Selasa, 26 Februari 2013

Sulur Rindu

Kekasihku yang manis meski tanpa riasan. 

Kutuliskan rindu beserta beberapa buah doa yang kupetik ketika subuh baru saja datang dan matahari menyisingkan cahayanya yang silau. Di dalamnya ada beberapa sajak cinta, sepotong maaf dan selembar harapan. Bahwa kelak ketika kita bertemu. Aku dan kau akan berhenti bertengkar perihal jumlah anak, perdebatan tentang antara memelihara anjing atau kucing, atau betapa tidak masuk akalnya memakan indomie goreng dengan nasi. Kita hanya akan bicara tentang puisi, tentang air panas, ranjang yang empuk dan berpelukan seraya berpikir bahwa pagi hari adalah saat yang paling purna untuk kembali tidur dan ogah berpikir tentang masa depan.

Kekasihku yang lugu meski selalu ragu.

Kutitipkan pula sekarung harapan yang kusiangi pelan-pelan agar seluruh tubuhnya sempurna dan segar ketika sampai padamu di pulau timur jauh. Karung itu kupinjam dari si fulan yang baru pulang melaut setelah sewindu ia mengadu nasib di samudra barat. Karung itu ia bilang bisa menyimpan harapan yang paling liar, paling bengis dan yang paling nakal sekalipun. Tentu saja sayangku, harapanku ini tak berjenis demikian. Harapanku adalah rintik haru tangisan kita seusai pertengkaran yang sengit. Kita seringkali lupa betapa cinta itu yang melandasi luka. Kuharap kau disana menyimpan banyak perban dan obat merah. Karena ketika kusiangi harapan-harapan itu, beberapa durinya menusukku dalam. Semoga bekas darahnya telah bersih kuseka dan kau tak perlu tertusuk duri yang sama.

Kekasihku yang lucu meski selalu cemberut.

Kubacakan sepenggal berita tentang harga kredit rumah yang naik hingga mencekik gaji kita yang tak seberapa itu. Mampukah kita masih bermimpi tentang rumah dengan sebuah halaman sederhana di belakangnya? Tentang rumah dengan petak kebun bunga, sayur bayam dan juga kandang ayam. Sehingga jika pagi kukuk ayam jantan brengsek itu membangunkanku dari tidur yang hanya beberapa jam itu. Harga kredit rumah yang kepalang brengsek ini apakah akan membuat kita bekerja seperti kuda? Kau dan aku dan mungkin beberapa anak kita? Entahlah kasihku.

Kekasihku yang santun meski selalu manyun.

Kuingatkan kau untuk tak pernah lupa mengikuti misa pagi. Bertemu tuhan di hari minggu, apa yang lebih asyik dari itu? Ketika sebagian dari kita tenggelam dalam tidur pulas setelah semalaman berpesta hingga pagi. Kau dengan gaun putih dan membawa alkitab membacakan firman-firman tuhan. Lantas membuat tanda salib di depan rosario. Aku yang sudah lupa makna beribadah ini hanya bisa mendekati tuhan dengan memandangimu menjadi salih. Aku lupa cara membaca Al Quran. Juga lupa cara mengucap takbir. Tapi semua itu hanya sementara. Semoga.

Kekasihku yang baik dan tak pernah mendendam.

Kulantunkan sepenggal lagu Moldy Peaches untukmu. Anyone but you. Bahwa kau dan aku adalah sepasang ugly people yang saling mencintai. Kita lebih sering bertengkar daripada jumlah presiden SBY mengucapkan kata prihatin. Kita lebih sering diam-diam ngambek serupa anak SMP berdebat perihal remeh temeh konyol daripada jumlah kita saling merayu dan bertemu. Tapi bukankah hal yang demikian membuat kita bebas untuk jadi diri sendiri? Jujur dan memahami satu sama lain? 

Kekasihku yang jauh. Sudah ya? Aku harus revisi lagi agar cepat wisuda dan kita bisa menikah. Mungkin agak lama. Tapi lebih baik daripada kita berkelahi lagi bukan?

Senin, 25 Februari 2013

Motion Arena dan Kebangkitan Indiegarden Jember



"Ja Akoe akan dibaca," kata Max Havelar dalam novel masyur karangan Multatuli, alias Eduard Douwes Dekker, yang ditulis pada tahun 1860. Entah mengapa hari itu, warung kopi cak wang, tempat saya menulis seharian memutar lagu-lagu jazz. Tidak seperti biasanya memang. Hari itu rekan-rekan dari komunitas musik indie Jember dan beberapa pegiat fotografi sedang ada kenduri sosial. "Motion Arena Dhan. Acara ini semacam release video clip musik dari beberapa band indie Jember," kata rekan saya Romdhi Fakhturozi yang kebetulan juga dosen program studi film dan televisi di Universitas Jember.

Sejak seminggu sebelumnya Romdhi sudah ramai mengganggu saya untuk hadir di acara ini. Bahwa acara ini penting untuk pengembangan komunitas musik, terutama musik indie, di Jember. Ia bilang ada beberapa karya video yang ia bikin dipertunjukan dan butuh masukan dan kritik. Di lain kesempatan ia pernah beradu pendapat dengan saya tentang kritik. "Kita disini (Jember) masih belum familiar dengan kritik. Mereka masih sungkan-sungkan," katanya. 

Agak lucu sebenarnya bagaimana sebuah komunitas berbasis musik harus memulai langkah besarnya dari medium visual. Kalau memang total bermusik ya bermusik saja. Bikin karya yang bagus. Distribusikan dan biar khalayak yang menilai. Toh banyak band indie di kota lain yang memakai metode ini dan baik-baik saja. "Tapi kota lain sudah punya budaya musik yang baik. Komunitas mereka hidup dan taste mereka sudah dibentuk," kata seorang pada satu waktu.

Apakah benar demikian? Kota ini sedemikian menyedihkankah sehingga perlu stimulan luar untuk bisa berkembang. Awalnya saya pikir Fingger, nama komunitas indie Jember, sudah sangat baik karena mampu menghasilkan band yang lumayan keren. Seperti Upnormal dan  Lin D band keren yang sudah saya kenal sejak SMA dulu. Hari ini ada The Bajahitam yang sejak lama sudah saya nantikan rilis album terbarunya. Setidaknya dengan barisan nama besar itu Jember tak punya alasan untuk merasa kecil atau inferior.

"Jember anak bandnya gak satu (kompak) mas. Masih ada gap-gapan satu sama lain," kata seorang kenalan saya. Ah tak masalah, toh dalam tiap proses kreatif terkadang dibutuhkan musuh untuk bisa meningkatkan kreatifitas kita. "Tapi ini beda. Kadang mereka cuma bikin musik apa yang trend saat itu. Sudah abis trendnya ganti lagi alirannya," kata kawan saya itu. Ah masa sih? Mentalitas anak muda di Jember seperti itu? Sejauh yang saya ingat mereka adalah creative minority yang pejal. Menolak untuk tunduk dan sigap melawan status quo.

