Kamis, 24 Januari 2013

Responsible (Travel) Writer

Karya Made Muliana Bayak

Ada sebuah acara televisi yang mengganggu saya. Hidden Paradise yang ditayangkan oleh Kompas TV. Menggali lokasi-lokasi indah terpencil mempromosikannya sebagai sebuah destinasi wisata yang "baru", "perawan", "belum tersentuh" dan yang jelas "Eksotis". Saya bergidik nyeri. Para traveler tanah ini sedang sibuk berburu mencari tempat eksotis dan perawan untuk ditampilkan. Sampai kapan tindakan ini akan terus terjadi? Apakah mereka tidak akan berhenti sampai surga terakhir dieksploitasi?

Sementara di ujung dunia lain para pegiat melancong berusaha gerakan menyelamatkan lingkungan dan alam dari upaya eksploitasi. Di Indonesia para pegiatnya sibuk pamer eksotisme dan promosi daerah-daerah terpencil. Saya pikir ada yang salah di sini. Banyak pelancong negeri ini lebih sibuk mengunggah foto panorama via instagram daripada memotret realitas kemiskinan di daerah destinasi wisatanya. Beberapa yang lain lebih sibuk sesumbar mengenai jumlah destinasi yang telah ia sambangi.

Para pelaku kegiatan dangkal ini, sayangnya, adalah para travel writer yang konon bercita-cita berbagi  pengalaman atas sebuah destinasi. Sedikit dari mereka yang bersedia dengan sadar berpikir sejenak lebih panjang untuk menyadari apa akibat dari tindakan mereka itu. Sebenarnya apa yang ingin dicapai dari berbagi foto indah? Apa arti dari tindakan ini? Narsisme "Been there, pictured that,"? Atau sekedar tindakan labil untuk pamer kebanggaan 

Perilaku egois, narsis dan kekanak-kanakan ini menyebar seperti virus. Menjangkiti banyak orang bahwa traveling adalah perilaku keren nan kece yang harus dilakukan. Bahwa menikmati hidup di luar memejalkan diri untuk melakukan perjalanan jauh dan eksotis adalah keren. Tidur di bandar udara berbekal sleeping bag, melakukan perjalanan ke luar negeri berbekal uang seadanya, menembus hutan lindung dan memotret pemandangan langka nan indah memang adalah kegiatan debar yang melenakan. 

Tapi apakahh ini baik dibagi? Itu seharusnya menjadi sebuah pertanyaan etis yang semestinya ditanyakan setiap travel writer sebelum ia berbagi pengalaman akan sebuah destinasi.

Tapi mereka lupa tak semua orang bisa melakukan traveling, atau dalam beberapa kasus sebuah perjalanan tak bisa diulang sama persis. Menyatakan semua orang melakukan perjalanan berbekal sekian juta keliling eropa adalah tindakan ceroboh yang menyesatkan. Menembus hutan belantara tanpa menyadari jika tempat itu sebuah cagar alam. Atau tidur di sebuah bandar udara negara asing tanpa menyadari resiko dirampok atau melanggar aturan yang berpotensi memberi denda besar. Kedegilan macam ini sayangnya telah terlalu parah menjangkiti travel writer di tanah air.

Alain de Botton seorang penulis dan filsuf masyur Inggris kelahiran Zurrich, pernah berkata dengan nada penuh kekhawatiran "Over the last few years, we've become painfully aware that tourism isn't just about passively observing a place, it's also about changing it - and usually for the worst." Apakah ia berlebihan? Saya kira tidak. Kita cukup waras untuk sadar beberapa tulisan mengenai destinasi wisata mampu menarik banyak minat turis untuk datang. Sayangnya hal ini tak disertai kesadaran bahwa hal ini mampu membuat kerusakan yang terlalu parah pada tempat itu.

Alain de Botton yang juga menuliskan Art of Travel lantas melanjutkan kekhawatirannya itu dengan kalimat yang lebih menyayat "Most often we literally destroy the beauty or interest we have come to witness." Ia tak berhenti sampai disitu. Ada sebuah harapan yang hendak ia sampaikan kepada seluruh pegiat pariwisata "It's therefore paramount that we learn to come up with forms of travel businesses that don't destroy their host organisms," Tapi apakah pesan ini telah tersampaikan dengan baik? Sayangnya sekali lagi tidak.

