Jumat, 29 Maret 2013

Sepucuk Surat Untuk Tuhan

Tuhanku apakah kau disana?

Maksudku. Apakah kau masih disana. Duduk sendirian di ars. Dilapisan langit keberapa entah kau berada. Atau sedang duduk sendiri menghangatkan kaki di neraka. Mempersiapkan segalanya untuk hari akhir. Kau tahu? Seperti seorang penyelia mempersiapkan sebuah pesta. Kau tentu tak ingin ada yang salah atau kurang sempurna. Tapi apakah begitu Tuhan? Maksudku apakah haruskah manusia sekali lagi dihukum atas apa yang ia lakukan di dunia. Kukira diciptakan sebagai manusia adalah siksaan itu sendiri. Tapi sekali lagi. Aku hanya mahluk. Tahu apa soal masalah keTuhanan?

Bertahun-tahun aku bertanya untuk apa neraka diciptakan. Kalau surga jelas untuk bersenang-senang. Tapi neraka? Bukankah itu adalah sumber penderitaan. Apakah Kau masokis Tuhan. Maksudku, kau tahu, menyukai melihat penderitaan mahluk lain. Konon ada kelakar dari salah satu ciptaanmu yang brilian. Santo Agustinus. Ia berkata "Tuhan menciptakan neraka untuk menyiksa mereka yang membangkang. Tapi tempat itu kosong. Karena Tuhan begitu penyayang. Ia bahkan tak tega memasukkan iblis ke dalamnya," apakah itu benar Tuhan?

Kukira kita sama-sama tahu bahwa cinta selalu mengalahkan kebencian. Kau lebih dari apapun di seluruh mayapada ini tahu itu Tuhan. Eh tunggu dulu. Kau kenal aku kan Tuhan? Ciptaanmu yang entah ke berapa. Kau ingat bukan? Atau kau telah lupa karena terlalu banyak yang kau ciptakan di jagat raya ini. Barangkali Kau lupa Tuhan. Aku Arman Dhani. Saat ini menganggur dan sudah lama tak pernah menyembahmu. Mengapa? Kau tentu tahu alasannya. 

Tapi sudahlah. Membahas alasan mengapa aku tak lagi beribadah akan sama tak pentingnya dengan alasan mengapa seseorang yang menabrak mati orang dan bayi bisa lepas begitu saja. Tuhan apakah kau ada disana ketika Rasyid Radjasa menabrak mati seorang bayi? Apakah kau ada disana ketika malaikat maut mengangkat roh ringkih bayi itu? Apakah kau melihat matanya? Apakah kau merasakan apa yang dirasakan ibunya? Apakah kau tahu Tuhan?

Lebih dari itu. Apakah kau pernah merasa kehilangan Tuhan?

Apakah kau tahu rasanya kehilangan karena kematian. Kau yang Al Baqi yang maha abadi pernahkah merasakan kehilangan? Apa perasaanmu Tuhan ketika kekasihmu, pacarmu yang kau sayang, Muhammad meninggal. Apakah kau menderita Tuhan? Apakah kau lega karena ia akhirnya ada di sisimu. Atau kau malah bersedih? Apakah kau tahu rasanya bersedih Tuhan? Apakah kau pernah menangis? Kalau kau tak ingin menjawab tak apa Tuhan. Kita punya rahasia masing-masing.

Kau tentu rahasiaku. Kau adalah yang maha mengetahui bukan? Tapi cukup tentangku Tuhan, jika kau tak sibuk. Maukah kau mengajariku cara menghadapi kehilangan? Bagaimana cara agar manusia bisa tegak dan tetap sadar hidup seperti apa adanya ketika ia kehilangan. Kukira aku harus protes. Begini. Perasaan yang kau sematkan pada tiap-tiap manusia salah satunya adalah mencintai. Perasaan jenis ini seringkali hadir dengan efek samping. Kau tahu Tuhan? Seperti cemburu. Kau sendiri bukankah Tuhan yang tak mau diduakan. Tak mau ada Tuhan lain yang disembah. Tapi mengapa kau ciptakan perasaan ini Tuhan?

Apakah kami manusia harus belajar menjadi Kau Tuhan? Belajar bahwa dibalik segala Maha Mu kau adalah Sesuatu yang juga bisa memiliki perasaan. Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Pendendam, Maha Pemurah, Maha Sabar. Tapi apakah kau bahagia Tuhan? Apakah Kau bahagia dengan segala kekuasaan dan kekuatanmu yang tiada terbatas itu. Apakah Kau tersenyum saat ini Tuhan? Apakah Kau puas dengan segala apa adanya kami. Dengan segala kebencian yang kami miliki dan segala kerusakan yang kami buat. Apakah Kau masih mencintai kami Tuhan?

Tuhan. Apakah kau membenci satu umat dan mencintai umat yang lain? Apakah satu umat lebih istimewa dari yang lain? Apakah satu umat berhak menyakiti umat yang lain? Tuhan apakah Kau membenci salah satu dari mereka lantas kau berikan hak pada umat yang lain untuk menghancurkan rumah ibadah orang lain. Tuhan apakah kau Muslim? Apakah kau Katolik? Tuhan apakah kau Hindu? Apakah Kau membenci umat yang kau pikir tak seragam dengan jalan kehendakmu? Apakah kau membenci kami Tuhan?

Tuhan. Jika kelak aku masuk surga, bolehkah aku jadi Katolik? Jika aku selamat dari neraka, bolehkah aku jadi pengikut Budha? Tuhan. Jika aku masuk surga. Bolehkah aku meminta agar teman-temanku yang bukan islam masuk di dalamnya? Bukankah kau bilang segala permintaan di surga akan kau kabulkan? Jika demikian. Bolehkah aku mencintai mereka yang bukan islam? Jika kita memang harus seragam. Bukankah ini hanyalah perkara mudah. Kau hanya perlu berkata maka "Jadilah".

Tuhan. Mengapa kau membenci penyair?

Tuhan. Aku sangat menyukai puisi. Barangkali firmanmu adalah sajak yang paling indah yang pernah kubaca dalam hidupku. Firmanmu adalah bait puisi yang tak akan pernah usai aku cerna maknanya. Tapi Tuhan. Mengapa kau buat juga aku membenci penyair? Dengan cara yang tak terduga kau ajarkan aku cara membenci sajak. Perihal laku degil hina yang dilakukan penyair-penyair tua pada wanita. Tuhan apakah itu caramu mengingatkanku untuk tak lagi percaya pada kemurnian kata-kata?

Tuhanku. Aku belum pernah semarah ini dalam hidupku. Oke mungkin aku pernah marah padaMu ketika kau memutuskan memanggil almarhum kakakku. Tapi kemarahan ini lebih dari kemarahan yang pernah aku rasakan sebelumnya tuhan. Kau tak hanya berhasil membuatku membenci penyair. Kau mampu membuatku berpikir bahwa kata-kata sudah jatuh pada titik nadir paling jijik. Sehingga aku membenci diriku sendiri yang mencintai puisi. Tuhan bukankah ada hal yang lebih penting ketimbang membuka mataku atas kecintaanku yang buta pada puisi?

Tuhan. Aku berjanji tak akan lagi membaca puisi. Atau lebih baik. Aku berjanji tak akan lagi menyentuh puisi. Tapi kumohon padamu. Muliakanlah mereka yang dihinakan karena puisi. Muliakanlah mereka yang dipermainkan dan dilecehkan melalui puisi. Tuhanku yang baik. Penyair yang tiada banding. Bukankah sifatmu Ar Rafik sebagai yang membuat mulia? Tuhanku yang baik. Selamatkanlah puisi dari perilaku hina para penyusunnya. Itu saja.

Eli! Eli! Lama sabachtani. Tuhanku. Tuhanku. Mengapa Kau tinggalkan aku?

Tuhanku. Aku kadang lelah padaMu. Lelah menyebut namaMu dalam doa-doaku. Lelah berharap padaMu dalam dzikir-dzikirku. Tuhanku. Apakah akhir akhir ini kau pernah mengabulkan doa? Apakah kau hanya mengabulkan doa beberapa orang saja? Atau hanya satu kaum saja? Apakah karena ia bukan umatmu. Meski ia menderita dan dinista kau tak akan mengabulkan doanya. Bagaimana jika aku adalah kaum minoritas yahudi di Arab Saudi. Apakah Kau akan mendengar doaku? Tuhan apakah kau pilih kasih?

Tuhan. Apakah kau pernah merasa sangat tak berdaya. Ketika segala apa yang kau bisa tak melahirkan apa-apa kecuali kekecewaan. Ketika segala apa yang kau perbuat tak merubah apapun selain penistaan. Tuhan. Apakah kau di sana? Ketika beberapa orang Ahmadiyah diusir dari rumahnya? Apakah kau ada disana ketika salah satu dari umatmu yang konon paling zuhud menebaskan parangnya ke tubuh Ahmadi yang lemah tak berdaya. Lantas mati meregang nyawa. Apakah ia Kau masukan neraka?

Tuhan apakah kau ada di sana juga? Ketika tubuh lemah Bilal Bin Rabbah di siksa? Ketika ia dimuliakan dan menjadi pengikut awal mula. Atau kau hanya memilih mebantu orang-orang yang kau anggap benar dan menafikan sisanya? Tuhan pernahkah kau merasa ditinggalkan? Seperti sudah memberikan kesempatan, memberikan rahmat, memberikan berkat dan memberikan segalanya. Namun yang kau peroleh malah kufur nikmat, laku syirik dan perbuatan fasik. Apakah kau mendendam tuhan?

Aku tahu. Menjadi Tuhan tak pernah mudah. Barangkali disana Kau disana dengan seluruh uban dan kerut di kening Mu, sudah kelelahan melihat perilaku manusia. Barangkali disana Kau dengan mata yang berat melihat perilaku manusia dan kau hanya bisa menghela nafas sendirian. Barangkali disana Kau dengan nafas yang berat sudah semakin renta dan semakin pesimis ghairu ummah yang kau ramalkan datang masih jauh panggang dari api. Umatmu semakin lupa cara mencintai dan kebencian adalah sebagian dari dakwah. Islam makin terasing dan citramu makin garang.

Apakah kau kesepian Tuhan?

Maksudku. Kau tahu. Sendirian selama berabad-abad lampau. Kau usir kakek moyangku Hawa dan Adam dari surga. Lantas kau diamkan Malaikat-Malaikat. Mengutuk setan di jagat raya ini. Jika kau tak berkenan bicaralah padaku Tuhan. Tenang. Aku tak akan bicarakan pada siapapun. Rahasiamu aman padaku. Atau jika Kau malu. Aku akan ceritakan satu rahasiaku Kau ceritakan satu milikmu. Sedari tadi aku sibuk bertanya dan menuntut. Tapi aku bisa apa? Aku mahluk. Sebagai mahluk aku hanya bisa berdoa dan berharap. Bukankah lemahku adalah bentuk pemunjaanku padamu Tuhan?

Tuhan. Apakah almarhum kakakku masuk Surga? Kau tentu tahu. Ia adalah manusia yang dikecewakan nasib. Menahun menegak alkohol. Menjauhimu. Namun di akhir hayat ia begitu khusyuk mencintaimu. Apakah kau mau menerimanya kembali Tuhan? Apakah kau mau menerima manusia yang selama ini hanya bisa mengecewakanmu? Entah diriMu, tapi aku akan menerima siapapun yang mau mencintaiku apa adanya. Aku akan mencintai mereka yang mau kembali padaku sebagai dirinya sendiri. Dengan segala salah dan lukanya sendiri.

Tuhan. Bolehkah aku berdoa untukMu? Iya. UntukMu. Aku berharap kau selalu sehat. Aku berharap Kau selali mencintai kami Tuhan. Aku berdoa semoga kau tak lelah berharap dan memberikan kami manusia untuk menjadi lebih baik lagi. Tuhan. Jika Kau kelelahan. Kau boleh beristirahat. Mungkin memang kami yang dhaif lagi fana ini hanya bisa menyusahkanmu. Kau tahu? Seperti Doa yang dipanjatkan Chairil Anwar dalam puisinya. "Tuhanku, di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling, cayaMu panas suci, tinggal kerdip lilin di kelam sunyi.

Tuhan. Terakhir. Sebelum aku menutup surat ini. Maukah kau mencintai mereka yang mencintaiku? Maukah kau mencintai mereka yang aku cintai? Maukah kau memaafkan mereka yang aku benci? Maukah kau menyelamatkan mereka yang menyakitiku? Tuhan. Maukah kau menjaga ia yang aku kasihi? Maukah kau menerima mereka yang menerimaku? Maukah kau melindungi ia yang melindungiku? Tuhan. Aku berharap kau mau menjaga ia yang aku sayangi diam diam. Ia tak perlu tahu. Cukup Kau dan aku saja.

Tertanda.

Arman Dhani.


Kamis, 28 Maret 2013

Bondowoso. Satu Fragmen

~ Untuk R

Di Bondowoso, sunyi dibangun dari wajah lelah para pekerja yang bermalas-malasan sepanjang hari. Seperti juga aku, hidup seringkali seperti sebuah perintah mekanik yang membosankan. Otomatik, stagnan dan repetitif. Lantas mengutuk hidup. Seolah-olah hidup memang didesain sedemikian adanya. Seolah-olah tak ada jenis kehidupan selain yang demikian. Seolah-olah perbedaan adalah nujum keji yang mesti diganjar rajam. Aku adalah bidak catur yang bopeng. Tak bisa digunakan dan cacat.

Aku baru saja mendengar ceritamu R. Mendengar separuh kisahmu seperti sebuah memasak kue bolu. Rumit dan tak bisa instan. Aku kesal sekali. Marah atau amuk lebih tepatnya. Ada sebuah gigil yang mendidih di ulu hatiku. Ada gelembung kebencian yang membesar. Ada kutuk dengki yang meluber. Kamu tahu? Perasaan jengah yang ditahan serupa kutil nanah yang besar. Butuh kendali luar biasa untuk menahan semua ini. Tapi seperti yang kau tahu. Aku bukan tipe manusia yang sabar.

