Senin, 29 April 2013

Serpih / Bagian

Lelaki itu kuyup dihujani cemburu. Matanya nanar menatap layar terang yang bertuliskan cerita tentang persetubuhan. Tapi bukan persetubuhan yang ia inginkan. Cerita itu adalah perihal persetubuhan lain yang diukir oleh kekasihnya bersama lelaki lain.

"Rasa ingin tahu itu membunuh. Kamu tahu itu," kata Awan Mendung kelabu yang begitu saja duduk di hadapan lelaki yang kuyup kehujanan itu. "Lagi pula apa yang kau cari? Bukankah kau sendiri berjanji tak akan cemburu pada kisah-kisah masa lalu kekasihmu." Awan Mendung itu tersenyum sinis. Kerak kerak muram di tubuhnya menandakan hujan lain akan segera tiba.

Si lelaki hanya diam. Ia menahan setengah mati segala kecemburuannya. Ia tahu kecemburuan pada sebuah kisah tersembunyi adalah vonis mati. Barangkali lebih mematikan daripada janji yang tak ditepati. Atau durhaka pada ibu. "Kenapa tak kau nikmati saja. Kau lelaki. Bukankah hanya butuh pemuasan. Persetubuhan yang panas lantas pergi?" Awan Mendung itu tetap meracau. Ia tahu ia benar. Ia bisa melihat ke dalam isi kepala si lelaki yang dikebiri dengki.

"Ada yang ngilu di hatiku. Mungkin ini cinta," kata si lelaki memecah kesunyian. Ada perigi yang tiba-tiba muncul di sudut matanya. 

"Kau menangis? Hahahaha," Awan Mendung tertawa keras hingga petir-petir dalam tubuhnya menggelegar. Menyambar vas bunga, lampu meja dan remot tivi. "Kamu? Si lelaki tengik dengan otak tak lebih besar dari kacang kedelai jatuh cinta? Leluconmu nyaris sangat lucu kawanku."

Si Lelaki sekali lagi diam. Ia hanya mematung. Menatap nanar dan membaca berulang ulang detil persetubuhan kekasihnya dengan pria lain. Tentang bagaimana ia tak tahu bagaimana cara memuaskan kekasihnya. Bagaimana persenggamaan tak lebih dari sekedar pelaksanaan kewajiban. Tanpa ada perasaan. Tanpa ada ritus. Tanpa ada cinta. "Kamu bukan pujangga. Kamu hanya pengangguran yang terjebak dalam imaji. Bahkan kau tak punya kawan nyata untuk berbagi sehingga menciptakan aku khayalan yang jadi nyata," ujar Awan Mendung nyaris tanpa ekspresi.

Si lelaki lantas berdiri "Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang - gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah dilalui para petapa. Aku masih reruntuhan dalam pelukanmu. Batu-batu bergema dalam puing-puingnya. Menuntunku dari yang jatuh. Berenang, dalam  yang tenggelam. Menghidupkan gamelan mati di mataku.*" deklamasi.

"Apa yang lebih menyedihkan dari lelaki yang tak kuasa menahan rindu lantas membaca puisi orang lain tentang kerinduan?" si Awan Mendung tetap mengajek. Ia telah berubah menjadi sekerak badai. Angin ribut, hulu petir dan dentum kilat bersautan dari tubuhnya. "Aku sedang mempersiapkan hujan paling basah yang bisa diingat manusia. Kau akan kubikin lebih perih jika masih seperti ini," Awan Mendung mengancam.

"Hidup hanya menunda kekalahan. Pada akhirnya akan ada yang tetap tak terucapkan sebelum akhirnya kita menyerah bukan?**" Si Lelaki sudah kepalang kasmaran. Ia menegak cinta. Sebuah racun lebih mematikan hemlock yang membunuh Socrates. "Seperti Yesus. Aku akan menebus dosa kekasihku. Tak akan aku bertanya pada-Nya. Mengapa Ia meninggalkanku. Tubuhku luruh menerima luka cinta-Nya."

Betapa lekas puisi membuat kepala si lelaki yang kuyup dengan kecemburuan itu beralih. Ia yang tadi sedang bersedih lantas berubah menjadi pemabuk yang fakir cinta. Mencabik cabik dadanya dengan kuku tumpul. Lantas menuliskan bait-bait sajak omong kosong murahan dari darah yang menetes. Barangkali inilah kegilaan. Barangkali juga bukan. "Kamu adalah sepotong obat merah yang kadaluarsa. Rinduku adalah sabun cuci setengah harga." kata si lelaki tertawa tawa membaca sajak bikinannya.

"Aku mencintaimu lelakiku. Mencintaimu dengan seluruh aku dan kematianku. Mencintaimu dengan peluh dan hidupku. Mencintaimu dengan risau dan marahku," Awan Hitam mulai melahirkan air. Hujan yang membasahi kasur, meja, televisi dan ribuan buku yang dibarkan rusak dimakan rayap. Puluhan kaset tape yang entah apa isinya. Berbagai potongan surat dan sebuah ponsel yang retak.

Barangkali kegilaan adalah kemurnian itu sendiri.




*Puisi Afrizal Malna Aku Setelah Aku. Pada Bantal Bersayap: Empat Kumpulan Sajak.
**Puisi Chairil Anwar Derai-Derai Cemara.

Pertemuan


Usai senggama
perempuanku menabur duka
pada perih masa silam
menuliskannya diam diam
pada gigirnya yang pucat

"semesta mempermainkan rinduku
pada lelaki sepertimu"

tapi bukankah kerinduan ini
adalah ibu
dari yang garba. yang kau takik
hingga rahimnya koyak
lantas kau garami lukanya dengan
air mata

"setiap rindu, setiap rupa
lakumu juga sajak yang bisu
aku mencintaimu"

pejantan yang kau sebut lelaki
kesayangan. hanyalah si peraut birahi
yang pada kemaluannya bopeng nanah
dan degil amarah. Ia tunduk
serupa para malaikat
terlentang di muka adam.

Minggu, 28 April 2013

Jalan Pulang Agustinus


Pada satu sore yang teduh aku dan beberapa kawan datang di acara diskusi buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Jujur kukatakan, sebenarnya aku malas datang. Bukan hanya karena tak begitu suka jenis buku ini tapi juga fenomena travel writer, siapapun itu, adalah fenomena yang kepalang overrated dan begitu memuakan. Namun kupikir aku harus bertemu dengan Agustinus Wibowo. Setidaknya aku harus membenarkan tuduhan bahwa selamanya genre ini akan terjebak pada skema deskripsi keindahan dan promosi pariwisata belaka. Tapi rupanya aku memang ditakdirkan untuk salah.

 “Menulis perjalanan adalah usaha untuk menulis tentang manusia dan kemanusiaan. Jika tulisan perjalanan tak bicara tentang manusia. Maka ia adalah tulisan yang mati,” kata Agustinus ketika aku berjumpa dengannya sore itu. Lelaki pendek berkulit putih ini jauh dari bayangan awalku dari penulis catatan perjalanan yang usai mengarungi jalan yang luas. Kukira ia akan tinggi besar, brewok yang lebat dan tubuh yang kekar. Tapi penampilan memang seringkali menipu. Tak kusangga lelaki tionghoa didepanku yang begitu santun dan komikal. Telah menaklukan salah satu dataran paling mematikan di dunia.

Kadang untuk mencari ke dalam seseorang harus pergi jauh ke luar. Aku tak hendak bicara tentang jarak atau perjalanan. Tapi tentang renungan-renungan yang dihasilkan dari sebuah kepergian. Kukira ini hal yang mampu kucerna dari buku catatan perjalanan Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Ada yang subtil dari buku ini. Bukan tentang perjalanannya menembus atap dunia. Atau bagaimana ia dengan rendah hati bicara tentang negeri yang jauh. Lepas bicara tentang ruang yang tak ada di tanah yang asing. Tapi lebih pada fragmen-fragmen renungan atas ibunya di mana ia bicara tentang perasaan tanpa perlu menulis kalimat gombal yang genit.

Dalam 552 halaman ‘Titik Nol’ yang kelu ia menuliskan sebagian besar hidupnya seraya telanjang berkata “inilah aku,” sebuah usaha yang berani. Ia bicara tentang keluarga, tentang kematian, tentang kepedihan dan tentang makna hidup. Aku bahkan tak perlu, atau tidak mau bercerita padamu tentang perjalanannya, kukira ia sudah tamat bercerita di dua buku pendahulunya. Selimut Debu dan Garis Batas. Agustinus kukira hendak menebus dosa. Hendak bercerita dengan nada yang pilu. Perihal kecintaannya pada ibu, kecintaannya pada keterasingan, dan kecintaannya untuk memejalkan diri memacu batas dirinya sendiri.