Ketika Jeff Leven jurnalis Paste Magazine melahirkan terma Indiegarden, ia bicara dengan sinis tentang sebuah skena. Bahwa seringkali ekslusifitas sebuah komunitas membuat mereka lena pada sebuah status yang maha tahu dan kenal terlebih dahulu. Tanpa adanya upaya transfer of knowledge sehingga apa yang disebut cult akan tetap terjaga. Tapi di sisi lain ia juga mencoba memberikan sebuah wacana tentang distribusi pengetahuan dan keadilan untuk mendengarkan apapun tanpa harus dituduh sebagai seorang peniru atau ikut-ikutan.

Jeff barangkali berusaha adil untuk menyatakan bahwa siapapun berhak belajar mendengarkan Godspeed You Black Emperor, meskipun ia juga menyukai One Direction. Bahwa siapapun berhak mendengarkan Wilco meski ia penggemar berat Rihana. Indiegarden berbicara perihal usaha menyadari di luar trend yang coba disesakan MTV ada beberapa musik kanon yang layak didengarkan. Dan tak ada salahnya mencari selera musik sendiri dari berbagai aliran musik yang ada.

Ikhsan Sasmita, vokalis the bajahitam, dalam banyak kesempatan sering berkata tentang ini. "Bukan tentang siapa yang tahu duluan atau siapa yang paling paham. Tapi soal sharing." katanya. Ia benar. Sebuah komunitas selayaknya bekerja sebagai keluarga berbagi dalam berbagai hal. Hal ini juga berarti memberikan kritik yang jujur dan apa adanya. "Kita masih belum terbuka pada kritik. Masukan keras seringkali dianggap gak suka," lanjutnya.

Menjadi tahu roots sebuah aliran musik tak berarti kita harus menjadi ronin yang bekerja sendiri. Di UK kita mengenal skena musik Madchester yang lahir di akhir 1980an di Kota Manchester. Berkembang di sebuah klub malam bernama The Haçienda, konon sih kata wikipedia dimiliki oleh band legenda New Order dan Factory Records. Bayangkan jika Warung Kopi Cak Wang di Jember ini bisa melakukan hal serupa. Mencoba apa yang dilakukan The Haçienda sehingga bisa membidani band kanonik macam Happy Mondays dan The Stone Roses.

Tentu tak adil membandingakan Jember dengan Manchester. Dengan standar apapun tentu Jember memiliki kelemahan yang sangat besar. Lubang yang tak mungkin bisa membuat kota ini setara dengan mereka. Namun bukan berarti kita tak bisa mengadopsi pola gerilyawan para pegiat indie di kota itu bukan? Dalam artikel lain Guardian bercerita bagaimana skena musik Inggris dibangun dari apa yang mereka sebut sebagai Toilet Circuit. Sebuah cafe atau pub yang cukup sempit untuk bisa menampilkan band secara sederhana.

Seringkali dalam sebuah komunitas bukan tentang jumlah yang hadir, tapi siapa yang peduli dan mau mendengar. "Jember punya potensi," kata Ikhsan. Saya suka semangatnya serupa sebuah semangat yang pernah saya dengar. "Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin," pada beberapa hal kalimat ini merupakan sebuah motivasi yang baik. Bekerja secara nyata, sekecil apapun itu, lebih dari sekedar kata-kata kosong yang harus kita bayar mahal dari mulut motivator medioker.

Sebenarnya saya sudah kehilangan selera untuk bicara tentang komunitas musik. Terlalu banyak scenester yang meracuni proses kreatif hanya karena ingin dikenal. Dalam sebuah artikel yang pedas dan keji Noisey menuliskan enam alasan untuk mengakhiri sebuah skena. Salah satu alasan yang paling masuk akal adalah sebuah komunitas seringkali hanya diisi oleh orang yang itu-itu saja. Ketika ada orang baru akan ada sebuah rasa jengah. Hal ini diperparah oleh keberadaan orang-orang yang terlanjur menjadi berhala karena lahir duluan dan eksis duluan dalam komunitas itu.

Saya tak berkata bahwa Jember mengalami hal ini. Lebih dari itu saya salut dan menghormati bahwa ada beberapa senior skena yang masih mau turun dan berproses bersama. Salah satunya adalah Arie dari netlabel Mindblasting yang saya temui di Jogja ketika acara netlabel union. Orang ini adalah versi slackers dari Jendral Soedirman. Ia bercita-cita mengembangkan musik Jember dengan netlabel yang dimilikinya. "Saya bukan orang Jember. Cuma kuliah disana. Tapi saya punya ikatan dengan kota itu," katanya.

Skena musik di kota Bandung, Jakarta, Medan, Jogjakarta dan Malang mulai bergiat dari hal hal sederhana. Dari lingkar kecil pertemanan yang bergerak dengan sebuah tujuan sederhana. Bersenang-senang bersama kawan. Sebuah skena musik semestinya egaliter, mudah diakses dan yang jelas ia adalah tempat dimana siapapun bisa menjadi diri sendiri. Ekslusifitas sebuah komunitas hanya berarti satu hal. Elitisme. Elitisme adalah hal terahir yang dibutuhkan sebuah skena musik untuk bisa maju.

Tak ada salahnya menetapkan standar tinggi dalam proses pembelajaran. Kita bisa belajar bagaimana Jogja dan Malang hari ini mulai bergeliat dalam skena musik Indonesia. Komunitas kreatif, seniman, musisi dan penulis yang dulu didominasi oleh Jakarta atau Bandung mulai terkikis. Mulai dari zine kreatif macam Wave-E Zine di Medan dan Majalah Sintetik di Malang. Atau netlabel online semacam Yesnowave dan creative collective teater Garasi di Jogja. Nama-nama besar ini tidak lahir dalam sehari, seperti juga Roma tak dibangun dalam waktu semalam. Semua berasal dari proses panjang yang konsisten.

Tentu kita harus menyadari kemampuan diri sendiri dan melihat bagaimana keadaan kota Jember sendiri. Tapi semangat skena musik indie bukan sekedar unjuk pamer belaka. Saya kira rekan-rekan di Jember paham ini. Motion Arena lahir dari semangat itu. Bahwa sendirian komunitas musik Jember barangkali hanya akan jalan di tempat. Perlu ada kerja sama. Perlu ada kolaborasi dari orang-orang yang ingin berubah dan mengembangkan diri.

