Kamis, 31 Januari 2013

Catatan Perihal Buku


1//
Oke, aku bagi catatan ini dalam beberapa bagian ya, catatan yang agak kacau balau..hehe..


Aku mulai dari daftar buku yang kamu pilih dan dengan sangat sedikit komentarku.

Caping 9: ah, alasannya cuma dua: yang pertama diarahkan pada TEMPO yang gagal menelurkan esais selain GM. Alasan ini jelas tidak ada hubungannya dengan buku caping 9. Yang kedua adalah gaya (bahasa penulisan) caping dari GM, dari caping 1 (yang masih ada beberapa yang belum matang gayanya) sampai caping 9 yang semua gayanya sama. (Gaya yang bikin bosan ya…) Ini juga bukan terkait dengan kualitas isi buku, yang aku yakin di antara lima buku yang kamu pilih, inilah yang paling berbobot mungkin. Tentang gaya bahasa caping memang hampir 100% semua sama. Bagiku ini sebuah konsistensi gaya kepengarangan, yang dalam segi gaya bahasa sudah menjadi milik GM, tapi dari segi isi, kita bisa memperbandingkan dengan tulisan-tulisan yang lain yang serupa isinya, dan di sini kita bisa beradu argument mana yang terbaik dari segi kualitas isi pemikiran.

Maka, pilihan dan alasanmu kurang kuat bahkan lemah, apalagi yang lainnya semuanya dihakimi lewat kualitas isi. (Apakah gara-gara aku suka caping ya. Menurutmu? Ya, meskipun aku bahkan tidak punya satu buku caping pun, hanya membaca di perpustakaan dan pinjem teman, dan tentu membaca di majalah TEMPO. So, buku-buku capingmu boleh dikirim ke aku aja berhubung kamu sudah berhenti membaca caping. Berani? Tidak berani juga tidak apa-apa kok…hehehe). 

Partikel: ah, aku kok sepakat.

Tweet: idem, ah, (eh, buku-buku Pidi Baiqku belum dikembalikan sama temen2)…

Ngawur: ya, aku sepakat. Hampir tidak ada kerja keringat otak, dan kerja literatur tentu ngawur yang bener itu seperti apa, paling tidak aku berharap akan ada prolog yang sedikit mempertanggungjawabkan kengawurannya secara, bolehlah, filosofis. Ya, biar lebih baik dari klirumologi itu..

Chaerul Tanjung: hmm… alasan untuk buku ini jelas pada sisi best seller. Pada tahun ini, banyak buku-tokoh serupa yang aduhai narsisnya tapi tidak kamu masukkan karena tidak menjadi best seller tentunya…

Yang jelas aku kok malah bukan menyalahkan Chaerul Tanjung ya, tapi malah pembacanya. Kok bisa-bisanya mereka membeli buku seperti ini? Tapi, secara sosiologis (bolehlah ditambah sosiologis-ideologis) buku seperti ini adalah sebuah glorifikasi sistem kapitalisme, seperti halnya di Amerika yang jadi cikal-bakal buku-buku serupa, terutama buku-buku motivasi. Ah, jadi ingat, pada edisi pergantian abad dari 20 ke 21, majalah TIME edisi minggu pertama Januari 2000 dengan kover kembang api mengangkat buku-buku motivasi para motivator seperti Positive Thinking, How to Win Friends, dll, sebagai buku yang konon katanya berpengaruh... hmm.

Aku malah tertarik membaca disertasi (ya disertasi yang dikerjakan dg serius!) yang mengangkat tema buku2 motivasi dari sudut ekonomi-politik dengan pendekatan psikologi, terutama di negara dunia ketiga yang diimpori buku2 motivasi. Aku pikir, setelah buku The Wealth of Nation dari Adam Smith dan buku pengkritiknya Das Capital yang malah mengukuhkan kapitalisme, bukunya Max Weber tentang Protestan etik, (termasuk bukunya David McClelland (bener ga sih tulisannya), buku-buku motivasilah yang menjadi penjaga iman sistem kapitalisme di dunia ini daripada buku-buku ilmiah yang ditulis oleh para professor dari universitas manapun di dunia ini. Sudah ada tidak ya disertasi semacam ini…


2//

Kelemahan dalam membuat daftar buku, entah yang layak diterbitkan, berpengaruh, dll. adalah lemahnya parameter untuk bisa diterima secara umum atau tertentu dalam satu kategori buku. Dalam daftar bukumu, jelas buku-buku yang kamu pilih tidak memiliki karakter kategorial buku yang sama. Ada catatan yang intelektualistik, novel, tanggapan jurnalistik dengan pendekatan mitos cerita, ada buku 'biografi', dan buku kata-sekali-uculdari media sosial.

Kelemahan ini akan sangat terlihat sekali saat akan memberikan alasan untuk justifikasi, yang pada akhirnya akan memberikan alasan-alasan yang berbeda pada setiap buku. Padahal, semakin berbeda alasan justifikasi semakin lemah sebuah pemilihan, dan semakin menunjukkan lemahnya kategori/parameter yang dipakai (aduh, jadi kasihan aku sama buku yang dihakimi..).

Dan, sedikit parahnya, dengan mengambil cerita karya Kafka dan James Joyce, tentu saja kamu sudah membuat ancang-ancang yang terlalu tinggi yang bahkan bisa dilemahkan oleh buku (sastra) serupa yang dibuat “asal-asalan” tanpa pretensi yang besar tapi akhirnya jadi buku besar, katakanlan Sejarah Aib. Ancang-ancang ini tentu saja bukan sebuah kategori atau klasifikasi (variabel?). Ia hanya satu gambar, deskripsi, yang pernah terjadi pada satu buku dan satu pengarang/penulis. Ini tentu tidak bisa dijadikan parameter, apalagi hendak dibuat generalisasi. Maka sangat lemah untuk dibuat parameter pada buku-buku yang lain..hehehe, terlalu aneh ya bahasaku..  

Kalau boleh diklasifikasikan setidaknya ada tiga kategori yang kamu: sisi isi-intelektualisme, sisi gaya, dan sedikit kemuakan terhadap buku motivasi. Tapi yang paling kuat adalah pada sisi isi buku, dan itu kenapa kamu memasukkan Caping 9 sebagai yang pertama, aku pikir. Ini tentu saja, hanya klasifikasi/parameter yang aku buat berdasarkan pembacaanku atas tulisanmu. Tidak secara spesifik dan eksplisit ada dalam tulisanmu, sayangnya.

Yang jelas, untuk sekadar terbit sebagai buku, semua buku yang kamu pilih itu sungguh layak terbit, setidaknya semua buku yang kamu pilih adalah buku yang cukup bagus untuk setiap kategori masing-masing buku itu sendiri. Setidaknya, hanya mengecewakan ekspektasimu yang terlalu tinggi untuk sebuah buku, apalagi di negeri dengan penduduk yang tidak begitu cinta buku. (Eh, pernah tidak sih kita diajari membaca buku, katakanlah membaca secara reseptif, secara kritis, secara komparatif, sampai secara otoritatif, entah di sekolah atau kampus atau dimana gitu? Kok aku merasa belum pernah ya, hanya belajar otodidaktif).

Kelemahan penilaian ini akan terus berlanjut terhadap buku-buku berikutnya atau pada buku yang telah lama terbit. Sayang sekali. Sebenarnya agenda seperti tulisanmu itu harus menjadi agenda setidaknya setahun sekali, sebagai kontrol dan kritik terhadap kualitas perbukuan di Indonesia. IKAPI atau penerbit jelas tampaknya tidak akan begitu tertarik untuk hal seperti ini, bisa mematikan buku. Maka, akan sangat baik kalau ada semacam dewan atau komunitas yang benar-benar memiliki kepakaran untuk menilai sebuah buku. Ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat buku Indonesia…aduh, aku kok jadi semacam jubir I:Boekoe ya…hehehe. 


3//
Aku malah membayangkan, bagaimana dengan buku-buku yang sungguh sangat edan peredarannya: buku pelajaran di sekolah-sekolah dari SD-SMA, LKS, dan buku teks kuliah. Siapa yang sampai detik ini termasuk yang sok pecinta mati sama buku yang berani mengkritisi, setidaknya berani mangatakan “buku yang tidak layak terbit”, belum sampai pada “buku ini tidak layak dijadikan buku-ajar”? Paling-paling buku pelajaran dikritisi karena buku itu dianggap berisi hal-hal yang tak senonoh, seperti yang beberapa waktu terjadi. 

Padahal, buku pelajaran itu menjadi buku yang bahkan wajib dibaca oleh jutaan manusia Indonesia dari pada kitab suci agama apapun di Indonesia ini. Dan dibaca dari generasi ke generasi seperti yang terjadi pada buku kurikulum, menjadi best seller national selama beberapa tahun, yang pasti akan mengalahkan si anak singkong yang akan segera dikalahkan oleh buku serupa pada tahun yang akan datang. Padahal: Sekali buku pelajaran jelek dan tidak mencerdaskan, seumur hidup si empunya buku akan dikutuk seumur hidup jadi manusia bodoh, apalagi yang hanya kenal buku pelajaran (dan aku sedikit sungguh yakin kau tidak mengoleksi buku pelajaran sebagaimana buku-buku yang ada di rak bukumu! Eih, najis mengoleksi buku pelajaran, termasuk buku teks kuliah yang membosankan itu! Hehehe).

Siapa yang berani lantang mengkritisi buku-buku ini? Siapa? Aduh, sejauh yang aku tahu belum ada satu orang pun yang berani mengkritisi buku ini (kecuali buku sejarah, terutama ya setelah Soeharto jatuh). Dan sejauh yang aku ikuti dalam polemik kurikulum 2013, belum ada satu pun tokoh, pemikir, pendidik, professor, atau siapapun yang mengkritisi isi buku kurikulum 2013 itu dengan menunjukkan kutipan, rujukan, dll dari buku kurikulum (bukunya sudah ada tidak sih yang bisa kita hakimi mati-matian bareng2?)! Kita tidak tahu bukunya seperti apa, isinya apa, dan bagaimana sistematika isinya, dll, tapi hebohnya gak ketulungan. Ini sungguh absurditas yang tidak menggelikan bagiku.     

Terus terang, saat membaca daftar buku yang kamu pilih, aku jadi terlihat menjadi sosok gagah yang tragis, gara-gara aku jadi absurd sendiri memikirkan buku kurikulum yang tidak kamu masukkan, dan aku sebagian suka buku yang kamu pilih (tentu dengan subjektivitasku). Buku pelajaran (rasakan kata pelajaran ini secara sosiologis dan psikologis-religius) adalah buku yang akan diwarisi sebagai warisan tunggal oleh generasi Indonesia. Dan tanpa bantah! Tapi, untungnya, manusia Indonesia kayaknya sama-sama paham perihal sedikit ngibul buku pelajaran ini: 90% siswa/mahasiswa, yang kelak akan menjadi guru, professor, ilmuwan, dll. tidak ada yang menjadikannya sebagai buku favorit, buku berpengaruh, atau buku yang layak dikoleksi untuk dibaca ulang, menurut sedikit survey sangat kecilku. Maka, tidak perlu dikecam, dikritik, dicemooh, dll…  

Btw, siapa ya yang sudah membuat daftar buku anak yang layak dibaca? Aku pengen membaca buku anak-anak, tapi belum tahu peta buku anak-anak itu seperti apa. Padahal, ini sungguh-sungguh proyek yang sangat-sangat penting bagi (masa depan) dunia literasi Indonesia… L

Terakhir, hmmm…apa ya, sebenarnya aku pengen mengutip kata-kata Nietzsche dalam Zarathustra… yang tentang tulisan yang ditulis dg berdarah-darah itu, tapi nanti aku jadi ikut-ikutan dirimu. Ah, gak jadi aja ya, lagian bukunya di rumah, hehehe… Oke Dhani. That's all… J


*kritik atas tulisan saya oleh Moh Fauzi Sukri. Penikmat sastra dan pegiat komunitas bale sastra kecapi Solo

1 komentar:

  1. Ada setumpuk buku anak di rumahku. Datang saja, takbongkar buatmu, dan takbikinkan kopi. Lalu kita berbincang tentangnya.
    ;)

    BalasHapus