat sekali saat akan memberikan alasan untuk justifikasi, yang pada akhirnya akan memberikan alasan-alasan yang berbeda pada setiap buku. Padahal, semakin berbeda alasan justifikasi semakin lemah sebuah pemilihan, dan semakin menunjukkan lemahnya kategori/parameter yang dipakai (aduh, jadi kasihan aku sama buku yang dihakimi..).

Dan, sedikit parahnya, dengan mengambil cerita karya Kafka dan James Joyce, tentu saja kamu sudah membuat ancang-ancang yang terlalu tinggi yang bahkan bisa dilemahkan oleh buku (sastra) serupa yang dibuat “asal-asalan” tanpa pretensi yang besar tapi akhirnya jadi buku besar, katakanlan Sejarah Aib. Ancang-ancang ini tentu saja bukan sebuah kategori atau klasifikasi (variabel?). Ia hanya satu gambar, deskripsi, yang pernah terjadi pada satu buku dan satu pengarang/penulis. Ini tentu tidak bisa dijadikan parameter, apalagi hendak dibuat generalisasi. Maka sangat lemah untuk dibuat parameter pada buku-buku yang lain..hehehe, terlalu aneh ya bahasaku..  

Kalau boleh diklasifikasikan setidaknya ada tiga kategori yang kamu: sisi isi-intelektualisme, sisi gaya, dan sedikit kemuakan terhadap buku motivasi. Tapi yang paling kuat adalah pada sisi isi buku, dan itu kenapa kamu memasukkan Caping 9 sebagai yang pertama, aku pikir. Ini tentu saja, hanya klasifikasi/parameter yang aku buat berdasarkan pembacaanku atas tulisanmu. Tidak secara spesifik dan eksplisit ada dalam tulisanmu, sayangnya.

Yang jelas, untuk sekadar terbit sebagai buku, semua buku yang kamu pilih itu sungguh layak terbit, setidaknya semua buku yang kamu pilih adalah buku yang cukup bagus untuk setiap kategori masing-masing buku itu sendiri. Setidaknya, hanya mengecewakan ekspektasimu yang terlalu tinggi untuk sebuah buku, apalagi di negeri dengan penduduk yang tidak begitu cinta buku. (Eh, pernah tidak sih kita diajari membaca buku, katakanlah membaca secara reseptif, secara kritis, secara komparatif, sampai secara otoritatif, entah di sekolah atau kampus atau dimana gitu? Kok aku merasa belum pernah ya, hanya belajar otodidaktif).

Kelemahan penilaian ini akan terus berlanjut terhadap buku-buku berikutnya atau pada buku yang telah lama terbit. Sayang sekali. Sebenarnya agenda seperti tulisanmu itu harus menjadi agenda setidaknya setahun sekali, sebagai kontrol dan kritik terhadap kualitas perbukuan di Indonesia. IKAPI atau penerbit jelas tampaknya tidak akan begitu tertarik untuk hal seperti ini, bisa mematikan buku. Maka, akan sangat baik kalau ada semacam dewan atau komunitas yang benar-benar memiliki kepakaran untuk menilai sebuah buku. Ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat buku Indonesia…aduh, aku kok jadi semacam jubir I:Boekoe ya…hehehe. 


3//
Aku malah membayangkan, bagaimana dengan buku-buku yang sungguh sangat edan peredarannya: buku pelajaran di sekolah-sekolah dari SD-SMA, LKS, dan buku teks kuliah. Siapa yang sampai detik ini termasuk yang sok pecinta mati sama buku yang berani mengkritisi, setidaknya berani mangatakan “buku yang tidak layak terbit”, belum sampai pada “buku ini tidak layak dijadikan buku-ajar”? Paling-paling buku pelajaran dikritisi karena buku itu dianggap berisi hal-hal yang tak senonoh, seperti yang beberapa waktu terjadi. 

Padahal, buku pelajaran itu menjadi buku yang bahkan wajib dibaca oleh jutaan manusia Indonesia dari pada kitab suci agama apapun di Indonesia ini. Dan dibaca dari generasi ke generasi seperti yang terjadi pada buku kurikulum, menjadi best seller national selama beberapa tahun, yang pasti akan mengalahkan si anak singkong yang akan segera dikalahkan oleh buku serupa pada tahun yang akan datang. Padahal: Sekali buku pelajaran jelek dan tidak mencerdaskan, seumur hidup si empunya buku akan dikutuk seumur hidup jadi manusia bodoh, apalagi yang hanya kenal buku pelajaran (dan aku sedikit sungguh yakin kau tidak mengoleksi buku pelajaran sebagaimana buku-buku yang ada di rak bukumu! Eih, najis mengoleksi buku pelajaran, termasuk buku teks kuliah yang membosankan itu! Hehehe).

Siapa yang berani lantang mengkritisi buku-buku ini? Siapa? Aduh, sejauh yang aku tahu belum ada satu orang pun yang berani mengkritisi buku ini (kecuali buku sejarah, terutama ya setelah Soeharto jatuh). Dan sejauh yang aku ikuti dalam polemik kurikulum 2013, belum ada satu pun tokoh, pemikir, pendidik, professor, atau siapapun yang mengkritisi isi buku kurikulum 2013 itu dengan menunjukkan kutipan, rujukan, dll dari buku kurikulum (bukunya sudah ada tidak sih yang bisa kita hakimi mati-matian bareng2?)! Kita tidak tahu bukunya seperti apa, isinya apa, dan bagaimana sistematika isinya, dll, tapi hebohnya gak ketulungan. Ini sungguh absurditas yang tidak menggelikan bagiku.     

Terus terang, saat membaca daftar buku yang kamu pilih, aku jadi terlihat menjadi sosok gagah yang tragis, gara-gara aku jadi absurd sendiri memikirkan buku kurikulum yang tidak kamu masukkan, dan aku sebagian suka buku yang kamu pilih (tentu dengan subjektivitasku). Buku pelajaran (rasakan kata pelajaran ini secara sosiologis dan psikologis-religius) adalah buku yang akan diwarisi sebagai warisan tunggal oleh generasi Indonesia. Dan tanpa bantah! Tapi, untungnya, manusia Indonesia kayaknya sama-sama paham perihal sedikit ngibul buku pelajaran ini: 90% siswa/mahasiswa, yang kelak akan menjadi guru, professor, ilmuwan, dll. tidak ada yang menjadikannya sebagai buku favorit, buku berpengaruh, atau buku yang layak dikoleksi untuk dibaca ulang, menurut sedikit survey sangat kecilku. Maka, tidak perlu dikecam, dikritik, dicemooh, dll…  

Btw, siapa ya yang sudah membuat daftar buku anak yang layak dibaca? Aku pengen membaca buku anak-anak, tapi belum tahu peta buku anak-anak itu seperti apa. Padahal, ini sungguh-sungguh proyek yang sangat-sangat penting bagi (masa depan) dunia literasi Indonesia… L

