Minggu, 28 April 2013

Jalan Pulang Agustinus


Pada satu sore yang teduh aku dan beberapa kawan datang di acara diskusi buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Jujur kukatakan, sebenarnya aku malas datang. Bukan hanya karena tak begitu suka jenis buku ini tapi juga fenomena travel writer, siapapun itu, adalah fenomena yang kepalang overrated dan begitu memuakan. Namun kupikir aku harus bertemu dengan Agustinus Wibowo. Setidaknya aku harus membenarkan tuduhan bahwa selamanya genre ini akan terjebak pada skema deskripsi keindahan dan promosi pariwisata belaka. Tapi rupanya aku memang ditakdirkan untuk salah.

 “Menulis perjalanan adalah usaha untuk menulis tentang manusia dan kemanusiaan. Jika tulisan perjalanan tak bicara tentang manusia. Maka ia adalah tulisan yang mati,” kata Agustinus ketika aku berjumpa dengannya sore itu. Lelaki pendek berkulit putih ini jauh dari bayangan awalku dari penulis catatan perjalanan yang usai mengarungi jalan yang luas. Kukira ia akan tinggi besar, brewok yang lebat dan tubuh yang kekar. Tapi penampilan memang seringkali menipu. Tak kusangga lelaki tionghoa didepanku yang begitu santun dan komikal. Telah menaklukan salah satu dataran paling mematikan di dunia.

Kadang untuk mencari ke dalam seseorang harus pergi jauh ke luar. Aku tak hendak bicara tentang jarak atau perjalanan. Tapi tentang renungan-renungan yang dihasilkan dari sebuah kepergian. Kukira ini hal yang mampu kucerna dari buku catatan perjalanan Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Ada yang subtil dari buku ini. Bukan tentang perjalanannya menembus atap dunia. Atau bagaimana ia dengan rendah hati bicara tentang negeri yang jauh. Lepas bicara tentang ruang yang tak ada di tanah yang asing. Tapi lebih pada fragmen-fragmen renungan atas ibunya di mana ia bicara tentang perasaan tanpa perlu menulis kalimat gombal yang genit.

Dalam 552 halaman ‘Titik Nol’ yang kelu ia menuliskan sebagian besar hidupnya seraya telanjang berkata “inilah aku,” sebuah usaha yang berani. Ia bicara tentang keluarga, tentang kematian, tentang kepedihan dan tentang makna hidup. Aku bahkan tak perlu, atau tidak mau bercerita padamu tentang perjalanannya, kukira ia sudah tamat bercerita di dua buku pendahulunya. Selimut Debu dan Garis Batas. Agustinus kukira hendak menebus dosa. Hendak bercerita dengan nada yang pilu. Perihal kecintaannya pada ibu, kecintaannya pada keterasingan, dan kecintaannya untuk memejalkan diri memacu batas dirinya sendiri.

“Sebenarnya apa yang saya cari dari sebuah perjalanan?” kata Agus retoris. “Awalnya saya melakukan perjalanan ya memang ingin pamer. Aku pernah kemari, aku pernah ke sana. Tapi seiring berjalannya waktu. Saya bertanya. Apakah itu makna perjalanan?” Hampir dua jam kami berdiskusi. Selama dua jam pula ia habis meruntuhkan mitos tengik bahwa perjalanan adalah perihal vakansi dan bersenang-senang. Saya harus sepakat padanya bahwa perjalanan semestinya memberikan suatu pelajaran. Semacam proses yang tak akan diperoleh bila perjalanan hanya diperlakukan sebagai sebuah eskapisme.

Buku Agustinus bagiku tak terlalu istimewa. Ia tidak seperti Walden, catatan perjalanan susunan Henry David Thoreau, atau On The Road milik Jack Kerouac, atau novel Balthazar Odyssey milik Amien Maalouf. Meskipun demikian, dalam tiap bukunya Agustinus seolah menunjukan pada para pembaca untuk tidak sekedar membayangkan tapi juga merenung. “Tradisi bukan sesuatu yang tak bisa dilawan. Kondisi bukan sesuatu yang tak bisa diubah,” tulisnya pada laman 170 Selimut Debu. Bagi saya, Ia masih konsisten. Berusaha keluar dari pakem catatan perjalanan yang hanya merayakan euforia dangkal destinasi belaka.

