Kamis, 07 Maret 2013

Menjadi Puisi : Telaah Empat Penyair Jember


Dalam sebuah esainya Sutardji menulis "puisi adalah alibi kata-kata". Lahir dari upaya untuk melepaskan arti yang tunggal dan melahirkan telaah yang lebih dari biasanya. Bahwa puisi tak harus sejalan dengan kamus. Puisi tak mesti setuju dengan norma. Dan yang jelas puisi tak harus seragam seperti baju sekolahan. Sutardji melahirkan apa yang disebut sebagai usaha membebaskan kata dari makna.

Tapi itu barangkali hanya seloroh yang dibikin bikin. Atau bisa jadi Sutadji benar. Kata sudah dibebani makna begitu hebat. Sehingga ia kehilangan fungsinya sebagai penyampai pesan. Tapi bukan tentang itu saya ingin menulis artikel ini. Ada baiknya kita belajar untuk menikmati puisi sebagai sebuah momen. Sebagai sebuah ruang yang bisa jadi liar, syahdu, intim, keras, pekat dan sebagainya dan sebagainya. Puisi adalah proses menjadi. Bahwa puisi menggunakan kata-kata sebagai medium itu perkara lain.

Dalam artikel yang ditulis di Kompas pada 3 Maret lalu, Gerson Poyk, menuliskan tentang poetic sense. Baginya pengalaman puitis berhubungan erat dengan citarasa puitis (poetic sense) dalam diri penyair. Sehingga bagi Gerson Poyk, pengalaman pribadi seorang penyair akan mempengaruhi Citarasa puitis dalam sajak-sajaknya. Hal ini barangkali sejalan dengan pemikiran Harold Bloom yang melahirkan leksikon Anxiety of Influence. Bahwa puisi mau tak mau lahir dari rahim “lingkungan dimana si penyair besar dan berkembang sebagai seorang manusia.

Puisi, meminjam istilah Poyk, ibarat jiwa dalam diri manusia karena memiliki hubungan langsung dengan intuisi puitis. Ia lantas mengatakan bahwa “poetic sense dalam sebuah karya tak dapat dipisahkan dari bentuk verbal di mana kata-kata bukan hanya merupakan tanda dari konsep atau ide” katanya, tetapi sebagai sebuah ”obyek yang merdu”. Objek merdu berarti puisi tak hanya harus indah sebagai sebuah bacaan namun juga indah apabila dibacakan.

Tak berhenti di situ Poyk juga menawarkan beberapa konsep imajinasi yang membantu kelahiran puisi yaitu; “imajinasi yang muncul ke akal permukaan, kehidupan dan kebutuhan sehari-hari”, lalu “imajinasi yang dikuasai oleh naluri atau libido dan kenangan pahit,” dan yang terakhir “imajinasi yang dapat melahirkan konsep-konsep dan ide-ide abstrak, digetarkan oleh poetic intuition.” Dan saya sendiri menambahkan satu konsep imajinasi lain yaitu imajinasi diksi.

Konsep dari Poyk ini akan saya gunakan untuk mendedah beberapa sajak dari empat penyair muda Jember. Yang pertama dari  Siti Nur Ashiya dalam sajak Tertipu. Dalam sajak ini menggunakan imajinasi dikuasi oleh naluri atau libido dak kenangan pahit. Meski tak harus sama persis namun sajak Tertipu ini juga bercerita perihal hidup yang keras (barangkali) dari mereka yang hidup di jalanan.

Saat matahari mulai padam
Saatnya ayam dan anak-anaknya pulang,
Namun sayang
Lonteku tak kunjung datang

                Pembukaan sajak ini menampilkan deskripsi dari sebuah momen. Namun sayangnya Siti terlalu boros menggunakan deskripsi. Ia menggunakan “Saat matahari mulai padam” untuk menggambarkan sore hari, disaat yang sama juga menggunakan “Saatnya ayam dan anak-anaknya pulang,” barangkali akan lebih efektif jika satu saja yang digunakan. Narasi deskripsi juga seperti dipaksa terpenggal ketika peralihan waktu langsung bercerita tentang “lonteku tak kunjung datang,” menurut hemat saya penggunaan “namun sayang” terasa tanggung dan mengganggu.