“Sebenarnya apa yang saya cari dari sebuah perjalanan?” kata Agus retoris. “Awalnya saya melakukan perjalanan ya memang ingin pamer. Aku pernah kemari, aku pernah ke sana. Tapi seiring berjalannya waktu. Saya bertanya. Apakah itu makna perjalanan?” Hampir dua jam kami berdiskusi. Selama dua jam pula ia habis meruntuhkan mitos tengik bahwa perjalanan adalah perihal vakansi dan bersenang-senang. Saya harus sepakat padanya bahwa perjalanan semestinya memberikan suatu pelajaran. Semacam proses yang tak akan diperoleh bila perjalanan hanya diperlakukan sebagai sebuah eskapisme.

Buku Agustinus bagiku tak terlalu istimewa. Ia tidak seperti Walden, catatan perjalanan susunan Henry David Thoreau, atau On The Road milik Jack Kerouac, atau novel Balthazar Odyssey milik Amien Maalouf. Meskipun demikian, dalam tiap bukunya Agustinus seolah menunjukan pada para pembaca untuk tidak sekedar membayangkan tapi juga merenung. “Tradisi bukan sesuatu yang tak bisa dilawan. Kondisi bukan sesuatu yang tak bisa diubah,” tulisnya pada laman 170 Selimut Debu. Bagi saya, Ia masih konsisten. Berusaha keluar dari pakem catatan perjalanan yang hanya merayakan euforia dangkal destinasi belaka.

Sebuah buku semestinya mencerahkan. Atau dalam fungsi yang paling minimal, sebuah buku selayaknya memberikan kita perspektif lain yang bisa dengan bijak memberikan masukan tanpa bersikap seperti guru. “Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan,” kata Agustinus pada kalimat pendek di halaman 237. Ia bicara pada dirinya sendiri. Tapi sebagai pembaca tak mungkin tidak untuk tak mengamininya sebagai sebuah pesan. Dalam lokus yang lebih luas buku ini bicara sebagai sebuah monolog. Penonton diminta diam. Tapi sang aktor utama bicara. Menista diri sendiri. Tapi dalam diam itu setiap penonton seolah ditempeleng dengan kebenaran-kebenaran yang dengan keras coba mereka disembunyikan sendiri.

Titik Nol mengingatkanku pada sebait puisi Tiongkok karangan Huang Zongxi yang hidup di masa dinasti Qing pada 1610-1695 masehi. Usia muda berjuang siapa sanggup menyamai? Dapat pulang terhormat menunjukan jati diri,” katanya. Puisi ini ditulis sebagai penghormatan Zongxi pada Changsui, seorang pemberontak yang dieksekusi di usia belia. Tapi bukan tentang pemberontakan aku mengingat sajak ini. Melainkan tentang sikap kagum dan kebanggaan pada orang lain yang dirasa lebih hebat dalam menjalani idealisme. Dalam bait lain Zongxi merangkup seluruh kisah titik nol dalam sebuah kalimat “Pertalian antar generasi bukanlah demi pribadi, menangkap suara massa penilaian coba diberi,” tulisnya.

Agustinus, kukira, adalah peziarah yang melintasi kesunyian sebagai jalan hidup.

Sejujurnya aku tak begitu suka buku catatan perjalanan. Selalu ada bagian dalam kisah perjalanan yang luput dipahami sebagai pembelajaran. Apa yang kita anggap sebuah bagian penting perjalanan, katakanlah sebuah perenungan, kerapkali dianggap sebagai wejangan sok bijak. Ketika deskripsi keindahaan coba dijabarkan, selalu ada pikiran nyinyir yang coba menista bahwa si empu penulis sedang pamer. Aku tahu hal ini karena aku adalah bagian dari orang orang yang nyinyir tersebut. Perjalanan semestinya jadi sebuah bagian personal. Bukan sebuah perayaan gegap gempita yang semua orang harus tahu.

Tapi melalui buku ini aku belajar sebuah hal yang sangat menyakitkan. Bahwa hidup sebenarnya bukan hanya tentang menerima, mencari atau memiliki. Hidup adalah perihal seberapa banyak yang bisa kamu berikan pada orang lain. Agus bisa saja diam. Menelan bulat segala kisahnya sebagai milestone pencapaian diri. Ia membagi cerita sejak Selimut Debu, Garis Batas hingga Titik Nol sebagai upaya untuk menunjukan bahwa hidup bukan sekedar kubikel di mana kamu bekerja. Atau sekedar tanggal di mana kamu menerima gaji. Atau sekedar haha hihi foto-foto pada sebuah destinasi. Lebih dari itu Agus berupaya menunjukan hidup adalah lebih dari itu.  

Namun Titik Nol bukannya tanpa cela. Bagiku keintiman tulisan Agustinus membuatku sebagai pembaca menjadi jengah. Beberapa pikiran dan tulisannya hampir jatuh pada kategori tulisan motivasi yang memuakkan. Ada sebagian babak dalam Titik Nol seperti membuat Agustinus menjadi Mario Teguh yang coba menulis catatan perjalanan. Kata-kata mutiara self help bertebaran begitu banyak sampai-sampai aku lupa ini buku travelling ataukah buku panduan kebahagiaan hidup?

Seperti usahanya mendefinisikan kebahagiaan pada laman 316, deskripsi melankolis dan metafora yang miskin, membuat saya berpikir bahwa ketika menulis fragmen ini, Agus tengah kehabisan tenaga dan imajinasi. Ia menggunakan simbol ikan, laut, dan kerakusan. Kukira ia lebih dari ini. Kukira Agus tak perlu membuat metafora, yang bagiku murahan, untuk menunjukan bagi pembacanya bahwa kebijaksanaan hadir seiring dengan bertambahnya pengalaman dan usia. Tapi bukankah tak pernah ada buku yang sempurna.

Di sisi lain ada adegan paling profetik sekaligus paling menyentuh hatiku dalam buku ini. Adegan ketika sang Mama yang dalam sakit ditanya apa agamamu oleh seorang perawat. Sang perawat hanya ingin memberikan kesempatan terakhir bagi Mama untuk bisa berdoa pada tuhannya. “Bawakan saja semua. Semua doa aku terima, apapun agamanya. Karena doa tetaplah doa,” katanya. Aku merasakan kekuatan dalam kalimat ini. kupikir ini bukan kata-kata orang yang menyerah kalah pada penyakit. Atau orang yang takut pada kematian. Ini adalah kata-kata yang mendekap erat sang maut dan menyapanya sebagai kawan lama.

Sore itu setelah perbincangan panjang dan diskusi yang hangat. Hanya satu pesan yang berkelindan dan terpatri begitu hebat dalam kepalaku. Pesan dari Agustinus yang wajahnya tak bosan tersenyum. “Perjalanan adalah usaha untuk pulang. Pulang kepada rumah atau pulang pada diri kita sendiri”. Kukira inilah hakikat perjalanan yang aku cari. Ia bercerita bahwa manusia adalah mahluk karikatural yang bisa sangat ambigu. Ia bisa jadi bermanfaat bagi orang lain tapi tak berguna bagi orang lainnya.

Ia mencontohkan bagaimana Ibnu Battutah bisa saja dianggap sebagai anak durhaka karena lebih dari 27 tahun tak pernah pulang. Namun di sisi lain ia bisa jadi sangat penting untuk merekam jejak peradaban dunia pada zamannya. Ia sedang bercermin. “Sama seperti yang aku tuliskan. Aku sudah keliling ke banyak negara, tapi apakah aku berguna bagi orang tuaku?” katanya retoris. Memang terlalu banyak retorika yang ia ucapkan. Tapi Agus rupanya selalu menemukan komedi dalam setiap tragedi yang ia alami.

Ia bisa dengan wajah datar tanpa ekspresi berkisah tentang bagaimana nyawa manusia begitu murah di Afganistan. Atau bagaimana sebuah tragedi tsunami yang dengan gegabah dianggap tulah oleh orang lain bisa dianggap sebagai sebuah bencana alam biasa bagi yang lain. Atau bagaimana ia dengan sangat manusiawi menunjukan bahwa ia adalah anak mami kesayangan. Di sisi lain bisa dengan magis menuliskan penyamaran dengan identitas ganda di negeri atap langit. Bagiku ia telah lepas dari kategori penulis perjalanan biasa. Kukira ia adalah virtuoso yang mampu meramu kata menjadi imaji yang begitu hidup.