Aku benci harus menahan amarah. Aku benci harus menyimpan perasaan. Berdiri melawan atau diam ditindas. Karena memalingkan muka dari apa yang kau alami adalah sebuah pengkhianatan. Ini bukan slogan. Bukan kredo. Kau adalah hal terdekat dalam hidupku yang menyerupai surga. Menyerupai apa itu kebahagiaan. Aku manusia yang lelah dipecundangi hidup. Mampu bertahan dari brengseknya nasib dan hidup hanya dengan memandang senyum dari kejauhan. Lantas kau disakiti dan kau dilecehkan. Aku tak bisa diam.

Mungkin hidup memang begini. Bahwa seringkali kekecewaan adalah kebahagiaan itu sendiri. Aku atau mungkin juga setengah penduduk bumi beranggapan bahwa sebagian dari kami memang layak kecewa. Layak untuk tidak bahagia. Atau lebih buruk. Pantas untuk tidak dihormati sebagai manusia yang sejajar. Aku pikir ini salah. Aku pikir ini buruk dan lebih dari itu. Aku pikir ini brengsek. Bukan. Ini biadab. Tidak ada manusia yang selayaknya melecehkan manusia yang lainnya hanya karena ia lebih baik.

Aku kesal sampai detik ini. Aku marah sampai detik ini. Aku muntab sampai huruf terakhir dalam kalimat ini dituliskan. Aku begitu kesal sampai dadaku sesak dan nafasku seolah tertinggal separuh. Aku begitu marah sampai tanpa sadar aku meninju tembok hingga ia tempias darahku berceceran di dinding. Aku berhak marah R. Aku berhak untuk kecewa. Mengapa? Mengapa kau tak pernah sadar? Ada hal yang lebih layak dilakukan ketimbang tunduk dan diam menyimpan cerita sendiri lantas tersenyum seolah tak pernah ada apa-apa.

Aku benci sikapmu yang begini. Kau tak harus jadi kuat. Kau berhak merasa lemah dan membutuhkan orang lain. Kau berhak untuk merajuk, mengomel, berteriak, dan menangis. Kau tak harus melulu jadi kuat. Kau adalah manusia. Kau punya hak untuk diam dan tak berdaya lantas menjadi tunduk. Kau tidak harus melawan sendiri R. Kau tahu itu. Kau tak harus menjadi seorang pahlawan kesiangan yang menyimpan luka sendirian. Aku punya seribu pundak untuk bisa kau pakai berbagi!

Kau tak bisa selamanya begini. Kau bukan Atlas yang harus menanggung beban Dunia sendirian. Bahkan dalam sunyi yang paling diam kau berhak untuk bersuara R. Kau berhak untuk dicintai sebagai apa adanya dirimu. Bukan karena tubuhmu. Bukan karena pekerjaanmu. Bukan karena kelaminmu. Tak ada satu alasan di jagat manusia ini yang berhak membuat orang lain menyakitimu. Tak pernahkah kau sadar jika kau begitu dicintai?

Tahukah kamu? Saat ini. Ketika rindu adalah sebuah siksaan yang lebih mengerikan dari masa depan yang suram. Kepalaku penuh dengan pikiran bodoh yang aku buat sendiri. Aku lelah merindukanmu R. Lelah menunggu dalam kerjamu yang begitu berat dan luar biasa padat itu kau akan sempat istirahat. Makan yang cukup atau sekedar duduk dan menikmati segelas teh hangat. Hal-hal sederhana yang membuatmu hidup dan bukan menjadi sekrup korporasi atau kesalihan normatif. Kau tak perlu dikejar-kejar target untuk memiliki rumah. Atau menikah. Aku ingin kau menikmati hidupmu sendiri.

Kamu tahu R? Cinta yang dirawat diam-diam. Dijaga seperti sebuah mawar yang ringkih. Disimpan dalam pukat yang rapat agar kerasnya angin tak meruntuhkan. Barangkali cinta yang lemah. Ia cinta yang hanya patut dipecundangi kerasnya hidup. Aku tahu kau hendak memejalkan diri. Tapi jika hanya jika diam dan dalam senyum kau menyimpan luka sendirian. Aku tak hendak bertaruh pada bandar yang melabuhkan karang nasib. Tapi apapun keputusanmu. Aku akan selalu ada.

Aku mencintaimu dengan keras kepala. Selalu seperti itu.

Pada Satu Sore Yang Sendu



Kupikir ada yang lebih penting daripada kita bicara perihal perasaan. Seperti membangun reaktor nuklir atau menemukan cara transfer pengetahuan secara murah dari internet ke dalam otak. Bukan lantas diam merajuk dan melankolis memikirkan hal-hal sepele seperti rintik hujan, debur ombak, bau kamper atau warna mata kucing. Kau dan aku seringkali diam berpeluh memperbincangkan omong kosong semacam ini. Berdebat sampai marah, lantas saling diam, acuh tak acuh dan saling menyendiri. Sampai pada akhirnya kita berdua kelelahan dan tertawa atas kebodohan ini.

"Kita bisa menertawai umur. Tapi tak bisa menertawai diri sendiri. Menyebalkan," katamu suatu sore.

Aku menjerang air hingga titik didih. Kita sedang menikmati mega-mega yang disepuh emas. Gombal yang terlalu sering diucapkan penyair. Senja yang terlalu dimaknai berlebihan. "Kenapa kita tak minum teh malam hari saja. Ketika dingin begitu menusuk dan hangat poci membuat kita nyaman," kataku tak peduli omongannya.

"Itu terlalu pragmatis. Nilai guna teh hanya sebagai penghangat. Kau tak akan bisa menikmati sesap pahit getirnya. Sesekali perlu lah melodramatis," katamu panjang. Memainkan ujung rambutmu yang hitam pekat itu. Rambut yang dulu sumpah mati kau benci sampe dicukur botak. Lantas berhari-hari tak mandi hanya karena berpikir bahwa mandi adalah sebentuk pesimisme diri akan penampilan.

"Hidupmu sesak betul dengan keinginan-keinginan. Akhirnya lupa cara menikmati hidup," katanya lagi. 

"Tapi hidup yang semacam ini membuatku terus ada," kataku seraya menimbang apakah akan menggunakan gula atau madu sebagai pemanis. Harus ada rasa. Hidupku sudah terlalu getir untuk ditambah pahit rasa teh yang menyebalkan itu. Toh jika memang harus mati ya mati saja. Kenapa harus dibebani oleh cita rasa murni. Teh ya sekedar minuman bukan keimanan yang tak boleh dilewati atau dicurangi. Manusia seringkali terlalu meletakan nilai-nilai yang nisbi pada hal yang semacam ini. 

"Aku putar lagu ya," katamu berteriak dari dalam rumah. Membuyarkan lamunanku soal teh.

"Apa?"

"Aku putar lagu. Terlalu sepi di sini. Rumahmu jauh sekali di pelosok desa. Kiri kanan hanya sawah. Amit-amit kalau sampe ada ular masuk," katamu memborbardir tiap kata dengan suara soprano yang bising.

"Terserah," kataku. 

Aduh! Aku lupa tadi dimana pisang kutaruh. Aku benci minum tanpa makan. Setidaknya harus ada pisang goreng. Aku benci makanan manis. Kecuali pisang. Pisang selalu menyenangkan dimakan dengan apapun. Di Makasar aku pernah makan pisang epe' yang dimakan pakai sambal asam pedas. Jenius. Mereka harusnya dapat hadiah nobel karena menemukan makanan yang mampu mendamaikan dunia. 

"Musikmu membosankan. Sebagian tak kukenal. Tak ada Adele?" sebuah suara muncul dari dalam rumah. Iya suaramu yang menyebalkan itu. Dan siapa pula Adele itu? "Ah sudahlah. Aku bawa ipod. Kuputar ini saja," katamu tak memberiku jeda menjawab.

Pelan kudengar dengung suara muncul dari pengeras suara yang kutaruh di dalam kamar. Lantas petik pelan gitar muncul. Dilanjut suara perempuan bernyanyi lembut. "biru sore yang teduh / pancarkan bayang samar / lembaran daun menguning mati," dendang penyanyi itu. Wah Bonita dengan lagu Mellow. Kukira aku tak akan mendengar lagu ini lagi sejak perpisahan dengan seorang kawan bertahun lalu. Masih ada rupanya yang mendengarkan biduwanita ini. 

"Kamu mau pisang goreng atau ketela rebus?" kataku berteriak. Tak ada balasan. Suara musik terlampau kencang barangkali. Aku malas masuk ke dalam rumah jika sedang di dapur. Entah mengapa. Seperti ada yang mengikat kakiku erat. Seperti pelukan yang hangat. Membuatku nyaman dan ogah bergerak. Dapur adalah bagian diriku yang lain. Seperti anggota badan. Ketika pergi ke rumah orang aku selalu suka mampir ke dapur mereka. Seperti menyapa karib yang asing dan mengajaknya berkenalan.

Langit makin keruh. Ini sih sudah bukan senja lagi. Ini maghrib. Untung rumahku jauh dari masjid. Jadi keramaian ini bisa ditolerir. Bonita sudah usai. Entah apalagi yang akan diputar oleh sikunyuk itu sebentar lagi. Petik gitar kini diputar lebih agresif. Dentum bas dipetik malas malas. Sementara vokal pria yang seolah bernyanyi dengan enggan memenuhi ruangan. Opeth. Boleh juga seleranya. 

"At times the dark's fading slowly, But it never sustains, Would someone watch over me, In my time of need?" dari pintu kamu bernyanyi. Hanya mengenakan handuk dengan rambut hitamnya basah dibiarkan terurai. "Sabunmu habis. Lekas beli sana," katanya tak peduli lantas duduk di sebuah dipan dekat pohon mangga. Rumahku tak luas. Hanya ada tiga kamar. Sebuah kupakai tidur, sebuah kupakai menulis dan sisanya adalah ruang penyimpanan bukuku. 

"Setidaknya pakai baju," kataku seraya mengupas pisang yang rupanya tak hilang lagi. 

"Gerah. Nanti saja aku masih mau keringin rambut juga," 

Berdebat dengannya adalah perbuatan bodoh. Opeth usai dan Anda eks anggota band Bunga kini bernyanyi. Biru. Album in Medio masih tersegel di salah satu kamarku bersama ratusan vinyl lainnya yang belum kubuka. Seorang kawan menitipkannya padaku karena dirumahnya sudah terlalu penuh. "Oh biru. Indah dirimu hempaskan aku. Jauhku tenggelam dalam tatapmu. Sesatku dalam kasihmu," kini giliranku bersenandung.

"Tehnya dingin. Panasin lagi gih," serunya memerintah. 

Lantas Anda pun usai. James Morrison, yang tak ada hubungan apa-apa dengan Jim Morrison, bernyanyi. Love is Hard. Iya. Cinta itu sulit. Seperti memahamimu. Memahami mengapa kita jatuh cinta tapi tak menentukan apapun di dalamnya. Hanya menjalaninya. Semacam malaise yang membosankan. Repetisi yang entah kapan kita akhiri. "Love takes hostages, Gives them pain. Gives someone the power to, Hurt you again and again," 

"Maaf ya." katamu tiba-tiba. Dengan muka memelas seperti anak anjing yang rindu puting susu induknya.

"Buat apa?"

"Ya buat semua. Buat kamu yang selalu menunggu dan memaafkan. Dan buat semua pundak yang kamu berikan ketika aku menangis,"

"Ya namanya juga friendzone. Nasib." kataku datar dan kamu lantas diam. Menikmati Adhitya Sofyan yang melantunkan gitarnya seperti sorang vokalis band shoegaze yang mumpuni. Ia seperti bicara tentang ruang yang kosong, jeda yang panjang dan sebuah murung harapan. "I'm waiting for things to unfreeze, Till you release me from the ice block, It's been floating for ages washed up by the sea," lirik itu menghujam. Seperti puisi yang lantas ia tutup dengan "And it's drowning, thought you should know that,"

"Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta," bisikmu.

"Tehnya sudah kuhangatkan. Mau pisang goreng atau ketela rebus?" Aku terlalu malas untuk jadi sentimentil. Aku sudah berhenti berharap dan memikiran perasaan. Aku hanya menyambutmu kali ini sebagai seorang kerabat yang datang. Angin mulai jahat dan entah mengapa sore ini panjang sekali. Harusnya sudah adzan maghrib. Yang ada malah langit hitam yang disepuh garis biru dan warna emas yang melepuh. 

"Ini Venus Peter. Indie Pop dari Jepang. Seperti Mr. Children hanya lebih early British macam the Smiths," katamu lantas mengambil gelas dan menyeduh teh. Lagu riang dengan irama purba. Ketukan bass yang ritmik  suara lembut dari vokalis pria yang dengan putus asa menyanyikan lagu bahasa Inggris dengan sempurna. "Lagunya bagus. Nanti aku minta," kujawab sekenanya saja.

Aku memasangkan jaket buluk ke badanmu yang ringkih itu. Kamu hanya diam. Sementara lagu sudah berganti judul. Avalanche band Post Rock semarang yang memainkan versi akustik dari lagu the Aesthetic Truth. Lagunya sederhana. Tak perlu interpertasi apapun. Tidak seperti diammu yang menyebalkan ini. 

"Semalam aku membaca lagi buku puisi W.H Auden. Kupikir ada sesuatu yang kupikirkan. Carla Bruni kamu tahu? Istri mantan presiden Prancis itu. Menyanyikan sebuah puisi Auden dengan indah. Lady Weeping at The Crossroads," katamu panjang lebar. Kemudian menyesap pelan teh hangat tanpa gula itu. Aku tak pernah bisa mengerti orang yang minum teh tanpa rasa.