Di sisi lain. Siti dengan cerdas menggunakan idiom-idiom tertentu untuk menggambarkan sebuah kondisi perasaan/pikiran seseorang.  Seperti dalam “Kegundahan mulai terbakar, Jarum jam terus berputar” atau “Terus berjalan berlaku liar, Di tepi jalan kududuk bagai terlantar”. Sayang ada penggunaan kata yang saya rasa tak perlu dan mengganggu unsur estetika puitik dari sajaknya. Kata semacam “bagai”, “mulai”. Seharusnya frasa “kegundahan mulai terbakar” akan menjadi lebih dramatis ketika ia ditulis “Kegundahan terbakar”.

Puisi semestinya memancing daya kreasi dan daya khayal bagi pembacanya. Puisi selayaknya juga membuat para pendengarnya bisa menutup mata dan membayangkan sebuah dimensi yang lepas dari pembacaan puisi. Di sini Siti gagal, saya kira pada akhir-akhir sajaknya ia seperti kehilangan stamina dan membuat sajaknya terengah-engah. Frasa “Di ujung jalan buntu, pertama kita bertemu / Merasa cocok, ikat janji untuk bersatu” dan “Sungguh sial aku tertipu, Yang kutunggu telah berlalu,” malah berubah seperti pantun. Di sini ada inkonsistensi yang terasa sangat mengganggu.

Barangkali Siti ingin menciptakan puisi naratif yang bercerita tentang seseorang yang berjanji bertemu muka setelah berkenalan. Tapi ternyata bukannya bertemu si calon kekasih, ia malah dicopet/ditipu ketika menunggu. Ada unsur komedi dalam puisi ini, yang ia tuliskan dalam akhir sajak dalam frasa “Dompetku yang tebal tak ada di saku”. Sayang sedari awal Siti tak bisa membuat relasi yang kuat antara satu bait dan bait sajak lainnya untuk menciptakan momen puitik. Namun secara umum pembaca bisa dengan gamblang membaca makna dari puisi tertipu ini.
         
       Sementara dari puisi Habib Firdaus saya menemukan kekuatan puitik yang sederhana namun sangat menarik. Dalam sajak yang berjudul Mata Habib mampu menggunakan kata-kata dengan sangat efektif sehingga melahirkan imaji yang utuh. Poyk barangkali akan memasukan puisi ini dalam kategori imajinasi yang muncul ke akal permukaan dari kehidupan dan kebutuhan sehari-hari.

jika mata dan mata
saling bertemu
maka akan terbalik duniaku
               
                Puisi ini barangkali adalah puisi favorit saya dalam antalogi ini. Karena kesederhanaan dalam puisi ini melahirkan imajinasi yang begitu menarik. Ada yang genit, ada yang malu-malu, ada yang penasaran, ada yang gundah dan ada yang kasmaran. Puisi ini bercerita tentang cinta tanpa perlu menuliskan kata cinta dan idiom-idiom sebangsanya. Puisi ini seperti memampatkan perasaan dalam sebuah pertemuan antara dua sejoli yang kasmaran. Tapi di sisi lain ia bisa juga bercerita tentang perasaan yang meledak-ledak.
Sementara di sajak Plang Jalan Habib bermain-main dengan narasi. Sayang habib kurang menggali lagi unsur kejutan. Pada pembukaan sajak ini pembaca diajak membayangkan sebuah tanda/marka jalan. Si “aku” dalam sajak ini merenungi tanda itu sebagai sebuah dialog dan perintah “hati-hati”. Yang pada bait kedua ia jawab sambil menggerutu dengan kata “Iya”.

sekejap memandang
plang jalan, ku baca
"hati-hati
sering
terjadi kecelakaan"

sekejap diriku hilang
seketika akalku berhenti
terheran
ah, hatiku berbisik usil!
"iya

Ada yang jenaka disini. Si aku melihat tanda/marka jalan seolah-olah ada orang yang berbicara dan ketika ia sadar sebagai sebuah tanda ia hanya benda mati. Sehingga ia menghidupkan benda mati dan membuatnya sebagai estetika sendiri. Proses kreatif semacam ini sering dimanfaatkan oleh Afrizal Malna dalam puisi-puisinya. Namun sayangnya Habib tak maksimal dan terkesan setengah-setengah. Namun terlepas apapun itu Habib sejauh ini yang paling berhasil dalam menggali ragam jenis teknik puisi secara menyeluruh.