Agak berlebihan memang untuk menyebut penulis dengan tiga buku dengan julukan virtuoso. Namun siapapun yang membaca tiga bukunya mau tak mau harus setuju. Ia bisa sukses mengaduk pikiran dengan rasa haru, ketegangan, komedi dan perenungan yang dalam. Meski pada beberapa bagian ia tak ubahnya motivator kelas dua yang gagal meramu kata-kata mutiara. Titik Nol adalah buku yang wajib dibaca, dan ya tentu saja wajib diterbitkan. Ia lebih dan jauh lebih penting dari tulisan stensil panduan perjalanan sekian juta menuju omong kosong.

Jumat, 19 April 2013

Cita-Cita



Saya tak pernah punya cita-cita yang wajar. Ketika kawan lain di TK ingin jadi pilot, dokter, tentara dan polisi. Saya ngotot pada Ibu Halifah, guru TK saya, ingin jadi Ranger Biru yang pintar dan insinyur itu. Menginjak SD cita-cita kawan saya sudah mulai rasional ingin jadi guru atau sekedar orang kaya, iya ada anak kecil yang berpikir orang kaya itu adalah hal yang hebat, saya malah ingin jadi Kotaro Minami si Putra Matahari Ksatria Bajahitam RX. Barangkali mimpi-mimpi saya adalah hal naif yang jadi lelucon tengil.

Menginjak SMA ketika hidup saya sudah mulai masuk akal dan pikiran mulai logis. Keinginan saya sederhana saja. Bukan cita-cita tapi obsesi dan tujuan hidup. Saya ingin punya banyak buku, membacanya, lantas menulis seusai membaca. Sesederhana itu dan semudah itu. Ketika kawan-kawan lain seusia saya terobsesi menggeber dan memodifikasi motornya hingga jadi sangat ciamik. Saya mengumpulkan uang rupiah demi rupiah dari uang saku dan kerja sambilan untuk membeli buku. Saya jadi aneh dan tersisih menjadi sekrup tumpul yang tak bisa berfungsi dengan baik.

Setelah kuliah dan melihat betapa brengseknya dunia orang dewasa saya jadi semakin mantap bahwa saya lebih baik mati muda saja. Saya tak tahan untuk hidup dirundung hutang untuk melunasi rumah, kendaraan, dan cicilan-cicilan lainnya. Saya tak tahan untuk terus bekerja keras untuk memenuhi keinginan memiliki gajet, memiliki ini itu yang tak saya butuhkan. "Kamu harus bekerja keras jadi kamu bisa memenuhi segala keinginanmu. Kamu harus bekerja keras supaya nanti bisa menikmati hasil jerih payahmu. Kamu harus kerja keras supaya kaya dan punya tabungan jadi bisa melakukan hal yang kamu mau," begitu orang-orang bilang.

"Apa selamanya mau jadi karyawan? Kamu gak mau jadi bos punya uang banyak bisa punya ini itu dan bisa ini itu?" kata seorang kawan yang kini jadi pengusaha, dia menyebut dirinya sosial enterpreneur, peternak sapi yang lumayan sukses. Sejujurnya saya tak masalah menjadi karyawan. Saya tak suka memimpin, tak suka berpikir lebih dari yang saya butuhkan dan juga tak mau punya terlalu banyak uang. Saya sudah cukup belajar bagaiman uang membuat keluarga saya berantakan karena perebutan ini dan itu. Saya sudah cukup tahu bahwa punya banyak uang untuk sedikit lagi sampai pada tahapan menjadi tamak dan tak mau tahu asal punya lebih banyak.

Saya tak suka bekerja dan memiliki lebih dari yang saya butuhkan.

Kakak saya yang lumayan mapan dan kaya berkata bahwa menjadi kaya itu pilihan. Tapi memiliki persiapan untuk sebuah skenario terburuk di negeri yang kepalang bangsat adalah keharusan. Di negeri ini mereka yang punya uang adalah orang orang yang selamat. Tidak melulu dalam hal negatif seperti korupsi dan sebagainya. Tapi seperti jika orang yang kau sayang sakit, kau tentu ingin ia dirawat dengan pelayanan terbaik. Itu butuh uang. Ketika keluargamu terjerat masalah hukum dan butuh pembelaan terbaik. Itu butuh duit. Ketika kau ingin anakmu punya ijasah dari lembaga pendidikan yang terbaik. Kau butuh hepeng. Tapi untuk pengetahuan tak harus mahal, aku akan mengajarkan anakku pengetahuan dari buku yang aku miliki. Sementara untuk ijasah sarjana ia harus beli dengan sangat mahal di institusi pemerintah atau swasta.

Orang berlomba-lomba untuk jadi kaya, sangat kaya, tapi sedikit yang mau jadi pintar, terdidik dan memiliki pengetahuan. Mengapa? Karena uang praktis. Kau bisa membayara mahal seorang profesor untuk membuat dildo super yang memproduksi orgasme ganda. Kau bisa membayar mahal seorang penyair atau penulis best seller dunia untuk menulis buku tentang dirimu dan kesuksesanmu. Kau bisa membayar mahal satu pasukan elit yang dididik dari uang pajak negara untuk melindungimu dan aset kekayaanmu. Uang sangat praktis dan mudah digunaka, sedangkan pengetahuan begitu abstrak dan tak bisa langsung dirasakan manfaatnya.

Sekarang ketika kawan-kawan lain yang saya kenal bekerja keras membanting tulang memeras keringat gila-gilaan. Saya malah bersantai dan tak mengerjakan apa-apa kecuali membaca dan menulis blog ini. Mereka bilang saya bodoh dan gila. "Nanti kamu ketika tua akan pontang-panting memenuhi kehidupanmu. Nanti kamu akan susah ketika berkeluarga gak punya uang," kata mereka. Lho saya menjalani mimpi saya. Mereka bermimpi punya rumah besar dan mobil mewah. Sedang saya hanya bermimpi punya buku dan membacanya. Mereka bekerja keras demi mimpi itu sementara saya sudah mencapainya. Apa yang salah?

Mungkin memang saya harus menabung. Bukan untuk saya. Buat orang yang saya cintai. Uang bisa dicari tapi kebahagiaan itu bisa dibeli? Jika ya dimana? Abadikah? Bagi saya ada yang lebih subtil dan profan daripada sekedar bekerja menabung untuk sesuatu hal yang tidak pasti. Berjaga-jaga untuk sebuah skenario terburuk seperti berpikiran buruk pada nasib. Seolah olah ingin berkata "Aku harus punya uang, siapa tahu Tuhan akan memberiku penyakit ganas yang membutuhkan banyak biaya," atau  "Aku harus punya uang, siapa tahu aku akan dipenjara karena kejahatan yang tak aku lakukan," bagi saya tak ada hal yang lebih konyol daripada takut pada hal yang belum tentu terjadi.

Saya akan menabung. Bukan karena ingin kaya. Tapi karena saya percaya Tuhan yang maha baik itu suka iseng memberikan cobaan yang barangkali bisa diatasi dengan uang. Siapa tahu anak saya akan menabrak orang dan balita hingga mati, dengan uang saya akan bisa membebaskannya. Siapa tahu istri saya yang baik tersangkut kasus suap sehingga lupa ingatan dan butuh dirawat di Singapura sambil belanja dengan uang saya bisa menyediakannya. Siapa tahu sodara saya yang aparat itu membunuh preman bajingan atas nama korps kan dengan uang saya bisa membebaskannya. Uang punya manfaat praktis. Berbeda dengan filsafat dan sastra yang saya sukai.

Barangkali cita-cita dibikin bukan buat diwujudkan. Ia ada karena hanya sekedar pemuas ego narsis fasis manusia akan pencapaian dan dominasi. Atau bisa jadi ia adalah wajah lain ketakutan-ketakutan yang belum terjadi. Karl Gustav Jung menyebut hal ini sebagai anima. Sisi agresif manusia adalah sisi feminim. Sisi yang butuh dipuaskan, yang seringkali, tak perlu alasan mengapa ia harus dipuaskan. Cita-cita, keinginan, obsesi dan tujuan hidup. Barangkali tak terlalu rumit dari sajak Wiji Thukul tentang menonton harga. "Ayo! Keluar kita keliling kota / Tak perlu ongkos tak perlu biaya / Masuk toko perbelanjaan tingkat lima / Tak beli apa - apa / Lihat - lihat saja,"

Toh hidup yang hanya sekedar ingin tak akan pernah ada habisnya.

Kamis, 18 April 2013

Semesta Yang Komikal

Apa yang lebih menyebalkan dari kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam sebuah repetisi tengik? Sebuah kejadian sama persis lantas mengingatkan kita pada masa lalu? Seperti sebuah adegan yang mutlak sama terjadi. Seperti kau memutar ulang peristiwa lampau yang pernah terjadi hanya dengan orang yang sama sekali berbeda dan waktu yang sama sekali baru. Seperti kado yang mirip, ucapan yang karib dan tindakan serta yang pikiran yang rumit?

"Kadang kupikir semesta sedang asik mempermainkanku," kata perempuan.

Si lelaki hanya diam. Matanya memandang kosong pada bohlam lampu di langit-langit kamar. Baru beberapa saat yang lalu kamar itu riuh dengan lenguhan dan desah. Keringat meluncur dari dahi si lelaki "Bercinta itu melelahkan. Kenapa orgasme tak semudah kita menelan makanan? Kau tahu? Beberapa makanan tak perlu dikunyah," katanya.

Si perempuan hanya terdiam. Tak ada cinta dalam pergemulan malam itu. Hanya sekedar buang hajat yang terlalu. Hanya sekedar vakansi dari penat yang terlalu. Barangkali cinta sudah lama hilang. Si lelaki mengutuk pengkhianatan, si perempuan meneluh kenangan. Keduanya terluka dan lelah percaya. Nasib sudah kepalang brengsek mempermainkan perasaan si perempuan, sementara si lelaki sudah terlalu jengah diombang-ambingkan takdir.

"Seandainya kita berjumpa beberapa tahun lebih awal. Barangkali kau dan aku sudah punya dua anak," kata si perempuan duduk lantas membakar sebatang rokok.

Sudah terlalu sering luka merambati hati perempuan itu. Barangkali lebih sering daripada cendawan muncul di musim hujan. Atau jumlah anak sebelum ditemukan kontrasepsi. Atau lebih banyak daripada bersin yang terjadi akibat debu berterbangan. Terlalu sering sampai-sampai malaikat hanya perlu mencontreng satu jenis luka dari beragam luka yang masuk inventarisnya selama bertahun-tahun hidup di pundak si perempuan. "Kita hanya telat berjumpa. Jika ya kita barangkali tak akan jadi batu seperti sekarang," katanya menghembus asap rokok dan mengotori kamar hotel ber AC dingin itu.

Ada yang tak lunas diceritakan oleh kata-kata. Si lelaki sudah lama membenci puisi dan prosa seperti si perempuan membenci perhatian yang tak perlu. Mereka hanya berjumpa untuk bercinta, panas, tanpa emosi lantas berpisah seolah tak pernah terjadi apa-apa. Si perempuan pulang ke kotanya tak hendak ditemani, si lelaki pergi menjalani hidupnya yang seperti robot. Menjilat satu pantat lantas menjilat pantat lainnya hanya untuk memenuhi target penjualan. 

Dulu si lelaki mencintai perempuan lain ia hanya memanggilnya dengan sebutan mesra satu huruf konsonan. Si lelaki mabuk kepayang hingga tak bisa berpikir jernih. Ia lelaki yang terlampau gagap untuk memahami gejolak zaman. Bahwa perempuan tak lagi menyukai puisi. Bahwa perempuan tak lagi menikmati lagu-lagu dengan lirik dalam. Bahwa perempuan tak lagi butuh pembuktian dengan perjuangan. Si lelaki adalah manusia naif yang hidup dalam dongeng-dongen. Dalam kisah-kisah tua dimana pangeran dan putri bahagia selamanya. Ia tak tahu dunia berjalan gegas membawa Prada dan Ferari beserta sang putri, sementara lelaki kecut dengan puisi lepek hanya tertinggal jadi alas kaki para pembesar kerajaan.

"I loved you, and I probably still do, And for a while the feeling may remain. But let my love no longer trouble you, I do not wish to cause you any pain." si lelaki bangkit mengambil tisu basah seraya membersihkan kemaluannya. "Apa yang lebih tengik daripada berpuisi sambil membersihkan mani?" katanya.

Ia tertawa getir. Membersihkan kemaluannya secara teatreikal seolah beraksi di depan penonton yang memujanya karena akting maha dahsyat. Seolah ia adalah tokoh dalam adegan drana Quill tentang Marquis de Sade. Si lelaki ingat bagaimana sajak menjadi sangat murah. Tentang bagaimana puisi menjadi tak lebih baik dari doa perayu wanita untuk terlentang di ranjang. Tentang bagaiman moral tak lebih baik dari berak kuda yang disapu di jalanan. 

Si perempuan tertawa keras hingga terbahak. "Kita mahluk rusak. Cacat dan terkutuk masyarakat, tapi setidaknya kita jujur. Kita adalah nanah yang nyata, bukan kanger yang sembunyi dibalik kulit yang halus," katanya sinis. 

"Kamu berkotbah?" jawab si lelaki nyinyir.

Ada satu waktu dimana Tuhan dan agama tak lagi penting. Ketika kutbah dan pesan-pesan kitab suci tak lebih haru dari sekedar pengingat masa lalu. Mereka yang terduduk telanjang dalam kamar itu sama-sama meratapi peristiwa yang sudah terjadi.Manusia-manusia yang menghamba pada imaji belantara cerita yang semestinya sudah selesai. Si perempuan pernah mencintai lantas membenci. Si lelaki pernah menyukai lantas mendendam. Keduanya berkelindan membagi luka yang tak habis-habis. Persetubuhan antara dua luka yang sama-sama tak selesai. Sama-sama tengik dan sama-sama bacin. Mereka bergantung dan sekaligus membenci satu sama lain.

"Tulilit tulilit," ponsel touch screen merah jambu berbunyi nyaring.

"Siapa?" tanya si lelaki.

"Tunanganku. Dia tanya kemana aku, rupanya dia datang ke kantor untuk menjemputku," katanya datar. Tak ada emosi tak ada ketakutan. Wajah yang dingin dan tak lebih wajar dari emosi yang terjadi ketika tawar menawar harga bawang terjadi. "Halo sayang? Iya. Aku sedang di jalan. Mampir ambil bahan. Baiklah sayang. Oke sayang. Iya aku juga. Dagh," katanya dengan suara manja yang hampir sempurna.

"Kamu harusnya jadi artis. Barangkali bisa lebih sukses daripada menjadi pegawai kantoran," ejek si lelaki.

Sudah terlalu sering si lelaki dikecewakan harapan. Ia hidup dengan menyimpan bara api yang lebih pekat dari darahnya sendiri. Di sisi kiri dadanya ia merajah mantra keji tentang kematian yang paling mengerikan yang bisa ia temukan. Lantas mencatat segala nama musuh-musuhnya di punggungnya. Pada satu malam kelam seusai bersenggama dengan perempuan paling jelek yang bisa ia temukan si lelaki mengucap sumpah. Tak akan mati sebelum mereka yang namanya tertulis pada punggungnya mati dengan mengerikan.

Si lelaki dulunya tak begitu. Ia adalah lelaki yang mencintai Tuhan. Lelaki yang menghapal lebih banyak pujian Tuhan daripada artis sinetron. Lelaki yang tak akan berpikir dua kali untuk melompat dalam kolam menyelamatkan mereka yang ia sebut kawan. Lelaki yang dengan sigap memasang badan menghadapi pengeroyokan daripada melihat kawannya di nista. Ia lelaki yang mencintai hidup dan mencintai kehidupan. Barangkali lelaki paling manis yang bisa dibayangkan ibu yang sedang mengandung dan karib paling dicari oleh sahabat yang kesepian.

Tapi itu dulu. Sebelum ia dikecewakan. Sebelum ia tahu mereka yang ia sebut sahabat tak lebih hina dari belatung yang melata. Tak lebih kerdil dari cacing dalam berak. "Aku melakukannya karena aku bisa. Tak penting siapa wanitanya, tak penting siapa orangnya, aku bisa merebutnya dan kau tak akan bisa apa-apa," kalimat itu terus terngiang dari kepala si lelaki. "Dasar kau lemah. Bisanya memohon. Bisanya mengirim pesan. Sudahlah kau itu hina. Sadar diri tak usah meminta-minta," kalimat lain terdengar dalam kepala si lelaki.

Sejak itu terjadi ia tak lagi percaya apapun. Tak lagi mengharapkan apapun. Barangkali kelemahannya. Barangkali juga egonya. Tak ada yang tahu apa yang membuatnya sakit lantas terluka begitu hebat. Tak ada yang mau mengerti apa yang membuatnya begitu mendendam begitu kuat. "Aib dibagi, janji disunat, kelebat teman hanya rautan, lukaku punah, sembab bernanah," katanya bergumam aneh. Seolah bicara dengan bayangan yang tak ada. Berdebat dengan sesuatu yang tak nyata.

Masih dalam keadaan telanjang si perempuan duduk dibahu ranjang. Hawa dingin AC tak membuatnya gentar. Bulir-bulir keringat sudah mengering sejak tadi. Matanya kosong. Dingin dan tak lagi memancarkan kehidupan. Tubuhnya mulai menua, keriput, uban dan lemak yang bertambah banyak tak membuat kecantikannya serta merta hilang. Barangkali hanya menambah cita rasa dengan selera yang berbeda. Toh masih ada satu dua lelaki yang merayunya meminta menikmati tubuh itu dalam ranjang yang panas. Tapi si perempuan menolak. Hanya kepada lelaki tertentu saja ia rela berbagi. 

Hanya kepada mereka yang membuatnya mengingat lelaki dingin di masa lalu yang membuatnya sakit begitu rupa.

Si perempuan adalah Batara Durga. Mendendam karena perih yang terlalu lama. Ia serupa kisah Calon Arang yang mengutuk lelaki karena memberinya cinta palsu. Cinta yang hanya sekedar angin lalu. Ia adalah patung bopeng. Ia adalah lukisan yang coreng. Seorang lelaki memberinya cinta lantas merebutnya tiba-tiba tanpa alasan. Menahun kemudian ia tahu ia hanya menjadi tumbal persinggahan. Menjadi perempuan yang kesekian. Barangkali itulah saat ketika ia menanggalkan cinta dari hatinya. Menggantinya dengan seperangkat kebencian yang paling kejam.

Tapi ia tak begitu. Si perempuan dulunya adalah ibu peri. Mencintai kanak-kanak dengan segala ramai dan celotehnya yang lugu. Mencintai langit malam dan bukit yang menjorok tinggi memandang redup lampu sebagai sebuah syair. Perempuan yang membagikan senyum lebih sering daripada pramutama bank dan pelayan restoran. Perempuan yang dibahunya ratusan anak bandel menjadi lebih tenang daripada patung Budha yang diam. Perempuan yang kata-katanya memadamkan amarah paling ramai. 

Tapi itu sudah lewat. Kini si perempuan tak peduli apapun. Ia tak lagi peduli pada kematian seekor bayi anjing yang ditabrak kereta. Ia tak peduli lagi tangis bayi yang meraung. Ia tak peduli lagi pada buku yang terbakar. Kejahatan orang lain tak disadari bisa mempengaruhi manusia lain dengan begitu rupa. Ia adalah doa yang dirapalkan setan ketika terusir dari surga. Si perempuan mengamininya, Tuhan mengabulkannya. Lantas cerita sesudahnya tak lebih dari dusta.

"Ah iya. Aku harus pergi. Pacarku hendak main ke kosan," kata si lelaki datar.

"Aku juga harus pulang," jawab si perempuan.

"Kita makan dulu? Atau kau langsung pulang?" tanya si lelaki.

"Sudahlah. Basa basimu bikin aku muntah,"

Si lelaki terbahak lantas memakai pakaiannya. Pergi begitu saja tanpa pamit pada si perempuan. Seolah tak pernah ada apa-apa sebelumnya. Seolah mereka adalah sepasang asing yang bertemu di jalan tanpa perlu bertegur sapa menyelipkan pamit doa ketika berpisah. Hanya begitu saja. Si lelaki pergi membuka pintu kamar hotel lantas berlalu. Berlalu dengan sigap dan tak pernah menoleh lagi ke belakang. Berlalu seolah itu adalah jalan umum yang biasa ia lewati dengan bosan, repetitif dan tanpa ada emosi.

Tapi tak ada yang tahu. Tidak juga si lelaki. Perempuan itu masih menunggu untuk percaya. Bahwa satu hari kelak si lelaki akan sadar bahwa ia mencintainya. Menunggunya untuk bertanya "Maukah kau membagi luka bersamaku? Maukah kau berjalan bersama menyembuhkannya seraya berjalan?" si perempuan hanya bisa menunggu. Bahwa ia akan sekali lagi punya kesempatan untuk bahagia dan menjadi hidup. Ia menunggu. Dalam keremangan kamar hotel ia menangis. Untuk kesekian kalinya setelah persetubuhan yang ganas. Tapi si lelaki tak pernah tahu. Ia menyiman harapan itu sendirian.

Tapi tak ada yang tahu. Tidak juga si perempuan. Jika si lelaki melangkah dengan mengepalkan jemari. Menahan setiap perkatan dan keinginan untuk berlari ke dalam kamar hotel itu. Memohon bersimpuh pada si perempuan. Memujanya seraya berkata "Berikan aku sebagian lukamu. Kita berjalan pada kisah yang baru. Aku mencintaimu perempuanku." Ia tahu itu mustahil. Si perempuan adalah kisah lain yang tak mungkin ia masuki. Si perempuan adalah rindu yang tak boleh ia lakukan.

Barangkali begitu. Aku si narasi hanya bisa mengumpat. Mengapa mereka yang jahat dan keji lepas begitu saja. Mengapa mereka yang culas dan jahat dipuja selayaknya karib yang tiada punya aib. Aku si narasi hanya bisa berpikir keras mengapa ini terjadi. Sementara aku tahu, Tuhan tertawa sangat keras di singgasana Nya. Begitu saja.

Senin, 15 April 2013

Ya dan Tidak

"Kita mendulang harapan dari sebuah percakapan masa silam yang harusnya sudah selesai, karena episode itu terlalu bacin untuk diingat lagi," lelaki itu bicara pada perempuan yang tak pernah ada. Perempuan yang telah menahun lalu hilang dan menolaknya mentah-mentah. 

Tapi siapa yang bisa mendesak lelaki kasmaran untuk berpikir lurus yang patah hati karena pengkhianatan? "Harapan-harapan itu selayaknya bayonet. Ia tak berfungsi membunuh seketika. Ia membuatmu terluka begitu hebat, lumpuh, lantas mati perlahan dengan rasa sakit yang keterlaluan," si lelaki masih saja bicara pada masa silam. Telinga lelaki itu dijejali rentetan suara The Mars Volta yang meraung lebih kencang dari kotbah tuhan hari Jum'at.

"Kamu bicara soal pengkhianatan seolah kau satu-satunya korban," di atas pintu awan mendung yang sedari tadi murung angkat bicara. "Dalam sebuah kompetisi tak ada korban. Kau harusnya paham itu ketika memutuskan mengumbar segala perasaanmu di pasar," katanya. 

Si lelaki diam-diam mengutuk kebenaran dalam kata-kata itu. Ia seharusnya tahu. Jatuh cinta semestinya sunyi. Tak perlu keramaian apalagi pengumuman. Cinta yang ditunjukan seperti kabaret sirkus tak lebih berharga dari kentut. Lagi pula sejak kalimat ini kau susun berapa banyak kata cinta yang kau tuliskan? Terlalu banyak cinta hanya akan berakhir pada sebuah kepalsuan.

"Goenawan Mohammad tak tahu maksudku. Juga sahabatmu," kata si lelaki matanya merah dengan dendam. "And now no path on which we move, // But shows already traces of // Intentions not our own," Auden yang merenung merindu lelakinya yang tabu, "Thoroughly able to achieve // What our excitement could conceive, // But our hands left alone," tapi si lelaki tahu. Tak ada puisi yang bisa mengembalikan lagi masa lalu. Tidak juga berjuta kata-kata dari raja kata-kata yang titahnya adalah nasib itu sendiri.

Menyesali masa lalu adalah pekerjaan paling bodoh selain menunggu mati. Si lelaki gadis dari masa lalunya seperti Tuhan dalam kisah Tolstoy. Ia menunggu pertanyaan untuk sebuah jawaban "Ya". Tapi si lelaki hanya bisa terdiam. Bahkan setelah berjam-jam perjalanan bersama, perbincangan hangat dan mimpi yang dibangun sepuluh tahun ke depan. "Lelaki yang tak mempertaruhkan nasibnya untuk sebuah kesepakatan nasib bertanya, tak berhak bicara tentang pengkhianatan," kata mendung yang makin keruh.

"Kau hanya lelaki manja yang takut kalah lantas menyalahkan manusia lain atas kelemahanmu sendiri,"

Si lelaki hanya diam. Pena, kertas dan sebait puisi sudah selesai ia telan.

Jumat, 12 April 2013

Untuk Anakku Kelak

Nak. Ijinkan ayahmu ini meminta maaf. Barangkali ayahmu ini adalah orang yang selalu alpa berada di dekatmu. Orang yang mungkin hanya bisa berjumpa denganmu di tengah malam dan akhir pekan. Mungkin ayah adalah seorang tua yang hanya bisa marah padamu dan pelit memberi uang saku. Mungkin ayah tak bisa membelikanmu sekotak lego paling baru atau konsol playstation paling canggih. Mungkin ayah tak bisa mengantarkanmu dengan mobil yang bagus seperti milik ayah Dio kawanmu di sekolah. Mungkin ayah tak punya rumah dengan lantai tiga dengan kamar bermain seperti bunya Nina kawanmu.

Tapi yakinlah anakku. Ayah hanya ingin kamu tahu semua itu ayah lakukan karena sayang padamu. Ayah tak ingin kau kelaparan oleh karena itu ayah bekerja hingga larut malam agar kau tidur dengan perut kenyang. Ayah tak ingin kau tidur dengan kedinginan oleh karena itu ayah bekerja di akhir minggu dengan tenggat yang ketat agar bisa melunasi cicilan KPR. Ayah tak ingin kau berotak kosong dan jadi pemalas oleh karena itu ayah berikan ribuan buku untuk kau baca. Anakku yang baik maukah kau bersabar? Suatu hari ayah akan membelikanmu sepeda balap dengan lampu semprong model Gundala yang selalu kau inginkan itu.

Anakku yang baik. Kemarin engkau bertanya padaku apakah cinta itu? Ayah jujur tak tahu harus menjawab apa. Dengan bahasa terbata dan cadel kau bertanya "Ayah. mengapa Lanang tak punya ibu? Mengapa ayah Lanang ada dua?" Ayah tak tahu bagaimana cara menjawabnya anakku. "Mengapa Ayah Ayah lanang dijauhi Ayah? Ayah apakah lelaki dengan lelaki boleh menikah?" Sungguh mati anakku yang baik. Anakku yang pintar. Ayah tak tahu harus menjawab apa. 

Ayah benar-benar terkejut anakku yang baik. Bagaimana anak seusiamu mempertanyakan hal seberat itu? Siapakah yang mengajarimu? Tapi kau tak berhenti sampai disitu. "Ayah, mengapa Ayah lanang dibenci? Mengapa ayah Lanang dijauhi? Ayah, apakah Ayah Lanang penjahat?" Oh anakku yang pintar yang selalu kubanggakan. Ayah selalu kagum dan gemetar pada daya nalarmu. Pada kemampuanmu untuk menyerap dan peduli pada sekitarmu. 

Mencintai, anakku yang baik, adalah anugerah. Tak semua orang memiliki ini anakku. Cinta itu adalah kesenanganmu minum milo hangat di pagi hari. Cinta itu adalah menikmati naruto dan ipin upin di sore hari. Cinta itu adalah libur panjang di rumah nenek. Cinta itu adalah berenang di sungai. Cinta itu adalah ijin dari ibumu untuk menikmati es krim dan kerupuk ketika kau tak mau makan nasi. Anakku yang baik. Cinta itu adalah kamu yang tak pernah lelah merengek agar ibu menemanimu tidur ketika hujan datang.

Cinta adalah usaha untuk memberikan kebahagiaan. Bukan merayakan kebencian.

Anakku yang baik janganlah cepat dewasa. Bermainlah sepuasmu. Karena ketika kau jadi anak-anak bermain adalah bahasa yang paling mudah kau mengerti. Tak ada kebencian dan tak ada prasangka. Bermainlah bersama Lanang, meski pernah kau bertanya "Ayah, mengapa Ibu Dio melarang Dio bermain dengan Lanang? Ayah, mengapa Ayah Nina melarang Nina mendekati dengan Lanang?" Anakku yang baik, ayah tekankan lagi, tak ada manusia yang berhak melarangmu berteman dengan siapapun. Tidak Ayah, tapi kalau ibumu melarang. Turutilah, kamu sayang ibu bukan?

Ayah bingung bagaimana cara menjelaskan padamu. Pasti kamu bingung bagaimana lelaki dengan lelaki saling mencintai? Lantas bagaimana bisa lelaki dengan lelaki menikah? Atau bagaimana Lanang bisa tak punya ibu? Ketahuilah anakku. Ayah tak tahu. Ayah tak pernah mempertanyakan hal itu sebelumnya. Ketika ayah jatuh cinta pada ibumu ayah tak pernah peduli siapa dia. Ayah hanya peduli apakah ia mencintai ayah? Apakah ayah akan selalu mencintainya? Apakah ayah bisa membahagiakannya? Cinta anakku, adalah usaha untuk melupakan perbedaan atau paling tidak menerimanya sebagai sebuah keadaan.

Orang dewasa sering bicara tentang moral, tentang sikap baik dan tentang norma. Ayah tak pernah mengajarkan itu padamu. Ayah mengajarkanmu untuk jujur pada dirimu sendiri. Ayah mengajarkan padamu untuk berpihak kepada mereka yang lemah. Ayah mengajarkanmu untuk selalu berbagi. Lebih dari itu ayah mengajarkanmu untuk mencintai manusia apapun keadaannya. Ayah tak pernah marah meski kamu bandel tak mau tidur siang, atau tak mau makan sayur, atau tak suka minum susu. Ayah akan marah padamu jika kau melawan ibu atau kau menyakiti orang lain.

Minggu lalu ayah mengajakmu bertemu dengan Om Oey Yip. Katamu namanya lucu Oey Yip. Om Oey adalah orang tionghoa. Dulu ada zaman ketika menjadi tionghoa adalah dosa. Kebencian, rasa iri dan ketidakmampuan untuk berusaha membuat sebagian dari kita membenci orang tionghoa. Sama seperti orang orang yang membenci ayah temanmu Lanang. Mereka adalah orang-orang kerdil. Manusia yang gagal memahami bahwa mencintai sesama manusia adalah keniscayaan. Dan kau anakku. Kau, seperti juga ayah, adalah keturunan dari seorang tionghoa yang berani melawan kekolotan dan menikah dengan pribumi. Maka selama ayah hidup dan engkau bernafas. Jangan pernah menyakiti dan mengganggu mereka.

Kamu entah mengapa mewarisi sikap keras kepala dan mau tahu yang ayah miliki. Ketika ayah penasaran ayah tak akan berhenti sampai benar-benar paham dan tahu jawabannya. Ayah tahu kan akan terus merengek, merajuk dan ngambek jika ayah tak bisa menjawab. Persis ketika kau bertanya tentang apakah itu teori ledakan besar atau ketika tiba tiba kau membaca buku Edmund Hussler dan bertanya tentang Fenomenologi. Ayah dan Ibu kau buat lintang pukang kebingungan menjawab. Tentang ayah Lanang, ayah hanya bisa berkata bahwa beberapa dari kita memilih jalan berbeda untuk mencintai. Ada beberapa dari kita lebih suka makan pisang goreng dengan sambal ketimbang keju sepertimu. Ada beberapa dari kita yang suka menyukai Alexander Graham Bell ketimbang Ilmuan Nikolai Tesla idolamu.

Kau mungkin akan mengerutkan dahi tentang sebuah perbedaan tapi tak berlu menghadapinya dengan kemarahan.

Dulu ayah pernah mendongengkanmu tentang kisah Nabi Luth. Tentang kota Sodom dan Gomorah yang mesti hancur karena murka Tuhan. Tapi yakinlah anakku. Ayah tak ingin kau membenci mereka. Ayah tak ingin kau mengadili mereka yang tak kau kenal. Tahukah kau wahai anakku yang baik? Ayah bercerita bahwa tak ada manusia yang berhak mengadili manusia lain. Hanya Tuhan yang berhak. Meski kelak kau akan menemukan beberapa dari kita merasa punya kuasa lebih tinggi dari yang lain untuk menjadi wakil tuhan. Tahukah kau anakku. Di setiap kisah lampau nabi-nabi dan rasul-rasul tak pernah mengadili manusia yang lain. Azab maupun mukjizat selalu diberikan oleh Tuhan. Aku ingin kau tahu itu anakku yang baik.

Jadi lupakanlah apa yang dipikirkan teman-temanmu. Jadilah sahabat yang baik bagi Lanang. Jadilah teman yang selalu setia dan membela. Apapun yang ayah Lanang lakukan tak membuat Lanang menjadi hina. Nasib, seperti kata penyair favoritmu Chairil Anwar, adalah kesunyian masing-masing. Bukankah ayah pernah berkata padamu kita bertanggung jawab pada takdir dan perbuatan kita sendirian di hadapan tuhan. Bersikap jahat dan angkuh tak membuat kita lebih baik di hadapannya.

Anakku yang baik. Pelita hatiku. Ayah tau kau tak paham ini. Suatu saat nanti ketika kau sudah sedikit lebih dewasa kau akan paham. Ini saja pesan ayah nak. Oh ya nak, jika kelak ada yang memanggilmu sahabat tapi mengajakmu menyebarkan kebencian berpalinglah. Tak ada yang lebih menyedihkan dari manusia yang berlindung dari ketiak moral dan meminjam nama tuhan untuk menyakiti orang lain. Sudah begitu saja. Esok sabtu kita ajak Lanang bermain di kebun nenek. Ayah akan mendongengimu tentang nenek sihir kesepian yang hanya bisa nyinyir. 

Kecup sayang dan doa panjang.

Ayahmu.

Ketika Berpikir Tentangmu Jadilah Sajak Ini


perempuanku tak perlu bisa memasak
ia hanya perlu tahu cara berpikir dan mencintai
anak-anaknya. perempuanku tak perlu bisa bersolek.
ia hanya perlu membaca dan memahami
buku tua, kitab usang dan angka-angka.
perempuanku tak perlu bergincu.
ia hanya perlu membela diri, membangun mimpi
dan menjalaninya bersama-sama.
perempuanku tak harus cantik.
karena berdandan membuang waktu, membuatnya ragu
membuatnya berpikir "apakah aku cantik? apakah aku
beruban?" sementara kerutan di dahinya, di matanya
adalah kisah tentang waktu yang gegas.
perempuanku tak perlu kaya.
ia hanya perlu cara berbagi juga memberi.

perempuanku adalah batu.
yang tak mau berbagi. perempuanku
adalah perjalanan seorang diri.
jalan jalan yang terjal dan kisah yang sunyi.
perempuanku adalah butir beras panen raya pertama.
ia adalah semangat, adalah harapan, adalah doa yang
tunai dan nyata.
perempuanku puting susu ibu.
adalah kehidupan, adalah kasih sayang, adalah kebutuhan.
perempuanku adalah api.
membakar birahi menyalakan terang.
perempuanku adalah jalan pulang
rindu yang kekal dan harapan yang kalis.

perempuanku adalah aku yang menunggu.

Kamis, 11 April 2013

Mixtape Cinta : Primus Amorus



Kekasihku. Pernahkah kita jatuh cinta? Maksudku setelah kau aku bertemu. Setelah perbincangan panjang nan membosankan. Pesan-pesan yang terlambat hadir. Kabar yang sukar dan cerita yang hambar? Barangkali kita jenuh. Barangkali juga kita bosan. Untukmu sayangku. Kususun 18 lagu ini. Tentang cinta dan tentang perasaan kita. Lagu itu adalah :

1. Sonic Youth - Beauty Lies In The Eye
2. Regina Spektor - Laughing With
3. Mumford & Sons - Awake My Soul
4. Hellogoodbye - Oh, It Is Love
5. Mew - Comforting Sounds
6. Grizzly Bear - About Face
7. Aurrette and The Polska Seeking Carnival - I Love You More Than Pizza
8. Fleet Foxes - Sim Sala Bim
9. Camera Obscura - I Love My Jean
10. Belle and Sebastian - Dear Catastrophe Waitress
11. Ed Sheeran - Kiss Me
12. The Camerawalls - My Life's Arithmetic Means
13. Jamie Cullum - I'm Glad There Is you
14. Mocca - I Will (Beatles Cover)
15. The Trees & The Wild - Fight The Future
16. Dylan Mondegreen - While I Walk You Home
17. Death Cab For Cutie - I Will Follow You Into The Dark
18. The Cranberries - You And Me

Bersama susunan lagu tadi kukirimkan juga beberapa bait puisi dari kawanku M Irsyad Zaki. Kukira ini gombal. Kukira ini picisan. Tapi kasihku. Bukankah mencintai adalah upaya mengabadikan segala yang picisan? Segala yang gombal? Sementara kau dan aku menua cinta kita meruntuh namun kenangan tentang perasaan kita adalah abadi. Ia ada disana. Pada satu titik kelam bernama ingatan.



Nama Cinta Setelah Lelah Aku Dipecundangi Olehnya

Cinta itu bernama gelora, merobek dan menutup
rahasia. Cinta bukan sesuatu yang dibesar-besarkan. Atau
disesak hingga sesak. Cinta biasa-biasa saja,
lebih sederhana dari apa yang terpaksa kita bayangkan
sepanjang malam. Cinta bernama tanda dan perantara
dan senyuman, bukan setumpuk kerumitan negara. Cinta selalu
tampil di muka, lebih dekat dari kawat gigi kita. Cinta
bukan tarian, bukan Rock & Roll
yang disorak-sorai. Cinta lebih tua berabad-abad
dari kekalahan-kekalahan kita. Lebih panjang dari nama-nama
yang kita puja. Cinta bernama keheningan berwajah puisi
dalam ruang dan waktu yang senantiasa terjaga.

Cinta bernama dua bocah lucu
yang bermain di atas pundak Ibu mereka. Bukan
rasa kantuk yang datang begitu saja, lalu
menidurkan kita. Cinta bernama perjalanan, ucapan dan hati
yang terpelihara. Cinta bukan Cleopatra, bukan Romeo & Juliet
yang gila. Cinta bernama berkaca. Bukan dipecundangi
mabuk kepayang dan melupakan ketakutan. Bukan bunuh diri
Cinta bernama latihan jiwa. Bukan Sreno & Rokisan
Bukan kepongahan Laila & Majnun. Cinta bernama maaf,
sunyi yang tulus kita bagi. Cinta bernama sabar,
menunggu yang menyenangkan. Cinta bukan nestapa,
bukan keresahan yang kita gagahi

Cinta bernama jembatan sebentuk kehampaan
yang kita isi sepenuhnya dengan terbuka. Bukan khayalan
kosong. Cinta bernama sikap, bukan keraguan. Cinta bernama
sentuhan, bukan tikaman dari belakang. Cinta bernama
masa silam yang diberangkatkan menuju anugrah yang tak retak,
tak terpaku. Cinta bernama tempat persembunyian rahasia
masa kecilku ketika bermain petak umpet. Cinta bernama
tonggak nasip waktu dan pecahan-pecahan kaca jendela. Cinta
bernama getaran yang bahagia tersentuh siapa saja.

   Cinta bernama kabar sukacita untuk sahabat.
   Cinta bernama jawaban. Bernama aku yang harus bertahan.
Bernama aku yang harus bangkit, aku
yang harus berhenti merengek, yang menyulam, yang tahu diri,
yang berbenah. Iya, cinta bernama


Iya.. Cinta itu bernama kamu kekasihku..


Kekerasan dan Negara



Dalam satu puisi masyurnya Wiji Thukul pernah menulis “Jika kita menghamba pada ketakutan, Kita memperpanjang barisan perbudakan”. Saya kira Thukul hendak berkata bahwa kehidupan bukanlah perkara sembunyi dan berlari. Kehidupan yang paripurna adalah kehidupan yang berani tegak bicara dan melawan terhadap segala penindasan. Termasuk berani untuk melawan ketakutan itu sendiri. Tapi hari ini siapa yang berani melawan ketakutan-ketakutan? Atau lebih jauh siapa hari ini yang berani berbicara tentang kebenaran? Kita hidup dimana ketakutan adalah bahasa jamak dan sebuah kesepakatan diam-diam.

Minggu 4 April kemarin menandai hari lahir filsuf politik yang memulai polemik tentang wacana tentang negara yang masih tak berakhir sejak beratus tahun lampau. Thomas Hobbes nama pemikir itu, pernah mengatakan pada suatu titik negara akan menjadi monster yang akan memangsa masyarakatnya sendiri. Negara akan berhenti melaksanakan tugasnya sebagai sebuah institusi perlindungan dan kesejahteraan rakyat, malah berganti menjadi Leviathan, monster yang meneror dan merepresi masyarakatnya sendiri.

Di Indonesia negara sudah lama gagal memberikan keadilan.

Beberapa hari terakhir apa yang menjadi ketakutan Hobbes menjadi nyata di negeri ini. Ketika tragedi pembantaian empat orang tersangka pembunuhan (belum terbukti bersalah secara hukum) di lapas Cebongan dilakukan oleh 11 anggota Kopassus terungkap. Masyarakat terpecah menjadi dua golongan. Mereka yang berpikir bahwa tindakan Korps ini benar sebagai tindakan ksatria dan mereka yang menganggap ini pelanggaran hukum murni lantas perlu ditindak. Di sini kekuatan kita sebagai manusia di uji. Di sini nalar kita dan nurani kita akan beradu untuk mencerna dan memahami konteks masalah ini secara adil dan hati-hati.