Whisnu Bakker, salah satu pegiat scene musik dan video maker di Jember, melihat Motion Arena sebagai ajang untuk menggali kreativitas. Bekerja sama dengan The Bajahitam ia memproduksi musik video untuk lagu M.O.N.S.T.E.R. Butuh waktu sekitar satu bulan bagi dia untuk melakukan riset, eksekusi tema, pengambilan gambar hingga editing kelar. Meski mengaku pro bono Whisnu melihat video ini sebagai simultan untuk membakar komunitas. "Jangan sungkan memberi masukan. Kritik keras juga tak apa," katanya.

Skena musik Indie Indonesia barangkali mulai mengadopsi medium medio sebagai katalis promosi saat MTV asia masih berjaya. Bukan untuk rebutan reputasi dan berharap bisa masuk dalam TV, tapi lebih kepada alternatif cara untk melakukan promosi visual terhadap band mereka masing-masing. Saya tak pernah setuju ini. Musik harusnya didengarkan sebagai sebuah suara an sich. Dulu sebelum ada televisi, piringan hitam dan radio adalah perang bagi musisi untuk melahirkan musik yang baik bagi para pendengarnya.

Tapi toh hal ini tidak salah. Mocca, Naif, My Pet Sally dan Es Nanas adalah beberapa band Indie Indonesia yang saya kenal awal dari teaser video. Ironisnya saya mengenal mereka dari MTV yang selama ini dikutuk keberadaanya. Chanel musik inilah yang pada Agustus 1981 pertama kali mengudara dan secara komikal memutar video klasik The Buggles "Video Killed the Radio Star". Saat itu seluruh dunia sedang riuh dengan perang dingin dua blok negara raksasa. Kelahiran video musik adalah eskapisme sempurna dari tengiknya politik dunia.

Tapi mari kita kembali ke Jember. Pentingkah adanya video musik untuk sebuah musik yang bahkan tak memiliki kemapanan persaudaraan? Saya pribadi awalnya skeptis atau lebih tepat apatis. Saya tak pernah percaya apapun kecuali buku. Tapi malam itu di sudut warung Kopi Cak Wang Jember, di tengah keriuhan yang hangat. Pegiat musik jember berkumpul dan melihat hasil karyanya masing-masing. Musisi melihat interpertasi lagu mereka dalam frame-frame yang diciptakan Video Maker. Jurang perbedaan medan kerja adalah nihil. Yang ada malah harapan.

Romdhi kawan saya yang juga Master dalam bidang komunikasi visual pernah berdebat panjang tentang bagaimana pengaruh budaya visual pada masyarakat. Bahasa visual adalah bahasa yang paling mudah dipahami oleh siapapun. Berbeda dengan text (tulisan), media gambar bisa memberikan pemaknaan yang ganda dan berlapis dalam satu waktu. Hal yang barangkali susah dilakukan oleh tulisan. "Motion Arena ingin mengeksploitasi itu. Setidaknya mereka suka gambarnya dulu baru nanti coba dengarkan musiknya," kata dia.

Saya mengamini Romdhi. Motion Arena bekerja seperti prinsip Bieber Effect. Sebuah leksikon yang lahir akibat fenomena Justin Bieber dan youtube. Kredonya sederhana "Di youtube siapapun bisa terkenal, siapapun bisa bernyanyi dan siapapun bisa jadi bintang". Tema ini usang. Karena puluhan tahun lampau begawan Pop Art Andy Warhol telah meramalkan ini dalam kalimat masyurnya "In the future," katanya "Everybody will be famous for 15 minutes,"

Youtube adalah sarana paling penting dalam perkembangan social media 2.0. Ia mudah diakses, gratis, menawarkan sistem promosi yang baik dan yang jelas siapapun bisa menggunakannya. Gangnam style, Youtube indie star, Harlem Shake adalah sedikit dari fenomena yang lahir dari sini. Motion Arena bisa memanfaatkan medium ini dan menjadi terkenal jika dilakukan dengan tepat. Tapi saya berharap terkenal bukanlah standar ukuran capaian. Lebih dari itu Motion Arena adalah ajang bagi anak muda kreatif Jember untuk berproses kreatif.

Motion Arena adalah sumbu awal dari ledakan ledakan lain yang akan lahir di Jember. Dengan akses internet yang maha luas. Music Streaming, Net Label dan file sharing adalah salah satu dari sekian banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa menghidupi skena musik. Kebuntuan pada satu cara yang konservatif hanya akan membuat kita terpasung dan ogah bergerak keluar. Sedikit banyak saya berharap The Bajahitam akan menjadi pioner band Jember yang berproses di netlabel.

Netlabel adalah cara lain untuk bisa menghidupkan sebuah komunitas. Frau, soloist Jogja, mulai memasarkan musiknya secara online dengan netlabel yesnowave asuhan Wok The Rok. Dengan membagikan musik gratis ia terbukti sukses menyebarkan karyanya secara luas. Apakah ia rugi? Tidak. Sampai hari ini “Starlit Carousel” terjual lebih dari 2.000 keping. Gratis dalah cara jual paling elegan dan paling efektif untuk memulai karir saat ini. Harapan untuk menjadi sukses dan dihargai karena karya sendiri bukan lagi hal yang mustahil.

Memelihara harapan barangkali adalah tindakan paling membosankan. Ia seringkali berkhianat pada kita ketika semangat menggebu, akan selalu ada saja rintangan yang mengganggu. Pada sebuah perbincangan yang intim, namun singkat dengan Cak Rahmad, salah satu dedengkot skena anak muda Jember. Kami memimpikan sebuah komunitas yang egaliter, kreatif dan utilitarian. Dibangun dari kebutuhan dan kebersamaan yang positif. "Jember bisa jadi kota hebat dan. Kita cuma perlu anak muda yang mau kerja," katanya.

Ia dengan sukarela ingin membiayai sebuah Zine yang berisi tentang kegiatan dan pemikiran yang bisa mendorong anak muda Jember bergerak. "Setidaknya dengan Motion Arena, pertemuan di Akber Jember, ada satu dua anak Jember yang mau bekerja,". Saya ingin membantu tapi cukup tahu diri bahwa saya bukanlah tipe orang yang bisa menepati janji. Waktu itu komitmennya adalah saya akan membantu siapapun yang ingin belajar menulis, akan dibantu sebisanya.

Tapi sampai hari ini Zine itu tak pernah terbit. Saya berharap Motion Arena tak berakhir menjadi sebuah one hit wonder yang ada ketika kita terangsang. Lantas usai ketika kita mencapai orgasme. Multatuli selalu membuat saya ingat bahwa setiap tetes keringat kerja kreatif akan selalu diingat. Semoga saja ada anak muda Jember hari ini yang mau total berproses dan berkata "Ja, akoe akan diingat,"

Jumat, 15 Februari 2013

Gombrich, My Bloody Valentine dan Sederet Klaim


Ketika kritikus seni paripurna penyusun Story of Art, E H Gombrich, berbicara perihal propaganda, ia bicara tentang sebuah kemajemukan yang lahir dari bisik-bisik dan desas desus. Bahwa kesenian (tak terbatas pada seni rupa saja) bisa saja lahir dari klaim yang dibikin seseorang. Bisa juga lahir dari keisengan dan rasa bosan. Sebut saja suara-suara sengau nir melodik yang dilahirkan oleh My Bloody Valentine (MBV) yang diklaim sebagai sebuah pencapaian jenius dari kebosanan monoton warna musik pada zamannya.