Aku kelelahan lantas duduk di sebuah kursi malas di teras belakang rumah. Tepat di depan dapur ketika Float menyanyikan Tiap Senja dengan syahdu. Aku selalu suka lagu ini. "Tidakkah cinta. Berkuasa. Tak mestinya luka menghentikan langkah. Bila saatnya hadapilah," iya. Aku tak peduli dan tak pernah peduli. Mencintaimu, kupikir, adalah laku sunyi. Tak perlu keramaian dan kebisingan. Biarlah hanya aku yang tahu. Gombal picisan.

"Kok diam. Sinilah mendekat. Aku tak akan memperkosa," katamu berkedip genit. 

"Tidak apa. Di sini saja. Aku takut kalau terlalu dekat akan jatuh cinta lagi."

"Masih pintar gombal. Seperti biasa,"

"Mau aku nyanyikan Free Fallin? Versi John Mayer. Gombal paripurna itu,"

Dan kau hanya diam. Mengancingkan jaket buluk itu untuk menyimpan kehangatan yang pasti akan segera secara sia-sia keluar. Tak ada yang abadi. Bahkan untuk sebuah kehangatan.

"I wanna glide down over mulholland, I wanna write her name in the sky, Gonna free fall out into nothin', Gonna leave this world for a while," kubisikan kata itu ditelingamu lantas kupeluk erat tubuhmu. Yang kemudian kusesali. Karena kursi yang kau duduki pendek. Mau romantis malah kakiku terbentur dipan. 

"Jangan dilepas. Sebentar saja. Aku mau dipeluk sebentar saja," katamu bergetar. Sedikit lagi kau akan menangis. Aku tahu itu. Aku tahu kamu sejak lama. Aku tahu lebih dari dirimu sendiri. Kamu selalu menyerah pada hal-hal sepele. Hujan, kabut, subuh, anak anjing, pelangi dan nyaring bunyi knalpot. Kamu selalu bisa menemukan tuhan dimanapun. Selalu ada yang intim dan kudus dari matamu yang menyibak segala yang biasa menjadi tidak biasa.

Kamu mudah jatuh cinta semudah kamu terluka. Entah apa alasan sore ini kau datang ke rumahku. Membawa pundak yang kelebihan beban. Seperti sebuah kontainer bawang putih yang kepalang mahal harganya. Kau supir yang linglung dengan muatanmu sendiri. 

Malam sudah datang diujung pintu. Langit gelap. Kelelawar mulai keluar. Nyamuk berterbangan. Kodok dan jangkrik saling teriak memekikan telinga. Sementara Zeke and The Popo lantas menyanyikan Mighty Love dengan suara luar biasa cempreng. "I miss the sun while I'm in here, I fought my mind and my needs, I found out there are more to stake than just to scratch your back," katamu berbisik seraya menggenggam erat tanganku. Well, susah memeluk orang dari belakang sambil dipegangi. Apalagi dengan posisi menungging. Demi kesan romantis tak apalah kupikir.

Aku akhiri pelukan itu. Aku tahu itu tidak sehat. Kemudian masuk ke dalam lantas mematikan pemutar musik biadab bikinan Steve Jobs itu. "Aku akan nyanyikan lagu buatmu. Karena aku tak bisa gitaran. Biar kubacakan seperti puisi," kamu hanya diam tersenyum. Rambutmu yang basah. Lesung pipimu. Mata yang redup. Dan segala lekuk tubuhmu yang hanya dibalut handuk.

"Something in the way she moves, Attracts me like no other lover, Something in the way she woos me, I don't want to leave her now, You know I believe and how." kataku mendekat satu langkah padamu. Kamu hanya tersenyum simpul.

"Somewhere in her smile she knows, That I don't no other lover," aku bergaya menggenjreng gitar dengan sebilah penebah kasur, "Something in her style that shows me, I don't want to leave her now, You know I believe and how," kamu mulai tertawa dan aku mendekat satu langkah lagi.

"You're asking me will my love grow, I don't know, I don't know," kakiku naik di atas meja kecil. Bergaya seolah memberikan mik padamu, "You stick around now, it may show, I don't know, I don't know." kau mulai terbahak dan aku mendekat satu langkah lagi.

Ini lagu The Beatles. Kamu tahu itu. Kamu menyukainya. "Something in the way she knows, And all I have to do is think of her, Something in the things she shows me, I don't want to leave her now, You know I believe and how" kau berhenti tertawa. Aku tepat di depanmu. Lantas membuang penebah kasur itu dan memelukmu erat. Kita saling pandang. Kita saling diam. Tidak ada kata kata. Hanya suara hembus nafas dan concerto kodok jangkrik di luar sana.


Bibirku dan bibirmu hendak bersatu ketika ketukan itu makin mengeras.

"Mas ini pak RT. Tolong itu lagunya dimatikan, kami mau periksa rumah ini. Katanya ada tamu perempuan ya?" 

Waduh. Aku lupa laporan.



Kamis, 21 Maret 2013

Altar of Madness dan Kegilaan Morbid Angel



Gabungkan dinamit, mercon, kembang api dan segala macam hal yang mudah meledak ke dalam kendaraan super cepat. Lantas gabungkan dengan pengeras suara dengan volume terbesar yang bisa ditemukan. Lantas gabungan semua itu tak akan bisa mengalahkan euforia dan perasaan meletup-letup yang bisa dihasilkan oleh album ini. Altar of Madness merupakan album arkaik, kanonik dan monumental dari band death metal asal Tampa Florida, Morbid Angel.

Pada satu hari yang terik seusai sekolah, medio tahun 1999, almarhum kakak saya bertengkar dengan ibu. Entah soal apa, yang jelas seusai itu kakak saya masuk ke dalam kamar dan sesaat kemudian terdengar suara yang oleh ibu saya disebut sebagai "Musik setan yang merusak iman dan menghancurkan akal,". Kelak saya mengetahui jika lagu yang diputar itu adalah Bleed for The Devil. Dimulai dengan cabikan gitar yang kering dari Trey Azagthoth yang dilanjutkan dengan dentuman double pedal Pete Sandoval. Morbid Angel seolah merobek rumah kami yang biasanya tenang itu.

Hari itu saya jatuh cinta secara diam-diam dengan death metal. Ada yang agung dalam lengkingan gitar, dentuman bass, dan nyaring pedal drum yang dilakukan bertalu-talu. Seperti sebuah kerinduan spiritual atas naluri dasar manusia untuk dominasi. 

Bertahun kemudian ketika kakak saya meninggal dunia. Saya menemukan kaset Morbid Angel ini. Masih lengkap dengan cover ngeri yang mengingatkan saya pada satu fragmen gila dalam game Silent Hill. Altar of Madness barangkali adalah sebuah bensin yang mampu membakar siapapun untuk segera melupakan manisnya hidup dan mengambil sikap untuk melawan. Injak balik segala otoritas, lawan dan hantam segala norma. Morbid Angel bukanlah band politis. Lebih dari itu band ini berusaha keras melawan terhadap entitas yang lebih tinggi. Tuhan.

Ada sebuah arus kesadaran yang mencoba keluar dari diri ketika mendengarkan Altar of Madness. Bahkan sampai hari ini. Ia membiarkan segala yang tertekan, segala yang disegel dan segala yang dikekang untuk lepas dan memberontak. Seperti sebuah bersin, Morbid Angel mampu melahirkan khazanah musik yang membuat kita larut dalam kegilaan. Membuat kita tunduk dan lepas. Saya tak pernah lahir di era 80an ketika album ini muncul. Ketika perang dingin, perang no mention, sedang berlangsung. Ketika kemunafikan adalah keharusan dan mereka yang jujur adalah pecundang.

1989 adalah tahun dimana empat legenda Morbid Angel melahirkan album debut seminal yang memberi bentuk awal death metal pada zamannya. Mereka yang kala itu masih muda mampu melahirkan suara-suara yang kudus lagi bingar, kencang lagi profetik, membahana namun syahdu. Lirik lirik satanis, solo yang sporadis dan dentuman drum yang lebih cepat dari RX King. Segala pencapaian ini adalah sebuah formulasi baru dan pendobrakan besar tahun-tahun itu. Konon mereka yang hidup dan besar ketika skena 80-90an berjaya menganggap Morbid Angel adalah titisan Lucifer dalam skena musik.

Meski repetisi dan suara yang dibuat Morbid Angel adalah pendobrakan namun repetisi dan bunyi yang hampir seragam dalam tiap lagu memang berpotensi membuat bosan para pendengarnya. Meski demikian saya yang ketik kecil tak tahu apa itu metalheads, paham bahwa album ini adalah sebuah anthem kemarahan. Memang tak bisa didengarkan terus menerus berjam-jam. Namun coba saja dengarkan  "Chapel of Ghouls" yang memiliki suasana rumit namun meledak ledak. Atau "Maze of Torment" yang membuat bulu kuduk merinding karena suaranya yang nyaring bertalu.

Sulit untuk menyangkal jika Altar of Madness adalah milestone yang meletakan dasar-dasar death metal modern. Bahkan meski sudah lewat dua dekade sampai hari ini. Mereka yang mengawinkan Thrash dan Heavy Metal dengan lirik-lirik pemujaan iblis adalah satu di antara para pembaharu skena musik ini. Beberapa alsan diantaranya adalah album ini masih menjadi album metal terbaik yang sejajar dengan Reign in Blood dari Slayer dan Master of Puppets dari Metallica. Apakah karena itu saja? Tidak Musisi metal kanonik hari ini banyak yang merasa dipengaruhi album ini sehingga menceburkan diri dalam skena musik metal. Tidak ada Altar of Madness tidak akan ada mereka.

Tentu ini adalah klaim tak berdasar. Bahkan, klaim jumawa yang bisa saja dipatahkan. Tapi penggemar metal manapun saya kira sampai hari ini masih akan terus mengingat. Bagaimana ketika mereka pertama kali mendengarkan "Immortal Rites" sambil membaca liriknya merasakan bulu kuduk mereka menangang seolah sedang ereksi. "Blasphemy" dan puncak penistaan pada Tuhan serta pemujaan terhadap Iblis membuat kita termanggu dan ketakutan. Di sisi lain ia membangkitkan sesuatu yang purba. Sesuatu yang kelam dalam diri kita. Sebuah getar brutal akan kekerasan yang membuat tubuh ini moshing pada sebuah kerumunan imajiner.

Saya pribadi sangat menyukai "Bleed for the Devil" selain karena bahasa lagu ini relatif singkat, hanya dua setengah menit kebisingan dan detum teriakan kebencian, lagu ini secara sederhana sudah menyampaikan apa maksud dari Altar of Madness. Pemujaan terhadap sang setan sendiri. Saya bukan seorang satanis, sebagai muslim, atau fasik, album ini adalah sebuah pemberontakan yang sebenar-benarnya. Ruang cerita dan narasi bahwa iblis selalu jahat dan setan selalu salah seolah sedang dibongkar di sini. Perlawanan terhadap status quo dari objek yang menjadi arena peperangan baik dan buruk.

"Visions Form The Dark Side" adalah lagu underdog. Ada nuansa hardcore/thrash metal yang masih kental dan jelas dirasakan sejak intro awal lagu. Hal inilah yang barangkali masih dianggap dosa. Karena belum bisa lepas dari skena lama dan mendefinisikan karakter mereka sendiri. Sementara "Damnations" seringkali dijadikan lagu tak laku oleh kebanyakan metalheads. Seperti juga "Evil Spells". Padahal dalam pandangan saya pribadi dua lagu ini, meski tak se intens "Blasphemy" namun memiliki cara yang agung untuk menutup album ini.

Barangkali kuartet ini pada awalnya hanya ingin bersenang senang dengan gitar kencang, petik bass berat, lirik keji dan dentuman drum yang nyaring. Tapi mereka tak sadar jika sedang menciptakan sejarah. Seperti Newton dan apelnya. Morbid Angel adalah peletak dasar teory Black Metal yang adilihung.

One Thousand Dose of Gelora Semangat Manan Rasudi



Dear kak Manan, beserta surat ini kudoakan agar kau selalu dalam berkahan dan limpahan kasih sayang. Semoga kau selalu sehat dan bahagia. Semoga kau selalu beruntung dan mampu buang hajat sendiri tanpa bantuan orang lain. Singkat kata singkat cerita. Semua yang baik-baik agar selalu bersamamu.

Tahukah kamu mengapa kutuliskan surat ini duhai kak Manan? Lebih dari itu. Tahukah engkau mengapa mentari pagi selalu memberikan hangatnya pada manusia? Sementara masih banyak di antara kita yang masih miskin dan belum mampu menonton gigs Godspeed You Black Emperor di Malaysia. Masih banyak ketidakadilan di jagat raya ini yang membuat kita lupa bersyukur. Tapi kau berbeda duhai manan. Kau di atas siapapun yang kukenal, adalah pribadi bangsaku yang maju lagi berdaulat adil dan makmur.

Dear kak Manan. Kau adalah orang baik yang setiap hari memberikan kebaikan bagi orang lain. Memberikan cinta dan kasih sayang sesama manusia. Memberikan semangat dan alasan bagi beberapa orang untuk hidup. Seperti aku yang setiap hari bangun hanya untuk berharap “Onlen ah, kali-kali aja ada Manan terus ngobrol soal mantan,”. Kau adalah alasanku bangun di pagi hari dan menghadapi brengseknya hidup. Ya kau duhai kak Manan Rasudi yang baik hati.

Tapi selama beberapa hari ini, bukan beberapa bulan ini kulihat kau sedang bermuram durja. Mendung merana. Seolah gairah hidupmu yang meluap-luap itu telah habis dan hancur seperti pailitnya bank Century. Kulihat senyum tiada lagi tersungging di bibirmu yang tebal itu. Sinar matamu kosong seolah dementor menghisapnya ketika blow job. Adakah yang mengganggumu duhai manan? Ataukah kau sedang sedih memikirkan kemiskinan dunia dan pengaruhnya terhadap kualitas gigs yang makin brengsek hari hari ini? jawablah duhai Manan. Jujurlah padaku jika memang kau terluka.

Aku tahu kak Manan sedang kesepian merindukan pujaan hati anak paman petani. Aku tahu dalam kesepianmu hidup selibat sebagai seorang hipster akhir zaman kau bersumpah tak akan menikah sampai Coheed and Cambria datang ke Indonesia. Aku tahu ini duhai kak Manan. Tapi bukankah semua itu kau jalani dengan kebanggaan. Dengan kepala tegak karena menikah tanpa sumpah sudah terlalu mainstream. Jika bukan karena ini semua lantas mengapa engkau bersedih hati?

Aku tahu kau susah berbagi. Seperti juga hidupmu yang lebih memilih sunyi di kawasan Bulunganb daripada hingar bingar hotel Alexis. Aku tahu kau adalah ronin yang memilih menyendiri untuk berbakti menikmati musik terbaik. Tapi bolehkah aku, yang hina lagi fana ini, memberimu semangat? Memberimu sebuah percikan agar kau hidup kembali. Agar kau bisa ereksi lagi. Agar kau  yang selalu baik dan mamu berbagi band-band hebat masa kini tersenyum kembali. Meski kutahu semua yang kulakukan adalah sia-sia belaka. Namun seperti kata paman Gober, pantang pulang sebelum ngangkang.

Bersama surat ini kukirimkan mixtape untuk semangatmu duhai Kak Manan. Lagu-lagu yang barangkali terlalu mainstream dan tidak avant garde bagimu. Band band kelas dua dibandingkan seleramu yang agung lagi suci. Tapi biarlah demikian. Karena bagiku agamaku dan bagimu selangkanganmu. Aku mohon maaf atas seleraku yang demikian rendah hingga tiada layak dengar. Ataulah mungkin pilihan laguku begitu buruk sehingga membuatmu turun tekanan darah karena marah.

Lagi-lagu ini kususun berdasarkan cerita yang kira-kira bertema memberimu semangat untuk tetap hidup dan mencari jodoh hingga liang lahat. Kumulai lagu ini dari band spesialis patah hati, putus cinta dan penolakan. Dygta. Band yang masyur dengan lagu sedih ini kukira mampu merepresentasikan perasaanmu saat ini. Dimana barangkali kau sedang dalam kondisi “Aku tak bisa memiliki” terhadap perempuan, atau vinyl, atau konser sehingga membuatmu sedih. Jangan sedih manan. Jagat raya masih bersamamu hingga masa gajian berikutnya tiba.

Lagu berikutnya adalah band indie midwest Amerika Serikat yang pasti kak manan sudah tahu. Kid, You’ll Move Mountains yang dikenal karena lagu-lagu pop lembutnya. Aku tahu kak Manan tak suka band macam ini. Kakak lebih suka Gojira, Tool atau Alcest. Namun plis kak dengarkan lagu ini sedikit saja. Lagu ini berjudul An Open Letter to Wherever You’re From. Lagu tentang pemberontakan dan kabur dari kondisi sesak yang ada saat ini. Seperti puisi catutan Dian Sastro dalam Ada Apa Dengan Cinta. Semoga kak Manan bisa lepas dari kondisi mengekang kakak saat ini.

Nugie adalah penyanyi berikutnya yang akan menyapa kak Manan. Ia yang konon dianggap Eddie Vedder nya Indonesia ini pernah menulis lagu keren berjudul Teman Baik. Seperti yang orang tahu Kak Manan adalah berkah dalem bagi siapapun yang mengenal kak Manan. Manusia yang tanpa lelah memberi. Manusia yang tanpa lelah berdiri paling depan ketika sedang ada antrian sembako. Dan tak pernah lelah memberikan joke-joke kodian tentang band yang entah apa itu namanya. “Teman Baikku berkata, gunakan aku u u u, tak perlu kau risau, membalas, pamrih yang tersirat,” ugh kak Manan.

Aku tak yakin kalau kak Manan mengalami inferiority kompleks. Dengan wajah tampan rupawan, darah biru warisan keraton Cirebon dan pengetahuan luas bak google scholars. Gadis mana yang tak jatuh hatinya dipandang oleh kak Manan? Untuk itu jika Kak Manan sedang merasa gundah gulana dan merasa diri sedang jelek. Ada baiknya kak Manan mendengarkan lagu Christina Aguilera yang judulnya beautiful. Karena “You are beautiful, no matter what they say,” kak Manan dan yakinlah “Words can’t bring you down.

Sebagai pengamat blantika musik tanah air yang tiada banding bahkan dari Dennie Sakrielijius. Aku yakin kak Manan tahu ada band Doom Metal/Stoned Rock pioner di Indonesia. Ya Soneta Grup pimpinan Haji Oma Irama adalah pioner dari sound-sound Doom Metal/Stoned Rock dengan ciri gitar berat dan dominasi dentuman bass yang kronis. Lagu berikutnya adalah Perjuangan dan Doa. Lagu klasik Haji Oma Irama bersama Soneta yang mencirikan puncak Stoned Rock yang masyur. Coba tengok intro lagu ini yang begitu kental dengan ciri khas Southern Lord Records. Ditambah pula lagu profetik eklektik yang berkisah tentang usaha keras dan doa. Cocok untuk kak Manan.

Adalah band indie pop darling dari Philipina The Camerawalls yang akan menyambut kak Manan seusai beratnya Stoned Rock. Lagu icik ehem yang lembut manis bak gula-gula ini memang disiapkan untuk Kak Manan seorang. Dengan judul lagu yang lumayan cutting edge dan  avant garde, My Life's Arithmetic Means, akan menyapa ruang dengar kakak. “Laughter always forgives and forgets / Oh, like a bubble at a touch / I won’t let you break / I won’t even pretend,” manis kan kak? Lalu dilanjut dengan “Cause you’re the value of my life’s arithmetic means.

Adalah Ebiet G Ade dengan Senandung Jatuh Cinta yang merupakan doa dan harapan supaya kak Manan bisa menemukan pujaan hati. Tak cukup banyak kata yang mampu kuucapkan. Karena syair-syair Ebiet adalah doa itu sendiri kak. Semoga kak Manan tak luruh dan larut dalam haru karena pesona lagu ini yang merdu lagi syahdu.

Mungkin jika syair dari Ebiet G Ade tak cukup masih ada Dylan Mondegreen yang akan menyanyikan lagu Wishing Well untuk kak Manan. Lagu ini bermakna ganda karena  ia bisa berarti “mengharapkan yang terbaik,” atau bisa juga “Sumur Keberuntungan,” namun apapun yang terjadi. Semoga lagu ini bisa membangkitkan semangat kak Manan untuk move on dan barangkali melupakan mantan.

Apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini kak? Wanita? Gigs? Status hipster? Ataukah uang belaka? Karena semua itu adalah fatamorgana kak. Sementara yang kekal dan abadi hanyalah milik Alloh belaka. Untuk itu kak Manan, izinkan aku untuk mengingatkan kak manan untuk selalu taat beribadah. Hadad Alwi yang kini sudah berpisah dengan Sulis, telah membuat single Jagalah Sholatmu untuk mengingatkan kita perkara akhirat kak. Jatuh cinta boleh, asal jangan lupa beribadah.

Setelah sholat, doa dan berusaha selesai. Saatnya piknik untuk melupakan segala gundah gelisah yang menggelora di dalam dada. Kak Manan akan ditemani oleh band Indie Pop asal Jepang the Babystars yang menyanyikan lagu Sunday. Lagu ini intinya bercerita tentang janji kencan antara dua orang sepasang kekasih yang baru jadian. Aku tahu kak Manan sedang menjalani selibat dan memutuskan sendiri. Namun tak ada salahnya untuk janjiang dengan orang lain dan piknik ke Monas di hari minggu yang cerah misalnya?

Tapi aku tahu kak Manan akan menyembunyikan luka dalam senyum. Karena semua itu adalah kodrat lelaki yang tak mungkin dihilangkan. Mungkin lagu dari Tic Band ini bisa memberikan semangat pada kak Manan yang sedang bersedih. Mungkin sisa sedihnya kan habis karena sadar bahwa kak Manan adalah lelaki idola sepanjang zaman yang lucu lagi keren.

Lagu terakhir ini bukanlah sebuah pamungkas kak. Band indie electro pop serupa Owl City namun dalam lagu ini ia akan menyanyikan lagu akustik berjudul for you. Ya kak manan. Semua ini hanyalah untuk kak Manan seorang. Lagu ini bertempo lebih lambat dari pesan bapak Presiden yang ducapkan Moerdiono seusai dunia dalam berita. Namun lebih cepat sedikit dari penanganan harga bawang putih yang melambung saat ini. Semoga kak Manan terhibur.

Stay alive, stay young, jangan lupa doa dan selalu mengangkang sebisa mungkin. Akhirul khalam. Tiada kata terucap selain rindu padamu ya salam.

Selasa, 19 Maret 2013

Epos Lancelot III

di meja bundar

di meja bundar
sumpah yang patah
dikebiri harapan
serupa mendung
yang urung hujan

"kau lelaki yang hebat, sahabatku,
mengapa kau lakukan ini padaku?"
pertanyaan itu kebas
karena piring yang pecah
tak punya rupa
selain sampah

adakah yang tertinggal?
selain sumbing kenangan
dan sayat sesak

Seusai Perang

gigi parang yang kau ayunkan
tak lebih tumpul dari akalmu

Munafik

kuda hitam yang kelam meraungraung ingin kawin ketika perang berkecamuk sementara kau ya kau kau yang kau yang kau kaukan merengekrengek ingin melaju terjun beradu nyali dengan pasukan lawan seolah kemenangan akan memberimu surga

tapi kau tau itu tidak benar
tidak pernah benar
dan bukan sesuatu yang benar

perang adalah maling
yang pelan pelan
membawa pilu
untuk dibanting ke dahimu
lebih keras

Minggu, 17 Maret 2013

Liner Notes Mixtape Kawinan Urban Kontemporer Untuk Mantan



Hei kamu. Iya kamu. Selamat ya hari ini kamu menikah. Barangkali aku tak bisa datang. Bukan, bukan karena aku sakit hati atau masih merasa pedih. Malahan aku senang sekali dan turut berbahagia. Okelah tidak berbahagia sepenuhnya. Jauh di dalam hati mungkin aku masih merasa tak rela. Tapi bukankah hidup perihal kekecewaan-kekecewaan yang terlembaga? Seringkali hanya sekedar rasa bosan yang bertumpuk. Oh iya, aku tak bisa datang karena lokasi pernikahanmu jauh dan kupikir kedatanganku hanya bikin kita berdua canggung bukan?

Sebagai permohonan maaf ku kirimkan surat ini beserta sekitar 20 lagu dalam mixtape yang kuberi judul Urban Ex Story (UES). Mengapa 20 lagu? Dan mengapa berjudul UES? Kukira beberapa pertanyaan tak perlu jawaban. Sekedar retorika yang kita semua tahu jawabannya. Tapi untuk kamu. Ya kamu yang hari ini berbahagia bersama ia dan menikah. Aku akan beri jawaban. Mengapa 20? Karena ketika kususun aku keasikan dan tanpa sadari sudah mencapai angka itu. Lalu mengapa UES? UES dibaca uwes dalam kazanah bahasa ngoko jawa hal ini berarti sudah. Sudah. Kamu sudah menjadi milik orang lain.

Tapi bukan tentang kesedihan yang ingin aku bagi di sini. Tapi perihal kenangan dan cerita yang dulu pernah kita lalui. Tentu tak penting ditulis di sini. Some story are better left unsaid. Oh ya pernahkah kukisahkan padamu tentang Jorge Luis Borges? Seorang penulis Argentina yang mendukung fasisme dan seorang bibliophile yang akut. Pecinta buku yang mabuk kepayang. Seseorang yang seumur hidup mencintai buku dengan kadar yang hampir menyerupai obsesif kompulsif yang kronis. Seperti juga aku, ia mencintai seseorang dan pernah dikecewakan. Tapi apakah ia menyesal? Tidak.

Bahkan ketika ia divonis buta. Ia masih mencintai buku. Sesuatu yang ia anggap tak pernah memberinya kekecewaaan dan pengkhianatan. Kecintaannya pada buku barangkali adalah sebuah kanalisasi atas kekecewaan karena gagal mendapat cinta. Seperti juga aku, ia menjadikan buku sebagai sebuah sarana eskapis yang paling setia. Dalam salah satu kutipannya yang masyur ia berkata “I think heaven is somekind like library,” ia katakan itu ketika kebutaan telah merebut penglihatan kedua matanya. Syukurlah ia memiliki seorang murid setia bernama Alberto Manguel. Seorang maniak buku yang merawatnya hingga akhir hayat.

Tapi semua itu tak penting bukan? Iya dong. Masa di hari bahagia ketika kau berada dipelaminan aku bercerita tentang kekecewaan? Tentang penolakan dan kisah-kisah yang luput dan urung kita ceritakan? Tapi ada baiknya kita bercerita tentang Allegri Dante, penyair masyur Italia, pengarang puisi epik Divine Comedy. Ia yang seumur hidup jatuh cinta sekali, terpaksa harus gigit jari karena si kekasih itu rupanya memutuskan untuk mencintai orang lain. Dalam kesedihan ia menuliskan sajak-sajak Purgatory yang terkenal itu. Ia adalah contoh manusia yang berpikir bahwa kehilangan tak mesti harus menjadikan manusia terpuruk. Lebih dari itu ia menjadi legenda karena puisinya.

Hari ini kubayangkan kamu tersenyum lepas. Bersama suamimu tentu. Di pelaminan dan bersalaman dengan handai tolan, sahabat dan keluarga. Sesekali berfoto, mengabadikan momen magis itu. Untuk kelak ketika kau beranak pinak. Kau akan punya cerita. Punya memorabilia. Bahwa kau gadis yang dulu tangguh itu akhirnya dipersunting lelaki lantas menjadi istri. Menikah, kukira, adalah upaya jatuh cinta pada satu orang yang sama setiap hari. Semoga kau bisa begitu.

Nah dalam lagu ini ada 20 lagu yang kupilih berdasarkan narasi cerita pertemuan kita. Eh aku lupa, percuma bicara tentang kenangan denganmu yang sudah jadi milik orang lain. Kukira aku menyusun ini secara impulsif berdasarkan fragmen lirik atau musikalitas mereka saja. Kau tentu setuju bukan? Ah iya ini kado. Kau tak boleh protes atas apa yang kupilih. Aku juga harus minta maaf di dalam mixtape ini tak ada lagu favorit dan band kesukaanmu. Lagipula kita punya selera yang sama sekali berbeda dan buat apa mendengar yang sudah terlalu sering kau dengar? Membosankan bukan.

Lagu ini dimulai dengan biduanita dengan suara emas bernama Bonita yang berjudul hari ini. Lirik lagu ini kukira pantas menjadi anthem hidup barumu. “pejam mata, buka masa baru, biar wajah berseri,” hidupmu dimulai lagi sebagai seorang istri. Sebagai seorang anggota baru keluarga atau bahkan kelak menjadi seorang ibu dari banyak anak yang pernah kau ceritakan dulu. Tak hanya itu Bonita dengan syahdu melanjutkan lirik itu dengan kalimat “lagukanlah, t’usah hirau, inilah suaramu,” cocok dengan hobimu yang menyanyi itu kukira.

Lagu kedua adalah the sound of settling dari Death Cab For Cutie. Ini tentang masa muda yang lampau. Lagi-lagi tentang ingatan ya? Hahaha iya aku tak konsisten. Tapi coba dengar lagu ini “Our youth is fleeting, Old age is just around the bend. And I can't wait to go gray.” Ia bercerita tentang masa depan yang akan datang. Entah kau akan menyentuhnya, menghadapinya atau bahkan sembunyi darinya. Bukankah hidup hanya perkara menunda keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar?

Wah apakah aku harus menjelaskan semua lagu dalam album mixtape ini? Wah bakal keriting tanganku nanti. Tapi hey! Ini adalah hari pernikahanmu! Hari istimewa yang membuatmu istimewa pula. Jadi tak apalah aku berkorban sedikit perihal cerita di balik lagu-lagu yang kupilih ini. Jadi sampai mana tadi?

Ah iya lagu berikutnya dari Frau, soloist dari Jogja yang berduet dengan keyboard kesayangannya Oscar. Lagu mesin penenun hujan ini punya musikalitas sederhana namun memiliki lirik yang kuat. “Kau temukan seorang lain yang lebih baik, dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan,” terdengar familiar? Haha iya benar. Kau memilih dia daripada aku. It’s fine. Toh pilihan bebas bukan? Terlepas dari fragmen lirik ini lagu Frau berkisah tentang cara melanjutkan hidup. Melupakan masa lalu dan menghadapi hidup ke depan. Seperti yang ia ungkapkan dalam lirik lain “Tapi takkan lama, ku kan jadi awan.

Seusai Frau ada Mocca yang meng-cover lagu masyur Bjork hyper ballad menjadi sebuah lagu yang renyah dan teduh. Ada nuansa jazz yang lembut dan getar yang menyeruak seolah Arina membaca sajak. Bjork barangkali adalah penyair pastoral yang bercerita tentang keindahan desanya. Tentang Islandia yang dingin, misterius dan tegar. Tapi di penutup lagu ini ia menulis sajak tentang kerinduan “I go through all this, Before you wake up, So I can feel happier,To be safe up here with you” bacakan ini untuk suamimu dan kujamin ia akan tersenyum sepanjang hari.

Sore. Tahukah kau tentang band yang hampir semua personilnya adalah kidal ini? iya. Sore dengan mata berdebu-nya bicara tentang janji yang tak lunas. Tentang kesepakatan yang patah. Dengan nada berbalur jazz tebal dan suara terompet yang mendominasi. Kau akan menemukan sedikit luka. Iya lukaku. Hahaha bohong ah kalau kubilang aku sepenuhnya rela kau menikah dengan orang lain. Dalam lagi ini Sore berkata “Dan aku tak bisa melangkah, Di antara musafirnya / Dan aku rindu melangkah di duniamu, Di antara 'ku..janjimu terlunta.

Island on the sun akan menyambutmu seusai lagu sendu Sore. Lagu ini rancak berirama cepat. Oke tidak sepenuhnya rancak. Setidaknya lebih cepat dan bersemangat daripada Sore. Lagu ini bercerita tentang liburan. Usai kau menikah biasanya kau akan bulan madu bukan? Lagu apa yang paling cocok bercerita tentang liburan selain lagu Wezzer ini? “On an island in the sun, We'll be playin' an' havin' fun, And it makes me feel so fine, I can't control my brain.

Payung Teduh! Ya Payung Teduh. Sebenarnya band ini adalah band suci yang mempertemukan aku dan pacarku saat ini. Bahkan band ini yang mengiringi kami jadian. Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang tak diikhlaskan berkisah tentang… ah sudahlah. Dari judulnya kukira kau sudah paham. Dan mengerti maksud lagu ini bukan? “Kita tak semestinya berpijak diantara, Ragu yang tak berbatas, Seperti berdiri ditengah kehampaan, Mencoba untuk membuat pertemuan cinta.

Mew memang tak dikenal sebagai pencipta lagu-lagu riang. Coba saja kau baca liriknya dalam Comforting Sounds ini “And probably you know all the dirty shows I've put on. Blunted and exhausted like anyone. Honestly I tried to avoid it.” Kita sama-sama bukan malaikat bukan? Seringkali ada kebohongan dan luka yang tertinggal dari sebuah hubungan. Mumpung masih deket lebaran. Mohon maaf lahir dan batin yah? Masa udah kawin gini gak mau maafin?

Oke lagu berikutnya adalah musikalisasi puisi dari Sapardi Djoko Damono yang berjudul sajak kecil tentang cinta. Dinyanyikan dengan nyaris sempurna oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana Soebianto. Lagu ini barangkali akan mengajarkanmu bahwa mencintai adalah perihal pengorbanan, perihal kompromi dan penerimaan. Seperti kata sapardi. “Mencintai air harus menjadi ricik, mencintai gunung harus menjadi terjal.

Sejauh ini aku berikan lagu-lagu dengan lirik sebagai kekuatan utama maka cobalah nikmati Autumn Ode. Sebuah band post rock dari Bandung yang nir lirik. Bukankah beberapa hal tak perlu kata-kata untuk bisa dipahami maknanya bukan?

Sudah separuh jalan. 10 lagu dari 20 yang aku susun untukmu. Berikutnya adalah Adalah jejak & arah dari Pure Saturday. Barangkali ini sebuah pesan. Seperti semuanya. Lagu-lagu dalam mixtape ini adalah pesan. Tapi lagu ini adalah sebuah penekanan “Terlintas satu harapan, Keinginan untuk kembali. / Apa yang akan terjadi, Bila ku harus menanti,” seringkali ada beberapa hal  yang tak mungkin bisa kita miliki. Dan hal itu cuma bisa direlakan. Seperti kamu mungkin? Oh ya genjreng gitar lagu ini asyik sekali.

Blur adalah salah satu dari sekian banyak band di Inggris yang bisa membuat narasi lagu ketika petik gitar pertama mereka dibunyikan. Tender adalah sebuah lagu lembut tentang kekasih. Barangkali juga usaha untuk melupakan yang lama dan menemukan yang baru. Tapi interpertasi tak pernah tunggal bukan? Coba saja baca lirik ini “Tender is my heart, I'm screwing up my life / Lord I need to find, Someone who can heal my mind.” Cocok dinyanyikan dengan paduan suara loh!

Intro lagu berikutnya hampir mirip  ketukan bass drum dari Blur. Tapi yakinlah ini adalah BIP dengan lagu masyurnya tentang perpisahan “ternyata harus memilih”. Kau tahu lagu ini bukan? Ternyata kita sampai pada jalan yang berlainan arah. Ternyata kita harus memilih. Mana jalan yang terbaik tuk semua. Tapi lebih dari itu aku ingin kau, juga aku, mengingat yang indah-indah saja.

Sigur Ros barangkali adalah band post rock paling mainstream yang pernah ada. Sementara Fljótavik adalah lagu tentang petualangan yang sering disalah artikan sebagai lagu perpisahan. Lagu ini adalah sebuah pesan untuk mereka yang hendak bertualang. Tentang hidup yang pejal dan mengarungi sesuatu yang asing. Ingin tau? Coba dengarkan ini seraya menaiki kereta dengan rinai hujan di ujung jendela. Kau akan merasakan hal magis!

Dialog Dini Hari adalah band folk akustik paling estetik perihal lirik. Mungkin karena mereka tinggal di Bali dan mempengaruhi nalar kreatif mereka melahirkan diksi sederhana dengan multiplitas makna. Coba saja kamu dengar Hati-Hati. Secara literer lagu ini semacam pesan untuk mereka yang hendak bekerja untuk hati-hati dalam berkendara. Namun bukankah kita bisa membacanya sebagai sebuah salam perpisahan dan mengharapkan hal yang terbaik bagi mereka yang pergi?

Apakah kamu pernah merasakan musim gugur? Ed Sheraan bisa dengan jenius menggambarkan itu semua. Ketika musim menjadi muram. Warna menjadi murung dan dingin perlahan naik. Musim mempersiapkan diri untuk menjadi dingin dalam salju. Sebuah hari yang biasa. Sebuah momen yang wajar. Sebuah siklus hidup yang ia gambarkan dengan pari purna. “Another tear, Another cry, Another place for us to die, It's not complicated.” perpisahan, jatuh cinta dan menikah. Hal yang biasa tidak rumit.

Maliq and The Essentials mampu menuliskan lagu perpisahan dengan riang, beat yang kencang, dan nada yang bertalu merdu. “Jika memang adanya, aku dan kamu tak bahagia, jadikanlah cerita kita berdua, untuk slamanya,” benar. Jika tak bahagia mengapa harus satu? Dan mengapa pula perpisahan harus dirayakan dengan tangis? Bukankah asyik jika kita merayakan perpisahan seraya dansa cha-cha-cha dan bernyanyi riang?

Seusai lelah berdansa mungkin kau akan jatuh terduduk dan sendu membayangkan masa lalu. Jangan khawatir hai kamu yang hari ini menikah! Masih ada Incubus dengan Nice To Know You! Lagu ini memiliki tempo yang lembut dan naik secara perlahan hingga sangat kencang. Dentuman bass yang menjadi ciri utama Incubus beradu merdu dengan turntable. Kau akan jingkrak-jingkrak lagi seraya merayakan masa lalu dan pernikahanmu. Lagi pula “Nice to Know you,” adalah sebuah kredo atas perkenalan bukan?

Silampukau akan menenangkan kembali urat-urat tegangmu. Dengan petik gitarnya yang lembut, humming, dan sengau akapela yang seperti berusaha membuatmu duduk untuk menikmati segelas the hangat. Sekali lagi lagu tentang perpisahan. “Akhir kita bukanlah di sini, semoga, detik ini mengendap selamanya, semoga, rindu tak membebani kita,” apa yang lebih indah dari ini? kau dan suamimu serta aku duduk bersama, menikmati secangkir teh hangat seusai pesta yang melelahkan? Dan bicara tentang hari esok yang belum pasti.

Last Goodbye adalah sebenar-benarnya perpisahan. Jeff Buckley dengan suaranya yang lembut itu adalah pengiring yang indah. Aku akan pergi dari pestamu yang meriah. Sendirian tentu saja. Kau akan menyimpan ceritamu untuk dirimu sendiri. sementara ceritaku akan selesai sampai di sini. Buat apa mengingat hal yang hanya akan membuat kita luka? Tak ada penyesalan. Tidak ada ratapan. “This is our last goodbye / I hate to feel the love between us die.

Dan di sinilah kita. Berpisah selayaknya orang asing. Anton Chekov, penulis drama dan cerpenis Soviet terkenal, itu pernah berkata. “Jika kau tak ingin kesepian. Jangan menikah,”. Kukira ia bicara dengan nada sinis. Barangkali pernikahannya yang tak bahagia. Tapi jangan khawatir. Dunia terlalu indah untuk diributkan dengan hal-hal negatif macam itu. Selamat menikah hei kamu dan semoga bahagia.

Minggu, 10 Maret 2013

Perihal Membeli dan Mengoleksi Buku


Selalu ada yang intim dan dekat ketika saya datang ke toko buku. Sebuah perasaan bahwa saya sedang berada di rumah dan berada di antara keluarga. Klise memang. Tapi entah mengapa toko buku, juga perpustakaan, selalu memberikan perasaan damai. Bahwa seharusnya tempat-tempat semacam ini harus dibikin lebih banyak. Bahkan jika perlu dibangun lebih banyak daripada rumah ibadah yang hanya ramai dan penuh seminggu sekali itu.

Ketika saya masih kanak-kanak toko buku adalah tempat rekreasi nomor tiga setelah pusat perbelanjaan dan rumah makan. Ayah saya tak begitu suka mampir ke Gramedia karena alasan sederhana; tempat parkirnya sempit dan gak ada foodcourt. Tapi bagi saya Gramedia, yang dari rumah saya terletak lebih dari 50km jauhnya, bisa seperti bianglala. Ada berbagai jenis komik, buku cerita dan ensiklopedia yang terlihat wah. Kala itu alih-alih membelikan ensiklopedia bergambar disney yang dijual paketan, ayah memberikan saya Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) sebagai gantinya. Sedih.

Beranjak dewasa toko buku selalu menjadi wahana eskapis paling menyenangkan. Sering di awal-awal saya kuliah berdiam diri di Togamas atau Gramedia sembari membaca buku dilakukan berjam-jam. Sehingga Mas Trik, supervisor Togamas Jember, kenal baik dengan saya. Sering ia memberikan keleluasaan saya untuk membuka buku segel dan mendapatkan diskon tambahan jika membeli buku. Kadang saya berpikir sebuah toko buku akan lebih sukses dan besar jika mereka memperlakukan para pelanggan selayaknya keluarga.

Dibanding Gramedia saya jelas memilih Togamas toko buku diskon yang murah dan lebih manusiawi. Belakangan saya beralih membeli buku di toko buku online karena mencari buku-buku klasik yang sudah susah dicari di toko buku biasa. Beberapa toko buku maya tersebut memasang harga yang lumayan tinggi untuk beberapa judul buku. Awalnya saya kira wajar karena buku tersebut memang susah dicari dan susah untuk didapatkan. Namun belakangan hal ini tidak sepenuhnya benar. Beberapa penjual tega menawarkan barang dengan harga tinggi kepada pembaca awam untuk mencari laba setinggi-tingginya.

Memang dalam bisnis merupakan hal yang sangat wajar dari seorang penjual untuk menawarkan barang untuk meraih laba setinggi-tingginya. Juga sangat wajar dan dibenarkan jika penjual memberikan harga tinggi karena sebuah benda langka atau memang susah didapatkan. Selaiknya teori suply and demand, ketika keberadaan bahan berbanding terbalik dengan kebutuhan maka harga meningkat. Siapapun tahu hal ini. namun sangat disayangkan apabila penjual buku yang notabene juga penikmat buku menjual sumber pengetahuan ini dengan harga mencekik hanya untuk uang semata.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan seorang penjual buku di twitter yang menawarkan harga buku sangat tinggi. Ia menjual seri tetralogi pulau buru karangan Pramoedya Ananta Toer terbitan hasta mitra dengan bandrol Rp. 250.000. Dalam perbincangan saya ketahui jika buku tersebut bukanlah cetakan pertama, malah beberapa bagian buku sedikit rusak dan ada stempel kepemilikan. Lantas saya bertanya jika kondisinya demikian mengapa dijual mahal? Ia menjawab dengan santai bahwa buku ini langka dan banyak yang cari. Sesederhana itukah?

Ketika membeli sebuah buku, hal pertama yang saya utamakan adalah isi dan kualitas dari buku tersebut. Bukan hanya buku tersebut bukan tentang kualitas fisik, tapi lebih kepada apakah cerita atau konten buku tersebut menarik dan penting? Sejak lama saya menyenangi buku-buku sastra, terutama buku puisi. Jadi ketika ada buku puisi yang menarik, semahal apapun buku tersebut akan saya bayar. Namun tentu dengan akal sehat, karena akan jadi sia-sia bukan jika buku dibeli namun membuat kita ketar-ketir bingung mau makan apa besok?

Dalam membeli buku ada baiknya kita bijak. Awali dengan pertanyaan sederhana “Mengapa kita perlu membeli sebuah buku?”. Pertanyaan itu akan mencegah kita berbuat impulsif dan membeli buku yang tak penting. Saya tahu ini karena sebagai pembeli buku impulsif saya sudah banyak mengeluarkan uang untuk buku. Buku yang terbeli akhirnya teronggok dan tak terbaca karena isi tak seusai dengan harapan. Percuma membeli buku jika toh pada akhirnya buku itu tidak terbaca bukan?

Dalam membeli sebuah buku biasanya saya sesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya apabila buku itu berseri maka membeli kelanjutan buku tersebut bisa menjadi prioritas dan dibenarkan. Seperti seri Ali Topan anak jalanan dari Teguh Ehsa. Atau buku tersebut adalah sebuah buku yang lahir dari polemik dan muncul buku lain yang menjawab polemik tersebut. Seperti buku Prahara Budaya dan Lekra Tak Membakar buku. Atau bisa juga buku tersebut kita beli sebagai bahan penelitian, riset, dan tugas kuliah/kerja. Ada unsur pragmatis untuk alasan ini namun bisa dibenarkan.

Adapula alasan lain seperti iseng karena ingin membaca sesuatu yang beda dan segar. Sebagai pembaca karya sastra, meski tidak serius, saya kadang mencoba membaca buku-buku bergenre komedi atau catatan perjalanan. Buku semacam bisa jadi penawar kejenuhan karena pusing dicekoki kata-kata puisi yang multitafsir. Tetapi membeli buku tanpa alasanpun tidak masalah. Pertama karena itu uang anda sendiri dan yang kedua tak ada salahnya membeli buku daripada membeli tiket konser yang seringkali tak penting.

Setelah mampu menjawab mengapa kita perlu membeli buku ada baiknya disesuaikan dengan kemampuan anda membeli. Toh tak melulu nafsu untuk memiliki buku perlu dipuaskan. Menahan diri untuk memenuhu kebutuhan primer seperti sandang-pangan juga penting. Jika sebuah harga buku kelewat mahal dan tak masuk akal ada baiknya menahan diri. Jangan terburu nafsu impulsif membeli tanpa melakukan perbandingan harga di toko lain. Bagi saya pribadi jika sebuah buku ada di Togamas atau Social Agency (Jogja) saya tak akan membeli buku tersebut di Gramedia.

Hal yang sama perlu anda terapkan juga di toko buku online. Beberapa pedagang buku menjual buku dengan semaunya dan tak masuk akal. Pernah saya temui buku Penembak Misterius karya Seno Gumira Ajidarma terbitan Grasindo dijual seharga Rp. 90.000 padahal jika ada pameran kita bisa memilikinya dengan harga tak lebih dari Rp. 5.000 saja. Beberapa penjual buku online bisa sangat curang pada pembeli awam yang kepepet dan terburu nafsu untuk memiliki.

Apakah salah mencari laba tinggi? Tidak. Namun bagi saya kurang etis menjual sesuatu dengan memanfaatkan ketidaktahuan konsumen dan mencari laba segila-gilanya. Belum lagi pedagang buku yang ogah memberikan alasan dan penjelasan mengapa sebuah buku menjadi mahal. Alasan klise semacam banyak orang yang cari dan stok sedikit bagi saya tak cukup. Penjual buku harus bisa memberikan penjelasan etis sebagai sebuah tanggung jawab mengapa buku tersebut mahal.

Misalnya mengapa buku Pram yang berjudul Gulat di Jakarta cetakan Indonesia tahun 1953 berharga mahal? Dan bukankah cetakan Malaysia tahun 1995 berharga mahal? Karena buku tersebut dicetak sangat terbatas dan mungkin hanya terselamatkan sebanyak 1.000 eksemplar. Jadi buku tersebut memang susah dan sangat sulit dicari. Berbeda dengan cetakan Hasta Mitra yang dicetak sangat masif paska jatuhnya Soeharto. Hampir setiap minggu buku itu ada dan terjual dalam kisaran 80-100ribu rupiah. Nah jika ada yang menjual dengan harga 250ribu kita patut curiga dan bertanya.

Beberapa kawan dengan nada berseloroh mencibir kritik saya terhadap penjual buku online. “Kamu sama pedagang kecil kritik kencang sekali. Beli buku di Gramed harganya ratusan ribu diam saja,” kawan saya tersebut benar. Tapi ada perbedaan besar antara Gramedia sebagai toko buku brengsek yang juga membakar bukunya sendiri dengan pedagang buku kecil yang licik mencari laba besar dari ketidaktahuan konsumen.

Ketika ke Gramedia orang sudah memiliki kesadaran bahwa toko itu tak pernah menjual buku murah selain ketika ada acara diskon. Sedangkan kepada pedagang buku online atau lapak pinggir jalan kita berharap mendapatkan buku yang relatif lebih murah dari toko besar. Memang ada sebuah realitas yang perih di sini. Saat saya ke Gramedia tentu tak akan melakukan transaksi tawar menawar. Sedangkan pada pedagang buku bekas saya akan menawar semurah mungkin. Terlihat sangat munafik memang. Tapi yang jelas saya jarang menawar jika buku tersebut harganya masuk akal dan si penjual bisa dengan jelas memberikan alasan mengapa buku tersebut mahal.

Buku online seperti juga penjual buku dilapak-lapak jalanan tentu tahu bahwa buku bekas bisa didapat dengan murah di loakan. Dari harga beli dan harga jual si pedagang pasti sudah mempertimbangkan margin laba yang diinginkan. Ini yang membuat saya sangat kesal apabila sebuah buku yang notabene bisa didapatkan dengan mudah dan banyak jumlahnya dijual dengan harga mahal. Seringkali saya ingin membubuhkan komentar di lapak online mereka bahwa di toko anu jauh lebih murah. Atau cari saja di toko ini karena lebih terjangkau. Tapi hal ini tentu salah dan bisa mematikan sumber pencaharian orang.

Sayangnya belakangan makin banyak toko buku online yang keblinger dan menjual buku seenak jidatnya. Beberapa waktu lalu ada seseorang yang menjual buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I dan II karangan Sukarno dengan harga 9juta. Sebuah harga yang gila untuk buku yang dengan uang 300rb anda sebenarnya bisa memilikinya. Si penjual buku DBR ini malah bangga karena bisa menjual dengan harga mahal padahal dibeli dengan harga murah. Ada yang salah di sini. Seseorang yang mengetahui nilai pengetahuan buku lantas melacurkan benda tersebut, bagi saya tak lebih baik daripada penjagal nazi.

Adapula penjual buku yang tak jujur menjelaskan kondisi buku. Apakah buku tersebut rusak dimakan rayap, terkena air, noda tinta, coretan atau bahkan hilang halaman. Beberapa penjual juga tidak jelas mengatakan jika buku yang dijualnya itu adalah buku hasil fotokopian. Hal ini yang membuat transaksi jual beli buku secara online beresiko. Ada baiknya sebagai pembeli pemula anda bertanya kepada rekan yang sudah sering melakukan transaksi atau bisa membeli buku dengan jumlah kecil.

Dari situ anda bisa menilai apakah toko tersebut jujur, terpercaya dan pelayanannya memuaskan. Karena adapula penjual yang sangat ribet dalam melakukan transaksi karena mewajibkan pencantuman bukti transfer. Sementara penjual yang lain bisa dengan mudah mengirimkan barang dengan konfirmasi pengiriman saja. Namun hal ini jangan disalahgunakan untuk melakukan pembelian buku dengan menipu. Mengaku sudah membeli namun tak mengirimkan uang. Ini adalah tindakan kriminal dan tentu saja akan membuat penjual buku tersebut merugi.

Namun ada juga toko buku yang dengan seenaknya mengirimkan buku pesanan kita tanpa melakukan konfirmasi transaksi sebelumnya. Sudah jamak di antara penjual dan pembeli langganan untuk menyimpan pesanan sampai satu nilai tertentu sebelum akhirnya membayar. Namun jika barang dikirimkan dulu lantas penjual menagih bagi saya itu seperti pemaksaan untuk membeli. Tak salah memang namun memberikan ruang bagi pembeli untuk memilih juga bukan kejahatan. Pedagang semacam ini berpotensi ditipu oleh pembeli yang nakal. Selain itu si penjual berpotensi dianggap memaksa membeli oleh pelanggan.

Lantas mengapa sebuah buku bisa berharga sangat mahal? Hal ini bisa diaplikasikan pada segala jenis benda koleksi seperti action figure, komik, vinyl, kaset dan mainan. Sebuah benda menjadi mahal karena punya nilai sejarah penting, bisa pula karena ada ikatan emosional kepada si kolektor. Tapi ada beberapa hal yang bisa dijadikan panduan bagi pembaca atau kolektor buku pemula untuk bisa menilai sebuah barang menjadi mahal atau murah. Hal ini saya tuliskan hanya sebagai pegangan saja agar anda sekalian bisa bijak memilih dan membili dan tidak terburu nafsu membeli sebuah barang mahal hanya karena keinginan sesaat.

Pertama ketika anda ingin memulai koleksi buku, mulailah dengan buku-buku yang anda sukai. Karena seorang kolektor buku dan pembaca biasa dapat dibedakan berdasarkan buku yang ia beli. Bisa jadi buku yang terorganisir berdasarkan genre tertentu seperti karya sastra, buku cerita bergambar, buku cerita anak-anak atau bisa juga buku tentang misteri. Jangan ikut-ikutan membeli buku hanya karena cerita atau rekomendasi orang tanpa memiliki dasar. Jangan karena buku tersebut dianggap langka dan penting anda ikut-ikutan. Selain boros belum tentu buku  tersebut sesuai dengan minat anda. Bisa-bisa setelah membeli kecewa dan pada akhirnya buku itu teronggok tak terbaca.

Kedua. Syarat terpenting dalam mengkoleksi buku jadul atau langka adalah kondisi. Seingin apapun anda jika buku itu terlanjur rusak, tidak sempurna maka lebih baik anda urungkan. Kecuali anda membeli hanya untuk membaca isinya. Sulitnya membeli buku secara online adalah kita tak bisa melihat kondisi buku tersebut dan hanya bisa percaya pada omongan si penjual. Jika ini terjadi ada baiknya anda membeli buku hanya kepada penjual yang terpercaya dan memiliki reputasi bagus. Selain itu perlu diketahui kondisi buku mempengaruhi harga jual. 