Apakah kekerasan bisa dibenarkan? Jika ya sejauh mana? Jika ya siapa yang berhak? Jika ya siapakah yang bisa menjamin ritus kekerasan ini tak akan terulang? Kekerasan, seperti juga kemiskinan dan kebodohan, adalah sebuah lingkaran yang tak putus dipahami. Ketika satu pihak diserang, pihak lain berhak merasa membalas, relasi ini akan terus terjadi sampai manusia terakhir yang paling kuat, yang paling berkuasa hidup dan bertahan. Keengganan untuk memahami akar permasalahan dan menyerahkan nalar pada perasaan dendam dan membalas kekerasan dengan kekerasan hanya akan memperpanjang kekerasan itu sendiri.

Pada titik ini Slavoj Zizek benar dalam Violence ia mendedah genealogi kekerasan dari hal-hal sederhana seperti rasa takut, kecurigaan, rasa tamak, kecemburuan dan rendah diri. Ia berkata untuk memahami bagaimana sebuah kekerasan terjadi kita harus tenang dan mengambil jarak ke belakang. Lantas pelan-pelan mengumpulkan keping demi keping teka-teki dan menyusunnya seperti sebuah puzle raksasa[i]. Dari sini praktik kekerasan bisa dipahami dan mencari jalan keluar untuk toleransi. Tapi sayangnya kebanyakan dari kita hanya menelan buat berita kekerasan Cebongan. Kemudian dengan gegabah secara arbiter membagi diri antara pendukung premanisme dan pendukung heroisme.

Tapi bukan tindakan Kopassus yang membuat saya bergidik ngeri tapi bagaimana masyarakat menyikapi hal ini. Kemunculan slogan-slogan dan dukungan terhadap tindakan Kopassus yang secara implisit mengatakan bahwa kekerasan atas nama keadilan semu adalah hal yang dibenarkan. Bahwa kematian empat orang itu tak lebih penting dari kematian satu anggota Kopassus. Bahwa preman memiliki derajat lebih rendah dari nyawa anjing. Sejuta preman mati sebuah kota memang akan tetap ada. Tapi nurani dan akal mereka pelan-pelan ikut mati dengan diam terhadap tindakan hal itu.

Apa yang membedakan tindakan premanisme dan tindakan main hakim sendiri? Premanisme terjadi karena ada beberapa individu atau kelompok merasa memiliki otoritas lebih untuk menciderai hak orang lain. Tapi kita mungkin lupa. Premanisme terjadi juga karena diamnya individu yang lain. Atas nama ketakutan dan menghindari masalah kita cenderung membiarkan orang lain untuk menyakiti kita. Lantas ketika terjadi peristiwa seperti Cebongan kemarin, segala beban, segala ketakutan, segala kemuakan meledak. Masyarakat yang selama ini ditindas bersuara, melawan dan mendukung tindakan pembantaian karena sudah bosan ditindas preman.

Tapi mereka lupa. Mereka tak lebih berbeda dari preman itu sendiri. Mereka meminjam tangan orang lain, yang sama-sama menindas, untuk menyakiti orang lain. Gepuk nyilih tangan. Pengecut yang takut bersuara sendiri lantas gagah bersuara meminjam bahu orang lain. Tentu kita yang setiap hari ditindas preman muak. Kita yang bekerja keras, mengumpulkan uang, membanting tulang dipaksa menyerahkan kerja keras kita pada orang lain. Rasa aman kita diambil. Rasa nyaman kita diambil. Lantas Kopassus muncul dan hadir seolah berkata “Kami akan habisi preman yang mengganggu kalian. Membantai preman yang tak tersentuh hukum lebih hina dari hewan” tentu tindakan ini tak gratis. Korps ini ingin kita diam. Ingin kita menyerahkan daya nalar dan pikiran kita untuk tak lagi berpikir panjang.

Lawan api dengan api biarkan semuanya rata dengan tanah.

Kita mengingat Petrus yang terjadi pada 1982-1985. Pembunuhan yang sampai hari ini tak ada satupun yang ditangkap. Lebih dari 10.000 orang yang dianggap preman terbunuh seperti sampah. Tergeletak dipinggir jalan dan terhina karena dianggap gali, bromocorah, preman dan “yang lain”. Tapi siapakah yang berhak menentukan seseorang preman? Siapakah yang berhak menentukan satu orang lebih hina dan berhak dibunuh dari yang lain? Tapi siapakah preman?

Mereka yang mengambil receh dari sebagian penghasilanmu? Atau bajingan berwajah bersih dengan dasi yang duduk dalam ruangan AC merampok hakmu? Kita hanya berani menindas mereka yang kita anggap lemah tanpa berani melawan kesalahan orang-orang yang kuat. Dalam banyak hal preman-preman yang mati seperti tahi itu lebih berani daripada sekumpulan masyarakat yang hanya bisa diam dan meringkuk ketakutan. Lantas berlagak jagoan ketika dibelakang senapan.

Dengan kekerasan sistematis, seperti yang juga disampaikan Hobbes, negara membuat kita membenci sekaligus bergantung kepadanya. Negara menciptakan musuh imajiner yang seolah-olah ia adalah monster yang akan menelan dan memangsa kita. Sementara dalam saat bersamaan negara membuat kita berpikir yang mampu melindungi dan menyelamatkan kita hanyalah negara. Sementara untuk mendapatkan segala perlindungan dan kesalamatan itu yang kita perlu lakukan adalah tunduk, diam, dan tak melawan.

“Karena hukum sudah mati! Sudah korup! Kita sudah lelah. Kita butuh keadilan yang segera,” kata mereka yang bersuara keras. Tentu. Tapi kita butuh keadilan segera yang dilakukan orang lain bukan kita sendiri. Kita butuh keadilan yang tegas tapi jangan kita yang melakukan. Kita butuh keadilan yang berani tapi jangan kita yang melakukan. Jangan saya. Nanti saya dipukulin. Tapi kalau anda mau memberikan keadilan saya dukung. Satu juta dukungan untuk anda. Karena saya tak bisa. Saya tak berani. Saya takut. Tapi kalau anda bisa, saya dukung. Tapi jangan saya. Jangan.

Indonesia adalah bangsa yang gemar gegar sejarah pada masa lalunya. Mereka lekas melupakan masa lalu dan menganggapnya tak pernah terjadi. Sejarah menjadi sebuah onggokan sampah. Kopassus, bukan, militer maksud saya terlalu gemar meneror masyarakat negara ini lebih dari preman yang paling keji. 11 ksatria rakyat yang membantai preman yang meresahkan masyarakat. Kita harus dukung mereka untuk bebas. Militer sudah banyak membela bangsa ini dari gangguan dan ancaman hebat yang mampu menggoyahkan kemanan dan ketertiban negara.

Apakah kau tahu artinya NKRI Harga Mati? Demi NKRI siapapun harus mati. Lagipula apalah artinya empat orang preman hina dibanding tiga juta manusia yang dibantai atas tuduhan simpatisan PKI pada 1965? Apalah artinya empat orang preman bangsat dibandingkan ribuan korban pembantaian Santa Cruz, Dili, Timor Timur pada 1992? Apalah artinya empat orang preman keparat dibanding ribuan korban pembantaian Tanjung Priok 1984? Apalah artinya empat orang preman tengik dibanding ratusan korban Talangsari 1989? Atau apalah arti empat orang preman sampah dibandingkan ribuan atau ratusan ribu korban DOM Atjeh dan pendudukan Papua? Oh sudahlah Militer terlalu sibuk membunuhi warga negeri ini atas nama NKRI jangan kita ributkan empat nyawa murah yang tak penting itu.

Jikapun preman harus dimusnahkan dan dibasmi beranikah mereka yang mendukung para ksatria Kopassus itu berdiri paling depan membela preman-preman brengsek yang melakukan penculikan aktivis 98? Atau beranikah mereka membabat para preman bersorban yang menegakan agama tuhan dengan kekerasan?  Atau beranikah mereka mengokang senjata lantas menyerang pembunuh dari Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan , dan Hendriawan Sie para korban Tragedi Tri Sakti. Saya kira tidak. Mereka, termasuk juga saya, adalah orang kerdil yang hanya berani bicara dan bersuara dibalik ketek penguasa bersenjata. 

Barangkali Hannah Arendt benar dalamm bukunya On Violence pada satu titik kekerasan adalah sebuah keseharian yang dibenarkan. Ia adalah kegiatan sehari-hari yang tak lebih berbeda daripada makan, berak, bercinta, tidur dan bernafas. Tapi bukan itu yang menjadi ketakutan utama Arendt ia takut pada satu titik manusia menyerah untuk berpikir, bertindak adil dan berpihak pada nuraninya sendiri lantas berganti menjadi apa yang disebutnya sebagai “the new undeniable glorification of violence”. [ii]  Kita merayakan kekerasan sebagai sebuah pemujaan kepahlawanan.


[i] Violence hal. 9
[ii] On Violence hal. 19