Terakhir, hmmm…apa ya, sebenarnya aku pengen mengutip kata-kata Nietzsche dalam Zarathustra… yang tentang tulisan yang ditulis dg berdarah-darah itu, tapi nanti aku jadi ikut-ikutan dirimu. Ah, gak jadi aja ya, lagian bukunya di rumah, hehehe… Oke Dhani. That's all… J


*kritik atas tulisan saya oleh Moh Fauzi Sukri. Penikmat sastra dan pegiat komunitas bale sastra kecapi Solo

Kamis, 24 Januari 2013

Responsible (Travel) Writer

Karya Made Muliana Bayak

Ada sebuah acara televisi yang mengganggu saya. Hidden Paradise yang ditayangkan oleh Kompas TV. Menggali lokasi-lokasi indah terpencil mempromosikannya sebagai sebuah destinasi wisata yang "baru", "perawan", "belum tersentuh" dan yang jelas "Eksotis". Saya bergidik nyeri. Para traveler tanah ini sedang sibuk berburu mencari tempat eksotis dan perawan untuk ditampilkan. Sampai kapan tindakan ini akan terus terjadi? Apakah mereka tidak akan berhenti sampai surga terakhir dieksploitasi?

Sementara di ujung dunia lain para pegiat melancong berusaha gerakan menyelamatkan lingkungan dan alam dari upaya eksploitasi. Di Indonesia para pegiatnya sibuk pamer eksotisme dan promosi daerah-daerah terpencil. Saya pikir ada yang salah di sini. Banyak pelancong negeri ini lebih sibuk mengunggah foto panorama via instagram daripada memotret realitas kemiskinan di daerah destinasi wisatanya. Beberapa yang lain lebih sibuk sesumbar mengenai jumlah destinasi yang telah ia sambangi.

Para pelaku kegiatan dangkal ini, sayangnya, adalah para travel writer yang konon bercita-cita berbagi  pengalaman atas sebuah destinasi. Sedikit dari mereka yang bersedia dengan sadar berpikir sejenak lebih panjang untuk menyadari apa akibat dari tindakan mereka itu. Sebenarnya apa yang ingin dicapai dari berbagi foto indah? Apa arti dari tindakan ini? Narsisme "Been there, pictured that,"? Atau sekedar tindakan labil untuk pamer kebanggaan 

Perilaku egois, narsis dan kekanak-kanakan ini menyebar seperti virus. Menjangkiti banyak orang bahwa traveling adalah perilaku keren nan kece yang harus dilakukan. Bahwa menikmati hidup di luar memejalkan diri untuk melakukan perjalanan jauh dan eksotis adalah keren. Tidur di bandar udara berbekal sleeping bag, melakukan perjalanan ke luar negeri berbekal uang seadanya, menembus hutan lindung dan memotret pemandangan langka nan indah memang adalah kegiatan debar yang melenakan. 

Tapi apakahh ini baik dibagi? Itu seharusnya menjadi sebuah pertanyaan etis yang semestinya ditanyakan setiap travel writer sebelum ia berbagi pengalaman akan sebuah destinasi.

Tapi mereka lupa tak semua orang bisa melakukan traveling, atau dalam beberapa kasus sebuah perjalanan tak bisa diulang sama persis. Menyatakan semua orang melakukan perjalanan berbekal sekian juta keliling eropa adalah tindakan ceroboh yang menyesatkan. Menembus hutan belantara tanpa menyadari jika tempat itu sebuah cagar alam. Atau tidur di sebuah bandar udara negara asing tanpa menyadari resiko dirampok atau melanggar aturan yang berpotensi memberi denda besar. Kedegilan macam ini sayangnya telah terlalu parah menjangkiti travel writer di tanah air.

Alain de Botton seorang penulis dan filsuf masyur Inggris kelahiran Zurrich, pernah berkata dengan nada penuh kekhawatiran "Over the last few years, we've become painfully aware that tourism isn't just about passively observing a place, it's also about changing it - and usually for the worst." Apakah ia berlebihan? Saya kira tidak. Kita cukup waras untuk sadar beberapa tulisan mengenai destinasi wisata mampu menarik banyak minat turis untuk datang. Sayangnya hal ini tak disertai kesadaran bahwa hal ini mampu membuat kerusakan yang terlalu parah pada tempat itu.

Alain de Botton yang juga menuliskan Art of Travel lantas melanjutkan kekhawatirannya itu dengan kalimat yang lebih menyayat "Most often we literally destroy the beauty or interest we have come to witness." Ia tak berhenti sampai disitu. Ada sebuah harapan yang hendak ia sampaikan kepada seluruh pegiat pariwisata "It's therefore paramount that we learn to come up with forms of travel businesses that don't destroy their host organisms," Tapi apakah pesan ini telah tersampaikan dengan baik? Sayangnya sekali lagi tidak.

Ada travel blogger yang menyebut dirinya sebagai Travel Institute, pernah dengan sangat lalai mempromosikan Pulau Sempu, sebuah cagar alam di Malang, sebagai destinasi wisata. Tidak hanya sekali tapi dua kali ia menurunkan reportase tentang Sempu. Parahnya sampai detik ini ia tak melakukan revisi atau perbaikan pemberitaan bahwa tempat itu adalah sebuah lokasi yang terlarang untuk dikunjungi tanpa ijin. Jika ada seorang pembaca yang tak tahu lantas terpantik keinginannya dan datang ke Sempu, sedikit banyak si pengampu blog adalah penyebab kotornya cagar alam tersebut.

Lantas mengapa tak banyak travel writer yang menulis secara bertanggung jawab? Malas dan pandir adalah sedikit alasan utama mengapa kegiatan semacam ini tetap terjadi. Kedunguan macam ini terjadi selama bertahun-tahun dan melembaga karena tak ada kode etik atau kesadaran normatif yang mengikat para travel writer ini. Sehingga mereka bisa lintang pukang menulis semaunya tanpa peduli atas akibat yang terjadi atas artikel yang ia bikin.

Menjamurnya travel blogger juga turut ambil bagian dalam kegilaan masa ini. Para penulis amatir yang saya yakin belum atau tak pernah belajar kode etik blogger ini memperburuk keadaan. Berbekal menulis seadanya mereka menulis sebuah artikel tanpa tendeng aling. Seolah-olah dalam penulisan artikelnya tak memiliki tanggung jawab etis pada pembacanya. Setiap blogger, bagi saya, wajib memberikan informasi yang benar dan utuh setra tidak menyesatkan.

Kegagalan memahami tanggung jawab ini, atau lebih buruk lagi, menyombongkan pekerjaan ini sebagai sebuah profesi mulia tanpa cela membuat travel writer turut berkontribusi dalam perusakan sebuah lingkungan. Kerusakan Cagar Alam Pulau Sempu dan menjamurnya travel agent menuju pulau-pulau terpencil adalah bukti terkini dan paling nyata akibat travel writer yang kurang riset dan tak mau tahu. Yang paling brengsek, menurut saya, adalah Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan bebal dan tak tahu diri mempromosikan Pulau Sempu yang notabene cagar alam sebagai satu destinasi wisata.

