Kamis, 31 Januari 2013

Perihal Menulis

Saya tak pernah menganggap menulis adalah pekerjaan. Setidaknya bukan dari kerja keras yang dilakukan dengan berkeringat dan penuh perjuangan. Menulis barangkali adalah sebuah keseharian yang menyenangkan. Sama halnya dengan menikmati segelas teh hangat di sore hari atau seloyang pizza ketika hujan. Kegiatan yang menyenangkan dilakukan sering-sering, namun bisa menjadi memuakkan jika dilakukan terus menerus tanpa jeda. 

Sekitar medio 2007 saya bergabung dengan sebuah organisasi pers mahasiswa lantas jatuh cinta pada proses literasi ini. Barangkali cinta terlarang. Karena menulis membuat saya melupakan perkuliahan dan membuang 3.5 tahun kuliah dengan kegiatan sia-sia. Membaca, jalan-jalan dan tentu saja menulis tadi. Apakah saya menyesal? Tentu tidak. Menulis adalah cinta yang rela saya lakukan berulang kali meski tahu endingnya akan menyakitkan.

Tapi cukup tentang saya. Hari ini seorang kawan mengajak sebuah kampanye menarik yaitu 7 hari menulis. Agak klise sebenarnya. Kampanye seragam sudah terlalu banyak dan sayangnya hanya sedikit saja yang bisa bertahan dan menyebarkan virus literasi. Tapi saya selalu mengapresiasi kampanye semacam ini. Di tengah brengseknya kondisi komunitas penulis Indonesia paska booming social media. Munculnya penulis-penulis baru seperti sebuah pemandangan senja di sesaknya Jakarta. Blessing in disguise.

Saya ingat sekali pertama kali bagaimana rasanya menulis. Mual, bersemangat, penuh gairah, takut dan congkak berbaur jadi satu. Hasilnya? Dua halaman tulisan panjang tentang kondisi warung kampus yang dijejali promosi kapitalis industri rokok. Naif dan sok idealis. Lantas ketika masuk meja editor, tulisan hasil kerja keras itu semalaman dihajar, dicoret dan dikritisi hingga tersisa satu paragraf saja. Dan benar kata orang, First cut is the deepest.

Bertahun kemudian saya menonton film nyaris-self-help tentang budaya literasi yang berjudul Finding Forester. "First rule of writing is to write, not to think," kata Sean Connery dalam film itu. Ada yang komikal dan profetik dalam pernyataan itu. Tugas pertama seorang penulis adalah menuliskan bait-bait pemikirannya dalam lingkar kerja kalimat. Dari situ teks akan melahirkan makna yang kemudian akan dimaknai oleh pembaca. Sebuah proses tanpa akhir dari relasi yang kelak, semoga saja, akan melahirkan peradaban.

Peradaban yang lahir dari kata-kata adalah peradaban yang mulia. Penulis dalam hal ini punya peran sentral dalam bagaiman peradaban, juga kebudayaan, itu dibentuk. Saya tak akan memulai perdebatan dengan mengatakan bahwa firman dalam kitab suci adalah buatan manusia atau tidak. Tapi saya akan berbagi cerita perihal beberapa penulis dan karyanya yang membantu membentuk peradaban modern jadi lebih baik lagi. Mungkin akan membosankan, tapi ini akan menarik jika anda suka menulis.

Tentu perlu batas. Segala yang berlebihan pada akhirnya hanya akan membawa kebebalan. Juga dalam menulis. Penulis yang hebat adalah penulis yang mampu memberikan perubahan, melahirkan polemik dan yang pasti membuat orang tergerak untuk melakukan sesuatu. Penulis yang demikian hanya sedikit saja ada di dunia. Beberapa dari mereka adalah agitator propagandis (agprop) yang ulung. Sehingga bisa melahirkan karya seminal yang merubah peradaban dunia.

3.000 tahun sebelum masehi bangsa Mesopotamia menyadari pentingnya mengabadikan sebuah pesan. Barangkali di sinilah tulisan pertama dicatatkan. Apa sebenarnya yang penting dari sebuah tulisan? Toh dalam catatan tertua hanya berisi laporan perihal distribusi pangan. Bangsa Mesopotamia mengamini keteraturan sebagai sumber kemakmuran. Catatan yang kelak disebut sebagai cuneiform mampu menciptakan masyarakat yang terorganisir. Metode ini beratus tahun kemudian diadopsi oleh peradaban Mesir dengan sistem hieroglyphics-nya. 

Belajar pada karya Klasik

Untuk itu penting untuk memahami pentingnya karya klasik, tapi saat ini saya tak ingin terlalu banyak membahasnya. Pertama karya klasik terlalu membosankan untuk bisa dipahami dengan konteks kekinian secara harfiah. Kedua karya klasik terlalu banyak dan beberapa telah menjadi arkaik sebelum kita membacanya. Ketiga karya klasik, sebagaimana makanan dan musik, adalah perihal selera dan klaim. Ia tak bisa dipertanggung jawabkan secara etik kepada seluruh manusia. Dan yang terakhir karya klasik is much to overrated.

Tapi ada baiknya kita sedikit belajar tentang beberapa karya dari penulis klasik yang mempengaruhi peradaban dunia. Namun sebelum itu kita simak dulu paparan Jeffrey Brenzel, dekan sekaligus dosen di Jurusan Filsafat Universitas Yale, tentang lima kriteria sebuah karya tulisan menjadi klasik. Hal ini menarik sebagai sebuah pijakan standar untuk memahami secara rasional mengapa karya itu menjadi penting. Juga sebagai sebuah rangsangan bagi mereka yang penasaran untuk mencari tahu.

Kriteria tersebut antara lain; 1. Berurusan dengan kemaslahatan umat manusia, 2. Merubah paradigma umum yang telah pakem selama ini, 3. Mempengaruhi karya lain yang juga lebih hebat, 4. Dihormati oleh berbagai kalangan sebagai karya yang luar biasa, 5. Menantang untuk bisa dipahami tapi sangat setimpal dengan kerja keras yang dikeluarkan. Saya tak akan menjelaskan satu persatu pokok pikiran dari kriteria tersebut. Karena saya tak ingin mengejek kapasitas intelektual pembaca sekalian sebagai orang yang cerdas.

Jeffrey Brenzel menyebutkan Republic karya Plato sebagai fondasi awal karya peradaban klasik yang paling penting. Ia berargumen bahwa karya ini membahas perihal upaya menjawab pertanyaan klasik tentang "apa itu keadilan", tentang nilai pendidikan bagi sebuah masyarakat, tentang pemerintahan ideal, dan yang paling penting perdebatan tentang apa itu hidup mulia. Tapi perlu dicatat bahwa karya ini juga bukan karya murni Plato karena berisi berbagai diskusi bersama maha guru filsafat dunia Socrates.

Daftar yang dibikin oleh dekan Universitas Yale itu bisa jadi sangat subjektif. Karena bagi beberapa orang karya klasik tak melulu harus terikat pada ruang waktu yang lampau. Penulis masyur Shalman Rushdie misalnya tak begitu menyukai karya-karya tulis klasik era Yunani kuno, namun malah mengaku sangat menyukai karya pop nan kitsch Fifty Shade of Gray. Entah ini adalah sebuah sarkasme atau pernyataan jujur. Tapi sebuah buku atau tulisan bisa menjadi klasik tergantung bagaimana memaknai pengaruh karya tersebut dalam proses kreatif kita.

Tapi apa alasan saya membawa anda para pembaca membawa karya tulis yang sudah berumur lebih dari 2.400 tahun? Untuk menjawab itu perlu pembaca pahami bahwa dunia baru menikmati sistem pendidikan modern yang terbuka bagi siapapun pada abad ke 19. Sebelumnya semua akses terhadap pendidikan hanya dinikmati oleh kaum penguasa, kaum agamawan dan juga keluarga kerajaan. Sehingga akses pengetahuan sebelumnya adalah monopoli kaum tertentu saja.

Untuk itu memahami karya klasik saat ini dan mengapa ia penting merupakan berkah. Sehingga dengan akses internet yang begitu luas, kalian harusnya merebut kesempatan ini untuk membaca karya tersebut sebagai sebuah berkah kebebasan. Tapi sebentar saya ngomong ngalur ngidul tentang bacaan apa sih pentingnya bacaan terhadap menulis? Bukankah kita sedang membahas proses menulis sebelumnya? Jawabannya sederhana. Mustahil menulis tanpa membaca.

Setelah mengetahui bahwa karya klasik memiliki pengaruh pada peradaban. Juga kriteria-kriteria yang membuat karya klasik menjadi penting. Lantas fakta bahwa akses karya klasik tersebut kini sudah terbuka lebar, sebagai penulis apa yang akan kalian lakukan? Ah tapi saya ogah menggurui toh saya juga belum bikin buku.

Tulis Baca Lakukan Seterusnya

Akibat sebuah pamflet Eropa pada 1848 pernah dihantui. Hantu bernama komunisme gara-gara artikel panjang yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Manifesto Komunis, judul artikel itu, membuat banyak borjuis bergidik nyeri ketakutan. Apakah ini kali pertama Eropa dihantui sesuatu yang lahir dari tulisan? Sayangnya tidak. Jauh sebelumnya pada 1517, seorang teolog bernama Martin Luther, menuliskan 95 fatwa yang membikin tahta suci gereja bergoyang keras.

Apakah karya tersebut merupakan tulisan yang lahir asal jadi? Tidak. Karl Marx menuliskan karya itu setelah menahun pergulatan panjang sebagai pembaca dan penulis yang rakus. Martin Luther bergulat dengan berbagai literatur dan pemahaman al kitab sehingga melahirkan fatwa-fatwa tadi. Di sini posisi sebagai penulis tak bisa lepas dari bahan bacaan yang ia konsumsi. Lebih dari itu apa yang kamu baca bisa menjadi sebuah tolok ukur kualitas tulisan yang akan kamu hasilkan.

Hampir tidak ada alasan untuk seorang manusia untuk tak menulis. Dari puluhan jam selama sehari menulis, seperti juga membaca, semestinya memiliki ruang sela yang teramat banyak. Ketika sedang mengantri, ketika sedang istirahat, atau ketika sedang buang hajat sekalipun. Penulis yang manja adalah penulis yang sibuk menyusun alasan daripada duduk bekerja mencatatkan kalimat dalam kepalanya. Penulis yang demikian hanyalah sebuah mur dari peradaban yang jika rusak akan banyak gantinya.

Mustahil seorang munsyi menjadi pakar bahasa jika ia belajar membaca dan memahami kata dari pesan singkat ponsel. Peradaban menulis dan membaca kita sudah begitu buruk sehingga kata-kata dari seorang penulis terkenal bisa menjadi dogma yang tak bisa dikritik. Kita disuguhi tulisan-tulisan kualitas berak yang itu-itu saja. Referensi bacaan diatur oleh sebuah korporasi literasi yang hanya mengakomodir satu genre busuk yang teramat buruk kualitasnya.

Barangkali pengantar ini terlalu berat untuk sebuah kampanye menulis sederhana. Tapi ada baiknya kita menjejak dari sebuah tanah yang keras, daripada lahir dari belantara surga. Kita tak butuh penulis yang lahir hanya untuk memuji dan dipuji. Di tengah peradaban menulis yang hanya dikangkangi segelintir komprador dan pemujaan berlebih. Penulis yang kejam dan berwawasan luas diperlukan. Untuk itu saya menantang kalian para pegiat penulis yang turut ambil bagian dari gerakan #7harimenulis menjadi penulis yang demikian. Kejam tanpa ampun untuk peradaban yang lebih baik. 


2 komentar:

  1. "Kejam tanpa ampun untuk peradaban yang lebih baik."
    saya bergidik membaca kalimat terakhirmu bung. Terima kasih.

    BalasHapus
  2. tulisan ini berhasil memantik api semangat saya. terima kasih :)

    BalasHapus