Ada travel blogger yang menyebut dirinya sebagai Travel Institute, pernah dengan sangat lalai mempromosikan Pulau Sempu, sebuah cagar alam di Malang, sebagai destinasi wisata. Tidak hanya sekali tapi dua kali ia menurunkan reportase tentang Sempu. Parahnya sampai detik ini ia tak melakukan revisi atau perbaikan pemberitaan bahwa tempat itu adalah sebuah lokasi yang terlarang untuk dikunjungi tanpa ijin. Jika ada seorang pembaca yang tak tahu lantas terpantik keinginannya dan datang ke Sempu, sedikit banyak si pengampu blog adalah penyebab kotornya cagar alam tersebut.

Lantas mengapa tak banyak travel writer yang menulis secara bertanggung jawab? Malas dan pandir adalah sedikit alasan utama mengapa kegiatan semacam ini tetap terjadi. Kedunguan macam ini terjadi selama bertahun-tahun dan melembaga karena tak ada kode etik atau kesadaran normatif yang mengikat para travel writer ini. Sehingga mereka bisa lintang pukang menulis semaunya tanpa peduli atas akibat yang terjadi atas artikel yang ia bikin.

Menjamurnya travel blogger juga turut ambil bagian dalam kegilaan masa ini. Para penulis amatir yang saya yakin belum atau tak pernah belajar kode etik blogger ini memperburuk keadaan. Berbekal menulis seadanya mereka menulis sebuah artikel tanpa tendeng aling. Seolah-olah dalam penulisan artikelnya tak memiliki tanggung jawab etis pada pembacanya. Setiap blogger, bagi saya, wajib memberikan informasi yang benar dan utuh setra tidak menyesatkan.

Kegagalan memahami tanggung jawab ini, atau lebih buruk lagi, menyombongkan pekerjaan ini sebagai sebuah profesi mulia tanpa cela membuat travel writer turut berkontribusi dalam perusakan sebuah lingkungan. Kerusakan Cagar Alam Pulau Sempu dan menjamurnya travel agent menuju pulau-pulau terpencil adalah bukti terkini dan paling nyata akibat travel writer yang kurang riset dan tak mau tahu. Yang paling brengsek, menurut saya, adalah Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan bebal dan tak tahu diri mempromosikan Pulau Sempu yang notabene cagar alam sebagai satu destinasi wisata.

Silahkan ketik Pulau Sempu anda akan menemukan banyak travel writer/blogger yang mengunggah tulisan dan foto mereka. Banyak diantaranya tanpa malu berkata bahwa pulau ini wajib dikunjungi, eksotis, indah, perawan dan mudah dijangkau. Bagi saya hal ini adalah kejahatan yang tidak bisa dipahami. Bagaimana sebuah daerah konservasi yang dilindungi bisa seenaknya dimasuki tanpa ijin dan tanpa pengawasan? Okelah ada Balai Sumber Daya Alam Bidang III yang mengawasi dan bertanggung jawab. Tapi apakah travel writer/blogger tadi tak melakukan riset soal status pulau itu sebelumnya? 

Anita Roddick dalam salah satu artikelnya pernah menuliskan tentang riset bagaimana pesawat terbang adalah kontributor utama global warming. Dengan nada yang sedikit keras ia menyebutkan melakukan perjalanan udara hanya untuk melancong adalah tindakan tak etis ketika gerakan eco tourism sedang digalakan. Lebih jauh ia menyarankan untuk melakukan responsible travel dengan tinggal dengan penduduk lokal dan menyesap lebih banyak pengalaman dari pada sekedar melihat. 

Perilaku fasis ogah mau tahu ini juga berujung pada tindakan tak bertanggung jawab lainnya. Pernah ada seorang travel writer medioker pernah memposting anjuran untuk mengkonsumsi ganja di Pulau Weh.  Dengan bangga ia menyatakan bahwa apa yang ia tulis adalah sebuah kredo baru travel writer. Sebuah tindakan out of the box. Bagi saya tulisan semacam ini adalah tindakan tak bertanggung jawab, bebal dan debil. Menganjurkan sebuah destinasi wisata dengan melakukan tindakan ilegal, apa yang lebih bodoh dari hal ini? 

Menulis out of the box tidak berarti harus menciderai perasaan sebuah masyarakat dan menyebarkan informasti tak penting. 

Apa yang coba disampaikan dari informasi ada ganja di Pulau Weh? Kecuali kau adalah seorang jurnalis investigatif yang hendak melaporkan sindikasi terlarang, kau tak berhak menuliskan sebuah informasi parsial yang berindikasi terjadi generalisasi sebuah komunitas masyarakat. Apakah seluruh pulau Weh adalah penyedia ganja? Saya kira tidak. Kalau hanya hendak mengkonsumsi ganja di Jakarta, di Jember bahkan di pasar Dolly pun bisa. Apa yang out of the box dari itu?

Ada sebuah artikel pendek dari Sir David Attenborough, seorang pemikir dan host acara TV di Inggris, yang menyentak dengan keras. Ia membuka sebuah wawancara dengan pernyataan tendensius We are a plague on the Earth," katanya. Bagi saya pernyataan ini adalah sebuah retorika usang yang sebenarnya telah banyak dibahas oleh para pejuang lingkungan sejak bertahun sebelumnya. Komedian jenius nan legendaris George Carlin dalam satu penampilannya pernah berkata "The planet is fine, the people are fucked up,". Tapi Sir David Attenborough membuat sebuah argumen menarik yang barangkali gagal disampaikan oleh Carlin.

Ia berkata "Until humanity manages to sort itself out and get a co-ordinated view about the planet, it's going to get worse and worse." Ia benar. Manusia yang bebal dan ogah belajar akan membuat planet ini semakin sulit untuk bisa bertahan dan perlahan akan menuju kehancuran. Kita memang adalah wabah yang hanya bisa menikmati dan sedikit memberi kembali pada planet ini. Ketika seorang travel writer menuliskan sebuah destinasi, kebudayaan dan eksotisme suatu daerah ia harusnya berpikir panjang apa akibat dari artikel yang ia turunkan.

Saya khawatir hanya sedikit travel writer yang punya kepedulian semacam ini. Mereka datang hanya untuk bersenang-senang, menulis, foto-foto lantas lupa atau bahkan tak tahu apa akibat dari tulisan mereka itu. Banyak travel writer yang berpikir sempit bahwa dengan mempromosikan satu destinasi akan menarik turis yang bisa memberikan pemasukan tambahan. Tapi sedikit dari mereka yang sadar akibat dari turisme masal adalah masuknya nilai-nilai asing yang bisa jadi merusak kebudayaan lokal.


Kerusakan Cagar Alam Pulau Sempu, Privatisasi pulau-pulau di Lombok, atau invasi kebudayaan asing di Bali yang merubah lanskap identitas kultural masyarakat setempat. Putu Setia dalam karya masyurnya Menggugat Bali memotret ini dengan sangat bernas. Akibat promosi besar-besaran tanpa disertai pemahaman etis mengenai keberlangsungan sebuah daerah wisata, membuat banyak turis berperilaku seenaknya. 

Tapi di tengah kegilaan ini ada beberapa orang yang cukup waras dan sadar untuk melakukan perubahan. Gerakan yang berakar pada tesis sederhana bahwa melancong semestinya bertanggung jawab. Untuk mencerdaskan turis perlu juga mencerdaskan penulis yang mempromosikan satu destinasi untuk bisa bertanggung jawab. Sebuah upaya agar keberlangsungan (sustainability) tempat tujuan perjalanan dapat dinikmati hingga anak cucu kita kelak.

Perjalanan semestinya mendewasakan. Travel writer yang telah menempuh banyak destinasi, belajar banyak kebudayaan dan menikmati berbagai perjalanan harusnya mengalami ini. Sayangnya beberapa travel writer hanya menganggap melancong adalah sebuah pekerjaan. Sebuah bisnis yang tak menuntut adanya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Pergi melancong, tulis artikel, terbitkan dan habis perkara. Mereka lupa bahwa destinasi yang mereka tuliskan adalah rumah bagi seseorang, sebuah tempat bernaung dan berlindung bagi yang lain. 

Baiknya perlu diingat dalam setiap batok kepala kalian, bahwa travel writer juga turis adalah orang asing yang datang pada satu tempat asing. Ia bercerita tentang keindahan, tentang kebudayaan dan tentang kehidupan yang membuat orang lain tertarik untuk datang. Tapi berapa dari mereka yang mau peduli akan nasib destinasi itu, setelah mereka pergi dari tempat itu lantas menuliskannya. Apakah akan datang turis secara masal yang akan merubah kehidupan para penduduk lokal? Apakah alam tempat destinasi tersebut akan rusak? Ataukah akan muncul gegar kebudayaan karena datangnya orang orang asing?

44 komentar:

  1. woww,,terima kasih sudah menulis seperti ini
    sangat mencerahkan

    BalasHapus
  2. Saya setuju mas. Seharusnya para travel writer/blogger juga menyinggung tentang responsible traveling. Nggak hanya keindahan yang sudah klise itu. Sehingga orang yang ingin ke destinasi tersebut benar2 menjadi "responsible traveler". Travel writer juga harus bisa mengedukasi..

    BalasHapus
  3. mau jadi travel writer juga nih ane gan

    BalasHapus
  4. Manusia adalah virus paling jahat di bumi ini. Tanpa kita sadari kita sedang beramai-ramai melakukan aksi bunuh diri.

    BalasHapus
  5. ini seperti petir di jumat siang yang cerah.

    dan bahkan petir yang mengerikan itu sangat dibutuhkan bumi untuk mengurai nitrogen dalam tanah. kita tahunya hanya takut saja.

    ya, alam memang (jauh) lebih baik tanpa manusia.

    terimakasih telah diingatkan, salam.

    BalasHapus
  6. kegelisahan yang saya rasakan selama ini, tapi sudahlah biarkan orang menjalankan visinya masing2...

    saya bukan penulis hanya penikmat saja

    BalasHapus
  7. Terima kasih sudah berbagi tentang kode etik blogger, Mas. Tulisan yang menyadarkan :)

    BalasHapus
  8. desakan ekonomi dan kebutuhan hidup lah yang menyebabkan "komersialisasi" yang menyebabkan eksploitasi besar-besaran itu, bahkan seringkali warga sekitar pun mendukung eksploitasi itu. entah bagaimana caranya mengubah paradigma masyarakat yang men-dewakan harta. Orang indonesia sering membandingkan tanah air dengan negara-negara maju lain dan dan berlomba-lomba untuk memajukan negara ini agar setara dengan negara-negara maju yang lain. Paradigma kita berasumsi bahwa orang yang tidak memiliki saluran listrik, tidak memiliki koneksi internet, atau memiliki sepeda motor adalah orang yang tidak bahagia. Hal ini sebenarnya adalah tidak benar, permasalahan ada walaupun kita memiliki mobil mewah, rumah mewah, atau harta melimpah. Paradigma tidak memiliki uang maka tidak bahagia hanya gambaran dangkal yang diperlihatkan kepada kita dari media massa atau dari pemikiran segelintir orang yang bingung dengan eksitensinya di dunia ini.

    BalasHapus
  9. hal yang menyebabkan "komersialisme" tempat-tempat indah ini sebenarnya adalah paradigma orang-orang yang men-dewakan harta. kadang warga setempat pun mendukung ekploitasi yang dilakukan dengan anggapan bahwa ekploitasi ini akan mendatangkan orang-orang yang rela membayar untuk melihat tempat ini dan akan mendatangkan kemakmuran untuk mereka. hal ini tidak lepas dari desakan ekonomi dan kebutuhan hidup. saya tidak berusaha untuk menyalahkan orang-orang ini, tapi manifestasi masyarakat akan pengertian hidup makmur dan bahagia adalah memiliki sepeda motor, memiliki koneksi internet, mobil mewah, atau rumah mewah, atau hanya orang yang memiliki harta melimpah saja yang bisa bersenang-senang.

    BalasHapus
  10. oh. ane mau jadi travel painter

    BalasHapus
  11. Wah terima kasih buat artikelnya, menarik dan mencerahkan.

    BalasHapus
  12. "perjalanan semestinya mendewasakan" setuju banget!
    menggelisahkan memang kalok catatan perjalanan isinya eksotisasi melulu.
    kalok aku masih skeptis dengan praktik sustainable tourism. menurutku, wisata dan perjalanan itu bisa kita sebut sebagai fenomena yang memiliki sistemnya sendiri dan rumit. upaya memperbaiki keadaan dengan mempublikasikan panduan wisata, atau buku "how to.." sekalipun ngk menjanjikan menurutku.
    setauku, sustainable tourism, eco tourism juga udah jadi wacana yang dikampanyekan sejak lama, terutama oleh para lsm lingkungan. ngk menjanjikan itu!!
    jika ngomongin efek buruk wisata, travel writer dan blogger perjalanan bukan satu-satunya yang bertanggung jawab. kalok menurutku, korporasi dan industri wisata massal yang lebih bertanggungjawab.
    aku suka kegelisahanmu yang menjadi spirit tulisan ini. tapi aku ngk suka penilaian normatif moralis macam "Menganjurkan sebuah destinasi wisata dengan melakukan tindakan ilegal, apa yang lebih bodoh dari hal ini?".
    tumben nada tulisanmu ini kayak orang marah2., kayak aku nulis pas lagi pms gitu dhan. hehe :D

    BalasHapus
  13. @lisis
    Ho'oh ini ditulis dengan emosi. Bukan moralis sebenarnya. Konteks ilegal itu ada di lokus Pulau Weh. Ada seorang travel writer gadungan yang nulis bahwa salah satu hal yang mesti dicoba di Aceh/Weh adalah ganja. Which is absurd. Kalau cuma mau ngeganja gak usah ke weh Aceh. Dalam tataran relasi jawa - aceh kita tau betapa sensitifnya bangsa aceh pada jawa. Orang dongok yang cuma bisa bikin statemen ngasal itu berpotensi bikin ribut. Mau ngentot kek, mau nyimeng kek itu urusan personal. Gak usah ngajak orang kalau praktiknya di Indonesia kegiatan kaya gitu masih ilegal.

    BalasHapus
  14. bener banget jangan cuman jalan-jalan senang-senang doang..
    tapi kita juga harus tanggung jawab sama alam dan lingkungan sekitar yang bakal kita kunjungi..
    ane di lombok seneng sebenaranya pariwisata lombok bisa maju dan rame sama kayak bali..
    tapi apalah arti maju dan rame klo alam dan lingkungannya bakal rusak karena perilaku manusia-manusia yang ngak bertanggung jawab yang cuman bisa ngeksploitasi..

    BalasHapus
  15. .... gak bisa ngomong apa-apa ~ #makjleb bener !

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah bener tuh...harusnya gak cuma sekedar jalan2 aja..tapi harus tetap jaga etika
      :-(

      Hapus
  16. speechless dan gue bookmark. tiap mau travelling kayaknya wajib dibuka dlu ini postingannya hehehe

    BalasHapus
  17. agak keras ya tulisannya....
    memang dampaknya bisa kita lihat di beberapa tempat, Bali dengan intrusi kultur asing, privatisasi di Lombok, serta "matre" nya suku Dani di Wamena...

    tapi saya melihat pada tahapan ini, kedua pihak masih dalam tahap belajar...
    baik masyarakat lokal maupun pengunjung (wisatawan), saya berharap ke depan kedua pihak bisa tumbuh dewasa bersama-sama...

    demi kemaslahatan semua pihak...

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Nendang banget Pak Lik...
    Saya langsung tepar setelah baca ini. #MakJROT!

    BalasHapus
  20. Tulisan yg bagus banget. Aku menyaksikan banyak sekali kerusakan di tempat2 wisata (contoh: sampah berserakan di danau purba derawan) tanpa perhatian sedikitpun dr tour operator yg ada (at least loh, soalnya klo turisnya dongo, harusnya tour operator mikir kalo rusak emange dia dpt duit juga nantinya?!). Gregetan! Hehehhe..

    BalasHapus
  21. Wacana keren...Semoga banyak manusia di luar sana yang membaca ini dan segera sadar akan tindakan bunuh diri-nya ... :)

    BalasHapus
  22. Halo broh. Boleh ya gw menuangkan pendapat gw tentang artikel lo yang sangat menarik ini 

    Secara menyeluruh, gw menyetujui tentang pendapat lo diatas. Semua tentang Travel Writer, Eksploitasi dari sebuah tempat (destinasi atau belum jadi destinasi), dan juga dampak-dampaknya terhadap alam, social dan juga Humanity itself.

    Travel Writer. Yes! Banyak banget yang sekarang menjadi Travel Writer. Terkadang gw punya beberapa pertanyaan tentang Travel Writer. Kenapa seseorang mau jadi Travel Writer? Atau mengapa Traveler itu akhirnya menjadi Travel Writer? Apa tujuan ia menulis? BIla tujuan ia menulis adalah untuk mendapatkan uang dan akhirnya ia mendapatkan hasil yang dapat digunakan untuk Traveling lebih jauh dan lebih lama lagi, berarti percakapan ini selsesai sampai disini.

    Tetapi bila ia mempunyai alasan lain, pembicaraan ini dapat dilanjutkan :). Sekarang gw coba kira-kira alasan Travel Writer untuk menulis. Mungkin alasannya adalah; “Untuk mempromosikan pariwisata (Indonesia pada khususnya)”. Yes! Ini adalah tujuan mulia. Dan semua orang dapat mempunyai peranan penting dalam membangun pariwisata sebuah daerah. Tetapi tujuan mulia ini juga bisa mempunyai efek negative. Seperti yg lo sebutkan juga bro, eksploitasi pariwisata yang berlebihan. Sebagai contoh adalah Pulau Sempu yang lo sebutkan lagi diatas.

    Perkiraan tujuaan kedua adalah untuk menunjukan bahwa dirinya mampu ‘discover new places’. BIla ia mampu kesebuah tempat yang jarang orang tahu tau kunjungi, mengapa lalu ia menulis tentang tempat itu? Apakah untuk menunjukan bahwa “Gw udah kesini looh, elo pasti belom pernah/tau” ? atau kalo gw kutip kata2 lo “Been there, pictured that,"? Haha ini agak lucu sebenernya kalo dibahas. Karena ini memang sungguh kekanak-kanakan. Yang lebih disayangkan lagi adalah: Essensi perjalanannya hanya untuk mendapatkan ‘Pride’. Dan tulisan itu hanya untuk memperbesar “Pride’ nya lagi. Haha funny…

    “Traveling is not to measure how capable you are to go there, but to realize how small you are in this world”

    Selanjutnya adalah tentang tulisan itu sendiri. Gw sendiri suka baca2 tentang tulisan2 traveling. Semua tulisannya memang menggugah. Dan biasanya dijelaskan juga tentang destinasi, how to get there, tips2, yang akhirnya membuat gw tau (Know). Nah mungkin kira2 tujuan selanjutnya adalah; Sang penulis ingin membuat sang pembaca untuk merasakan (Feel) hal-hal yang penulis rasakan disebuah destinasi atau tempat. Nah ini cakep nih sebenernya! Tapi pada prakteknya ga secakep ide yg gw bayangin. Contohnya adalah tulisan tentang sebuah pantai; Penulis menggambarkan tentang sebuah pantai yang indah, elok, breathtaking deh. Dan praktek “Feel” yang dilakukan oleh pembaca adalah foto2, snorkeling, dan aktivitas pantai lainnya. Padahal pada perspektif lain, “Feel” ini bisa berarti banyak loh. Bisa aja itu berarti lo berinteraksi dengan penduduk sekitar, mengenal kehidupan sehari-hari dan juga kearifan local mereka. Atau juga bisa memandangi sebuah pohon kelapa yang tinggi dan gagah, mengagumi ciptaan yang kuasa. Intinya adalah, rata2 Travel Writer kebanyakan menyajikan informasi agar sang pembaca bisa merasakan (Feel) yang penulis rasakan, tetapi menurut gw itu tidak cukup. Penulis harus juga menyisipkan ide tak hanya “Feel” tapi juga “Learn”.

    Traveler dan juga Travel Writer memegang sebuah tanggung jawab yang besar dalam pariwisata. Sebuah destinasi bisa marak dikunjungi bila sudah banyak infromasi yang dipublikasikan. Nah pertanyaanya adalah: perlu tidaknya sebuah daerah tersebut dipublikasikan? Seorang Traveler dan Travel Writer harus dapat menerka resiko terburuk yang mungkin terjadi bila sebuah destinasi tersebut dipublikasikan. Apakah dapat menguntungkan seluruhnya untuk daerah tersebut? Atau hanya mendatangkan income yang besar tapi menghancurkan alam, budaya, dan juga kehidupan sosial masyarakat daerah tersebut?

    Lanjutan>>>

    BalasHapus
  23. <<<Lanjutan

    Eksploitasi pariwisata memang terjadi karena banyak faktor. Seperti ada komen juga di atas tentang desakan ekonomi. Tetapi salah satu faktornya adalah publikasi dari para Traveler dan Trave Writer. Eksploitasi pariwisata yang berlebihan akan menyisakan segudang masalah di masa depan. Contohnya: anggaplah ada sebuah desa yang para Traveler dan Travel Writer publikasikan lewat buku, blog, atau social media. Desanya cakep banget pokoke, mayoritas mata pencaharian disana adalah bercocok tanam. Akhirnya pemerintah setuju untuk menjadikan desa tersebut menjadi tempat wisata. Dikembangkan deh tuh desa. Rame deh tuh akhirnya desanya sama turis lokal maupun asing. Terus banyak investor asing deh yang menanam saham disana. Yang akhirnya desa itu udah tereskploitasi bgt kayak bali. Tetapi berapa lama pariwisata disini akan langgeng? Apakah masih bisa bertahan sampai ribuan tahun? Anggaplah 100 tahun kedepan pariwisata di desa tersebut sudah mandek. Lalu apa yg terjadi akan kelangsungan hidup masyarakat disana dan juga keindahan alamnya? Para masyarakatnya mungkin sudah tidak bercocok tanam lagi. Mereka sudah biasa jadi guide ataupun perkerjaan lain di bidang pariwisata. Disaat pariwisatanya sudah mati, mereka mungkin menjadi tidak berdaya. Begitu pula dengan alamnya yang indah itu. Alamnya sudah tidak se-asri dulu. Meninggalkan banyak kerugian.

    Begitu aja nih bro pendapat dari seorang gw yang sok tahu ini. Maap bro kalo tulisan gw kayak ceker ayam. Maklum bro, gw gabisa nulis soale. Agak susah memang untuk merubah ide di kepala gw menjadi ketikan keyboard. BIlamana ada kata2 yang tidak berkenan, gw mohon maap yah. Kalo ada yg mau koreksi boleh kok  Thank youuu broooooh

    “Don’t tell me where you’ve been, tell me what you’ve learn”

    Regards,
    Mawski

    Ps: Bro, we should meet another time, and share the knowledge.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah komentarnya bernas. Mungkin akan saya jawab dalam tulisan yang lebih panjang. Saya sendiri sedang menyusun artikel apakah perlu ada political/social awareness pada sebuah destinasi. semoga bisa menjawab komentar anda ini.

      ya kita harus bertemu suatu saat.

      Hapus
  24. Tiba-tiba terdiam dan langsung nge-cek semua artikel traveling yang udah pernah gue buat. Bener juga, kayak petir yang nyamber di tengah siang bolong, tapi justru tanpa petir alam ini juga ga seimbang. Terima kasih Mas sudah diingatkan. Soal Pulau Sempu saya masih tunggu kelanjutannya lho. Kampanye bareng yuk. :-)

    BalasHapus
  25. Orang berbondong-bondong melabeli diri sebagai fotografer.
    Orang berbondong-bondong melabeli diri sebagai traveler (travel writer).
    Orang berbondong-bondong merasa cukup pandai jadi keduanya.
    Lalu mereka pun berbondong-bondong membodohi buminya sendiri.
    Ah, saya yang awam sudah lama gelisah soal apa yang mas Arman ungkapkan di atas. Hanya karena merasa cetek pengetahuan soal traveling menjadi tak pernah berani menuliskan soal ini.
    Semoga banyak dari mereka yang melabeli diri mereka sebagai traveler (writer) merenungkan hal ini baik-baik :)

    BalasHapus
  26. Allahumma aamiin.. :') rubah individu, trus ajak yg lain.. Sangat menyadarkan artikelnya.

    BalasHapus
  27. Saya mau berpendapat saja. Memang apa yg dikatakan mas arman ini ada benarnya. Cuma ya jangan semua pejalan dipukul rata seperti itu.. :)

    Saya menyambut baik seperti teman-teman travellerID yg ingin berkampanye. Yuk berbuat!