Sebuah buku semestinya mencerahkan. Atau dalam fungsi yang paling minimal, sebuah buku selayaknya memberikan kita perspektif lain yang bisa dengan bijak memberikan masukan tanpa bersikap seperti guru. “Bagiku, petunjuk alam itu adalah bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan,” kata Agustinus pada kalimat pendek di halaman 237. Ia bicara pada dirinya sendiri. Tapi sebagai pembaca tak mungkin tidak untuk tak mengamininya sebagai sebuah pesan. Dalam lokus yang lebih luas buku ini bicara sebagai sebuah monolog. Penonton diminta diam. Tapi sang aktor utama bicara. Menista diri sendiri. Tapi dalam diam itu setiap penonton seolah ditempeleng dengan kebenaran-kebenaran yang dengan keras coba mereka disembunyikan sendiri.

Titik Nol mengingatkanku pada sebait puisi Tiongkok karangan Huang Zongxi yang hidup di masa dinasti Qing pada 1610-1695 masehi. Usia muda berjuang siapa sanggup menyamai? Dapat pulang terhormat menunjukan jati diri,” katanya. Puisi ini ditulis sebagai penghormatan Zongxi pada Changsui, seorang pemberontak yang dieksekusi di usia belia. Tapi bukan tentang pemberontakan aku mengingat sajak ini. Melainkan tentang sikap kagum dan kebanggaan pada orang lain yang dirasa lebih hebat dalam menjalani idealisme. Dalam bait lain Zongxi merangkup seluruh kisah titik nol dalam sebuah kalimat “Pertalian antar generasi bukanlah demi pribadi, menangkap suara massa penilaian coba diberi,” tulisnya.

Agustinus, kukira, adalah peziarah yang melintasi kesunyian sebagai jalan hidup.

Sejujurnya aku tak begitu suka buku catatan perjalanan. Selalu ada bagian dalam kisah perjalanan yang luput dipahami sebagai pembelajaran. Apa yang kita anggap sebuah bagian penting perjalanan, katakanlah sebuah perenungan, kerapkali dianggap sebagai wejangan sok bijak. Ketika deskripsi keindahaan coba dijabarkan, selalu ada pikiran nyinyir yang coba menista bahwa si empu penulis sedang pamer. Aku tahu hal ini karena aku adalah bagian dari orang orang yang nyinyir tersebut. Perjalanan semestinya jadi sebuah bagian personal. Bukan sebuah perayaan gegap gempita yang semua orang harus tahu.

Tapi melalui buku ini aku belajar sebuah hal yang sangat menyakitkan. Bahwa hidup sebenarnya bukan hanya tentang menerima, mencari atau memiliki. Hidup adalah perihal seberapa banyak yang bisa kamu berikan pada orang lain. Agus bisa saja diam. Menelan bulat segala kisahnya sebagai milestone pencapaian diri. Ia membagi cerita sejak Selimut Debu, Garis Batas hingga Titik Nol sebagai upaya untuk menunjukan bahwa hidup bukan sekedar kubikel di mana kamu bekerja. Atau sekedar tanggal di mana kamu menerima gaji. Atau sekedar haha hihi foto-foto pada sebuah destinasi. Lebih dari itu Agus berupaya menunjukan hidup adalah lebih dari itu.  

Namun Titik Nol bukannya tanpa cela. Bagiku keintiman tulisan Agustinus membuatku sebagai pembaca menjadi jengah. Beberapa pikiran dan tulisannya hampir jatuh pada kategori tulisan motivasi yang memuakkan. Ada sebagian babak dalam Titik Nol seperti membuat Agustinus menjadi Mario Teguh yang coba menulis catatan perjalanan. Kata-kata mutiara self help bertebaran begitu banyak sampai-sampai aku lupa ini buku travelling ataukah buku panduan kebahagiaan hidup?

Seperti usahanya mendefinisikan kebahagiaan pada laman 316, deskripsi melankolis dan metafora yang miskin, membuat saya berpikir bahwa ketika menulis fragmen ini, Agus tengah kehabisan tenaga dan imajinasi. Ia menggunakan simbol ikan, laut, dan kerakusan. Kukira ia lebih dari ini. Kukira Agus tak perlu membuat metafora, yang bagiku murahan, untuk menunjukan bagi pembacanya bahwa kebijaksanaan hadir seiring dengan bertambahnya pengalaman dan usia. Tapi bukankah tak pernah ada buku yang sempurna.

Di sisi lain ada adegan paling profetik sekaligus paling menyentuh hatiku dalam buku ini. Adegan ketika sang Mama yang dalam sakit ditanya apa agamamu oleh seorang perawat. Sang perawat hanya ingin memberikan kesempatan terakhir bagi Mama untuk bisa berdoa pada tuhannya. “Bawakan saja semua. Semua doa aku terima, apapun agamanya. Karena doa tetaplah doa,” katanya. Aku merasakan kekuatan dalam kalimat ini. kupikir ini bukan kata-kata orang yang menyerah kalah pada penyakit. Atau orang yang takut pada kematian. Ini adalah kata-kata yang mendekap erat sang maut dan menyapanya sebagai kawan lama.

Sore itu setelah perbincangan panjang dan diskusi yang hangat. Hanya satu pesan yang berkelindan dan terpatri begitu hebat dalam kepalaku. Pesan dari Agustinus yang wajahnya tak bosan tersenyum. “Perjalanan adalah usaha untuk pulang. Pulang kepada rumah atau pulang pada diri kita sendiri”. Kukira inilah hakikat perjalanan yang aku cari. Ia bercerita bahwa manusia adalah mahluk karikatural yang bisa sangat ambigu. Ia bisa jadi bermanfaat bagi orang lain tapi tak berguna bagi orang lainnya.

Ia mencontohkan bagaimana Ibnu Battutah bisa saja dianggap sebagai anak durhaka karena lebih dari 27 tahun tak pernah pulang. Namun di sisi lain ia bisa jadi sangat penting untuk merekam jejak peradaban dunia pada zamannya. Ia sedang bercermin. “Sama seperti yang aku tuliskan. Aku sudah keliling ke banyak negara, tapi apakah aku berguna bagi orang tuaku?” katanya retoris. Memang terlalu banyak retorika yang ia ucapkan. Tapi Agus rupanya selalu menemukan komedi dalam setiap tragedi yang ia alami.

Ia bisa dengan wajah datar tanpa ekspresi berkisah tentang bagaimana nyawa manusia begitu murah di Afganistan. Atau bagaimana sebuah tragedi tsunami yang dengan gegabah dianggap tulah oleh orang lain bisa dianggap sebagai sebuah bencana alam biasa bagi yang lain. Atau bagaimana ia dengan sangat manusiawi menunjukan bahwa ia adalah anak mami kesayangan. Di sisi lain bisa dengan magis menuliskan penyamaran dengan identitas ganda di negeri atap langit. Bagiku ia telah lepas dari kategori penulis perjalanan biasa. Kukira ia adalah virtuoso yang mampu meramu kata menjadi imaji yang begitu hidup.

Agak berlebihan memang untuk menyebut penulis dengan tiga buku dengan julukan virtuoso. Namun siapapun yang membaca tiga bukunya mau tak mau harus setuju. Ia bisa sukses mengaduk pikiran dengan rasa haru, ketegangan, komedi dan perenungan yang dalam. Meski pada beberapa bagian ia tak ubahnya motivator kelas dua yang gagal meramu kata-kata mutiara. Titik Nol adalah buku yang wajib dibaca, dan ya tentu saja wajib diterbitkan. Ia lebih dan jauh lebih penting dari tulisan stensil panduan perjalanan sekian juta menuju omong kosong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar