Selasa, 15 Januari 2013

Layar Kaca

Untuk R

Pernahkah kamu begitu marah sehingga segala kebahagiaan di dunia ini terasa seperti sebuah cegukan yang menganggu? Rasa marah adalah rupa lain api. Ia membakar segala yang hidup.  Melumat semangat hingga kau pelan-pelan dipaksa takluk pada keinginan untuk menghancurkan. Lantas berharap untuk melakukan tindakan keji, tindakan jahat, tindakan nista agar setimpal rasa marahmu. Terganti desir kedengkian yang perlahan kau beri rupa manis.

Ada yang gegas dalam kemarahan. Serupa rencana keji yang buru-buru hendak dilaksanakan. Tapi rencana itu begitu berantakan, begitu sembrono, begitu naif, kamu menyadari ini, namun tetap melaksanakannya karena ada dorongan keras dari ulu hatimu yang berteriak-teriak. "Ia harus hancur, ia harus musnah, ia selayaknya roboh," Kebencian yang terlalu, kemuakan yang terlalu dan segala yang terlalu mengambil alih otakmu untuk satu tujuan. Kehancuran bagi yang "lain".

R yang baik. Apa kabar? Sudah lama kita tak berkirim berita. Barangkali benar menua adalah proses melupakan dan pelan-pelan menyisihkan satu persatu kegiatan hanya untuk hal-hal dasar seperti makan, berak dan tidur. Wisdom comes with winters kata Oscar Wilde suatu saat. Seiring berjalan umur kita belajar untuk lebih bijak, lebih pragmatis, lebih matrealis dan berpikir lebih banyak. Sehingga pada akhirnya kita melupakan cara untuk menikmati hidup dan mengisinya dengan usaha bertahan hidup.

Maaf jika aku memulai kabar ini dengan sebuah kemarahan. Aku percaya manusia adalah mahluk pendendam. Sebuah perasaan yang lahir akibat tak terpenuhinya harapan. Mereka yang tak bisa menyimpan kerelaan dan menganggap bahwa segala hal yang ia senangi harus dinaungi rasa kepemilikan. Juga seperti dalam cinta. Seperti ketika aku jatuh cinta padamu dan menginginkamu sebagai sebuah benda, bukan lagi rekan manusia yang sepadan.

R yang baik, apa yang terjadi padaku barangkali tak begitu penting bagimu. Seperti juga betapa tak pentingnya debu-debu di antara tumpukan bukumu, atau seperti cucian yang terlantar, atau mungkin barangkali seperti sebuah potongan cabai pada mie rebus panasmu. Hal-hal remeh yang membuatmu senewen dan jengah. Tapi aku tetap ingin menyampaikan kabar ini R. Terserah apakah kau mau peduli atau tidak itu tak penting bagiku.

Malam ini hujan turun terus menerus tanpa henti seolah besok adalah awal mula musim kemarau. Seperti juga kemarahanku yang mendera dengan cepat. Kemarahan yang lahir dari hal remeh seperti kebebalan media-media hari ini pada etika dalam pemberitaan, atau juga bagaimana bencana terjadi pada saat yang tak pernah tepat, atau juga pernyataan-pernyataan konyol pemimpin yang membuat dahi berkerut. Terlalu banyak alasan untuk marah hari ini, sedangkan humor dan tawa telah lama jadi barang picisan yang dijual murah.

R yang manis, aku marah pada televisi. Marah pada sesuatu yang bahkan tak bisa berpikir. Kita menonton benda kotak keparat itu lebih sering dari waktu kita bercumbu dengan kekasih. Lebih sering daripada kita bermunajat dan bercinta dengan tuhan. Atau yang lebih parah kita lebih sering diam diri dan bermonolog di depannya daripada diam sendiri dan berpikir menggunakan otak. Televisi adalah berhala lain yang tuhan pun kalah berdebat dengannya. 

Sementara diam-diam kita menyadari bahwa kotak brengsek itu adalah satu-satunya kebenaran. Televisi menghasilkan berita yang kita percayai meski kita tahu itu bohong. Televisi membuat kita berhenti kritis dan pelan-pelan membuatmu dan otakmu berhenti berfungsi. Iklan, seks, kekerasan, gosip, komedi picisan dan berita bohong adalah hal-hal yang membuat kita larut dan beriman pada televisi lebih dari agama apapun di dunia. Kita adalah budak dari apa yang kita ciptakan sendiri.

Tapi bukan hanya pada televisi aku marah R. Aku marah pada diriku sendiri yang tak bisa lari dari kenyataan bahwa televisi adalah satu-satunya penyelamat manusia-manusia lemah. Buruh-buruh pabrik, kuli, petani miskin, pengemis, juga ibu rumah tangga menyandarkan hidupnya pada televisi. Pada tiap-tiap sinetron yang kita anggap sampah, mereka para kuli dan buruh tadi, menitipkan mimpi. Berharap suatu saat ia atau keturuannya bisa sedikit mencicip rasa kekayaan. Bahwa seseorang bisa makmur dengan jatuh cinta pada orang kaya, atau dengan tulus doa dan bekerja keras tuhan akan memberikan kekayaan. Mimpi membuat manusia hidup.

Tapi kita sama-sama tahu R. Televisi adalah biang dari segala kehancuran. Mimpi semu dan segala macam taik kucing yang lahir dari rahim konsumerisme. Tapi apalah itu konsumerisme? Tak penting amat ketika kau bekerja lebih dari 12 jam sehari, ketika 6 masa kerjamu habis dihajar wabah, atau lembur malammu tak menghasilkan separuh dari harga susu anakmu. Kita terlalu sibuk belajar definisi hingga melupakan arti penting merasakan. Televisi memiliki itu semua R, memiliki apa yang tak pernah bisa diberikan oleh para pemikir. Rasa nyaman dan memiliki ketika bersama-sama.

Inilah aku R. Lelaki yang disiksa perasaanya sendiri. Seorang sarjana yang hilang arah. Berharap pada satu titik sekian tahun ilmunya dibangku kuliah akan bermanfaat. Berharap suatu saat manusia-manusia hebat yang dipenjara pekerjaan tadi sadar. Bahwa hidup bukan perkara menonton televisi. Bahwa otak perlu diisi dan segala mimpi perlu dikejar. Barangkali hanya ini yang bisa kubagi R. Ditengah hujan, suara kodok, dan rindu yang berjelaga. Sesak atas amarah adalah sebenar-benarnya kebodohan yang tak perlu.

3 komentar:

  1. selalu jatuh cinta sama tulisan di blog ini...:D

    BalasHapus
  2. nyesel baru tahu blog ini sekarang. tulisannya keren. :)

    BalasHapus