Robert F. Lucas, seorang kolektor juga penjual dan penyusun panduan mengkoleksi buku, mengatakan  tiga hal paling penting dalam membeli buku antik. Kondisi, kondisi dan kondisi. Meski buku tersebut cetakan pertama dan bertanda tangan pengarangnya, namun jika dalam keadaan rusak akan merendahkan harga jual. Jangan mau termakan promosi dan perhatikan kualitas. Perhatikan kisi-kisi buku, kondisi sampul, jika itu hard cover apakah ada selimutnya? Jika itu edisi kolektor apakah ada kotaknya? Hal demikian akan mempengaruhi harga jualnya.

Ketiga. Hal yang membuat sebuah buku mahal adalah kelangkaan dan umur buku tersebut. Sebuah buku jika telah lolos dalam seleksi kondisi, artinya kondisinya bagus, perlu dilihat apakah ia cetakan pertama atau bukan? Berapa umurnya? Dengan memahami nilai ini anda bisa menjawab mengapa Injil Gutenberg cetakan pertama tahun 1456 bisa terjual lebih dari 25juta dolar. Tentu karena buku tersebut hanya tercetak beberapa ribu saja di dunia. Selain itu Gutenberg adalah salah satu pioner yang melahirkan mesin cetak dan merevolusi peradaban manusia. Tak hanya mencetak Injil yang menjadi sumber wahyu umat kristen namun ia juga merubah pola pikir dunia lama yang membiarkan injil hanya dimiliki oleh kaum agamawan saja. Kelangkaan, umur dan revolusi peradaban membuat nilai historis buku ini menjadi tak ternilai.

Keempat. Nilai personal sebuah jenis buku. Buku tentang sastra meski itu cetakan pertama dan bertanda tangan bisa jadi tak bernilai apapun bagi kolektor buku misteri dan detektif. Bagi masing-masing kolektor jenis buku tertentu memiliki nilai lebih dari buku yang lain. Inilah yang membedakan seorang kolektor buku profesional dan amatir. Biasanya seorang kolektor buku profesional mengkoleksi buku dengan kategori tertentu. Mengapa? Sederhana saja. To many books to little time. Fokus pada satu jenis buku membantu kita berhemat dan memudahkan dalam perburuan. Jadi jangan kaget jika sebuah buku oleh satu penjual dijual sangat murah sementara oleh penjual lain dijual sangat mahal.

Kelima. Relasi pembaca dan penulis. Irene Harisson, kurator dan pustakawan perpustakaan Andre Norton, mengatakan sebuah buku menjadi penting karena pengarangnya. Apa yang membedakan buku Hoakiau di Indonesia cetakan pertama dan cetakan selanjutnya berbeda? Selain penjelasan saya di atas, adapula penjelasan pengaruh terhadap pengetahuan pembacanya. Seorang Pramis, penggemar Pram, akan tahu bahwa cetakan pertama yang berwarna merah itu dikeluarkan saat Sukarno berkuasa dan menyebabkan ia dipenjara. Nilai sejarah dan sentimentil buku ini, apalagi jika ditambah dengan tanda tangan penulisnya, akan melambungkan buku ini. Apabila harga standar buku ini biasanya berkisar Rp. 75-100rb. Dengan cetakan pertama bertanda tangan mampu melambungkan harga buku ini dalam kisaran 2-3juta rupiah.

Namun apakah kita akan terjebak pada nilai sentimentil sebuah buku? Bagi saya pribadi fungsi utama sebuah buku adalah dibaca. Meski tak menganggap diri seorang kolektor namun saya mengumpulkan berbagai buku tentang puisi. Khususnya karangan Abdul Hadi WM dan Soebagio Sastrowardojo. Bagi saya karya mereka memiliki nilai penting dan personal. Saya tak peduli apakah itu cetakan pertama atau cetakan seratus karena yang penting adalah puisi yang ada di dalamnya. Jadi ketika ada yang menjual buku itu dengan mahal saya lebih memilih menahan diri karena yang terpenting adalah isi di dalamnya.

Sebagai perbandingan dalam artikel lama saya tentang menulis. Saya menuliskan pemikiran Jeffrey Brenzel, dekan sekaligus dosen di Jurusan Filsafat Universitas Yale, tentang lima kriteria sebuah karya tulisan menjadi klasik dan penting. Yaitu: 1. Berurusan dengan kemaslahatan umat manusia, 2. Merubah paradigma umum yang telah pakem selama ini, 3. Mempengaruhi karya lain yang juga lebih hebat, 4. Dihormati oleh berbagai kalangan sebagai karya yang luar biasa, 5. Menantang untuk bisa dipahami tapi sangat setimpal dengan kerja keras yang dikeluarkan.

Jadi pastikan ketika membeli buku, entah itu lewat internet, toko buku, tukang loak atau di pinggir jalan, belilah buku karena memang anda menyukai dan membutuhkan buku itu untuk dibaca. Jika buku itu layak dikoleksi anggaplah itu sebagai bonus. Juga saya berharap kepada penjual buku agar lebih manusiawi memberikan harga. Tentu saya tak ingin mengganggu anda dalam mencari penghidupan. Tapi akan lebih etis menjual ilmu pengetahuan dengan harga yang fair. Karena kita bukan babi yang hidup hanya untuk memamah bukan?

Jumat, 08 Maret 2013

Media Baru, Etika Baru?


Abstrak: Internet telah mengubah pratek jurnalisme secara mendasar yang tak pelak mengakibatkan dilema etika. Di satu sisi, inovasi-inovasi jurnalisme online telah melahirkan dinamika yang membuat jurnalisme tidak berjalan di tempat dan mampu melewati krisis yang serius. Namun, di sisi lain pratek-pratek baru tersebut terbentur dengan pakem-pakem lama.

Etika jurnalisme online memang menghadapi banyak dilema, terutama jika mengacu pada konsep etika media lama, khususnya media cetak. Stephen JA Ward, direktur Center for Journalism Ethics di School of Journalism and Mass Communication Universitas Wisconsin-Madison menilai revolusi media yang kini tengah terjadi telah menciptakan “ketegangan etika” pada dua tataran. Pertama, ketegangan atara media tradisional dan media online. Media tradisional, dikenal berpegang teguh pada prinsip-prinsip akurasi, verifikasi pra publikasi, keseimbangan, imparsialitas dan gate-keeping informasi. 

Sebaliknya, media online lebih mengutamakan hal-hal berupa kecepatan, transparansi, parsialitas, jurnalis non profesional dan koreksi paska publikasi.  Sedangkan ketegangan kedua adalah antara jurnalisme lokal dan global. Pada dasarnya, skala penerbitan media lama adalah terbatas pada cakupan nasional atau lokal, sedangkan media online merupakan terbitan berskala global. Kendatipun prinsip-prinsip etika jurnalisme sendiri pada asarnya bersifat global, namun penerapannya di media tradisional sangat menyesuaikan dengan budaya lokal. Namun, publikasi media online yang berskala global membuat kesulitan memilih budaya lokal untuk jadi acuan. Ketegangan-ketegangan itu mendorong keyakinan bahwa konsep etika jurnalisme media tradisional tak lagi cocok diterapkan untuk media online.

Kecepatan vs Akurasi

Jurnalisme online yang kerap menjadi sorotan karena dianggap mengorbankan akurasi, fairness, kelengkapan dan imparsiaitas demi mengejar kecepatan. Di satu sisi, media online memungkinkan diseminasi informasi jauh lebih cepat dibanding media tradisional. Kecepatan bahkan merupakan daya saing media online dibanding media lainnya. Kecepatan tersebut juga diniai mengesampingkan prinsip-prinsip lain yang sifatnya fundamental, yaitu kelengkapan, fairness, dan verifikasi.

Sebenarnya, kalau kita menengok sejarah media, ketegangan antara kecepatan dan akurasi bukanlah masalah baru. Jurnalisme radio dan televisi juga sempat mendapat sorotan karena lebih mengedepankan kecepatan ketimbang akurasi, jika dibandingkan dengan media cetak, terutama majalah. Seperti kemasan berita online, berita radio dan televisi didominasi berita pendek dan hanya berisi satu narasumber untuk satu judul berita. Tak banyak berita regular yang mendalam dan berisi berbagai narasumber. Dengan mengandalan breaking news, verifikasi berita radio dan televisi juga tidak sekuat media cetak, karena tuntutan kecepatan untuk tayang. Begitu halnya dengan media online, karena mengejar kecepatan biasanya tak ada proses verifikasi yang mendalam. Namun, bukan berarti media televisi dan radio tak melakukan verifikasi sama sekali, begitu pula media online. Ditengah-tengah tenggat yang amat pendek, wartawan televisi dan radio tetap melakukan verifikasi terhadap informasi-informasi dasar.

Namun, disamping banyak mendapat sorotan sebagai sumber “bencana etika”, kecepatan media online sendiri juga dipandang sebagai sebuah “berkah”.  Walau secara umum akurasi, kedalaman, kelengkapan, dan fairness dipandang sebagai prinsip yang tak bisa ditawar, namun dalam konteks berita darurat kecepatan merupakan hal yang paling penting. Sebagai contoh adalah informasi mengenai peringatan bencana yang harus segera disampaikan kepada masyarakat. Penundaan penyebaran informasi bencana bisa mengakibatkan terjadinya korban jiwa bagi banyak orang.  Tentu saja, berita yang disebarkan secara segera bisa beresiko tidak akurat, bahkan salah. Namun, “dosa” tersebut mungkin tak sebanding dengan akibat buruknya jika terjadi korban nyawa akibat berita tersebut terlambat disampaikan kepada publik.

Saking pentingnya kecepatan, bahkan board Pulitzer Prize tahun lalu mengubah kategori penghargaan untuk breaking news menjadi realtime news. Jika breaking news disampaikan segera setelah suatu peristiwa terjadi, maka realtime news disebarkan pada saaat suatu kejadian berlangsung dengan konsep update terus-menerus. Tentu saja, berita semacam itu disampaikan secara sepotong-potong, tidak lengkap, bagai puzzle yang dironce. Penhargaan Pulitzer untuk kategori ini pertama kali diberikan pada tahun 2010 kepada The Seatle Times yang membuat liputan berita penembakan terhadap empat anggota polisi di sebuah bar. Koran tersebut membuat liputan dengan memanfaatkan media sosial seperti Google Wave, Twitter, maupun Facebook. Dewan juri Pulitzer menilai koran tersebut berhasil memanfaatkan media sosial secara efektif untuk menyebarkan berita secara seketika. Tahun ini, penghargaan Pulitzer untuk kategori berita realtime diberikan kepada koran kecil, The Tuscaloosa News, untuk liputan yang mengawinkan pencarian berita lapangan dan Twitter mengenai turnado pada 27 April tahun lalu. Pola pemberitaan tersebut adalah dengan membuat liputan permulaan melalui Twitter lalu membuat berita yang lengkap dan mendalam kemudian. Dewan juri Pulitzer menilai koran ini berhasil memanfaatkan segala sarana yang ada untuk menggali dan menyebarkan berita.

Konsep berita online yang mengutamakan kecepatan telah menggeser konsep-konsep tradisional jurnalisme. Salah satu pergeseran yang cukup mendasar adalah makin tipisnya batas antara media profesional dan media sosial. Jurnalisme bukan hanya memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi tambahan, tapi juga sebagai sarana menggali informasi. The Seatle Times, misalnya, menggunakan konsep crowd sourcing, yaitu menggali informasi dari kerumunan media sosial untuk melengkapi laporannya tentang penembakan polisi di bar tersebut. Praktek seperti ini dinilai sebagai salah satu bentuk inovasi dalam jurnalisme, karena jurnalis tidak hanya terpaku pada teknik pengumpulan informasi lawas, namun mampu melakukan inovasi pencarian berita ssuai perkembangan tehnologi.

Perkawinan dengan Media Sosial

Sifat media online yang interaktif juga telah mendorong praktek perkawinan berita dengan forum diskusi, baik lewat ruang komentar yang menempel berita maupun dengan membuat forum khusus untuk diskusi pembaca. Dengan demikian, konten yang dibuat oleh redaksi berada pada satu ruang dengan user-generated contents. Hal ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana tanggungjawab redaksi terhadap komentar yang diberikan pembaca. Apakah redaksi memiliki kekuasaan editorial untuk mengedit atau bahkan menghapus komentar, atau fungsinya sebatas moderator yang tentu harus menjaga netralitasnya dalam forum diskusi? Kewenangan redaksi untuk mengedit dan menghapus komentar menjadi obyek kontroversi yang cukup tajam. Bagi yang tak setuju editing terhadap komentar berpendapat dalam diskusi tidak dikenal adanya editor untuk menjamin kebebasan berpendapat para peserta diskusi. Namun, bagi yang mendukung kekuasaan editorial terhadap komentar pembaca berpandangan bahwa dalam kenyataannya banyak juga komentar yang tidak etis, bahkan melanggar hukum. 

Pertanyaannya kemudian, apakah redaksi dapat dibebani tanggungjawab atas komentar pembaca tersebut? Masalahnya, hukum untuk hal ini berbeda-beda di tiap negara. Di Thailand, misalnya, pemimpin redaksi Pracathai bisa dihukum karena komentar pembaca yang dinilai menghina raja sebab pemberi komentar anonim tidak bisa ditemukan keberadaannya. Namun di negara liberal seperti Amerika Serikat, editor tak dibebani tanggungjawab hukum atas komentar yang dibuat pembaca. Di Indonesia sendiri menganut sistem pertanggungjawaban penerbit, jika pemberi komentar tidak diketahui identitasnya. Dalam kasus Koh Seng Seng misalnya, redaksi terbebas dari tanggungjawab hukum atas surat pembaca karena identitas penulisnya diketahui. Sampai kini, konsep pengalihan tanggungjawab ke redaksi masih dianut baik dalam ranah hukum maupun dalam ranah etika.

Sistem pengalihan tanggungjawab hukum dari pembaca ke redaksi yang berakar dari hukum publikasi era media cetak ini bertubrukan dengan konsep anonimitas internet. Para pendiri internet seperti Vint Cerf berpendapat bahwa anonimitas merupakan salah satu fitur penting internet. Internet didesain untuk memudahkan orang menyembunyikan identitasnya. Komunikasi dengan identitas tersembunyi diyakini sebagai sarana untuk menjamin kebebasan berekspresi, terutama di negara-negara yang represif. Komunikasi anonim juga dipandang sebagai sarana bagi para wistle blower sehingga publik bisa mendapat informasi yang selama ini tak ada orang yang berani mengungkapkannya. 

Di AS, misalnya, yurisprudensi Mahkamah Agung dalam kasus McIntyre  vs Ohio Elections Commission mengatakan bahwa komunikasi anonim dilindungi oleh Amandemen Pertama. Protections for anonymous speech are vital to democratic discourse. Allowing dissenters to shield their identities frees them to express critical minority view,” begitu pendapat mahkamah. Anonimitas memang telah memberikan kontribusi besar bagi demokrasi di AS. Para penulis Federalist Papers seperti Madison tidak mungkin ada kalau tidak ada konsep anonim dan pseudonim. Bahkan, jauh sebelumnya, John Stuart Mill dalam On Liberty menuliskan bahwa “anomity shields from tyranny of majority”. Apa yang dikatakan Mill  banyak benarnya, karena tak sedikit orang yang menjadi korban cyber bullying hanya karena memiliki pendapat yang bertentangan dengan mayoritas. Di negara yang masih mengkriminalkan pencemaran nama dan penistaan agama seperti di Indonesia, perlindungan sumber anonim dan komentator anonim di internet sangat berguna untuk menjamin bahwa mereka tidak dipenjara setelah menyampaikan pendapatnya.

Namun, komunikasi anomim juga memiliki dilema etis tersendiri. Anonimitas sering disalahgunakan untuk tujuan-tujuan negatif, misalnya untuk menyebarkan fitnah, menghancurkan reputasi orang atau perusahaan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pasukan anomim sering digunakan sebagai sarana info war, bahkan menjadi alat propaganda  dan kontra propaganda. Tentu akan menjadi persoalan etis jika pers memberi fasilitas bagi para propagandis anonim yang menyebarkan informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, pengelola media online dituntut tidak hanya berperan sebagai moderator terhadap komentar-komentar beritanya, namun juga berperan sebagai editor.  Memang, disatu sisi adanya komentar-komentar kontroversial terhadap suatu berita bisa mendongkrak hit,  namun di sisi lain bisa berakibat munculnya konflik sosial. Prof Garry Marx dari Massachuset Institute of Technology mengkhawatirkan anonimitas enjadi “tiket bagi ambiguitas moral”.  

Matinya “Penjaga Gerbang”

Lebih lanjut, peran editor di media online juga mengalami pergeseran yang sangat fundamental. Dalam jurnalisme media lama editor berfungsi sebagai “gate keeper” informasi, kini fungsinya berkurang menjadi  “gate watcher” informasi. Sebagai “gate keeper”, redaksi bukan hanya mengedit berita-berita yang akan tayang namun juga menseleksi dan menentukan informasi yang diterbitkan dan tidak diterbitkan. Sedangkan sebagai “gate watcher” redaksi tidak menseleksi dan menentukan berita yang akan tayang atau tidak, sebab pada dasarnya semua berita bisa tayang selama bersifat faktual. Dengan demikian, redaksi tidak lagi membendung arus informasi, sebab pada dasarnya internet telah menciptakan apa yang disebut “information highway”.  Internet memang mendobrak batasan-batasan arus informasi. Media tradisional seperti cetak dan penyiaran memiliki keterbatasan ruang untuk memuat semua informasi, sehingga redaksi memilah informasi yang dianggap paling relevan bagi pembaca. Namun keterbatasan ruang tidak ada lagi pada media internet. Selain itu, munculnya media sosial yang membuat gate keeping informasi menjadi tidak mungkin karena setiap orang bisa menyebarkan informasi di internet. Pers bukan lagi merupakan lembaga yang memonopoli informasi di era internet.

Di satu sisi, “matinya penjaga gerbang informasi” merupakan suatu kemajuan dari segi demokrasi, terutama dalam hal kebebasan berekspresi dan hak masyarakat untuk mendapat informasi. Tidak lagi ada lembaga yang bisa membendung informasi yang mengalir ke publik.  Selama ini peran redaksi sebagai “penjaga gerbang informasi” mendapat banyak kritik karena sering tergelincir pada swasensor. Bukan hanya itu, penentuan mana berita yang tayang dan tidak tayang tak selalu bersifat netral, sering ada unsur subyektif dan kepentingan dibaliknya.  Peran redaksi sebagai “penjaga gerbang informasi” juga dinilai bersifat paternalistik: seolah redaksi tahu dan berhak menentukan mana berita yang layak dan tidak layak dibaca publik, kata Straubhaar. Kini, publiklah yang menentukan mana berita yang mereka butuhkan dan tidak. Pembaca, melalui rekam hit terhadap berita yang mereka kunjungi, justru yang menentukan kelayakan suatu berita untuk tayang. Redaksipun dipaksa untuk memenuhi aspirasi pembaca: menyajikan berita-berita yang diingini publik, yang paling banyak diklik. Singkatnya, redaksi bukan lagi tuan bagi medianya sendiri, tapi menjadi pelayan pembaca, kata para pendukung konsep “we media”.

Pergeseran konsep redaksi juga menggeser pratek verifikasi dari “verifikasi pra publikasi” menjadi “verifikasi paska publikasi”.  Kalangan pendukung konsep “we media” yakin verifikasi informasi merupakan proses yang terus berjalan seiring perkembangan suatu berita. Bahkan, pada titik ekstrim, pengusung konsep New Journalism mengembangkan pratek jurnalisme partisipatif dimana publik terlibat dalam melakukan verifikasi suatu berita. Sifat internet yang interaktif telah memungkinkan partisipasi pembaca tumbuh. Peran pembaca bukan lagi sebagai konsumen berita yang pasif, tapi terlibat dalam proses pengumpulan, pemilahan dan penyajian informasi. Pembaca bukan hanya memberikan komentar terhadap berita yang ditayangkan tapi juga terlibat aktif mengoreksi berita-berita tersebut apabila terjadi kesalahan. Singkat kata, redaksi bukan lagi dipandang sebagai sang messenger “pembawa kebenaran”, tapi kebenaran adalah hasil pencarian bersama. Kebenaran bukan datang dari satu arah, namun kebenaran adalah sintesa dari informasi yang disajikan berbagai berbagai arah.

Tentu, matinya “penjaga gerbang informasi” menimbulkan persoalan etika tersendiri, disamping berhasil mendemokratiskan jurnalisme.  Salah satu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana efektivitas verifikasi publik dalam jurnalisme partisipatif.  Padahal,  disiplin verifikasi adalah intisari dari jurnalisme, kata Society for Professional Journalist (SPJ) sebagaimana ditulis  dalam Sembilan Elemen Jurnalisme oleh Bill Kovach dan Tim Rosenstiel.  Dalam Neumann Report 2006, Kovach secara khusus menyatakan kekawatiran mengenai verifikasi publik tersebut. Kovach setuju pentingnya mendemokratiskan jurnalisme, namun masalahnya tak ada tool yang efektif bagi publik untuk bisa terlibat dalam proses verifikasi secara profesional. Bagaimanapun pembaca bukan orang-orang yang terlatih untuk melakukan kerja-kerja verifikasi seperti jurnalis profesional, katanya. Selain itu, media adalah ruang tempat kontestasi berbagai kepentingan dimana banyak kelompok kepentingan yang berusaha mempengaruhi isi media dan mereka itu yang paling aktif berpartisipasi. Hal in bisa membuat media pers “dibajak” oleh kelompok-kelompok kepentingan dan akhirnya kredibilitas suatu berita akan hancur. Maka, sebuah verifikasi independen merupakan hal mutlak untuk menjamin bahwa informasi yang disajikan media bersifat kredibel. Dan verifikasi itu hanya bisa dilakukan orang yang terlatih dan paham etika jurnalisme, yaitu wartawan profesional.

Padamnya “Pagar Api”

Internet juga telah mendorong lahirnya apa yang disebut entrepreneurial journalism.  Entrepreneurial journalism adalah konsep dimana jurnalis mendirikan media sendiri, menggali dana sendiri, tidak lagi menjadi pekerja pada korporasi media. Mendirikan media online memang jauh lebih murah dibanding mendirikan media cetak atau penyiaran, sehingga mendorong para jurnalis untuk berani memulai usaha. Para inisiator entrepreneurial journalism meyakini bahwa model bisnis media lama tak lagi sesuai untuk di era digital.  Banyak perusahaan koran besar di AS yang gulung tikar beberapa tahun belakangan ini karena gagal menyesuaikan dengan era internet. Beberapa koran dan majalah besar lain dipaksa migrasi menjadi media online agar bertahan hidup dalam situasi baru. Dokumenter bertajuk Jurnalism in Crisis oleh Neal Cortell yang diproduksi pada 2010 secara jelas mengupas bagaimana model usaha media pers tak lagi sesuai dengan era digital. Hal ini mendorong wartawan mencari model-model usaha baru yang sesuai dengan lingkungan digital. Keberhasilan Ariana Huffington yang memulai Huffington Post diyakini sebagai contoh bagaimana kolaborasi para jurnalis dan bloger adalah model bisnis yang sesuai untuk media siber.

Tumbuhnya entrepreneurial journalism di AS juga dipandang sebagai bentuk demokratisasi media. Di tengah kritik terhadap media AS yang terlalu didominasi modal, entrepreneurial journalism dipandang sebagai sebuah model yang lebih tepat. Banyak kritik terhadap pers AS yang bias karena dominasi modal yang kuat. Dominasi kepentingan bisnis dalam industri media dinilai sebagai salah satu hambatan kebebasan pers terkini. Kendatipun wartawan tak mendapat tekanan dari pemerintah, namun intervensi pemilik terhadap ruang redaksi semakin terasa. Tehnologi internet diyakini sebagai peluang baru bagi jurnalis untuk membangun media tersendiri yang bebas dari intervensi pemilik modal.

Tapi entrepreneurial journalism  tak bebas dari persoalan etika. Model jurnalisme seperti ini telah menghilangkan “pagar api” –pemisahan organisasi bisnis dan ruang redaksi. Padahal, selama ini “pagar api “ dianggap sebagai benteng independensi redaksi dari kepentingan bisnis. Dengan pemisahan ranah redaksi dan ranah bisnis yang tegas maka ruang redaksi dilindungi dari campur tangan kepentingan bisnis.  Karena wartawan merangkap sebagai pemilik bisnis media, maka muncul benturan antara idealisme sebagai seorang pewarta dan pragmatisme seorang pengusaha.  Sebagai pewarta, jurnalis dituntut bersikap independen dari kepentingan bisnis media. Namun, sebagai seorang pengusaha ia harus bersifat luwes dan bisa berkompromi dengan rekanan bisnis, terutama pengiklan. Dalam situasi seperti ini, si pewarta yang merangkap pengusaha akan menghadapi dilemma etika yang pelik.

Kesimpulan

Internet telah menciptakan genre baru jurnalisme, yang memiliki perbedaan signifikan dengan genre-genre pendahulunya, seperti jurnalisme media cetak dan penyiaran. Secara umum, kharakter jurnalisme media siber pertumpu pada berita yang sifatnya seketika, interaktif dan berwatak sosial. Peran redaksi dalam jurnalisme online juga mengalami pergeseran yang fundamental, dari “penjaga gerbang informasi” yang bersifat paternalistik menjadi gate watcher informasi yang lebih setara dengan pembaca. Krisis jurnalisme di negara-negara barat juga telah mendorong model bisnis baru, entrepreneurial journalism. Hal ini telah menimbulkan kegoncangan etika yang menjadi subyek perdebatan yang cukup pelik. Pertanyaannya, apakah prinsip-prinsip etika jurnalisme yang selama ini dipegang tidak lagi relevan untuk lingkungan media baru?

Dalam tataran nilai, sebenarnya prinsip-prinsip yang terkandung dalam etika jurnalisme tetap relevan bagi jurnalisme baru. Nilai-nilai akan kebenaran, independensi dan fairness  merupakan nilai yang tetap relevan bagi jurnalisme, apappun mediumnya. Pada intinya, etika jurnalisme memiliki fungsi sama: untuk menjamin kualitas berita yang disampaikan media pers agar publik mendapat informasi yang berkualitas, sehingga bisa membuat keputusan yang benar. Nilai tersebut tentu tidak pernah berubah, berlaku untuk segala genre jurnalisme. Namun, di tataran aplikasi, dinamika jurnalisme telah membuat penerapan etika jurnalisme bergeser secara signifikan.

Internet telah memberi peluang para jurnalis media siber terus berinovasi namun terbentur dengan nilai-nilai etika yang selama ini dianut. Sudah menjadi takdir bahwa invonasi bersifat progresif sementara hukum dan etika berwatak konservatif. Ibarat mobil, inovasi adalah gas yang mendorong mobil bergerak maju, sementara etika adalah rem yang menjaga agar mobil tersebut terkendali. Membiarkan inovasi berjalan bebas tanpa rem memang beresiko kecelakaan, tapi terlalu ketat menginjak rem membuat mobil tidak berjalan. Banyak upaya untuk mengkaji penerapan etika di era digital seperti yang dilakukan Poynter Institute, namun masih banyak persoalan yang tersisa. Ini adalah pekerjaan rumah bersama kita.

Artikel ini ditulis oleh  Margiyono direktur Indonesia Online Advocacy (IDOLA) dan koresponden Reporters Sans Fronti√®res (RSF). Ia mendapatkan gelar LLM di bidang Cyber Law dari University of Leeds, Inggris.

Tulisan ini diunggah dengan izin dari beliau.