Silahkan ketik Pulau Sempu anda akan menemukan banyak travel writer/blogger yang mengunggah tulisan dan foto mereka. Banyak diantaranya tanpa malu berkata bahwa pulau ini wajib dikunjungi, eksotis, indah, perawan dan mudah dijangkau. Bagi saya hal ini adalah kejahatan yang tidak bisa dipahami. Bagaimana sebuah daerah konservasi yang dilindungi bisa seenaknya dimasuki tanpa ijin dan tanpa pengawasan? Okelah ada Balai Sumber Daya Alam Bidang III yang mengawasi dan bertanggung jawab. Tapi apakah travel writer/blogger tadi tak melakukan riset soal status pulau itu sebelumnya? 

Anita Roddick dalam salah satu artikelnya pernah menuliskan tentang riset bagaimana pesawat terbang adalah kontributor utama global warming. Dengan nada yang sedikit keras ia menyebutkan melakukan perjalanan udara hanya untuk melancong adalah tindakan tak etis ketika gerakan eco tourism sedang digalakan. Lebih jauh ia menyarankan untuk melakukan responsible travel dengan tinggal dengan penduduk lokal dan menyesap lebih banyak pengalaman dari pada sekedar melihat. 

Perilaku fasis ogah mau tahu ini juga berujung pada tindakan tak bertanggung jawab lainnya. Pernah ada seorang travel writer medioker pernah memposting anjuran untuk mengkonsumsi ganja di Pulau Weh.  Dengan bangga ia menyatakan bahwa apa yang ia tulis adalah sebuah kredo baru travel writer. Sebuah tindakan out of the box. Bagi saya tulisan semacam ini adalah tindakan tak bertanggung jawab, bebal dan debil. Menganjurkan sebuah destinasi wisata dengan melakukan tindakan ilegal, apa yang lebih bodoh dari hal ini? 

Menulis out of the box tidak berarti harus menciderai perasaan sebuah masyarakat dan menyebarkan informasti tak penting. 

Apa yang coba disampaikan dari informasi ada ganja di Pulau Weh? Kecuali kau adalah seorang jurnalis investigatif yang hendak melaporkan sindikasi terlarang, kau tak berhak menuliskan sebuah informasi parsial yang berindikasi terjadi generalisasi sebuah komunitas masyarakat. Apakah seluruh pulau Weh adalah penyedia ganja? Saya kira tidak. Kalau hanya hendak mengkonsumsi ganja di Jakarta, di Jember bahkan di pasar Dolly pun bisa. Apa yang out of the box dari itu?

Ada sebuah artikel pendek dari Sir David Attenborough, seorang pemikir dan host acara TV di Inggris, yang menyentak dengan keras. Ia membuka sebuah wawancara dengan pernyataan tendensius We are a plague on the Earth," katanya. Bagi saya pernyataan ini adalah sebuah retorika usang yang sebenarnya telah banyak dibahas oleh para pejuang lingkungan sejak bertahun sebelumnya. Komedian jenius nan legendaris George Carlin dalam satu penampilannya pernah berkata "The planet is fine, the people are fucked up,". Tapi Sir David Attenborough membuat sebuah argumen menarik yang barangkali gagal disampaikan oleh Carlin.

Ia berkata "Until humanity manages to sort itself out and get a co-ordinated view about the planet, it's going to get worse and worse." Ia benar. Manusia yang bebal dan ogah belajar akan membuat planet ini semakin sulit untuk bisa bertahan dan perlahan akan menuju kehancuran. Kita memang adalah wabah yang hanya bisa menikmati dan sedikit memberi kembali pada planet ini. Ketika seorang travel writer menuliskan sebuah destinasi, kebudayaan dan eksotisme suatu daerah ia harusnya berpikir panjang apa akibat dari artikel yang ia turunkan.

Saya khawatir hanya sedikit travel writer yang punya kepedulian semacam ini. Mereka datang hanya untuk bersenang-senang, menulis, foto-foto lantas lupa atau bahkan tak tahu apa akibat dari tulisan mereka itu. Banyak travel writer yang berpikir sempit bahwa dengan mempromosikan satu destinasi akan menarik turis yang bisa memberikan pemasukan tambahan. Tapi sedikit dari mereka yang sadar akibat dari turisme masal adalah masuknya nilai-nilai asing yang bisa jadi merusak kebudayaan lokal.


Kerusakan Cagar Alam Pulau Sempu, Privatisasi pulau-pulau di Lombok, atau invasi kebudayaan asing di Bali yang merubah lanskap identitas kultural masyarakat setempat. Putu Setia dalam karya masyurnya Menggugat Bali memotret ini dengan sangat bernas. Akibat promosi besar-besaran tanpa disertai pemahaman etis mengenai keberlangsungan sebuah daerah wisata, membuat banyak turis berperilaku seenaknya. 

Tapi di tengah kegilaan ini ada beberapa orang yang cukup waras dan sadar untuk melakukan perubahan. Gerakan yang berakar pada tesis sederhana bahwa melancong semestinya bertanggung jawab. Untuk mencerdaskan turis perlu juga mencerdaskan penulis yang mempromosikan satu destinasi untuk bisa bertanggung jawab. Sebuah upaya agar keberlangsungan (sustainability) tempat tujuan perjalanan dapat dinikmati hingga anak cucu kita kelak.

Perjalanan semestinya mendewasakan. Travel writer yang telah menempuh banyak destinasi, belajar banyak kebudayaan dan menikmati berbagai perjalanan harusnya mengalami ini. Sayangnya beberapa travel writer hanya menganggap melancong adalah sebuah pekerjaan. Sebuah bisnis yang tak menuntut adanya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Pergi melancong, tulis artikel, terbitkan dan habis perkara. Mereka lupa bahwa destinasi yang mereka tuliskan adalah rumah bagi seseorang, sebuah tempat bernaung dan berlindung bagi yang lain. 

Baiknya perlu diingat dalam setiap batok kepala kalian, bahwa travel writer juga turis adalah orang asing yang datang pada satu tempat asing. Ia bercerita tentang keindahan, tentang kebudayaan dan tentang kehidupan yang membuat orang lain tertarik untuk datang. Tapi berapa dari mereka yang mau peduli akan nasib destinasi itu, setelah mereka pergi dari tempat itu lantas menuliskannya. Apakah akan datang turis secara masal yang akan merubah kehidupan para penduduk lokal? Apakah alam tempat destinasi tersebut akan rusak? Ataukah akan muncul gegar kebudayaan karena datangnya orang orang asing?

Jumat, 18 Januari 2013

Papuma


Tidak ada yang pernah tahu siapa nama laki-laki itu. Beberapa orang menyebutnya Babah Wang, yang lain memanggilnya Koh Wang, sementara sebagian lagi memanggilnya Pak Wang. Hampir semua orang di Papuma[i] menengenalnya. Pria itu adalah orang yang membangun masjid dan juga kelenteng agung Dewi Kwan Im. Pria itu pula yang puluhan tahun lalu membabat alas, melintasi tebing terjal dan menemukan jalan untuk membuka Papuma. Semua orang di pantai itu tahu tapi mereka memilih diam. Koh Wang tak suka keramaian, ia lebih suka menikmati ketan hambar dalam kesunyian.

Matahari tak pernah terlambat terbit di pantai pasir putih yang cemerlang itu. Cahayanya menembus rentetan bebatuan karang terjal yang melindungi gugus pantai dari pejal ombak. Ombak laut selatan yang bergemuruh menghajar tebing-tebing yang melintang di sisi barat Papuma. Orang selalu bilang itu tanda berkah, kelak jika ombak papuma menjinak sebuah bencana akan terjadi. “Beh[ii] beneran ini, dulu pas Merapi meletus, ombak di sini itu tenang sekali. Saya sampe tak berani melaut,” kata seorang nelayan di Papuma.

Sebuah karang menjulang di tengah laut di lepas laut Papuma. Seperti lingga yang tegak menantang simbol kejantanan, ia garang dikikis pasang surut laut Papuma. “Manusia semestinya seperti itu. Berdiri tegak mengarungi samudera hidup,” kata Koh Wang tiba-tiba. Aku tahu Koh Wang tak suka bicara, tapi jika ia bicara ia hendak menyampaikan sesuatu yang penting. Sebuah petuah yang tak menggurui, aku tak suka digurui, tapi mendengar Koh Wang bicara bisa jadi sebuah kejadian yang sebulan sekali belum tentu terjadi.

Matahari beranjak naik. Pasir-pasir putih yang cemerlang itu memantulkan warna kemerahan. Pantai sudah sejak subuh tadi ramai oleh manusia-manusia yang menunggu perahu datang. Membawa berbagai jenis ikan seperti kerapu, tongkol, kuniran, tengiri, kakap dan lain sebagainya. Di antara mereka ada perempuan-perempuan berkerudung seadanya, memakai gelang-gelang emas tebal dengan wajah sayup menahan kantuk. “Itu pengambe’[iii] mereka pengepul ikan dari nelayan. Sebagian curang, membeli dengan harga murah. Mirip dengan ijon yang membeli padi sebelum masa panen. Yang lain amanah, biasanya petugas dari pelelangan ikan,” ujar Koh Wang.

Wow. Dua kalimat dalam waktu 15 menit? Koh Wang sedang suntuk? Pria yang selalu diam ini bicara lebih banyak dari jatah makannya sehari. Sudahkah kubilang Koh Wang pelaku Mutih? Ia hanya makan sekali sehari. Hanya ketan atau nasi putih. Pada hari-hari tertentu ia makan tumis sayur dengan bawang putih. Tanpa garam. Aku kadang kagum bagaimana ia masih bisa bertahan seharian. Ketika kutanyakan ia hanya mengalihkan senyum. “Kami sudah biasa prihatin. Sejak dulu,” katanya suatu saat ketika kutanyakan.

Siapa kami? Belakangan aku tahu siapa yang dimaksud Koh Wang dengan kami. Mereka adalah etnis Tionghoa. Paska 1965 kondisi politik Indonesia memanas. Begitu juga Lumajang, kota dimana Koh Wang tinggal. Ia cerita dahulu babahnya adalah seorang juragan tebu yang sukses. Setelah kejadian Gestok seluruh harta keluarganya dirampas orang tak dikenal. Beruntung nyawa mereka diselamatkan oleh seorang kyai di kaki gunung Semeru. “Saya berhutang nyawa sama wak haji. Saat selamat, babah saya berjanji ingin balas budi. Dia bilang kalau nanti sukses lagi minta dibikinkan masjid saja,” kata Koh Wang.

Saya tahu rasanya menjadi kaum minoritas di Indonesia. Seringkali menjadi berbeda berarti menjadi pusat perhatian. Menjadi sebuah sasaran tembak untuk koreksi, seringkali saya harus mengalah dan tunduk pada konsensus umum. Menyembunyikan identitas yang sudah mendarah daging sejak saya dilahirkan.

"Apa kamu percaya tuhan Wesi?" kata Koh Wang.

"Kenapa bertanya itu?"

"Penasaran. Kalau tak mau menjawab tak apa,"  

"Aku sudah tidak percaya lagi, tidak sejak beberapa tahun terakir" jawabku mantap.

Koh Wang kembali terdiam. Memandang wajahku lekat-lekat seolah mencari sesuatu yang disembunyikan.
"Kenapa tidak percaya?"

Kini giliranku memandang wajah Koh Wang lekat-lekat. Mencari-cari sekerat tanda-tanda dari wajahnya yang teduh dengan berbagai kerutan. Aku selalu kagum dengan segala kerutan di wajah orang-orang baya. Dibalik setiap kerutan yang memahat wajah seseorang selalu ada cerita yang barangkali tak berujung kebahagiaan. Tiap kerutan adalah sebuah penanda peristiwa, barangkali juga sebagai luka. Tapi di wajah Koh Wang aku tak melihat apa-apa. Kerutan itu seperti barisan gunung Argopuro yang melintang. Ia adalah keagungan yang sunyi.

“Sepertinya kita semua percaya ada hal yang lebih dari sekedar nalar dan perasaan. Kebanyakan dari kita menyebutnya Tuhan, Illah, atau Kebenaran. Tapi tak pernah benar-benar ada tuhan buatku. Tuhan adalah kemewahan yang terlalu mahal untuk bisa kupenuhi dengan segala rasa ingin tahuku,” kataku panjang.

"Kamu terlalu kaku," katanya pelan tanpa emosi.

"Maka biarlah demikian Koh," aku tak hendak berdiskusi atau berdebat. Mendengar Koh Wang sedari tadi bicara sudah sangat membuatku senang. Pria pendiam yang hidupnya seperti avonturir ini sungguh terlalu sayang untuk dilewatkan dengan perdebatan panjang. “Koh suka bangun pagi? Tadi dari Lumajang berangkat jam berapa?” kataku mengalihkan pembicaraan.

Hari ini adalah tepat momen acara Petik Laut Larung Sesaji yang biasa diadakan tiap bulan suro. Papuma menjadi salah satu dari tiga pantai di Jember yang mengadakan upacara adat ini. Sejak kemarin berbagai umbul-umbul dan panggung hiburan rakyat digelar. Semalam sejak pukul 9 sampai dinihari tadi ada pagelaran wayang kulit. Aku menontonnya sendirian. Bagiku unik saja, di Jember kota yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kebudayaan mataraman bisa muncul pagelaran Wayang Kulit dengan gaya Yogyakarta.

Sementara panggung yang semalam digunakan wayang kulit dibersihkan, beberapa orang mempersiapkan tiang pancang untuk acara Petik Laut. Di tengah panggung sebuah miniatur kapal dengan ukuran satu setengah meter berdiri. Di dalamnya ada kepala kerbau, berbagai macam sayuran, buah-buahan lokal, nasi tumpeng kuning dengan berbagai lauk juga ditata rapi. Beberapa jenis bunga seperti mawar di taburkan disekeliling kapal.

“Mereka percaya bahwa tuhan itu adil. Kita menyebutnya dengan banyak nama, tapi sedikit sekali kita membalas berkah yang diberi-Nya,” kata Koh Wang tiba-tiba. Ia lantas berdiri turun dari bukit penanjakan, salah satu sudut Papuma yang memberikan kita spot pemandangan paling luas. Hari semakin siang, beberapa saat lagi Petik Laut akan dilangsungkan. Koh Wang selaku pengurus Kelenteng Dewi Kwan Im harus bersiap. Aku mengikutinya pelan, rasa kantuk karena semalaman tak tidur membuatku hati-hati. Bisa konyol jika terjatuh di bukit terjal ini.

Sepanjang perjalanan Koh Wang hanya diam saja. Ia hanya membalas sapaan para nelayan Papuma dengan anggukan dan senyum. Beberapa pedagang makanan di kawasan wana wisata itu menawarinya mampir, sekedar sarapan atau ngopi-ngopi. Dengan menangkupkan tangan Koh Wang menolak semua tawaran itu. Padahal jika mau ia bisa saja makan gratis. Toh hampir semua pedagang di sini diberikan modal olehnya.

Di persimpangan jalan sebelum masuk kompleks kelenteng Koh Wang bertemu dengan Budi Mulia. Nama aslinya Oey Beng Hwa, pendiri sekolah Wushu legendaris di Jember yang saat PON tahun ini meraih emas untuk Jatim. Hari ini Om Budi mau kasih unjuk gratis Barongsai untuk acara Petik Laut. Sejak kemarin murid-murid Om Budi latihan bersama kelompok reog Sastroatmojo pimpinan Cak Mat.

Cak Mat adalah salah satu pendatang dari Sumenep yang tinggal di Wuluhan. Ia adalah orang dengan visi kerja keras yang luar biasa. Barangkali di Jember hanya dia orang madura yang memiliki kelompok Reog Ponorogo. Cak Mat dan Koh Wang adalah pasangan karib yang aneh, jika Koh Wang adalah pendiam yang akut maka Cak Mat adalah manusia yang tak bisa diam. Ada saja yang ia ceritakan. Mulai dari merpatinya yang baru saja menang tota’an[iv] sampai dengan istrinya yang minta dapur baru.

“Loh Wesi kok uda dek[v] sini. Piye sekripsimu? Kalo udah kelar main ke kantor om,” kata Om Budi.

Sial, malah bahas skripsi. Aku malas diceramahi Om Budi yang disiplin itu soal bagaimana aku harus kuliah. Pelan-pelan aku mohon diri dan pergi ke pojokan Papuma yang sepi. Sekilas tadi kulihat rombongan reog Cak Mat sudah tiba. Kepala merak yang besar itu diturunkan dari truk besar lantas disandarkan di salah satu pohon. Kesalahan besar. Hutan di pinggir Papuma adalah habitat alami monyet-monyet dan biawak liar. Salah menaruh barang monyet nakal tadi bisa merusak atau mencuri barang-barang bawaan pengunjung.

Benar saja. Begitu tiba, Cak Mat bersumpah serapah melempari monyet yang menarik-narik bulu merak reog miliknya.

“Dirusak cak? Mbok dipindah saja. Ditaroh di samping truk. Aman pasti,”

“Telat cong[vi], ini sudah dicabuti. Untuk tidak banyak. Kamu darimana? Sama Koh Wang? Mana orangnya. Ini ada titipan ketan dari istriku, saya suaminya malah gak dikasih apa-apa. Ini pelanggaran betul cong,” katanya menyerocos sambil memperlihatkan bungkusan plastik.

Aku terus saja berjalan melihat kerusakan kepala merak, untungnya tak banyak yang diambil. Monyet-monyet hutan Papuma memang nakal. Tapi itu hanya terjadi pada musim kemarau saja. Dimana saat hutan-hutan mereka tak memiliki buah atau sedang kekeringan. Dalam hutan Papuma ini juga terdapat berbagai macam burung-burung yang indah. Beberapa waktu lalu Piere, seorang peneliti burung Prancis datang ke sini untuk melihat Elang Jawa. Ia bilang hutan Papuma adalah salah satu dari sedikit lokasi dimana burung hebat ini masih hidup secara liar.

Hutan di Papuma tak luas. Barangkali hanya sekitar empat hektar saja. Tapi rimbun tanaman ini termasuk yang paling padat. Di dalamnya ada biawak, beberapa jenis ular, puluhan jenis burung dan beberapa jenis monyet. Mendengar cerita orang bahwa Koh Wang dahulu membabas alas sendirian di sini untuk membangun Klenteng membuatku bergidik. Cak Mat yang berperawakan besar dan kekar itu saja masih suka malas masuk hutan Papuma. Angker katanya.

“Wesi. Oi Wesi Ayo, Petik Lautnya sudah mau dimulai,” kata Cak Mat di kejauhan.

Baru saja kutinggalkan rupanya panggung lokasi dimana sesaji Petik Laut ditaruh sudah banyak orang berkumpul. Ada seorang kyai, seorang pemuka agama Persada dan jajaran Muspida berdiri mengitari sesaji itu. Setelah sambutan, Mas Warso, pemuga Agama Persada mulai mendoakan sesaji itu dengan tungku menyan. Agama Persada sendiri adalah aliran kepercayaan yang ada di Ambulu. Agama ini merupakan salah satu dari cabang aliran kebathinan Sapta Dharma yang berkembang di Jawa Tengah.

Mas Warso, seperti juga Koh Wang, bukan warga asli Ambulu. Ia dan keluarganya merupakan keturunan dari warga pendatang yang datang dari Purworejo. Jember sebagai daerah pertanian dulunya bukan sebuah kota yang besar. Baru pada 1850 an Jember mulai berubah menjadi kota urban ketika George Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa.

“Jember ini kotanya pendatang. Banyak yang jatuh cinta lantas tinggal di sini. Saya salah satunya,” kata Mas Warso ketika kami pertama kali bertemu. Meski pendatang Mas Warso sudah mulai mahir berbahasa madura. Di Jember Jawa dan Madura adalah bahasa komunikasi dari kebanyakan orang. Sehari-hari selain pemuka agama keyakinan Sanggar Candi Busana Persada, Mas Warso bekerja sebagai guru dan petani sayur mayur. “Saya ini keturunan petani mas. Kalo ndak garap lahan badan saya ini pegel-pegel,” katanya sambil bercanda.

Barangkali hanya di Jember ini saja aliran keyakinan atau agama minoritas diberikan kesempatan untuk bereksistensi. Terlebih pada acara kebudayaan seperti Petik Laut ini mereka boleh ambil bagian untuk berdoa meminta berkah sesuai keyakinannya. Tradisi ini setiap tahun menarik perhatian banyak wisatawan. Piere yang dari Prancis itu dulu juga pernah mengaku takjub. “Cuma di Indonesia saya bisa lihat perbedaan keyakinan bisa bersatu berdampingan dalam sebuah tradisi,” katanya.

Setelah sesaji didoakan oleh Mas Warso dan kyai tadi. Kelompok Barongsai Om Budi langsung tampil. Penonton yang sebagian besar anak-anak itu dibuat takjub. Apalagi ketika barongsai tadi berduet dengan kelompok reog milik Cak Mat. Gemuruh tepuk tangan langsung membahana membanjiri Papuma. Penampilan itu merupakan bentuk akulturasi budaya dari para pendatang yang mendiami Jember. Atraksi antara pemain wushu dan warok menghasilkan sebuah interaksi budaya yang sublim.

Seorang anak kecil digendong di atas kepala merak. Hal ini bukan hal yang mudah. Perlu latihan menahun dan tenaga yang kuat, mengingat kepala reog praktis hanya ditahan oleh kekuatan gigi dan leher saja. Salah-salah kepala bisa patah dan berakibat fatal. Setelah hampir setengah jam atraksi tersebut. Pembawa acara mengatakan bahwa Petik Laut akan segera dilakukan. Pelan-pelan sesaji diangkat oleh enam orang berbadan kekar dengan pakaian jarik. Di depannya anak-anak kecul berpakaian kebaya berjalan beriringian.

Tujuan akhir sesaji itu sebelum dilarung dilaut adalah Kelenteng Dewi Kwan Im yang megah di sudut Papuma. Klenteng besar ini konon diklaim orang sebagai kelenteng Dewi Kwan Im terbesar di Asia Tenggara. Koh Wang sudah terlihat bersiap di depan altar pemujaan. Ia menunggu dengan tenang ketika arak-arakan sesaji masuk ke dalam kompleks Kelenteng itu. Setelah benar-benar masuk dan diletakkan di depan altar, Koh Wang lantas duduk bersujud di depan altar. Semua penonton diam. Wangi dupa menyeruak menambah kudus suasana.

Beberapa turis manca negara yang menonton turut diam. Mereka larut dalam suasana mistik yang diberikan ketika tangan-tangan kurus Koh Wang meraba-raba sesaji. Setelah usai, ia hanya mengangguk yang dilanjutkan kembali dengan suara gamelan dan gebuk barongsai yang bertalu-talu. Sesaji lantas dibawa ke pinggiran pasir putih Papuma. Miniatur kapal itu lantas digotong ke tengah laut.

Laut biru nan jernih Papuma lantas menelan sesaji dalam kapal kecil itu. Pelan-pelan keramaian memudar. Di tempat itu hanya ada aku, Cak Mat dan Koh Wang. Kami duduk di pinggir pantai dalam kesunyian. Menatap sesaji itu sampai habis dari pandangan. “Ini masak mau diam terus. Wang ini ada ketan dari istriku,” kata Cak Mat memecahkan kesunyian. Koh Wang hanya tersenyum seraya meraih bungkusan ketan itu.

Siang sudah beranjak habis, matahari tampak dihadang barisan gunung dibelakang papuma. Rindang pepohonan di atas kepala kami semakin membuat teduh. Cak Mat sedari tadi masih bercerita tentang ramainya tawaran manggung di desa-desa sekitar Ambulu. Sementara Koh Wang makan ketan itu pelan-pelan. Aku sendiri masih larut dalam pertanyaan. Bagaimana bisa pantai sekecil ini bisa menerima begitu banyak perbedaan dan hidup selaras. Sementara matahari mulai tergelincir dan petang segera tiba






[i] Singkatan dari Pantai Putih Malikan sebuah ceruk pantai berbentuk bulan sabit di kecamatan Wuluhan Jember.
[ii] Sebuah gimmick khas phendalungan. Semacam “Eh tau gak sih”
[iii] Secara literer berarti penghadang.
[iv] Tradisi melepas sekelompok merpati dari desa Ambulu untuk memeriahkan bulan Muharam.
[v] Gimmick khas Jember sebagai kata ganti yang merujuk pada tempat. Seperti Dek mana, Dek atas kasur dsb
[vi] Panggilan untuk anak lelaki madura, singkatan dari kacong. Untuk perempuan jebing atau bing. 

Selasa, 15 Januari 2013

Layar Kaca

Untuk R

Pernahkah kamu begitu marah sehingga segala kebahagiaan di dunia ini terasa seperti sebuah cegukan yang menganggu? Rasa marah adalah rupa lain api. Ia membakar segala yang hidup.  Melumat semangat hingga kau pelan-pelan dipaksa takluk pada keinginan untuk menghancurkan. Lantas berharap untuk melakukan tindakan keji, tindakan jahat, tindakan nista agar setimpal rasa marahmu. Terganti desir kedengkian yang perlahan kau beri rupa manis.

Ada yang gegas dalam kemarahan. Serupa rencana keji yang buru-buru hendak dilaksanakan. Tapi rencana itu begitu berantakan, begitu sembrono, begitu naif, kamu menyadari ini, namun tetap melaksanakannya karena ada dorongan keras dari ulu hatimu yang berteriak-teriak. "Ia harus hancur, ia harus musnah, ia selayaknya roboh," Kebencian yang terlalu, kemuakan yang terlalu dan segala yang terlalu mengambil alih otakmu untuk satu tujuan. Kehancuran bagi yang "lain".

R yang baik. Apa kabar? Sudah lama kita tak berkirim berita. Barangkali benar menua adalah proses melupakan dan pelan-pelan menyisihkan satu persatu kegiatan hanya untuk hal-hal dasar seperti makan, berak dan tidur. Wisdom comes with winters kata Oscar Wilde suatu saat. Seiring berjalan umur kita belajar untuk lebih bijak, lebih pragmatis, lebih matrealis dan berpikir lebih banyak. Sehingga pada akhirnya kita melupakan cara untuk menikmati hidup dan mengisinya dengan usaha bertahan hidup.

Maaf jika aku memulai kabar ini dengan sebuah kemarahan. Aku percaya manusia adalah mahluk pendendam. Sebuah perasaan yang lahir akibat tak terpenuhinya harapan. Mereka yang tak bisa menyimpan kerelaan dan menganggap bahwa segala hal yang ia senangi harus dinaungi rasa kepemilikan. Juga seperti dalam cinta. Seperti ketika aku jatuh cinta padamu dan menginginkamu sebagai sebuah benda, bukan lagi rekan manusia yang sepadan.

R yang baik, apa yang terjadi padaku barangkali tak begitu penting bagimu. Seperti juga betapa tak pentingnya debu-debu di antara tumpukan bukumu, atau seperti cucian yang terlantar, atau mungkin barangkali seperti sebuah potongan cabai pada mie rebus panasmu. Hal-hal remeh yang membuatmu senewen dan jengah. Tapi aku tetap ingin menyampaikan kabar ini R. Terserah apakah kau mau peduli atau tidak itu tak penting bagiku.