    Jadi, kapan kita mau berbuat? Toh sama aja kalo yg pada ngomong besar tp tanpa tindakan. Atau jangan-jangan yg malah berkoar sana sini cuma bisa berteori? Tanpa tau keadaan di lapangan yg sebenarnya? Ya soalnya sih, kegiatan org sok tau dan sok pintar itu sekarang sedang tren.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah benar bung adarmawans. Jika dibaca baik-baik tulisan saya. Ada kata sebagian besar, beberapa dan tidak semuanya. Tidak semua travel writer seperti itu. Sayangnya mereka yang bijak tidak punya panggung sebesar penulis yang abal2. Juga apa yang anda sampaikan benar, saya orang yang sok tau dan sok pintar. Soal perusakan cagar alam dan bagaimana saya melakukan aksi barangkali juga tak penting2 amat. Soal Sempu saya sudah melakukan riset sejak tiga tahun terakhir, juga bagaimana melakukan coexist antara manusia, pariwisata, dan penyu di Sukamade. Ah tapi itu tak penting.

      Hapus
  28. Wah saya yang termasuk suka labil, kekanak-kanakan, dan foto sana sini sambil bilang I was here. Nggak ada yang salah kok dengan pamer. Tapi tulisannya benar-benar menampar banget. Soal Sempu saya berkali-kali mengingatkan kepada kawan traveling sy bahwa disana bukan tempat wisata tapi cagar alam. Tapi dengan duit 20rb bisa dapat surat sakti dari aparat. hmmmmm...

    Saya sih meski bukan pecinta alam tapi penikmat alam cukup punya etika untuk selalu menjaga kelestarian tiap wisata alam yg saya kunjungi kok. Mulai dari sendiri dulu dengan tidak buang sampah sembarangan dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju.. saya juga fotografer kekanak2an yg seneng bgt rasanya bisa moto ini itu ditempat baru. Apapun itu yg saya anggap cukup menarik. Tp seharusnya yg perlu diangkat justru kesadaran para traveler untuk tidak merusak tempat yang ia kunjungi tsb. Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung. Jadi seperti apapun macam tulisan dan foto yg dilihat.. ya tempat tersebut ngga akan rusak.

      Hapus
  29. Saya sadar, saat saya mengajar Bahasa Indonesia kepada Bule dari Cape Town.
    Dari dia saya tau, ada daerah yang namanya "Raja Ampat" jauh sebelum Raja Ampat booming spt sekarang. waktu itu, Bule itu hanya hobi diving, memotret di dalam lautan raja ampat yang luar biasa, berbagai macam jenis ikan dari A-Z, dia memamerkan buku fotonya pada saya. Hanya dicetak 5 eksemplar olehnya.

    Saya bertanya, "Sir, kenapa kamu mau belajar bahasa indo, kalau hanya mau diving di raja ampat?"
    Dia menjawab, "saya mau buat hotel disana.." saya terkejut. Dan dia mulai memamparkan rencananya pada saya, gambar2 bangunan yang telah dia bangun bersama team nya, teman-teman South America....

    Saat saya tidak mengajar dia lagi.. , saya ingat sekali. 2 bulan kemudian, muncul tayangan di tivi tentang raja ampat. Film2 di buat di Raja Ampat, buku2 travel yang ngetop, warna-warni dengan icon perempuan yang ga mau pakai nama aslinya juga mengulas habis perjalanan mahal ke raja ampat.

    Saya sedih. Bahkan harta dan surga indonesia, dikuasai oleh negara lain. :(

    BalasHapus
  30. tak terbayangkan ada tulisan seperti ini. saya sudah membacanya...

    BalasHapus
  31. Tulisannya bagus dan menjadi bahan perenungan banget mas', doa saya adalah semoga makin banyak orang yg baca, tidak sekedar baca, tetapi juga ikut berubah pemikirannya.

    Mohon izin untuk saya share ya mas' :D

    BalasHapus
  32. Tulisan yang bagus dan menyengat. Terima kasih sudah berbagi kegelisahan.
    " Apakah mereka tidak akan berhenti sampai surga terakhir dieksploitasi?"

    BalasHapus
  33. Tulisan nya mak jleb banget...
    Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita, traveller bukan hanya menikmati tetapi turut menjaga..

    Saya ijin sharing artikelnya di grup travelling/backpacker ya mas.. :)

    BalasHapus
  34. ndak ada truwelu writer kak?

    BalasHapus
  35. Makjleb banget jadi ikut ke tampar-tampar.

    BalasHapus
  36. Saya jadi travel visitor aja lah,itu tuh,yang di Mabes...

    BalasHapus
  37. Ini artikel atau tangan, sik? Memar nih di pipi. *brb cek semua artikel di blog sendiri*

    BalasHapus