Tapi benarkah demikian?

Awal Februari lalu Kevin Shields cumsuis merilis album yang bertajuk m b v setelah dua dekade mengambang antara ada dan tiada. Album yang oleh beberapa kritikus musik, dengan nada seloroh, mampu menyelamatkan dunia dari akhir zaman. Klaim ini bukan sembarangan. Setidaknya ketika The Quietus merilis review atas musik yang dianggap sebagai “sesuatu yang segar dan berbeda” lantas dilanjutkannya dengan bahasa khas agitasi propagandis lainnya sebagai “penantian menahun yang lunas terbayarkan” beberapa orang membenarkannya.

Dengan klaim semacam ini tak salah jika m b v digadang-gadang sebagai album terbaik sepanjang awal tahun 2013. Setidaknya bagi mereka penganut teologi urban, shoegaze. yang memuja anxiety, nausea, sesak nada dan bising yang bertalu. MBV bisa jadi adalah penggambaran mutlak nubuat ratu adil dari usangnya genre ini dikebiri keturunan mereka sendiri. Setelah post rock, yang akhir-akhir ini berkembang menjadi skena yang lebih genit dari emo, membuat shoegaze tak lebih dari artefak kuno. Generasi hari ini yang melewatkan kejayaan Slint dan Tortoise, akan menganggap MBV hanya sekedar repetoar membosankan.

Tapi mereka lalai. Kevin Shields, Bilinda Butcher, Debbie Googe dan Colm Ó Cíosóig telah lama menjadi mitos ketika terma shoegaze dilahirkan.

Tentu sebagai fans generik shoegaze yang baru berkenalan dengan genre ini tiga tahun lampau saya tak punya kapasitas untuk melakukan sebuah kritik. Apalagi juga karena MBV adalah salah satu dari sederet band yang menyelamatkan saya dari kedunguan taste MTV dan chart ampuh manapun. Tapi pekik takbir tak mungkin tak saya ucapkan ketika dua hari setelah rilis, piratebay sudah menyediakan tautan m b v secara cuma-cuma. Tanpa membuang waktu saya segera memutar album ini dengan headphone terbagus untuk bisa menikmati musik ini secara total.

Telaah seusai dua dekade

She Found Now membuka album ini dengan bisik lirih harapan. Dentuman drum repetitif yang memulai lagu ini dijamin membuat motivator manapun terpuruk murung. Apalagi ditambah dengan rengekan gitar yang dipetik malas-malas. Wajah lagu ini memang dibuat sumbing untuk mengingatkan betapa membosankannya nuansa pop dari artis karbitan youtube hari ini. Akhirnya saya bisa percaya mitos yang mengatakan bahwa Kevin Shields bisa menghabiskan waktu seharian untuk memutar dan mencari tone nada yang sesuai hanya untuk memulai rekaman lagu.

Kevin Shields bersama MBV sudah kepalang brengsek perihal menciptakan suara-suara asing serupa igauan mesin apokaliptik akhir zaman. Ia barangkali adalah berhala yang luput dihancurkan internet. Klise ini bisa digambarkan secara literer melalui sembilan nomor lagu dalam album ini. Meminjam terma Auratic ala Walter Benjamin. Pada album ini keterlepasan harapan untuk memahami musik sudah bukan lagi acuan. Mereka membuat karya hanya untuk memuaskan ego pribadi sebagai umpatan kepada pendengar apakah mereka memahaminya atau tidak.

Coba saja dengarkan nothing is yang berisi repetisi beberapa baris nada yang dilakukan dengan persis sama selama tiga menit 12 detik, lantas ditutup dengan suara perkusi yang terbengkalai. Maka diktum Gombrich yang berkata tak pernah ada seni yang ada hanya seniman adalah upaya melanggengkan berhala-berhala. Tak peduli karya apa yang lahir, tapi siapakah yang melahirkan. MBV dalam hal ini memberhalakan Kevin Shields. Sehingga untuk melepaskan dua nama yang tumpang tindih ini hampir mustahil.

Meskipun terasa memuakan akibat pekatnya lapisan noise yang menjadi struktur utama album ini. Namun dalam m b v kita bisa menemukan humor yang kecut. Coba tengok narasi lembut if I am, yang lamat-lamat berbicara perihal jatuh cinta. Tak perlu memahami semiotika untuk menyadari bahwa kita bisa berdansa dengan aneh sambil menikmati lagu ini. Juga tak perlu berusaha terlalu keras untuk mengambil jarak dari apa yang sudah kita sepakati sebagai sengau bertutur.

Lantas bagaimana seharusnya m b v dimaknai sebagai sebuah karya estetik? Sekali lagi mau tak mau saya harus meminjam terma usang Gombrich ‘the riddle of style’ dalam Art and Illusion and The Image and the Eye. Bahwa sebenarnya ketika sebuah karya seni tak bisa langsung dinikmati secara kasat mata (dalam hal ini kasat telinga) maka perlu adanya usaha penafsiran. Kita dalam hal ini menempatkan orang-orang yang dianggap sebagai kritikus (musik) untuk memberikan penjelasan. Perihal apa itu shoegaze, mengapa m b v penting dan lebih lagi mengapa ia wajib didengarkan.

Beberapa kritikus menempatkandiri mereka seperti Oracle yang meramalkan masa depan dengan metafora yang justru membuat m b v tadi jatuh pada kategori fine art. Tapi perlu diingat terma fine art atawa seni tinggi akan membuat para pemirsanya adalah kalangan terbatas. Hanya mereka yang benar-benar terdidik pengetahuannya terhadap shoegaze itu sendiri yang memahami. Sehingga mereka yang baru berkenalan akan susah menelan dan mencerna kata dan definisi yang berkelindan di antaranya.

Melanggengkan MBV sebagai sebuah kanon dengan kata-kata berat hanya akan melahirkan elitisme baru. Tapi memahaminya tanpa memiliki pemahaman yang baik perihal skena yang berkembang secara pretensius seusai gema glam rock adalah kesia-siaan. Musik gelap nan muram ini bukan lahir tanpa alasan. Ketika Isn’t Anything dirilis akhir 1 Nopember 1988. Dua tahun berturut-turut setelahnya Inggris mengalami tragedi. Seolah musik ini secara profetik meramalkan kedukaan bagi korban terbaliknya kapal Zeebrugge, terbakarnya kilang minyak Piper Alpha, peledakan Pan Am Flight 103, dan tragedi stadion Hillsborough.