Malam ini hujan turun terus menerus tanpa henti seolah besok adalah awal mula musim kemarau. Seperti juga kemarahanku yang mendera dengan cepat. Kemarahan yang lahir dari hal remeh seperti kebebalan media-media hari ini pada etika dalam pemberitaan, atau juga bagaimana bencana terjadi pada saat yang tak pernah tepat, atau juga pernyataan-pernyataan konyol pemimpin yang membuat dahi berkerut. Terlalu banyak alasan untuk marah hari ini, sedangkan humor dan tawa telah lama jadi barang picisan yang dijual murah.

R yang manis, aku marah pada televisi. Marah pada sesuatu yang bahkan tak bisa berpikir. Kita menonton benda kotak keparat itu lebih sering dari waktu kita bercumbu dengan kekasih. Lebih sering daripada kita bermunajat dan bercinta dengan tuhan. Atau yang lebih parah kita lebih sering diam diri dan bermonolog di depannya daripada diam sendiri dan berpikir menggunakan otak. Televisi adalah berhala lain yang tuhan pun kalah berdebat dengannya. 

Sementara diam-diam kita menyadari bahwa kotak brengsek itu adalah satu-satunya kebenaran. Televisi menghasilkan berita yang kita percayai meski kita tahu itu bohong. Televisi membuat kita berhenti kritis dan pelan-pelan membuatmu dan otakmu berhenti berfungsi. Iklan, seks, kekerasan, gosip, komedi picisan dan berita bohong adalah hal-hal yang membuat kita larut dan beriman pada televisi lebih dari agama apapun di dunia. Kita adalah budak dari apa yang kita ciptakan sendiri.

Tapi bukan hanya pada televisi aku marah R. Aku marah pada diriku sendiri yang tak bisa lari dari kenyataan bahwa televisi adalah satu-satunya penyelamat manusia-manusia lemah. Buruh-buruh pabrik, kuli, petani miskin, pengemis, juga ibu rumah tangga menyandarkan hidupnya pada televisi. Pada tiap-tiap sinetron yang kita anggap sampah, mereka para kuli dan buruh tadi, menitipkan mimpi. Berharap suatu saat ia atau keturuannya bisa sedikit mencicip rasa kekayaan. Bahwa seseorang bisa makmur dengan jatuh cinta pada orang kaya, atau dengan tulus doa dan bekerja keras tuhan akan memberikan kekayaan. Mimpi membuat manusia hidup.

Tapi kita sama-sama tahu R. Televisi adalah biang dari segala kehancuran. Mimpi semu dan segala macam taik kucing yang lahir dari rahim konsumerisme. Tapi apalah itu konsumerisme? Tak penting amat ketika kau bekerja lebih dari 12 jam sehari, ketika 6 masa kerjamu habis dihajar wabah, atau lembur malammu tak menghasilkan separuh dari harga susu anakmu. Kita terlalu sibuk belajar definisi hingga melupakan arti penting merasakan. Televisi memiliki itu semua R, memiliki apa yang tak pernah bisa diberikan oleh para pemikir. Rasa nyaman dan memiliki ketika bersama-sama.

Inilah aku R. Lelaki yang disiksa perasaanya sendiri. Seorang sarjana yang hilang arah. Berharap pada satu titik sekian tahun ilmunya dibangku kuliah akan bermanfaat. Berharap suatu saat manusia-manusia hebat yang dipenjara pekerjaan tadi sadar. Bahwa hidup bukan perkara menonton televisi. Bahwa otak perlu diisi dan segala mimpi perlu dikejar. Barangkali hanya ini yang bisa kubagi R. Ditengah hujan, suara kodok, dan rindu yang berjelaga. Sesak atas amarah adalah sebenar-benarnya kebodohan yang tak perlu.

Senin, 14 Januari 2013

Fæder

Shakespeare membuka adegan salah satu drama masyurnya, Hamlet, dengan sebuah duka. Kematian seorang raja dan berkabungnya sebuah kerajaan. Denmark pada abad kegelapan merupakan dataran dengan lanskap murung. Seorang pangeran pulang ke rumah hanya untuk menemui bahwa ayah, sang raja Hamlet, yang ia cintai telah berkalang tanah. Kematian barangkali merebut segala keceriaan, juga nalar, sehingga merubah pangeran yang lembut hati itu menjadi keras.

Sebenarnya bagaimana hubungan Hamlet dengan sang ayah? Apakah benar kematian yang membuatnya merubah diri? Ataukah ada yang lain? Saya tak pernah memiliki hubungan yang cukup romantis dengan sosok ayah untuk bisa memahami perasaan tokoh Hamlet. Terlalu banyak kepedihan juga fakta brengsek yang membuat saya tak lagi punya kedekatan emosional dengan ayah saya sendiri. We're both not quite a family, we're simply stranger with history.

Jadi ketika beberapa kawan bercerita mengenai betapa dekat ayah dan baiknya ayah mereka. Ada sedikit rasa iri dan asing yang meneruak di dada saya. Perasaan yang dulu pernah saya rasakan dan kini hilang sama sekali. Perasaan sebagai seorang anak dan relasinya kepada orang tua laki-laki. Relasi patron yang didasar semangat patriarki. Hubungan antara seorang lelaki dewasa dengan lelaki yang lebih muda. Perasaan macam ini barangkali adalah sebuah kemewahan bagi saya.

Ketika ayah sahabat saya meninggal perasaan duka atas kehilangan itu menjadi asing. Bagaimana ia kemudian menuturkan kisah hidup ayahnya dengan sangat santun, lugu, bernas dan komikal. Dalam satu kisah ia bercerita tentang satu fragmen hidup ayahnya di masa lalu. Sementara dikisah lain ia bercerita bagaimana hubungan mereka dijalin dengan sangat unik dan egalitarian. Bukan lagi hubungan antara mahluk superior dan inferior sebagaimana hubungan ayah dan anak lelakinya biasa terjadi.

Beberapa waktu lalu seorang kawan, ia perempuan manis aktivis baby cuddlers, juga kehilangan ayahnya. Saya tak benar-benar kenal. Pertemuan dengannya pun hanya sekali saja. Tapi bagamana cara ia mengingat dan bercerita tentang ayahnya, saya jadi iri. Barangkali Euripides, seorang aktor dan pakar tragedi Yunani, benar. To a father growing old nothing is dearer than a daughter. Anak perempuan adalah permata hati seorang ayah, yang kepada lelaki manapun ia akan beradu nyawa untuk mempertahankannya.

Kawan perempuan itu mengingatkan saya pada tokoh Portia dalam drama masyur lain Shakespeare, Merchant of Venice. Jika Hamlet menggambarkan sedikit cinta anak lelaki pada ayahnya, maka Merchant of Venice adalah usaha seorang anak gadis memenuhi harapan mendiang ayahnya. Portia, sebagaimana kawan saya itu adalah seorang gadis manis, pintar, berempati namun konservatif dalam beberapa hal. Atau dalam bahasa seorang kritikus teater dalam penggambarannya pada Portia,  a free spirit who abides rigidly by rules.

Lantas ketika sang ayah meninggal kawan perempuan saya itu begitu tegar, begitu kuat dan begitu tabah. Setidaknya itu yang bisa saya bayangkan dari perkataannya di jejaring sosial. Anggap saya naif, tapi mengingat begitu dekat hubungan mereka saya jadi berpikir. Bagaimana cara ia berdamai dengan kematian? Saya tak pernah bisa berdamai dengan kematian. Tidak juga dengan segala kehilangan yang lain. Barangkali manusia, seperti saya dan anda, memang tak pernah didesain untuk merelakan sesuatu hilang dan pergi begitu saja. Kita memiliki insting primata untuk selalu mengumpulkan, menyimpan tanpa benar-benar bisa merelakan sesuatu.

Pada kematian, bentuk  kehilangan yang paling purna, saya mengutuk segala kebersamaan yang tak bisa lagi ada. Apalagi ketika si kawan tadi menuturkan cerita tentang stasiun kereta, tentang ayahnya yang menjemput di antara keramaian. Atau ketika ia berdebat perihal makanan dan masakan. Atau bagaimana ia mengingat momen sederhana pertengkaran konyol kedua orang tuanya yang berujung damai. Bisakah kita melupakan hal ini? Fragmen kecil dari masa lalu yang membuat kita tersadar bahwa hidup adalah fana sementara kehilangan adalah nyata.

Barangkali hanya dengan berlaku demikian saya bisa benar-benar menjadi manusia yang utuh. Bukan seseorang yang munafik dan berpura-pura ikhlas merelakan. Kematian meninggalkan luka, kesedihan dan lubang besar menganga pada diri kita. Tapi bukan pada itu manusia menyerah kalah. Tapi pada kenangan-kenangan yang lahir dari kebersamaan di masa lalu. Manusia adalah mahluk kenangan yang seringkali gagal memahami masa lalu sebagai sebuah proses pendewasaan. Mereka hidup di sebuah masa yang telah terjadi dan menjadikannya sandaran kehidupan.

Kematian seorang ayah selalu membuat saya tersadar betapa rapuhnya ikatan keluarga itu. Keluarga tak lebih dari sebuah kebetulan-kebetulan yang terjadi. Kebetulan kau anak orang itu, kebetulan kau diberi nama olehnya dan kebetulan lantas kau menjalin hubungan bersamanya. Dalam satu sajak yang seringkali terucap dari Khalil Gibran; "Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life's longing for itself." katanya dalam satu sajak. Kemudian ia lanjutkan dengan penekanan yang lebih satir"You are the bows from which your children as living arrows are sent forth."

Tapi bagi saya tak ada sajak yang begitu dekat dengan kematian dan ayah dalam satu waktu lebih dari sajak Alen Ginsberg yang berjudul  Father Death Blues. Sajak yang ditulis Allen di atas pesawat terbang yang membawanya pulang ke pemakaman sang ayah, Louis Ginsberg di tulis pada 1976. Sajak ini dibuka dengan sebuah pernyataan sederhana yang menusuk "Hey Father Death, I'm flying home," yang ia lanjutkan dengan dua baris sajak lain yang menegaskan rasa kehilangan Allen dengan sangat cerdas, "Hey poor man, you're all alone / Hey old daddy, I know where I'm going,"

Bagi penggemar Allen Ginsberg kedekatannya dengan sang ayah tergambar jelas lewat Family Business: Selected Letters Between a Father and Son kumpulan surat yang dikirimkan antara anak dan ayah ini. Di dalamnya ada berbagai hal remeh yang dibicarakan, perihal pekerjaan, berbagi semangat, kebangkrutan, permasalahan pribadi sampai dengan makanan kesukaan. Dalam satu surat tertanggal 31 maret 1956 Louis meminta Allen untuk mengurangi minum, "Try not to get drunk," sebab, kata Louis, "one gets disabled and sometimes injured."

Intensitas surat menyurat mereka yang terjadi sejak 1944 sampai dengan 1976 tetap terjaga. Meski isi dari surat tersebut tak lagi sepanjang di awal mereka melakukan interaksi ini. Namun tahun-tahun menjelang kematian sang ayah Allen dan Louis semakin menyadari bahwa mereka adalah seorang parter kreatif yang tak bisa lepas. Pada Selasa 11 Januari 1972 Louis mengirimkan surat beserta sajak berjudul "A Woman Acted Queerly in a Bus," meski tahu Allen adalah penyair terkenal ia tak ragu meminta pendapat. Meski mengirimkan puisi pada Allen disebutnya sebagai tindakan "...sending coals to the proverbial Newcastel" Hal ini tak membuat Louis atau Allen jengah malah hal ini semakin memperkuat hubungan di antara mereka.

Kedekatan inilah yang membuat sajak Father Death Blues memiliki barisan sajak yang kuat dan terjalin begitu rapi. Pada frasa "O Children Deaths go breathe your breaths / Sobbing breasts'll ease your Deaths" Allen menggambarkan bagaimana kematian seringkali membuat kita tercekat seolah lupa bernapas. Sementara di saat yang sama tangisan meringankan kehilangan tadi. Lantas ia melanjutkan penutup paragraf syair ini dengan metafora paling brilian tentang air mata dan rasa sakit. Yang ditulis Allen dalam satu fragmen cantik "Pain is gone, tears take the rest,"

Dua kawan saya juga Allen Ginsberg memberikan saya sebuah imaji tentang relasi ayah dan anak yang tak pernah saya miliki. Sebuah hubungan yang dilandaskan dari cinta, keluarga bahagia dan juga ketulusan. Sebagai anak dari seorang ayah yang berpoligami dan misoginis hal ini tak pernah saya temui. Mungkin ini yang membuat saya merasa asing ketika kematian seorang ayah mampu merubah perilaku seseorang hingga ia menjadi bijak. Saya khawatir jika ayah saya meninggal, saya tak mampu menjadi sebijak mereka. Seperti barisan sajak penutup Father Death Blues, saya hanya bisa berharap itu hanya ketakutan bodoh semata.

Father Breath once more farewell
Birth you gave was no thing ill
My heart is still, as time will tell.

Rabu, 02 Januari 2013

Beberapa Sajak menjelang Natal


Misa

malam natal
kuyup basah
air mata
doa

Petak Umpet

Tuhanku
Anak ibu yang manja
pada sebuah salib
ia mengadu pada bapa-Nya

Di Bethlehem

Malam hari di Bethlehem
semua pintu membatu
pada sebuah jejak di lumbung
tiga raja berkata
"Telah lahir juru selamat,
gemuk dan sehat"