Sebelum membahas penyair dan sajak berikutnya. Ada baiknya saya berbagi sedikit tentang istilah “Avant-Garde and Kitsch” yang pernah dilontarkan oleh Clement Greenberg dalam sebuah artikel pada 1939. Bagi Greenberg yang seorang kritikus seni rupa terma avant-garde atau pembaharu dan kitsch atau murahan hanyalah perkara sudut pandang estetis. Dalam esainya yang masyur itu ia mem-bandingkan puisi dari penyair T.S Elliot dan lirik lagu dari penyanyi Tin Pan Alley. Siapa yang berhak menilai bahwa yang satu lebih superior dari yang lain?

Dalam artikelnya itu Greenberg berpendapat bahwa sebuah masyarakat cenderung untuk terus menerus gagal menemukan keterikatan dan pemahaman yang sama antara hubungannya dengan penulis/pengarang/penyair. Hal ini disebabkan sebagai pribadi dan pencipta seorang penyair tak bisa membagi secara utuh pengalaman personalnya dalam sebuah sajak kepada para pembacanya. Akan selalu ada “jurang yang tak terlihat” dan “putusnya makna” sekeras apapun seorang penyair berusaha menjelaskan.

Namun puisi berbeda dengan lukisan atau patung yang menjadi objek seni rupa dan keahlian Greenberg. Beberapa puisi tak memiliki bentuk yang estetik, beberapa hanya berupa tanda-tanda baca saja, dan yang lain bisa sangat abstrak sehingga tafsir susah sekali dilakukan. Puisi-puisi Sutarji, Saut Sitompul, dan puisi mbeling ala Remy Sylado misalnya. Beberapa puisi dilahirkan hanya untuk dimengeri oleh segelintir orang dan yang lainnya bisa dipahami secara telanjang.

Greenberg mewaspadai apa yang ia sebut sebagai imitasi dari imitasi. Jean baudrillard, seorang pemikir post strukturalis Perancis, kelak menyebut ini sebagai simulacrum. Greenberg memaknai bahwa tak mungkin ada yang orisinal seusai penciptaan sebuah karya. Apabila sebuah karya itu bagus, baik puisi maupun seni rupa, akan menghasilkan glorifikasi, tiruan dan saduran. Sehingga untuk melihat sebuah karya sebagai karya yang lahir sendiri dan tak dipengaruhi apapun adalah hal yang mustahil.

Di sini para penyair muda Jember dalam antalogi puisi ini tak berusaha mendobrak obsesi ke-penyairan perihal kemurnian. Alih-alih mencipta yang baru penyair-penyair ini malah asyik dalam dunianya sendiri dan mencoba mengeksplorasi tema-tema yang ada disekitarnya. Permasalahan sosial di sekitar rumah tinggal penyair kerap menjadi inspirasi puisi. Hal ini karena keseharian yang terasa salah itu menggelitik nurani dan membuat para penyair seolah Ingin mencipta sajak. Seperti apa yang dilakukan oleh Abdul Gani dalam sajaknya yang berjudul Kabar Tak Sampai.

Pembuka sajak ini begitu melekat dikepala saya “Pak Lukman / Menghitung detik-detik jam tangannya yang berguguran,”. Abdul Gani pintar memainkan diksi sehingga melahirkan rangkaian kata yang unik. Tak hanya itu stamina, irama dan nafas sajak ini terjaga dan tak sesak. Sehingga ketika dibaca dan direnungi sajak ini melahirkan kisah yang sembilu perihal keluarga yang ditinggalkan sanak famili merantau sebagai buruh migran. Di ujung sajak ada twist yang menyenangkan

Dalam bait lainnya Abdul Gani menggambarkan sebuah keadaan dengan cerdik.