Tapi apakah m b v sehebat itu? Tunggu dulu. Dalam tulisan lain Idhar Resmadi yang mendedah Post Rock  lantas mencetuskan sebuah perbincangan yang menarik. Ketika ia menawarkan konsep “kata sebagai pesan” dan “musik sebagai pesan”. Saya menilai dua terma ini tidak bisa atau belum mampu menjabarkan album baru MBV secara utuh. Kebisingan, suara asing dan keterlepasan saya kira adalah kunci untuk memahami album ini. Sehingga perlu adanya terma ketiga “bunyi sebagai pesan” adalah yang paling tepat.

Terma yang sama juga pernah lahir dari kumpulan esai dari Hartojo Andangdjaja yang berjudul dari sunyi ke bunyi. Kesunyian yang mewakili keterasingan dalam album ini lahir dari jeda dentuman drum pada tiga lagu terakhir album m b v.  Suara lengkingan gitar yang seolah ditarik pada Wonder 2 membuat saya seolah menikmati sensasi astral melepaskan diri ketika mendengarkannya seraya menutup mata. Perasaan sublim yang kental menggeliat seperti hendak keluar dengan teburu-buru.

Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua. Ketika Shoegaze berupaya bereksperimen dengan bunyi, seperti yang diadopsi oleh Godspeed You Black Emperor dan Neurosis, penikmat musik tradisional lebih berusaha memahami notasi nada daripada bunyi eksperimental. Jika tak benar-benar tekun maka indiegarden manapun akan terpental ketika pertama kali menikmati lagu MBV. Di sini perlu pengantar yang baik mengapa percobaan menciptakan suara-suara bising adalah sebuah karya adiluhung. Kesunyian yang pekat dipadu dengan kebisingan yang rapat.

Sementara In Another Way terlepas dari karakteristik gegas pada notasinya adalah sebuah lagu dengan syair yang paling subtil "Close enough to be alive / So it feels lost"  ada pernyataan hidup yang kemudian coba dinegasikan. Lebih lanjut syair itu berulang dengan kata arkaik semacam "Another way to settle down / I'll live forever / Another life," tak perlu tafsir dari Goenawan Mohammad untuk meyakini bahwa lagu ini adalah perihal kematian yang lekat dan harapan.

Preposisi Propaganda

Selain pada syair, kekuatan utama dari MBV adalah pada ketidakteraturan suara dan nada yang justru menciptakan musikalitas yang unik. Pengalaman mendengarkan ini akan secara transenden menjadi sangat intim bagi masing masing individu. Ben Cosgrove, editor life.com, mengungkapkan musik dalam album ini sebagai “getting closer to the heart of the sonic mystery they’ve been pursuing for most of their lives, and it’s mesmerizing to accompany them on the hunt.” Berlebihan? Tentu saja. Tapi sekali lagi pengalaman relijius dalam mendengarkan musik selalu personal.

Kesederhanaan juga adalah rumus penting yang jarang dilewatkan MBV dalam setiap karyanya. Gombrich dalam sebuah artikel menyebut kejeniusan ini sebagai sebuah upaya yang berat. Tapi ketika kesederhanaan ini mampu dirumuskan dengan baik, i akan lahir sebagai promosi murah dan efektif. “To make things ‘plain appear’ simply and silently,” kata Gombrich, “has sometimes been the most powerful effect of great propaganda artists.

Tapi seberapa penting sebuah propaganda? Dalam kasus MBV ia bicara tentang sebuah band yang bungkam vakum selama 22 tahun. Mereka butuh dari sebuah reputasi sebagai santo Shoegaze untuk kembali hadir dan diterima oleh telinga hari ini. Paska kematian Napster dan kedigdayaan I Tunes musisi berusaha mencari cara paling singkat dan murah untuk menjajakan karya mereka. Termasuk juga MBV yang menyadari bahwa internet sebagai ruang publik bisa menjadi beranda tempat mereka berdagang.

Berbulan sebelum akhirnya m b v rilis, desas-desus disiarkan, kabar dibagi, dan ruang diskusi dibangun. Bahwa album MBV kali ini adalah sebuah revisi atau katakan versi 2.0 dari Loveless. Semua so called pengamat yang kebetulan lahir dan besar ketika kejayaan shoegaze tergoda. Album seminal yang menjadi revisi dari Loveless? Mimpi basah ini membuat banyak zine dan penikmat musik menjadi terbata dan lena dalam fantasinya masing-masing.

Bukan berarti saya menihilkan peran kreatif MBV. Namun di tengah deru kebiadaban layanan peer to peer bahkan Goliath sebesar MBV juga butuh makan. Para indiegarden yang baru barangkali akan kesulitan untuk memahami bising nada yang dihasilkan band asal London ini. Tapi kekuatan social media juga lahirnya kritikus-kritikus musik bonafid, yang cenderung sudah akrab pada band ini, membuat Kevin Shields semacam the lost ark.

Apalagi ketika kolumnis the noisey, John Doran, menuliskan review pendek bagaimana Tony Blair, yang mencanangkan Cool Britania, akan menolak perang Iraq jika m b v tak terlambat dirilis. Internet, terutama para cyber snobs, bergelinjang. Klaim maha dahsyat ini memang mirip teori konspirasi ala FPI ketika melihat eyes of Horus dalam video clip Ahmad Dhani. Propaganda murah, cult-isme, dan keengganan MBV bersuara adalah promosi jitu untuk mendongkrak pamor band yang hampir tenggelam ditelan zaman ini.

Pada zaman ketika informasi adalah akses pada kekuatan. Evgeny Morozov meramalkan internet sebagai “quasi-religion of Internet-centrism” label ultra tendensius untuk menggambarkan betapa spin doctor alias penggoreng isu mampu membuat sebuah hal sepele menjadi perdebatan sengit. Twitter, Facebook, Tumbler dan segala social media yang berbasis real time akan menjadi kawah candradimuka informasi. Manusia tak lagi sempat memilah mana yang benar dan salah. Bahkan seringkali di Twitter, seseorang akan menelan bulat sebuah tajuk berita tanpa menelaah isinya.

Di sini barangkali keberuntungan (atau kejeniusan?) Kevin Shields dan MBV yang memanfaatkan internet ketika mereka merilis album dijital mereka. Menyadari bahwa kita tak bisa berharap banyak pada label dan distributor, seorang musisi bisa memanfaatkan kecangihan internet untuk menjual karya mereka secara otonom. Bebas pemotongan manajer atau biaya promosi. Fans, seperti saya, akan suka rela mengabarkan betapa m b v adalah magnum opus lainnya. Tentunya hal ini akan mempengaruhi pendengar lain untuk segera membeli album tersebut.

Sekali lagi ramalan Gombrich bahwa sebuah karya seni akan berbicara sendiri, ketika penciptanya mampu memberikan sebuah pandangan yang membuka. Bahwa kesenian yang sederhana adalah karya yang akan menjadi propaganda paling awet dan mutakhir. Dalam hal ini m b v telah menjadi legenda bahkan sebelum ia dilahirkan. Tapi secara musikalitas? Well saya jelas tak akan menjadikan album ini sebagai lagu pernikahan saya. Mumford and Sons lebih dari romantis untuk peran itu,

Minggu, 10 Februari 2013

Setelah Coldplay

Anatomy of Melancholy karangan Robert Burton, seorang Satiris yang menyebalkan, barangkali ditulis dengan sebuah keresahan. Barangkali juga dengan kesombongan, karena mencoba menjelaskan melankolia dari berbagai sudut perspektif pengetahuan. Tapi apapun sebabnya buku yang konon setebal 40.000 halaman itu bicara tentang perasaan yang jujur. Bahwa kehilangan tak melulu soal luka. Ia adalah pernyataan cinta yang detil namun dalam satu waktu keruh. Sebuah hal yang selama ini seolah kita ketahui tapi tak pernah benar-benar kita pahami dengan utuh.

Tapi sebenarnya apakah kehilangan itu? Apakah kematian? Apakah putus cinta? Apakah ditolak? Tapi di atas itu semua, pertanyaan sebenarnya adalah apakah kalian pernah kehilangan? Kehilangan yang begitu menyakitkan sehingga segala tatanan dunia wajar dan indah bagimu, hanyalah sebuah kelindan imaji yang tak lebih dari bayangan? Kehilangan yang begitu perih, sehingga kau berhenti percaya segala hal termasuk dirimu sendiri. Kehilangan yang begitu merusak, hingga menahun kau hanya bisa bangun tidur dan bergerak secara otomatik, selayaknya mesin gir dengan rantai kerja yang membosankan.

Aku pernah merasakan kehilangan yang semacam itu. Kehilangan yang terlalu prosais untuk bisa diterjemahkan dalam kata-kata. Bukan saja akan hiperbolis namun juga terlalu melankolis. Seolah-olah kehilangan yang aku rasakan adalah yang paling hebat. Yang paling puncak sehingga penderitaan lain menjadi kurang penting. Atau meminjam bait puisi yang digunakan Chairil Anwar “dan duka maha tuan bertahta”.

Bagiku kehilangan adalah satu cara menuju kematian yang perlahan, tidak menyakitkan, tapi membuat apa yang tersisa dari dirimu rusak secara diam-diam.

Tapi kehilangan bukan satu-satunya hal paling menakutkan dari sebuah, katakanlah, perpisahan. Hidup yang terbiasa akan satu hal. Sebuah montase yang tiba-tiba ketika perpisahan terjadi adalah hal yang paling menakutkan. Dalam lubang dadamu tercerabut sesuatu yang telah biasa berada disana. Rasa rindu. Rasa gugup. Rasa senang. Perasaan-perasaan sepele yang lahir dari tindakan sederhana seperti senyum, guyonan garing, lesung pipi, aroma indomie dan segala macam yang kau rasa miliki tiba-tiba tercerabut.

Kekosongan dari sebuah rutinitas bersama adalah kengerian yang paling purna.

Lantas ketika kita menengok ke belakang. Mencoba meraba-raba dan memahami apa yang salah di masa lalu, kita hanya menemukan sederet peristiwa yang membuat kekosongan itu semakin menganga. Lubang itu membesar seiring ingatan yang kita gali dari kebersamaan yang semu itu. Mengabsen satu persatu pesan singkat “selamat tidur, banyak doa buat kamu” atau sekedar tanda baca seperti :).

Masa lalu yang diam itu lebih perih dari sekedar perpisahan. Ia abadi. Statis pada satu momen tertentu. Sementara otak kita merekam detik demi detik beserta segala kolase yang menyertainya. Wangi kopi, pertandingan bola, tatapan mata dan dering telpon yang luruh dalam perpisahan itu. Memori yang ingin kita tukar dengan apapun asal bukan kesan bersama. Tapi tentu saja. Kita tak punya kuasa lebih pada kinerja otak yang menyimpan beribu detik nostalgia lampau.

Itulah mengapa dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind berusaha melahirkan sebuah perspektif radikal perihal melupakan. Secara biologis naluriah manusia mustahil bisa melupakan sebuah kebersamaan yang lekat dalam tempo yang singkat. Fragmen-fragmen lampau datang serupa hujan bulan Desember. Deras dan tak memberikan kesempatan untuk sekedar menghindar berteduh.

Manusia, seperti juga aku, lantas memakai gincu dan topeng yang polos ketika menghadapi kehilangan. Berkata pada diri sendiri bahwa itu adalah proses yang wajar. Bahwa hal tersebut adalah sebuah kondisi apa boleh buat yang tak bisa dihindari. Luruh dalam kebohongan-kebohongan yang lantas kita percayai sendiri. Kesunyian paska kehilangan seringkali membuat seseorang gagal berpikir jernih. Lagi pula siapa yang bisa benar benar mengenyam perasaan orang lain?

Kehilangan selalu intim. Ia melekat pada benda atau sajak atau bunyi atau apapun yang jamak namun hanya si empu kehilangan itu yang bisa merasakan derit perih ketika potongan masa lampau hadir. Seperti dalam lagu Coldplay yang kudengar. Seperti berbaris sajak   yang membawaku pada satu fiksi yang sumbing. Tentang cinta yang dibokong, pujaan hati yang direbut dan sahabat yang berkhianat. Pada akhirnya yang tersisa hanya kesunyian.

Lucu bagaimana hal-hal yang coba kita hindari untuk mengingat. Justru semakin keras datang. Keramaian tidak bisa menyelamatkan itu. Barangkali hanya tidur, tidur yang panjang tanpa mimpi yang membuat kita benar-benar terlepas dari masa lalu. Tapi apakah itu benar? Tidak. Lari dari masa lalu hanya akan membuat dia lebih lama dekat dan erat mendekap. Pada akhirnya kita dipaksa menyerah tanpa memiliki kemampuan untuk melawan.

Look at the stars, Look how they shine for you,“ sebaris sajak tanpa panduan nada mampu menciptakan konser tak kasat telinga pada kepala kita. Mengasosiasikannya pada benda-benda seperti bintang, sepotong tiket konser, perdebatan tak penting dan hal-hal tolol yang mengiris. Kau tak bisa melogikakan sebuah kehilangan. Seperti juga berharap bahwa masa lalu akan kembali. Yang bisa kita lakukan adalah menerimanya sebagai sebuah laku tirakat.

Lantas di ujung hari kau akan melihat senja yang sama, subuh yang sama dan segala rutinitas menjemukan yang membuatmu melupakan rasanya memiliki. Aku mengalami negasi atas kehilangan itu. Luka yang dulu asing kini begitu akrab. Pelan-pelan kita menerimanya sebagai sebuah ‘kepemilikan’ lain. Karena ia yang hidup di masa lampau sudah habis tak tersisa. Yang ada hanya sekedar imaji meng-ada dari serpih kenangan kita padanya.

Lantas mau tak mau kita harus mengamini ucapan masyur pemikir politik asal Perancis, Alexis de Tocqueville, “Karena masa lampau gagal menerangi masa depan, kesadaran manusia mengembara dalam kabut,”

Sabtu, 02 Februari 2013

Setelah Pelancong Tak Ada Lagi

Saya percaya bahwa penulis punya tanggung jawab etis untuk menyampaikan kebenaran dalam setiap karya yang ia bikin. Tanggung jawab etis itu semestinya disadari bukan sebagai sebuah monolog. Bahwa ketika seseorang menulis ia lepas tanggung jawab atas apa yang ia tuliskan. Ada perdebatan filosofis mengenai ini antara Roland Barthes dan Michel Foucault. Tapi saya tak akan memuat apa perdebatan tersebut, karena saya meyakini kapasitas intelektual pembaca cukup cerdas untuk bisa mencarinya sendiri melalui Google.

Agak malas sebenarnya untuk melanjutkan polemik perihal Responsible (Travel) Writer yang saya tulis beberapa waktu lalu. Pertama karena saya kira sudah cukup memberikan argumen, tautan berita dan data yang valid (bukan sekedar copy paste), kedua karena saya pikir isu ini sudah terlampau sering dibahas. Tapi rupanya ada yang luput dipahami dari tulisan saya tersebut. Saya sendiri tak tahu harus bagaimana lagi membumikan konsep yang sebenarnya sangat sederhana perihal etika menulis. Barangkali benar kata Wittgenstein, bahasa terlalu primitif dan terbatas untuk bisa memberikan pemaknaan yang utuh pada satu hal.

Tapi ada yang menarik. Beberapa sanggahan yang ditujukan kepada saya mengatakan bahwa saya pukul rata pada semua travel writer/blogger. Seandainya mereka sempat membaca pelan dan seksama, sebenarnya secara tersirat saya masih menyimpan harapan. Bahwa masih ada orang orang yang konsisten untuk melahirkan turisme yang sehat, travel writer yang bertanggung jawab dan kalangan yang masih peduli. Atau barangkali mereka yang tersentil, adalah orang-orang yang justru selama ini menyuburkan kegilaan yang saya khawatirkan.

Sebab kegagalan transfer wacana yang saya tuliskan dalam tulisan terdahulu barangkali sudah habis dibahas oleh Nuran Wibisono dalam artikelnya. Namun ada titik tolak yang gagal dilalui dan dibaca ketika mereka mencerna tulisan saya tersebut. Bahwa ada tiga komponen utama kritik yang coba saya sampaikan. Pertama adalah perlu adanya etika menulis yang harusnya diadopsi secara universal (tidak terbatas pada blogger atau jurnalis saja), Kedua adalah kesadaran untuk memikirkan lebih panjang manfaat dan mudharat atas suatu artikel juga foto pada satu destinasi wisata, yang ketiga adalah pentingnya riset bagi seorang travel writer.

Saya tak akan membahas dua poin awal, karena sudah jelas saya sampaikan sebelumnya. Namun mengapa riset itu penting? Bagi seorang penulis kemampuan bertutur dan menjalin kalimat bukan faktor utama. Namun memberikan sebuah informasi yang seutuh dan sebaik mungkin adalah hal yang paling penting dilakukan. Apakah ini wajib? Tentu tidak. Artikel semacam Ganja di Pulau Weh misalnya perlu dilihat pada lokus yang lebih luas. Jika artikel ini ditulis oleh orang Aceh sendiri barangkali bisa menjadi sumbu investigasi. Tapi jika ia ditulis orang luar Aceh, apalagi Jawa, relasi perih perang saudara akibat DOM bukan tak mungkin akan terbuka lagi.

Masyarakat dan Pelancong

Sayang dalam tulisannya Nuran kurang melakukan riset dan seolah mengambil jarak. Bahwa ia hanya sekedar menulis. Perkara apa yang terjadi akibat tulisannya ia tak ambil pusing. Perihal tidak akan pernah berhenti melancong adalah haknya. Tapi jika akibat tulisannya itu bisa melahirkan kerusakan apa ia pernah pikir? Manusia bersumbu pendek macam inilah yang bisa jadi penyebab kerusakan yang saya khawatirkan.

Soal Ibnu Battuta oh come on. Dia tak pernah menuliskan. Ia menceritakan ulang kisah petualangannya dalam Rihla pada Ibn Juzayy. Dia bahkan tak membawa catatan. Marco Polo dan Columbus? Seriously? Dua pioner traveler dalam melahirkan peradaban berdarah bernama kolonialisme? Well, itu menjelaskan logika Nuran yang mengatakan bahwa lokasi eksotis perlu dibuka agar masyarakatnya bisa mendapatkan berkah atas industri turisme. Setiap perilaku melahirkan konsekuensi logis yang seringkali tak berakhir baik.

Dalam perdebatan mengenai industrialisasi ketika ditemukannya sebuah destinasi wisata. Masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka hanya bidak yang sekedar menyediakan apa yang diinginkan oleh pelancong. Telah banyak kehidupan suku terasing yang kemudian terpapar kehidupan modern menjadi terasing pada hidupnya sendiri. Terpaksa meninggalkan gaya hidupnya karena dianggap usang dan akhirnya kehilangan identitas sebagai masyarakat.

Pernyataan bahwa "Orang lokal senang pelancong datang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," adalah logika sesat khas kolonialis. Orang asing yang datang ke suatu masyarakat dan menilai bahwa masyarakat tersebut lebih rendah dan perlu dibantu dan diperadabkan. Memaksakan logika kemakmuran sempit pada akhirnya akan merubah perilaku sebuah masyarakat. Jika hal ini diteruskan bukan tak mungkin ada nilai-nilai yang terkoyak karena menghamba pada kapital.

Apakah suku anak dalam menjadi kurang berbudaya hanya karena ia memilih tak hidup di kota dan menikmati pendidikan? Tidak. Apakah suku mentawai menjadi barbar hanya karena mereka lebih memilih hidup berburu dan berladang? Tidak. Kemapanan ekonomi, juga uang, bukan satu-satunya tolak ukur kemapanan dan kemakmuran. Siapa anda merasa berhak melabeli bahwa dengan pariwisata dan masuknya uang masyarakat ini akan lebih makmur?

Seorang kawan pernah bercerita bagaimana bangsawan Sumba tengah malam ditelpon untuk mempersiapkan sebuah ritus penyambutan. Hanya karena akan ada orang yang datang dan penasaran pada suatu adat yang hanya ada di daerah itu. Si bangsawan tadi merasa resah karena kebudayaan yang semestinya adiluhung harus dipaksakan ada untuk memuaskan rasa penasaran seseorang.

Melahirkan sustainable tourism adalah mimpi siang bolong ketika konten suatu promosi melulu menghamba pada industri. Berapa banyak traveler yang diundang datang oleh stake holder untuk menuliskan daerahnya secara jujur apa adanya? Hampir nihil. Mereka semua datang untuk pulang dan menuliskan puja-puji keberhasilan, keindahan, enaknya makanan dan segala macam ewuh pakewuh yang banal itu.

Ketika kalian menuliskan sebuah destinasi yang bukan rumah tinggal kalian ada sebuah tanggung jawab yang mesti dipahami. Kalian tak tinggal selamanya di sana. Ketika kalian pergi warga setempat akan tetap tinggal. Menuliskan secara asal-asalan apalagi sekedar ritus hanya untuk mendapatkan popularitas adalah keji. Ini bukan masalah kita adalah peneliti ekonomi atau bukan. Ini masalah kemanusiaan yang perlu dipikirkan benar-benar.

Same Shit Different Days

Farchan Noor Rachman di sisi lain dengan bernas merontokan segala argumen saya bahwa travel writer adalah penyebab paling utama dalam eksploitasi destinasi wisata. Setidaknya ada empat hal yang coba Farchan sampaikan. Pertama minimnya edukasi pada travel writer perihal tanggung jawab etis dalam menulis, kedua minimnya institusi yang mengawasi kinerja para travel writer tadi, ketiga sinergi positif antara pelancong, masyarakat dan pemerintah dalam mewujudkan turisme berkelanjutan. Dan yang terakhir adalah Farhan masih percaya ada harapan, bahwa travel writer menjadi agen perubahan untuk kemakmuran masyarakat pada sebuah destinasi wisata.

Saya tak pernah bilang kita tak boleh melancong atau menuliskan sebuah destinasi. Sebuah cagar alam misalnya, boleh dimasuki atas nama pengetahuan. Tapi juga perlu disadari fungsi cagar alam selain bank plasma nutfah, ia juga memiliki peraturan ada beberapa area tertentu yang tak boleh dimasuki. Manusia adalah mahluk yang selalu ingin tahu dan seringkali bertindak bodoh ketika penasaran. Di sini posisi penting seorang travel writer bisa masuk. Mengingatkan batas-batas kapan harus gila-gilaan dan kapan harus memakai otak.

Suku-suku di kepulauan Mentawai juga memerlukan publisitas yang bisa dimanfaatkan para pelancong dan travel writer. Mereka yang didesak zaman, para shaman yang kehabisan penerus dan perusakan alam yang kian gila-gilaan perlu dikabarkan. Di sini pelancong bisa ambil bagian sebagai voluntary community services secara tidak sadar. Ketika satu lokasi yang selama ini dirusak lantas mendapatkan perhatian besar entah media atau pelancong. Bukan tak mungkin perbaikan akan terjadi. Tentu tidak dengan logika memberi uang mereka senang bukan?

Ketika melancong adalah sebuah keseharian dan bukan lagi proses untuk mencari jati diri maka yang tersisa dari manusia adalah kedegilan. Setidaknya hanya manusia-manusia keras kepala, yang merasa bahwa segala tindak-tanduk yang mereka lakukan tidak akan melahirkan relasi sebab akibat. Kenaifan semacam ini barangkali lahir karena minimnya usaha untuk mengerti (empati) dan matinya nalar (debil). Tapi prasangka semacam ini bisa jadi luput apabila ada kesadaran bahwa nurani adalah rem yang paling pakem untuk mengatur tindakan manusia.

Apakah ini berlebihan? Mungkin. Sekedar perbandingan ilustrasi saja. Genosida atas bangsa Yahudi yang dilakukan Nazi pun awalnya lahir dari poster anti semit di Polandia yang kebetulan dibaca oleh Hitler. Pengaruh sebuah kata-kata begitu hebat sehingga ia bisa membentuk peradaban. Seorang Travel Writer senior dengan gegabah baru baru ini menulis "tak ada hubungan antara travel writer dan perusakan alam, kecuali jika memang ia menyuruh demikian,". Secara langsung memang tak ada hubungan. Toh Hitler juga tak pernah bilang "Bantai Yahudi" secara gamblang dalam Mein Kampf. 

Saya akan berikan sebuah ilustrasi sederhana perihal analogi praksis bagaimana etika semestinya dijalankan. Bayangkan anda seorang warga Tibet, mengalami represi militer sekian puluh tahun. Segala hal mulai dari pendidikan, sosial budaya bahkan keyakinan mengalami sensor. Lantas orang asing datang. Mereka terpesona eksotisme dari berbagai artikel yang mengatakan bahwa Tibet adalah negara magis. Negara awang-awang, seperti juga Nepal, adalah lokasi dimana Shangri La berada.

Setiap hari anda melayani orang lain. Pelancong yang dengan kamera merekam dan mengabadikan so called eksotisme tadi. Tanpa menyadari bahwa telah terjadi penindasan. Bahwa Negara Otonom Tibet hanyalah topeng yang dipakaikan tiran untuk menipu. Lantas anda, sebagai warga negara itu, membaca bahwa ada orang-orang yang dengan bangga memamerkan segala tempik sorak eksotisme keindahan Tibet. Tanpa sedikitpun bercerita tentang bagaiman realitas sosial yang ada disana. Ah saya lupa. Saya tak pernah ke Tibet. Buat apa juga peduli tentang cerita mereka?

Sebenarnya akan jadi sia-sia jika kemudian saya memberikan pledoi atas tulisan saya tersebut, seperti yang saat ini saya lakukan. Toh juga tak akan membuat perubahan langsung instan terjadi. Tapi pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi setelah kita pergi? Sebuah pertanyaan usang yang membosankan. Akan tetap ada orang yang menulis dengan tak bertanggung jawab. Dan akan ada orang yang berkata bahwa untuk berpikir logis dan manusiawi harus menulis buku dulu. Orang yang menganggap kritik hanya sekedar rasa iri.

Tapi ketika mereka, para pelancong dan travel writer, itu pulang dan menikmati rumah yang nyaman. Para penduduk lokal di sebuah destinasi wisata akan berjuang untuk hidup seperti hari-hari yang lain. Menunggu untuk Hidden Paradise mereka akan habis. Entah karena rusak atau membosankan. Saat itu terjadi, ada satu telunjuk yang boleh kita arahkan dihadapan cermin.