          Dadanya dipukul-pukul ketakutan
          Matanya semakin kecil dan lincah seperti ikan-ikan teri
          Jantungnya kecut
         Dia sudah lupa bau angin yang sedari tadi menelan tubuhnya
               
                Pada bait itu kekuatan diksi bermain secara sentral. Penggunaan ikan teri dan kecut melahirkan nuansa yang segar namun disaat bersamaan pesan yang diinginkan sampai. Lantas di baris sajak lain ia menuliskan “Dua tahun lalu sudah disembunyikan jarak di Saudi / Yang tertinggal hanya kerinduan menjerit-jerit”. Penggunaan metafora diksi Abdul Gani begitu renyah namun tak terlihat murahan. Mengawinkan jarak dan rentang waktu bagi saya adalah sebuah pencapaian puitik yang menarik.
                Berbeda dengan tiga rekan yang lainnya Dieqy Hasbi Widhana lebih banyak menggali lirik sebagai sebuah peristiwa puitik. Pada sajak Patahan panahmu masih tertinggal Dieqy menjalin narasi sebagai kekuatan utama puisinya, selain diksi dan metafora tentunya. Narasi yang saya maksud adalah penceritaan lebih pendek dari puisi epik yang panjang dan seringkali bertema kepahlawanan. Narasi liris lebih pendek dengan tema-tema yang lebih cair. Coba saja tengok bait berikut ini :

         kutemukan dirimu lusuh dalam tumpukan rindu
         kisahmu serumit gumpalan benang kenang kusut
         teranyam tiap helai bait diantara detak gerigi akal
         sebesar apapun gelisah yang berkaca-kaca,
         tak akan sanggup menerjemahkan remukan kisah sesal kita
               
           Puisi ini terdengar/terbaca profetik. Ada yang kudus namun dekat. Tetapi jika dibaca lebih seksama balutan kata yang dipilih Dieqy ada yang lepas dan hilang. Bait ini adalah puisi yang berusaha menemukan “yang lain”. Entah itu cinta, kekasih, sahabat atau perasaan yang urung ditemukan. Ignas Kleden dalam Esai yang berjudul Puisi dan Dekonstruksi menawarkan tiga cara membaca sajak. Cara pertama adalah cara semiotik yang melihat semua bunyi bahasa dalam sajak itu sebagai tanda dan hubungan antartanda. Cara yang kedua adalah cara semantik yaitu melihat hubungan kode leksikal dengan makna.

Sementara cara yang ketiga adalah cara hermeneutik yaitu melihat hubungan antara kode bahasa dengan makna, dan hubungan makna dengan konteks kebudayaan yang luas. Pada puisi Dieqy bahasa dan  tanda bukan masalah. Karena hampir seluruh diksi yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari yang ditemui dalam sebuah percakapan. Yang membedakan barangkali adalah penempatan dan sinergi dari kata tersebut yang melahirkan unsur dramatis. Seperti pada dua larik sajak berikut:

...
bulan, aku mencintaimu tanpa kemewahan

aku tak gila tentang biji kelopak kata,

Kalimat itu terdengar sangat gombal, tetapi bukan sembarang gombal. Tentu seorang pedagang obat yang piawai akan menjalin kata-kata semanis dan semurah mungkin untuk menjual dagangannya agar laku. Sebagai penyair tentu Dieqy bisa lebih banyak memanfaatkan jalinan kata dan menempatkannya dengan kata lain sehingga melahirkan imaji yang lebih liar. Dalam kasus ini Dieqy sukses menjadi gombal tanpa terlihat gombal. Frasa Aku tak gila tentang biji kelopak mata tentu adalah rayuan. Tapi kata ini tak jatuh pada kategori picisan malah menjadi romantis.
Sebagai penutup saya inggin menggunakan dua baris dari sajak Dieqy yang membuat saya berpikir panjang. Tentang perpisahan yang syahdu, tentang sebuah kehilangan yang pedih, bukan tentang rasa sakit saya menyukai sajak ini. Tapi lebih pada upaya melahirkan adegan yang hiperbolis dari interaksi dua arah yang saling menjauh.

mengapa dengan sekali pecutan kau berlari beradu punggung denganku
bukankah, seharusnya aku yang merayakan lupa


Membaca puisi empat penyair muda Jember ini membangkitkan semangat saya untuk terus menulis. Mereka yang dalam kesibukannya masing-masing mampu membuat karya yang menarik. Lebih dari itu keintiman sajak-sajak yang ada lahir dari pergaulan intens dengan karya sastra lain. Hal ini membuat saya ingat perkataan Andrea Hirata yang mengatakan Sastra tak laku di Indonesia. Saya kira ia tak kenal empat pemuda ini.

1 komentar: